Hyun Triplets Day (Sequel of Hyun Triplets : SMS)

Author  : @chocolakay

Length  : Ficlet

Genre   : Romantic, Friendship, Brothership

Rating   : SU (semua umur)

Cast       : Bigbang member, Hyun

Taeyang dengan malas mengganti kanal televisi. Ia sama sekali tidak mendengar apapun dari televisi, karena meski tubuhnya ada di depan TV, telinga dan pikirannya ada di dapur. Ia sengaja beralasan sakit agar tidak dipanggil Hwangssabu-nim. Agar satu hari ini ia bisa mengawasi Hyun Triplets yang rencananya hari ini bakal jalan bareng.

“Hyuun, kau yakin di tambah tepung terigu?” TOP menatap Hyun dengan mata lebar seperti anak kecil.

“Iyaaa…” Hyun mengaduk larutan kental dalam panci itu. Sudah ia terka kalau pada akhirnya, ia yang akan memasak sup jagung itu. TOP memintanya untuk mengajari memasak sup jagung Hyun yang terkenal diantara YG Family. Apalagi Bom.

“Hyun, kau tidak bermaksud meracun Bommie kan?” TOP bertanya lagi. Sebenarnya Hyun agak stress juga mendengar ocehan TOP. Sudah berapa kali ia menanyakan hal yang sama. Tentu saja ia tidak pernah bahkan terpikir untuk meracuni Bommie unnienya. Demi apapun yang hidup, Hyun adalah TOP-BOM shipper dan ia akan melakukan apapun agar mereka bisa bersatu. (ciee..)

“Hyun, kau benar tidak mau datang ke dorm 2NE1?” TOP bertanya lagi.

“Oppa, kau tahu kan kalau Panda oppa memintaku untuk menemaninya keluar?” Hyun menoleh pada sosok tinggi di sampingnya.

“Icip!” Hyun menyodorkan sesendok kuah sup jagung itu pada TOP. Taeyang kini mematikan TV dan pura-pura tidur. Ah, ia cemburu.

“YAH! Hyun! Panaas!” TOP membakar lidahnya sendiri ketika mengicipi kuah itu.

Hyun memutar bola matanya. “Oppa kan tahu kalau itu baru aku ambil dari atas kompor.”

“Youngbae-yaa!” TOP tahu kalau teman satu grupnya itu hanya pura-pura tidur.

“Engggh…” Taeyang mencoba senormal mungkin, terdengar sakit.

“Aigooo! Ppali!” TOP menarik tangan Taeyang untuk bangkit.

“Wae?” Taeyang menjawab dengan suara sok lelah dan (pura-pura) mengucek matanya.

“Hyun membakar lidahku. Aku jadi gak bisa merasakan masakannya. Sana!” TOP mengusir Taeyang dari sofa panjang itu, sehingga ia bisa tiduran disana.

“Aigooo hyung!” Taeyang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia mendatangi Hyun yang masih sibuk mengaduk sup dalam panci itu.

“Tee-oppa.” Hyun memanggil.

“Kenapa jadi panggil seperti itu terus sih?” Taeyang kembali ke mode ceria dan sehat.

“Mau tahu gak kenapa aku panggil oppa seperti itu?” Hyun tidak menjawab pertanyaan Taeyang.

“Karena nama panggungku awalnya huruf T(ee)?”

“Kalau alasannya seperti itu aku juga bisa memanggil TOP oppa dengan alasan yang sama.” Hyun mengambil sedikit kuah dan meniupnya. Lalu menyuapkannya pada Taeyang.

“Hmm, as usual mashitta!” Taeyang tahu, tidak ada yang bisa menolak rasa sup jagung milik Hyun. Apalagi Bom noona.

“Jinjja?”

“Aigooo, Hyun, kau membakar lidahku, tapi tidak membakar lidah Taeyang.” TOP nyeletuk dengan nada sedih. Ia menonton keduanya seperti menonton drama Korea. TV yang tadi di hidupkannya malah diabaikan.

“Sudahlah hyung. Akui saja kau cemburu kan?” Taeyang mengolok hyung tertuanya itu.

“Heu…. Jadi Hyun, kenapa kau memanggil Youngbae dengan panggilan ‘Tee-oppa’. Kan terdengar mirip Tee-Oh-Pee?” TOP penasaran dengan perkara panggilan sayang itu.

“Karena…” Hyun mengambil napas.

“Karena?”

“Karenaoppabutuht(ee)-shirt.” Hyun menjawab dengan kecepatan cahaya. TOP tertawa histeris mendengar jawaban itu. Ia yang duduk menghadap ke dapur, dengan kaki menggantung di sandaran tangan sofa kini sudah berbaring di lantai. Ia tidak hentinya tertawa.

Taeyang dengan wajah bingung menatap kedua kembar alien ini. Ia berganti-ganti menatap Hyun yang wajahnya memerah karena malu dan TOP yang wajahnya merah karena tertawa.

“Maksudnya , itu!” TOP berjuang setengah mati mengendalikan tawanya, sembari menunjuk ke badan Taeyang yang shirtless.

“Eh?” Taeyang melirik absnya.

“Iya, Youngbae-yaa. Maksud Hyun ‘itu’.”

“Hyun, kau tidak biasa melihatku telanjang dada?” Taeyang bertanya dengan wajah bingung. Hyun hanya mengangguk. Wajahnya yang sudah merah, makin memerah karena uap panas dari sup, yang ia tuangkan ke tempat plastik, yang tidak langsung di tutupnya. Ia berlari ke kamar mandi, lalu membasuh wajahnya. Ah, sial kau Gray Fulbuster! Ternyata ada manusia yang kelakuannya seperti dirimu, dengan abs super-duper-amat-sangat -very menakjubkan-sekali-banget.

Hyun menarik baju ganti dari tas ransel besarnya. Hari ini hari Sabtu, ia hanya bekerja setengah hari makanya ia menerima ajakan duo Seunghyun untuk mengajari (yang jadinya memasak sendiri, muridnya kabur) dan menemani magnae Panda entah kemana.

Hyun akhirnya memutuskan agar mereka berjumpa di dorm Bigbang. Maka ia membawa baju ganti. Hoodie abu-abu lembut polos yang longgar dan jins baby blue ketat. Ia mengganti bajunya dalam lemari walk-in milik Jiyong. Secepatnya ia berganti, karena Hyun takut tiba-tiba member lain masuk dan melihatnya berganti baju.

Ia menghembuskan napas panjang, begitu selesai berganti baju. Taeyang sudah duduk di sofa, menatap Hyun dengan pandangan kagum. Bahkan dalam balutan baju kasual yang sederhana Hyun bisa terlihat menakjubkan. Hoodie longgarnya itu membungkusnya hingga setengah pahanya. Ia pernah berpikir bahwa yang paling menarik adalah perempuan yang girly dan feminin. Tapi Hyun bisa memiliki kesan tomboy, cute, dan feminin disaat yang bersamaan.

“Hyung?” Seungri melambaikan tangan di depan wajah Taeyang.

“Ye, yee…” Taeyang menjawab dengan terbata.

“Hyung, aku pinjam Hyunmu, ya?” belum sempat Taeyang menjawab, Hyun sudah berada dalam pegangan Seungri dan mereka melesat keluar menuju ke parkiran.

“Hyun?” Tegur Seungri ketika mereka sudah berada di mobilnya.

“Ya Panda oppa?” Hyun memainkan ujung hoodienya. Ia tidak sempat membawa dompet dan handphone. Mari berdoa dan berharap agar Hyun tidak ditinggal oleh Seungri.

“Bantu aku memilih kado ya?”

“Untuk siapa?”

“Aigoo… You-know-who, Hyun-ah!” Seungri tersenyum sendiri membayangkan orang yang akan diberinya kado.

“Oh. Kenapa harus ngajak aku? Kenapa tidak ngajak Dara unnie saja?” Hyun bertanya. Sejujurnya you-know-who yang mereka bicarakan tidak begitu dekat dengan Hyun, hanya saja mereka punya kesenangan yang sama. Mengagumi boneka Rilakkuma.

“Karena aku tidak yakin Dara-noona bakal tutup mulut soal ini.” Seungri menerawang. Ia memasuki parkiran sebuah toko mainan besar. Lalu ia mencari tempat parkir di tempat paling dekat dengan pintu penghubung parkiran dan bangunan utama.

“Aku rencananya akan melamarnya.”

“Huh?” Hyun kaget mendengar pernyataan itu.

“Iya, kenapa semua orang kaget begitu sih? Kan wajar, yang aku lamar kan perempuan Hyun-ah.” Seungri mematikan mesin mobilnya, dan mencari kacamata hitam untuk menyamarkan keberadaannya

“Bukan begitu oppa. Kau yakin akan melamarnya?” Hyun bertanya dengan alis mata bertautan. Ia tidak salah dengar kan?

“Hey, aku serius!” Seungri memasang penutup kepala hoodienya dan menggandeng tangan Hyun. Dalam hati ia berharap Taeyang-hyungnya tidak punya pikiran untuk mengikuti mereka atau untuk mendatangi toko mainan ini, melengkapi koleksi Nerf Gun miliknya. Atau rencana lamarannya harus ditunda hingga ia selesai memunguti serpihan badannya. Soal Hyunnya, Taeyang hyung tidak bisa diganggu-gugat. Ia bisa jadi seperti piring yang jatuh dari lantai 13 dan seperti yang sudah ia bayangkan tadi, harus memunguti serpihan dirinya.

“Jadi apa rencana oppa?” Hyun menarik Seungri menuju ke sektor boneka.

“Rencanaku melibatkan Rilakkuma, dan cincin tentu saja Hyun!”

“Bagaimana caranya?”

“Aku gak tahu.”

Hyun menepuk jidatnya. Lee Seunghyun ternyata tidak sejenius kedengarannya saat memesona perempuan dengan pesonanya. Hyun menatap deretan boneka Rilakkuma. Ia melayangkan pandangannya. Sederhana, tapi istimewa. Apa ya?

“Aku rencananya akan memberinya satu set aksesoris couple. Kau tahu, kalung, anting, cincin dan gelang. Chrome Hearts!”

“Oh!” Hyun kembali menarik tangan Seungri. “Chakka! Sebesar apa aksesorisnya?”

“Kau tahu, kotaknya sebesar kotak headphone Beats.”

“Oh. Oke! Sini aku bisikin!”

“…”

“Hyun?”

“Bagaimana?”

“DAEBAKIYO!”

Hyun bergegas memilih sebuah boneka Rilakkuma berukuran sekitar 70 cm. Ia juga membeli cutter dan peralatan menjahit, serta penggaris dan sebuah retsleting, juga kartu ucapan yang bergambar Rilakkuma. Lalu sebuah spidol hitam dan pulpen glitter.

“Oppa bawa kotaknya?”

“Nggak, ada di loker.”

“Oppa gila!” Hyun membelalakkan matanya kaget.

“Kenapa?”

“Aksesoris mahal ditaruh di loker?”

“Eish, tidak ada yang tahu soal itu! Eh, aku lapar. Ayo kita makan dulu.” Seungri memasukkan hasil belanja mereka ke bagasi.

“Oppa yakin mau makan dulu?” Hyun tidak begitu lapar sebenarnya.

“Iya. Nanti saja kau bantu aku. Aku lapar. Ayo!” Seungri mendorong Hyun masuk ke dalam mobilnya. Setelah menutup pintu ia tersenyum nakal. Hyung, kau sebaiknya berterima kasih setelah ini padaku!

Perjalanan itu berlangsung sunyi. Hyun sibuk dengan bagaimana caranya menjahit ritsleting itu dan mengeluarkan serat dari perut boneka tanpa membuatnya rusak, sementara Seungri sibuk dengan rencana selanjutnya.

“Oke, kita sudah sampai! Hyun, kau pesan dulu! Aku ada perlu sebentar.” Seungri mendorong Hyun masuk ke dalam restoran mewah di depannya. Ia lalu menghilang ke dalam mobilnya.

Hyun melirik menu di hadapannya. 125.000 won untuk seporsi sup miso? Oh My GD! Oops, Oh GDnya Dara! Ia ingin menyelinap ke luar rasanya apalagi setelah 30 menit berlalu Seungri tidak juga muncul. Ia melirik lagi 45.000 won untuk seporsi yogurt. Bulu romanya berdiri semua. Ia menggigit bibir. Dompetnya ketinggalan. Ia lapar sekarang. Dan ia mau keluar dari ruangan dengan suara musik klasik romantis ini. Ia bahkan tidak meminum segelas air putih yang disuguhkan. Ia beringsut keluar dari restoran itu, menyelinap melewati penjaga pintu yang tersenyum manis.

“Datang lagi ya agassi?”

‘Nggak!’ Hyun mengembalikan senyum penjaga pintu itu.

Ia berjalan menuju ke dorm Bigbang. Handphone ketinggalan, apa yang bisa ia lakukan sekarang? Berjalan. Kalau ia sampai di dorm Bigbang malam ini, ia yakin akan terjadi sesuatu pada cutie-patuti-magnae-panda. Sementara ia berjalan, ia memikirkan apa yang akan dia lakukan pada magnae Bigbang itu.

“Hyun!” suara itu menyadarkannya dari lamunan. Familiar, menghangatkan, memberi harapan.

Ia menoleh. “Hyun!” sosok itu memarkir menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan loncat memeluknya. “Oh, God! Seungri bilang ia kehilangan kamu! Oh thanks God!” 4 menit, Hyun menghitung lamanya Taeyang memeluk dirinya. Senyum merekah saat ia merasakan hangat tubuh Taeyang menyentuh kulitnya.

“Ayo pulang. Aku lapar.” Hyun melepas pelukan itu.

“Kau mau makan apa? Aku traktir malam ini. Asal kau janji!” Taeyang dan Hyun sama-sama masuk ke dalam mobil.

“Janji apa?”

“Jangan pernah jalan dengan Seungri lagi!”

“Arraso! Aku tidak akan pernah mau jalan dengan Lee Seunghyun lagi sepanjang usiaku! Ayo kita makan di Yeolbong! Setelah itu, temani aku cari yogurt blueberi, yang pernah kita makan itu!”

“Huh! Kau dan yogurt bluberi!”

“Hehehe…. Ada yang cemburu sama yogurt!”

a/n : Huhuhu…. ada yang bingung? Jadi Seungri itu sengaja bikin Hyun ketinggalan dompet sama handphonenya, terus, sengaja ninggalin Hyun di resto mahal itu, terus dia bilang ke Taeyang kalau Hyunnya ilang waktu dia lagi ke kamar mandi. Dan you-know-who? Udah tahu kan siapa? Yang Seungri-biased bisa bayangin diri sendiri deh. Oh iya, lamarannya Seungri bagaimana? Ada yang bisa menerka? Kalau bisa, mari kita jadi bingu-siblings! Hehehe…