untitled-12Tittle : White Roses

Author : HelloWorld (@dignaraa)

Cast :

  • Lee Seungri (BIGBANG)
  • Park Bom (2NE1)
  • Sandara Park (2NE1)
  • ?

Genre : AU. Angst.

Length : Oneshoot

Song theme Cinta Matiku by MANTRA (selengkapnya baca di helloworldfanfic.wordpress.com)

Disclaimer : tertarik dengan tebak-tebakannya guru les. Apalagi setelah nonton film Indo yang mengangkat tema ini, suer dah, ngga bisa tidur & akhirnya mutusin buat bikin FF ini. Tokoh serta kehidupan mereka hanya milik Allah SWT.

Be a nice reader. PLAGIARISM is an EVIL do.

Poster : A lotta thanks Jisankey@secretbase14.wordpress.com

A/N : bahasanya kaya anak kecil, gapapa ya? :v
FF horor pertama, jangan salahin kalo jadinya nggak horor (?) wkwk

>>>oOo<<<

 

Kematian.

09 November, 2009

 

Senja ini hujan turun. Langitnya gelap. Walau begitu, kau tidak akan membutuhkan senter atau alat penerangan semacamnya untuk mencapai rumah Sandara. Setelah menengok jam di pergelangan tangan kiri, kuhempaskan nafas berat dan mencoba melangkah di licinnya genangan air jalanan. Cukup berjalan hingga 500 meter dari rumah dengan lampu jalanan seadanya kau bisa langsung mengetahui rumah Dara. Ya, kediaman mewah nan megah tersebut adalah rumahnya, tempat dimana tak lama lagi orang-orang akan berkumpul dan berkabung.

Kulipat payung hitam dengan sembarangan, kemudian melepas sepatu, meletakkan seikatan bunga mawar dan mulai berdoa untuk seseorang yang wajahnya terpampang di sebuah figura foto, seseorang yang jasadnya sedang terlelap di peti. Setelahnya kupalingkan perhatianku, kepada sepasang anak gadis yang menangis tersendu-sendu di sana. Duduk berhadapan tampak saling menguatkan.

“Kau, tidak apa-apa?” tanyaku sembari duduk di sandingnya. Mengetahui keberadaanku, tangisan Bom nuna perlahan terhenti, kemudian pergi meninggalkan tempat hingga hanya kami berdua yang duduk di kursi panjang ini. Dia memberiku kesempatan untuk sekedar bicara dengan adik perempuannya.

“Apa aku bodoh hingga mengatakan ‘aku baik-baik saja’ di saat seperti ini?” sentaknya menginjak kaki kananku dengan keras. Aku menjerit singkat, kemudian mengayunkan pergelangan telapak kakiku.

Dia benar, mungkin pertanyaanku yang terlalu congkak untuk ditanyakan di saat seperti ini.

Araseo. Menangislah,” Aku tau dia tidak akan berhenti menangis walau aku sudah datang. “Tapi jangan lama-lama ya…”. Kurengkuh tubuh ringkihnya ke pelukan terhangatku. Tidak cocok memang bila kami harus bermesraan di saat upacara pemakaman Tuan Besar yang sebentar lagi berlangsung. Tetapi kupikir aku harus.

“Kenapa memelukku?” tanyanya masih dengan isakkan yang ada.

“Udaranya dingin…” jawabku memeluknya lebih erat.

Tak lama kemudian dia tenang, menyandarkan kepala pada dadaku kemudian tertidur pulas dengan sesuka hatinya. Tidak masalah, lebih baik daripada melihatnya terlarut tangis. Kuangkat tubuhnya sampai di tempat tidur dan kuserahkan pada hyongje terdekatnya.

Tertengok kamar Dara sekilas. Di salah satu sisinya aku masih dapat melihat brankas itu tetap berada disana. Sudah cukup sering aku memasuki rumah ini dan menurutku rupanya selalu sama dari aku SMA sampai sekarang, yang membedakannya hanya satu itu, brangkas tua yang selama ini tak pernah ku ketahui. Sudah dua minggu dia disana. Kukira almarhum Sajangnim tak akan pernah meletakkan barang-barang pentingnya di ruangan Sandara. Tampak kontras sekali untuk dipandang.

Aku pergi, meninggalkan ruangan berjendela tinggi tersebut.

 

Tidak main-main, Abeoji Sandara adalah seorang pengusaha besar di Seoul, bahkan Korea. Beliau termasuk kategori orang penting di dunia saham, maka dari itu pemakaman ini dirancang oleh keluarga begitu mewah karena dihadiri oleh pengusaha-pengusaha penting lainnya. Mereka semua berkabung, mendoakan beliau yang kudengar meninggal karena kecelakaan mobil yang mengenaskan. Menyedihkan sekali bila Dara dan Bom nuna harus tinggal sendiri di rumah megah ini.

DUAK

“Akh!”

“Aishh,” gerutuku mengusap kening, bersamaan dengan suara kletak benda kotak mengilap yang jatuh ke lantai. Tak sengaja aku menabrak punggung gadis berambut pirang yang tak lain adalah unnie-nya Dara, Park Bom. “Mianhaeo” kataku sambil menarik tubuh Bom nuna yang terjatuh akibat lamunanku ketika berjalan.

Setelah kubantu berdiri bukannya berterima kasih, dia malah clingak-clinguk. Setelah mengambil benda-kotak-mengilap di lantai tiba-tiba… “YA!!!” ia membentakku yang sedang menunduk 90o padanya. Belum sempat aku berpikir mengapa bisa gadis paruh wanita ini bisa berdiri tegap seperti tiang beton di tengah jalan, aku spontan bergidik. Sementara dia sudah menggeleng hebat, mengepalkan tangan, tampak kesal luar biasa.

“Ku bilang mianhaeyo nuna…”

Gadis berambut pirang panjang ini seperti tak menerima permintaan maafku. “Damn Ya! Karena kau dia menghilang!”. Padahal aku tidak bermaksud menabraknya dan kupikir itu bukan tergolong dalam dosa besar, tetapi sepertinya dia kehilangan seseorang karena aku.

“Dia siapa?” tanyaku yang tadinya ingin menepuk pundaknya, menanyakan siapa orang yang dia cari. Batal. Seketika nyaliku mengucil ketika dia lebih cepat menoleh kepadaku.

Sepasang matanya yang sembab sekarang tampak garang. “Minggir!” bentaknya mendorong tubuhku supaya menyingkir. Aku tidak mengerti. Dia terus berlari sambil mencari seseorang dalam kerumunan manusia di rumah ini. Karena khawatir aku mengikutinya, berniat membantunya. Sayang sekali, dia jauh menghilang dari kerumunan dan aku tak sampai mengekorinya.

 

—–Park Bom

Pertama kali aku bertemu dengannya adalah di saat aku berkunjung ke rumah Sandara ini yang juga untuk pertama kalinya. Memang Sandara adalah satu-satunya teman perempuan terdekatku di SMU.

Bom nuna berparas cantik dengan rambut panjang bergelombang yang selalu tergerai manis—ya kuakui dia cantik tapi lebih cantik Dara, kekeke~. Dia ramah, nuna selalu ikut tersenyum dikala kami bercanda bersama. Kupikir dia pendiam, mungkin karena aku tak pernah sekalipun mengajaknya mengobrol. Tetapi tentu saja Bom nuna sangat dekat dengan yeodongsaeng-nya. Setiap kali aku melihat mereka sedang bersama, mereka selalu bisa tertawa lepas.

Beberapa kali aku mengumbar pendapat tentangnya : ada aura aneh di sekitar Park Bom. Wajahnya tampak murung saat tak ada orang yang memperhatikan. Namun aku tak berani mengungkapkannya karena Dara bilang unnie-nya sangat sensitif dengan pendapat orang. Aku heran, apa nuna itu sudah pernah pacaran ya? Mana ada namja yang mau bila sikapnya tertutup seperti itu? Berbeda sekali dengan Sandara. Adik perempuannya yang ku kenal adalah seorang periang, bersahabat dan sukar sekali untuk diam. Ya, sebelum sepeninggalan ayah tersayangnya.

Dan ini, kali pertama aku melihat tatapan mata Bom nuna. Entah mengapa ada sepasang mata seorang gadis yang seperti itu.

*

 

Pria Misterius.

30 Desember, 2009

 

Aku bangun dari tempat tidur. Pukul 09.00am. Duduk sejenak di ranjang kemudian berdecak seketika kakiku menyentuh lantai. AC apate menyala semalaman, aku lupa mematikannya karena terlalu lelah. Sekarang tubuhku lemas sekali. Sial, aku diserang demam.

Hampir dua bulan setelah kematian Sajangnim, aku jadi agak banyak ikut campur dengan urusan perusahaan keluarganya. Bom nuna yang menggantikan posisi beliau sekarang, dibantu dengan Sandara—tidak, lebih tepatnya aku karena Sandara tak memiliki bakat untuk urusan pekerjaan ayahnya, ia meminta bantuanku. Kau tau, pelajaran Ekonomi, kata Dara selalu berhasil membuat kepalanya pening dengan mata berkunang-kunang. Entah penyakit macam apa aku juga baru dengar ini -_-

Lalu yang aku tau jelas pagi ini akan sangat terlambat untuk berangkat ke kantornya. Tetapi apa aku bisa pergi… Aku benar-benar lelah, mematikan AC saja aku masih terlalu malas. Sejurus kemudian mataku terpejam kembali.

 

Tak lama kemudian… “Ting Tong”

Well, tidak ada malas-malasan lagi. Panggilan yang menyebalkan, aku harus segera membukakan pintu.

Ciitt.

Seorang pria meninggalkan seikat mawar putih di depan pintu. Tak tertata, sebagianpun sudah ada yang patah tangkainya. Aku mengambilnya. Ingin aku tanyakan namun pria itu tak terkejar. Tak mau ambil pusing aku berniat membuangnya ke tong sampah dalam aparte.

Ciiitt.

Sejak kapan pintu aparte yang baru dua tahun kudiami ini berdecit? Ketika aku kembali memperhatikan mawar-mawar yang ada di genggamanku, tiba-tiba saja seluruh tangkainya melayu, berubah warna menjadi hijau kecoklatan. Aku tidak yakin, tapi aku memungutnya masih dengan keadaan segar! Dalam hitungan detik tangkai-tangkai membusuk, mengeluarkan aroma menyengat, kemudian belatung-belatung menjijikkan bermunculan mulai menggerogoti telapak tanganku… Aku menghempaskannya ke lantai lalu

 

“Aaaaargh!!”

Mataku terbelalak. Kuambil nafas terpanjang. Degupan jantung yang kacau menyesakkan dada, seiring dengan dentuman ting tong ting tong bel aparte serasa tak berujung. Shit! Fuckin’ nightmare.

Kakiku melangkah gontai membukakan pintu.

“Annyeonghaseo.. ehh, Seungri-ssi? Anda sakit?…”

 

Yang datang itu adalah sopir kantornya Sandara, Paman Kim dan seorang lagi Kang Daesung, begitu paman Kim memperkenalkannya padaku. Dia klien penting dari luar kota yang harusnya kutemui pagi ini.

Paman Kim meletakkan sapu tangan basahnya ke jidatku, “em, gwaenchanha” kataku berbaring di sofa. Memalukan sekali aku harus memakai kemeja kusut yang kemarin kupakai tidur di depan klien perusahaan seperti ini. “Maaf, saya sedang tidak enak badan” kataku dengan formal.

“Tidak apa-apa,” jawabnya santai sembari mengumbar senyum. Aku belum pernah menangani orang ini sebelumnya. Mungkin. Mataku buram, sulit sekali untuk mengenalinya dengan jelas…

*

 

 

Kematian Kedua.

14 Januari 2010

 

“Hinks hinks”

Suara tangisan gadis bergeming mengisi kesunyian taman. Aku dapat melihat punggungnya dari kejauhan. Rambut panjangnya yang ditiup angin senada dengan guguran daun menjari berwarna cokelat kekuningan dari ranting-ranting pohon. Aku tak mengerti, kenapa ada gadis sepertinya sedang menangis di tempat sekosong ini?

“N..nuna? Gwaenchanhayo?”

Dia masih tak berhenti terisak, juga sama sekali tak menggubrisku. Aku kw-kw kebingungan. Disini tidak ada orang selain kami. Apa dia telah disakiti seseorang? Atau ditinggal pacarnya sendirian? Eh, atau bisa saja dia tak mengerti bahasa Korea yang kugunakan? “Miss, say something to me” tambahku.

Isakannya terhenti dalam sekejap. Tinggal suara angin, dan ranting-ranting yang saling bergesekan jauh diatas kepala kami. Tak lama kemudian terdengar jawaban, “Bagaimana bisa kau memanggilku dengan sebutan itu…”

[Insert the shocking pause here]

.

.

Ah! Kedua mataku langsung mendelik lebar. Aku mengenal betul suara lugunya. Gadis ini, Dara! “Kenapa kau menangis di sini?”. Tanyaku hendak memeluknya. Kedua tanganku telah menengadah, namun sejurus kemudian ia menghindar. Wajahnya sembab, pucat nampak ketakutan. Walau suara isakkannya tak terdengar lagi, aku masih bisa melihat air matanya meleleh.

“Dara, kenapa?…”

Hari ini Sandara sungguh berbeda, walau masih nampak cantik seperti biasa. Rambutnya memanjang, aku ingat persis seperti Sandara sekitar tujuh tahun lalu—pertemuan pertama kami. Dress manisnya kuning kelabu, merdu sekali dengan cuaca sore ini. Sayang, air matanya terus mengalir membuat kantungnya membesar dan sembab.

“…ada yang salah denganku?”.

Harusnya dia yang bertanya seperti itu. Tetapi lihat, tampangnya sungguh ketakutan berhadapan denganku. Tangan kanannya gemetaran merapat di dada sementara tangan yang lain sibuk mengusap air mata. “mendekatlah..” tambahku. Butuh beberapa detik untuknya bergerak kaku mendekatiku. Kepalanya menunduk, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tak mengerti, ini bukan Dara yang kukenal…

Dia mendekat perlahan, sampai benar-benar dekat. Aku tahu dia memaksakan isakkannya supaya tak terdengar olehku, tetapi tetap saja dia tak bisa membendung air matanya yang terjun satu per satu. Menyedihkan, apa sebenarnya yang telah membuatnya jadi seperti ini? Tak tahan melihat matanya berair-air, kuraih tangan kirinya. Kugenggam erat supaya tak bisa menghindar lagi dariku. Ingin sekali rasanya mengusap air matanya, jikapun aku tak tau sebab pasti ia menangis.

“Ri…?”

“huh?”

“Apa kita akan terus bersama?…”

‘Tentu saja, Dara’ Aku ingin mengutarakannya, tetapi dalam sekejap lidahku kelu, tak dapat bersuara. Bermenit-menit hening yang tak biasa mencekam. Rahangku menguat, kenapa denganku ini?!!

Lalu suara angin berhembus menggelitik kuping. Begitu aku membuka mata Sandara telah mengunci bibirku dengan ciumannya, menatapkan milikku dan miliknya dengan memegangi leher belakangku. Dia memaksakan ini, aku dapat merasakannya. Masih meneteskan air mata.

Ah, paksaan atau tidak itu bukan masalah. Aku tak peduli, yang jelas aku tulus mencintainya. Kubalas ciumannya tanpa ragu. Namun lambat laun tanpa sadar kakinya terlihat tak menyentuh tanah lagi, tubuhnya mengayang. Selanjutnya berangsur-angsur dirinya menghilang dihembus angin. Apa lagi sekarang?! “Dara!!..”. Namun teriakanku percuma, dia seakan tak mendengar. Suara angin semilir berubah menjadi angin ribut, membuat telingaku mendengung hebat. Sakit. Cairan merah kental pelan-pelan meleleh dari sana, dan

 

“Haahh~…..”

Sesak. Jantungku seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ternyata kelopak mataku baru benar-benar terbuka sekarang. Jam digital menunjukkan pukul 01.00am. Ya, terlalu pagi untuk melakukan apapun. Tubuhku terlentang lemas di kasur, keringat dingin bercucuran dari dahi,  tampaknya aku masih demam. Suhu ruangan terasa membekukan kulit padahal AC sedang tak menyala. Seungrii, kembali tidur!! Dengan paksa aku pejamkan mata erat-erat. Kau tau jika begini terus lingkar mata pandaku akan semakin memarah.

 

Jadi, yang tadi itu apa? Mimpi buruk? Lalu kenapa mulutku ikut-ikutan asin?…

 

07.10am

Sudah dua hari tidak keluar aparte sama sekali. Pengap. Akupun tak ingin Dara sedih dan bingung membantu pekerjaan kakaknya di kantor karena demam ringanku. “Sret”, kupastikan dasi telah terikat dengan benar. Seungri Seungri, kau selalu tampak hebat dengan Blazzer! Gumamku seraya memegang jakun, memasang tampang yakin #plak.

Sandara, hari ini aku tak akan mengecewakanmu!

 

“Dreet, dreett…”

Lagi-lagi suara pengusik. Kali ini ponsel. Aku lupa menaruhnya dimana tadi sehabis mandi, dan sialnya benda itu kupasang profil vibrate. Butuh waktu satu menit bagiku hingga menemukannya di bawah bantal ranjang. Nama Paman Kim tertera. Dua kali ia menelepon setelah yang pertama tak terangkat. Beliau ini, pagi-pagi sudah telepon. Kalau tidak urusan kator ya pasti menawari berangkat bersama. “Yeoboseo…?”.

Beberapa detik kemudian entah tiba-tiba saja tanganku terasa licin. Dengusan singkat terdengar. Ini tidak mungkin. That guy’s try to fucking kidding me… Dia bilang nona-nya meninggal, Sandara meninggal.

Ini akan menjadi hal yang paling tidak lucu yang pernah kudengar.

*

 

 

Devil May Care.

21 Januari 2010

 

“Kau pembunuhnya!”

“Kau gila!”

CTARR!! Petir menyambar di tengah hujan angin nan deras malam ini, tepat sepeninggalan Sandara. Tak ada tangis air mata, hanya kebisuan. Karenanya seluruh pegawai hari ini dipulangkan. Aku membela-belakan diri kemari untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Park Bom, dia tau yeodongsaeng-nya meninggal karena dibunuh, ditembak kepalanya oleh seseorang. Mereka bilang Sandara ditemukan diatas tempat tidur dengan peluru bersarang di kepala, ceceran darah, dan tak ada harapan sekecil apapun untuknya selamat dari maut. Namun Bom hanya pasrah. Tak ada tindakan otopsi atau apapun untuk menelusuri seluk beluk kematian Dara. Itu semua membuatku naik darah.

“Lalu kau merelakannya begitu saja??”

“Seungri, takkan bisa orang yang telah pergi bangkit kembali…”

“Tapi bukan begitu!!” Teriakku, tak berdampak ekspresi apapun padanya. Aku geram. Tidak ada siapapun di rumah ini selain dia dan Dara. Tidak ada seorangpun yang menyimpan dendam dan begitu dekat dengan Dara. Aku tau dia, jikapun tidak aku ingin dia menjelaskan tentang keberadaan brangkas tua yang ternyata adalah miliknya!

“Dengan dasar apa kau menuduhku?” Ujarnya, sembari melipat kedua tangannya, menurutku itulah yang disebut ‘angkuh’.

Aku memang tidak—belum—memiliki bukti yang cukup untuk menuduhnya, namun aku yakin dengan beberapa lembar foto yang kutemukan di kamar Sandara. “Dia, siapa?” tanyaku. Terpampang hasil potretan kerumunan manusia berpakaian hitam, dan dari sana seakan menunjukkan bidikan fokusnya terhadap seorang pria. Aku memiliki firasat tentangnya.

“itu… milik Sandara, bukan?” balasnya mencoba mengelak.

“Kau bercanda?” remehku sedikit mendengus. Kami berdua tau latar foto tersebut adalah di rumah ini, tepatnya saat pemakaman Sajangnim sekitar dua bulan yang lalu. “Kala itu Dara terlalu lelah menangis dan kubawa dia ke kamarnya. Dia telah tertidur pulas”

“Katakan sesuatu. Bukankah dia adalah seorang klien perusahaan yang kemarin harusnya ditangani oleh Sandara?…” tambahku bertubi-tubi, ingin segera membuka mulutnya.

“Kau mengenalnya?” Park Bom, tanyanya tiba-tiba berubah penuh semangat.

Bukankah ini terlalu aneh? Mataku melotot. Wanita, susah sekali mengajaknya serius. “Bom. Katakan sejujurnya”

“Apa maksudmu?”

Ingatanku mulai menggeledahi kejadian dua bulan yang lalu. “Ketika aku menabrakmu di beranda, ingat? kau menjatuhkan sesuatu. Itu kamera saku, benar kan?”

“Kau benar. Aku memang yang memotretnya”

Aku tahu.

“Tetapi, tak ada hubungan sama sekali dengan itu. Bukan itu alasannya…”

Oke. Paling tidak ia telah mengaku bahwa ialah pembunuh Sandara. “…..” aku coba tenang, dengan baik mengontrol emosi. Hanya butuh waktu untuk melapor polisi.

“Semua ini karena… aku mencintaimu, Lee Seungri” katanya mengembangkan senyum merayu. Mataku tak henti mendelik. Wanita ini sudah kehilangan akal sehat. “Aku mencintaimu lebih dari Sandara”. Tidak, ia hanya mengalihkan perhatian. Itu senyum imitasi, Seungri! Mendadak kepalaku serasa pening. Aku menggeleng-gelengkan kepala, namun tak berubah. Senyum Park Bom seperti membiusku perlahan-lahan.

Dia memelukku, sambil meneteskan air mata haru—atau air mata imitasi, entahlah. Padahal besok adalah upacara pemakaman adiknya. Apa ini saat yang tepat untuk berpelukan? Apa aku harus meninggalkan kekasihku Dara sendiri, dikebumikan, lalu memulai lembar baru dengan Bom begitu saja? Manusia macam apa yang bisa…

Ia menyatakan cinta seperti tanpa dosa. Membunuh adiknya kemudian menyatakan cinta pada pacar si adik? Monster tercantik, benar. Semua hal berkecamuk dalam pikiran sampai-sampai aku tidak sadar Bom telah menusuk diriku dari belakang. Bau anyir seketika menyeruak kedalam hidung.

Tak bisa bergerak, tubuhku bergetar lemas tak berdaya. Setelah seliter darah mengucur dari pinggang belakangku, dia mengeluarkan senapan laras pendek yang kuyakin berasal dari brangkas tuanya. “See you!”

DOR!

 

 

…menggelikan. Kau peluk aku sebelum membunuhku.

***

~SiDE STORY~

Author POV

 

Lagi-lagi upacara pemakaman dilaksanakan di rumah megah itu. Foto seorang gadis manis berumur dua puluh empat terpampang. Orang-orang berdatangan silih berganti, berkabung dan memberi semangat kepada Park Bom, sang pemilik rumah.

“Kuatkan dirimu, Bom-ssi” seorang pria berperawakan tegap menghampirinya yang sedang murung melipat kaki diatas kursi panjang tak jauh dari keramaian. Rautnya berubah semenjak menatap lekat pria tersebut. Pria itu membalas tatapan Bom dengan senyum singkat, kemudian mulai melangkah pergi.

“Tunggu, Kang… Daesung?”

“Hm?” Pria itu menoleh. Ia tak menyangka bahwa rekan kerja perusahaannya ini telah menghafal namanya diantara puluhan klien. “Iya, noona?”

“Tidakkah keberatan kau menemaniku sejenak?”

“Eh? Tentu, noona…”

 

“Ruanganmu hebat sekali” puji Daesung seraya mengekor Bom menuju ke kamarnya. Ia minta ditemani untuk mengambil pakaian ganti.

“Ya, ini ruangan pribadiku”. Benar saja, Bom tak pernah mengijinkan siapapun masuk kedalam ruangannya selain dirinya sendiri, Sandara dan Abeoji, tetapi kini mereka berdua telah tiada.

Semua tertata rapi di sini, mulai dari perabotan hingga pernak-pernik pakaian klasik semua Park Bom yang membeli dan merawatnya. Daesung sampai terperangah, baru kali pertama ia melihat ruangan seindah ini selain di museum. Pasti mahal dan tak mudah untuk mendapatkan mereka.

Ada empat wardobe klasik yang dimiliki Bom. Sementara Bom menggeledahi salah satu almari, Daesung takjub dan penasaran, kemudian dengan lancang ia membuka satu almari lain. Begitu ia membuka kenop pintu tubuhnya terjatuh, jantungnya berdetak diluar batas normal, tercekat dan tak dapat bersuara lagi. Mayat Lee Seungri, orang yang ia temui beberapa saat yang lalu terduduk menyamping disana, pucat tak bernyawa.

“Ada apa, Daesung-ssi?” Bom yang memergokinya hanya tersenyum—imitasi.

 

-FIN-

 

Waa, akhirnya! Terimakasih udah membaca kkk~~ ^^

Lima hari bikin FF ini, geje banget ya ceritanya?? -_- yang udah baca dari atas sampe bawah komen yaa ^___^ kasih kritik/masukan/pendapat kalian tentang ini. Kalo nggak keberatan juga tolong jawab tebak-tebakan dibawah :

Question

  1. Menurut kalian apa alasan Bom membunuh Dara?
  2. Apa alasan Bom membunuh Seungri kemudian?

Aku yakin udah banyak yang tau soal ini (_._)
Hadiahnya? Aku kasi cium satu-satu aja deh? huwehehehe #bugh

Iklan