Go Away From My Brother

Go Away from My Brother, Evil!!

Author : @swithya_chan

Main Cast : Choi Soora, Kang Hyesoo, Kwon Jiyong (Big Bang), Choi Seunghyun (Big Bang)

Other Cast : Seungri(Big Bang), Kang Daesung (Big Bang)

Genre : Family, Romance | Rated : PG 15 | Length : Chapter

Disclaimer : Terinspirasi dari film “You Again”

JFYI, kisah teman Soora, Han Cheonsa dan Yesung bisa dilihat di :
http://swithya.wordpress.com/

Happy Reading^^

CHAPTER II

“Soora-ya, Eomma bilang kau ingin pindah sekolah. Ada apa sebenarnya?”

Soora tak menjawab. Dia memejamkan matanya, pura-pura tidur.

“Apa ada yang mengganggumu?” Seunghyun kembali bersuara. Dia tahu jelas jika adiknya itu tidak sedang tidur.

“Oppa…” Perlahan dia membuka matanya, “Apa aku orang yang mengerikan?”

“Siapa yang mengatakannya?” Seunghyun terlihat emosi. Ingin rasanya dia menghajar orang yang mengganggu adik kesayangannya itu.

Soora menggigit bibirnya pelan, mencoba menahan tangis.

“Soora-ya, dengarkan aku. Cobalah untuk mempercayai dirimu sendiri. Kau gadis yang hebat. Saat kau melakukan sesuatu, aku yakin itu akan menjadi hal yang luar biasa.”

“Oppa…” Tangis Soora pun pecah seketika.

Seulas senyum tersungging di bibir Soora, mengingat kejadian itu. “Sunbae ingin jalan-jalan lagi?” Dia beranjak dari tempatnya, menatap Jiyong masih sambil dengan senyum di bibirnya.

Jiyong mengangguk.

“Setelah aku lulus, seorang teman menawariku menjadi editor. Sangat berat awalnya bekerja di dunia yang sama sekali asing di mataku. Apalagi kepala editor saat itu benar-benar mengerikan. Karena tak hanya pekerjaanku yang menjadi bahan kritikannya, tapi juga penampilanku.” Soora mulai bercerita.

“Tapi kau berhasil melakukannya,” celetuk Jiyong.

“Semua itu berkat Cheonsa, temanku yang menawariku pekerjaan. Dia banyak membantuku,” ucap Soora mengingat Han Cheonsa, kawan baiknya sejak kepindahannya ke Daegu.

“Tunggu! Apa maksudmu Han Cheonsa, fotografer dari Seoul Magz?”

Soora menghentikan langkahnya, terkejut. “Eh, Sunbae mengenalnya?”

Aniya. Ada seorang penyanyi solo baru yang bekerja sama denganku waktu lalu. Dia banyak bercerita mengenai gadis itu.”

Soora tersenyum simpul. Dia yakin jika orang yang dimaksud Jiyong adalah Yesung, laki-laki yang membuat kawannya itu jatuh hati.

“Eh, bagaimana jika kita kembali?” Jiyong melirik jam yang melingkar di tangannya. “Mereka pasti mencari kita.”

Soora mengangguk-angguk. “Baiklah, kajja,” ujarnya. “Walau mereka tak mencariku, tapi mereka pasti mencari Sunbae,” gumam Soora lirih.

Ne?”

Aniya.

Noona!” Suara Seungri terdengar saat Soora dan Jiyong baru saja sampai di depan pagar tempat mereka menginap beberapa hari ke depan ini. “Noona dari mana saja? Ada seseorang yang mencarimu.”

Nugu?”

Seungri tak menjawab. Dia memejamkan mata sambil menarik ke atas sudut matanya dengan kedua telunjuknya.

“Eh..” Soora teringat sesuatu. “Tidak mungkin jika dia.”

“Apa Noona berkencan dengan si mata kecil itu?” serunya namun kakak sepupunya sama sekali tidak menggubris perkataannya. “Eh, Hyung. Kalian pergi bersama?” Lagi-lagi Seungri diabaikan karena Jiyong mena sekilas lalu segera pergi menyusul Soora.

***

Langkah Soora terhenti seketika melihat orang-orang berkumpul di taman, tampak sedang membicarakan sesuatu.

“Soora-ya…”

Sial! Ternyata benar dugaanya. “A-apa yang kau lakukan di sini?” ucap Soora sedikit tergagap melihat kedatangan laki-laki itu, Kang Daesung. Laki-laki yang setengah mati dia cari keberadaannya setelah mengetahui sosok calon kakak iparnya. Laki-laki yang dia duga memiliki senjata utama untuk misinya menyingkirkan Hyesoo dari sisi kakaknya. “Aku kira kau masih ada di Beijing.” Dia menatap laki-laki itu, dengan sesekali melirik ke arah Hyesoo.

Hyesoo tampak menatapnya dengan pandangan aneh.

“Oh ya, bagaimana jika kita bicara di luar saja?” ajak Soora sedikit panik menyadari kedatangan Jiyong dari belakangnya.

“Tunggu. Bagaimana jika kita mengobrol di sini dulu? Aku penasaran bagaimana kalian bertemu lagi,” ucap  Hyesoo tiba-tiba. “Bukankah terakhir kali kalian bertemu saat acara MT?”

Eh? Bagaimana bisa dia…? Jangan-jangan.. Aish, sial. Perempuan itu membodohiku.

“Malam itu acara benar-benar meriah karena kalian berdua.”

Soora menelan ludah. Kang Hyesoo yang ada di hadapannya itu benar-benar Kang Hyesoo yang dia kenal.

“Bagaimana jika kita berkaraoke saja?” Tiba-tiba Jiyong bersuara, membuat perhatian orang-orang di sekitar mereka beralih padanya.

“Ide yang bagus!” tukas Seunghyun.

“Sun-”

Hyung, bagaimana jika menyanyikan trot?” Jiyong bersuara lagi sambil berjalan ke dalam rumah dengan Seunghyun dan keluarganya.

Soora menggigit bibirnya pelan. Jiyong mengabaikannya. Apa karena kedatangan Daesung itu?

“Soora-ya, aku merindukanmu.”

Soora menghela nafas pelan mendengar ucapan Daesung. “Aku lelah, bisa kita bicara besok saja?”

“Baiklah, jika itu maumu.”

Dengan segera Soora berjalan masuk, namun tiba-tiba dia ingat sesuatu. “Oh ya, darimana kau tahu aku ada di sini?” ujarnya. Dia yakin sekali jika dia hanya mengatakan akan pergi ke Jeju tanpa mengatakan dimana dia akan menginap.

“Kau lupa jika seseorang yang jatuh cinta bisa melakukan apa saja?”

Soora menghela nafas kembali. Seperti keputusannya sedikit menggoda laki-laki itu untuk mendapatkan kelemahan Hyesoo salah besar, karena Daesung benar-benar telah jatuh cinta padanya. “Baiklah, selamat malam.” Soora kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Dia harus menemukan perempuan itu untuk memastikan sesuatu. “Seungri-ya, dimana dia?” tanya Soora saat berpapasan dengan Seungri di ruang tengah. Sebenarnya tidak hanya Seungri, namun juga Jiyong. Hanya saja raut wajah Jiyong yang terlihat bad mood membuat Soora mengurungkan niat untuk menyapanya.

Nugu?”

“Misi kita.” Soora mencoba mengingatkan.

Ahh, itu. Dia ada di dapur sepertinya.”

Tanpa mengatakan sesuatu, Soora langsung melesat ke dapur. Matanya segera menangkap bayangan Hyesoo begitu dia sampai di sana.

Hyesoo tampak sedang mengambil air minum. “Oh, kau ada di sini.” Dia menoleh sekilas ke arah Soora, kemudian menegak segelas air di tangannya.

Soora memutar kepalanya, mencoba melihat situasi di sekitar mereka. Tak ada seorang pun kecuali mereka berdua. “Baiklah, aku langsung saja. Kau mengingatnya bukan?”

Emm… Tentang apa?” ucap Hyesoo tenang, sambil meletakkan gelas di tangan.

Soora kehilangan kesabaran. Dia menatap Hyesoo tajam. “Jangan pura-pura lagi, Kang Hyesoo. Aku tahu kau mengenalku dan juga mengingat semuanya.”

Tanpa menjawab, Hyesoo melenggang keluar dari ruangan itu.

“Dasar iblis,” desis Soora membuat langkah Hyesoo terhenti.

Hyesoo membalikkan tubuhnya, “Ya, aku mengingat semuanya. Lalu apa maumu?” Perempuan itu melipat tangannya di dada sambil membalas tatapan Soora.

Noona, tak bisakah kau kesempatan kedua?’

Tiba-tiba ucapan Seungri terngiang-ngiang di telinganya. Soora mendengus pelan. “Hahhh… Baiklah,” gumam Soora setelah beberapa saat. “Minta maaf.”

Huh?”

“Kau membuat dua tahunku di sekolah seperti neraka, karena itu cepatlah minta maaf,” kata Soora akhirnya.

“Oke, maaf.”

Mwo?” Soora membelalakan mata. Perempuan di depannya ini benar-benar membuat kepalanya semakin mendidih. “Yakk… Kang Hyesoo!!” serunya melihat Hyesoo berniat pergi dari sana lagi.

“Apa lagi?”

“Baiklah, jika itu keputusanmu. Jangan pernah menyesal jika aku melakukan sesuatu dengan rencana pernikahanmu, Nona Kang,” ucap Soora sinis.

Hyesoo tertawa, tak kalah sinis. “Apa karena itu kau mengundang si bodoh Daesung?”

Soora berniat mengelak, namun Hyesoo menyela.

“Harusnya kau menyiapkan rencana yang lebih baik, adik ipar.” Hyesoo menepuk-nepuk kepala Soora pelan. “Oh ya, ngomong-ngomong kalian berdua pasangan yang serasi,” lanjutnya. “Si mata kecil dan si mata lebar.”

***

Soora mengendap-endap ke kamar ayah ibunya. Perlahan dia menepuk lengan ibunya, “Eomma, bisa aku tidur di sini?” pintanya.

“Kenapa kamarmu?” gumam ibunya pelan.

“Di sana terlalu panas, aku tak bisa tidur.” Soora tak bohong. Berada dalam satu kamar dengan perempuan itu membuatnya gerah.

“Hmm… Kau bisa pakai sleeping bag di sana.” Ibunya menunjuk ke arah lemari.

Segera Soora mengambil benda yang dimaksud ibunya. “Terima kasih, Eomma. Selamat tidur.”

Ne, selamat tidur.”

Satu..

Dua..

Tiga…

Empat…

Soora mencoba tidur, namun kejadian itu malah menyusupi kepalanya. Kejadian beberapa tahun lalu, saat dia sedang mengikuti MT (Membership Training atau school outing) di tahun keduanya. Kejadian yang membuatnya memutuskan untuk menyerah dengan semuanya.

Soora terpaku. Bibirnya terasa hangat. Beberapa kali dia mengerjapkan mata, menyadarkan dirinya dengan apa yang baru saja terjadi.

Laki-laki di depannya menatapnya dengan nafas terengah. “Terima kasih, Choi Soora!” ucapnya sembari mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jarinya.

Ternyata dia tidak sedang bermimpi. Laki-laki di depannya memang baru saja menciumnya.

“Hyesoo-ya, kau lihat kan?”

Eh?

“Tentu saja, Sayang.”

Tubuh Soora melemas seketika melihat Hyesoo berdiri tak jauh dari mereka. Dia tampak tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Soora. Beberapa teman-teman Hyesoo tampak di sekitarnya, menyunggingkan senyum yang tak jauh berbeda dengan Hyesoo.

“Jadi kau tak lagi meragukan teknik ciumanku kan?”

“Tentu saja. Terima kasih telah memberikan kami pertunjukan yang menarik.”

Tubuh Soora semakin melemas dan air mata mencoba menyeruak keluar dari kedua matanya begitu dia melihat sesosok laki-laki yang berdiri bersama kawan-kawan sekelasnya. Kwon Jiyong.

Hyesoo berjalan mendekati Soora, dan berbisik, “Bagaimana? Apa kau menikmatinya?”

Soora diam, berusaha keras menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Kau harus berterima kasih padaku karena berkatku, ada seorang laki-laki yang mau mencium gadis sepertimu,” ujar Hyesoo dengan senyum innocent-nya. “Sebenarnya kalian berdua cukup serasi, si mata kecil dan si mata lebar. Tapi maaf, aku belum bisa melepaskannya untuk saat ini. Mungkin kau bisa berkencan dengannya setelah aku memutuskan hubungan kami. Tunggu saja sekitar 2-3 minggu lagi.”

Soora mengalihkan pandangannya ke tempat dimana Jiyong berdiri tadi namun dia tak menemukan laki-laki itu.

Soora mengacak rambutnya frustasi. Segera dia mengambil ponsel miliknya dan keluar dari kamar kedua orang tuanya. Dia harus segera melanjutkan misinya.

Yeoboseyo…”Terdengar suara si penerima telefon setelah Soora men-dial sebuah nomer dari kontak ponselnya.

“Daesung-ah..” Soora benar-benar ingin muntah mendengar suara aegyo-nya. Tapi dia berusaha menahannya. Dia tak ingin laki-laki itu curiga. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Memikirkanmu.”

“…” Soora terkesiap. Dia merasa sedikit bersalah padanya. “Jinjja?”

Geurom. Oh ya, kenapa kau belum tidur? Memikirkanku?”

Emm, begini. Hyesoo Eonni memintaku untuk mengambil foto-fotonya saat kalian bersama. Apa bisa kau memberikannya padaku?”

“Foto?”

Huum. Foto saat kalian masih berkencan. Dia bilang kau masih menyimpannya.” Sebenarnya Soora hanya memancing. Dia sama sekali tak tahu Daesung masih menyimpan foto-foto mereka atau tidak. Namun menurut pengamatannya, Daesung tak akan membuang begitu saja foto-foto kebersamaan mereka mengingat betapa terobsesinya laki-laki itu pada Hyesoo dulu.

“Tapi untuk apa?”

Bingo. Tepat dugaanya. “Untuk memastikan jika kau benar-benar telah melupakannya. Dia juga tak ingin aku merasa terbebani dengan hubungan kalian dulu.”

Cukup lama Daesung terdiam, tampak berfikir. “Baiklah.. Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Besok aku akan meminta seseorang untuk mengirimkannya ke sini.”

Gomawo, Daesung-ah.”

With my pleasure, Honey,” ucap Daesung. “Tapi aku benar-benar tak menyangka jika kalian akan menjadi saudara ipar.”

Mmm, sepertinya aku sudah mulai mengantuk. Selamat malam.”

Ne,….

Klik. Soora segera memutuskan sambungan telefonnya begitu matanya menangkap bayangan sesosok laki-laki yang tampak menatapnya seksama. Entah sejak kapan laki-laki itu berdiri di sana.

“Bisa kita bicara?” Suara laki-laki itu memecah keheningan.

Sunbae..

***

Seorang perempuan tampak meringkuk di sudut kamarnya. Dia menatap sebuah pigura yang menampakkan dirinya dengan seorang pria dan wanita setengah baya dengan kedua matanya yang berair.

Appa… Eomma…,” rintihnya.

Dengan tubuh bergetar, dia memeluk pigura itu erat-erat seakan takut jika ada orang lain yang mengambilnya.

Eotthoke?”

Perlahan, perempuan itu kembali terisak.

TBC