--Is This Wrong Dear--

Title : Is This Wrong, Dear?

Author: @ChobyChoi

Main Cast:

  • Choi Seung Hyun (BigBang TOP)
  • Han Yong Kyung (OC)
  • Other

Genre: Romance, Family, Kekerasan

PG: R-16

Length: Chapter (1/3)

Disclaimer: Yang Saya punya hanya plot dan cast (Han Yong Kyung).

==========Happy Reading==========

 

3 Januari 2013…

 

“Aku akan menikah….”

Kalimat itu yang pertama kali kudengar darinya saat berhasil menjemput dan mengantarku pulang. Untuk beberapa saat, kami hanya diam. Dia tak melanjutkan kata-katanya. Aku-pun tak menjawab, hanya memilih tersenyum. Entah, apakah senyuman ini mampu menutupi isi hatiku atau tidak. Sebelumnya aku pernah mendengar cerita darinya, bahwa ada seorang yeoja yang mengaku hamil. Bukan lagi rahasia kalau dia adalah pemabuk berat. Dia bisa meminum vodka sebanyak yang ia inginkan. Wanita itu mengatakan, ia ditidurinya saat menemukannya di club malam di daerah Gangnam. Aku hanya mendesah sesak saat itu.

“Yong Kyung…” dia berlirih pelan, menuntutku untuk membuka suara. Aku menoleh padanya dan tersenyum lebar. Sebelum berucap, aku menepuk bahunya agak sedikit keras.

“Itu baru namanya pria sejati!”

==========Y.T==========

 

15 Februari 2014…

 

Seorang pria bersenandung seraya menepuk-nepuk bokong seorang bayi laki-laki yang tidur di depannya. Dua jam lalu putra semata wayangnya menangis histeris akibat rasa rindu pada sosok ibunya. Setelah ia rasa putranya tertidur pulas, pria itu melirik jam dinding. Melihat paras sang putra kecil, ia teringat dengan sosok wanita yang telah melahirkan putranya. Jam sudah menandakan bahwa malam sudah larut, tapi sosok wanita yang satu tahun dinikahinya karena terpaksa itu belum juga pulang dari rutinitas pekerjaannya sebagai seorang wartawan. Karena cemas, ia memutuskan untuk menelepon pihak kantor tempat istrinya bekerja. Salah satu pegawai disana mengatakan bahwa seseorang yang ia cari sudah tidak mempunyai jadwal bekerja. Saat ia menanyakan keberadaan istrinya, pegawai itu hanya menjawab “tidak tahu” dengan nada enteng. Ada sedikit rasa kesal yang menggumpal di dalam hatinya. Meski menikah tanpa rasa cinta, tapi ia merasa harus belajar mencintai wanita yang sudah memberinya seorang putra, tentu saja semua itu demi kebahagiaan putranya. Ia lihat kembali jagoan kecilnya, sudah tenang dengan alam mimpi yang mungkin dipenuhi dengan keindahan. Setelah menempatkan dua bantal guling di sisi kiri dan kanan putranya, ia pun segera melesat ke tempat bekerja sang istri untuk menjemput.

“Maaf Tuan, Saya tidak mengenal istri Anda” jawab salah seorang wanita berseragam sama dengan seragam yang sering di pakai oleh istrinya.

“Oh, Kamsahamnida” ia membungkuk dan melangkah lagi demi mendapatkan informasi. Meski sudah larut malam, tapi kantor salah stasiun atakana ini masih ramai, banyak pegawai yang bekerja sesuai dengan bagiannya.

“Apa Anda mengenal seorang wartawan yang bernama Kang Hyejin? Dia istriku.” Kembali pertanyaan itu ia tanyakan kepada seseorang yang tak sengaja berpapasan dengannya. Sebelum namja yang menjadi lawan bicaranya menjawab, seorang yeoja yang melewatinya berhenti melangkah. Gadis itu menoleh, memperhatikan namja jangkung yang sedang cemas mencari istrinya.

“Choi Seung Hyun-ssi?” tanyanya memastikan. Namja yang bernama Seung Hyun itu menoleh, heran menatap gadis itu. Seingatnya, ia tak pernah memiliki teman yang bekerja disini selain istri, tentunya.

“Kau Choi Seung Hyun?” tanya yeoja itu memastikan.

“Ne, aku Choi Seung Hyun. Apa kita pernah bertemu?” pertanyaan itu sontak membuat yeoja di depannya terkekeh pelan.

“Aku Soo Bin, Kim Soo Bin. Teman istrimu, Kang Hyejin.” Ia mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. Seung Hyun membalasnya.

“Istrimu ada di ruang D3. Lantai dua”

“Oh… baiklah. Kamsahamnida.” Setelah membungkuk untuk mengucapkan terimakasih, Seung Hyun-pun langsung melangkah menuju lift yang akan menghubungkannya menuju lantai dua.

Saat pertama membuka pintu yang bertuliskan D3, situasi yang ia temukan adalah ‘sepi’. Beberapa lembar kertas berserakan di atas meja coklat besar. Tak ia temukan tanda-tanda kehidupan. Sempat terbesit untuk kembali, tapi pikiran itu terurung saat sebuah suara desahan mengganggu indera pendengarannya. Perlahan ia mendekat, mencoba mengikuti sumber suara. Matanya menangkap dua buah kepala berambut hitam di balik meja besar cokelat yang menjadi penghalang. Sepasang ataka yang saling bern, mencumbu satu sama lain, mendadak membuatnya mual. Tapi saat teringat sesuatu, rasa kesal merangkak menyelimutinya.

“KANG HYEJIN!!” serunya dengan nafas tertahan. Tangan Seung Hyun mengepal kuat, matanya menatap mereka tajam, urat-urat di leher sedikit terlihat akibat tekanan yang ia rasakan. Empat mata itu sontak menoleh padanya dengan rasa takut sekaligus cemas.

“Brengsek!!”

Dengan di selimuti amarah yang menggebu-gebu, Seung Hyun melayangkan tinjunya yang tertahan tepat di pipi kiri pria yang sudah berani mencumbu istrinya.

DUAGGHH!!

Terdengar pukulan kedua diikuti yang lainnya menggema di ruangan itu hingga akhirnya beberapa pegawai dan security datang untuk melerai.

==========Y.T==========

 

Ruang 7x7m itu mendadak bisu sejak dihuni oleh seorang pria yang duduk di sofa panjang hitam. Setelah mendapat teguran dari manager, Seung Hyun memilih untuk diam seraya menunggu Hyejin keluar dari ruang ganti untuk mengambil tas dan peralatannya. Wanita itu mendekat, kemudian duduk di depan Seung Hyun dengan kepala yang tertunduk dalam. Bergetar. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan karena mendapat atmosfir yang tak mengenakkan dari seorang Choi Seung Hyun. Ia tahu perbuatannya sudah sangat keterlaluan. Memilih untuk tetap tinggal saat pekerjaannya sudah selesai daripada pulang dan melayani suami atau sekedar menemani buah hati untuk terlelap.

“Sudah selesai? Kita pulang. Aku meninggalkan Jinwoon sendiri di rumah.” Ada rasa menyesal saat mengingat ia telah meninggalkan jagoan kecilnya yang tidur di temani bantal guling.

Setelah berhasil memasukkan mobil ke garasi, Seung Hyun melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah satu tahun di huninya bersama istri dan juga putranya, Jinwoon. Tak pernah ada kehangatan yang ia rasakan. Hanya Jinwoon yang membuatnya bisa bertahan tinggal di rumah dengan beristrikan Hyejin. Bagaimanapun juga, melihat perkembangan sang buah hati adalah hal yang paling indah dalam hidup.

Tangan kanannya sedikit mendorong gagang pintu berwarna kuning keemasan itu. Sosok wanita yang baru beberapa menit tadi ia jemput sudah terbaring di sisi putranya. Mengelus rambut jagoan kecil yang selalu ia tunggu senyumannya dengan dua buah gigi kecil yang baru saja tumbuh beberapa minggu yang lalu. Membuat Jinwoon semakin terlihat menggemaskan dimatanya.

Seung Hyun terdiam mengamati langit-langit kamar, mencoba menghapus memori beberapa jam yang lalu seraya menunggu sosok istrinya membuka pintu. Tapi setelah dua jam berlalu, tak ada satu tandapun yang menunjukkan bahwa pintu itu akan terbuka diikuti Hyejin yang masuk untuk tidur di sampingnya, seperti biasa. Ia tak merasa kecewa akan hal itu. Rasa kesal membuatnya bersikap masa bodo. Mungkin Hyejin memilih untuk tidur bersama Jinwoon atakana. Berbincang setelah mendapat masalah bukanlah suatu ritual yang biasa mereka lakukan untuk membuat jarak di antara mereka semakin menipis. Masalah seperti ini kerap kali menghampiri mereka, tapi tak pernah ada satu moment-pun yang membuat mereka dekat seperti sepasang suami-istri lainnya. Hanya Jinwoon. Putranya yang baru berusia tujuh bulan itu yang mampu membuat hubungan ayah dan ibunya ‘sedikit’ membaik. Setidaknya mereka masih bisa menunjukkan sisi romantis di depan Jinwoon. Alasan itupun yang membuat Seung Hyun masih mempertahankan rumah tangganya meski di ataka-bayangi berbagai objek, termasuk gadis yang benar-benar ia cintai.

==========Y.T==========

 

“Yah… Kyungie-ah, sampai jumpa!”

“Ah ye!”

Setelah melambaikan tangan pada teman sekelasnya, gadis itu berbalik. Tapi seseorang yang berdiri membuatnya menghentikan langkah dengan tiba-tiba. Sedikit terkejut mengetahui itu, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.

“Menjemputku lagi?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang” sahut Seung Hyun. Kembali gadis yang bernama Yong Kyung itu tertawa kecil. Berbagai macam alasan sudah sering ia dengar. Pria yang sudah ia anggap lebih dari sahabat ataupun kakak itu tak pernah mengaku bahwa ia tengah menjemput seorang gadis yang sudah hampir tiga tahun menemaninya.

“Apa kau membawa Jinwoon?” tanya Yong Kyung antusias. Seung Hyun mengedikkan bahunya.

“Seperti biasa” sahutnya membuat Yong Kyung tersenyum lebar dan langsung membuka pintu mobil.

“Annyeong Jinwoon sayang….” Sapaan itu terdengar riang bagi siapapun yang mendengar. Tapi atak wajah gadis itu mendadak muram saat mengetahui seseorang yang ia sapa tengah tertidur pulas di kursi khusus yang biasa di pakainya.

“Wae?” tanya Seung Hyun heran, tapi nyatanya ia tengah menahan tawa melihat pipi Yong Kyung mengembung sehingga membuat bibirnya mengerucut dengan sempurna.

“Dia tidur. Pantas saja kau tak menggendongnya tadi.” Akhirnya pria itu bisa mengeluarkan kekehannya setelah mendengar jawaban gadis itu.

“Haha…. Eomma mengatakan bahwa seharian ini dia bermain bersama noona. Jadi, pantas saja dia kecapekan.” Seung Hyun mencoba menjelaskan agar Yong Kyung tak merasa kesal lagi. Tapi ekspresi gadis itu tak berubah.

“Ayolah sayang… sebentar lagi juga dia akan bangun” Ucapnya seraya menekan kedua bahu Yong Kyung agar masuk kedalam mobil.

Sudah menjadi hal yang biasa ia lakukan. Menjemput Yong Kyung dan mengabiskan waktu makan siang bersama dengan Jinwoon yang berada di tengah-tengah mereka. Setelah makan siang, ia akan kembali bekerja dengan menitipkan Jinwoon kepada Yong Kyung. Gadis itu menyukai putranya. Seorang bayi laki-laki yang sebenarnya telah membuat hubungannya dengan gadis itu sedikit menjauh dalam urusan hati, tapi Yong Kyung menyayanginya dengan tulus. Gadis itu menyukai anak kecil, apalagi bayi seperti Jinwoon.

“Appa pergi dulu ne?” pamitnya pada sang putra. Setelah mencium pipi Jinwoon, Seung Hyun menatap Yong Kyung dan tersenyum hangat. Yong Kyung membalasnya. Tangannya terangkat ke udara, kemudian menyentuh puncak kepala Yong Kyung, sedikit mengacaknya. Salah satu moment dimana hatinya akan merasa sangat hangat saat melakukan itu.

“Issh! Kau ini!” protes Yong Kyung segera menepis tangan Seung Hyun. Pria itu tersenyum tipis melihat respon Yong Kyung. Sebenarnya respon seperti itu sudah biasa ia dapatkan, hanya saja hari ini rasanya berbeda. Hati kecilnya sedikit mengandai-andai.

“Dadah Appaaaa….” Yong Kyung mengangkat tangan kanan Jinwoon untuk melambai saat Seunghyun mendekati mobilnya. Pria itu menoleh untuk melambai sekali lagi. Tepat dalam manik matanya terlihat, Yong Kyung tengah mencium putranya dengan masih menuntun Jinwoon untuk melambai.

==========Y.T==========

 

Yong Kyung membawa Jinwoon ke halaman belakang rumahnya untuk mengajak bocah laki-laki itu bermain. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka seraya membawa sebotol susu yang baru saja di buatnya.

“Ini susu Jinwoon.”

“Kamsahamnida, halmonie…” ucapnya menirukan suara anak kecil. Diambilnya botol itu, kemudian mengocoknya perlahan. Ia arahkan dot itu ke dalam mulutnya untuk memastikan bahwa susu dalam botol itu tidak panas.

“Ah! Ini dia susumu, sayang” ucapnya seraya menyodorkan botol susu itu pada Jinwoon. Dengan senang hati, bocah kecil itu menyambutnya.

“Sampai kapan dia akan menitipkan anaknya disini?” tiba-tiba wanita yang merupakan Ibu Yong Kyung bertanya.

“Kenapa Eomma bertanya seperti itu? Aku tidak keberatan Jinwoon ada disini” sahutnya mengelus kepala Jinwoon.

“Kau bisa dianggap wanita yang tidak benar oleh orang-orang!”

“Apanya yang tidak benar? Aku ini sahabatnya Seung Hyun Oppa. Jadi, tidak akan ada yang berpikir macam-macam tentangku. Anggap saja aku ini Baby Sister Jinwoon. Ah tidak! Aku ‘kan imo-nya. Benarkan sayang?” Ia mengangkat Jinwoon dan mengerjapkan mata. Membuat bayi laki-laki itu tertawa memperlihatkan dua buah giginya.

“Ah, lihatlah Eomma. Dia semakin terlihat menggemaskan dengan gigi itu” Ia daratkan ujung bibirnya pada pipi Jinwoon dengan gemas.

“Hah! Kau ini!” keluh Mrs. Han, memilih untuk beranjak, meninggalkan putrinya yang selalu menghabiskan waktu bersama bayi orang lain tersebut.

==========Y.T==========

 

na, na, na, na, na…. Hoaaammm”

Suara detak jam dinding menjadi irama senandung yang dinyanyikan Yong Kyung. Ia menepuk-nepuk lengan Jinwoon agar bayi itu tidur dengan pulas. Matanya memang sudah sangat mengantuk, tapi ia tak berani menutup mata, takut Jinwoon akan terbangun, atau Seung Hyun yang menelepon. Ini sudah larut, tapi Appa dari bayi dalam dekapannya belum juga datang menjemput. Sore tadi ia mendapatkan pesan dari pria itu bahwa akan terlambat menjemput Jinwoon karena banyak rapat yang harus di hadiri. Tapi sampai sekarang, belum ada tanda-tanda dia sampai di rumahnya untuk menjemput Jinwoon.

Ia amati wajah mulus bayi itu. Benar-benar menenangkan hatinya. Ia tak pernah tau kenapa ia bisa menyayangi Jinwoon seperti ini. Apakah karena Jinwoon adalah putra dari Seung Hyun? Namja yang sudah tiga tahun mengisi hatinya? Tapi saat mengatakan jawaban itu, hati kecilnya berontak. Bukan alasan seperti itu yang menjadi dasar ia menyayangi Jinwoon. Bayi itu terlalu polos di matanya. Bukankah jika wanita lain yang berada di posisinya akan segera membenci, bahkan mungkin sudah membunuh Jinwoon karena secara tidak langsung bayi itu telah membuatnya harus mengurungkan niat untuk mempunyai rasa yang lebih kepada Seung Hyun. Entahlah…. Baginya mencintai sesuatu tak bisa diiringi alasan yang objektif, seperti rasa kagumnya pada sosok Choi Seung Hyun yang perlahan mengantarkannya ke dalam lembah yang disebut cinta.

“Ah Tidak!”

Ia menggeleng keras mengingat perasaan yang ia miliki sebenarnya pada Seung Hyun. Ia boleh saja memikirkan Seung Hyun sebagai seorang sahabat ataupun kakak yang paling ia sayangi, tapi jika untuk memikirkan cinta pada namja itu, rasanya harus ia bunuh dengan segera. Asalkan masih bisa melihat namja itu, hati dan tubuhnya masih bisa hidup sampai detik ini.

Dddrrrrtt….

Ponselnya bergetar, segera ia ambil dan membuka pesan dari orang yang sedari tadi membuat pikirannya tersita.

 

From: Tabi

Kau sudah tidur? Aku akan menunggu selama lima menit. Jika kau tak membuka pintu, aku akan pulang.

 

Ia berdecak melihat isi pesan itu. Dengan segera ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar untuk membuka pintu utama. Terlihat namja jangkung itu berdiri menunggunya.

“Apa aku menganggu tidurmu?” tanyanya tak enak hati.

“Tidak. Ayo masuk.” Ia membuka pintu dan mempersilahkan duduk untuk menunggu selama ia mengambil Jinwoon.

“Apa Hyejin menemuimu?” tanya Seung Hyun membuat Yong Kyung menghentikan langkahnya, berbalik menatap Seung Hyun dengan alis yang menaut, heran.

“Tidak. Memangnya kenapa?” jawab sekaligus tanya gadis itu. Tapi Seung Hyun hanya diam, tak menjawab. Gadis itu merasa ada yang tidak beres dengan Seung Hyun. Diurungkan niatnya menuju kamar, memilih untuk duduk di samping Seung Hyun.

“Apa ada masalah?” tanyanya hati-hati.

Seung Hyun menatap Yong Kyung dengan mata elangnya. Seakan mengingatkan gadis itu bahwa bukan sejak detik ini atau beberapa menit yang lalu, tapi sejak satu tahun yang lalupun sudah terjadi banyak masalah yang menghampirinya.

“Jangan menatapku seperti itu. Kau menyeramkan!” Protes Yong Kyung yang merasa risih. Sejak dulu tatapan Seung Hyun memang bermakna biasa –mungkin-, tapi karena mata tajam yang dimilikinya, membuat gadis itu sedikit merasa takut, tapi dalam waktu yang bersamaan membuat hatinya tak karuan.

Seung Hyun tersenyum tipis melihat tingkah Yong Kyung. Ia menghela nafas sedikit berat sebelum akhirnya mendekatkan kepalanya pada bahu Yong Kyung. Gadis itu sedikit mundur saat kepala Seung Hyun terus mendekat, tapi meski menghindar, kepala itu tetap berhasil bersandar di bahunya.

“HUUH!” kembali helaan keras nan panjang itu terdengar. Entah mengapa helaan yang terdengar lelah itu menyadarkan Yong Kyung. Ia yakin bahwa Seung Hyun sedang tidak baik.

“Sebenarnya kau kenapa? Ada sesuatu yang terjadi hari ini?” tanyanya mulai penasaran. Bukankah tadi namja itu bertanya tentang istrinya, Hyejin?

“Hyejin Onnie baik-baik saja? Apa dia tidak mencari Jinwoon?”

“Entahlah….” Satu kata itu membuat hati Yong Kyung sedikit kesal. Sifat asli namja itu tak pernah berubah. Tertutup! Lebih memilih diam tanpa mengumbar sakit hatinya.

“Oppa….” Yeoja itu merengek seraya mendorong bahu Seung Hyun agar menjauh dari pundaknya. Satu decakan kesal terdengar dari mulut Yong Kyung, tanda gadis itu sedang kesal.

Seung Hyun yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Kembali ia mendekat, ia selipkan kedua tangannya di antara sisi tubuh Yong Kyung, kemudian memeluk gadis itu. Yong Kyung sedikit terkejut, jantungnya mendadak berdetak tak karuan saat dagu Seung Hyun menempel di pundaknya.

“Aku lelah, Kyungie-ah…” ucap Seung Hyun terdengar parau, membuat Yong Kyung merasa bersalah. Namja itu mengangkat tangan kirinya untuk menyeka air yang hendak jatuh menyentuh pundak Yong Kyung.

Perlahan, Yong Kyung mengangkat tangannya, kemudian mengusap punggung Seung Hyun. Memberinya kekuatan untuk namja itu agar tetap bertahan. Baiklah, untuk kali ini ia harus mengalah.

==========Y.T==========

 

Sang mentari perlahan merangkak naik menyinari permukaan bumi, termasuk kota Seoul yang masih dihiasi salju putih nan tebal. Seorang namja semakin menarik selimutnya untuk membungkus seluruh tubuhnya. Meski tidur di atas sofa, tapi ia masih bisa tidur dengan nyenyak. Hanya saja, aktivitas kecil yang dilakukan orang rumah itu membuatnya terusik pagi ini.

“Apa dia tidak bekerja?” tanya seorang pria yang usianya sudah setengah abad lebih menatap lekat Seung Hyun yang tidur di sofa.

“Biasanya dia berangkat jam 8, sama seperti jadwalku kuliah, Appa” sahut Yong Kyung seraya meyerahkan tas berisi pakaian koki milik ayahnya.

“hah… baiklah. Mana Eomma-mu?”

“Eomma sedang memandikan Jinwoon.”

“Lainkali belajarlah untuk memandikan bayi, agar tak membuat malu keluargamu saat kau menikah nanti!” Teguran itu sukses membuat gadis itu tertunduk, tapi tersipu malu. Meski menyayangi Jinwoon, Yong Kyung tak pernah memandikannya. Bukan tanpa alasan ia berbuat seperti itu, bukankah yang pertama kali melarang untuk memandikan Jinwoon sendirian adalah Ibunya?

Setelah mengurus Ayahnya yang akan bekerja, Yong Kyung memutuskan untuk pergi ke dapur, hendak membuatkan segelas susu untuk Jinwoon. Perlengkapan yang dibawa Seung Hyun sangat lengkap, termasuk baju ganti dan peralatan mandinya.

Saat berkutat di dapur sendiri, ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Seorang namja yang tengah berandai-andai bisa memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya untuk mengucapkan selamat pagi. Sayang, itu hanya angan-angan belaka. Gadis itu berbalik, hendak melangkah, tapi harus berhenti mendadak karena terkejut mendapati Seung Hyun yang berdiri menatapnya.

“Eo! Sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak? Maaf, kau harus tidur di sofa semalam. Pasti badanmu pegal” ujar gadis itu berjalan menghampiri sofa. Ia letakkan dahulu botol susu yang akan diberikannya pada Jinwoon. Memilih untuk melipat selimut yang semalam tadi menemani Seung Hyun tidur, kemudian mengangkat bantal dan selimut itu kembali ke kamarnya.

Rumah keluarganya memang tidak besar. Hanya tersedia dua kamar di rumah itu. Membuatnya dengan tidak enak hati membiarkan Seung Hyun tidur beralaskan sofa yang lebarnya tidak lebih dari lima kaki orang dewasa.

“Kenapa masih berdiri disitu?” tanya Yong Kyung heran melihat Seung Hyun yang masih berdiri di tempat terakhir kali ia melihatnya sebelum membereskan selimut.

“Masih mengantuk? Kau bisa tidur di kamarku kalau begitu”

“Tidak. Sama sekali tidak. Tidurku sudah cukup tadi malam” sahut Seung Hyun cepat.

“Kalau begitu duduklah… aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Tapi sebelumnya aku harus melihat Jinwoon” ujar gadis itu seraya berjalan meninggalkan Seung Hyun.

Namja itu perlahan duduk, ia sedikit mengusap wajah hingga keatas kepalanya, kemudian menjalar kebelakang dan berhenti di lehernya. Tentu saja helaan kasar tercipta. Mata elang itu melirik sudut dapur yang dimiliki keluarga Han. Hati kecilnya kembali berkata lirih.

Andai aku bagian dari keluarga ini….

==========Y.T==========

 

“Kalian benar-benar tidak akan makan siang denganku hari ini?” tanya Yong Kyung sedikit kecewa. Sebelum mengantar Yong Kyung kuliah, Seung Hyun sempat mengatakan bahwa ia tidak bisa menitipkan Jinwoon dengannya lagi hari ini. Kemarin Ibu kandung bocah itu marah dan memintanya untuk mengembalikan Jinwoon.

“Aku tidak bisa menitipkan Jinwoon padamu hari ini. Kalau untuk makan siang, seperti biasa aku akan menjemputmu” sahut Seung Hyun mengusap kepala Jinwoon yang asyik duduk di jok belakang dengan botol susunya.

“Isshh! Aku ‘kan maunya bersama Jinwoon”

“Dengan Appanya-pun tak ada bedanya.” Ada nada menggoda dalam kalimat itu. Membuat Yong Kyung sedikit tersenyum.

“Tentu saja beda. Jinwoon jauh lebih lucu dibanding dirimu”

“Tapi dia anakku”

“Tapi dia tidak mempunyai mata yang menyeramkan sepertimu!”

“Yang penting kau menyukainya”

Degh!

 

“Apaan sih?! Ah sudahlah… lima menit lagi kelas akan dimulai. Aku pergi ne? Dadah Jinwoon…..” pamitnya cepat, membuka pintu mobil setelah mencubit pipi bocah laki-laki itu. Seung Hyun yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. Tak sedikit yang ia tahu tentang gadis itu, termasuk tingkah lakunya jika sedang gelisah seperti tadi. Tentu saja dengan tak sengaja ia melihat gadis itu tersipu.

“Ayo kita berangkat jagoan kecilku!” Dia berseru, mangajak putranya berbicara, tapi nyatanya bocah laki-laki itu hanya sibuk dengan botol susunya.

==========Y.T==========

 

Ia berhenti di pekarangan rumahnya sendiri. Tak perlu berlama-lama, karena seorang wanita sudah berdiri di ambang pintu untuk menyambut Jinwoon. Segera ia turun dan menyerahkan Jinwoon pada wanita itu. Sebelum ia berbalik untuk melanjutkan perjalanannya ke kantor, Seung Hyun sempat mengusap dan mengecup Jinwoon yang berada di gendongan Hyejin.

“Oppa!” wanita itu berseru saat Seung Hyun hampir sampai di depan pintu mobilnya.

“Kita harus bicara” lanjut wanita itu berharap Seung Hyun mau berbalik dan mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja demi menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

“Lain kali saja. Pagi ini ada rapat penting yang harus kuhadiri” sahut pria itu tanpa berbalik. Memilih untuk tetap melangkah dan membuka pintu mobilnya.

“Ck! Dia itu dingin sekali!” decak wanita itu kesal melihat mobil Seung Hyun keluar dari pekarangan rumah.

“assshh… kenapa kau selalu menangis? Kepalaku sakit mendengarmu menangis!” kesal Hyejin melihat putranya yang mulai merengek dalam gendongannya. Entah kenapa selalu seperti itu kalau ia tengah berduaan saja dengan Jinwoon. Membuatnya lebih memilih untuk bekerja dan menghabiskan waktu di kantor atau di lapangan daripada mengurus putranya sendiri.

==========Y.T==========

 

“Baiklah… rapat hari ini selesai. Terimakasih….” Setelah mengucapkan kalimat itu, beberapa client dan rekan  bisnisnya memberinya tepuk tangan karena sudah berhasil memimpin pertemuan kali ini.

Beberapa orang menjabat tangan dan memberinya selamat. Seung Hyun hanya tersenyum merendah menanggapinya. Meski begitu, tetap ada rasa bangga dalam hatinya karena telah berhasil membuat pendapatan perusahaan meningkat dengan ide baru produk yang ia sarankan beberapa bulan yang lalu.

“Appa bangga padamu!” sang direktur utama menjabat tangan dan menepuk lengannya dengan senyum bahagia.

“Terimakasih Appa” sahutnya. Jika saja bukan karena didikan pria yang akan memasuki usia 60 –tapi masih terlihat sehat itu, mungkin ia tak akan semandiri dan sesempurna ini, setidaknya semua itu bisa dilihat oleh orang-orang dari luar.

“Bagaimana keadaan istri dan putramu?” tiba-tiba sang Ayah bertanya padanya tentang keluarga kecilnya. Beberapa pegawai yang dilewati mereka membungkuk, memberi hormat.

“Mereka baik-baik saja” sahut Seung Hyun menjawab dengan wajar.

“Aku mendengar dari Eomma-mu bahwa Hyejin datang ke rumah untuk menjemput Jinwoon, tapi ternyata kau sudah membawanya pergi.” Pintu lift terbuka, kedua pria itu masuk ke dalam, menuju lantai atas, dimana ruangan mereka terletak.

“Hanya ada sedikit masalah. Tapi sekarang sudah selesai”

“Sebenarnya kau titipkan pada siapa cucuku?”

“Aku menitipkan Jinwoon pada Yong Kyung”

“Sebaiknya jangan kau pisahkan Jinwoon dari Ibunya. Kasih sayang seorang Ibu tidak akan bisa menyamai kasih sayang yang diberikan orang lain.” Nasihat itu akhirnya keluar. Meski termasuk orang yang dingin di keluarga, tapi jika sudah memberikan nasihat, Mr. Choi akan banyak bicara.

Ddrrrtt… ddrrrttt…

Saat pintu lift terbuka, ponsel Seung Hyun bergetar. Ia meminta izin kepada Ayahnya untuk mengangkat telepon. Saat dirasanya sang Ayah sudah menjauh, ia menempelkan ponsel itu dan menyapa lawan bicaranya.

“Ne, aku Choi Seung Hyun”

Alisnya mengernyit saat mengetahui bahwa yang menelepon adalah pihak rumah sakit. Tetapi beberapa saat kemudian hatinya mendadak sesak, seluruh tubuhnya menengang saat suara hati-hati pihak rumah sakit itu memberitahu.

“Putra Anda mengalami kecelakaan”

 

Andai posisi ini benar-benar tepat kita jalani

Andai kau adalah bidadari yang benar-benar menemaniku

Andai kau adalah Ibu dari Jinwoon

Keluhan ini tak akan berhembus seperti nafas yang kubuang setiap harinya

Apakah ini salah, sayang?

 

Mencintaimu dari balik tembok adalah hal yang membuatku bisa bertahan

Andai saja kita melangkah sedikit lebih cepat

Aku tidak akan merutuk, dan keadaan tidak akan serumit ini

Kau mau menyebut ini Kisah Cinta?

Bagiku ini Kisah yang Menyakitkan

.

.

.

.

.

To be continue…