BIGBANG-TAEYANG

Nama Author: Megan

Title: Double Summer Sun

Lenght : One shoot (2101words)

Genre : Romance

Rating : PG-15 for kiss scene

Main Cast:

  • Dong Yongbae (Taeyang of Bigbang)
  • Gain(OC)

Sub Cast:

  • Rest of Bigbang Member
  • Seven

A/N:  Happy read!😀

Twitter: @megagandew

Aroma asin laut di musim panas menggantung di udara, memenuhi indra penciumanku dan mengirimkan jutaan sensasi aneh yang menyenangkan ke seluruh tubuh. Perutku terasa mulas meski bibirku tak henti-hentinya tersenyum. Aku bahkan tak sadar bahwa sedari tadi aku mengigiti bibirku, aku benar-benar gugup. Apa ini efek dari estrogen yang menguasaiku? Atau efek dari dopamin yang membuatku tersenyum terus menerus?

Aku tak tahu.

Yang pasti hanya satu, musim panas tahun ini lebih baik dari musim panas di tahun lalu, atau bahkan tahun-tahun sebelumnya. Indraku terbuka sepenuhnya, aku jadi lebih sensitive dan aktif, dan tentu saja aku merasa lebih bahagia. Benar-benar bahagia.

“Ini untukmu,” Suara lembut itu menyadarkanku, aku tahu sekarang. Dialah penyebab over ecxcited syndrome yang kualami saat ini , Dong Yongbae, Taeyang, sang matahari.

“Gomawo…” kusunggingkan senyumku lebih lebar, dia membalasnya, tersenyum begitu hangat.

Ini terlalu menyenangkan dan menegangkan. Kurasa aku bisa mati sebelum kencan ini berakhir jika tak segera terbiasa dengan senyum itu.

“Maafkan aku,” kepalaku menoleh cepat, menatap Taeyang yang masih bergulat dengan pembungkus ice cream-nya.

“Hm? Untuk apa meminta maaf?” Kubiarkan lidahku merasakan rasa manis dan segar yang menghibur, membiarkan Taeyang terdiam sejenak lalu menatapku.

“Untuk kencan pertama yang benar-benar buruk,” lidahku berhenti menjilat, membalas tatapannya.

“Ini tidak buruk Tey, it’s great,” jawabku, mencoba nampak setulus mungkin saat mengucapkan itu padanya.

“Bohong,” Taeyang tertawa kecil, ia akhirnya tak menatapku dan berkonsentrasi dengan ice cream-nya yang terancam dilelehkan matahari.

“Aku tidak bohong Dong Yongbae…” perlawananku terdengar buruk karena aku disibukkan ice cream yang mulai menetes-netes, hari ini panas sekali.

“Mana mungkin berkencan di sisi pantai sepi yang dipenuhi karang itu hebat. Aku seharusnya mengajakmu kencan di pantai, dengan keranjang piknik dan pakaian renang, atau ke taman hiburan dengan kaus couple yang manis,” aku tertawa, kali ini benar-benar keras, kurasa Taeyang tersinggung karena dia dengan cepat menatapku dengan tatapan terluka.

“Wae? Apa yang lucu?” matanya menatapku sinis, membuatku ingin tertawa lagi, tapi aku mengurungkan niat tertawa keras dan tak elegan itu. Mata Taeyang menatapku tajam, meminta penjelasan.

“Kau pasti berkonsultasi terlalu banyak dengan Jiyong, ya? Atau dengan Seungri? Atau mungkin dengan Dongwook oppa dan Tabi?” Wajahnya memerah, entah karena panas matahari atau rasa malu karena tebakanku benar.

“Anio, itu tidak benar,” dia berbicara dengan nada geli, lalu mulai menyibukkan diri lagi dengan ice cream.

“Taeyang-ah…bagiku bisa berdua saja denganmu adalah kencan yang benar-benar hebat! Bisa berdua tanpa harus digoda dongsaeng atau hyungmu itu hal paling melegakan dalam hidupku,” tanpa makanae Bigbang atau Jiyong itu membuat ketegangan menghilang.

“Berkencan di tempat sepi tanpa harus bersentuhan dengan orang lain itu melegakan, dan aku tak akan merepotkanmu karena pingsan akibat merasa takut oleh keramaian,” lanjutku.

“Lagi pula aku tak begitu suka kaus pasangan,” mataku mengerling, mengingat bagaimana konyolnya kaus pasangan jika dikenakan di taman hiburan.

“Tetap saja. Pemandangan disini bahkan tidak indah sama sekali,” dia menatap lautan dan memalingkan wajahnya, menatapku dan tersenyum pahit.

“Tak masalah bagiku, selama kau yang menemaniku melihat pemandangan ini, aku akan tetap merasa bahagia,” astaga Tuhan, apa yang tadi kukatakan itu?

“Kau ini benar-benar…” Taeyang tertawa lagi, “tahu cara membuatku merasa lebih baik dan melayang. Thanks!” dia mengecup pipiku cepat, mataku membulat, apa dia menciumku tadi? Ralat, mencium pipiku?

Wajahku terasa panas, bukan karena matahari yang ada di atas sana, tapi matahari yang ada disisiku. Ya Tuhan, mengapa jantung ini tak mau tenang?

“Gain-ah! ice cream mu meleleh!” Taeyang mengeluarkan pekikan aneh dan membuatku kembali ke bumi.

“Astaga!” Dengan cepat kujauhkan lenganku yang sudah berlumuran ice cream dari tubuhku, mengerang kesal karena rasa lengket dan aneh di tanganku.

“Masukan kesini…” Taeyang menyodorkan plastik dan membukakannya untukku. Padahal itu ice cream kesukaanku, dan aku sudah bersumpah itu adalah ice cream terakhir karena radang tenggorakan yang menyerangku.

“Sayang sekali…” ucapku tanpa sadar setelah mengelap tanganku dengan tissue basah dan membiarkan Taeyang memasukan ice cream ku ke dalam plastik.

“Kubelikan lagi saja ya?” Taeyang hampir saja bangkit jika aku tidak menarik tangannya.

“Tak perlu. Maksudku, aku bukan masih menginginkannya. Hanya merasa sayang,” dia mencibirku, mengangkat satu alisnya.

“Sungguh. Duduklah atau aku akan pulang karena merasa kesal. Dan cepat habiskan ice creammu, kurasa itu juga akan meleleh,” Taeyang akhirnya terduduk lagi di sisiku, bersandar di mobilnya dan menatap lautan yang dipenuhi karang. Taeyang benar, pemandangannya benar-benar buruk.

“Ini, makan punyaku saja…” Taeyang menyodorkan ice creamnya, membuatku tertawa.

“Aku bukan anak kecil Taeyang-ah, habiskan cepat!” kutolak lengannya, tapi ia malah menyodorkannya lagi kemulutku, tersenyum begitu manis dan mengaguk-anguk dengan tatapan menggoda, sial!

“Baiklah, tapi ku tak mau menghabiskannya sendiri, aku sedang radang tenggorokan,” Kuraih lengannya, untunglah ice creamnya bukan ice cream yang harus dijilat, tapi disendok. Memikirkan kami berbagi ice cream dan berukar liur secara tidak langkung membuat pipiku memerah.

“Radang tenggorakan?” Dia mencabut sendok ice cream dari mulutku dengan cepat, membuatku kehilangan sensasi manisnya dengan cepat, apa-apaan dia?

“Ne,wae?” kutatap sendok ice cream yang diambil olehnya, padahal aku sudah berharap banyak pada ice cream itu.

“Kau tak boleh memakannya!”

“Aa, wae Taeyang-ah? Aku baik-baik saja, kau dengar suaraku kan? Aku baik-baik saja…berikan padaku sekarang atau…”

“Atau apa? Astaga Gain …jangan bermain-main dengan radang tenggorokan …”

“Taeyang-ah…jebal…” kupasang wajah aegyoku, membuatnya membelalakan matanya lalu memalingkan wajahnya dariku.

“Jangan lakukan itu padaku,” dia tak perduli dan menikmati ice creamnya lagi.

“Baiklah…” aku tahu ia keras kepala dan tak akan memberikan ice creamnya lagi padaku. Sekarang aku benar-benar mengutuk kepolosan yang dipujinya.

“Kau tidak marah kan? Kau tahu radang tenggorokan itu…”

“Aku kan bukan penyanyi sepertimu…” aku tak bisa menyembunyikan nada kekanakan dan rasa kesal yang masih tersisa.

“Tetap saja…”

“Baiklah, kumohon jangan dibahas lagi. Nanti moodku memburuk, I don’t want destroy this one,” ucapku, menatap karang yang semakin nampak membosankan. Aku bersumpah bisa mendengar suara helaan nafasnya.

“Ne. Kalau begitu aku buang sa…”

“Andwae! Habiskan cepat…” entah sejak kapan aku sering merengek, tapi Taeyang malah terkekeh.

“Kau tidak seperti berusia 25 tahun,” Taeyang terkekeh, “Baiklah…buka mulutmu! Kusuapi saja ya?Aaa” Taeyang menyodorkan sendok ice cream padaku, ya ampun! Aku terbahak lagi.

“Hei, haha, ada apa? Mengapa kau senang sekali tertawa? Buka mulutmu cepat! Nanti ice cream-nya meleleh!”kutatap matanya yang nampak serius, mengendalikan diriku agar dia tak memarahiku karena aku tertawa. Dia masih menyodorkan sendok ice cream padaku.

“Kau mau tidak?” kubuka mulutku, memajukan kepalaku sedikit dan membiarkan Taeyang menyuapi ice cream padaku. Ah, ini benar- benar lucu. Akut tersenyum lebar, menatapnya yang sedang menyendokkan ice cream ke mulutnya sendiri, lalu menyodorkanku sesendok ice cream lagi.

“Setelah ini kau tak boleh makan ice cream lagi, ara?” aku mengangguk pelan, ternyata dia bisa manis juga.

“Tey…”

“Hm?” dia menyuapiku lagi, “ada apa?”

“Mengapa kau menyukaiku? Mengapa kau ingin aku jadi kekasihmu? Mengapa bukan..hum…” dia menyendokan ice cream lagi, membuatku terdiam sejenak.

“IU? Dara nuna? Atau wanita cantik lainnya?” aku mengangguk dan nyengir padanya.

“Tak tahu,” Dia menyendokan ice cream terakhir padaku, lalu memasukan cup kosong itu kedalam plastik.

“Itu bukan jawaban yang kuinginkan Tey… Ayolah, buat aku sedikit senang. Jawab saja aku ini…” Kata-kata ku terhenti. Memangnya apa kelebihkanku dibandingkan wanita disekitar Taeyang?

“Apa? Kau ingin aku memujimu dengan kata-kata apa?” Taeyang menatapku, lalu mengangguk-angguk dan tersenyum, menunggu ku meneruskan kata-kata.

“Um…”Aku benar-benar membeku, kualihkan tatapanku. “Lupakan saja,” Perasaan sedih tiba-tiba saja menerjang otakku, begitu besar dan kuat. Aku tak tahu apa kelebihanku dibandingkan wanita-wanita itu.

“Hey…jangan pasang ekspresi itu!” Taeyang terkekeh pelan, lalu merangkulku.

“Baiklah…” dia mengela nafas, “Satu, aku tertarik padamu karena kau bisa memahamiku sebelum aku mengatakan apapun padamu. Aku tak perlu susah-susah menjelaskan semua saat moodku buruk karena kau sudah mengerti…”

“Itu karena aku psikolog Tey…”Aku mendengus pelan, menggunakan nada bosan.

Dia mengangguk, “benar juga…” itu membuat perasaanku semakin buruk.

“Tapi ada jawaban nomor dua!” dia menatapku, dan mengulum senyum. Kebiasaan.

“Apa?”

“Kau…”dia terdiam, seharusnya tak usah kutanyakan saja semua itu dan biarkan hubungan ini berjalan tanpa memikirkan apa yang membuat kami bersama.

“Sudahlah. Kubilang lupakan saja kan?” aku mendengus keras, membuatnya tertawa.

“Aku merasa sudah mengenalmu begitu lama…tak ada kecanggungan yang membuatku merasa tak nyaman, aku tak bisa mengabaikanmu, kau membuatku penasaran, dan aku bukan biasmu,” Dia tersenyum penuh arti. Menggodaku.

“Dan tentu saja aku tidak mendahuluimu menyatakan cinta. Bukankah begitu Taeyang-ah?” dia nampak terkejut lalu mengerutkan kening.

“Aku tahu kau tak suka didahului, kau lebih suka mengejar dari pada dikejar, sifat pria pada umumnya. Aku tahu Tey…” dia tersenyum.

“Sure, you are psikolog. But please don’t read me nuna!” dia memasang wajah kesal palsu, membuatku semakin ingin menggodanya dengan analisa-analisa yang selalu membuatnya marah.

“Itu artinya jika IU tidak mendahuluimu menyatakan cinta, kau bisa saja bersamanya,” Aku mengangguk yakin, dia tertawa lagi.

“Hahaha…kau cemburu? Itu tidak benar nuna… sudah kubilang aku sangat merasa nyaman bersamamu, you are so loveable…I just can’t ignore you…Dan satu lagi…” dia berhenti berbica, lalu menatapku dalam-dalam. Kami saling menatap dalam keheningan,sebelum akhirnya dia tersenyum sarkastis.

“Lagipula IU itu bukan benar-benar menyukaiku, maksudku…”

“Dia kagum padamu,” Taeyang mengangguk senang.

“Aku tahu, tapi maksud pertanyaanku tadi sebenarnya adalah…” kehembuskan nafas perlahan-lahan.

“Apa yang kau sukai dariku secara…fisik?” aku menatapnya ragu, dia nampak berfikir. Sudah kuduga, pasti akan sulit menjawab yang satu itu.

Tinggiku hanya 164 cm, kulitku tidak putih karena saat bertugas di Otawa aku terlalu sering terpapar sinar matahari. Mataku berwarna coklat tua, tidak terlalu menggairahkan dan mengesankan. Mataku kecil dan tidak ada lipatan di atasnya. Hidungku tak terlalu bagus, sekadar ada dan tidak terlalu buruk juga. Bibirku juga tidak seksi, tidak tebal atau tipis, standar saja. Intinya secara fisik saat ada audisi aku pasti sudah dieliminasi sebelum mereka tahu kemampuanku. Lebih buruk lagi, aku benar-benar chubby. Ini karena diet yang kujalani tidak membuat pipiku tirus dengan cepat.

“Aku suka matamu,” Taeyang tiba-tiba saja bersuara, setelah sekian lama kami terdiam dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“Matamu memancarkan kehangatan seperti milik eomma ku,” Aku rasa pipiku memerah karena rasanya menghangat disana. memaksaku tersenyum meski aku tak mau menunjukan ia berhasil merayuku.

“Dan senyummu,” Dia terdengar senang saat tahu wajahku memerah. “Senyummu membuatku percaya diri bahwa kau tak akan pergi dariku dan berpaling pada Jiyong,”

“Hentikan Tey! Baiklah…no question about it anymore. Aku tutup kasus ini,” kugerakan tanganku, meniru gerakan mengetuk palu.

“Dan tentu saja bibirmu,” Dia berhenti disana, menatapku dan tersneyum lagi. “Aku selalu ingin mengecupnya,” Jantungku berdetak keras, astaga! Apakah ini saatnya? My first kiss? Aku menelan ludah, tak berani mengedipkan mata karena aku tahu momen ini begitu langka.

“Hey…jangan khawatirkan perasaanku padamu. Aku tak bisa kehilangan apapun tentangmu yang sudah menjadi bagian dari hidupku,” Dia meraih lenganku.

“Kau lebih bernilai dari sekadar cantik, baik, atau apapun itu,” kami masih bertatapan, aku ingin sekali memalingkan wajahku darinya karena merasa malu dipuji berlebihan seperti ini.

“Kau seperti bagian hilang dari hatiku. Kau melengkapi hidupku. Kau bukan hanya wanita cantik yang menerima cintaku. Bukan hanya wanita yang hangat dan membuatku merindu. Meski banyak wanita cantik didunia ini yang menggetarkan hatiku, hanya saat melihatmu lah aku merasa tenang dan nyaman,” Kuharap ini bukan naskah yang ditulis Jiyong dan dihapalkan olehnya.

“Meski banyak wanita yang berhati mulia dan membuatku terpesona, hanya denganmu lah aku merasa menjadi manusia. Kau lebih senang menegurku daripada memujiku,” Aku tertawa tanpa suara, mengigat betapa kesalnya aku pada pria ini. Aku bahkan tak menyukai Taeyang pada awalnya. Tapi dia ada disekitarku terus.

“Kau wanita yang mengingatkanku bahwa aku ini punya sifat buruk yang harus diperbaiki,” Kurasa kami semakin dekat sekarang, aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Kurasa tubuhnya condong kearahku.

Aku menelan ludah.

“Dan orang tuaku sangat-sangat menyukaimu,” suaranya memelan.

“Bigbang dan YG juga sangat menyukaimu,” Kini ia berbisik, kami sudah terlalu dekat sekarang.

“Lebih special lagi saat kau menerimaku sebagai Taeyang dan Dong Yongbae…” Tak ada jarak lagi antara wajah kami . Bibirnya yang hangat menyentuh bibirku. Lengannya yang tidak menggengam jemariku kini merengkuh leherku. Nalurinya bagus untuk seorang pria pencinta Bible.

Here we go. My first kiss is going on double summer sun. One above, one here. Right here in front of me. Right here, in my mouth. Taste so sweet and warm. No it’s even burn my face now.

“Hyung…Kami dataaang!” Astaga! Apa itu?

“Youngbae ya…Astaga!” Tuhan….

“Yongba…Omona Tey…” Taeyang…lepaskan bibirku sekarang!

“Hey! Kalian jangan berbuat mesum disini!!!” Bibir kami terlepas. Kurasa pipiku merah, Karena wajah Taeyang semerah tomat sekarang. Aku bisa mendengar suara tawa yang benar-benar keras dari belakangku. Ah, padahal aku sedang menikmati masa-masa berdua saja dengan Taeyang. Jika sudah begini…

“Nuna…” Seungri yang selalu menempel padaku, akan mulai bermanja-manja padaku. Berbicara hal random yang membuatku kesal padanya, bertanya hal-hal yang basi dan konyol.

“Hey Gain, bagaimana kabarmu?” Dongwook oppa akan menggodaku karena Taeyang. Dia senang dengan kenyataan bahwa perkataannya tentang aku dan Taeyang menjadi kenyataan.

“Yongbae ya, bagaimana menurutmu jaket ini?” Dan Jiyong akan mencuri Taeyang dariku. Pria itu…

Sudahlah.

Lupakan saja menikmati matahari musim panas di pantai hanya dengan Taeyang. Mereka akan selalu ada di hidup Taeyang. Dan kehidupan Taeyang menjadi bagian dari hidupku sekarang.

The End