--Is This Wrong Dear--

 

Title                      : Is This Wrong, Dear?

Author                  : @ChobyChoi

Main Cast            :

  • Choi Seung Hyun (BigBang TOP)
  • Han Yong Kyung (OC)
  • Other

Genre                    : AU, Romance, Family, (sedikit) Kekerasan

PG                          : R-16

Length                  : Chapter (2/3)

A/N                        : Terimakasih sudah membaca Part. 1 kemarin. Maaf yang kemarin banyak kata (typo) yang tidak di mengerti *bows

Disclaimer          : Yang Saya punya hanya jalan cerita, dan cast (Han Yong Kyung)

==========Happy Reading==========

 

Yong Kyung berjalan dengan cepat di atas lantai koridor rumah sakit. Setelah mendapat pesan singkat dari Seung Hyun, ia memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit. Cemas dan takut. Itu yang ia rasakan ketika mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada bocah laki-laki yang sering menemaninya menikmati hari di rumah. Dalam hatinya terus berdo’a agar Tuhan mau berbaik hati menolong bayi itu, atau untuk sekedar menghilangkan rasa sakit yang mungkin akan membuat bayi itu menangis histeris. Baginya suara tangisan Jinwoon membuat hatinya ngilu.

“Kau apakan anakku eoh?! Saat kejadian itu kau ada dimana?! Bukankah aku menitipkan dia padamu?!”

Langkah gadis itu terhenti saat melihat Seung Hyun tengah mengguncang bahu Hyejin keras. Dengan segera, ia hampiri mereka dan menarik Seung Hyun agar menjauh.

“Oppa tenangkan dirimu!” tekannya membuat namja itu terduduk di kursi tunggu. Ia usap pundak namja itu untuk memberinya ketenangan, sedangkan Hyejin tertunduk, menangis takut.

“Orang tua Choi Jinwoon?” tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka, mereka bertiga segera bangkit, termasuk Seung Hyun yang langsung menyerbu dokter itu dengan berbagai macam pertanyaan.

“Putra Anda kehilangan banyak darah. Persediaan darah tipe O yang kami miliki telah habis. Tapi putra Anda harus segera diselamatkan. Apa diantara kalian mempunyai darah bertipe O?”

Seung Hyun mengacak gusar rambutnya saat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut sang dokter. Tipe darah yang ia miliki bukan O, tentu saja tipe itu tidak sembarang di masuki darah dengan jenis lain.

“A-Aku! Tipe darahku, O.” ucap Hyejin sedikit terbata. Mereka semua menoleh padanya.

“Baguslah kalau begitu, kau bisa ikut bersama suster” Seorang suster mengangguk dan menghampiri Hyejin.

“Mari ikut bersama Saya, Nyonya”

“Apa dia akan baik-baik saja, Dok?” tanya Seung Hyun setelah Hyejin dan suster itu berlalu.

“Sejauh ini kami belum menemukan apapun selain ia mengalami pendarahan hebat. Darah yang terus keluar dari hidung dan kepalanya membuatnya kehilangan banyak cairan terutama darah. Jadi, berdo’alah agar tak terjadi efek yang lebih berbahaya lagi dari dalam tubuhnya.”

“Terimakasih dokter” ucap Yong Kyung menghentikan penjelasan memilukan sang dokter. Dokter itu menggangguk kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua setelah menepuk pundak Seung Hyun.

“Seharusnya aku lebih berhati-hati lagi, seharusnya aku tak membiarkannya bersama wanita itu. Seharusnya aku tadi menitipkan Jinwoon pada Eomma…,”

“Sudahlah Oppa… menyalahkan dirimu tidak akan membuat Jinwoon keluar dari masa kritisnya. Sebaiknya kita berdo’a agar Hyejin Onnie bisa segera mendonorkan darahnya untuk Jinwoon” Gadis itu mengusap kembali pundak dan lengan Seung Hyun. Sesekali ia memeluknya, sedikit mengeluarkan isakan. Sesungguhnya ia-pun ingin menangis. Mendengar keadaan Jinwoon dari dokter itu membuatnya yakin bahwa Jinwoon benar-benar kesakitan. Bayi laki-laki itu masih sangat rapuh untuk mengalami kecelakaan yang tengah di alaminya.

Setelah memastikan Seung Hyun dalam keadaan baik, Yong Kyung memutuskan untuk membeli makanan untuk makan siang. Saat melewati ruang pemeriksaan, langkahnya terhenti karena indera penglihatannya menangkap seorang namja yang tengah berbincang dengan Hyejin. Wanita itu terlihat menangis, kemudian yang ia lihat namja itu memeluk Hyejin dan mengelus rambutnya. Ada yang mengganjal. Pikirannya mulai memproduksi berbagai macam pertanyaan. Apa namja itu Oppa Hyejin? Seingatnya, Hyejin hanya memiliki dua yeodongsaeng.

Beberapa saat berlalu, Hyejin dan namja itu pergi meninggalkan tempat. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia berjalan mendekati ruang pemeriksaan. Seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan itu segera ia jadikan sasaran.

“Suster, tunggu! Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ne?”

“Apa darah untuk pasien Choi Jinwoon sudah didapatkan?” tanyanya yang di luar isi otaknya sendiri. Suster itu tersenyum seraya mengangkat dua kantung darah.

“Bayi itu akan segera melewati masa kritisnya setelah mendapatkan darah ini. Beruntung pria itu datang untuk menolong”

“Apa?” tanya Yong Kyung refleks. Apa ada yang salah dengan pendengarannya?

“Iya, pria itu datang untuk memberikan darahnya untuk Jinwoon.” Ucapan suster itu membuat tubuh Yong Kyung menegang seketika. Bagaimana bisa kalimat itu terdengar olehnya?

“Nona?” tanya suster itu mencoba menyadarkan Yong Kyung.

“Ne?” kagetnya.

“Apa ada yang lain? Aku harus segera memberikan kantung darah ini pada dokter.”

“Ah, ne.” sahut gadis itu sedikit linglung. Tapi ketika suster itu berbalik, hendak melangkah, Yong Kyung kembali mencegahnya.

“Ah tunggu!” Dengan terpaksa suster itu menoleh.

“Apa kau tau siapa nama pendonor itu?” tanyanya mulai bisa menguasi diri. Suster itu membuka berkas yang ia bawa untuk melihat informasi.

“Namanya…, Dong Young Bae”

Sedikit tertegun mendengar nama asing itu. Tapi otaknya mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang darah itu, kenapa bukan Hyejin yang memberikan darahnya untuk Jinwoon?

Setelah mengucapkan terimakasih dan membiarkan suster itu pergi, ia melanjutkan langkahnya dengan hati dan pikiran yang tak menentu.

==========Y.T==========

 

Tiga hari berlalu, Jinwoon telah sadar dari masa kritisnya. Kini bocah laki-laki itu bisa merasakan air susu meski masih ditemani beberapa selang infuse dan peralatan medis lainnya, termasuk perban yang menempel di kepalanya akibat benturan keras. Hyejin mengatakan bahwa mereka mengalami sedikit kecelakaan saat akan pergi menuju tempat rekreasi. Mobil yang ia kendarai hampir menabrak pengendara sepeda, membuat Jinwoon yang hanya dilindungi sabuk pengaman tersungkur, membentur dashbor mobil dan jatuh dari tempat duduknya. Tentu saja sabuk pengaman tidak sepenuhnya melindungi Jinwoon selain kursi khusus bayi yang kebetulan hanya tersedia di dalam mobil Seung Hyun.

Setiap hari Yong Kyung sengaja datang untuk menjenguk Jinwoon, mengajaknya bermain meski tak selincah dulu. Sekarang baginya Jinwoon lebih rewel daripada yang dulu. Mungkin penyebab ketidaknyamanannya akan keadaan rumah sakit dan orang-orang bereseragam putih yang setiap hari berlalu lalang datang untuk memeriksa.

Di hari keempat ia datang, berniat untuk menemani Jinwoon, tak sengaja saat itu ia harus bertemu dengan Hyejin. Tatapan wanita itu tak pernah bersahabat dengannya. Yong Kyung memang tak pernah mempermasalahkannya, tetapi sejak kejadian empat hari yang lalu, memaksa Yong Kyung harus membalas tatapan Hyejin. Ia yakin, ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu. Pikiran ini-pun yang membuatnya sering melamun dalam setiap waktu. Seringkali Seung Hyun menegurnya jika hal itu terjadi. Pertanyaan yang dilontarkan Seung Hyun-pun tak pernah ia jawab. Ia tak yakin harus mengatakan kejadian itu pada Seung Hyun.

“Aku libur hari ini. Kau tak perlu menghabiskan waktu untuk menjaganya” ucap Hyejin dingin saat melihat Yong Kyung berhasil masuk ke dalam kamar rawat.

Gadis itu menarik nafas kuat, jangan sampai emosinya meningkat hanya karena sikap Hyejin. Kakinya memilih untuk melangkah mendekati Jinwoon. Bocah laki-laki itu sedang tidur dengan sangat pulas. Ia letakkan robot yang dulu selalu menemaninya jika bermain di rumah Yong Kyung, kemudian mengelus kepala yang ditumbuhi rambut halus dan tipis. Mengusap pipinya, dan diakhiri dengan mengecup kening seraya berdo’a agar bocah itu bisa kembali pulih sepenuhnya seperti dulu.

“Kudengar kau putri dari seorang pemilik restoran kecil di daerah Myeong Dong?” suara itu membuat aktivitasnya terhenti. Hyejin yang tengah membersihkan kukunya berucap lagi,

“Aku tidak tahu bagaimana ekspresi pemilik restoran itu jika mengetahui bahwa putrinya perebut suami orang.”  Kalimat itu sukses membuat ulu hatinya terasa ditusuk benda tajam. Ingin sekali ia membalikkan tubuhnya dan menyumpal mulut wanita yang sudah berucap tidak baik tentangnya itu. Ia semakin yakin bahwa wanita yang mengajaknya bicara itu bukan wanita baik-baik.

“Tiga tahun.” Sahut Yong Kyung seraya merapikan selimut Jinwoon.

“Aku mengenalnya lebih lama dibanding dirimu, Kang Hyejin-ssi” lanjutnya sedikit menekan.

“Aku tidak peduli seberapa lama kau mengenalnya. Yang aku tahu kau selalu mengajak pergi suami beserta putraku. Apa itu tindakan yang wajar dilakukan seorang sahabat?”

“Apanya yang salah? Bukankah kau sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaanmu? Aku rasa menjadi seorang pengejar berita tidak harus membuat peran seorang Ibu tertelan” Mendengar itu, Hyejin sedikit panas.

“Jaga ucapanmu! Aku lebih baik dari seorang mahasiswa sepertimu”

“Kenapa? Apa alasan itu bukan alasan yang utama? Jangan-jangan kau hanya memanfaatkan Seung Hyun Oppa.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Yong Kyung. Ia-pun tak tahu kenapa bisa mengatakan hal itu. Yang ia tahu, saat ini hatinya tengah diselimuti rasa kesal. Jadi, perkiraan yang belum pasti bisa ia ucapkan dengan mudah.

Tanpa berkedip, Yong Kyung menatap Hyejin yang balas menatapnya geram. Tangan wanita itu mengepal. Ia tahu ada amarah yang susah payah wanita itu tahan. Jantung Yong Kyung sedikit tertekan. Ia sama sekali tidak menyukai suasana seperti ini.

Ckleekk….

Pintu kamar terbuka. Mereka menoleh melihat Seung Hyun yang baru saja datang. Yong Kyung sedikit menghembuskan nafasnya, lega. Entah apa yang akan terjadi jika Seung Hyun tak datang. Mungkin aksi saling menjambak sudah mereka lakukan.

“Kau sudah datang? Maaf tadi tak bisa menjemput. Bawa apa hari ini?” tanya Seung Hyun yang melihat Yong Kyung. Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan darinya.

“Gwenchana. Aku membawa robot ini. Dia pasti merindukannya.”

“Kau sudah makan? Aku membeli ini untukmu” ucap Seung Hyun seraya menyodorkan satu kotak berisi nasi dan lauk yang dibelinya disalah satu restoran langganan.

“Untuk Hyejin Onnie?” tanya Yong Kyung sedikit menggantung. Sontak mata mereka melirik Hyejin. Sedikit salah tingkah dilihat seperti itu, tapi wanita itu tetap bersikap seperti biasa.

“Aku sudah makan”

“Ohmm… baguslah…” desis Seung Hyun hampir tak terdengar.

==========Y.T==========

 

“Oppa, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Yong Kyung tiba-tiba. Sore itu mereka duduk bersama di taman rumah sakit yang masih dihiasi salju putih.

Seung Hyun mengernyit mendengar ucapan Yong Kyung. Tak biasanya gadis itu meminta izin terlebih dahulu sebelum bertanya.

“Kau ini seperti baru mengenalku saja. Boleh, asal tidak bertanya yang aneh-aneh.”

Yong Kyung hanya tersenyum tipis mendengar itu. Sesungguhnya ia merasa tak enak hati, tapi semakin hari ia merasa keadaan semakin tak wajar.

“Apa kau mencintai Hyejin Onnie?” Pertanyaan itu sontak membuat Seung Hyun menoleh.

“Kau bercanda? Kau memang baru mengenalku ya? Sejak kapan aku mencintainya?” Jawaban itu malah membuat Yong Kyung sedikit putus asa. Memang pertanyaan yang sangat konyol, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan kebenaran.

“Huft!”

“Ada apa?” tanya Seung Hyun. Gadis itu hanya menggeleng lemah.

“Entahlah…” semangatnya tiba-tiba saja turun.

“Hey! Kenapa kau jadi seperti ini?” Namja itu sungguh tak mengerti dengan isi pikiran gadis di depannya. Apa semua wanita memang seperti itu? Gampang sekali berubah mood.

“Oppa!”

Lihat. Detik selanjutnya suara nyaring itu terdengar bersemangat kembali.

“Sebenarnya apa yang terjadi saat malam itu?”

“Malam apa?” tanya balik Seung Hyun.

“Saat kau menginap di rumahku. Kau bertanya tentang Hyejin Onnie.” Seung Hyun semakin heran. Apa karena ia bertanya tentang Hyejin, jadi membuat fakta bahwa dirinya menyukai wanita itu?

“Jadi itu yang membuatmu bertanya yang aneh seperti tadi?”

“Bukan. Bukan itu… aku hanya merasa malam itu kau sedang tidak baik. Ada masalah apa?  Kau belum menceritakannya padaku”

“Kau sungguh ingin tahu?” Dengan sekuat tenaga Yong Kyung mengangguk.

“Entahlah….” Satu kata itu sukses meluncur dari mulut Seung Hyun. Membuat Yong Kyung terkejut sekaligus geram. Namja di depannya benar-benar sedang mempermainkannya.

“Oppa aku serius!”

“Hehe…”

Untuk beberapa detik mereka hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga sampai pada helaan nafas Seung Hyun yang terdengar berat, percakapan itu kembali terjadi.

“Kurasa kami tak pernah cocok.” Ucapan tiba-tiba Seung Hyun membuat Yong Kyung sedikit terkejut. Gadis itu menoleh, menatapnya.

Seung Hyun kembali berucap. Kalimat keduanya benar-benar membuat Yong Kyung terkejut.

“Dia berselingkuh. Sebenarnya aku pernah melihatnya bersama pria lain”

“Apa?!”

==========Y.T==========

 

Ckleekk…

Hyejin yang tengah membaca majalah, mengangkat kepala demi melihat orang yang telah membuka kamar rawat putranya. Seketika ia langsung berdiri terkejut mendapati seorang pria yang sudah menolong Jinwoon dari masa kritis tengah berdiri di depannya.

“Ya! Kenapa kau kesini? Ck! Bagaimana kalau ada yang melihatmu?” tanya wanita itu panik.

“Apa aku tidak boleh melihatnya? Lagipula suamimu tidak ada” sahutnya enteng.

“Dia ada di taman”

“Sudahlah, tak perlu khawatir. Dia tidak akan melihatku” sahut pria itu seraya berjalan mendekati Jinwoon yang tengah bermain dengan robot dan mengusap puncak kepalanya.

“Asshh! Kau ini! Giliran dia mendapat musibah, kau datang memberikan darah untuknya. Kenapa tidak dari dulu saja kau bersikap baik seperti ini?!”

“Sudahlah sayang… yang penting suamimu percaya bahwa Jinwoon adalah anaknya.”

“Tapi masalahnya semakin rumit jika kau selalu hadir. Sudah cukup di tempat kerja saja.”

Pria itu mendekati Hyejin, kemudian memeluknya dari belakang.

“Kalau begitu, biarkan saja Jinwoon bersama mereka. Kita pergi dari sini” ujanya seraya mencium pundak Hyejin.

“Kau bercanda? Jinwoon itu, hmmpptt!” belum sempat Hyejin melanjutkan kata-katanya, pria itu dengan paksa membalikkan tubuh Hyejin dan menciumnya.

“Om-maa…”

Dengan tiba-tiba pasangan kekasih yang sedang bercumbu itu menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara kecil yang dikeluarkan seseorang. Mereka dengan kompak menatap Jinwoon. Terkejut dengan apa yang di dengarnya, Hyejin perlahan mendekat.

“Kau bilang apa sayang?”

“Om-mamamama…” bayi itu berucap lagi dengan diakhiri gelak tawanya yang terlihat menggemaskan.

“Kau dengar Tae? Dia memanggilku Omma….” Wanita itu terdengar senang mengetahui bahwa kata yang pertama kali diucapkan Jinwoon adalah dirinya. Entah kenapa hatinya mendadak sangat hangat.

“Ayo ucapkan sekali lagi” perintah Hyejin. Bayi laki-laki itu mencoba menggapai pipi wanita di depannya. Dengan segera Hyejin mendekatkan diri, detik berikutnya kedua pipinya sudah di sentuh Jinwoon.

“Taeyang, kau lihat? Dia sangat menggemaskan bukan?” ujarnya mencoba memberitahu pria yang hanya diam menatapnya.

Beberapa saat berlalu, posisi itu masih betah dilakukan pasangan Ibu dan anak itu. Perlahan mata almond Hyejin terlihat berkaca. Ia baru menyadari sesuatu. Betapa menggemaskannya putra kecil yang tujuh bulan lalu ia lahirkan ke dunia. Wanita itu memang sering menemani putranya untuk terlelap jika malam telah tiba, tapi untuk mengamati semua perkembangannya, ia merasa telah gagal menjadi seorang Ibu.

“Aku tidak bisa meninggalkannya” lirihnya pelan.

Pria di belakang yang bernama Taeyang itu hanya bisa mengalihkan wajahnya. Ia tahu pasti bahwa ini semua adalah kesalahannya yang tidak bisa bertanggungjawab. Mengincar seseorang yang lebih mapan darinya adalah hal yang mungkin bisa ia tempuh untuk menghidupi buah hati dari hubungannya bersama Hyejin.

Dia hanya seorang cameramen biasa yang merantau di kota Seoul sendirian. Memiliki orang tua yang jauh dari lingkungan perkotaan, dan tentu saja tidak semapan orang-orang di kota Seoul, membuatnya kalut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Cinta itu memang indah, tapi tak seindah beban dari hasil perbuatan yang telah dilakukan. Yang bisa ia lakukan hanya mencintai Kang Hyejin.

==========Y.T==========

 

“Siapa pria itu?” Yong Kyung masih penasaran dengan pria yang dimaksud Seung Hyun.

“Hmm… manager di kantor itu memanggilnya Taeyang”

“Taeyang?” ucap Yong Kyung mengulang. Kenapa nama itu berbeda dengan nama yang ia dapatkan dari informasi tempo hari?

“Apa ada sesuatu yang aneh?” tanya Seung Hyun heran. Gadis itu hanya memegang keningnya seraya mengeluh.

“Entahlah…”

“Kenapa sekarang kau suka sekali mengucapkan kata itu?”

“Kau yang pertama kali memperkenalkannya”

“Jangan diucapkan lagi!” Yong Kyung hanya mencibir mendengar pembelaan konyol itu.

Setelah merasa puas menikmati taman dan berbincang-bincang, mereka berdua berniat kembali ke kamar rawat Jinwoon. Tapi saat akan sampai di depan pintu, seorang suster memanggil Seung Hyun.

“Tuan, ada surat keterangan administrasi yang harus Anda tanda tangani. Saya sudah mencari Anda kemana-mana”

“eo? Ah ye, aku terlalu terburu-buru tadi, jadi melupakannya.”

“Dasar ceroboh!” cibir Yong Kyung.

Sementara Seung Hyun menandatangani surat itu, Yong Kyung melihat pintu kamar rawat Jinwoon terbuka. Ia mengernyit saat melihat seorang pria yang baru saja keluar dari sana. Pria yang tempo hari dilihatnya tengah memeluk Hyejin. Ada sesuatu yang lewat dipikirannya. Inisiatif untuk mengikuti pria itu.

“Oppa. Aku harus pergi”

“Kemana?”

“Ada tugas yang belum aku kerjakan. Sudah ya, aku pergi. Bye!”

“Hey!” Seung Hyun berseru heran melihat Yong Kyung yang langsung melesat pergi.

“Anak itu sungguh aneh” desisnya.

“Terimakasih, Tuan” ucap suster itu menyadarkannya.

“Ah ye”

==========Y.T==========

 

Pakaian musim dingin berwarna biru gelapnya semakin ia rapatkan. Dengan hati-hati Yong Kyung duduk di salah satu kursi café yang kosong. Sesekali ia melirik, mengawasi seorang namja yang duduk tak begitu jauh di dari tempat duduknya. Pria yang membuat rasa penasaran mendorongnya untuk menyelidiki semuanya lebih jauh. Dia benar-benar mengikuti pria itu sampai ke café ini. Pria yang ia ketahui bernama Dong Young Bae –atau mungkin Taeyang- itu tengah menyesap coffee hangatnya. Sedikit merutuk karena namja itu memakai kacamata hitam. Ia tidak tahu apa Young Bae mencurigainya atau tidak. Semoga saja namja itu tak melihatnya.

Yong Kyung sedikit was-was saat namja itu menempelkan ponsel ketelinganya. Young Bae memang mengucapkan sesuatu, tapi tak bisa ia dengar karena café tersebut sedang ramai. Beberapa saat berlalu, Young Bae berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan keluar dari café. Karena tak ingin kehilangan jejak, dengan segera Yong Kyung ikut beranjak dan keluar dari café.

“Aiisshh! Dia kemana sih? Cepat sekali jalannya” keluh Yong Kyung saat berhasil keluar dari café, tapi tak menemukan siapapun disana.

“Apa dia langsung pergi naik taksi ya? Huh… hmmmpppptttt!!”

Belum sempat ia melanjutkan keluhan, sebuah telapak tangan membekap mulutnya. Matanya terbelalak kaget. Seketika bulu kuduknya meremang, hatinya mencelos saat mendengar suara berat pria ditelinganya.

“Kau mencariku, nona Han?”

==========Y.T==========

 

Yong Kyung membuka matanya perlahan akibat sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. Rasa sakit di kepala membuat tangannya terangkat untuk sekedar memijat. Matanya sedikit memutar, memperhatikan ruangan yang menurutnya adalah sebuah kamar, kamar yang berantakan. Seketika ia mengingat kejadian yang membuatnya ada di kamar itu. Perlahan ia berdiri, memperhatikan barang-barang yang tergeletak tak rapi di tempatnya. Tapi satu objek di ruangan itu membuat perhatiannya tersita. Sebuah frame yang menampilkan foto dua orang insan. Ia ambil frame itu, alisnya mengernyit saat mengetahui wanita yang ada disana adalah Hyejin, dan namja itu…, ia pikir adalah namja yang bernama Dong Young Bae. Sengaja ia balikkan frame itu untuk mendapatkan informasi. Ada beberapa rangkaian hufur alphabet yang tertulis disana.

TAEYANG & HYEJIN

Ia terkejut membaca tulisan itu.

“Jadi sebenarnya…” ucapannya menggantung, memikirkan hal yang baru saja menurutnya benar.

“Seung Hyun Oppa!” ia mendesis tiba-tiba. Segera ia keluarkan ponselnya. Beruntung, Yong Bae tak mengambil benda ini dari saku baju hangat yang ia pakai.

“Oppa!” ia berseru saat panggilannya di jawab Seung Hyun.

BRAAAKKK!!!

Terkejut. Ia menjatuhkan ponselnya. Sambungan masih menyala. Seorang namja yang kemarin ia selidik tengah menatapnya geram.

“Kau sungguh berani nona Han” desisnya tajam. Kakinya melangkah mendekat, membuat gadis itu sedikit menjauh.

“Kau! S-siapa kau?!” ucapnya terbata.

“Aku pria yang membuat rasa penasaranmu meningkat”

Yong Kyung terus menjauh, tapi sebuah dinding menahan langkahnya. Gadis itu semakin ketakutan, membuat Young Bae tersenyum menyeramkan. Gadis itu melirik ponsel yang tergeletak, ia tahu sambungannya belum putus. Seung Hyun pasti sedang mendengarnya.

“TAEYANG!!!” ia berteriak keras, berharap Seung Hyun yang diseberang sana bisa mendengar.

==========Y.T==========

 

Seung Hyun terdiam dengan ponsel yang menempel di telinga kanan. Tadi ia mendangar suara Yong Kyung memanggilnya, tapi sesaat kemudian ia mendengar pintu yang di buka dengan keras. Hatinya sedikit tak enak. Beberapa kali ia bertanya apakah Yong Kyung masih ada disana atau tidak. Tapi suara namja yang tertangkap oleh indera pendengarannya membuatnya membeku.

“TAEYANG!!!” Satu nama yang diucapkan dengan nada berteriak itu sontak membuat tubuh Seung Hyun menegang. Ia tahu suara itu suara Yong Kyung.

“Hey! Brengsek!! Lepaskan dia!!” Ia berteriak marah pada ponselnya. Sial! Suaranya tak sanggup terdengar oleh lawan bicara. Dengan segera ia menutup ponsel, menyambar jas, dan berlari keluar dari ruangan pribadinya. Ia yakin, sesuatu yang buruk telah terjadi.

==========Y.T==========

 

“Hmppttt!!!” Yong Kyung berontak saat Young Bae menarik tangannya, dan mencium bibirnya dengan kasar.

“Kau ingin tahu siapa aku, eoh? Ini aku yang sebenarnya, sayang… HAHAHAHA…” namja itu berucap dengan nada yang mengerikan disela-sela aktivitas ‘menyiksa’nya. Tangannya berhasil membuka baju hangat dan hanya menyisakan baju tipis yang dikenakan Yong Kyung.

Sekuat tenaga gadis itu mendorong bahu Young Bae sehingga namja itu sedikit tersungkur. Karena marah telah di dorong, pria itu mengangkat tangannya dan menampar pipi Yong Kyung. Membuat gadis itu meringis sakit akibat perih di pipinya.

Young Bae mendekat, menekan pipi Yong Kyung sedikit keras. Ada darah yang terlihat di sudut bibirnya.

“Dengar nona Han! Perbuatanmu itu sangat tidak pantas dilakukan seorang mahasiswa sepertimu. Kau seharusnya lebih berhati-hati lagi saat mencurigai seseorang”

“Bajingan!!” maki Yong Kyung disela rasa sakitnya.

“Huh? apa kau bilang?” Young Bae mendekatkan telinganya pada Yong Kyung. Karena kesal, gadis itu tiba-tiba saja meludahi kepala namja itu.

“SHIITT!!” rutuk Young Bae tidak terima. Dengan kasar, ia menarik kepala Yong Kyung dan kembali mencium bibir Yong Kyung lebih ganas dari sebelumnya. Gadis itu merasakan perih diujung bibirnya akibat perbuatan Young Bae. Sekarang ia takut. Air matanya mulai mengalir. Ia sakit saat Young Bae menahan tubuhnya ke dinding dan mencium lehernya kasar. Tangannya menekan pundak Young Bae, tapi tenaganya tak mampu membuat namja menjauh darinya.

“Oppa… tolong aku…”

Aku tidak tahu dimana letak kesalahan itu

Sebelumnya aku sangat yakin saat akan memulai

Jika “bahagia selamanya” benar ada

Pelukan ini tidak akan pernah meregang setiap detiknya

Ini salah, sayang…

Seharusnya kita tidak berada di titik ini

Bisakah kita pergi ke suatu tempat dimana hanya ada kita?

Sayang, jangan menangis

Maaf,

Karena kisah ini menyakitimu

.

.

.

.

.

To be continue…

 

Note: Leave comment, please ^_^