483023901

Title                       : Revenge

Author                   : Lia

Cast(s)                  : G-Dragon, TOP, (find it by yourself)

Genre                    : Crime, Romance, Series

Disclaimer              : FF ini adalah asli hasil karya saya sendiri, terilhami dari berbagai macam film yang sudah saya tonton ^^v.

Twitter                    : @eejahnieh

Chapter 3 –You Got Me-

*T.O.P POV*

“Hei kamu, kenapa kamu murung, bukannya kamu yang memaksa untuk di ajak turun ke lapangan? Sekarang kenapa kamu justru tidak bersemangat?”

Aku memandang wajah cantik di depanku yang sedang bermuram durja. Sebenarnya ini sudah pertanyaanku yang ke sekian kali, dan untuk kesekian kali juga pertanyaanku ini tidak dijawabnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya ya? Apa benar dia belum siap untuk terjun langsung menangani kasus? Tapi selama ini dia tampak begitu bersemangat, sampai tadi pagipun dia masih tampak baik-baik saja. Apa karena melihat keadaan korban kita tadi pagi ya? Tapi kan seharusnya dia tau, ini adalah pekerjaannya, mengurusi kematian orang lain.  Mengapa aku jadi terlalu mengkhawatirkannya begini? Apa aku benar sudah jatuh cinta dengan dia? Semoga dia segera pulih seperti biasa, biar aku bisa mengganggunya lagi.

-FLASH BACK-

“Hei, hari ini kamu sudah siap?” Tanyaku kepada seorang wanita yang duduk di sebelahku. Ini adalah hari pertamanya menangani kasus “nyata” bukan kasus yang tertera di atas berlembar-lembar kertas. Tadi pagi kantor polisi mendapat laporan bahwa ada sebuah rumah warga yang terbakan sekitar 2 blok dari Kantor Polisi Seoul, kami datang untuk memastikan apakah itu kebakaran yang di sengaja atau hanya akibat hubungan arus pendek. Ini juga sebagai sarana latihan untuk detektif juniorku Park Min Ha yang sudah merengek-rengek minta diberi kasus sungguhan.

“Siap 1000%!” Jawabnya mantap saat kami berkendara bersama menuju lokasi kejadian.

Namun jawaban mantapnya itu berubah hening sesaat setelah kami tiba di lokasi. Wajahnya menampakan ketakutan dan kesedihan secara bersamaan. Sungguh aku ingin tahu penyebab ketakutan di wajahnya itu.

“Jadi korban adalah keluarga, seorang ibu, ayah, anak berusia sekitar 10 tahun, mereka semua tidak terselamatkan pak, diduga mereka semua keracunan gas sehingga mereka pingsan saat terlahap api.”

Seorang petugas melapor kepadaku. Sembari mencari barang bukti, dan melihat keadaan korban, mataku terus kembali tertuju kepada Min Ha, yang hanya diam tak bergeming menatap korban yang sudah hangus terbakar.

“Ya, Min Ha ya! Cepat kau bantu aku mencari barang bukti! Katamu kau siap 1000% menangani kasus kali ini!”

Meskipun aku berteriak seperti itu dia tetap tidak bergeming, sepertinya dia sedang tidak berada di sana walaupun tubuhnya berada di sana. Kau kenapa Min Ha?

*Park Min Ha POV*

“Ya, Min Ha ya! Cepat kau bantu aku mencari barang bukti! Katamu kau siap 1000% menangani kasus kali ini!”

Teriak seorang lelaki rese luar biasa di sebrang sana. Namun rasanya hari ini aku tidak mau bertengkar dengannya seperti biasa. Tenagaku sudah habis tersedot sesaat setelah melihat pemandangan ini. Anak itu baru 10 tahun dan kini sudah membujur hangus disana. Siapa orang yang tega melakukan semua ini? Dan mengapa? Aku sungguh tidak habis pikir. Seketika ingatan itu datang lagi.

-FLASH BACK 15 tahun lalu-

Ibu Min Ha          :“Ayo Min Ha kita pergi, sudah jangan tangisi lagi anak kecil tidak beguna itu, dia sudah mati! Ini salah dia, mengapa dia suka sekali bermain api, padahal kemarin baru saja dia terluka bakar akibat bermain api, sekarang dia bukan hanya membakar tubuhnya, tapi membakar rumah kita juga, dasar anak tidak tahu di untung!”

Min Ha Kecil       : “(menangis terisak sambil memandangi rumahnya yang hangus terbakar.)”

-FLASH BACK END-

Jiyonga,, kamu dimana? Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu bernasib sama dengan anak ini, dia baru 10 tahun, sama dengan kamu waktu itu. Tapi kamu selamat kan? Katakan kamu selamat Naga Kecil.

“T.O.P Ssi, bisakah aku tidak terlibat dalam kasus ini?”

Walaupun aku dari kemarin memaksa-maksa T.O.P untuk mengajakku terjun ke lapangan, nyatanya aku tidak sanggup untuk menghadapi kasus yang satu ini. Bayang-bayang Jiyong kecil terus bermain-main dipikiranku dan membayangkan kejadian 15 tahun lalu adalah hal yang paling menyiksa batin untukku.

15 tahun lalu, waktu dimana rumahku terbakar habis, entah apa penyebabnya apakah hubungan arus pendek atau sabotase. Namun yang jelas ibuku terus saja menuduh Jiyonglah penyebab kejadian itu. Jiyong memang suka bermain korek api, pernah sekali waktu dia tidak sengaja membakar lengan bajunya akibat bermain dengan api, dan karena itu pula lengan kanannya terluka bakar. Tapi seceroboh apapun Jiyong, dia hanya anak kecil kan? Lagipula semenjak kejadian itu, Jiyong selalu dikurung di kamarnya, tidak boleh bermain keluar, apalagi ke dapur. Ibu bilang Jiyong tidak waras, karena memang Jiyong tidak mau berbicara sepatahkatapun kepada orang-orang, kecuali kepadaku. Saat itu aku masih kecil aku tidak tahu kenapa ibu selalu berkata bahwa Jiyong gila, aku bahkan tak mengerti apa artinya gila. Namun sekarang aku sadar mengapa Jiyong menjadi anak yang tertutup.

Sejak kecil Jiyong sudah tidak punya orang tua, orang tuaku mengangkat Jiyong menjadi anak hanya karena Jiyong adalah anak bawahan ayahku yang sudah bekerja selama 5 tahun untuk ayah. Dan tentu saja untuk menjaga nama baik keluarga. Karena ayahku adalah orang cukup terpandang pada masa itu, rasanya sangat tidak berperasaan kalau ayahku membiarkan Jiyong tinggal di panti asuhan sementara bawahannya sudah setia bekerja untuknya. Ya, ayahku memang gila dengan kehormatan.

Jiyong sangat suka dengan hewan imajiner yang bernama Naga, oleh sebab itu aku menamainya Naga Kecil, karena badannya memang kecil, dia juga suka bermain dengan api. Karena itu sampai sekarangpun ibuku selalu berkata bahwa Jiyong lah penyebab kebakaran yang melahap habis rumahku 15 tahun lalu. Ibuku berkata Jiyong membakar rumah kita kemudian kabur karena dia adalah anak yang gila. Tapi aku tentu tidak percaya, Jiyong kecil adalah Jiyong yang penakut, dia bahkan takut dengan kecoa atau bahkan tikus, tak mungkin dia melakukan hal kejam seperti itu. Jitong juga tidak gila, dia hanya takut. Sekali waktu dia bilang padaku dia takut dengan orang dewasa, orang dewasa tidak ada yang baik, karena orang dewasa telah membunuh ayahnya. Itu sebabnya Jiyong tidak pernah mau berbicara kepada Ayah dan Ibuku.

T.O.P                     :“Ternyata kamu bisa bicara juga ya? Jadi kamu mau mundur? Kau tidak ingat dari kemarin kau merengek memintaku ikut investigasi?”

Park Min Ha        :”Ya, aku memang memintanya, tapi tidak dengan yang ini T.O.P ssi, sudahlah, aku sedang tidak mau cari ribut”

Aku memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini. Saat melewati ruang rapat, aku melihat foto-foto TKP yang terpajang di papan tulis. Foto anak malang yang hangus itu, semakin aku melihatnya semakin pedih rasanya hatiku, semakin aku teringat dengan Jiyong kecil.

Park Min Ha mengirim SMS: “Eun Gyeola,, kamu dimana? Bisakah kita bertemu di cafe biasa?”

‘message sent’

*Eun Gyeol POV*

SMS dari Park Min Ha     : “Eun Gyeola,, kamu dimana? Bisakah kita bertemu di cafe biasa?”

Tumben sekali Min Ha mengajak aku bertemu, biasanya aku yang selalu mengajaknya bertemu terlebih dahulu, apa yang terjadi dengannya ya? Segera saja aku membalas pesang singkat di ponselku.

Cha Eun Gyeol mengirim SMS: “30 menit lagi aku berangkat ke cafe, badanku bau jadi harus mandi dulu J sampai jumpa disana ya.”

Segera saja aku menuju kamar mandi. Biasanya aku malas mandi dengan cuaca seperti ini, namun rasanya badanku ini dusa apek maksimal karena kemarin habis mengerjakan pekerjaan berat dan tidak sempat mandi tadi malam karena aku memang tidak bisa pulang ke rumah.

-15 menit kemudian-

“Hyeong! Sudah pulang? Tumben sekali wajahmu murung begitu? Mau ikut aku tidak? Aku mau bertemu wanita cantik yang aku ceritakan itu.”

“Apa, wanita cantik?”

Seperti yang aku sangka, mata hyeongku langsung berbinar-binar mendengar kata-kata “wanita cantik”. Memang sekali mata keranjang akan tetap mata keranjang.

SMS dari Park Min Ha     :”Aku duduk di tempat biasa ya J”

*T.O.P POV*

Tumben sekali si Eun Gyeol mengajakku bertemu dengan wanita cantik, wanita cantik mana yang mau berteman dengannya. Sudah lama saya tinggal bersamanya, dan baru kali ini dia mengajakku bertemu dengan wanita, cantik pula. Biasanya kan temannya komikus-komikus yang aneh-aneh. Kita lihat saja apa definisi cantik menurutnya sama dengan punyaku?

Hari ini sudah cukup membuatku suntuk, akibat ulah Park Min Ha yang membuatku galau. Dan juga kasus itu, lagi-lagi kasus pengkopian sama dengan kasus beberapa waktu yang lalu. Apakah semua orang sudah kehabisan akal untuk melakukan kejahatan sehingga harus mengkopi kejahatan yang dilakukan orang lain? Kasihan kan penjahat yang sebenarnya kalu terus di fitnah seperti itu. Bagus kalau pengkopinya itu profesional, pengkopinya penjahat kacangan, banyak sekali meninggalkan bukti dan jejak, terbukti kan baru semalam beraksi tadi sudah bisa kutangkap. Lain kali kalian harus secerdas aku untuk menjadi seorang penjahat.

“Wah, sepertinya aku kenal jalan ini!”

Ini kan jalan menuju kantorku, tentu saja aku kenal, setiap hari aku melewatinya. Ternyata dongsaengku ini mau ke cafe yang letaknya tak jauh dari kantorku. Kalau tau dia mau kesini aku tadi tak usah pulang kantor dulu, langsung saja bertemu disini, kan aku bisa langsung menggebet wanita cantik itu, pikirku.

“Itu Hyeong, wanita di ujung sana yang kumaksud dengan wanita cantik”

Apa? Itu kan Min Ha? Sejak kapan dia kenal dengan Eun Gyeol? Sejauh apa hubungan mereka? Apakah Eun Gyeol yang selama ini bisa membuat Min Ha ketawa-ketawa sendiri di kantor?

Tiba-tiba saja benakku tak mau diam, terlalu banyak tanda tanya yang ada. Apa ini cemburu ya? Disaat aku bertanya-tanya aku melihat wajah Min Ha yang mungkin terlihat serupa dengan wajahku sekarang.

“Hyeong, kenalkan ini Min Ha dan Min Ha kenalkan ini Hyeong yang telah banyak menginspirasiku”

“Hallo Min Ha ssi, kita bertemu lagi :D”

*Someone POV*

Kasus apa lagi itu, hah? Mau mencoba meniru caraku? Penjahat kacangan seperti kamu mana bisa menirunya. Kau harus lebih cerdas dari aku kalau kau mau meniruku. Enak saja main mengkopi modusku, kau takkan bisa, dasar BODOH! Tingkah penjahat-penjahat itu membuatku tambah kerjaan saja, tidak tahu apa kalau aku sudah sibuk.