Disclaimer: Everything written in this blog is creation of my imagination. Please DO NOT REDISTRIBUTE!!

Title        : Wish For A Fallin’ Star

Author    : fate_aram aka rhena_yoru aka _kadzchan aka fenrir.yoru (twitter : @fate_aram)

Rating     : G

Pairing    : Todae

Genre      : Yaoi, Semi angst, Fluff

Length    : One shoot

Cast        : Choi Seung Hyun, Kang Daesung

Summary: Kaulah matahariku, kaulah nafasku, kaulah hidupku. Kau adalah kebahagiaan tak terhingga dalam hidupku. Andaikan aku bisa memohon pada bintang jatuh untuk memberikanmu kebahagiaan yang tak terhingga…

A/N: Makasih buat admin yang ngizinin di-post di mari~ FF ini juga dipost di blog pribadiku di Deferto Neminem. Happy readings😀

~~~~

..

“ Seung Hyun-ah… “

“ Hmmm? “

Can we go out for a while?

Kau memandangi kekasihmu yang terbaring di ranjang pasien. Wajahnya sangat pucat, namun ia tetap menyunggingkan senyum terbaiknya yaang paling kau suka. Kau menghampirinya dan mengelus pipinya yang semakin hari semakin putih. Tidak ada lagi warna merah merona yang dulu kau lihat di sana.

Why? Whaddaya wanna see?

I heard there’ll be a meteor rain today. I wanna see it and make a wish.

Silly. “

Kau tersenyum mendengar permintaannya itu. Sampai sekarang pun ia masih percaya bahwa Santa Claus itu ada dan bintang jatuh akan mengabulkan permintaan. Benar-benar seperti anak kecil. Tapi itulah salah satu bagian dirinya yang kau sukai.

Kau membantunya untuk duduk di samping tempat tidur dan melepaskan selang infusnya yang sudah tiga bulan ini menyangga keberlangsungan hidupnya. Sebisa mungkin ia tidak banyak bergerak agar tidak mempersulit dirimu.

Wanna get a wheelchair or my piggyback?

Piggyback, of course. “

Kau segera berjongkok di hadapannya, mempermudah dirinya untuk menjatuhkan tubuhnya ke punggungmu. Setelah kau rasa stabil, kau berdiri dan berjalan ke taman rumah sakit yang sepi dengan dirinya di atas tubuhmu. Sepanjang jalan kalian bercanda dalam bisikan, menahan kikikan dan tawa agar tidak membangunkan penghuni rumah sakit yang lain.

Okay. Here we are.

Kau mendudukkannya dengan hati-hati di bangku taman rumah sakit, mengecek apakah dia sudah nyaman dengan posisinya sebelum akhirnya kau duduk di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahumu, membuat hidungmu tergelitik aroma manis tubuhnya.

What time is it?

Around 10.00 p.m. “

Ugh… We hafta wait around 15 minutes before it starts…

Dia menggembungkan pipinya, membuatmu tertawa dengan tingkahnya dan mencubit pipinya dengan lembut. Kau tidak ingin membuat tubuh ringkihnya itu merasa kesakitan meski hanya sedikit.

Kau menyelipkan tanganmu ke pinggangnya yang semakin kecil dan dia menyelipkan tangannya ke pinggangmu, berusaha membuat tubuh kalian sedekat mungkin. Kalian menunggu hujan meteor itu sambil berpelukan, menyalurkan kasih sayang satu sama lain tanpa kata. Hubungan yang kalian rajut sudah begitu dalam, sehingga tidak perlu kata-kata gombal untuk menyampaikan apa yang kalian rasa.

Kalian memandangi langit malam yang cerah bertabur bintang, sama seperti yang selalu kalian lakukan di rumah sebelum kekasihmu itu masuk rumah sakit. Mengamati rasi-rasi bintang yang selalu berada di atas sana, tidak pernah merubah posisinya. Stagnan. Statis. Tidak terpengaruh oleh waktu. Kau berharap andaikan saja ikatan diantara kalian bisa seperti rasi-rasi bintang itu…

Omo! Seung Hyun-ah! There’s the first fallin’ star! I hafta make my wish!

Dia langsung menautkan jemarinya dan menutup matanya, berkonsentrasi untuk memanjatkan permohonannya pada bintang jatuh. Kau menatapnya sambil tersenyum sedih, kemudian mendongakkan kepalamu, menyaksikan puluhan meteor—bintang-bintang jatuh—yang melintasi langit.

Sekali. Kali ini. Hanya untuk kali ini saja. Untuk kali ini saja kau mempercayai bahwa bintang jatuh dapat mendengarkan keinginanmu dan mengabulkannya. Kau membutuhkan keajaiban dari bintang jatuh kali ini. Perlahan kau memejamkan kedua bola matamu dan menautkan jemarimu, memanjatkan permohonanmu satu-satunya saat ini.

(I wish Seung Hyun can live without me by his side if I die.)

(I wish Daesung will be with me forever.)

~~~~

.

.

Kau hanya bisa berdiri terdiam di sudut kamar rawatnya. Buket mawar dan kotak kecil berpita yang kau bawa sebagai hadiah ulang tahunnya sudah meluncur dari tanganmu, jatuh menghantam lantai. Matamu terus mengamati para suster dan dokter yang mengelilingi kekasihmu, berusaha untuk membuatnya tetap berada di dunia ini.

Kau mengikuti ranjangnya yang didorong menuju ruang operasi dengan langkah gontai. Pikiranmu kosong. Hatimu terasa sangat sakit. Kau belum siap untuk kehilangan dirinya sekarang. Tidak. Kau tidak akan pernah siap untuk kehilangan sosoknya dari hidupmu.

“ Choi Seung Hyun-sshi? “

Seorang dokter paruh baya menghampirimu, menghalangimu masuk ke ruang operasi. Ia menyadarkanmu, mengalihkan perhatianmu dari tubuh kekasihmu yang menghilang di balik pinu ruang operasi.

“ Maaf, tapi aku harus meminta izinmu untuk melakukan operasi segera pada pasien Kang Daesung. “

Kau mengedipkan matamu, tidak percaya. Kenapa mereka masih harus menunggu izinmu untuk menyelamatkan nyawa kekasihmu? Bukankah semenjak kekasihmu masuk ke tempat ini, kau sudah menyetujui semua tindakan medis yang mereka lakukan untuk menyelamatkan nyawa kekasihmu?

“ KENAPA ANDA MASIH MENANYAIKU?! BUKANKAH AKU SUDAH MENYETUJUI APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN SEJAK DAESUNG-KU MASUK KE SINI?! “

Teriakanmu menggema di sepanjang koridor itu. Kau sudah tidak peduli apakah teriakanmu mengganggu pasien yang lain atau tidak. Yang kau pedulikan hanya kondisi kekasihmu yang berada di balik pintu di hadapanmu.

“ Persetujuan Anda dibutuhkan karena operasi ini harus dilakukan lebih cepat dari yang kami perkirakan. “ Dokter itu tetap tenang menghadapimu, berusaha memberimu pengertian tentang apa yang akan terjadi. “ Kami tidak memperkirakan tuor di otaknya tumbuh secepat ini dan menghimpit beberapa pembuluh darah dan menempel dengan beberapa bagian syaraf pusatnya. Operasi pengangkatan tumor yang seharusnya kami lakukan satu bulan lagi harus segera dilakukan. “

“ KALAU BEGITU LAKUKANLAH! SELAMATKAN DIA! “

“ Kemungkinan operasi yang kami rencanakan sebelumnya memiliki kemungkinan berhasil lima puluh persen. Namun operasi yang akan kami lakukan sekarang hanya memiliki kemungkinan berhasil dua puluh persen saja. Jika operasi ini berhasil pun, Kang Daesung-sshi tidak akan bisa berjalan lagi untuk selamanya. Kami tidak mungkin melakukan pemisahan tumor yang menempel pada syarafnya jika ingin menyelamatkan nyawanya. Ini resiko yang harus saya informasikan pada Anda. Jadi bagaimana keputusan Anda? “

Kau langsung terdiam. Pilihan yang diberikan bagimu terlalu sulit. Nyawa kekasihmu bisa diselamatkan, namun ia tidak akan bisa berjalan lagi selamanya. Terbayang olehmu wajah sedihnya karena ia kehilangan satu bagian yang paling berharga dalam hidupnya.

Tapi tidak. Kau tidak peduli. Kau egois. Kau hanya membutuhkan dirinya. Kau telah menerima dirinya apa adanya sejak awal. Asalkan dia tetap hidup dan berada di sampingmu, semua tidak apa bagimu.

“ Kuberikan izinku… Lakukanlah… Asalkan dia bisa tetap hidup… “

~~~~

.

.

Waktu seolah berjalan lambat bagimu. Entah berapa lama kau menunggu di depan pintu ruang operasi. Rasanya seperti sebuah penantian tiada akhir. Rumah sakit semakin sunyi, membuatmu yakin bahwa ini sudah larut malam.

Tidak kuat menahan siksaan yang diberikan sang waktu, kau bangkit dan beranjak menuju taman rumah sakit, tempat kalian biasa menghabiskan malam semenjak kekasihmu terpaksa dirawat di sana. Kau mendongak, menatap langit malam yang bertabur bintang.

Setetes air mata meluncur dari sudut kelopak matamu. Kilasan-kilasan kenangan bersamanya berkelebatan dalam benakmu. Sosoknya, air matanya, senyumnya… Semua bagian dirinya sangat berarti bagi hidupmu. Kau tidak mungkin hidup tanpanya. Dia adalah segalanya bagimu.

Kau melihat segaris sinar terang di langit. Bintang jatuh.

Teringat olehmu saat kau dan kekasihmu bersama-sama memanjatkan permohonan di kala hujan meteor. Perlahan kau memejamkan matamu dan menautkan jemarimu, memohon pada bintang jatuh.

(Please, don’t take him from my side. I can’t live without him.)

~~~~

.

.

Seperti biasanya, kalian menikmati malam di taman rumah sakit. Kau mengeratkan pelukanmu di tubuhnya, berusaha memberikan kenyamanan padanya. Tidak ada yang bisa membuatmu bahagia kecuali kehadirannya dalam hidupmu. Kepalanya bersandar di pundakmu, membuatmu bisa mencium puncak kepalanya berkali-kali, menunjukkan betapa besar kasih sayangmu padanya.

Terdengar sebuah isakan kecil. Jemarimu mengangkat dagunya, membuat mata kalian saling memandang ke kedalaman satu sama lain. Kau tersenyum kecil, jemari panjangmu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

Why are you still with me? You deserve to get a better person than me.

Because I love you. “

I’m just a burden for you. I’ll make your life miserable. I can’t walk anymore!

But you’re still alive, still by my side. I don’t need anything else. Just you. You’re my breath, my heartbeat, my entire life. I live because you’re here, live with me. Because you’re a treasure of  my life.

Akhirnya kau mengecup bibirnya dengan lembut, membuatnya terdiam. Sekali lagi kau mengeratkan pelukanmu di tubuhnya, mengisyaratkan padanya bahwa kau tidak ingin kehilangan dirinya dari hidupmu.

Look at the night sky. It’s so beautiful, rite?

Kalian mendongak menatap langit malam yang bertabur bintang. Kau melirik kekasihmu yang kini tersenyum kecil, membuatmu turut tersenyum pula. Tiba-tiba kau teringat sesuatu, merogoh-rogoh kantong celanamu. Kau melepaskan pelukanmu dari kekasihmu dan bangkit dari dudukmu.

“ Seung Hyun-ah? “

Kau berlutut di hadapannya sambil menyodorkan sebuah kotak berlapis kain beludru yang terbuka. Sebuah cincin titanium yang kau rancang dan kau siapkan semenjak beberapa bulan lalu berkilau tertimpa cahaya bulan. Kekasihmu hanya terpana, matanya terpancang pada cincin dalam kotak yang kau sodorkan.

Kang Daesung, will you be my sunshine in my day, my moonlight in my night, my partner in the rest of my life? “

Kau menatap bola matanya yang kini berkaca-kaca, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya. Dia tahu akan cintamu yang begitu tulus untuknya.

Yes, I will.

Senyumanmu mengembang mendengar jawabannya. Kau memakaikan cincin itu di jari manisnya, kemudian memeluknya erat sambil mencium dahinya dengan sayang. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagimu selain jawabannya itu.

Kau melirik ke arah langit malam yang menjadi saksi akan awal ikatan suci kalian. Segaris sinar putih muncul di antara bintang-bintang dalam rasi Orion. Sebuah bintang jatuh.

(I wanna be with him forever ‘till the death part us.)

~~~~~FIN~~~~~

.

.

Fate_Aram aka Author’s End-Note:

Terinspirasi bikin FF ToDae setelah baca FF yang judulnya I Love You Always di http://winglin.net . Itu FF udah sampe chapter 150, dan ceritanya bagus banget. Sederhana tapi rame. Main couple-nya jelas Todae dong, tapi ada Nyongtory-nya juga di pertengahan cerita, sekitar 20 chapter-an gitu.

And sorry for my bambaya grammar.

Wanna give a feedback? 😀