TOP

Author : chanyb

Title : Day 2 : Perjalanan Bibir T.O.P

Main Casts : GTOP

Other Casts : TAEYANG — DAESUNG — SEUNGRI

Rate/Length/Genre : PG-15/Series/Comedy

Disclaimer : Ide cerita seperti biasa punya saya pribadi. Sementara tokoh milik Tuhan YME.

======DAY======

Pada suatu hari yang cerah ceria serta penuh rajutan tali cinta antara sepasang guk-guk keriput akibat penuaan dini, milik sang pemimpin. Gaho-Jolie. Tampaklah sesosok pria berkepang dua di ruang santai, tengah meliuk-liuk liar sambil merapalkan kalimat, “ak… ak… aku cinta padamu!” Tak tahu kepada siapa ia menyatakan cinta secara terus-menerus. Mungkin ia terlampau frustasi dengan keadaan dia sekarang sampai-sampai berlaku demikian, berkicau di hadapan dinding dengan gerakan menggoda iman. Kadang-kadang dia berimprovisasi sesuka hati seperti : lompat salto, jungkir balik, melilin kemudian ngesot dan ditutup dengan meroda–tanpa mesti bilang W.O.W.

Akhir-akhir ini pria yang mendadak mengalami kekurangan tinggi badan karena keberaniannya mengikat jambul kebanggaan itu juga sedang terobsesi untuk meramu gerakan spesial pada tariannya. Andai saja pria itu mau meluangkan waktu 1 atau 2 jam di depan komputer untuk sekadar menyaksikan video klip beberapa penyanyi dangdut papan (di) atas (panggung) dari negeri nun jauh di sana. Barangkali ia bakal mendapat ide brilian setelahnya. Pasti. Ayolah, sudah barang tentu, kan, bila gabungan goyang patah-patah; ngebor;ngecor; goyang karawang ; itik sampai gerak belah duren JuPe Akan teramat sangat cetar membahana ulala nantinya? Ya, walau mempunyai berbagai efek samping antara lain : encok berkepanjangan, kejang otot serta epilepsi. Bukankah segala sesuatu yang bagus selalu berisiko?

Dan probabilitas Taeyang melakukan hal tersebut sama besarnya dengan kemungkinan penulis menikahi beliau yakni, 0,000000000001 % alias mustahil. Sampai kodok ngesot berubah menjadi pangeran tampan pun hasilnya bakalan sama, kecuali pada saat itu dia khilaf atau kehilangan akal sehat.

Lantas apa hubungan antara rajutan tali kasih Gaho-Jolie, gerakan spesial Taeyang dan segala curhatan sesat ini?

Ah, dengan amat menyesal Lembaga Sensor menyatakan… TIDAK ADA kaitannya samasekali. Sungguh.

Oke, beralih ke sisi kanan asrama beberapa meter di ujung lorong, tepatnya di salah satu kamar tempat duo magnae bersarang. Entah apa yang mereka perbuat di sana hingga terdengar suara-suara aneh, sedikit mencekam. “Haaaaaah… oh… aaaash… astaga hyung kenapa tak kunjung keluar? Aku sudah cap… haaa… caphek!”

“Aaaaaaaaah… ooossh… lebih cepat lagi!”

“Aish… aah, akhirnyaaa….” Cukup. Percakapan selanjutnya benar-benar tidak akan pernah lulus sensor. Terlalu vulgar, bisa bisa racauan DAERI menimbulkan konslet sesaat bagi anak-anak yang mengaku masih polos dan belum berlumur dosa.

2 pria muda itu sudah lebih dari 3 jam di dalam kamar semenjak kepergian Double Combo. Meninggalkan Taeyang sendirian demi menyelami keganasan hidup di asrama tanpa seorang pun di sisi selain si hitam manis Boss. Miris, namun mau bagaimana lagi jika itu adalah suratan takdir Taeyang selagi si perempuan kering kerontang yang mengaku istri sahnya belum tiba.

Tanpa aba-aba secuil pun, tiba-tiba pintu terpentang lebar, membuat Taeyang berjengit. Airmukanya berubah masam mendapati sang tetua masuk ke asrama sambil menjejak-jejakkan kaki ke lantai sebelum duduk di sofa. “Hyung, kenapa tiap kali kau dan GD keluar rumah selalu berakhir dengan mengentak-ngentakkan kaki? Apa kau pikir tingkahmu itu imut? Keren, huh?”

“Ya. Masalah?” T.O.P mengernyit tidak suka ke arah Taeyang.

“Terus….”

“Mesti bilang wow. Cih, basi! Dan kumohon berhentilah berbicara, aku tahu aku tampan memesona tapi, sungguh aku sedang tidak ingin mengadakan konferensi pers saat ini.”

Dengan ekspresi datar si pria berkepang kembali melakukan aktivitasnya semula. Lebih baik mengabaikan sang dedengkot yang mengalami gangguan jiwa itu ketimbang ia ikut gila. Yang waras mengalah.

Selewat 3 menit sosok pria tipis pun terlihat, ekspresi berang terpampang jelas di wajah tirusnya. Langkah lebar-lebar yang dibarengi acungan telunjuk tak urung membuat amarah T.O.P kian menggelegak. “Aku tidak akan sudi minta maaf! Kau yang salah. Jadi, kau yang mesti minta maaf, arra!”

“Siapa? Aku? Kau merusak segalanya! Jadi, kau mesti minta maaf padaku!”

“Kau enggan mengalah sedikit pun. Baik hari ini kemarin maupun kemarin kemarinnya lagi. Kau menyiksaku. Kau selalu di atas sementara aku di bawah, kau menjegalku, sangat kasar! Menusuk dari kiri. Hal itu sangat menyakitiku! lalu… lalu… jahat!”

Merasa terganggu oleh suara berisik bernada mesum di belakangnya, Taeyang lantas mendekat kemudian menggebrak meja, penuh rasa iri pada dua pria yang tengah dilanda badai prahara. Keduanya hanya mampu terdiam seribu bahasa tubuh ketika pria berbadan agak tinggi memarahi mereka. “DIAM! Kalian terlalu! Kenapa kalian membahas tusuk-menusuk di hadapanku yang polos ini? Kenapa? Kenapa?” Dia membelakangi GTOP, memasang roman yang sulit dijabarkan. “Apa yang dijegal dan ditusuk? Bagaimana caranya? Tolong jawab aku Boss!” Mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Tak lama berselang selepas lengkingan Taeyang terdengar, DAERI menghambur keluar dengan napas terengah-engah. Rambut kusut-masai mereka menandakan betapa bekerja kerasnya mereka di dalam kamar. Tangan keduanya masih bergegar. Entah karena aktivitas yang terlampau menguras tenaga atau karena teriakan penembang gaun pengantin.

“Ada apa?”

“Mengapa Taeyang hyung berteriak? GD hyung? T.O.Phyung? Dapatkah kalian menjelaskannya pada aku yang sipit ini?”

“Apakah dia terharu oleh ketampanan seorang Lee Seungri? Atau dia baru menyadari kalau dia agak pen….”

Seolah baru tersadar Taeyang tiba-tiba menoleh. Tatapan matanya memancarkan kilatan marabahaya, “cukup. Hentikan fitnahmu Seungri. Aku tampan,
gagah perkasa, bersuara seksi mandraguna meski tinggi badanku sedikit dikorting.”

“DIAM! Sebenarnya siapa yang mempunyai masalah pelik, hah? Aku dan si tua bangka jelalatan ini, kan? Kalian harus tahu problematika yang kami alami ini menyangkut keberlangsungan hidup! Kritis, man! Kritis. Oh, shit. No smoking and no parking area!” Kicau GD sok berbahasa inggris.

“Baiklah, aku yang bermata kecil serta sangat sangat istimewa hakhakhak… ini tidak mengerti apa yang kau bicarakan, hyung. Sekarang siapa yang patut dipersalahkan?”

“Bukan aku. Karena menurut pasal nomor 12 A kitab perundang-undangan pria-pria tampan yang berbunyi ‘seorang pria tampan selalu benar ketika dia berkata dirinya tampan dan tidak dibenarkan menyalahkan pernyataannya.’ Paham?”

“Eh? Apa hubungannya antara berkata dirinya tampan dan masalah tusuk-menusuk, hyung?”

“Pria tampan SELALU BENAR ketika dia berkata dirinya tampan. Tekankan pada kata selalu benar, mengerti! Tidak dibenarkan menyalahkan pernyataannya!” Dengan gaya pongah T.O.P bertelekan di lengan sofa usai menyisir rambut bagian samping, pelan.

Sontak bunyi klik terdengar seiring terjatuhnya 2 benda mungil dari genggaman DAERI. Umang-umang. Makhluk bercangkang tak berdosa yang sedari awal membuat duo magnae kelelahan karena enggan keluar–untuk adu lari–walaupun telah disembur hawa naga berulang kali. Keempat orang dalam ruang santai itu sama-sama terkejut. Nyaris berkeinginan hendak berdiri di bibir jurang atau langsung saja terjun bebas dari pohon terendah. Agaknya karat pada otak pria berumur di hadapan mereka sudah tidak bisa diperbaiki lagi dengan alat las terbaik sekali pun.

“Apa kau pikir cuma dirimu yang tampan di grup ini? Oke! Tapi, kau kalah imbang dibanding aku. Aku bisa tampan dan imut disaat bersamaan sedangkan kau tidak bisa. Kau bahkan sangat terpikat olehku. Hingga kau menghantam bibirku dengan dalih mengelap krim di atas bibir ku yang oh….”

“Tidak. Itu belum seberapa dibanding saat dedengkot itu merenggut kesucian bibirku dengan penuh gairah. Amat lama… berarti pesonaku lebih kuat.” Sang magnae pun angkat bicara sambil bergaya erotis.

Sungguh, di detik itu juga Taeyang berniat menjadi anggota 2NE1 terakhir daripada bergumul dalam grup… yang entah bagaimana belum selesai persoalan pertama kini telah mengganti topik baru. Ia masih penasaran akan tusukan menyakitkan tadi. Tetapi, mengapa mereka semua tak mau peduli akan penderitaan dia kini? Apakah karena dia terlalu keren? Benarkah?

Lain Taeyang lain pula Daesung yang mulai bersungut-sungut akibat penuturan Seungri. Jangan lupa dia juga pernah merasakan keliaran T.O.P dan dia tidak sombong. Perlu dicatat bahwa ia tidak mau sombong. Riya. Nalurinya terkadang bertanya-tanya apakah obsesi si pria bermata elang itu adalah mencicipi bibir setiap personel. Ralat maksudnya siapa saja? Sudah banyak korban bergelimpangan di luar sana dan ada pula yang mengaku hamil akibat tatapan intens T.O.P. Bagaimana bisa? Kalau hal itu benar, alangkah begitu mudah urusan perkembang-biakan bagi tetua. Cukup menatap… tring, langsung jadi tanpa proses percetakan. Bukan cuma itu yang mengganggu pikiran Daesung, mengenai pasal 12 A kitab perundang-undangan pria-pria tampan pun menggerayangi benaknya. Apakah sudah disahkan oleh majelis permusyawaratan milik CEO Hyang Hyun Suk tetapi, sejak kapan pasal tersebut dibuat? Hanya fantastik 4 guk-guk beserta kawan-kawan yang tahu. Tiada yang lain.

Untuk sejenak suasana senyap menyelimuti mereka sampai akhirnya tersangka pencetus Kitab perundang-undangan kembali membuka suara. Bernada rendah nan garang ‘rrraaaaw’ “Ada apa dengan kalian? Apa salah bibirku hingga kalian terus menyudutkannya? Kuakui kekhilafan bibirku tempo hari tapi, itu tuntutan peran! Bibirku harus tampil total ketika menabrak bibir-bibir kalian. Lagipula kenapa kalian protes bukankah kalian semestinya merasa beruntung telah ditabrak oleh bibir pria tampan rupawan?… GD maihanibaniswiti kenapa kau sekarang mempermasalahkan bibirku? Eerrrh… Ada berapa banyak bibir yang kubawa-bawa?”

“Kau duluan yang cari masalah per-bibir-an. Bukan aku. Kau membawa-bawa kitab sampah itu dalam pokok bahasan kita semula. Ingat?”

“Apa peduliku? Jika seorang pria tampan selalu benar ketika dia berkata dirinya tampan dan tidak dibenarkan menyalahkan pernyataannya.” T.O.P masih bersikeras mempertahankan asumsinya, mengembuskan napas panjang seraya berujar, “bukankah kau duluan yang menyiksaku melalui tusukan-tusukanmu, menjegal dan tak membiarkanku bergerak leluasa. Lalu kau menuntutku meminta maaf. Bertanggung jawab tepatnya, ya kan?” Menelan salivanya susah payah. “… Maaf aku terlalu terbawa suasana. Walaupun pada kitab itu tertulis bahwa pria tampan tidak bersalah.”

“Oh, demi cinta Gaho-Jolie berhentilah menyampaikan isi kitab itu, hyung. Aku muak mendengarnya!”

Mengetahui arah pembicaraan sudah kembali ke tusuk menusuk, Taeyang beringsut menuju dapur. Hendak mengambil camilan sekaligus membuat segelas jus, persiapan untuk menonton pertengkaran GTOP. Daesung sendiri masih berkutat dalam pikirannya mengenai masalah perkembang-biakan generasi T.O.P yang hemat waktu. Sementara Seungri mulai mengambil beberapa foto yang mempertontonkan pesona dirinya terutama bagian bibir untuk dibandingkan dengan warga tetap hutan di negeri tirai bambu. Dapat dipastikan seluruh penghuni asrama tersebut mengidap penyakit kurang waras, akut.

Pekikan nyaring yang cenderung cempreng mengungguli suara rendah nan berat. Timbul tenggelam.

“Jadi, kau benar-benar tidak mau bertanggung jawab?”

“Tidak.”

“Tidak mau di bawah?”

“Kubilang tidak!”

“Tapi kita sudah sepakat, kan?” Intonasi GD sekonyong-konyong melemah. Kilatan sepasang mata serupa daun nya pun menyiratkan kata nelangsa. Buntu akal. Ya, itulah yang pria agak berisi itu rasakan. Selain itu, bukankah kata sepakat sudah terbuat dalam perjanjian di atas materai, semalam? Pakai cap jempol pula.

“Ya, memang betul. Tapi, aku tidak menyukai cara permainanmu kali ini!”

“Permainanku? Apa masalahnya? Kau cuma lengah dan kurang memperhatikan, hyung!”

“Kurang memperhatikan bagaimana? Aku terus mengawasi gerak-gerikmu. Saat aku mendapat kesempatan kau malah menjegalku kemudian melancarkan serangan mendadak selagi aku tak berdaya. Itu kejam! Licik! Kenapa cuma aku yang diserang sedangkan di sana masih ada Jejung hyung? Kau bisa menyerangnya juga, kan? Iya kan?” Raungan sang tetua barusan kontan menarik perhatian TAEDAERI. Akhirnya, tusuk-menusuk bakal menemui titik terang. Pikir Taeyang penuh kemenangan. Akan tetapi dia langsung terguncang ketika ucapan memuakkan T.O.P bergaung sekali lagi.

“Aku… aku tampan… menurut kitab perundang-undangan….”

Dalam gerak refleks pria berkepang itu merenggut kerah kemeja T.O.P, mengejutkan GDAERI. Mereka tak menyangka akan reaksi Taeyang yang berlebihan.

“Fokus hyung, fokus! Apa yang diserang? Jelaskan secara mendetail bagaimana serangan itu berlangsung! Apa hubungan tusuk-menusuk dengan menyerang Jejung hyung juga?”

“Tae, apa yang kau lakukan, hah?” Secepat kilat GD bermanuver, melepas cengkraman Taeyang, “hyung, kau tak apa-apa, kan? Tidak ada yang luka, kan? Apa lehermu lecet? Atau bibirmu yang lecet?” Tanyanya random, membuat Taeyang kian frustasi.

“Sebenarnya kalian ini meributkan apa sih? Kenapa pula mencengkram kerah yang lecet bibir? Ini gila! Oh, Tuhan. Sabarkanlah hamba-Mu ini.”

Seolah tak mendengar rintihan pria berkepang, GD memeriksa setiap lekuk wajah T.O.P, membolak-balikkannya ke kanan kiri. Sekadar memastikan bahwa tidak ada secuilpun goresan akibat cengkraman tadi. “Ah, syukurlah tidak ada! Kau aman sekarang, hyung.”

Mendengar kekhawatiran si pria tipis yang sangat tidak beralasan Taeyang cuma bisa mengurut dada kemudian terseok-seok ke kamar mandi. Ingin buang sial. Sementara DAERI mulai menyingkir ke pojok asrama. Enggan turut campur lagi. Risiko kecelakaan bahkan lebih tinggi bila berada di sekitar GTOP ketimbang berada di dekat odong-odong. Meski rasa penasaran masih menghantui di benak masing-masing. Terutama si pria berkepang. Namun, ia pasti bakalan menyesal bila tahu lebih lanjut mengenai duduk persoalan penjegalan disertai penusukan itu. Lebih baik, biarkan semuanya menjadi misteri untuk sementara waktu selagi GTOP bemesraan. Karena seiring bergulirnya sang waktu akan membuka tabir tusukan cantik seorang GD.

“Lain kali kita harus melibatkan wasit dalam permainan kita. Bukan Charlie ataupun Boss! Tapi manusia sungguhan agar kau tidak melanggar aturan. Dan aku tidak mau lagi berakhir di bawah!”

.

.

.

.

– Udahan Dulu Yaw –

Nanana. . . Silakan tebak sendiri dan tolong jangan bunuh saya karena endingnya begini. =3