Because Of Her-JiforG

Previously : Because Of  Tattoo | Cake | You

Title : Because Of Her

Author : JiforG

Cast :

-Kwon Ji Yong

-Kwon Hyeon Ji aka Jiyong’s Sister (OC) :

-Choi Seunghyun, Dong Young Bae, Daesung, Seungri and…

Lenght : Series? Maybe yes maybe no

If you curious, read and if you don’t like it just leave it. Easy!

Hollaa readers!!! Selamat tahun baru #eh Hahaha seperti yang sudah saya janjikan setahun yang lalu here the next chapternya… Maaf beberapa FF yang lain belum kelar-kelar -___- dan lagi, UAS saya tinggal dua hari dari sekarang, jadi wish me luck ya❤. Dan di FF yang ini saya udah usaha buat sedikit panjang walau ceritanya sedikit gimana gitu. Tapi yaah~ …udahla di baca aja LOL

Is that LOVE i see in your eyes?

<><><><>

Cahaya remang yang menghiasi kamar tidurnya tampak membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat dikarenakan matanya yang sedikit membengkak. Perlahan dia memposisikan tubuhnya yang semula terbaring menjadi duduk. Di pegangnya dahinya sekilas kemudian berpindah ke tengkuknya. Wajahnya terlihat kusut tapi tubuhnya sudah lebih baik dari pagi tadi. Di ambilnya ikat rambut yang terletak di samping tempat tidurnya kemudian mengikatnya asal. Dengan langkah sedikit gontai dia keluar dari kamar dengan berbalutkan selimut setelah berjam-jam tertidur.

Begitu pintu itu terbuka setengah, samar-samar dari arah ruang tengah terdengar suara tv, sedangkan sebahagian lampu sudah mati membuatnya melangkah kearah sumber suara, “Oppa” dia memastikan orang yang sedang duduk di sofa seorang diri itu adalah Jiyong, karena pencahayaan di ruangan itu redup.

“Hey!” panggil pria itu riang. Dan benar saja laki-laki yang hanya mengenakan tanktop dan boxer bercorak bunga itu adalah Jiyong, “Lapar?” tanyanya pria itu. Gadis itu menggeleng “Ahni~” jawabnya dengan suara parau. Jiyong yang mendengar jawaban adiknya itu malah tertawa, hingga menuai protes.

“Mwoya!”

“Suaramu jelek sekali” kata Jiyong jujur. Tapi sesaat kemudian pria itu mencoba berhenti tertawa.

“Issh!”  gadis itu merengut.

“mianata. Kenapa bangun?”  dia meraih ponselnya dan memeriksanya sesaat.“Masih jam 12 malam”

“Aku terbangun.”

“Duduklah disini!” Jiyong menginstruksikannya untuk duduk disebelahnya. Dengan berbalutkan selimut tebal Hyeon Ji berpindah kesamping Jiyong. Kini keduanya berada di ruang tengah tempat biasa mereka menonton tv. Di peluknya adiknya itu dengan hangat begitu gadis itu duduk di sebelahnya. “Sudah kubilang jangan banyak nonton drama! Beginikan akibatnya” Jiyong bergumam membuat gadis itu menoleh kearahnya cepat.

“Maksudnya?”  Bingung dengan apa yang dikatakan kakaknya.

“Kalau tidak karena menonton drama, kenapa harus lari dari rumah sakit kemarin? Seperti di tivi-tivi saja!” Jiyong menoleh kearah adiknya sekilas kemudian kembali memandang tv. Hyeon Ji yang mendengar itu hanya terdiam dan bibirnya mengerucut.

“Seunghyun Hyung tidak berniat marah padamu. Mungkin dia hanya terbawa suasana. Atau mungkin dia sedang berlatih dialog untuk filmnya.” Kata Jiyong santai tanpa beban. Membuat Hyeon Ji menatap kakaknya itu lekat. Jiyong yang sadar di pandangi berbalik menatap. “Mwo? Apa selarut ini aku masih terlihat tampan?” pria itu nyengir, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih.

“Oppa!”

“Hahaha….” Jiyong tartawa lepas, dan mempererat pelukannya. “Aku tidak marah padamu mengenai cake itu.” kata Jiyong akhirnya. “Apa kau sudah berterimakasih pada Hyung? Dia kan sudah mengantarkanmu kemarin”

Mendengar nama Seunghyun membuat Hyeon Ji membeku seketika, teringat kembali incident saat di mobil kemarin. Dia dan Seunghyun… “Hey..” tegur Jiyong “Kenapa melamun?”

Kaget mendengar suara Jiyong gadis itu hanya menggeleng. “Mmm… masalah kemarin…sekali lagi, mian” Hyeon Ji berkata pelan sambil menempelkan kepalanya di bahu kakaknya. Gadis itu benar-benar menyesal dengan apa yang telah di lakukannya.  Setelah beberapa menit dalam kebisuan Hyeon Ji kembali berbicara. “Aku janji itu akan menjadi yang pertama dan yang terakhir”

Jiyong menoleh pada Hyeon Ji, tersenyum,  kemudian mengecup kepala gadis itu lembut. “Nee…tapi itu bukan yang pertama sebenarnya” kata Jiyong.

Hyeon Ji yang mendengar itu mengangkat kepalanya dari bahu Jiyong. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.“Maksud Oppa?” tanyanya “Apa aku pernah meracuni oppa sebelumnya? Kapan?” gadis itu menatap Jiyong  heran. Tapi pria itu tidak langsung menjawab, di ambilnya remote tv kemudian mengecilkan volume suara tv dan kembali meletakkanya ke tempatnya semula. “Kapan ya?” dia mencoba mengingat-ingat. “Sepertinya saat kau berumur  empat tahun”

“Heh? Aku tidak ingat”

Jiyong tersenyum memandang wajah adiknya itu “Tentu saja! saat itukan kamu masih kecil”

“Apa yang kulakukan?” tanya Hyeon Ji penasaran menunggu pria itu melanjutkan ceritanya

“Kau memberiku coklat dari tanah liat”

“Mwo? Hahahaha…pabo~” Hyeon Ji tertawa geli—masih dengan suara paraunya. “Apa oppa tidak bisa membedakan mana yang asli mana yang palsu?”

Bukannya merespon perkataan adiknya itu,Jiyong malah melanjutkan ceritanya. “Saat itu aku baru pulang bermain bola dengan teman-temanku. Begitu aku pulang, aku melihatmu sedang bermain rumah-rumahan di ruang tamu seorang diri. Saat itu Omma sedang masak di dapur, sedangkan Appa sedang pergi, jadi aku menghampirimu berniat mengganggumu. Tapi begitu aku menghampirimu, kau langsung berlari memelukku. Padahal saat itu aku penuh keringat dan kotor.” Ucap Jiyong panjang lebar.

Kini Hyeon Ji kembali meletakkan kepalanya pada bahu Kakakknya dan diam, menunggu pria itu kembali bercerita. “Lalu kau menarikku untuk bergabung bermain. Aku menurut. Aku duduk di samping rumah-rumahan milikmu, menunggu apa yang akan kau perintahkan selanjutnya. Beberapa menit kau sibuk dengan dengan kegiatanmu sendiri, seolah kau sedang menyiapkan makanan untukku. Lalu kau merogoh sesuatu dari tas mu dan memberiku dua benda berbentuk bundar. Persis seperti coklat. Saat ku tanya, ‘Apa ini?’ kau bilang itu coklat dari Omma.”

“Lalu Oppa memakannya?” tanya Hyeon Ji tidak sabaran

“Tentu saja” jawab Jiyong mantap.

“kenapa?” tanya Hyeon Ji singkat. Dia sedikit malas mengeluarkan suara sekarang.

“Saat kau memberikan itu, kau tersenyum sangat manis. Dan lagi, benda itu memang terlihat seperti coklat sungguhan. Tanpa berpikir panjang, langsung saja aku memasukkannya kedalam mulut. Begitu aku mulai mengunyah, aku baru sadar kalau itu tanah liat dan buru-buru memuntahkannya keluar.”

Mendengar cerita kakaknya Hyeon Ji ingin tertawa terbahak-bahak sebenarnya, tapi di urungkannya niatnya, jadi dia hanya menahannya. “YA! Kalau kau mau tertawa, tertawa saja!” keluh Jiyong jengkel.

“Aniyo..fufufu…” gadis itu masih mencoba menahan tawanya

Dan PLETAK! Jitakan berhasil mendarat di kepala gadis itu, tapi bukan merasa kesakitan Hyeon Ji malah tertawa lepas. “Iss…” Keluh Jiyong. “Oh ia, lusa Minkyung noona ulang tahun sekaligus anniversary pernikahannya, dan kita di undang ke Restoran xx untuk makan malam bersama.” Sambil manggut-manggut Hyeon Ji yang duduk di sampingnya itu tertawa geli, sedangkan Jiyong duduk menjauh kesal dengan adiknya.

<><><<<>>><><>

Tuesday. 04.00 PM AT YG BUILDING (Hyeon Ji pov)

Bosan sekali disini. Aku memandangi jam tanganku yang sepertinya berjalan sangat lambat. Kalau saja sepulang sekolah tadi aku tidak dijemput oleh Oppa, mungkin aku sudah bisa berbaring-baring ria di kamar, atau singgah kerumah Michan. Sudah lama tidak main kerumah anak itu. But here I am, berada di atap YG menatapi pemandangan yang bisa di bilang lumayanlah di banding harus menunggu di kantin terus-terusan.

“sedang melihat apa?” sebuah suara mengejutkanku.

“Aish!” Tadinya aku hendak memukul hidung orang ini karena kaget, tapi kuurungkan saat kudapati wajah Daesung sudah di sampingku. Dia sedang makan eskrim dan kelihatannya eskrimnya enak. Kenapa dia harus bawa satu sih? Keluhku dalam hati. “Ingin membunuhku, dengan muncul tiba-tiba?!” aku mencubit kuat lengannya.

“Ya! Appo!..Hyeon Ji-ya..!” dia berteriak kuat. Aku melepaskan cubitanku. Biar tahu rasa dia, siapa suruh mengejutkanku.

“ish! Kau ini, sakit tahu” dia cemberut sambil menggosok-gosok lengannya yang sepertinya memerah.

“Makanya jangan muncul tiba-tiba! Kaget tahu!”

“Gadis sepertimu bisa kaget juga?” ledeknya. “Oh ia, aku dengar nona Kwon Hyeon Ji sakit, apa sekarang dia sudah sembuh?” Daesung Oppa cekikikan mengatakan nona kwon. Membuatku ikut tertawa.

“Apaan sih, ngapain pake ‘nona?’ biasanya juga Hyeon Ji”

“Iseng aja hahaha. Oh ia, tumben main ke YG, biasanya di rumah”

“Ulah siapa lagi kalau bukan Mr.Kwon” jawabku singkat. Dia hanya manggut-manggut sambil asyik menjilati eskrimnya.

“Oh ia, besok ikut ke acara Minkyung noona?” tanyanya. Aku mengangguk meng-iakan pertanyaanya. Aku kembali melihat jam tangan, dan memang sudah seharusnya jam latihan Big Bang sudah selesai sekarang. Pantas saja si hidung besar ini bisa berkeliaran disini. Lalu dia mengikutiku melihat ke bawah—kearah jalanan.

“Sedang apa disini? biasanya nunggu di kantin kan? Apa ada setampan Choi Seunghyun di bawah?” Glek! Apa maksud dari perkataannya? Apa dia tahu aku dan si… ah, mana mungkin dia tahu. Tenang Hyeon Ji, tidak ada yang tahu kecuali kau dan dia. Ya! hanya kalian berdua saja!

“Eh? Kenapa harus dia? Memangnya hanya dia yang tampan? Banyak kok yang lebih tampan!” sergahku.

“Aku kan hany…”

“Daesung! Kau di panggil Jiyong sebentar” tiba-tiba sebuah suara memotong pembicaraan kami. Dan secara bersamaan kami berdua membalikkan badan menatap kearahnya—Seung Hyun. Tsk, panjang umur ni orang, baru juga di omongin. Dan Seperti biasa, kesan cool~ ala elegan selalu lekat pada dirinya. “Di telpon tidak di angkat” keluhnya lagi.

“Ah!” Daesung menepuk jidatnya sendiri. “Maaf hyung, sepertinya ponselku ku tinggalkan di dalam tas. Ya sudah, aku pergi dulu. Hyeon Ji-ya aku pergi dulu ya. Bye~” pamit Daesung dengan wajah ceria miliknya. Siapapun yang melihat senyumnya pasti akan merasa sedang berada di perapian ketika musim dingin: hangat.

“Nee” Sahutku. Begitu Daesung pergi aku kembali membalikkan badan menatapi kearah jalanan yang sibuk oleh mobil yang berlalu lalang. Dan tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh pinggangku. Begitu aku menoleh kesamping, Seunghyun sudah memeluk pinggangku kemudian menarikku agak ke belakang.

“Orang yang kau cari ada di sampingmu tidak perlu mencari kebawah” Mwo? Pede sekali manusia satu ini.

“Siapa yang mencari Oppa?!” Jawabku ketus.

“Sudahla, tidak usah bohong, kau merindukankukan?” Dia tersenyum nakal padaku. Dasar pria mesum! “Kalau kau jatuh bagaimana? Siapa yang akan menjagaku kelak?”

“Mwo? Menjaga Oppa? Memang aku pengasuh Oppa?!” kataku kesal. Cih, apa pria ini tidak ingat apa yang sudah dia lakukan padaku beberapa hari yang lalu?

“Kita kan sudah….” Dia tersenyum nakal lagi, dan menggodaku sambil menempelkan dirinya ke sampingku.

“YA!Oppa!!” spontan aku mencubit perutnya membuatnya menggeliat kesakitan “YA! Hyeon Ji-ya! Appo!” dia meronta dan mencoba menjauh dariku. “Kau tega mencubit kekasihmu yang tampan ini?” Mwo? Kekasih? Memangnya aku sudah menerimanya? Dasar narsis.

“Sejak kapan kita menjadi sepasang kekasih?!” seruku sambil berkacak pinggang.

“Sejak kemarin..”Katanya singkat. “Bagaimana keadaanmu? Masih demam?” Dia  menempelkan punggung tangannya pada dahiku, membuatku hanya bisa mematung. Wajahnya terlihat serius, dan menatap tajam kedalam mataku. Jantungku terasa sedikit bergemuruh. “Mian, Aku tidak bermaksud membuatmu sakit kemarin” Dia melepas tangannya. Kemudian menyandarkan punggungnya di tembok— “Kau masih marah padaku?”

“Eh? A..a..ten..haasyiim!!” tiba-tiba aku bersin membuatnya tertawa. Dia merogoh saku celananya sesaat kemudian memberikan sapu tangannya. “Pakai ini. Untuk mengelap itu..” dia menunjuk hidungku. Mwo? Apa ingusku ikut keluar? Aish flu ini belum hilang betul ternyata.

“Kenapa bengong? Aku hanya bercanda. Tidak ada ingus. Kau masih tetap cantik” Aish! Pria ini tahu benar memperlakuka..ani, mempermainkan wanita lebih tepatnya. Kami diam untuk beberapa saat menikmati semilir angin sore. Tapi kejadian kemarin itu masih saja mengganjal hatiku, dan aku pikir tidak ada salahnya menanyakan langsung padanya. “Bagaimana mungkin Oppa melakukan ‘itu’ padaku kemarin?!” tanyaku sedikit terbata, dan sepertinya pipiku bersemu merah. Untuk sesaat aku mencoba memandang kearah lain. Dia menghela napas sejenak.

“Hyeon Ji-ya” dia memanggil namaku.

“Hmm..” aku menoleh kembali padanya. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menatap kearah jalan yang di penuhi mobil-mobil yang terlihat mini dari atas sini.

“Aku tulus mencintaimu…sungguh. Lagi..kitakan sudah…” Dia menoleh padaku dan wajahnya yang tadi melankolis berubah menjadi nakal. Cih, anak ini pasti mau menggodaku lagi pikirku.

“Sudah apa?” dan entah dari mana Young Bae berdiri tidak jauh dari kami.

“Hyung! kan cuma disuruh panggil Daesung, kenapa sekarang Hyung yang harus di panggil sih?! Kami semua menunggu Hyung di bawah dari tadi ” Young bae terdengar sedikit kesal.

“Eh..Oh, itu..itu..aku keasikan ngobrol dengan Hyeon Ji” elaknya

“Yang tadi itu apa maksudnya?”

“yang mana?”

“Itu..’Kita kan sudah..’..?” Young Bae mengulangi kata-kata Seunghyun barusan.

“Tidak ada apa-apa” spontan kami berdua serentak menjawab membuat Young Bae terlihat bingung. Bergantian dia menatapi kami. Tapi sepertinya dia tidak terlalu memusingkannya. “Sudahla cepat, nanti Jiyong merepet seperti nenek-nenek demo kalau kita tidak segera turun” titah Young bae yang pergi terlebih dahulu di ikuti Seunghyun dari arah belakang.

Kakiku terasa lemas sepertinya aku akan jatuh begitu Young Bae dan juga Seunghyun pergi. Pria macam apa sebenarnya Seunghyun itu? Kenapa dia selalu berhasil membuat jantungku di posisi yang hampir berpindah tempat?

<<><><>>

Wednesday 08.00 PM  AT Restaurant XX

“Ppalli..!!” Jiyong memberikan tangannya kehadapanku menyuruhku agar cepat berjalan. Siapa suruh dia berdandan lama tadi di rumah? Beginikan jadinya. Terlambat. Memilih sepatu saja bisa lima belas menit, belum lagi baju, celana, bahkan memilih dalaman saja bisa lama. Sepertinya Dara Onni harus sabar menghadapi Kakak tercintaku ini kelak. Dia menggenggam tanganku, dan sesekali mengangkat telpon memberitahukan kalau kami sudah sampai di restoran. Benar saja, begitu masuk sudah banyak orang disana, bahkan Teddy Ahjussi juga sudah ada di sana, ya kecuali orang yang berada di sampingku ini. Dan tamu-tamu yang lain..? setengah dari mereka aku kenal tapi setengah lagi? Entahla, aku tidak mengenalnya sepertinya rekan-rekan Minkyung Onni.

“Jiyong-ah!” teriak Yanggaeng sambil melambai kearah kami yang baru saja sampai. Bukannya langsung mencari sang empunya pesta tapi Oppa malah pergi begitu saja menghampiri teman-teman se-gengnya. “Nanti duduk di dekatku, dan sebaiknya kamu sapa Minkyung noona dan suaminya” pesannya sebelum pergi. Dasar!

Mataku bergerak liar mencari Minkyung Onni, tapi..

“Hyeon Ji-ya..” panggil Taehyun Onni sang Hair style. Aku memutuskan menghampirinya sebelum bergabung dengan Oppa yang sudah asyik mengobrol dengan teman-temannya yang-entah-di-mana. “Waah~ sudah lama aku tidak melihatmu. Kau semakin cantik saja. Sama seperti kakakmu hahaha.” Katanya sambil menepuk-nepuk tanganku. Jadi aku mirip Jiyong? Padahal kata Appa, aku sedikit mirip Tiffani SNSD  kkk~ “ Oh ia, apa orang tua kalian di Korea?”

“Ani, mereka sedang di Jepang” jawabku sopan. Kemudian dari arah samping, “Hyeon Ji-ya..Omo…kau terlihat semakin dewasa saja” timpal Jieun Onni yang juga salah satu make-up artist di YG,  dan ternyata dia duduk tidak jauh dari tempat aku berdiri sekarang ini.

“Anyyeong Onni..” sapaku sopan.

“Omo… Ini Hyeon Ji? terakhir aku melihatmu tiga bulan yang lalu dan sekarang sudah banyak perubahan” Kini Yoona yang duduk tepat di samping Jeiun Onni—salah satu staff YG ikut menimpali. Apa perubahanku sedrastis itu malam ini? Perasaan biasa saja. Memangsih tinggiku sedikit bertambah dan rambutku juga sedikit panjang dari bulan-bulan sebelumnya. “Ah~ nee..” aku membungkuk berterimakasih pada mereka. “Dimana Minkyung Onni dan suaminya?” tanyaku. Karena sedari tadi aku tidak melihat mereka.

“Tadi dia di…Oh, itu mereka!” Tunjuk Jieun Onni. “Sebaiknya kau memberi salam padanya”

“Nee…aku permisi dulu. Anyeong~” pamitku.  Begitu menghampiri Minkyung serta suaminya dan memberi mereka kado dan selamat. Aku mencoba mencari di mana si naga seksi itu menyelip. “Rabbit-ah!” teriaknya dari salah satu meja di tengah ruangan. Aish..kenapa harus memanggil nama itu sih di tengah banyak orang begini. Aku menghampirinya, tapi seolah baru saja tidak memanggil dan melihatku, naga cungkring ini malah memunggungiku. Cih, anak ini.

Meja tempat di mana kami duduk berada di tengah-tengah dan susunannya panjang, dengan kursi yang saling berhadap-hadapan. (Author bingung ngejelasinnya jadi ya begitulah pokoknya -..- ) Aku duduk tepat di antara Jiyong dan Seungri. Dan di meja ini yang ku kenal hanya Jiyong,Seungri Seunghyun, Yanggaeng dan Hyuksoo sisanya wanita-wanita yang sepertinya teman-teman mereka semua. “Oppa, 2NE1 Oddiseo?” tanyaku pada Yanggaeng.

“Dara dan Minzy sedang ada acara lain, sedangkan Bom dan CL tadi datang bersamaku” jawabnya sambil memutar tubuhnya mencari Bom dan CL. “sepertinya mereka sedang ke toilet.” Jelasnya singkat kemudian kembali asyik mengobrol dengan Jiyong dan teman-teman wanitanya. Acara malam ini tidak seperti pesta sebenarnya, bisa di katakan semua orang sibuk dengan obrolannya masing-masing. Membosankan memang. Di tambah aku sedikit gerah dengan posisi duduk seperti ini. Sebelah Kananku Jiyong, sebelah kiriku Seungri, mereka duduk berhadapan langsung dengan Yanggaeng dan Seunghyun sedangkan orang yang di depanku: wanita yang tidak ku kenal, di tambah dia menatapku sinis. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan.

“Gwenchana?” tanya Seungri, sepertinya dia tahu aku sedang kesal. “Bagaimana kondisimu, sudah membaik? Aku sempat panik waktu kau demam kemarin”

“Nee” aku tersenyum kecil. “Aa~ gomawoyo oppa, kemarin sudah mau menjagaku kemarin” Dan dengan bangganya dia tersenyum sambil manggut-manggut. Lima belas menit kemudian setelah tamu terlihat sudah berkumpul, acara di mulai. Tentu saja acara intinya menyanyikan lagu ulang tahun, meniup lilin, makan kue dan mendengar beberapa kata sambutan. Walaupun Minkyung onni sudah berkeluarga acaranya seperti acara anak muda pada umumnya. Mungkin di karekan hampir setengah dari tamunya adalah anak muda dan satu hal lagi, banyak artis yang berkumpul malam ini.

Begitu acara inti selesai jamuan makanpun tiba. Semua tamu kembali sibuk dengan percakapan mereka masing-masing begitu juga dengan pria yang duduk di sampingku ini, dari awal sampai akhir tidak henti-hentinya berceloteh. “Oppa! Jangan lupa bernapas” bisikku pelan ke telinga Jiyong yang tengah mengobrol. Mendengar itu dia hanya tertawa dan menatap ku sekilas, “nee nona kwon hyeon ji” katanya lalu kembali berceloteh seperti ibu-ibu yang sedang mendapat gossip terhangat.

“Jadi, Hyeon Ji..bagaimana sekolahmu? Kapan kalian ujian? Aku dengar Jiyong hyung ada rencana menyekolahkanmu ke Amerika, apa itu benar?” Seungri kembali membuka percakapan, sepertinya dia tidak di ajak masuk ke obrolan Jiyong makanya dia mengajak ku mengobrol. Poor Panda. “Minggu depan kami mulai ujian. Wish me luck Oppa! Well, kalau masalah melanjutkan study dari dulu aku memang ingin sekolah ke luar. Dan mungkin setelah tamat dari sini ada kemungkinan aku akan pindah ke Amerika.”

“Yah… jadi sepi dong. Ga ada yang ngomel-ngomel lagi di apartemennya Jiyong hyung. Terus, nanti kalau aku main kesana ga ada yang masakin ramen lagi dong” Jadi selama ini aku Cuma di anggap pembantu sama si panda satu ini. Aku hanya memaksakan senyumku, malas mau menjawab, di tambah melihat wanita yang duduk di depanku ini terlihat asyik mengobrol dengan Seunghyun.

Beberapa menit kemudian makanan datang kemeja kami, untuk sesaat semua terdengar hening yang terdengar hanya suara pantat piring dan gelas yang menyentuh meja. “khamsahamida” kataku pelan pada pelayan wanita yang sudah melayani kami. Dia balas tersenyum dan kembali ke asalnya. Sekilas dari tempatku, Seunghyun masih asyik mengobrol dengan teman wanitanya itu. Dan sedari tadi dia sama sekali tidak ada menyapaku, jangankan menyapa melihat kearahku saja tidak!

 “Hmm..Oppa..siapa dia?” aku berbisik pelan pada Seungri.

“Siapa? Wanita ini? Temannya Hyuksoo, dia model. Cantik ya Rabbit~” Aish! Si panda malah kesemsem sendiri

“Biasa aja. Cantikan Chaerin-Onni” jawabku tegas, menyeruput malas minumanku.

“Heh? Si Jelek itu kau bilang cantik? Aish~ sejak kapan CL Cantik?!”

“Hey! Aku mendengarnya PANDA!!” Teriak Chaerin Onni yang ternyata duduk tidak jauh dari kami. Aku tidak tahu kalau dia berada di sana. Aku hanya bisa tersenyum mendengar cek cok singkat antar Seungri dan CL. Dan semua orang sudah terbiasa dengan itu.

Lima menit..sepeluh menit..lima belas menit belalu, it’s enough! Awalnya aku tidak mau perduli, tapi semakin lama Seunghyun terlihat mengesalkan di mataku membuatku benar-benar gerah! Aku memang tidak mau melihatnya, tapi dia duduk di samping wanita yang jelas duduk berhadapan denganku dan mau tidak mau aku harus terganggu dengan pandangan yang membuatku..arrgh! benar-benar malas! Aku menatap piringku muak, kemudian menaruh sendokku dan menggeser piringku kedepan. Seungri  yang sadar dan duduk tepat di sampingku  menatapku heran. “Kenapa makananmu tidak di habiskan?” tanyanya

“Kenyang,” ujarku pelan, kemudian tersenyum kecut. Entah kenapa aku jadi kesal sendiri. Jiyong  menatapiku dan aku yakin yang lainnya juga begitu. Tapi aku tidak menggubrisnya atau lebih tepatnya tidak peduli. Baru saja aku berdiri hendak menjauhi meja. “Mau ke mana?” tanya Seunghyun. Dia masih menganggapku ada di situ toh, aku kira sudah tidak. Aku kira dia sudah tenggelam dalam obrolan dengan teman wanitanya.

 “Oh.. itu..aku mendapat telpon dari teman.” Jawabku bohong mencoba tidak terlalu mencolok di antara tamu-tamu yang sedang asyik menikmati hidangan yang datang silih berganti.

“Oppa! Aku keluar sebentar” pamitku pada Jiyong. Aku tidak mau dia curiga padaku.

“Perlu aku temani?” Jiyong bangkit berdiri dan sudah bersiap mendatangiku.

“Tidak perlu.” Kataku cepat. “Aku hanya mau mengangkat telpon” kataku masih berpura-pura sambil menekan asal ponselku. Hingga tanpa sadar ada suara dari sebrang, “Yebboseyo..Hyeon Ji-ya? waeyo?”

“Eh..” aku sempat kaget mendengar suara, begitu ku check ternyata aku menekan nomor Jee Hee. Dan mau tidak mau aku harus menjawabnya. “A~ Jee Hee-ya..oddiya? aku lagi di restoran menemani Oppa..” sambil membungkuk sopan kepada semuanya aku pergi meninggalkan mereka semua masih mencoba berbicara dengan Jee Hee yang terdengar bingung.

Begitu keluar dari restoran, “YA! Kau ini kenapa? Dari tadi ngomong sendiri! Kau yang menghubungiku kenapa tiba-tiba menjelaskan hal-hal yang tidak ku mengerti?!” teriak Jee Hee membuatku menjauhkan ponselku sedikit dari telinga.

“Eh..haha mian’ besok aku cerita semuanya padamu ok!” Dan Klik, aku mematikannya. Aku tahu anak itu pasti sedang mengumpat di sebrang sana, tapi biarlah pikirku.

Kenapa sih aku harus jadi badmood begini? Sungguh menyebalkan! Katanya dia tulus mencintaiku, apa sih maksud pria itu! Aku terus menggerutu. Lalu terdengar langkah kaki dari arah belakangku. “Hey, ada masalah?” aku menoleh kesamping ternyata Seungri, dia sudah mengimbangi langkahku, dan berjalan tepat di sampingku.

“kenapa mengikutiku?” aku mendelik padanya tapi tidak memberhentikan langkahku

“aku bosan disana. Jadi izinkan aku menemani mu ya” akunya

“Gadis cantik tidak boleh jalan sendirian, nanti di culik lo”

“Biarin!” jawabku ketus, sambil menendang-nendang kerikil yang ada di jalan.

“Kalau di culik saja si tidak apa-apa. Tapi kalau sampai di apa-apain baru tahu!” dia kembali menjawab tidak mau kalah. Aku memang sedang kesal, tapi tidak ada salahnyakan dia menamaniku. “Aaahh~ terserah Oppa saja” jawabku kembali ketus.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? kau tidak sedang mau menelpon atau menunggu telpon seseorang kan?” Tsk, ternyata dia tahu. Dan gagasannya terdengar menarik. Lalu tanpa menunggu jawaban dariku dia segera menarik tanganku dan membawaku.

Entah kenapa aku jadi kesal sendiri melihat Seunghyun dengan wanita itu. Aku memang tidak ada hak untuk melarangnya dengan siapapun. Hanya saja….melihatnya seperti tadi membuatku takut kalau yang di katakannya kepadaku di mobil dan di atap waktu itu hanya sebuah candaan semata.

<><><><> 

“hoaa.. kenyang” sorakku gembira begitu kami keluar dari McDonald. Dan dengan cepat dia menggenggam tanganku. Membuat pandanganku turun menoleh genggamannya, membuatnya cepat-cepat melepaskannya “Gwenchana?” aku memastikan

“Annio..” sahutnya, terlihat sekali dari wajahnya dia merasa sedikit malu dengan sikapnya.

“Makasi ya Seungri-ya udah di traktir”

“Hey!Hey! Panggil aku Oppa!” koreksinya.

Dan sesaat kemudian Hening. Kami memutuskan berjalan sebelum kembali pulang ke restoran, dan sepanjang perjalanan kami terbenam dengan pikiran masing-masing. Jalanan Gangnam sungguh ramai kalau jam malam seperti ini. Diam-diam aku menoleh kearahnya, Syalnya yang tebal dan melilit sampai menutupi mulutnya membuatnya tidak mudah untuk di kenali. Sedangkan pandangnnya menatap lurus kedepan. Terbenam akan pikirannya. “Oppa..” panggilku.

“Nee” dia menoleh

“Apa tempat ini memang selalu ramai seperti ini?” tanyaku sambil  menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Aku sadar kalau ini sudah malam dan cuaca berubah menjadi lebih dingin.

“Kau seperti tidak tahu daerah ini saja. Di sinikan memang selalu ramai, namanya juga banyak tempat minum, makan dan segala macam permainan yang tidak terhitung jumlahnya makanya selalu banyak orang. Apa lagi, biasanya artis-artis kadang mainnya kesini.” Dia menjelaskan panjang lebar dan semangat seperti Seungri yang biasanya.

“Oh ia” aku teringat sesuatu. Aku mengambil sesuatu dari tasku kemudian mengeluarkan topi dan memasangkannya padanya. “Pakai ini, nanti Kalau oppa di kenali orang bisa berbahaya. Nanti langsung ada headline news: SEUNGRI TERTANGKAP BERJALAN DENGAN GADIS CANTIK DI DAERAH GANGNAM!”

“Mwo? Wahahahaha” dia tertawa terbahak-bahak hampir-hampir sesak karena mulutnya tertutupi oleh syal. “Kau ini bisa saja.” katanya. Obrolan demi obrolan sepanjang perjalanan tidak terasa membawa kami kembali ke restoran, begitu hendak masuk kembali aku menangkap sosok Seunghyun dengan seorang gadis di dekat parkiran. Aku tahu benar itu dia,  terbukti dari baju dan topi yang dikenakannya. Tapi tetap saja aku berharap aku salah. Hingga aku memicingkan mataku untuk memastikan.

“Hey, ada apa? Kau tidak masuk?” Dia melihatku yang sedang mencari sesuatu. “Lihat apaan sih?” matanya ikut menatap kearah yang aku lihat.

“Ah? Aniyo…itu..aku kira aku kenal orang itu, ternyata bukan.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang jelas-jelas tidak gatal.  “Ayo kita masuk!” Aku menarik lengan Seungri dan berjalan masuk kedalam restoran.

Ternyata benar itu Seunghyun. Baik sekali dia mengantarkan wanita itu sampai ke mobilnya. Dan kenapa dadaku rasanya sakit sekali ya? Apa aku cemburu?

(Hyeon Ji pov END)

<><><><><><>

TOBECO..

Is that LOVE I see in your eyes, or merely just reflection of mine?

BOH-Ji