Title : Happy New Year

Author : Nidaebak

Casts : G Dragon / Kwon JiYong (BigBang)
Chaeyeon & Chaeyeol (OC)

Genre : romance

Length : oneshoot

Disclaimer : murni dari otak gue, sedikit terinspirasi dari film yang gue tonton sekilas.
judulnya apa itu ya gue lupa._.
OC nya gue ngarang. GD punya gue celalu hoho:3

A/N : sangat terinpirasi dan sangat terenvy(?) sama abang gue yang foto bareng sama Daesung sama Seungri pas
Alive Tour JKT kemaren:(
trus pas gue nonton pilem apa gituya gue jadi pengen bikin ff.
ini ff pertama gueloh;;) okezip gak ada yang nanya-_-
maap kalo typo dimana-mana. alurnya juga cepet banget._.
oke no more bacot. HAPPY READING^-^

Twitter : @annidakarima

*Chaeyeol POV*

Kubidikkan kamera DSLR ku kearah panggung yang bermandikan cahaya warni-warni. Sesekali kearah penonton yang berteriak memanggil nama idolanya.

Musik opening ‘One Of A Kind’ milik G Dragon berhasil membuat remaja-remaja labil itu menjerit-jerit lagi.
Cahaya terfokus kearah salah satu tangga dekat tempat duduk penonton.

Leader BigBang itu tersenyum dengan senyumannya yang khas. Kemudian ia berjalan menuju panggung. Badan kurusnya melakukan peregangan ketika suara lagu ‘Crayon’ mulai terdengar.

Kulirik adikku, Chaeyeon yang juga sedang memandangi sang idola dengan mata berbinar.

———————————————-

“Oppa aku ingin pipis..” suara menjengkelkan itu mulai terdengar

“Pergilah sendiri. Aku masih sibuk untuk menyelesaikan ini” aku masih membidik kameraku kearah Eunhyuk, sang Dancing Machine Super Junior.

“Cepatlah… Aku sudah tak tahan…” Chaeyeon menarik-narik tanganku. Membuatku tak fokus mengambil gambar.

“Aiiisshhh.. Kau tak mau melewatkan ini, eoh?” aku mengatur fokus kamera.

“Tidak. Lagipula BigBang tadi sudah tampil,” Chaeyeon menatapku dengan tatapan pabonya.

“Ah.. Aku tak tahan…” Chaeyeon berlari meninggalkanku. Kukejar dia yang semakin jauh meninggalkan stage SBS Gayo Daejun.

*CheyeoL POV End*

———————————————–

*Chaeyeon POV*

Aiiisshhh… Aku ingin ke toilet. Tapi apakah toilet lantai ini bisa kupakai? Bagaimana kalau aku memasuki toilet
yang ternyata untuk para artist? Lebih baik aku ke lantai bawah saja.

‘TING’
Pintu lift terbuka. Kutekan tombol 3.
Seorang namja berteriak dari kejauhan, meminta agar aku menahan pintu yang sebentar lagi akan tertutup.
Ia berlari terengah-engah berusaha masuk sebelum pintu lift benar-benar tertutup.
3 jengkal lagi pintu akan tetutup, seperti di film-film action kebanyakan, namja itu berusaha masuk dengan memiringkan badannya.
Kedua tanganya terangkat keatas dan giginya menggigit bibir bawahnya. Seksi.

Aku membulatkan mataku dengan mulut sedikit terbuka. Terlalu takjub sampai tak sadar ia telah berdiri tepat disampingku.

“Annyeonghaseyo…” ucapnya ramah dengan sedikit membungkukan badannya.

Aku masih terbengong karena pesonanya barusan. Dan sekarang aku hampir tak percaya dengan siapa yang
ada didepanku saat ini.
Rambut yang kiri berwarna hitam, sedangkan yang kanan berwarna pink. Setelan jas hitam putih garis-garis.
G Dragon!!! Eomeo!! Dia benar-benar G Dragon?!

Ia satu lift denganku? Berbicara padaku?

“Wae? Kau sakit?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku melihat ke sekeliling lift, hanya ada aku dan namja keren ini.

“Aniyo. Ne, annyeonghaseyo,” jawabku sambil membungkukan badan berkali-kali

“Apa kabar?”

Hening. Aku terlalu gugup intuk ini.

“Mukamu aneh. Apa aku terlihat seperti setan? Kkk~”

“Aaa.. Aniyo. Ne, I’m fine. Penampilanmu tadi keren Jiyong-ssi”

Aku mencoba mencairkan suasana canggung ini.

“Jadi selama ini aku tidak terlihat keren, begitu?” ia melirik kearahku lalu tersenyum.

“Ani.. Bbb.. Bbukan itu maksudku. Kau selalu keren,” aku menundukan mukaku malu. Sial, mengapa aku gugup? Dan tak tahukah dia dengan yang namanya basa-basi?

Aku mencuri-curi melihat wajahnya. Eomeo! Ternyata ia melihat kearahku dengan senyum badboynya.
Kutundukan lagi mukaku.

“Mukamu merah. Apa kau sakit? Naikkan retsleting mantelmu, udara memang sangat dingin,”

“Ah, ne.. Gamsahamnida,”
Benar, mantelku sedikit terbuka. Dengan gemetar aku menaikkan retsleting.
Tapi ini tak ada hubungannya dengan memerahnya mukaku.
Ini karena kau Jiyong-ssi. Ocehku dakam hati.

“Hahaha… Kau terlihat lucu Chaeyeon-ah,”

Wait. Apa? Barusan ia menyebut namaku? Bagaimana dia bisa tau namaku?

Pasti mukaku memerah lagi sekarang. Aku menundukkan mukaku, berharap ada tanda pengenal
atau semacamnya disana. Tapi tak ada.

Aku mengangkat mukaku. ”Jiyong-ssi…”
Bibirnya tak lepas darisenyuman. Kemudian ia terkekeh geli. Apanya yang lucu?

‘BLEP’

“Eomeo!!!!” Aku teriak ketika lampu lift tiba-tiba mati dan lift berhenti.
Aku takut. Tak terlihat apa-apa sekarang.

“Gwaenchana Chaeyeon-ah, ini tak akan lama,” tanpa sadar aku berpegangan erat pada Jiyong.

Reflek aku melepaskan tanganku. “Ah, mianhaeyo..”
“Tak apa. peganglah yang erat jika itu membuatmu nyaman. Kau takut, eoh?”

Kucengkram kembali tangannya. Ini sangat gelap dan aku benar-benar takut.
Tak tahu bagaimana ekspresi Jiyong kali ini. Tapi suaranya terdengar keren.

“Mianhaeyo Jiyong-ssi, aku sangat takut kegelapan. Eomma… Aku belum ingin mati sekarang..”
kataku setengah menangis.

Jiyong menggenggam tanganku yang melingkar dilengannya. “Gwaenchana Chaeyeon-ah, kalaupun kau mati, kau akan mati dipelukkanku,”

“Ne.. ” jawabku semakin gugup. Dapat kurasakan keringat dingin mengalir di dahi dan sekitar leherku.

“Tidak kah kau dengar aku bilang gwaenchana?” katanya lagi.

“Bukankah aku sudah bilang ‘Ne..’ ?” jawabku heran.

“Kau terlihat sangat ketakutan,” Yah, dia benar… Tapi sok tahu. Bagaimana dia bisa melihat dalam kegelapan?

“Aku tak bisa melihat wajahmu. Tapi aku bisa merasakannya. Bahkan aku bisa mendengar suara detak jantungmu,”

Aku menghela napas. Mengatur detak jantungku agar normal kembali.
Melepaskan tanganku dari genggamannya. Kemudian menyenderkan punggungku dengan kasar ke dinding lift.
Terdengar suara gesekan dari mantelku yang berbahan parasut ketika aku mulai berjongkok kebawah.

Tiba-tiba ada cahaya terang yang menyilaukan. Berasal dari ponsel Jiyong rupanya.

Kini mukanya sejajar dengan mukaku. Ia mengarahkan ponselnya kearahku. “Begitu wajahmu jika sedang ketakutan,”
Kemudian tawanya yang keras memenuhi ruangan.

Aku mengembungkan pipiku dengan sedikit memajukan bibirku. Menatapnya pura-pura sebal.

”Puas kau Jiyong-ssi..”

Aneh. Mengapa aku merasa senang ditertawakannya seperti ini. Tapi kalau bisa memilih, aku ingin
candle light dinner yang romantis sambil menikmati kembang api bersamanya.
Bukan terjebak dalam lift yang gelap dan dingin ini.

“Ehm..” Ia berdehem setelah puas mentertawai ku.

“Oh ya, panggil saja aku Oppa,”

“Wae??” jawabku kaget. Pede sekali dia.

“Mengapa harus?” lanjutku dengan muka pabo yang jelas karena ia kembali mengarahkan ponselnya kemukaku.
Terlihat selcanya lagi dengan Seungri disana. Kyeoptaaa.

“Karena aku namja, kalau aku yeoja kau memanggilku Eonni,” ia tersenyum

“Kau tak mengenalku kan?” aku menatap matanya yang juga sedang menatapku.
Sial. Tatapannya itu selalu membuatku salah tingkah.

Ia terlihat sedang berpikir. Matanya kembali menatapku.
Ia menggeser duduknya disampingku. Kakinya ikut disilangkan. Tangannya masih memegang ponsel yang diarahkan ke pintu lift.

“Itu rahasia.” jawabnya menyebalkan.

“Kau stalker?” tanyaku konyol

“Yak!” teriakku keras saat ia menjitak kepalaku.

“Pede sekali kau,” kekehnya

Entah sudah berapa banyak ia tersenyum dan tertawa? Sedangkan aku yang ada hanya muka pabo.

Sepertinya aku mulai melupakan tujuan awalku untuk ke toilet.

“Kau suka melamun ya?”

“Ya, semenjak aku terjebak di lift ini bersamamu, kkk~” jawabku dalam hati

“Kau belum jawab pertanyaanku, Jiyong-ssi”

“Wae?” ia menaikkan alisnya sebelah.

“Kau stalker bukan?”

“Tentu saja bukan, memangnya kenapa?”

Diarahkannya lagi ponselnya lebih dekat ke arahku.

“Hei, kau melamun lagi,”

“Cahaya ponselmu terlalu silau Jiyong-ssi. Tolong jauhkan itu dari mukaku,” kataku beralasan.

Lagi-lagi ia tertawa. “Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih dekat. Ah ya, sudah kubilang panggil saja aku Oppa,”

“Baiklah terserah kau,”

Hening lagi. Aku mengeluarkan ponselku. Kemudian mengangkatnya keatas.

“Tak ada sinyal…” kataku hampir menangis.

“Kenapa? Khawatir namjamu mencari ya? Kkk~”

“Aku tak punya namjachingu. eotteokhae…Chaeyeol Oppa pasti cemas,”
tatapku nanar pada ponselku.

“Nah, kau memanggilnya Oppa..” ia mengarahkan jari telunjuknya kearahku.

“Apa salahnya? Ia kakakku,” aku menjawab lagi tanpa melihat mukanya.

“Sudah jangan seperti itu. Ayo kita buat selca yang bagus,” hiburnya.

Tangan kanannya merangkulku, tangan kirinya memegang ponsel yang jaraknya tak begitu jauh dari muka kami berdua.

“Jangan menatapku seperti itu. Tenang saja aku tak sebodoh itu. Akan kunyalakan flash nya,”

Mengapa ia selalu saja tau apa yang ada dipikiranku.

“Hana, dul, set. Cheesee…”

Aku membuat V sign dengan tangan kananku. Mukaku pasti terlihat pabo.
Flash ini terlalu silau.

‘TING’

Tiba-tiba lampu lift menyala besamaan dengan terbukanya pintu lift.

Aku dan Jiyong berdiri bersamaan. Aku melangkah keluar, diikuti Jiyong dari belakang.

“Mwo? Bukankah ini lantai paling atas?” tanyaku heran.

Aku membalikkan badanku. Jiyong kelihatan bingung disana. Ia melihatku, kemudian tersenyum begitu tau aku memperhatikannya.

“Oppa, kau menekan tombol berapa tadi?”

“Ani, aku belum sempat menekan apa-apa, kukira kau ingin kesini,” Ia memakai kaca mata hitamnya

“Sudahlah, mungkin karena lift tadi rusak,” katanya sambil mengecek ponselnya.

Aneh. Tadi tak ada goncangan apa-apa bukan?

“Hei 5 menit lagi pergantian tahun. Kajja kita lihat pesta kembang api!” ditariknya tanganku, hangat.

Tidak lama kemudian sudah banyak orang memenuhi rooftop.

Banyak orang menatapku. Ataukah mereka menatap Jiyong.
Benar, tatapan itu ditujukan padaku, ada yang berteriak histeris.memandang sebal sambil berbisik.

“Oppa lepaskan tanganmu dariku. Banyak yang menatapku dengan tatapan tidak suka,”
Aku merapatkan diri ke belakang Jiyong.

“Biarkan saja. Apa urusan mereka,” Jiyong mempererat genggaman tangannya padaku. Dengan takut-takut aku melihat
kearah orang-orang yang menatapku seram.

Aku menengokkan kepalaku cepat. Tanganku sudah ada didalam saku jasnya sekarang.

“Pinjam tanganmu, ne. Aku sedikit kedinginan,”

Benar, anginnya cukup kencang. Sedangkan ia hanya memakai jas dan kemeja tipis seperti itu.

“Tapi aku takut..” kataku sambil berusaha mengeluarkan tanganku dari sakunya. Tapi ia menahan.

“Apalagi? Kau bisa memelukku jika kau mau. Itu akan menguntungkan bagiku. Anginnya nakal hehe..”

Aku tersenyum pahit. “Bukan itu,” kulirik orang-orang yang semakin banyak berkumpul untuk menikmati kembang api
yang beberapa menit lagi akan menghiasi langit Seoul.

“Mereka pasti fansmu. Mereka akan membenciku bila melihatmu seperti ini. Aku takut mereka akan membuatku hancur,”
aku mencoba mencari-cari tatapannya dibalik kaca mata hitamnya.

Seakan mengerti mauku, ia melepas kaca mata hitamnya. Kedua tangannya pindah berada diatas pundakku sekarang.
Matanya menatapku dalam, bibirnyapun tersenyum hangat.

“Bukankah mereka sudah kubuat senang melihat penampilanku tadi? Sekarang aku juga ingin bersenang,”

Jarak ini begtu dekat. Aku dapat merasakan debaran jantungku yang tak normal.

“Mengapa mereka harus seperti itu jika melihatku senang?”

Kulepaskan tangannya dari pundakku.

“Aku menyakiti mereka,” kataku dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Tidak, mereka yang menyakitiku kalau seperti itu,” Ditangkupkan kedua pipiku dengan kedua tangannya

“Aku takut mereka akan menyakitiku!” kataku lagi dengan susah payah menahan air mata.

Tatapan matanya begitu serius. Bibirnya melukiskan lagi senyuman yang selalu saja dapat mempercepat detak jantungku.

“Bilang padaku jika ada yang menyakitimu,”

Aku tersenyum dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan.

“10…9…8…” tiba-tiba terdengar suara keras yang serempak memenuhi rooftop SBS buliding ini.

“Hei sebentar lagi akan dimulai,” Jiyong menarik lenganku agar lebih maju kedepan.

“7…6…5…” aku dan Jiyong saling menatap dan tersenyum.

“4…3…2…1…”
Suiiiittt….Duar….Cetar…Teeettt…

Suara kembang api dan terompet beradu. Langit dihujani kembang api berwarna-warni dengan indahnya.

Teriakan ‘Happy New Year’ terdengar sahut menyahut.
Beberapa pasangan tampak saling berpelukan.
Seorang anak kecil yang digendong ibunya bertepuk tangan kegirangan.

Aku tak ingin melewatkannya begitu saja. Kukeluarkan ponsel dari dalam saku mantel
dan merekam kembang api yang menari-nari diatas sana.

“Happy New Year Chaeyeon-ah,” aku menengok kekiri, merespon suara cempreng yang sejak tadi memenuhi telingaku.

“Happy New Year too Jiyong-ssi,” kuberikan senyum termanis padanya.

Aku mendongakkan kepalaku lagi. Sempat kulirik Jiyong yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya.

‘Happy New Year Baby’ lalu ia menyentuh tulisan yang bertuliskan ‘tweet’ pada layar ponselnya.
Ia tersenyum menatap layar ponselnya lalu dimasukkan kembali kedalam sakunya.

“Chaeyeon-ah…” seseorang memanggilku. Aku berbalik.

“Chaeyeol Oppa!!!” aku berlari menghampiri Chaeyeol yang berjalan terpincang-pincang.

Begitu ingin kupeluk ia menamparku.

“Awww…”

*Chaeyeon POV End*

—————————————————–

*Chaeyeol POV*

“Chaeyon-ah..” kutepuk pipinya pelan. Bagaimana ini? Sudah 30 menit ia tak sadarkan diri.

“Chaeyeon-ah… Ireona~” kutepuk lagi lebih keras.

“Awww…” yeah! berhasil. Akhirnya adikku yang pabo ini bangun juga.

“Jiyong Oppa….” ia bangun dan langsung terduduk. Mukanya terlihat kecewa begitu melihat aku didepannya.

*Chaeyeol POV End*

————————————————————-

*Chaeyeon POV*

Ternyata itu cuma mimpi? Tapi itu seperti sungguhan!

“Apa yang terjadi?” yanyaku pada Chaeyeol yang sedang menarik kursi mendekati ranjang.

“Kau tak mengingatnya? Kau tergelincir saat menuruni tangga pabo!”

“……………………..” aku hanya diam

“Dan kau pun pingsan!”

“……………………” aku diam lagi dan menatapnya

“Yak! Berhenti menatapku dengan tatapan bodohmu itu!” Chaeyeol menjitak kepalaku kasar.

“Ahh…. Siapa aku? Siapa kau? Dimana aku???” aku memegang kepalaku pura-pura frustasi.

“Sekarang berhentilah bertingkah bodoh,”

Aku hanya nyengir.

Jadi itu hanya mimpi? Jjinja tapi seperti sungguhan.

“Kau sudah merasa baik? Ayo pulang, pakai mantelmu” Chaeyeol melemparkan mantelku, ponselku ter
jatuh dari saku mantel.

“Jjinja paboya Chaeyeon-ah!!” Chaeyeol menjitak kepalaku lagi ketika aku tersandung saat mengambil ponselku dibawah meja.
Aku mengangkat tanganku membuat V sign

*Chaeyeon POV End*

——————————————————–

*Chaeyeol POV*

Lihat, ia menjadi murung seperti itu.

“Chaeyeon-ah kau kenapa?” tanyaku mengangkat dagunya.

“Ani. Aku ingin melihat kembang api,” ia langsung tersenyum begitu kutanya/

“Eoh? Kajja kita ke rooftop!”

*Chaeyeol POV End*

*Chaeyeon POV*
.

“Ani. Aku ingin lihat kembang api,” jawabku pada Chaeyeol yang tampak cemas melihat aku murung.

“Eoh? Kajja kita ke rooftop!” Chaeyeol menarik lenganku meninggalkan ruangan klinik SBS Building.

“Ani.. Aku tidak mau naik lift,” aku melepas tangan Chaeyeol begitu sampai didepan lift.

Chaeyeol menekan tombol agar pintu lift terbuka. “Lalu kau mau naik apa?’ tanya Chaeyeol frustasi.

“Tangga darurat.” kataku mantap

“Kau gila! Ini lantai 5! Kau mau menggunakannya hingga menuju rooftop?!”

Aku nyengir lagi. “Aku hanya menggodamu, kkk~ Okay kita naik lift” kataku pasrah

Pintu lift terbuka, aku memegang erat mantel belakang Chaeyeol.

Chaeyeon menekan tombol dengan kesusahan karena aku masih memegang mantelnya.

“Kau ini aneh sekali, lepaskan!”

“Shireo~ Aku bermimpi aneh tadi,”

“Apa?”

“Aku satu lift dengan G Dragon. Tiba-tiba lift berhenti lalu aku terjebak didalam bersamanya.”

“Haaaah….” Chaeyeol seakan tak peduli dengan ceritaku.

Baru beberapa lantai, pintu lift terbuka. Seseorang memasuki lift dengan menggunakan kaca mata hitam.

Eomeo!!! G Dragon!! Jjinja itu G Dragon!!! Aku dan Chaeyeol saling bertatapan.

“Annyeonghaseyo…” kata Leader BigBang itu sambil membungkukan badannya.

Aku melepaskan tanganku dari mantel Chaeyeol dan membungkukan badan berbarengan dengan Chaeyeol.

“Ne.. Annyeonghaseyo..”

“Kau sudah baikan?” ia tersenyum kepadaku

“Ne, sudah tak pusing lagi,” jawabku gugup

Aku melirik Chaeyeol dengan tatapan ‘Bagaimana ia bisa tahu?’

“Gomawoyo hyung, untung tadi kau lewat. Kalau idak aku akan pingsan juga bersama dongsaeng paboku ini,”

Eh? Tadi apa? Jiyong membantu Chaeyeol membawaku ke klinik tadi? Apa dia yang menggendongku?
Aaaaa jjinja.

Aku membayangkannya malu.

“Benar sudah baik? Mukamu merah,” Jiyong melihatku kemudian melihat lagi kearah Chaeyeol.

Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.

‘TING’
Pintu lift terbuka. Jiyong mengeluarkan tangannya. Kemudian membalikkan badannya yang semula menghadap pintu bersiap keluar.

Tangan kanannya diangkat, “Aku duluan,”

“Tak ingin melihat kembang api hyung?” tanya Chaeyeol sebelum Jiyong melangkahkan kakinya keluar.

“Ah, aku masih ada urusan. Kalian ingin melihatnya?” Jiyong menahan tombol penahan pintu lift

“Tentu saja!” jawab Chaeyeol semangat. Sedangkan aku diam saja, terlalu malu untuk berbicara dengan Leader bertubuh kurus ini.

“Oh begitu, naikkan retsleting mantel kalian. Udara memang sangat dingin,. Dan jaga adikmu ini baik-baik, jangan sampai ia tergelincir lagi hahaha.” tawanya cempreng. Kata-katanya berusan persis seperti dimimpiku tadi.

“Dan kau…” tangan kirinya menyentuh pundakku pelan

‘Berhati-hatilah saat melangkah,” tangannya sudah berada dalam sakunya lagi.

”Ah, ne.. Gamsahamnida” ucapku malu-malu sambil membungkukan badan.