Author : KimsKimi (@tikkixoxo_96)

Genre : Fluff , Comedy Romance (maybe)

Rate : G

Length : Chaptered

Cast :

•           Choi Hyori  (JiforG onnie)

•           G-Dragon BIGBANG

Cameo :

  • TOP BIGBANG (Hyori oppa’s)
  • Yuriko (Hyori friend)

Poster : Belong to Author  ^^

Dis: Let’s lost together !

 

A/N : Akhirnya jadi juga ..#elapjidat , tapi makasih buat sogokan Dae nya😄

 

 

(Beep Beep .. Beep Beep)

 

 

 

Kembali ke alam sadarnya, Hyori mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Dia masih merasa lelah akibat membereskan barang-barangnya semalam. Dan kini Hyori terpaksa terburu-buru lagi, “..hm…jam berapa sekarang ?” diraihnya jam bentuk Homer Simpson itu, lalu tiba-tiba matanya terbelalak lebar. “Kyaaa!!”  Dia buru-buru bangkit dari tidurnya, dan segera berlari menuju kamar mandi. Kira-kira ada apa dengan gadis itu ?

Sekitar setengah jam, Hyori telah siap dengan segala sesuatunya. Ia langsung berlari, dan meyambar tiket yang telah dipersiapkannya untuk keberangkatan hari ini. Choi Hyori akan kembali ke negeri asalnya lagi–Korea Selatan.

“Hey, kau berangkat ?” Yuriko menyahut dari dapur, dia datang membawakan Hyori waffle berlumur butter serta tak lupa orange juice kesukaannya.

Hyori menarik resleting boots, “Yeah, kau juga berangkat hari ini ‘kan ?”

“Yap. Sekitar dua jam lagi, dan.. Mrs Hazawa semalam datang lalu meninggalkan tiketnya disini. Dan aku letakkan tiket itu dikamarmu.”

“Untuk apa nyonya cerewet itu meninggalkan tiketnya pada kita ?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang kudengar dia dan suaminya bertengkar semalam, lalu dia kemari dan memberiku tiket tidak jelas itu, padahal aku dan kau punya jadwal liburan masing-masing..”

“Itulah orang tua. Benar-benar merepotkan.” Ejek Hyori.

 

 

 

 

_____

 

 

 

 

“Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi hyung, kau harus pesankan aku tiket ke Korea pagi ini juga !”

“Ok, ok, tapi maaf Jiyong..tadi kau bilang kemana ?”

“Ke Korea hyung.. Korea ! Aku harus kembali sekarang juga !”

Jiyong menutup teleponnya cepat. Dia cepat berkemas, dan keluar dari hotel tempatnya menginap. Jiyong sang perfeksionis tidak ingin terlambat sampai ke Korea, apalagi ini semua suruhan sang ibu yang ingin anak bungsunya dapat hadir merayakan natal bersama. Tentu Jiyong tidak bisa membantah, dia menelpon managernya, menyuruhnya agar segera memesankan tiket untuk ia. Mungkin saja managernya mengerti apa yang dia mau, tapi tahukah dia kalau saat mereka menelpon sinyal begitu buruk ?

 

 

 

 

_______

 

 

 

 

Semua penumpang sudah masuk kedalam pesawat. Hyori memilih untuk langsung duduk di kursinya, tidak diperhatikannya lagi orang-orang sekitar, dia terlalu sibuk dengan dunianya lagi–mendengarkan musik. Lima menit sebelum keberangkatan pesawat, seorang pria dengan gaya stylish duduk bersebelahan disamping Hyori. Pria itu melihat Hyori sekilas, tapi segera diabaikannya dan memilih menyumpal telinganya dengan headphone lagi. Mereka berdua terlalu buru-buru tanpa sempat memperhatikan kalau ada kesalahan yang terjadi dalam perjalanan pulang mereka. Sikap ingin cepat, menganggap semuanya telah dipersiapkan secara baik, dan kurang teliti, akan jadi suatu pelajaran bagi mereka kali ini.

 

 

 

______

 

 

 

Sepuluh jam perjalanan pun tak terasa sudah dilewati. Tapi baik dari Jiyong atau Hyori belum sadar kalau perjalanan pulang mereka kali ini terasa sangatlah lama sekali. Tentu saja, selama perjalanan mereka berdua tertidur sangat lelap tanpa memperhatikan kalau ini perjalanan terlama mereka. Seorang pramugari cantik menggoyang bahu Hyori, berusaha membuat si gadis sadar. Dengan canggungnya Hyori membuka kedua mata sambil tersenyum terima kasih kepada si pramugari. Dilihatnya pria stylish di depan mata, dia cuma memukul pelan dengkul pria itu, membantu si pria tersadar dari alam tidurnya.

Hey…!” panggil Hyori menggoyang pelan dengkul Jiyong. Berat sekali mata Jiyong untuk membuka, tapi dia tetap memaksakannya. Ditatapnya seorang gadis berambut keriting sebahu, mengenakan kaca mata hitam yang kontras dengan warna rambutnya. Dia memandang Jiyong bingung, sambil terus menggoyang dengkul pria berbadan kurus itu. “Hey, thin man ! Come on, you must wake up !” sahut Hyori memukul pelan lengan Jiyong.

“Aish ! Shut up madam. You’re not my mom !”

Hyori refleks menjauh dari Jiyong, dia berdecak kesal, “Ah ! I just help you, and you.. Whatever !”

Dia beranjak bangkit dari tempat duduk, ingin meninggalkan pria sombong bergaya stylish itu. Tapi dengan jahil Jiyong menjegal kaki Hyori sampai gadis itu terjatuh.

 

(BRUK)

 

“Aduh !!” dia memalingkan wajahnya, menatap Jiyong penuh rasa benci. Oh.. berani sekali pria ini menjegal kakinya, dia sungguh tidak tahu sopan santun. Kalau saja tidak ada penumpang pesawat lain, dan para pramugarinya, Hyori mungkin sudah menghajar Jiyong dengan taekwondo yang pernah ia pelajari.

Jiyong tersenyum jahil, dia pergi meninggalkan Hyori begitu saja. Tidak peduli gadis itu mengumpat habis-habisan, dia sudah pergi menjauhi Hyori.

 

________

Semua orang berlalu-lalang dengan cepatnya. Saat Hyori mulai mengecek paspor kepada pegawai imigrasi, seseorang menyenggolnya sampai ia tergeser jauh dari tempat pegawai itu.

“Yah !! Are you crazy, huh ?!” Hyori menyahut, dia berjalan mendekati si ‘penyenggol’, dan benar saja dia adalah pria yang membuat Hyori terjatuh dan menyentaknya kasar. Habis sudah kesabaran Hyori, dia menarik jacket kulit ber-accessories metal milik si pria, lalu mengajaknya bicara empat mata.

Jiyong terheran, ia berbalik memandang Hyori. Tangan penuh cincin itu membuka kacamata model rayban yang sedang ia pakai. “What’s the problem ?” tanya Jiyong setengah mengejek.

Ugh! You’ve captured my queue!

Oh, I’m sorry miss. But-”

“What ? Oh god ! Stop makes me mad ! I need to check my passport now, I want back to my home as fast as I can !”

“Ok, I know it . But, I have to check my passport too.”

“Damn ! Have you heard about ‘Ladies First’ Mr. Stylish ?” tanya Hyori skeptis.

No. I never heard about it. And if I ever, sorry miss.. I don’t care.

Hyori menggeram mendengar perkataan Jiyong. Tak tahukah pria itu, bahwa Choi Hyori bisa berubah mengerikan jika amarah dalam dirinya meledak di saat yang tak tepat ? Sayangnya tidak. Jiyong malah tidak peduli, mau gadis itu berteriak di wajahnya, menunjuk tidak jelas, ataupun bersiap untuk menggebuk Jiyong dengan tas sandang Burberry yang sedang ia kenakan. Ups, sepertinya salah.. untuk kejadian terakhir Jiyong berusaha menyingkir dan akhirnya sadar bahwa Hyori–sangat mengerikan.

“Y..Yah !! Don’t try to touch my head miss !” Kali ini Jiyong membalas kemarahan Hyori. Dia tidak terima jika seseorang memukul kepalanya, sedang ibu Jiyong sendiri belum pernah memukul kepala anaknya. Dan dia ? Siapa gadis menyebalkan ini ? Berani sekali hampir menyentuh–memukul kepala seorang Kwon Jiyong. Ini adalah organ tubuh paling berharga untuk Jiyong, karena disitulah bersarang sekumpulan lirik lagu hasil karya si Jenius Kwon Jiyong atau bernama panggung G-Dragon.

Pertengkaran itu disaksikan semua orang di bandara Heathrow–London.

London ? Oh ! Jadi mereka sekarang berada di London. Tempat asal sang ratu Elizabeth. Dan hal yang paling disayangkan adalah…. apa mereka tidak menyadari perbedaan disekeliling mereka ? Sama sekali tak ada banyak orang Korea berkeliaran, tidak ada tulisan berbentuk bulat, atau pun orang-orang yang menggunakan logat bahasa mereka. Dan bodohnya lagi, jika mereka berada di Korea, harusnya mereka memakai bahasa Korea bukan ?

 

 

“Welcome to Heathrow Airport, United Kingdom.”

Sedetik..dua detik..semenit..

Baik Jiyong maupun Hyori saling beradu tatap. Baru mereka sadari mereka tidak berada di Korea Selatan, melainkan Inggris.

 

 

 

 

________

“Semua ini salahmu ! Argh ! Kenapa nasibku sial sekali hari ini !” umpat Hyori memandang sinis Jiyong.

Tidak terima Hyori menyalahkan dirinya, Jiyong beranjak bangkit duduk berhadapan dengan Hyori, dia ikut berdecak meniru gaya gadis itu. “Nasib sial ? Kau pikir aku sekarang ini tidak sial ?” “Aku tidak bisa kembali ke Korea, tiket pesawatku salah, dan.. harus terjebak di London bersama gadis mengerikan seperti dirimu !”

“Ya ! Kau juga harus ingat pria kurus, kita masih akan terjebak di London dan tidak bisa pulang ke Korea karena cuaca sedang buruk. Bukan berarti karena cuma kita berdua yang berasal dari Korea, kau bisa memojokkan ku begitu saja, arraso ?!” Hyori berdiri, “Kau pikir kau siapa bisa memojokkan ku ? Dasar pria kurus !” sebelum meninggalkan Jiyong, dia sempat memberi ‘hadiah’ kecil hingga pria itu kesakitan.

 

Ini sungguh diluar dugaan mereka. Sama sekali mereka tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Mereka pikir ini cuma terjadi di film-film saja. Hyori bergegas meninggalkan bandara Heathrow, meskipun dia belum punya tujuan akan pergi kemana, setidaknya dia sudah berhasil menjauhi pria menyebalkan itu, setidaknya.

Lalu bagaimana dengan Jiyong ?

Pria itu memilih terduduk diam di kursi tunggu bandara Heathrow. Mengaktifkan kembali handphonenya meski dia juga tidak tahu akan berbuat apa. Ingin menelpon, dia tidak punya kartu ganti, pihak maskapai penerbangan sendiri menyarankan agar ia tetap tinggal di London beberapa hari lalu mereka bersedia mengganti secara cuma-cuma tiket pesawat mereka yang salah. Lalu dia mau berbuat apa sekarang ? Menginap di hotel ? Bahkan untuk saat ini keuangan seorang Kwon Jiyong sangatlah sedikit, lebih baik dia menginap di bandara selama beberapa hari. Tapi dia tidak mungkin melakukan itu.

Excuse me, may I know about rest place near from here ?” diberanikannya bertanya kepada pegawai informasi.

Yes, sir. You just need to go with taxi and stop at Westburgh St, in there many rest place with cheap cost, sir. Any question ?” 

Ah~ no. Thank you for the information, miss.”

 

 

 

_______

 

 

 

London memang terkesan sangat klasik, masih kental dengan bangunan lamanya. Ibu kota negara Inggris ini menyimpan banyak keindahan bagi siapa saja penggemar nuansa vintage. Jiyong termasuk salah satu dari penggemar vintage itu, dia suka segala sesuatu yang berhubungan dengan London. Apalagi London termasuk salah satu kota mode, yang tentu saja itu sangat Jiyong sekali–si fashionista G-Dragon. Dia berjalan tak cukup jauh dari bandara, tangannya menghentikan mobil taksi hitam klasik. Saat dua pintu berlainan sisi terbuka–– eum.. dua pintu ?

Ya. Ada dua orang yang menaiki taksi hitam itu. Choi Hyori dan Kwon Jiyong. Apakah ini cuma kebetulan atau–takdir ? . Entahlah, tapi yang jelas ini mungkin sulit dihindari mereka berdua. Mereka akan sering bertemu. Sering.

“Westburgh St, sir..” sahut keduanya. Ketika pintu sama-sama tertutup, baik Jiyong dan Hyori kembali saling berpandangan.

Hyori berdecak, “Ish ! Kenapa aku harus bertemu kau lagi ? Dan untuk apa kau masuk ke taksiku ?”

Sorry, tapi aku menyetop taksi ini lebih dulu darimu, nona. Kau yang seharusnya turun, ini taksiku !”

What ? Aku yang turun ? Cih, kau bercanda ? Kau yang mesti turun bukan aku,”

Mereka terus berdebat tanpa menyadari taksi yang ditumpangi terus berjalan menuju tujuan mereka. Karena sang supir juga tidak mengerti bahasa mereka, dia pikir kedua penumpang ini hanya berdebat kecil saja.

 

 

 

(Ckiit)

 

 

 

Taksi berhenti secara mendadak, membuat satu kejadian tak terlupakan bagi mereka berdua. Kedua pasang mata itu membulat, sang supir taksi pun memberitahu kalau mereka sudah sampai, tapi nampaknya ia hampir mengurungkan niatnya begitu melihat kejadian itu. “Ups.. Please apologize me, sir. I’m not mean to disturb your romantic moment, but we just arrived in Westburgh St, sir.” Kata si supir mengingatkan.

Jiyong segera melepas bibirnya yang sempat tertaut dengan bibir Hyori. Gadis itu menyingkir pergi secepat mungkin. Dia tinggalkan Jiyong sendiri, berusaha menghilang dan bersumpah tidak akan menemui pria menyebalkan itu lagi. Hyori berlari, menabraki setiap orang yang menghalangi jalannya. Tangannya terasa ditarik oleh seseorang, dia berbalik, perasaan benci itu datang lagi. Jiyong menahan Hyori agar tetap bersamanya, gadis itu sempat meronta, Jiyong langsung menarik Hyori menjauh dari kerumunan orang.

“Apa lagi ?! Tidak cukup sudah mempermalukan ku ?!”

“T..tidak ! Itu semua diluar dugaan, kau sendiri juga tahu tadi taksinya berhenti mendadak.” Jawab Jiyong terbata-bata.

Hyori terdiam, dan dia masih yakin Jiyong sengaja menciumnya, namanya juga pria pasti menggunakan kesempatan jika punya peluang–termasuk mencium seorang gadis. “Kau kira aku bodoh ? Aku wanita, dan aku tahu apa yang ada di otak pria sepertimu. Kau sengaja mencium ku ‘kan, dasar maniak ! Sekarang lepas tanganku, aku tak mau berurusan dengan mu lagi !”

“Hey ! Aku bukan maniak, kau tidak mau berurusan dengan ku ? Tidak bisa nona. Kau dan aku adalah dua penumpang pesawat salah tujuan,kita harus tetap bersama agar bisa kembali ke Korea. Kalau salah satu dari kita tidak ada, penerbangan dibatalkan dan tak ada lagi. Aku ingin segera pulang ke Korea, tidak tahu dengan mu, kau mau pulang atau tetap ada disini ?” terang Jiyong mulai merenggangkan pegangan dia kepada Hyori.

“Jadi, kita harus bersama ? Dalam waktu tiga hari aku harus bersama mu ? Oh ! Kesalahan apa yang pernah kuperbuat, sampai bisa mengalami hal menyebalkan setengah mati seperti ini !” gerutu Hyori terduduk lemas di sebuah bangku tunggu yang mungkin memang sengaja disediakan disana.

Jiyong berdesis pelan melihat tingkah gadis itu, “Memangnya ada apa kalau kau bersama ku ?”

“Yang benar saja, bersama mu selama tiga hari itu bisa membuat ku sial seumur hidup. Kau tidak menyadari kelakuan mu terhadap ku satu hari ini ? Kau sangat menyebalkan tuan kurus !”

“Jangan panggil aku kurus ! Aku tidak kurus,  aku punya otot sixpack seperti Taylor Lautner, tentu saja karena aku adalah seorang idola.” Ucapnya sedikit menyombongkan diri.

“Idola ? Kau yakin sedang tak bergurau ?” tanya Hyori skeptis.

“Aku serius. Memang belum melakukan debut perdana, tapi aku akan menjadi superstar Korea saat sudah kembali nanti, banyak kontrak rekaman telah menunggu ku.”

Gadis itu menatap Jiyong remeh, “Whatever.

 

_______

 

 

 

Lapar mendera perut Jiyong dan Hyori, mereka berjalan berdampingan, melihat toko-toko sekeliling mereka, lalu terhenti pada toko makanan. Niatnya Hyori ingin membeli makanan disana, tapi dia langsung mengurungkan niatnya. Harga makanan disana terlalu mahal, dan uangnya sendiri tidak cukup untuk membeli makanan-makanan itu. Di liriknya Jiyong sekilas, mendengus pelan, dia seperti tahu kalau Jiyong sama dengannya. Terdampar di negara orang, dengan membawa uang seadanya.

“Kau tunggu disini sebentar,” ucap Jiyong meninggalkan Hyori sendiri.

Mau apa dia ? Meninggalkan ku ? Tapi dia sendiri ‘kan yang menahanku ?, pikir Hyori.

Tak berapa lama Jiyong kembali membawa ‘Sweet Braided Bread’ panjang ditangannya, dia menyunggingkan senyuman manis dihadapan Hyori, membuat gadis itu curiga dengan tingkahnya.

“Ini. Aku tahu kau lapar, kebetulan hanya ini yang bisa kubelikan untukmu.” Diulurkannya roti itu kepada Hyori.

Kenapa ? Aku dan dia tidak saling kenal, untuk apa dia peduli kepadaku ?, hampir saja pertanyaan itu keluar dari mulut Hyori.

Tapi Jiyong sudah duluan menjelaskan alasannya, dia takut Hyori mencurigai dia. “Aku tidak punya niat macam-macam kepadamu, meskipun kita tidak saling kenal, tapi aku tidak akan tega membiarkan seseorang kelaparan, apalagi dia wanita.”

Padahal Jiyong sendiri juga kelaparan, tapi dia masih punya manner terhadap seorang wanita meskipun kadang-kadang dia sangat menyebalkan. Hyori mengambil roti itu, dibaginya dua, karena dia tahu mereka dalam keadaan yang sama.

Di balasnya senyum Jiyong, dan pria itu sedikit terpana, “Bukan aku saja yang kelaparan, aku kasihan dengan badan kurusmu, jadi kau harus makan juga.”

“Hey.. aku sudah bilang ‘kan, aku tidak sekurus yang kau pikir, aku juga punya otot seperti binaragawan hanya saja sekarang ini baju ku terlalu longgar, nona.”

“Haha.. I’m sorry, just kidding… eum, what’s your name ?

“My name ? G-Dragon.”

Alis Hyori bertaut, “G––G-Dragon ?”

“Ya, namaku G-Dragon. Tapi panggil aku Ji saja. Kau sendiri ?”

“Hyori. Choi Hyori, kau tahu Choi Seunghyun–aktor terkenal itu ?”

“Seunghyun hyung ? Aku pernah bertemu dengannya sekali, memang kau siapanya Seunghyun hyung ?” tanya Jiyong.

Gadis itu tersenyum tipis, “Adiknya, aku adik kesayangan Choi Seunghyun.”

“Benarkah ? Haha ! Kau sedang bercanda tidak ?”

“Hey, ini sungguhan ! Aku punya foto kami bersama,” kesal Hyori, menggigit rotinya.

“Haha.. ok, aku percaya. Hm, sekarang mau kemana kita ?”

“Entah, aku juga tak tahu kita akan kemana lagi. Punya ide, tuan Ji ?”

Mereka saling balik bertanya, bingung mau dilangkahkan kemana lagi kaki ini. Jiyong memandang daerah sekitar mereka, dia teringat keuangannya yang menipis, lalu tiba-tiba saja ide brilian itu datang ke kepalanya.

 

 

 

______

 

 

 

“Ji, aku harap kau tidak bercanda, dan tidak mempermalukanku untuk kedua kalinya.” Hyori mengingatkan Jiyong, mulai membuka resleting tas gitar milik Jiyong. “Tenang saja, kau serahkan semua padaku, aku tidak akan membuatmu malu. Tetapi, kita akan dapat keuntungan banyak setelah ini.”

Pria itu teringat dia punya bakat musik, dia berpikir, kenapa tak kugunakan saja bakat ini untuk mencari uang tambahan selama kami berdua disini ?. Kebetulan Jiyong membawa tas gitar miliknya, dia mengajak Hyori mencari uang sebagai penyanyi jalanan. Awalnya Hyori menolak, dia malu melakukan pekerjaan itu. Tapi Jiyong memberitahu Hyori, bahwa mereka butuh uang, untuk hidup selama tiga hari di negara orang.

Petikan gitar dengan nada harmoni dari seorang Kwon Jiyong, dan bantuan Hyori memainkan alat musik buatannya sendiri. Mereka bersama menyanyikan lagu yang mereka tahu, dan kebetulan sekali Jiyong dan Hyori sama-sama suka lagu ini.

 

 

“geuttaen geuraetji urisain tumyeonghago kkaekkeutaetji

cheoeumeneun aeteutaetji dadeul geurae almyeonseo wae geuraetji”

(Back then, we were like that Between you and me it was all clear and pure

First it was all about love, just like everyone says Why did we do that though we all know)

“nae mameun iri uljeokhande malhal sarami eopda

nado gakkeum hwaljjak utgo sipeunde gyeoten amudo eopda

Maybe i’m missing you oh oh

Maybe i’m missing you oh oh

Maybe i’m missing you oh oh

Maybe i’m missing you”

(My heart feels this sad but i have no one to talk to

I wanna smile broadly sometime but have no one beside me

Maybe i’m missing you oh oh

Maybe i’m missing you oh oh

Maybe i’m missing you oh oh

Maybe i’m missing you )

Untuk kali ini mereka bisa bekerja sama dengan baik, perasaan senang tergambar dari wajah Hyori dan Jiyong. Setiap orang yang lewat sengaja berhenti untuk melihat penampilan mereka, Jiyong bernyanyi bersama dengan Hyori. Meskipun penduduk sekitar tidak mengerti arti dari kata setiap lagu, tetapi musik Jiyong dan Hyori bisa menggerakkan mereka semua ikut bernyanyi bersama. Saat lagu hampir habis, Hyori mengambil topi milik Jiyong, dijadikannya topi itu sebagai alat pengumpul uang orang-orang yang sudah merelakan waktunya untuk mendengarkan nyanyian mereka.

 

 

“Kau tahu, topi itu hadiah dari desainer terkenal.” Jiyong merebut topinya dari tangan Hyori.

Tapi gadis itu menarik balik topi Jiyong, hingga pria itu tak punya kesempatan mengambil uangnya. “Lalu ? Memangnya ini masalah besar ? Mari kita hitung dulu penghasilan kita hari ini.” Hyori merasa tidak percaya dia bisa mengumpulkan uang lumayan banyak, pasalnya karena dia adalah anak bungsu yang terbiasa dimanja, dia tidak pernah tahu rasanya mencari uang, apapun keinginan Hyori selalu dituruti oleh keluarganya, dia menjadi anak emas dalam keluarga Choi.

“Kupikir cukup untuk biaya kita menyewa penginapan dengan satu kamar.”

“Eh ? Satu kamar ? Apa tidak ada yang lain ?”

Jiyong menatap Hyori datar, dia tahu apa maksud ucapan Hyori. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku punya seorang kakak perempuan, jadi aku tak mungkin berbuat kurang ajar terhadap wanita.”

“Iya sih, tapi bukankah lebih nyaman jika–––”

Sesosok pria datang mendekati mereka,“Hyori ?”

 

 

 

 

====ToBeContinue====

 

 

Note : Goyaaaa… unnie !!! jadi juga akhirnya.. Bisa dipost juga, maaf kan daku yang terlalu sibuk.. *maklum artis* #plak.. hehe ralat maksudnya.. pelajar #curcol. Gimana ceritanya ? sesuai ?  kalo masih kurang maaf yaa.. (___ ___)