Author : GhittaHyo / @xiuegitta (on twitter)

Rating : PG-13 (iya kalik ya)

Lenght : Oneshoot

Cast :
 Im Yoon Ah
 Kwon JI Yong

Disclaimer : Semua nama yang ada di cerita ini hanya saya PINJAM. Mereka semua milik tuhan dan siapapun yang mereka sayangi –termasuk saya– Plot? Alur? Yang gak jelas ini pure milik saya.

A/N : jeongmal mianhae kalau jelek, lagipula saya ingin bereksperimen dengan couple langka yaitu GD-Yoona. Semoga suka, amin.
Copyright © 2013 ghitta88.wordpress.com

Author’s Pov

Seorang yeoja bertubuh tinggi sedang berdiri di depan pintu gedung besar. Sebuah gedung management Korea, bernama SM entertaiment. Terlihat, poster besar dengan tulisan ‘DBSK’ berada di tengah-tengah depan gedung tersebut.

YoonA, yeoja itu hanya bisa melihat gedung ini terkagum-kagum, sudah lama ia mendambakan menjadi artis di perusahaan managament ini, dan selalu gagal di tahap pertama, yaitu audisi. Ia memasuk kan kedua telapak tangan nya kedalam saku mantel kulitnya. Rambutnya dibiarkan terurai membuat angin musim gugur menjadikanya kusut.

Ia membalik badan nya dan melangkah lebar. Ia melihat kebawah, sepanjang perjalanan. Tak ada masa depan yang ia inginkan sejak masih kecil, hanyalah masa depan yang dimatanya tak ada sinar cerah sama sekali. Menjadi seorang barista adalah pilihan terakhirnya, karena orang tuanya tak cukup membiayainya kuliah, sedangkan masih ada adik angkatnya yang masih harus bersekolah.

Seringkali YoonA merasa iri dengan adik angkatnya yang hanya berstatus ‘anak angkat’ dirumahnya. Sedangkan yang di-anak-angkat-kan adalah dirinya sendiri, bahkan Jinah –adik angkatnya– akan dikuliahkan nanti. Dan itu membuat YoonA kesal. Ingin sekali ia kabur dari rumah, dan membangun kehidupan sendiri.

“annyeonghasseyo agaessi!” sapa seorang namja, membuyarkan lamunan YoonA. “ne?” YoonA mengerjap-ngerjapkan matanya.

“mana tiketmu?” tanyanya sambil menadahkan tangan nya. YoonA merogoh sebuah kertas kecil dari sakunya dan memberikanya pada seorang pengambil tiket tersebut (Author gak tau namanyaT.T)

“jjoseonghamnida agaessi, kau sepertinya salah naik kereta,” ucap pengambil tiket sambil meneliti tiket Yoona

“mwo? jjinja? Aissh.. ini menuju kemana?” tanya YoonA panik

“Anyang, agaessi,” jawab pengambil tiket itu. “ha? Aku ingin ke Seoul!!” seru YoonA panik, matanya melihat-lihat liar ke semua arah. “agaessi, sebaiknya kau turun sekarang juga!” perintah pengambil tiket dengan suara lembut.

“eo? Ah, ye. ini masih dimana?” tanya YoonA. “ini masih jamsil,”

“eooo? Jamsil? Ah baiklah..” YoonA cepat-cepat keluar, daripada harus terjebak di kereta dan tidak dapat pulang karena uangnya yang semakin menipis.

-00-

“jinah!” teriak Yoona tepat setelah ia mencopot sepasang sepatunya. Emosi yang masih
berkibar-kibar karena kejadian tadi waktu di stasiun masih belum terlupakan oleh Yoona. Mukanya merah seperti tomat, bukan, bukan karena ia sedang malu, tapi karena ia sedang emosi dan emosi itu tak bisa di sembunyikan olehnya.

“ne, unnie –ya?” jawab Jinah. Setelah Yoona menyudahi emosinya yang berkibar-kibar, ia siap berkoar sekarang.

“tadi… err.. aku melihat, neo namja, dengan seseorang yang ia panggil chaerin. Nuguya?” Yoona mulai mengintrogasi Jinah. Jinah mengangkat bahunya dan ekspresi gelisah terlukis dari wajahnya “nan mollayo,” jawab Jinah seadanya.

Yoona menghentakan tangan nya begitu keras keatas meja dan diikuti dengan erangan

“aw” –tetapi masih tidak meleburkan wibawa seorang unnie dimata Jinah.

“apa maksutmu dengan kata tak tau, huh?”

“aku benar-benar tidak tau,” balas Jinah sambil menduduk. “Jinah –ya. Ku peringatkan, jauhi saja Jiyong.” ujar Yoona dengan nada melembut lalu berlalu begitu saja.

Yoona melepaskan mantel kulitnya dan menggantungkan nya di gantungan baju di sudut kamarnya. Kamar yang bernuansa creamy ini begitu Yoona sukai. Hanya disini, Yoona dapat membuktikan bahwa dia adalah yeoja tulen dengan cara menangis, menulis diary dan sebagainya yang sangat identik dengan yeoja. Ia memicingkan matanya mencoba menulusuri kamarnya, ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari kamarnya.

“apa yang beda.. aku tak mendapatinya, tapi aku bisa merasakan nya..” gumamnya
Ah, ia baru sadar sebuah foto berbingkai unik sudah hilang dari kamarnya. Tak salah lagi, Jinah pasti sudah mengambilnya tanpa permisi dan merusaknya saat itu juga.

“fotoku dengan Jiyong. Kenapa dia begitu sensitif dengan barangku?” Yoona mengelus-elus dadanya dan mengempaskan pantatnya ke permukaan ranjang. Ia memain-mainkan kakinya sambil melihat kebawah, sebuah kenagan akan menghampirinya saat dia sedang terdiam terpaku seperti ini.

“hei..hei..hei..” Yoona menahan badan Jiyong yang mencoba mencium bibirnya “aku masih ingin bibirku bersih!” teriak Yoona tepat di telinga Jiyong “mehrong~!” ia menjulurkan lidahnya sambil tersenyum aegyo.
Jiyong yang sedang ada dihadapan nya pun terkekeh geli dan mencoba mencodongkan badan nya kebelakang. “kau sudah puas? Aku tak akan mencumbuimu, Yoong-ah!”

“baguslah. Lagipula, nanti bila kau mencumbuiku. Aku takut––“

“apa?”

“lupakan saja.”

Yoona meringis. Semua ketakutan nya dulu sudah datang dan menggoncang hubungan nya dengan Jiyong. Setelah itu pula, Yoona menjadi sangat dingin dan merasa dia harus cuek. Karena ia mempelajari suatu hal, bahwa bila kita bersikap dingin seseorang akan menjauhi kita, tapi tidak untuk cinta sejati, karena cinta sejati lah yang memberikan perhatian serta kasih sayang lebih untuk kita, tak memandang sifat latar kita.

“sudahlah yoong, apa yang kau harapkan dari Jiyong,” ujarnya dalam hati. Setelah itu, Yoona merebahkan tubuhnya ke ranjang lalu merogoh guling kecilnya. Memejamkan mata, dan mencoba untuk teridur.

~~

“annyeonghasseyo, eommanim,” sapa seorang namja dengan sopan kepada ibu Yoona. Yoona menguap dan beranjak dari kursi malas tempat ia berada semula. Tetapi, siluet seseorang menangkap perhatian nya. Ia mengendap-endap mendengar pembicaraan antara Jinah, ibunya dan seorang namja yang begitu ia kenal, Jiyong.

“hya! kenapa ia memperlihatkan wajahnya yang beringas itu kehadapan ibuku? Cih, dasar namja babo,” komentar Yoona jijik, tentu saja didalam hatinya. Ia membuka telinganya pekat-pekat, sudah saatnya indra pendengaran nya harus ditajamkan sekarang juga.

“begini eommanim, saya ingin sekali melamar Im Jin Ah.” ujar Jiyong mantap sambil memegang tangan Jinah. Dan Yoona menirukan pembicaran Jiyong tanpa suara, seperti mengejeknya.

“eo? Jinah masih ingin kuliah dan bekerja. Gwenchana? Jinah–ya?” Jinah mengangguk kecil, terlihat Jiyong menguatkan genggaman nya. Entah kenapa, mata Yoona seketika itu menjadi panas dan ingin menangis. Yoona menguatkan matanya dan mencoba mendengarkan pembicaraan dengan lapang dada.

“eommanim. Tetapi, maafkan saya. Sepertinya kami tidak bisa menikah secara resmi, karena saya belum wajib militer,” ujar Jiyong memelankan suaranya

“mworago? Itu tak bisa, aku tak sudi. Aku seperti menjual anak ku sendiri!” sembur eomma Yoona. Yoona melangkah kebelakang saat eomma nya sudah memarahi Jiyong kali ini. Sudah ia rasakan, Jiyong memang ingin mempermainkan Jinah.

Yoona masih belum mendapatkan keberanian untuk menyela pembicaraan mereka. Yoona hanya bisa melihat sesosok Jiyong dihadapan matanya.

“eng.. eomma ya, nugusseyo?” tanya Yoona, sambil menunjuk Jiyong.

“ini loh, katanya mau nikahin Jinah!” seru eomma Yoona marah. Yoona duduk disebelah eommanya dan mengelus-elus pundak eommanya itu “tenang eomma, memangnya kenapa dengan namja ini?” tanya Yoona pura-pura tak tau.

“bukan nya unnie––“

“sst! Jangan menyela!” potong Yoona sambil menaruh telunjuknya tepat didepan bibirnya. Jiyong masih terdiam dan terpaku melihat lantai.

“irumi mwoyeyo?” tanya Yoona sambil mencodongkan badannya kedepan dan melipat tangan nya, mirip seperti majikan yang sudah naik darah akan pembantunya.

“aku, Jiyong. Kwon Ji Yong.” Ia menekankan suaranya dengan cara informal.

“ah..Kwon Ji Yong–ssi. Sepertinya aku pernah melihatmu, sekali. Di stasiun itu.” Yoona tersenyum sombong. Jiyong melotot kearah Yoona dan tatapanya seperti berbicara ‘apa yang kau inginkan, nona Im?’

“apakah itu dirimu, tuan Kwon?” tanya Yoona semakin menjadi-jadi. Jiyong mendengus

“ne. itu memang aku, apa yang kau lhat, nona Im?”

“aku… err.. aku tak mengingatnya terlalu jelas. Apa kau bisa memberikan ku waktu, sebentar?” tawar Yoona nakal senyuman jail seperti biasa terlukis di wajahnya.

“hya! neo! Apa yang kau inginkan dariku, Yoona–yaa!” teriak Jiyong yang sudah tak dapat membendung kemarahan yang sedari tadi menjalar dibenaknya, sambil menunjuk muka Yoona dengan tak sopan. Ibu Yoona menatap jari telunjuk Jiyong yang sudah berada tepat didepan mata Yoona dan semakin lama bola matanya menyeret pengelihatan dari tangan sampai ke wajah Jiyong.

“tuan muda! Jangan membuat rusuh di rumahku, sekali lagi aku tegaskan. Aku tak ingin melihatmu! Pergilah jauh-jauh dari hadapan ku dan semua keluargaku, terutama Jinah!” bentak eomma Yoona yang mempunyai maksut ‘pulanglah dari rumahku, jangan menginjak kan kaki mu di rumahku!’

21st December. Winter Comes.

Jiyong sudah tak nampak setelah eomma nya memperlakukan Jiyong seperti dahulu. Jinah sudah pergi ke universitas, dan sekarang, tinggalah seorang yeoja yang masih bekerja sebagai barista dan masih saja tak patah semangat untuk mengikuti audisi SM.

“selamat datang” sapa Yoona sambil membukakan pintu dan tersenyum, dan senyuman nya yang sangat ia lekatkan untuk pelanggan luntur begitu saja saat Jiyong datang dihadapan nya. Yoona menghela nafas dan masih saja tersenyum, ia tak harus marah dan malu karena Jiyong dan diikuti dengan seorang yeoja cantik tetapi sepertinya lebih tua darinya.

“Yoona-ya!” seru Jiyong sambil mengangkat lengan nya. Yoona menghela nafas dan menghampiri Jiyong. “kau kenal dia?” tanya seorang yeoja disebelahnya.

“mullon imnida, wae?” tanya Jiyong balik ke seorang yeoja di sampingnya. “oh, begitu.” Balas seorang yeoja itu.

“ehm” Yoona berdehem “ada yang bisa saya bantu?” ucap Yoona malas dengan hati yang sudah memanas

“hyaa.. kenapa kau begitu formal dihadapanku?” Jiyong menepuk-nepuk pundak Yoona sambil cengengesan. Yoona meringis kesakitan dan tetap memasang wajah datar.

“ya jiyong hajiman! Dia tampak kesakitan!” seru yeoja sembari mengamit tangan Jiyong. “ah, ye. Jiyong, boghossipeo..” setelah Jiyong menghentikan kelakuan nya yang bodoh tadi, Yoona mulai menjawab –seperti ia mengenal Jiyong–

“Yoona–ya, maafkan aku waktu kemarin, aku memang bodoh dalam kontrol emosi,” ujarnya dengan nada bersalah. “mworago? Jiyong,waeyo? Kenapa kau sangat berbeda” gumam Yoona dalam hati sambil meruntuki badannya yang mulai lemas karena shock.

“Yoona–ya, waeyo?” tanya Jiyong cemas. Yoona menggeleng “sekarang, apa pesan mu,
tuan muda?”

“apa benar kau mengenalnya?” bisik yeoja yang ada disamping Jiyong, dan samar-samar Yoona mendengarnya. Jiyong mengangguk pelan, dan mendongak kan kepalanya ke Yoona
“Yoona–ya, kakak ku tak percaya, bahwa kau mengenal ku, kita pernah berpacaran, kan?”

Yoona menelan ludahnya seakan otaknya berputar dan memaksanya untuk mengenang masa lalu yang begitu indah. Dengan Jiyong, pastinya.

“ya, begitulah” jawab Yoona singkat tak ada sekalipun ekspresi yang terbaca dari lipatan-lipatan wajahnya. “kan! sudah kukata.. noona, dia ini mantan pacar ku!” teriak Jiyong, yang seperti anak kecil. ‘cih. Sebenarnya aku jijik harus menyukaimu, waktu dulu. Tapi sekarang..’ batin Yoona yang masih berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar terlihat datar dan dingin.

“baiklah. Aku percaya, bolehkah aku memesan iced latte, jusseyo?”

“ne.” balas Yoona sambil menulis di buku kecilnya. “dan kau, tuan muda?”

“aku tak ingin,”
Dan itu terakhir kali Yoona berbicara dengan Jiyong saat musim Dingin, sebenarnya ia sering kali melihat Jiyong menggandeng seorang yeoja –berbeda beda– dan Jiyong masih saja mengejarnya. Apakah ia tak mengerti posisi Yoona, posisi untuk mengembalikan semua kenangan meskipun sakit, atau mengubur semua kenangan dalam-dalam dihatinya namun akan menjadi dilema.

“Yoona–ya!” seru Jiyong yang tangan nya masih tergenggam erat oleh seorang ulzzang sepertinya. Yoona tak menggubris Jiyong meskipun sedikit, melihatnya dan tangan nya itu sedang digelayuti oleh seorang ulzzang cantik, sudah membuat Yoona sakit hati.

“ya! bisakah kau diam, dan mendengarkanku?” teriaknya sambil berhenti mengejar Yoona. Entah roh apa yang memasuki Yoona kali ini, hatinya luluh semudah itu. Yoona berhenti dan berlari kearah Jiyong “mwo?”

“ya.. sejak kapan lari mu secepat itu?” tanya Jiyong berbasa-basi

“aku tak lari, mungkin kau saja yang seperti siput.”

“hehe, kau tetap seperti yang kemarin. Kau sedingin es,” komentar Jiyong. “ah, jeongmal?”

“geuromyeon!”

“dan sejak kapan kau menjadi super duper hangat seperti ini? i miss previous Jiyong”
Jiyong terdiam. Entah seberapa cuek Yoona, sampai ia tak menyadari bahwa Jiyong menjadi rapuh kali ini. Jiyong tak ingin mengingat bagaimana sebelumnya ia, bagaimana ia mempermainkan yeoja yang ia sayang, bagaimana egonya ia saat semua perempuan sakit karenanya, dan bagaimana saat Yoona tak menginginkan dirinya lagi.

“hei! kenapa kau tak berbicara?” tanya Yoona sambil menjetik-jetikan jarinya didepan Jiyong.

“perlukah? Perlukah aku menjawab? Aku sudah lelah tersenyum selama ini, agar kau bisa tak marah denganku. Tersenyum tetapi dijawab dengan tak berekspresi, sekarang pikir!” sembur Jiyong. Yoona menyilangkan kedua lengan nya kedepan wajahnya, karena tak ingin wajahnya basah karena hujan dari mulut Jiyong.

“nappeun yeoja.” Komentar Jiyong lirih dan meninggalkan Yoona. “eo. Aku tak jahat, sama sekali. Aku..aku mencintaimu, masih.” Gumam Yoona sambil mengumpat-umpat dalam hatinya.

~~

“Aku pulang!” Yoona berteriak seraya melepaskan kedua sepatunya. “oh, Yoona–ya” sahut eomma Yoona. “mwoya eomma?” tanya Yoona menghampiri eomma nya.

“kau tau, biaya rumah ini belum dilunasi kan?” tanya eomma Yoona sambil menyisir-nyisir rambut Yoona lembut. “arrayo, tapi aku tak bisa–––“

“sst! Aku tak mau uangmu akan membayar semua pembayaran ini. Aku tau kau masih muda, lebih baik uangmu itu ditabung.” Potong eomma Yoona

“eomma.. kau terdengar aneh” komentar Yoona yang sudah mencium keanehan dari eommanya. Eommanya menyerngitkan dahinya seolah tak ada yang terjadi tadi “aneh? Apa yang aneh?

“nan mollayo jjinja. Tapi, aku merasa kau aneh hari ini. Ada apa jjinja?”

“memangnya ada apa? Eomma merasa tak ada apa-apa.”

“aigoo.. baiklah, aku akan ke kamarku!” seru Yoona sambil melangkah ke arah kamarnya.
Eomma Yoona terkekeh geli dan menjawab sms dari seseorang.

~~

“alboji..” panggil Yoona manja pada seorang namja tua yang sedang membaca koran. Orang itu menjulurkan kepalanya dari samping koran dan menaikan alisnya.

“eong, apa yang kau lakukan tadi?” tanya Yoona. Seseorang yang Yoona panggil ‘alboji’ itu pun melipat koran dan menaruhnya di meja makan “yang kau pikirkan?” sahutnya sambil meneguk minuman nya.

“ayolah. Aku hanya penasaran, apa yang kau kerjakan sewaktu kau bekerja? Kukira, kau adalah pengangguran” ujar Yoona lirih. Ayah Yoona yang sedang meminum pun tersedak mendengar sindiran dari Yoona yang begitu lembut tetapi menyakitkan hatinya.

“alboji..” panggil Yoona lagi. “kau tak merencanakan sesuatu, bukan? Aku tak suka..” gerutu Yoona manja.
Ayah Yoona hanya bisa terdiam, tak menjawab. Entah apa yang ia pikirkan, ekspresinya terlihat begitu gelisah. Yoona mengaduk-aduk nasi di dalam mangkok stainless yang berisi bibimbap. Menu makanan kali ini biasa, tak ada yang mewah. Hanya ada kimchi, bibimbap dan ddeok. Inipun sudah terlihat mewah bagi Yoona yang biasanya hanya memakan kimchi dengan ikan goreng.

“semua ini, darimana?” tanya Yoona pada eomma nya. “jangan banyak tanya! Makanlah!” perintah ayah Yoona. Bibir Yoona mengerut dan menggerutu.

“yoona, kau tau, seseorang namja akan kesini malam ini. Namanya tuan muda Cho.” Tutur eomma Yoona hati-hati.

“nugusseyo?”

“tuan muda Cho.”

“namanya, aku tak akan mengerti, siapa tuan muda Cho itu,” keluh Yoona kesal.

“Cho Kyu Hyun.”

“mworago?” Yoona melotot, seperti kehabisan oksigen. Eomma Yoona mengangguk kecil

“kami tak bermaksut untuk––“

“aku tak mau dengan nya! Aku tau, kalian ingin mencarikan diriku suami yang kaya! Nan arrayo, tapi, bisakah aku yang mencari? Aku akan berjanji, bila aku tak bsa menemukan suami yang kaya dan cocok dengaku. Aku akan menikahinya, aku bersumpah!” koor Yoona seraya meninggalkan meja makan dan pergi kekamarnya.

Ia memang tak menangis. Karena itu memuakkan baginya, menangis itu menandakan kelemahan, itu adalah motto hidupnya. Ia hanya kesal dengan orang tuanya, karena menjodoh-jodohkan nya dengan seseorang yang sama sekali tak dikenalinya.
Yoona menjetikan jarinya “bukankah, Jiyong adalah orang kaya, mungkin dia akan membantu sekarang!”

Ia merogoh ponselnya yang ia tinggalkan di meja kamar, dan mencari-cari Kakao Jiyong. Ketemu, Yoona menyunggingkan senyuman kecil sambil memperhatikan foto profil Jiyong. Seper sedetik, ia memikirkan Jiyong kembali, tapi segera ia tepis.

“bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?” tanya Yoona dalam hati. Ia tak berani menuliskan apa yang sudah terngiang-ngiang di pikiran nya. Ia merasa gengsi untuk menjadi baik dengan Jiyong, tapi tak ada pilihan lain. Daripada dengan seseorang yang sama sekali yang tak ia kenal.

~~

Yoona menghela nafasnya dan memasuki cafè yang sudah ia tentukan untuk bertemu dengan Jiyong. Ia merasa tak yakin. Karena semua yang ia lakukan kemarin, menjadi dingin dengan Jiyong itu susah.

“hei, Yoong, what’s up?” Jiyong menepuk pundak Yoona seraya duduk.

“oh, oppa. Aku hanya ingin berbicara denganmu, sepertinya, aku merasa tak enak dengan berperilaku seperti kemarin-kemarin”

“gwenchana. Kau sudah memesan? Bila belum, biar kutraktir,” Jiyong menaikkan satu lengan nya untuk memanggil seorang pelayan.

“tak perlu, yong.” Ujar Yoona lirih, karena merasa tak enak. Jiyong selalu mentraktirnya kapan saja mereka bertemu seperti ini.

“kau memanggilku dengan sebutan itu lagi” Jiyong terkekeh setelah mendengar panggilan ‘yong’ dari Yoona. “wae? apa ada yang salah dengan sebutan tersebut?” Yoona menggerutu dengan memajukan bibirnya.

“sudah lama..”

“apa?” serobot Yoona sebelum Jiyong menyelesaikan ucapanya. “ah, kau! Sudah lama aku tak menjadi seperiang ini dengan yeoja.”

“bukankah, kau sering sekali bersenang-senang dengan yeoja?” tanya Yoona. “yoong!” seru Jiyong untuk menghentikan Yoona berbicara “kau membuat mood ku jadi jelek!”

“kau sama saja seperti dulu, periang tapi suka marah. Aku tak pernah melihatmu seperti ini, kau tau? kita berbeda saat tak bersama––”

“maksutmu bersama?” potong Yoona

“kau tau kan, seperti ini.” Jiyong terkekeh sambil menaikkan bahunya. Yoona memutar bola matanya dan menepuk jidatnya “ah iya, haha.”

Yoona menghirup aroma khas dari teh asli jeju, sedangkan Jiyong menyuruput kopinya. Mereka sudah agak menjadi dekat, meskipun tak sedekat dulu. Tapi, Yoona merasa nyaman untuk menceritakan semuanya pada Jiyong.

“aku tak mengerti, kau begitu tak pendendam,” komentar Yoona setelah meneguk tehnya.

“apa ada yang salah menjadi seseorang yang tidak pendendam? Itu akan membuatmu lega dengan masalah apa saja yang ada.” Tutur Jiyong, diikuti dengan cengiran. Yoona membalas tersenyum selagi ia mencerna ucapan Jiyong. “eo.. aku juga mendengar.. tapi maafkan aku dulu,”

“maaf? Untuk?”

“kau mengerti kan, banyak yeoja yang kau kencani, kemarin-kemarin.” Balas Yoona lirih. Jiyong yang sedang meminum kopinya pun tersedak dan tertawa membuat Yoona jadi salah tingkah. Jiyong menepuk pundak Yoona “yoong, ayolah.. aku begitu karena, ah chakkaman..”

“mwo? hahah.. kenapa kau begitu pabo? Lihatlah tuxedo mu, seperti kehujanan..” cibir Yoona sambil memegangi perutnya.

“ya! be quite!”

“aigoo.. what a shame, aku tau tuxedo itu pasti mahal,”

Jiyong menyengir dan mengambil tisu dan mengelap tuxedo nya yang basah karenanya sendiri menumpahkan segelas kopi yang untungnya sudah ia habiskan setengah.

“apa tak panas?” tanya Yoona disela-sela Jiyong membersihkan semuanya. Jiyong menggeleng dan masih fokus membersihkan tuxedo nya.

“ah, selesai. Semua ini tak mungkin terjadi, bila aku tak menerima sebuah pesan kakao darimu!” teriak Jiyong. Yoona menghela nafasnya dan mengangguk kecil “yayaya, terserahmu!”

“eo, ngomong-ngomong apa yang ingin kau katakan denganku?”

“oiya, sepertinya kau sibuk. Apa kau bisa menerima ceritaku ini secara cuma-cuma?”

“andwae.. aku akan meminta sebuah kecupan darimu, tepatnya kecupan di sini,” jawab Jiyong seraya menaruh telunjuknya tepat di bibirnya. Yoona bergidik ngeri dan memukul lengan Jiyong pelan.

“aw.” runtuk Jiyong, persis seperti anak kecil.

“yong, aku ingin berbicara padamu, bahwa aku dijodohkan, dan aku tak mau!!” curhat Yoona, seraya menenggelamkan kepalanya kedalam tangan nya. “mwo? a…aa.. kau tak bisa digitukan, lalu apa masalahnya kau memintaku untuk bertemu denganmu? aku tak mau jadi selinganmu.” Balas Jiyong mantap.

“eo? Aku juga tak mau membuatmu menjadi selingan!” elak Yoona

“bohong. Kau pasti, sudah merencanakan, karena aku ini tajir dan kaya, kau akan membuatku sebagai selingan. Ne?” Jiyong tersenyum sombong “tapi, aku takut kerumahmu lagi.” lanjutnya.

“ah, mangkanya itu. Aku sebenarnya––“

“apa?”

“sudah lupakan.”

“kau selalu berkata begitu. Kau masih ingat, aku belum pernah mencumbuimu, kan?”

“yong. Hentikan!”

“apa? hentikan apa?”

“tolong hentikan semua ini, aku akan berusaha..”

“berusaha? Berusaha apa lagi?”

“berusaha untuk diterima di keluargaku, come back to me bad man, jebal. Aku membutuhkanmu..” pinta Yoona lirih, malah terdengar seperti menggumamkan sesuatu. Jiyong menunduk, mereka terdiam. Sampai semua barista disana memperhatikan mereka, mereka yang tadi berisik sekali di cafè ini dan sekarang mereka berdua terdiam
bersama.

“yoong, aku mau. Karena aku mencintaimu, tapi apakah ini tak terlalu menyakitkan untukmu?” Jiyong akhirnya membuka suaranya kembali. “yong.. aku juga mencintaimu, dan berusaha untuk melupakanmu kemarin, tapi itu sepertinya terlalu mustahil, kau adalah setitik dari sejarah cintaku yang tak mungkin aku lupakan dan ya, apa yang begitu menyakitiku selain berusaha melupakanmu?”

Jiyong mendengus, dan memeluk Yoona. Yoona yang merasa tak enak dan beberapa kali berusaha mendorong badan Jiyong, tapi mustahil. Mereka saling berpelukan dan saling melukiskan senyuman masing-masing.

Setelah sepuluh menit, Jiyong melepaskan pelukannya. Dia tersenyum jail dan menyuruput teh punya Yoona untuk menutupi senyuman jailnya.

“lalu bagaimana aku harus memulai? Menandatangani kontrak perkawinan?”

~THE END~

Huaaa.. akhirnya semua cerita yang alur dan plotnya gak jelas ini selesai juga. Mianhae ya, ini couple nya jarang banget. Tapi, aku pernah nemuin kalo Jiyong alias G-Dragon itu suka sama Yoona. Maafkan aku untuk semua Dragons, karena telah memakai Bias nya -_- haha.
Oiya, FF ini di post di banyak tempat loh :3~ baybay .