DALANG: ZULAIPATNAM

JUDUL : DENDAM

GENDRE : ACTION | FANTASY

RATING : [PG 15] (General Rated Up 15 Years Old)

LEGHT : CHAP (1/3)

INSPIRED : Dari Kisah pewayangan saat perang Bratayuda antara Kurawa dan Pandawa.

SETING : Perang Bratayuda

WARNING : Bagi para dalang dan pecinta wayang, saya minta maaf terlebih dahulu karena semua pakem di dalam pewayangan saya obrak-abrik.

CAST : ALL MEMBER BIG BANG

ALL MEMBER SHINee

STORY START

Dae, matanya nanar melihat jasad isterinya, tergeletak tak berdaya dengan berbagai panah yang menembus tubuh indahnya. Ji Young yang juga ikut menyaksikan hal tersebut terhenti dari kegiatannya menghunuskan pedang ke pihak musuh, melirik Dae sekilas yang membeku terpana akan jasad si kekasih. Beberapa prajurit kacangan mencoba menyerang Dae, tapi hal itu ditampis cepat oleh 3 pemuda yang segera melindungi tubuh beku Dae Sung, mereka adalah Seung Ri, Young Bae, dan Seung Hyun. Ketiganya bermain cantik tatkala pedang dan serangan lemah pihak lawan terus mendesak.

“Dae…, sadarlah Dae!.”

Pekik Young Bae masih sibuk meladeni pedang musuh, yang dipanggil hanya diam. Diam dan diam. Tidak ada kegiatan lain, pedang di genggaman Dae terjatuh ketanah meninggalkan bunyi beratnya.

“aku akan melindungimu, Dae Sung!. Seret tubuh Hye Rim dari sini dan bawa pergi!.”

Kini ganti Seung Hyun yang memekik disela suara jengahnya akan pertandingan yang tak kunjung usai ini. dia sudah lelah dan sekarang ditambah terbunuhnya Jung Hye Rim. Semuanya bertambah kacau dan Seung Hyun benci itu.

“Seung Hyun benar, Dae!. Kami akan melindungimu.”

Tambah Seung Ri yang juga terlihat lelah ditambah kuwalahan meladeni serangan musuh. Lengannya sudah sakit akibat terus dipermainkan pedang.

Dae tuli, dia seolah tidak berada di medan perang lagi, hanya ada jasad saja disana, rohnya menghilang entah kemana. Disaat genting seperti ini, sebagai panglima perang seharusnya Dae mampu untuk memimpin tentaranya, bukan malah dilindungi oleh para pendamping sayap kanan dan kiri seperti saat ini. ia tidak merasakan dentingan pedang dan teriakan membahana para tentara yang ingin membela harkat mereka masing-masing, Dae tersingkirkan dari medan laga saat itu juga. Disaat mata sipitnya menyaksikan isterinya sendiri, Jung Hye Rim terkapar ditanah akibat panah seorang adipati dari pihak lawan, panah milik pangeran ke 2 tahta kerajaan Hastina. Panah yang bernama pasopati itu menghujami tubuh isterinya yang terkenal sebagai kesatria wanita paling ditakuti abad itu, bahkan kehebatan Jung Hye Rim sudah tersohor disetiap pelosok negeri akibat jasanya yang telah membunuh mendiang Adipati Hwang Lee Jin Ki, salah satu petinggi negeri Hastina yang terkenal ketiraniannya.

“Dae Sung!.”

Sentak Ji Young tidak sabar, segera pria kurus berotak seksi itu mendekati Dae, menerobos tentara musuh yang menyerang dan menarik tubuh Dae Sung kuat-kuat.

“Sadarlah, bodoh!.”

Pekik Ji jengah, masih Dae membisu, nafasnya teratur hanya saja matanya tidak hidup, tiada sorot berarti yang menunjukkan jika Dae masih bersama mereka.

“mayat Hye Rim akan dibuang oleh bangsat Jong Hyun, kau harus segera membawa jasad Hye Rim menjauh!.”

Ia berteriak di telinga Dae.

Seolah kata-kata Ji adalah mantera, mendengar jasad isterinya akan dibuang oleh Jong Hyun, orang yang berhasil membunuh Hye Rim tadi, Dae tercengang, rohnya kembali bertengger pada raga. Ia plantingkan lengan Ji yang memegangi baju perangnya. Menjadikan pria kurus itu tersungkur sedikit kebelakang, Ji tidak melawan, dia hanya nyengir puas dan melirik 3 temannya yang meski perperang melawan musuh masih menyisahkan sedikit konsentrasinya pada Dae. Ji berhasil membangkitkan Dae Sung untuk menapaki tegal pertempurannya kembali.

“tidak akan kukuburkan jasad isteriku jika tidak bisa kubasuh wajahku dengan darahnya.”

Sumpah, Dae bersumpah menggelegar, Ji semakin tersenyum lebar, pedang yang ia pegang kini ia bebaskan dari tugasnya menghunus musuh. Ji tendang lawan tandingnya yang hanya tentara kacangan hingga terhujam ketanah.

“DUEL….”

Pekik Ji membahana, menghentikan sebagian pertempuran disekitarnya.

++++++

Terlihat seorang panglima yang sangat aman, tidak turun dari kudanya dan hanya memegang busur panah, ada sebersit keangkuhan di wajah panglima itu. bagaimana tidak jika dia telah berhasil membunuh Jung Hye Rim, kesatria yang telah membunuh ayahnya sendiri. Kim Jong Hyun, panglima berkuda yang hanya dapat memainkan panah itu masih tidak memberikan aba-aba atau perlawanan pada musuhnya. Dia masih ingin merasakan hawa kemenangan setelah membalaskan dendam ayahnya bertahun-tahun silam.

“panglima dari pihak lawan sudah bersiap untuk bertempur.”

Bisik seorang bertubuh tinggi yang mendekati kuda si panglima, Choi Min Ho. Alis tebal Jong Hyun terangkat, tidak ia percaya jika secepat ini Dae Sung akan melawannya.

“hahahahah…”

Tawa kesombongan menggelegar.

“bawa Panglima bodoh itu kesini!. Akan kuturuti permintaannya, satu lawan satu!.”

Teramat sombong memang, Jong Hyun, putera kedua dari mendiang adipati Hwang Jae Jung itu tidak sadar jika dirinya akan kalah telak apabila berduel bersama Dae Sung. Min Ho yang berada disamping Jong Hyun menaikkan alisnya, berfikir tidak salah dengar.

“tapi, panglima-

“jangan khawatirkan kemampuan kami, dalam keadaan seperti ini, Dae Sung tidak akan focus untuk hanya menyerangku, dia hanya akan tersulut emosi dan mungkin bertindak diluar kendali tubuhnya sendiri. Lagi pula duel hanya akan menggunakan tangan kosong. Bukannya kau selalu berada disampingku, Min Ho…”

+++++++

Seung Hyun menyentuh pundak panglimanya, ia pejamkan mata rapat-rapat sambil membacakan ajian. Dae diam merasakan sebuah kekuatan menjalari tubuhnya, panas dan penuh gairah. Dadanya meletup-letup untuk segera melompat di tegal duelnya. Tak beberapa lama Seung Hyun sudah selesai, dia mentransfer tenaga gaib pada panglimanya.

“akan kutebar cakraku jika dia bermain curang.”

Dae mengangguk terimakasih.

“duel ini bukan hanya untuk isteriku, melainkan untuk negeri kita. Amarta akan tetap berdiri tanpa kukungan Hastina.”

Dae menatap orang yang melingkarinya, tidak tertinggal Young Bae, Seung Ri, dan Ji Young. Ke empat pemimpin sayap kanan dan kiri itu adalah kawan bagi Dae Sung. Semua prajuritnya berteriak semangat, menyadari jika panglima mereka bukan individual, berduel untuk kepentingan bersama.

Duel adalah tanding dimana hanya panglima perang yang maju, bertarung tanpa senjata atau ajian penguat yang tak kasat mata. Semuanya murni hanya raga dan jiwa yang berperang, tiada lain. Dan apabila salah satu dari panglima telah gugur, kejayaan akan diambil panglima pemenang, Duel lebih manusiawi ketimbang menggugurkan beribu prajurit di tegal peperangan.

++++++

Lain di pihak Amarta lain juga pada pihak Hastina. Min Ho menerima panah beserta busur pasopati milik tuannya yang sudah duduk rapi di dalam tenda. Tiada rona kebimbangan dan ketakutan pada gurat wajah Jong Hyun, panglima Hastina ini sungguh percaya diri, hanya karena melesakkan anak panah ke dada Hye Rim kepercayaan dirinya membumbung hingga langit. Bahkan dia berkali-kali mengabaikan peringatan.

Seperti saat ini, pintu tendanya dibuka lantang oleh 2 adipati dari negara sekutu. Kim Ki Bum dan Lee Tae Min, keduanya terlihat geram dan masuk tanpa persetujuan.

“KAU BODOH!.”

Pekik Tae Min tak sopan, Jong Hyun mengerutkan dahi tidak senang. Min Ho segera berdiri dan menghalangi kedua adipati itu untuk semakin mendekati tuannya.

“Tuan..”

Cegah Min Ho akhirnya, Ki Bum yang sefikiran bersama Tae Min mendorong tubuh Min Ho kasar, menyingkirkan pria kepercayaan Jong Hyun tersebut.

“akan kutarik pasukanku mundur jika kau benar-benar berdual dengan Dae Sung.”

Gertakan awal dari Tae Min. Jong Hyun kini tersenyum kecil, tidak ia goyah dengan pilihannya kali ini.

“Adipati Tae Min benar, kau sungguh bodoh. Bagaimana jika berita ini terdengar oleh kakakmu di kerajaan Hastina sana?. Kau tidak ingat resiko bagi si kalah?.”

Terang Kim Bum berusaha menggoyahkan pilihan Jong Hyun.

“kalian meragukanku?.”

Tanya Jong Hyun begitu dingin. Tae Min dan Ki Bum diam.

“KALIAN MERAGUKANKU?. HAH?.”

Teriak Jong Hyun tersulut emosi.

“tidak bisa kalian hanya diam dan nikmati pertunjukannya. Aku bukan si bodoh yang berdiri dibelakang layar, aku sudah membunuh Hye Rim, dan langkah kedua adalah membunuh suaminya. Kedua manusia itu harus musnah, apa kalian masih ingat tujuan perang ini?”

“tentu kami ingat akan tujuan awal perang ini. rebut Amarta dan ambil kehormatan mendiang Adipati Lee Jin Ki. Semua itu terekam sempurna di otak kami. Hanya saja langkah yang kau ambil salah!. Dengan berperang kami menjamin akan bertahan, dengan berduel?. Kau lupa akan kehebatan Dae Sung?.”

Kim Bum mengeluarkan pendapatnya. Yah, perang ini adalah perang penebusan nama baik ayah Jong Hyun yang dibunuh oleh Hye Rim, juga untuk merebut ketahtaan negawa Amarta kepada Hastina. Menjadikannya negara boneka yang sangat bermanfat bagi tuannya, Amarta terkenal akan sumber alam yang melimpah, tanah subur juga kecerdasan penduduknya dalam bidang pertanian.

“Min Ho!.”

Lantang Jong Hyun meneriaki pembantu setianya tersebut.

“Ya…”

Jawab Min Ho mendekat, masih menenteng kemana-mana panah pasopati.

“jelaskan pada mereka!.”

Min Ho menelan ludah, dia bersiap dan kedua adipati dihadapannya mendengarkan dengan seksama. Semua penjelasan Min Ho mengerutkan dahi Tae Min dan Ki Bum.

“kau yakin?.”

Gumam Tae Min melirik Jong Hyun.

“100%. Dia tidak bisa menyakitiku secuil apapun, tidak akan bisa!.”

Ki Bum memperhatikan tubuh Jong Hyun yang hanya berbalut celana selutut dan bertelanjang dada. Busana wajib dalam berduel.

“kau yakin tiada cela sama sekali?.”

Masih Tae Min tidak percaya, Jong Hyun mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Menunjukkan segala sisi tubuhnya tanpa cela sambil berputar kecil.

“dia tidak akan bisa.”

+++++++

Dae menyarukkan tangannya di tanah, merasakan kasar tanah gersang. Itu adalah ritual bagi Dae Sung, dia meminta restu pada pemilik tegal yang ia tapaki, jalan utama untuk kelancaran duelnya. Kepalanya kini tidak terasa berat kembali, kegundahan dihati saat menyaksikan kematin Hye Rim isterinya perlahan sirna seiring ambisi untuk menuntut balas.

Disamping kanannya, diatas tumpukan senjata prajurit yang berserakan, terdapat jasad Hye Rim yang dingin, Dae melirik sekilas dan ambisi balas dendamnya tersulut juga.

“KELUARLAH KAU, PENGECUT!.”

Teriak Dae membahana, mengertakkan bulu roma setiap raga di tegal pertempuran. Jong Hyun keluar dari barisan rapat prajuritnya, berdamping Min Ho yang setia disamping tubuhnya. Langkahnya yang kecil dan mantap menapaki tegal duel, mendekati Dae Sung dengan yakin.

Dua manusia itu saling memberi hormat, tanda Duel benar-benar dimulai.

“perhatikan Min Ho!.”

Gumam Seung Hyun melalui mata tajamnya pada Ji, Seung Ri dan Young Bae. Menarik rasa heran 3 orang disana, Seung Hyun mengangkat tangannya. Menuding pada Min Ho.

“kenapa harus Min Ho?.”

BERSAMBUNG

NB: oy, kalian bisa berkunjung kerumah saya di : http://www.zulaibigbangfanfic.wordpress.com / http://www.kemiri-penting.blogspot.com

Sampai jumpa, bray. Don’t forgot to coment!