Can I Call It Love ?

Cast :
Gong Minzy as Minzy
TOP         as Choi Seunghyun
Park Bom    as Park Bom
CL        as Lee Chaerin

Genre : sad
Dissclaimer : Plot cerita milik saya, cast silakan dibagi bagi deh.
Ps : Gyyaaa, sumpah, ini ff pertama ku bikin dan ku post , mianhae kalo cerita gaje, typo, pengetikan masih berantakan, alur kecepetan, masih amatir banget masalahnya, ya udin lah, pokoknya tinggalkan jejak kalian ya, saia butuh sekali koreksi, kritik dan saran kalian semua. Buat admin yang ngepost ini ff, terimakasih sekaleeee mau berbaik hati meluangkan waktunya.
Twitter : @trianazulfa2012
*HAPPY READING*

Ah, aku tak tau seperti apa gambaran perasaanku untuknya ..
Aku berpikir kita hanya seperti seorang kakak dan adik ..
Tak ada yang lebih, tapi kenapa ada sesuatu yang terkadang bila ku mengingatnya, kurasakan rasa panas menjalar dan bulir di pelupuk mataku memaksa untuk turun meluncur membuat parit-parit di sekitar pipiku ..

“Minzy-ah!”

“Waeyo?”

“Ani, aku hanya ingin memberi taumu bahwa aku telah berpacaran dengan bommie.”

“Eh, jinjjayo? Sejak kapan?”

“Iya, kau tak percaya padaku?”

“Ani oppa, I trust you.”

“Ahh, geurre, aku menyatakan perasaanku padanya tadi pagi. Tidakkah itu hebat? Ternyata dia mempunyai perasaan yang sama padaku. Kau benar Minzy-ah, aku lah yang harus menyatakannya terlebih dahulu.”

“Ah, nee.”
Kau tau? Entah mengapa rasanya sakit sekali, seperti ada ribuan jarum menusuk pedih tanpa ampun ke dalam hatiku.

Aku mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis dihadapannya.
Aku tak ingin terlihat lemah, maka aku pun segera pamit padanya sebelum pertahananku roboh.

“Seunghyun oppa, aku harus pergi sekarang.”

“Ah, waeyo Minzy-ah? Aku ingin menceritakan banyak hal padamu.”

“Mianhae oppa, eoma menyuruhku untuk segera pulang. Lain kali saja ya Oppa.”

Aku berusaha segera pergi dari hadapannya dan ingin menumpahkan segalanya.
Aku berlari sekuat dan secepat yang ku bisa.

Ternyata dia telah menyatakan perasaannya pada yeoja itu, apalagi mereka mempunyai perasaan yang sama.

1 Year Later

“Waeyo oppa? What’s wrong?”

“Aku telah putus dengan bommie Minzy-ah.”

“Mwo? Sepertinya hubungan kalian baik-baik saja? Tapi, kenapa tiba-tiba kalian putus?”

“Ya, kami banyak ketidakcocokan, ternyata dia masih selalu teringat pada mantan pacarnya.”

“Ah, aku turut sedih oppa, aku tau, kau pasti masih menyayangi Bom eonni kan?”

“Ah, aniya, aku telah melupakannya.”
Mendengar ceritanya bahwa ia telah putus dengan Bom eonni, aku tidak merasa senang, aku malah merasa sedih melihatnya yang sepertinya juga sedih karena harus berpisah dengan orang yang dia sayang, walaupun dia bilang bahwa dia sudah melupakan Bom eonni, tapi aku tau, pasti seunghyun oppa masih menyayangi Bom eonni.

Ah, aku bingung dengan perasaanku ini, apakah ini yang dibilang cinta?
Siang itu ketika kami pulang sekolah, Ia berbicara sesuatu yang membuatku terkejut.

“Minzy-ah, apakah tidak ada seorangpun namja yang kau sukai?”

“Eh? Kenapa tiba-tiba oppa bertanya seperti itu?”

“Ani, sepertinya aku tak pernah melihat kau menyukai, jalan bersama atau bercerita kepadaku tentang namja lain.”

“Emmm, tak ada yang menarik perhatianku oppa, sungguh.”

“jeongmal? Kalau ada, katakanlah padaku, aku akan mencari tau siapa dia dan cocok atau tidak dengan kau.”

“Ah nee oppa, jeongmal. Nah oppa sendiri bagaimana? Masih menyukai bom eonnie kan?”
Aku mengatakan itu dengan nada mengejek, dia pasti tau aku hanya bercanda.
Namun sungguh entah kenapa, aku tetap merasa sakit.

“Aish kau ini benar-benar ya!”

“Nee, arraseo, aku benar-benar cantik, hahaha.”

“Ish, kau ini, akan kukejar dan kutangkap kau.”

“aaahh, andwe oppa. Kajja, selama kau bisa menangkapku.” Balasku dengan nada ejekan

“oohh, aku benar-benar mengejarmu ya.”
Ternyata ada seseorang yang memperhatikan kami, dialah bom eonni.
Ia menatap kami seolah Ia merindukan masa itu dengan seunghyun oppa, menatapku dan seolah berkata, seharusnya aku yang berada disitu.

Ketika malam aku ingin keluar rumah, tiba-tiba Bom eonni muncul di depan pintu rumahku.
Dia mengajakku untuk mengobrol sebentar di taman dekat rumahku.

“Minzy-ah, kau tau aku sudah putus dengan seunghyun?”

“Eum, wae eonni?”

“Dia menceritakan alasan putusnya bersamaku?”

“Em dia hanya mengatakan kalau banyak ketidakcocokan diantara kalian. Dan kau selalu teringat pada mantan pacarmu.”

“Itu saja? Sebenarnya dia menyayangimu Minzy-ah. Sayang lebih dari seorang kakak maupun teman, menyayangimu seperti seorang namja menyayangi seorang yeoja, arra?”

“Jeongmal? Dia tak pernah mengatakannya padaku. Dan, bagaimana Bom eonni bisa tau? Apa seunghyun oppa yang mengatakannya secara langsung kepada Bom eonni?”

“Dia bukan tipikal orang yang langsung mengatakan perasaannya Minzy-ah. Dia memang tidak mengatakannya padaku secara langsung, tapi semua itu terbaca jelas dari matanya. Pancaran matanya bersinar ketika bersama kau.”

“Ah, aku tak mengerti. Kami memang selalu seperti itu, penuh canda, jadi jangan heran kalau kami terlihat sangat dekat.”

“Ah ani, itu berbeda Minzy-ah, suatu saat kau akan mengerti. Aku merelakannya pergi bukan karena aku tak sayang lagi padanya, tapi aku merelakannya pergi agar dia bisa bersamamu.”

“Aish, aku semakin tidak mengerti.”

“Kau masih terlalu polos rupanya Minzy-ah. Sudahlah yang terpenting, aku sudah mengatakannya padamu. Annyong.”

“Bom eonni, ya Bom eonni cakkaman,”
Aku benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud Bom eonni.
Aku berjalan menuju rumah dipenuhi dengan tanda tanya dengan perkataan Bom eonni tadi.

Aku terus memikirkannya hingga aku susah tidur, memahami tiap kata yang tadi diucapkan Bom eonni.

Omona, jangan-jangan seunghyun oppa bertanya siapa namja yang kusukai untuk mengetahui siapa yang saat ini kusukai.

Ya, pabbo-ya! Dia ternyata menyukaiku, tapi aku sendiri pun masih tak tau perasaan apa yang kupunya untuk seunghyun oppa.

Hingga berbulan-bulan bahkan sepertinya hampir setahun, aku mencerna perasaan apa yang kupunya untuknya.

Dia saat ini sudah kuliah, sedangkan aku masih SMA, kita berbeda umur 1 tahun.
Suatu hari dia pernah berbicara sesuatu yang membuatku kaget.

“Minzy-ah, tidakkah kau kangen saat-saat kita pulang sekolah bersama.”

“Nee, aku kangen masa itu. Tapi apa kau mau kembali ke bangku SMA? Tidak juga kan? Wae?”

“Ah, geurre, hehe. Ani.”

“Oppa, bagaimana dengan kabar Bom eonnie? Hahaha”

“Aish kau ini, membahas hal itu lagi, aku bosan tau! Lagian aku sudah ada penggantinya.”
Uh, pertanyaanku ke seunghyun oppa jadi bumerang buatku.
Tiba-tiba rasa sakit itu datang kembali, sama bahkan rasanya lebih sakit daripada ketika seunghyun oppa memberitaukan dia dan Bom eonni telah berpacaran.

“Nugu-ya?”

“Kau mengenalnya, dia teman Bom, Chaerin.”
Uh, Chaerin eonni? Lee Chaerin eonni kah yang seunghyun oppa maksud?

“Lee Chaerin eonni maksud oppa?”

“Geurre.”
Pertahananku rasanya tak lagi kuat, rasa sakit ini melebihi apa yang dulu pernah kurasakan.

“Seunghyun oppa, sepertinya mau hujan, aku pulang ya?”

“Eh biar kuantar Minzy-ah.”

“Tak perlu seunghyun oppa.”
Perlahan mataku terasa panas, sesuatu memaksa bulir di pelupuk mataku untuk segera turun meluncur, jatuh tanpa bisa ku kendalikan tepat menuju tanah dimana aku berlari saat ini.

Ketika itu tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, seperti mengiringi tangisku agar tak terlihat dan ikut luruh bersama turunnya hujan ini.
Tiba-tiba seunghyun oppa sudah berada disampingku.

“Minzy-ah, ayo cepat kuantar, ini  hujannya makin deras, nanti kau sakit.”

“Ah, gwenchanna oppa, rumahku sudah dekat, lagipula aku ingin bermain hujan, sudah lama aku tidak bermain hujan. Oppa sana pulang saja.”

“Nee, arraseo. Kau hati-hati, jaga dirimu baik-baik. Jangan bermain hujan lama-lama, nanti kau sakit. Aku pulang dulu ya?”

“Ah iya, oppa cerewet sekali.”
Aku menikmati derasnya air hujan yang menghujam tubuhku, sama seperti hatiku yang seperti dihujam beribu benda tajam.

Aku menangis, air mataku turut luruh bersama derasnya air hujan.
Kini aku menyadari, apa yang kurasakan.

Bom eonni benar, saat itu aku masih terlalu polos untuk mencerna apa itu cinta.
Sebenarnya dari awal aku sudah merasakannya, perasaan itu kutujukan hanya untuk seunghyun oppa, tapi sekarang aku merasakan sakitnya.

Namja itu, yang menemani hidupku, memberi warna dihidupku, mengenalkanku pada rasa cinta, juga mengenalkanku tentang sakitnya dan sedihnya.
Gomawo oppa, justru hal seperti inilah yang membuatku makin dewasa.

=the end =