Nama: Tabina Hatake
Twitter: @realtabina
G/R/L: Mild Romance, PG 15, 3000w+

Tabina Hatake present

LOVE IN FLIGHT

Cast(s): Choi Seung-hyun a.k.a T.O.P Big Bang; Lee Ga Eun (OC); Lee Byung Yung; Big Bang Member(s); other cast(s) that can’t mentioned here

Genre: Mild Romance

Rate: PG 15, maybe^^

Disclaimer:
The cast(s) are belongs to God and themselves, the OC and idea are purely mine

Warning: This is Choi Seung-hyun’s POV storyline. Theres no plagiarism, and don’t ever take out without any permisson and credit.

Paris, 25 Januari 2010
Bangun pagi adalah hal tersulit dalam hidupku. Mungkin karena aku sudah tak menyentuh tempat tidurku 2 hari terakhir karena obsesiku terhadap pekerjaan. Dan karena kebiasaan buruk -begadang, maksudku- tadi mengantarkan ku ke sebuah pengalaman yang mungkin tak pernah kulupakan. Kau boleh menyebutnya kesialan, tapi bagiku, entahlah.

Bandara Charles de Gaulle sudah padat di penghujung Januari ini. Aku hanya meringis saat kulihat Byung Yung, yang sedari tadi men-death glare ku, kembali dari pengecekan barang. Byung Yung tampak masih kesal menatap ke arah ku.

“Lagi-lagi kau menyusahkanku. Untung saja kita masih bisa mengejar ketinggalan. Masih ada tiket pesawat yang tersisa di kelas VIP. Harusnya kita terbang di penerbangan red eye tadi pagi.” ujarnya.

Aku hanya diam, tersenyum tanpa dosa. “Mianhae”, balasku. “Kau memang selalu bisa kuandalkan.” Byung Yung menggelengkan kepalanya heran. Mungkin tak habis pikir. Yah, memang semua adalah kesalahanku. Dia sudah berusaha membangunkan ku dari “mati suri” ku. Bahkan dia membuka paksa pintu kamar stay ku. Tapi yang ia temukan hanyalah bed kosong berantakan. Dia kelimpungan mencariku, dan akhirnya memutuskan untuk menyusul rombongan di penerbangan berikutnya. Sebenarnya aku tidak kemana-mana, dikamarku. Tapi aku tidur di bathtub. Dan Byung Yung tak habis pikir bagaimana aku bisa tidur di tempat seperti itu saat berhasil menemukanku terlelap bergelung dibalik tirai bathtub.

“Kau mau apa, burger atau menu lain?”, Byung Yung bertanya.

“Burger saja,” jawabku singkat. Charles de Gaulle masih saja sibuk di musim dingin seperti ini dengan orang-orang berseliweran nampak tergesa. Aku duduk di bangku airport sementara menunggu Byung Yung membeli sarapan. Seorang wanita tampak berjalan ke arahku, ke arah kursi tepatnya. Dia nampak kesulitan dengan beban yang dibawanya. Bukannya aku jelalatan, tapi aku tertarik pada warna mantel pink candy nya. ‘Ah, hamil ternyata’, pikirku.

“Ini.”, Byung Yung menyodorkan burgerku, mengalihkan perhatianku dari wanita tadi.

“Kamsahamnida.”, sahutku. Aku dan Byung Yung segera memakan sarapan kami. Kami tak ingin ketinggalan pesawat lagi. Tak berselang lama panggilan untuk segera memasuki pesawat terdengar. Aku dan Byung Yung ikut dalam antrian penumpang yang akan di periksa tiketnya. Bersyukur meski aku mengejar rombongan adik-adikku melalui pesawat massal, tapi tak banyak yang mengenaliku. Beberapa dari yang tahu pun hanya berbisik dan mengangguk. Aku membalas anggukan mereka dengan tetap mempertahankan wajah cool ku.

Aku dan Byung Yung duduk di kelas yang sama hanya saja kursi kami terpisah beberapa baris. Aku baru saja akan duduk dan merapatkan mantelku saat melihat sosok wanita hamil yang tadi kuperhatikan di bandara. ‘Ternyata tujuannya juga Seoul.’, pikirku.
Nomor kursinya ternyata ada tepat di sebelahku. Aku agak menyingkir saat dia akan menaruh tas nya di bagasi atas. Tapi nampaknya itu bukan hal sepele baginya, apalagi dengan perutnya yang besar.
“Excuse me, may I?”, selaku. Aku berniat membantunya.

“Ah, I’m sorry but thanks.”, jawabnya dan menyerahkan tasnya padaku.

“Don’t mind it.”, jawabku sambil tersenyum. Dia membalas tersenyum. Senyum penuh rasa terimakasih menurutku. Dia memiliki aksen Perancis yang kental di bahasa Inggrisnya.

“Kamsahamnida.”, ucapnya setelah kami sudah duduk.

“Ah, Anda bisa berbahasa Korea rupanya?”, tanya ku cukup takjub. Mengingat wajah dan logat Perancis di bahasa Inggrisnya tadi cukup kental.

“Sebenarnya saya orang asli Korea dengan percampuran darah Perancis yang terlalu banyak.”, jawabnya dengan kembali mengulas sebuah senyum. Aku tertawa ringan mendengarnya. Dia tampak mempehatikanku sekilas. Aku bisa melihatnya dari ekor mataku.

“Apa yang Anda lakukan disini?”, tanyanya ambigu. Aku sebenarnya tak berniat bercakap-cakap dengan orang asing. Tapi aku tetap mengernyit agak bingung mendengarnya.

“Ah, maksudku apa yang dilakukan Big Seung-hyun Big Bang di dalam pesawat massal seperti sekarang?”, jelasnya. Ada senyum aneh yang ia ulas saat bicara seperti itu.

“Ternyata Anda mengenaliku.”, jawabku sedikit geli. Tentunya memang aneh seorang artis nampak bepergian sendiri tanpa pengamanan atau setidaknya untuk alasan logis apa aku terdampar di pesawat massal seperti sekarang. Aku menggaruk tengkuk ku aneh. Malu untuk jujur.

“Tidak apa-apa tidak dijawab.”, tawanya lembut nampak bisa mengerapa yang ada di dalam pikiranku.
Pilot mengumumkan pesawat akan segera take off. Aku dan wanita tadi mengencangkan sabuk kami, begitu pula penumpang lain.

“Annyeonghasseo, Lee Ga Eun imnida.”, ucapnya memperkenalkan diri setelah pesawat berhasil take off.

“Anda sudah tahu saya, kan?”, jawabku seraya menyambut uluran tangannya. Dia kembali tertawa lembut. Biasanya aku kurang bisa langsung akrab dengan orang asing yang baru kukenal. Tapi entah kenapa kali ini berbeda. Mungkin karena efek perut buncitnya. Apa hubungannya? Entahlah, hanya saja jarang-jarang aku berada disekitar ibu hamil.

“Benar-benar sendirian?”, tanyanya masih juga penasaran.

“Ah, tidak. Manager ada beberapa baris kursi di depan.”. Sebenarnya aku sedikit rikuh, bukannya tidak mau menjawab atau sombong, tapi tidak mungkin juga aku tak menjawabnya, aku hanya tak terbiasa. Wanita ini, entahlah, kurasa dia memiliki kemampuan mencairkan suasana dengan baik.

Kami terdiam lagi. Dia nampak masih sibuk dengan dirinya sendiri.
“Anda?”, balasku akhirnya.

“Hm? Tidak juga. Aku bersamanya.”. Dia menggeleng lembut dan tersenyum sembari mengusap perut buncitnya penuh kasih. Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Aku melepas coat dan kaca mata hitamku lalu menaruhnya di samping bangkuku. Aku masih mengenakan sweater panjang berwarna biru gelap dengan garis abu-abu di tengah potongan perut dan dada.

“Suami Anda tidak ikut?”. Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku sendiri terkejut. Adalah tabu bagiku bertanya hal pribadi kepada orang yang baru kukenal.

“Ah, mianhae. Saya begitu lancang.”, ucapku langsung meminta ma’af.
Dia tertawa lembut dan menutup tawanya dengan tangannya.

“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan.”, jawabnya lembut. Dia menyebut dirinya “aku”, mungkin agar terkesan lebih akrab. Dia kemudian melepas coat nya juga. Memperjelas lekukan tubuh terutama perutnya yang memang besar dibalik terusan rajut hitam panjangnya.

“Aku ke Paris untuk mengantarnya pulang. Untuk terakhir kalinya.”, jawabnya. Ada tersirat wajah sedih di wajahnya. Tapi langsung sirna menjadi senyum lembut itu lagi begitu ia mengusap perutnya.

Awalnya aku hanya mengernyit heran mendengar jawabannya. Aku tak berniat bertanya lebih lanjut. Tapi pernyataannya tadi cukup mengusikku. Terakhir?

“Dia sudah meninggal. Tewas dalam kecelakaan mobil awal bulan ini. Upacara kematiannya baru selesai minggu ini.”, sambungnya seolah mengerti kebingunganku. Aku sedikit terhenyak mendengar penuturannya. Aku meliriknya dari ekor mataku.

Pramugari pesawat baru saja melintasi kursi kami dan menawarkan beberapa pilihan kudapan dan minuman. Aku mengambil untukku sendiri dan Ga Eun karena dia duduk di sisi dalam dekat jendela.

“Kamsahamnida.”, jawabnya seraya menerima segelas jus dan blueberry cake dariku.

“Mianhae.”, jawabku.

“Untuk apa?”
Aku tak langsung menjawab. Aku hanya menatapnya agak heran. Hal ini pasti berat untuknya. Tapi dia nampak baik-baik saja.

“Kalau untuk soal pertanyaanmu tadi, tak masalah. Kehilangan adalah suatu proses bagiku. Setiap hilangnya sebuah kehidupan, akan tergantikan oleh kehidupan baru, TOP-ssi. Mungkin aku kehilangan suamiku, tapi dia akan menggantikan kehidupan yang hilang tadi.”, jawabnya kemudian karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya. Aku melihat bagaimana dia begitu menyayanginya, terlihat bagaimana ekspresinya saat mengelus perutnya.

“Berapa usianya?”, tanyaku. Tanpa sadar tanganku ikut membelai perutnya.

“Delapan menuju sembilan. Lihat, dia menggeliat menyapamu, TOP-ssi.”.
Kurasakan calon bayi dalam perut Ga Eun menggeliat bergerak begitu aktif. Ga Eun sedikit meringis, sepertinya agak sakit. Aku sedikit miris mengingat sebentar lagi Ga Eun pasti melahirkan dan dia harus sendiri.

“Ini semua pasti berat untukmu.”, tukasku. Dia membenarkan posisi duduknya.

“Tentunya. Tapi aku harus kuat untuk jagoan kecilku ini.”

“Dia laki-laki?”, tanyaku.

“Menurut hasil USG begitu.”, ucapnya sembari meminum jus nya.

“Kenapa kau pulang ke Seoul?”, tanyaku lagi.

“Kurasa aku begitu menarik untuk dibicarakan.”, candanya. Kami tertawa bersamaan.

“Tidak ada alasan untukku bertahan di Paris. Aku pulang ke Seoul dan ingin kembali menjadi creative designer untuk butikku sendiri. Mampirlah jika ada waktu.”, jelasnya.

“Tentu, tapi apa keluarga suamimu tidak menginginkan kau tetap di Paris?”, tanyaku penasaran.

“Dia yatim piatu. Itulah mengapa aku memilih pulang ke Seoul. Orang tua ku juga sangat mendukung rencana ku. Hanya saja..”, kalimatnya menggantung.

“Usia kandunganmu?”, tebakku. Memang yang aku tahu wanita yang usia kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga agak riskan untuk naik pesawat. Harus dengan ijin dokter.

“Sepertinya kau mengetahui banyak hal. Dokter mengizinkanku terbang dengan kelas pertama tanpa pesinggahan. Aku hanya tak ingin melahirkan di negeri asing sendirian.”, jawabnya. Aku hanya mengangguk dan menyuapkan cake ke mulutku sendiri.

“Sepertinya 18 jam cukup panjang bagi kita.”

“Ya, beristirahatlah. Kau nampak lelah.”, saranku. Rasa empatiku begitu besar. Mungkin karena aku tumbuh diantara 2 wanita yang sangat kusayangi, Eomma dan Hye Yoon noona ku. Ternyata menjadi wanita itu berat.

“Kamsahamnida, kau begitu baik padaku. Pantas saja para VIP dan khususnya Charmers begitu memujamu.”. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Bersamaan, ada pesan masuk dari Byung Yung. Dia meminta bertemu di bar pesawat.

“Ah, aku pergi sebentar.”, pamitku. Entah mengapa aku melakukan hal tersebut. Aneh. Tapi aku merasa sekuat apapun Ga Eun, tetap saja dia wanita yang sedang butuh perlindungan. Dia hanya mengangguk dan mengulas senyum lembutnya kembali. Dia cantik. Aku segera bergegas ke bar menemui Byung Yung.

***

“Apa kau baik-baik saja?”, tanya Byung Yung. Aku mengedikkan bahu. Byung Yung melihatku dengan aneh.
“Seperti yang kau lihat. Malahan aku mendapat teman baru.”
“Oh, ya? Sedikit bersosialisasi seperti orang biasa sepertinya cukup menyenangkan untukmu.”
“Ada apa?”, tanyaku to the point.
“Tidak, aku hanya ingin memberitahukan jadwal kita begitu kita turun dari pesawat, ini.”. Ah, jadwal yang padat lagi. Aku membaca kertas yang diserahkan Byung Yung.
“Setidaknya aku masih bebas 17 jam di dalam pesawat.”, jawabku.
“Itulah hidup TOP.”, Byung Yung menimpali. “Siapa teman baru mu?”
“Bukan siapa-siapa. Seorang wanita hamil bernama Ga Eun. Dia teman ngobrol yang menyenangkan.”. Byung Yung hanya mengangguk-angguk. Dan siang itu kami habiskan membahas proyek kami di Seoul nanti.

***

Aku dan Byung Yung kembali ke seat setelah kira-kira 4 jam. Kutemukan Ga Eun terlelap memeluk buku yang dibacanya. Perjalanan ini pasti berat untuknya. Perlahan aku duduk agar tidak membangunkannya. Dia menggeliat, menyebabkan buku yang tadinya ada di pelukannya terjatuh. Aku mengambilnya. A Love to Live, Letters from Romano. Ternyata buku memoar kisah cinta si penulis, Michael Romano. Kubuka halaman terakhir buku itu dan kudapati sehalaman penuh tercetak foto pernikahan Romano dan secara mengejutkan Ga Eun. Ternyata ini buku tulisan mendiang suami Ga Eun. Dibawah foto itu tercetak tulisan “Thanks for the live you bring in my life Eun-ya”. Sepertinya Romano ini memang romantis, suami yang baik dan sangat mencintai Ga Eun. Sayang takdir memisahkan mereka. Difoto itu mereka tampak sangat bahagia. Karena penasaran, aku pun membaca isi buku milik Ga Eun itu. Kurasa aku punya banyak waktu luang. Untung saja buku ini berbahasa Inggris, jadi aku mudah memahaminya.

Tak terasa dua jam telah berlalu, dan aku masih terlarut dalam buku Ga Eun. Aku menoleh saat Ga Eun tampak bergerak tak nyaman di kursinya. Perlahan ia membuka matanya.
“Sudah bangun?”, tanyaku sambil melambaikan tanganku ringan. Dia memperhatikan tanganku.

“Mianhae, aku penasaran.”. Seolah tahu apa arti tatapannya, aku menyerahkan buku tadi padanya.

“Tidak apa-apa.”, dia meletakkan buku itu di samping tas jinjingnya. “Sudah berapa lama kita terbang?”, tanyanya.

“Setidaknya 6 atau 7 jam. Masih ada sekitar 11 jam. Ada apa?”, heranku.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku agak takut.”, ada ekspresi aneh di wajahnya. Seperti merasakan sesuatu.

“Apa maksudmu?”

“Perutku. Aku takut tak akan bertahan selama itu.”, dia mulai menarik napas panjang-panjang.

“Mwo?”. Aku terbelalak. “Maksudmu kau akan melahirkan disini?”

“Aku tak yakin. Dokter bilang masih ada sekitar 2 minggu lagi, tapi aku takut sepertinya tidak akan selama itu.”, ucapnya agak terengah.
Aku masih mencoba mencerna kata-katanya barusan. Aku tak mengerti soal tetek bengek ibu hamil, tapi melahirkan di dalam pesawat yang sedang terbang kurasa bukan ide yang bagus.

“Tunggu sebentar. Aku akan cari bantuan.”. Ga Eun hanya mengangguk sambil mengatur napasnya yang kepayahan. Dia panik, aku juga. Aku bergegas menghampiri Byung Yung.

“Hyung, bagaimana ini?”, tanpa basa-basi aku mengguncangnya yang sedang membaca majalah.

“Ada apa? Bagaimana apanya?”, dia tampak bingung.

“Ga Eun mau melahirkan.”

“Siapa itu? Saudaramu? Dan kenapa kau begitu panik?”, tampaknya dia lupa.

“Bukan! Dia wanita hamil yang tadi kuceritakan!”

“Omo?!?!”, Byung Yung terkejut.
Dia terhenyak dan langsung berdiri. Dia juga nampak bingung.

“Bagaimana ini Hyung?”, aku mendesak Byung Yung. Entahlah meski aku dianggap paling tua oleh adik-adikku di Big Bang, tapi aku tak berpengalaman tentang wanita melahirkan. Byung Yung yang juga bingung kemudian menarikku menemui pramugari. Dia menyuruhku bicara dengan mereka, karena aku fasih berbahasa Inggris. Pramugari pun melaporkannya pada pilot pesawat sementara aku kembali menghampiri Ga Eun. Ia tampak masih mengatur napasnya panjang-panjang. Dia memegangi perutnya.

“Aku sudah melaporkan pada kapten pesawat. Mereka akan segera datang menolong. Apa itu sakit?”, pertanyaan bodoh. Ga Eun melotot menoleh kepadaku. Aku hanya meringis, lalu aku mendekati perut Ga Eun dan berbisik sambil mengelusnya lembut.

“Lahirlah, tapi jangan menyusahkan eomma mu, sayang.”. Ga Eun menghembus napas berat dan panjang. Dua orang pramugari datang menghampiri kursi kami. Aku mundur saat mereka memapah Ga Eun. Orang-orang terlihat bingung dengan “kehebohan” kecil yang terjadi. Suara pilot menggema di intercom untuk menjelaskan situasi yang terjadi agar tidak terjadi kepanikan.

“Sir, you have to follow us and accompany your wife, please.”, salah seorang pramugari bicara padaku.

“Demi Tuhan, nona. Dia bukan suamiku!” potong Ga Eun setengah berteriak. Yah, mungkin karena dia sambil mengatur napas, bukan benar-benar ingin membentak.

“I’m her friend. But it’s OK. I will accompany her. Let’s go.”. Aku berjalan mengikuti pramugari yang memapah Ga Eun. Sepertinya prosesi melahirkan darurat ini akan dilakukan di pantry pesawat. Mungkin karena disanalah tempat yang paling lega. Kulihat Byung Yung berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak cemas.

“Kau mau menemaninya?”, tanyanya saat aku melewatinya.

“Ya, tak apa. Percayalah.”. Dia tampak khawatir, tapi aku ingin ia tenang.
Beberapa kotak, serupa peti besar sudah ditata dan dilapisi 2-3 bed cover. Pramugari memandu Ga Eun menaiki kasur darurat tadi kemudian membaringkan Ga Eun. Aku membantu menopang kepala dan punggung atas Ga Eun dengan beberapa bantal. Mereka juga sudah menyiapkan air hangat dan beberapa handuk. Sungguhpun mereka belum pernah melakukan persalinan darurat seperti ini, tapi mereka benar-benar merasa bertanggung jawab atas penumpangnya.

Seorang pramugari menyingkap gaun hitam panjang Ga Eun dan menarik lepas celana Ga Eun serta membuka kaki Ga Eun selebar mungkin. Ya, ampun. Aku berpaling dan menatap Ga Eun prihatin. Entah apa yang dilakukan pramugari tadi, aku hanya menggenggam tangan Ga Eun, menenangkannya.

“Mam, maybe we’re unexperienced in this case. But I have it once for my first baby. I will guide you from here. When you feel a contraction, push your strenght as much as possible. And you, Sir. Please support her to be strong.”, jelas pramugari tadi cekatan.

“Dengar? Kau mengerti penjelasannya kan? Kau akan segera jadi ibu. Berjuanglah.”, kataku sambil mengelus puncak kepalanya. Dia hanya mengangguk dan terengah.

“Yaaaakk!!!”, tiba-tiba Ga Eun berteriak saat merasakan kontraksi pertamanya. Dia mengejan kuat. Aku yang tidak melahirkan ini ikut terengah senada napas Ga Eun.

“Breathe regularly, Mam. As far it’s good. Sir, remind her to breath, OK?”

“Kau bisa Ga Eun. Kau sudah sejauh ini.”, bingung aku hanya bisa menyemangatinya.

“Aaaaakkkhhh!!”, Ga Eun meremas tanganku kuat-kuat saat merasakannya lagi.

“Here the baby come! I can see the head and the hair. Good job, Mam. Keep going.”.
Dan 55 menit berikutnya dihiasi dengan teriakan Ga Eun dan terakhir adalah tangis keras makhluk suci itu. Seorang bayi laki-laki yang sehat.

***

“Jadi?”, Byung Yung bertanya.

“Laki-laki dan dia sangat sehat. Kau dengar tangisnya?”

“Kau ini seperti seorang Ayah baru saja. Awas nanti kau jatuh cinta juga pada ibunya.”, candanya.

“Kau ini, Hyung. Aku serius. Aku hanya bersimpati pada Ga Eun. Itu saja.”

“Lalu bagaimana Ga Eun?”

“Dia masih lemah. Karena mengeluarkan banyak tenaga. Tapi ia baik-baik saja. Dia benar-benar wanita yang kuat. Sepertinya melahirkan lebih melelahkan daripada latihan bersama Ssabu-hyung.”, Byung Yung tertawa mendengarku.

“Sir, Mrs. Lee wants to meet you.”, seorang pramugari memanggilku. Aku dan Byung Yung berpandangan. Byung Yung menepuk bahuku dan tersenyum aneh. Aku mengabaikannya dan menuju pantry tempat Ga Eun tadi.

Kulihat Ga Eun baru merapikan gaun bagian atasnya. Dia masih berbaring. Sepertinya ia baru saja selesai menyusui ASI pertamanya. Dia menoleh padaku dan tersenyum.
“Hai kau jagoan kecil. Bagaimana dunia menurutmu? Kau tahu, umurmu belum ada sehari, tapi kau sudah bepergian dengan pesawat. Itu one of a kind.”, sapaku sambil mengelus pipi gembulnya. Ga Eun tertawa mendengarku bergaya a la Jiyong.

“Terima kasih, TOP. Entah dengan apa aku bisa membalasmu. Untuk sekarang aku baru bisa berterima kasih.”, ucap Ga Eun sedikit berkaca-kaca. Aku memperhatikannya dan tertawa kecil.

“Kau ini kenapa? Aku hanya menemanimu melahirkan. Bukan berperang dan mengorbankan nyawa untukmu. Jadi jangan cengeng begitu. Tidak malu apa dilihat anakmu.”, candaku.

“Kau ini.”, dia memukul lenganku. Ku usap air mata yang terlanjur meluncur di pipinya lembut.

“Aku senang bisa membantumu. Hitung-hitung aku berlatih menjadi calon ayah untuk istriku kelak.”. Ga Eun tertawa mendengar ucapanku.

“Dasar bingu!”

“Ayolah jangan panggil aku begitu Ga Eun,”, kali ini aku serius.

“Kau sudah punya nama untuknya?”, tanyaku. Ga Eun menggeleng sambil membelai kepala putranya. Tatapannya begitu sendu. Terlihat betapa bahagianya dia saat ini.

“Lee Jung Kwan. Si Tuan Lee, wujud dari kekuatan cinta. Cinta mu dan Romano.”, ujarku.

“Abaikan, aku hanya bercanda.”.

“Nama yang bagus.”. Aku menelengkan kepala dan melihat ke arah Ga Eun dan mengangkat sebelah alisku. Padahal aku hanya asal bicara.

“Akan kunamai dia Lee Jung Kwan. Sebagai wujud rasa terimakasihku padamu TOP.”, dia tersenyum lembut kemudian mengecup lembut puncak kepala putranya.

“Setidaknya agar aku bisa terus ingat jasamu disini. Jarang-jarang bisa melahirkan ditemani artis tenar sepertimu. Ya kan, Jung-ya?”
Aku tertawa mendengarnya.

“Istirahatlah. Aku tak ingin mengganggumu.”

“Sekali lagi terimakasih, Choi Seung Hyun. Sungguh.”
Aku mengangguk dan mengelus puncak kepalanya kemudian berlalu.Saat aku keluar dari pantry, kulihat banyak penumpang yang penasaran juga ingin melihat bayi Ga Eun. Mereka disarankan untuk melihatnya setelah 2-3 jam lagi. Agar Ga Eun bisa istirahat lebih dulu.

***

Seoul, 26 Januari 2010 10:32 am
Pesawat baru saja mendarat. Sebelumnya kapten pesawat sudah memberitahukan padaku jika mereka sudah menghubungi Incheon Airport untuk menyiapkan ambulans. Sebelum berpisah, aku ingin menemui Ga Eun dahulu.

“Ini tas jinjing, koper kecil yang mempertemukan kita dan ini buku suamimu.”, aku menemuinya di dalam ambulan.

“Terima kasih. Tapi simpanlah buku ini. Kau belum selesai membacanya.”

“Apa tidak apa-apa?”

“Tentu. Aku masih punya buku yang sama dirumah.”, jawabnya.

“Kamsahamnida.”

“Dan ini. Mampirlah jika ada waktu, aku pasti akan sangat merindukanmu dan pastinya aku ingin mengenalkan Jung-ya padamu suatu saat nanti. Boleh?”. Aku menerima secarik kartu nama. Alamat rumah sekaligus butik Ga Eun.

“Tentu boleh. Rasanya seperti pahlawan saja, hehe.. Akan kusempatkan mampir. Jaga dirimu baik-baik Ga Eun. Jaga Jung-ya juga. Aku juga akan sangat merindukan kalian. Sampai jumpa.”, aku keluar dari ambulan dan tim medis segera membawa Ga Eun ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

“Ayo, jangan terlihat mencolok TOP. Sepertinya beritanya akan segera merebak.”, kata Byung Yung mengajakku bergegas ke YG Building.

“Biarkan saja. Kurasa menjadi sensasi sebentar akan menyenangkan.”, kami segera membelah kerumunan fans dan menaiki van yang sudah siap mengantar kami ke YG Building.

***

“Hyung, katanya kau habis menolong wanita melahirkan ya? Itu keren Hyung. Kalau aku pasti tak tega melihatnya Hyung.”, cerocos Seungri saat tahu apa yang kualami dari Byung Yung. Yang lain hanya mengangguk setuju.

“Ternyata kau calon ayah yang baik, Hyung”, timpal Daesung.

“Setidaknya Hyung juga cukup dewasa didalam hal ini.”, Young Bae menambahkan. Jiyong hanya mengamini sambil mengangguk.

“Apa dia cukup cantik Hyung?”, tanya Seungri iseng.

“Kau ini dasar magnae tidak sopan.”, Daesung gemas dan menoyor kepala Seungri. Aku hanya tertawa melihat ulah dua dongsaeng ku yang sering bertengkar itu.
Di televisi dan berbagai media juga telah beredar berita tersebut. Ah, ma’af ya Ga Eun. Kau akan kerepotan setidaknya seminggu ini oleh media.

“Pengalaman itu akan membuatku tak lupa untuk tidur cukup dan tak ketinggalan pesawat lagi.”, jawabku yang membuat semua adik-adikku tertawa.

***

Seoul, Januari 2013

Musim dingin tahun ini begitu menggigil. Tapi tak menghalangi ku menempuh jalanan dengan mobilku. Jadwal Alive Tour akan segera berakhir. Pembuatan film Alumni ku pun sudah 90%. Aku memiliki sedikit waktu luang sekarang. Aku ingin menepati janjiku kali ini. Setelah sekitar 2 jam, aku berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup eksentrik dan bernilai seni. Aku turun sambil membawa sebuket bunga dan beberapa goody bag berisi action figure dan Bearbrick edisi Spongebob Squarepants. Kupikir membawakan Jung-ya mainan tak ada salahnya. Saat kubuka pagar kayu ek coklat rumah itu, aku mendapati seorang balita sedang bermain salju sendirian di halamannya.

“Permisi.”, sapaku sambil tersenyum. Kuharap dia tidak takut seperti anak-anak lain pada umumnya. Karena menurut survey aku cukup ditakuti anak-anak karena wajahku ini. Bahkan Jiyong pun sempat takut saat pertama kali bertemu denganku waktu trainee dulu. Dia tampak menoleh dan mengerjap. Pipinya gembul berwarna merah muda. Matanya mengingatkanku pada pada mata itu. Balita itu bergegas lari menuju pintu rumahnya yang terbuka.

“Eomma.. Ada tamu!!!”, dia berteriak lucu sekali dengan logat cadelnya. Lalu dia menatapku lagi.

“Ada apa, sayang?”
Tak berselang lama keluarlah wanita yang telah lama kurindukan senyumnya dengan terusan hijau muda dan cardigan putih. Dia tak banyak berubah 3 tahun ini. Dia terkejut saat bocah tadi menunjuk ke arahku. Aku mencoba tersenyum padanya. Layaknya adegan film yang sering kubintangi, Ga Eun, segera berlari menghampiriku.

“Kau datang. Kau menepati janjimu.”. Aku tersenyum lebar dan memberikan buket bunga padanya. Setelah mencium mawarnya, dia langsung memelukku setelah mengatakan kalimat sambutan tadi. Aku agak terkejut dengan pelukannya, tapi akhirnya kubalas juga.

“Ya. Dan ma’af baru sempat setelah hampir 3 tahun.”
Ga Eun nampak senang dengan kehadiranku. Bocah kecil tadi pun menghampiri dan menarik-narik gaun ibunya. Dia nampak keheranan melihat ibunya memeluk pria lain.

“Eomma, ciapa dia?”, sungguh cadelnya itu menggemaskan.
Ga Eun menoleh dan tersenyum lembut pada bocah laki-laki yang kutahu adalah Jung-ya. Dia mengangkat Jung-ya dan memamerkannya padaku.

“Ah, ayo masuk dulu. Ayo Jung-ya. Kau mau kenal kan dengan Superman mu. Yang membantu Eomma melahirkanmu. Akan eomma kenalkan di dalam.”, kata Ga Eun sambil menggamit tanganku dan menuntunku masuk ke rumahnya. Superman? Sepertinya akan banyak hal menarik yang akan kudengar nanti di dalam.

-FIN-