Author : Chaerunnisah Indah
Cast :
– Kwon Jiyong a.k.a GD (Big Bang)
– Kwon Minsoo (OC)
– Kwon Jisoo (OC)
– Kim Sora (OC)
Genre : Romance, friendship
Rating : G
Length : Oneshot
Twitter : @chaerunnisah95

*Kwon Minsoo POV
Hari ini aku menemukan lagi sepucuk surat dalam tasku, entah sudah ke sekian kali aku mendapatkannya dari seseorang yang tidak kuketahui siapa. Isinya tidak jauh berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Ribuan pujian dan rangkaian kata-kata indah yang ditunjukkan untukku tertulis rapi di selembar kertas itu. Di akhir surat selalu terdapat tulisan ‘gold n diamond’s boy’, aku rasa dia seorang namja yang kukenal, tapi nuguya?
“Mwo? Kau dapat surat lagi? Kali ini ada petunjuk lain minsoo-ah?”, tanya sahabatku Kim Sora.
“Mm, ani. Seperti biasa saja, Gold n Diamond.”,jelasku padanya.
“Aku semakin penasaran min-ah, coba apa kau sudah ingat kata-kata itu?”
“Belum, sampai sekarang aku masih belum ingat.”
“Tapi benarkah kau tidak asing dengan kata-kata ‘gold n diamond’ ?”
“Ne, aku yakin pernah akrab dengan kata-kata itu sora-a, tapi aku rasa sudah lama sekali.”

Selama aku berbincang-bincang dengan sora di kantin, ternyata ada yang memperhatikanku sejak tadi. Ne, tidak salah lagi dia Jisoo, seorang namja yang selalu menganggap aku ini yeojachingu-nya. Padahal aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, lagipula aku tidak menyukainya.
“Yaa chagiya~ kau sedang apa di sini? Biarkan pangeranmu ini duduk di sampingmu.”
Ah sebentar lagi dia akan mengeluarkan rayuan-rayuannya yang tidak bermutu itu, aku sudah bosan mendengarnya. Tanpa menoleh, aku menarik tangan sora dan pergi meninggalkan namja aneh itu.
“Yaa kau mau kemana? Jangan pergi chagiya~”

***

“Mungkinkah pengirim surat misterius itu Jisoo?”
“Aihh, tidak mungkin, sora! Mustahil jisoo bisa merangkai kata-kata indah seperti yang tertulis di surat-surat itu.”
“Mungkin saja, dia kan raja gombal. Hahaha.”
“Yaa! Beda! Kata-kata namja misterius itu sangat berkelas, tidak bisa disamakan dengan jisoo!”
“Ne ne ne, itu kan hanya pendapatku, santai saja min-ah, kau tidak perlu emosi seperti itu. Haha aku rasa kau sudah mulai jatuh cinta pada namja misterius itu. Hahaha.”
“Mwo? Mana mungkin aku bisa jatuh cinta pada seseorang yang tidak kuketahui sosoknya, bahkan namanya pun tidak.”

***
“Yaa, larinya jangan cepat-cepat, aku lelah..”
“Hei, kau ini yeoja yang lemah, ayo jangan menyerah, sebentar lagi kita akan sampai ke tempat tujuan.”
“Aahh, tapi kakiku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.”
“Ckckck ya sudah, naik ke pundakku cepat.”
“Mwo?!”
“Palli!! Ini kau pegang petanya.”
“Ah ne, mianhae.”
“Beberapa langkah lagi kita akan sampai,”

“Ah lihat itu kotaknya!”
“Wahh benar, ayo kita buka kotaknya.”, kata namja itu bersemangat.
“Aigoo, ini emas dan permata? Banyak sekali!!”
“Surat? Yaa! Dasar yeoja, biar kubaca surat ini dulu.”
“Hehe oke, bacakan.”
“Jika kotak ini ditemukan oleh satu orang, maka orang itu berhak atas setengah jumlah harta ini dan meninggalkan sisanya tetap dalam kotak ini. Jika kotak ini ditemukan oleh dua orang yeoja, maupun dua orang namja, maka mereka berhak atas seluruh harta dengan syarat harus menjaga persahabatan di antara keduanya. Jika kotak ini ditemukan oleh dua orang yaitu seorang yeoja dan namja, maka mereka berhak atas seluruh harta ini dengan syarat harus mengikatkan tali pernikahan di antara keduanya.”
“Mwo? Menikah?”
“Ne, maukah kau menikah denganku?”, namja itu membuka perlahan penutup wajah yang dipakainya sejak melakukan perjalanan dengan yeoja itu.

Kriiing..kriing..kriiing
“Aaaah berisik sekali!! Suara apa itu?!”, teriakku kesal saat mendengar suara bising yang membangunkan tidurku.
“Yaa min-ah, kau kan yang memasang alarm itu, ayo cepat mandi, nanti kau terlambat!”, suara tinggi eomma membuat mataku terbuka lebar.
“Arraseoyooo eommaa~”

Aku bergegas mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Hari ini aku bangun lebih awal karena sungmin oppa tidak bisa mengantarku ke sekolah. Semalam dia menginap di kantornya karena pekerjaannya belum selesai. Ya, dia memang sesosok kakak yang profesional dalam pekerjaannya, tapi aku juga jadi terkena imbasnya kalau dia tidak pulang.

***
Bus hari ini penuh sekali, tidak ada kursi kosong yang tersisa, terpaksa aku harus berdiri selama kurang lebih 30 menit.
Tadi aku bermimpi apa ya? Sepertinya jelas sekali, tapi aku tidak bisa mengingatnya sedikitpun. Aaaah mwoyaa??! Aku memukul-mukul kepalaku karena kesal tidak dapat mengingat mimpiku tadi. Tiba-tiba ada yang menahan tanganku dari belakang. Aku menoleh ke arah asal tangan yang masih berusaha menahan tanganku ini.
“Kau jangan lakukan itu, nanti kepalamu akan sakit.”
“Yaa, nuguseyo?! Lepaskan tanganku!”
“Baiklah. Aku hanya tidak ingin melihatmu seperti itu, menyakiti diri sendiri.”
Siapa namja itu? Namja yang menggunakan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Hanya matanya saja yang bisa jelas kulihat. Setelah kuperhatikan, aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya?

Sampailah aku pada pemberhentian terakhir bus ini. Halte Kyungdoo. Halte yang letaknya tepat di seberang sekolahku, SMA Kyungdoo. Seperti biasa, aku memanggil seorang petugas keamanan sekolahku untuk membantuku menyeberang.
“Ahjussi~”
“Kau tidak perlu memanggilnya, aku akan membantumu.”, suara namja tadi menyambutku dari belakang.
“Yaa! Kau lagi?!”
“Sudah, tenang saja. Aku bukan orang jahat. Percayalah.”
“Ani, aku bisa sendiri!”, aku menepis kasar tangannya yang hendak menyentuhku.
Tiiin…tiiin…
“Aaaaaah..!!”
“Sudah kubilang, biar kubantu. Kau tenang saja.”
Sebuah mobil melesat cepat di hadapanku, untung saja namja itu cepat menarik tanganku.
“Ya ya, terserah kau saja.”, ucapku malas.
Ketika selangkah lagi aku sampai di gerbang sekolah, dia membisikkan sesuatu di telingaku.
“I’m gold and diamonds boy.”
Jadi.. Dia namja misterius itu? Pengirim semua surat itu? Aku berusaha mengejarnya, tapi dia begitu berlalu cepat dari jangkauanku, lagipula sora memanggilku.
“Yaa min-ah, kau sedang apa diam di sini? Ayo kita masuk.”
“Hei sora, ne kajja.”
“Tadi kau diantar siapa, min-ah?”
“Molla, dia hanya membantuku untuk menyeberang, tapi aku rasa dia namja misterius itu.”
“Jinjja??”
“Ne.. Dia tadi mengatakan ‘gold and diamonds boy’, tidak mungkin ada yang tahu tentang itu lagi kan selain kita berdua dan otomatis sang penulis surat itu sendiri.”
“Aigoo, benar. Kau mengenalnya?”
“Ani, tapi matanya itu..”
“Wae? Wae?”
“Pernah kuingat..”

***
Pulang sekolah aku merasa tidak enak badan. Jadi aku berniat langsung pulang ke rumah. Mungkin karena aku terlalu keras memikirkan dua hal. Ya, sampai sekarang aku belum berhasil mengingat mimpiku, lalu ditambah lagi aku harus mengingat mata itu. Aiihh.
“Sora-ah, aku langsung pulang ya.”
“Ah, tidak biasanya.”
“Mianhae, otakku lelah memikirkan ini semua kekeke.”
“Ya sudah, haha kalau kau sudah berhasil mengingatnya jangan lupa memberitahuku ne?”
“Pasti! Hehe.”
“Bye-yeom~”
“Bye-yeom kim sora~a”

“Min-ah, boleh kuantar kau pulang?”
Aku menoleh dengan tatapan tidak percaya ke sumber suara yang kudengar tadi.
“Mwo? Jisoo?”
Dia tersenyum saat aku menyebut namanya. Ini tidak seperti biasanya, ada apa dengannya? Ani, bukan itu! Suara tadi, seperti.. Namja misterius tadi? Ne, benar!
“Maukah?”
“Aku mohon, sekali ini saja.”, tambahnya lagi.
“Arraseo.”
“Jadi kau mau?”
“Ne.”
“Ah syukurlah, ayo kita ke tempat parkir.”

Aku berjalan di belakangnya, memperhatikan postur tubuhnya. Aku rasa dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya.
“Ada apa min-ah?”
“Ani.”
“Ayo naik.”
“Ne.”
“Oh iya aku lupa memakai maskerku. Sebentar ya.”
“Hmm.”, aku mengangguk.
Mwo?! Wajahnya yang ditutup dengan masker seperti itu jadi mirip sekali namja misterius tadi! Apa mungkin dia orangnya? Tunggu. Nanti saja akan kutanyakan.
“Pegangan ya min-ah.”
“Ne.”
“Kenapa kau menjawabnya singkat seperti itu sih?”
“Aku hanya sedang berpikir, apa kau ini namja misterius itu? Gold and diamonds boy? Kau tahu itu?”
“Ah? Aniya.”

***

Akhirnya!! Aku berhasil mengingatnya! Mengingat jelas mimpiku itu. Geu namja.. Sepertinya aku mengenalnya lebih dari itu. Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
*flashback*
2 tahun yang lalu.
“Oppaa, ayo kita jalan-jalan.”
“Kau mau ke mana min-ah?”
“Hmm molla, terserah kau oppaa, yang penting jalan-jalan.”
“Jadi kau mau jalan kaki atau naik motor?”
“Aih oppaa, mana mungkin jalan kaki, aku kan cepat lelah. Hahaha”
“Haha baiklah, ayo kita keliling Seoul.”
“Yaay! Kajja!”

“Yaa oppaa, kau ini bagaikan emas dan permata bagiku.”
“Eh? Kenapa begitu?”
“Kau ini sangat berharga bagiku oppaa, aku tidak mau kehilangan dirimu.”
“Ah seperti itu ya? Kau juga seperti itu chagiya, aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kau dicuri oleh orang lain, kekeke.”
“Gomawoyo..gold and diamonds boy..”
“Waah, itu julukan yang keren. Hahaha.”

“Aaaaah oppaa, awas! Mobil itu!!”
‘PRAAAKK’
“Aaaw..”

*end flashback*
Tiba-tiba terbesit semua kejadian 2 tahun yang lalu dalam pikiranku. Aku mengingatnya. Ya. Aku harus menanyakannya pada eomma.
“Eomma, aku baru ingat. Waktu itu aku mengalami amnesia ringan kan? Dua tahun yang lalu?”
“Mwo?! Min-ah, kau sudah mengingat kejadian itu?”
“Ne eomma, baru saja. Dan aku baru mengingat.. Kwon Jiyong oppaa..”
“Dia..?”
“Ne, dia sekarang di mana eomma?”
“Eomma tidak tahu, min-ah. Semenjak kecelakaan dua tahun yang lalu itu, eomma tidak pernah tahu lagi keberadaan dia.”
“Tapi, dia masih hidup kan..eomma?”
“Mianhae chagi, tapi eomma benar-benar tidak tahu.”

Aku tidak tahu harus apa lagi sekarang. Jadi..mimpiku itu membuatku mengingat ini semua..Kenapa aku harus mengingat semua kepahitan ini? Ah kenapa aku tidak lupa saja sampai selama-lamanya! Tapi kalau aku tidak mengingatnya, ini semua semakin membebaniku.. Gold and diamonds boy? Ah ne, dia pasti masih hidup, dan dia tahu di mana keberadaanku! Julukan itu kuberikan padanya, tidak mungkin ada yang tahu lagi. Benar. Jadi, namja bermasker itu oppaa? Ne benar, itu pasti dia! Aku harus bertemu dengannya lagi.

***
Sekarang aku sudah tidak pernah lagi diantar oppa-ku. Ne, alasannya hanya satu. Aku ingin bertemu jiyong oppaa lagi di bus. Tapi sudah seminggu ini aku tidak melihatnya. Oh ya, jisoo berubah, tidak seperti yang dulu lagi. Sepertinya ada yang disembunyikan.
“Yaa jisoo! Aku ingin kau jujur!”, aku melabrak dia yang sedang makan di kantin.
“Jujur apa min-ah?”
“Tentang dirimu..”
“Hmm..ayo ikut aku.”
Jisoo membawaku ke taman, wajahnya terlihat sedih. Dia membuka pembicaraan.
“Silahkan min-ah, apa yang ingin kau tanyakan dariku?”
“Sebenarnya..apa kau mengetahui ini semua?”
Aku mengeluarkan semua surat misterius yang diberikan oleh jiyong oppaa.. Jisoo melihat-lihat surat itu sambil tersenyum.
“Ne min-ah, aku yang menulisnya, dan menaruhnya di tasmu.hehe.”
“Mwo? Kau yang menulisnya?”
“Ne, hehe.”
“Tidak mungkin..kau bohong.”
“Aku yang menulisnya min-ah.”
“Ani! Kau?! Tidak mungkin.”
“Benar min-ah.”
“Tapi..kau bukan jiyong oppaa..aku yakin bukan kau..”
Wajahnya terkejut saat aku menyebut nama jiyong oppaa.
“Min-ah.. Kau sudah mengingatnya?”
“Ne..sekarang kau katakan, di mana jiyong oppaa?”
*jisoo pov*
Jadi, ingatan minsoo sudah pulih? Apa yang harus kulakukan sekarang. Hyung, apa yang harus kukatakan pada minsoo? Matanya sudah berkaca-kaca begitu.
“Heii katakan! Jangan diam saja seperti itu!”
“Mianhae min-ah..selama ini aku berbohong padamu..”
Aku memeluknya, mencoba menenangkan sedikit pikirannya.
“Jisoo..cepat katakan di mana jiyong oppaa..”, suaranya mulai bergetar, dia mulai menangis. Aku jadi semakin bingung. Ah eotteokhae hyung? Apa aku jujur saja.
“Tenang dulu min-ah.. Aku bingung harus bicara dari mana.”
“Mana bisa aku tenang, kau tahu? Setelah sekian lama aku baru bisa mengingatnya..”
“Min-ah, kau lihat aku.”, kulepaskan pelukanku lalu kupegang kedua pipi minsoo yang sudah dibasahi air matanya dan menghadapkan wajahnya pada wajahku.
“Apa menurutmu aku terlihat seperti jiyong oppa-mu itu? Kau ingat wajah jiyong seperti apa? Apa mirip denganku?”
“Matamu..”
“Mataku, ya kau pasti ingat mata jiyong. Seperti ini kan? Benar? Tatap aku perlahan min-ah.. Temukan jiyong di dalamnya..jebal..”
“Ji..Jiyong oppaa…”
“Eotteokhae? Kau menemukannya?”
Matanya yang sendu itu kini semakin deras menuangkan kristal-kristal air bening. Dia memelukku dengan sangat erat. Mianhaeyo hyung, seperti inikah..?
“Bogoshipeo..oppaa..”
***
Kini, hari demi hari kulalui berdua dengan minsoo, dia sangat mencintaiku. Ani, dia mencintai jiyong, bukan aku, dan aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Entah sampai kapan sandiwara ini akan berakhir. Aku tidak bisa terus-menerus seperti ini.

“Min-ah, kau yakin dia benar-benar jiyong oppa-mu itu?”
“Ne sora, aku rasa begitu. Aku bisa mengenali matanya, mata itu yang selalu dan akan kuingat terus.”
“Begitu ya..syukurlah, semoga kalian bahagia ya, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.hehe.”
“Gomawoyaa sahabatku.”

Dia begitu yakin kalau aku ini jiyong. Ya, memang kami berdua sama, min-ah. Tapi tidak dalam hal mencintaimu.. Selama ini jiyong lah yang mencintaimu, bukan aku. Ah, bagaimana aku menjelaskan ini semua padamu.
“Oppaa, aku senang kita bisa dipertemukan kembali.hehe”
“Ah ne, naddo min-ah.”
“Aku tahu, jadi selama ini kau ingin mengembalikan ingatanku ya dengan mengirim surat-surat itu? Kenapa kau tidak bilang secara langsung? Tapi gwaenchanha, pasti kau mau aku mengingatmu perlahan kan?”
“Ne min-ah, mianhae.”
“Gwaenchanha, aku jadi ingat namja yang setengah wajahnya ditutupi itu. Berarti dia itu kau ya oppaa? Haha.”
“Mwo? Yang mana min-ah?”
“Masa kau lupa? Kau kan membantuku menyeberangi jalan, sebelumnya kita juga ada di dalam bus yang sama kan.”
Aku? Wajah yang ditutupi? Bukan aku. Pasti itu jiyong. Aaah hyung, kau ini! Ternyata selama ini kau mengawasiku? Kenapa kau tidak mengaku saja. Aku lelah seperti ini hyung, bahkan kau juga! Aah paboya!

***
“Kita mau ke mana oppaa?”
“Ke rumahku. Gwaenchanha?”
“Ah, apakah aku masih mengingatnya ya?”
“Haha kau pasti mengingatnya.”
Semuanya harus selesai hari ini juga, jangan dibiarkan berlarut-larut.
Sampailah kami berdua di rumahku.
“Ahjumma di mana?”
“Dia sedang pergi, min-ah.”
“Oh begitu.”
“Oh iya, kau mau ke taman belakang? Di sana ada ayunan.”
“Ayunan.. Aku pernah duduk di ayunan itu ya?”
“Hmm aku rasa, kajja. Siapa tahu kau akan banyak mengingat lagi.”
“Ne oppaa. Hehe.”

“Tunggu di sini ya min-ah, aku mau ganti baju sebentar.”
“Ne oppaa.”
Selagi dia asik dengan ayunan itu, lebih baik aku menemui hyung.

***
“Untuk apa kau membawanya ke sini?!”
“Hyung, kau harus mengaku, aku tidak bisa selamanya menjadi dirimu! Lagipula aku tahu, kau sakit jika seperti ini! Sekarang dia sudah mengingatmu, mengingat Kwon Jiyong! Bukan Kwon Jisoo! Kau tahu? Awalnya aku sama sekali tidak mau membantumu agar minsoo melupakanmu karena kehadiranku! Aku berusaha supaya dia tidak menyukaiku, tapi di sisi lain aku harus terus dekat dengannya, demi kau! Aku pikir keputusanmu itu ada benarnya juga, tapi sekarang aku sadar, kau tidak harusnya seperti ini, kau harus jujur apapun kenyataannya!”
“Tapi aku tidak ingin dia kecewa..”
“Yaa! Justru kau akan lebih membuatnya kecewa jika membohonginya terus seperti ini. Hyung, terserah kau saja. Buatlah keputusan terbaikmu, aku hanya tidak ingin kau menyesal. Dia ada di taman belakang, aku harap kau menemuinya. Aku akan tetap di sini, mana mungkin bisa kau meninggalkan seorang yeoja sendirian di sana kan?”
Dia keluar dari kamar ini. Aku tahu kau mampu menyelesaikannya, hyung. Ne, meskipun langkahmu terlihat tidak yakin, tapi aku yakin!

“Hei chagiya.”
“Yaa oppaa, kau mengagetkanku saja, ayo lepaskan tanganmu! Jangan tutup mataku seperti ini.”
“Tunggu chagiya. Aku ingin bicara sesuatu.”
“Tumben ya kau memanggilku chagiya, hehe. Bicara apa oppaa? Lepaskan dulu tanganmu.”
“Ah sebentar saja. Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu chagiya. Maukah kau memaafkanku?”
“Loh memangnya kau salah apa oppaa?”
“Aku rasa kau tidak akan memaafkanku.. Akan kulepaskan tanganku ini chagiya, tapi kau harus janji dulu padaku, ne?”
“Huuh, janji apa oppaa?”
“Apa pun yang akan kau lihat dariku, tolong percayalah, ini benar-benar aku. Kwon jiyong. Aku harap kau bisa menerima aku lagi.”
“Aih apa maksudmu oppaa? Tentu saja aku percaya, kau ini jiyong oppaa, tenang saja. Ayo buka, palliyaa~”
*Jiyong’s POV*
“Ah kau ini oppaa, mataku sakit.”
Minsoo masih mengucek-ngucek kedua matanya, mencoba beradaptasi lagi dengan cahaya di sekitarnya sambil berdiri dari ayunan dan menoleh ke arahku. Aku tidak siap.. Dia pasti tidak ingin melihatku..

*flashback*

“Yaa!! Kau siapa?! Eomma, tolong aku! Ada orang asing yang mendekatiku, aku takut eomma!”
“Min-ah, aku bukan..”
“Pergi kau! Pergi!! Jangan mendekatiku!”
Dia berteriak di hadapanku seperti itu? Mungkin aku memang sudah berbeda.. Mianhae, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku harap kau dapat melupakanku secepatnya.
*end flashback*

Aku tidak ingin kejadian lalu terulang kembali.. Dia melihatku? Dia tidak takut?
“Jiyong oppaa?”
Di..dia..mengenaliku? Dia memanggil namaku?! Tunggu. Ani. Matanya tidak tertuju padaku? Aku menoleh ke belakang, di sana jisoo sedang berdiri dan memperhatikan kami.
“Mwoya min-ah?”, tanya jisoo.
“Oppaa, dia siapa?”
Seketika hatiku seperti dihujam oleh ribuan pisau. Air mata ini hampir jatuh, tapi aku harus menahannya.. Minsoo-ah..kau tidak mengenaliku?
“Dia..”, jisoo menahan kata-katanya dan menatap bingung ke arahku.
Aku sudah sejauh ini, tidak mungkin kesempatan seperti ini aku sia-siakan. Aku harus terima apapun resikonya.
“Aku kwon jiyong, sesuai perkataanku tadi saat menutup matamu, ini benar-benar aku min-ah. Kwon jiyong. Orang yang kau cintai. Aku juga yang telah membuatmu ketakutan dua tahun yang lalu, yang membuatmu melupakanku, dan juga yang membuatmu kecelakaan karena mengajakmu keliling seoul, serta yang membuat sandiwara antara kita bertiga..kwon jiyong, kwon jisoo, dan kau kwon minsoo. Wajah ini, bukti kecelakaan dua tahun yang lalu bersamamu, wajah yang dua tahun lalu kau takuti, mungkin sampai sekarang, dan seterusnya. Ketakutanmu yang juga membuatku takut untuk mengenalmu lagi. Aku sudah menjadi monster bagimu. Bahkan mungkin sudah menempati salah satu hal yang menakutkan di kehidupanmu.. Karena itu.. Aku pergi dari kehidupanmu, tapi ternyata aku tidak bisa sepenuhnya terlepas darimu min-ah.. Maafkan aku telah membohongimu, aku menyesal.. Aku sangat mencintaimu..kajima chagiya..”
Dia hanya mematung saat aku berbicara. Matanya yang sudah berkaca-kaca dan berusaha membendung air mata itu sama sekali tidak bergerak menatap mataku.
“Tak ada yang ingin kau katakan padaku min-ah?”, tambahku.
“….”
“Kalau begitu, lebih baik aku pergi dari sini..”,tambahku lagi.
Dia pasti kecewa padaku. Perlahan aku mencoba mengalihkan pandanganku darinya, aku kembali menatap jisoo yang berada tepat di belakangku, dan berjalan melewatinya. Tiba-tiba kudengar derap langkah yang mendekatiku. Dia memukul punggungku. Berkali-kali. Hanya dengan kekuatan yang tidak seberapa. Aku tahu hanya itu kekuatannya yang masih tersisa. Min-ah..
“PABO!! PABO!! PABOYA JIYONG-AH!!”
‘Bruuk’
Dia memelukku? Erat sekali..
“Kenapa kau bisa sebodoh ini?! Kenapa?! Kau ini cerdas oppaa! Apa yang telah kau perbuat? Aku ini hanya mencintai Kwon jiyong! Bukan yang lain, dan akan tetap seperti itu seterusnya! Bisa-bisanya kau menyuruhku mencintai orang lain! Aku tahu kalian berdua memang mirip, tapi aku bisa merasakannya oppaa, hati kalian berbeda! Dan harus kau ketahui oppaa, aku juga merasa aneh mencintai kembaranmu itu, aku berusaha meyakinkan dirinya itu kwon jiyong, tapi tak pernah bisa kutemukan. Kau jahat oppaa.. Sejak kapan kau berubah jadi orang yang mudah putus asa seperti ini?”
“Mianhae, min-ah..”
“Aku tidak butuh permintaan maaf darimu, aku hanya ingin kau mempertanggungjawabkan tindakanmu ini.”
“Baiklah.. Kau katakan saja apa yang harus aku lakukan.”
“Jangan pernah tinggalkan aku.. Suatu saat nanti kau harus menikahiku..”
Aku tidak salah dengar? Ini benar chagiya?
“Mwo?!”
“Maafkan aku ya oppaa, ini semua salahku.. Karena dua tahun yang lalu aku mengusirmu, maafkan aku oppaa.. Aku tidak tahu kalau itu dirimu.. Traumatik kecelakaan itu membuatku takut akan segala hal.. Butuh waktu yang cukup lama untuk kembali menjadi diriku yang biasa oppaa, diriku yang mengingat siapa sosok kwon jiyong itu.. Mianhaeyo oppaa.. Aku pasti telah membuat hatimu sakit.. Aku pasti telah menghancurkanmu dengan sikapku itu.. Kau jangan tinggalkan aku ya oppaa? Jebal.. Aku menerima kau apa adanya asalkan kau benar-benar jiyong-ku..”
“Gomawo chagiya..”
Aku berbalik dan memeluk minsoo. Aku bahagia dia dapat mengerti. Neomu haengbokhage..
“Tapi..kau tidak malu memiliki kekasih yang keadaannya seperti ini?”
“Malu? Untuk apa? Kau tidak pernah berubah di mataku, oppaa.. Dari dulu sampai sekarang, kau tetap kwon jiyong kan?”
“Ah..ne, kau benar chagiya..”
“Saranghaeyo jiyong-oppaa, my gold and diamonds boy!”
“Naddo saranghaeyo♥ chagiya.. Yeah, i’m gold and diamonds boy! Gomawoyo..”
*jisoo POV*
Benar, akhirnya semua bisa terselesaikan juga hari ini. Aku senang melihat hyung kembali bahagia seperti dulu lagi. Kau memang beruntung hyung memiliki yeoja seperti minsoo. Suatu saat nanti aku juga akan menemukan yeoja seperti minsoo, dia yeoja yang sempurna di mataku. Ani! Dasar jisoo-ah bodoh, sekarang minsoo sudah kembali pada hyung-mu. Jangan ingat-ingat lagi hari-harimu sebagai jiyong dulu, hahaha. Lalu, aku dengan siapa? Sora?
***THE END***