tumblr_ly58phPYk31qbbok4o1_500

Tittle        : Faith

Author     : Dinadubu

Genre      : Sad, Drama

Length     : One shoot

Main Cast :

– Kwon Jiyoung ( Bigbang)
– Choi Hyejin

Other cast :
– Other BigBang member

A/N       :   

First FF.. mudah-mudahan bagus yak.. aku bukan VIP tapi Shawol, kenapa bikin FF cast Bigbang? karena Jujur aja mereka punya image yang bener2 masuk ke otak author trus mainkan imajinasi author n cocok bgt buat dijadiin cast FF, apalagi Kwon Jiyoung🙂

Kalo ada kesamaan alur cerita, ide, atau plot author minta maaf itu karena tidak sengaja.. ini FF punya saya, Choi Hyejin adalah imajinasi saya, Kwon Jiyoung milik kalian *kekekke karena author shawol*.. silahkan baca, kritik dan saran tolong dikasih ya😀.. semuanya dari Author POV.. FF ini hanya di post di Blog author ( dinaondubu.blogspot.com ) dan di FB bigbang Fanficton.

Happy Reading ^^

Kwon Jiyoung, pemuda tampan, berbakat dan kaya, selama 25 tahun hidup dia tidak percaya dengan cinta. bagi yang sudah mengenal Jiyoung pasti tahu alasan mengapa dia tidak percaya cinta, hidup bergelimang harta memang menyenangkan tapi pasti ada konsekuensinya, yap Kwon Jiyoung tidak pernah kenal orang tuanya mereka terlalu sibuk karena urusan bisnis dan inilah yang membuat Jiyoung merasa tidak dianggap dan tidak dicintai, akhirnya dia menjadi seseorang yang dingin dan tidak percaya akan cinta.

Ditambah dengan meninggalnya sang Kakak tercinta karena kecelakaan 2 tahun lalu padahal hanya kakak perempuannya lah yang paling mengerti dirinya, dan hal ini membuat Jiyoung makin terpuruk.

seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun Jiyoung berada di Club untuk bersenang-senang.
“Jiyoung-ah, hey kau kemari lagi” kata Youngbae.

“Ck, memang aku mau kemana lagi, hanya disini aku punya teman” sahut Jiyoung sambil merokok, Youngbae yang mendengar itupun hanya bisa diam dan mengalihkan pembicaraan.

“Hey, kau tau sekarang Club milikku ini tidak hanya untuk musik keras saja, kemarin aku bertemu seorang wanita yang sangat membutuhkan pekerjaan dan dia pandai bernyanyi jadi aku membuat hari selasa ini dengan konsep romantis” jelas Youngbae.

“hahaha, romantis? aku tidak pernah tau apa itu romantis, ku pastikan setiap selasa aku tidak akan kesini” jawab Jiyoung.

“ya! kenapa begitu? padahal aku berencana memintamu untuk memainkan Gitar disamping wanita itu, aku tidak tau siapa lagi yang bisa memainkan gitar sebagus kau”.

“kalau kau mau cari pasti kau akan menemukan gitaris bagus”.

Pada saat yang sama datanglah wanita yang dibicarakan Youngbae.

“ah, itu dia, Hyejin-ssi” panggil Youngbae. wanita bernama Hyejin itu langsung menghampiri Youngbae.

Joisonghapnida sajangnim, saya terlambat” sahut Hyejin, dan pada saat itu Jiyoung menatap wanita itu, dan mendadak hatinya berdetak.

“Tidak apa-apa, toh belum ramai. ah, ini kenalkan sahabatku Kwon Jiyoung, Jiyoung-ah ini wanita yang tadi kuceritakan Choi Hyejin-ssi” Youngbae mengenalkan mereka satu sama lain.

Annyeonghasseyo Jiyoung-ssi, Joneun Choi Hyejin ipnida” sapa Hyejin dengan lembutnya membuat jantung Jiyoung ingin melompat.

“N,, Ne annyeonghaseyo, Kwon Jiyoungi eyo” jawab Jiyoung, dia tidak mengerti kenapa dia gugup. ini tidak pernah terjadi padanya. baginya wanita terlihat sama dimatanya, tapi kenapa wanita ini berbeda pikir Jiyoung. Youngbae pun melihat kejadian ini dengan heran, karena memang tidak biasanya Jiyoung terlihat gugup di depan wanita.

“Sajangnim.. saya siap-siap dulu”

“Ne Hyejin-ssi, semoga sukses” jawab Youngbae, dan Hyejin pun meninggalkan mereka berdua. Mata Jiyoung tidak mau lepas dari sosok Hyejin, pandangan matanya terus melihat Hyejin sampai wanita itu masuk ruang ganti, Youngbae menatap Jiyoung dengan geli.

“Aku tidak tau kalau tipe wanita seperti Hyejin-ssi itu kesukaanmu” kata Youngbae tiba-tiba sambil tersenyum jahil. Jiyoung menatap Youngbae sambil mengerutkan dahi.

“Apa maksudnya itu?”

“ck ck ayolah Jiyoung-ah aku kenal kau dari SD, dan aku belum pernah melihatmu menatap wanita seperti tadi” kata Youngbae, dan Jiyoung seperti bingung dan berpikir memang seperti apa tatapannya terhadap Hyejin tadi. “kau suka padanya?” tanya Youngbae tiba-tiba.

“hey hey Mr. Alim, apa yang kau pikirkan? aku tidak mungkin jatuh cinta, kau tau kan tidak ada kata cinta dalam hidupku?” Sahut Jiyoung dan langsung menegak minuman didepannya, sesaat hatinya seperti membantah kata-katanya sendiri.

“Bahagialah Jiyoung-ah” kata Youngbae, yang Jiyoung sangat tau apa arti dari kata-kata itu. 13 tahun mereka bersahabat, tidak mungkin kalau Youngbae tidak tau seperti apa hidup Jiyoung. Saat dua sahabat ini larut dalam pikiran masing-masing, terdengar suara lembut nan merdu menerpa club itu. Youngbae tau suara siapa itu karena dia pernah mendengarnya sekali, Jiyoung yang baru mendengar suara itu langsung mengangkat kepalanya dan mendapati Hyejin sedang menyanyi, dia terpaku dan menatap wanita itu dengan tatapan terkejut.

“You’re not alone” kata Youngbae, itu lagu yang sedang dinyanyikan Hyejin. Lagu dari King of pop Michael Jackson, Jiyoung masih terpaku dengan suara lembut itu dia seperti dibisikan oleh lirik-lirik dari lagu tersebut., Jiyoung seperti masuk ke dunia dimana hanya ada dia dan Hyejin.

Everyday I sit and ask myself
How did love slip away
Something whispers in my ear and says
That you are not alone
For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
But you’re not alone
-Michael Jackson,You’re not alone-

Alunan lirik yang mengalir lembutnya dan merdu dari suara Hyejin seperti membasuh Jiyoung, Jiyoung merasa seperti mendapatkan harapan untuk bahagia.

“Youngbae-ah, apa aku mimpi?” Youngbae yang sejak tadi menikmati suara Hyejin pun menoleh dan menatap sahabatnya ini.

“Apa aku masih bisa merasakan perasaan ini Youngbae-ah? Apa Tuhan mengizinkanku untuk mencintai?” tanya Jiyoung dengan tatapan masih terpaku kepada Hyejin. Youngbae menatap dalam-dalam ke Jiyoung.

“Tuhan selalu memberikan kesempatan sahabatku, aslinya sudah dari dulu Dia memberikannya hanya saja terkadang sebagai manusia kita tidak mengambilnya” sahut Youngbae

“Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba”

“Perasaan itu datang dengan sendirinya, Cinta memang membuat semua orang tidak mengerti, kau hanya perlu menikmati prosesnya saja Jiyoung-ah” kata Youngbae.

“Bilang padanya aku yang akan menemaninya diatas panggung itu minggu depan” Kata jiyoung tiba-tiba, dan dia menyambar jaketnya dan langsung berlari keluar.

“Yaa!! kau mau kemana?!” teriak Youngbae

“Membeli gitar dan berlatih” jawab jiyoung. Youngbae yang melihat Jiyoung seperti itu hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia.

“sudah saatnya bagimu untuk bahagia sahabatku” kata Youngbae tulus.

————00——————

“Youngbae-ah, bawa dia ke studioku aku ingin latihan dengannya.. apa?! kau belum memberitahunya?! … sudah bawa saja dia kesini.. ku tunggu setengah jam, awas kalau sampai kau tidak kesini bersamanya.. oh,. ppaliwa” Jiyoung menutup telponnya.

Semenjak bertemu Hyejin kemarin dia menjadi uring-uringan, yang dia pikirkan hanyalah menghabiskan waktu bersama Hyejin. Jiyoung termasuk pemusik yang berbakat, dia sempat menciptakan beberapa lagu sebelum akhirnya terpuruk dan kemarin saat membeli gitar dia menyadari bahwa dia tak bisa lepas seutuhnya dari musik, apalagi sekarang dia jatuh cinta karena mendengar suara wanita yang dari kemarin tak mau lepas dari otaknya.

“Kenapa lama sekali sih, bisa gila aku menunggu lama seperti ini” gerutu Jiyoung. dan tanpa dia sadari, kakinya membawanya mondar mandir di dalam studio dan membereskan yang sudah tidak perlu lagi untuk dibereskan.

“Sebentar kenapa aku harus gugup? ayo Jiyong-ah kau hanya akan latihan dan juga ada Youngbae, jangan membuatnya tertekan dan merasa canggung disini” oceh Jiyoung, dalam hati Jiyoung apakah memang seperti ini rasanya. tak berapa lama dia mendengar mobil Youngbae masuk ke perkarangan studionya, dan jantung Jiyoung berdegup dengan cepatnya.

Ting tong ting tong !

tanpa basa basi Jiyoung langsung membuka pintu, dan terlihatlah sahabatnya yang memasang wajah sebal.

“oh kau sudah datang” kata Jiyoung dengan tampang dingin, dan terlihatlah Youngbae bingung seperti mengatakan ada apa denganmu?

“Kenapa kau telpon aku mendadak youngbae-ah, untung aku tidak sibuk” lanjut Jiyoung yang masih akting. dan Youngbae hanya mendelik pada Jiyoung dan langsung ngeloyor masuk.

Annyeonghasseyo Jiyoung-ssi” sapa Hyejin, perasaan Jiyoung saat dipanggil namanya membuat hatinya dikelilingi kupu-kupu.

oh Annyeonghasseyo” balas Jiyoung dingin, dan langsung saja merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya menjawab Hyejin dengan nada dingin.

“aish kalian cepat masuk” mendadak Youngbae teriak, karena masih sebal dengan sikap Jiyoung tadi. saat Jiyoung melewati Youngbae, Youngbae berbisik

“kau harus membayarnya”

“Hyejin-ssi mulai selasa depan Jiyoung yang akan menemanimu bernyanyi, dia akan memainkan gitar disebelahmu” jelas Youngbae, dan dibalas dengan tatapan terima kasih dari Jiyoung.

Ah ne sajangnim” sahut Hyejin.

“Nah sudah kalau begitu, mulailah berlatih dengan Jiyoung aku ada urusan jadi ku tinggal” Jiyoung langsung menatap Youngbae dengan tatapan protes, dia tak tahu kalau Youngbae akan meninggalkannya.

“Jiyoung-ah antar dia pulang nanti, dan ku tunggu kau di restoran biasa” kata Youngbae, dan dia langsung pergi begitu saja.

Sesaat setelah Youngbae pergi, suasana canggung menyelimuti ruang studio yang mewah itu. Jiyoung masih bingung harus bicara apa, dan sepertinya juga Hyejin lebih tertarik dengan grand piano yang ada diruangan itu.
“Apakah kau bisa memainkan semua alat musik yang disini?” tanya Hyejin, dan ini membuat Jiyoung terkejut.

“ya sedikit, dan aku lebih suka gitar dari semua alat musik” jawab jiyoung datar. “berapa umurmu?”

“20 tahun, kalau Jiyoung-ssi?”

“25 tahun”

“oh, itu berarti kau oppa” kata Hyejin sambil tersenyum. Saat mendengar kata oppa Jiyoung seperti melayang.

“panggil saja aku oppa, apalagi kita partner kerja mulai sekarang” kata Jiyoung dengan ekspresi yang setengah mati ia tahan untuk tidak tersenyum.

“benarkah? wuahh Joaheyo.. keureomyeon.. Jiyoung oppa, kau boleh memanggilku dengan Hyejin saja”. dalam hati Jiyoung melompat-lompat kegirangan.

keure.. ayo latihan” ajak Jiyoung. “kau mau menyanyikan lagu apa? untuk pemanasan saja”

“Ehmm.. apa oppa bisa memainkan more than words? aku sangat suka lagu itu,”
“Tentu, semua gitaris pasti bisa memainkannya” kata Jiyoung sambil mengambil gitar dan memetiknya, Jantung Hyejin berdetak kencang saat melihat Jiyoung dengan indahnya memainkan gitar itu, lalu mereka berdua terhanyut oleh alunan suara gitar yang menyentuh sanubari dua insan tersebut, Hyejin pun mulai menyanyi.

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
‘Cause I’d already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you
-Extreem More than words-

ini adalah hal terindah yang lama tidak dirasakan Jiyoung, bernyanyi dan bermain gitar bersama wanita yang dia suka merupakan mimpi yang dia buang jauh dulu. Tapi, mimpi yang dia buang kembali menghiasi angannya yang mengharapkan cinta. Jiyoung berharap semua berakhir dengan indah, ya dia mengharapkan itu.
“Suaramu itu indah, kenapa kau hanya menjadi penyanyi di bar atau cafe? kau bisa rekaman dengan suara indahmu” kata Jiyoung. mereka mengobrol sejenak setelah berlatih sambil menikmati Coffe Latte.

“Ada banyak hal oppa yang membuatku membuang jauh mimpi menjadi penyanyi” Jawab Hyejin. “Mungkin kau akan sulit mengerti, karena ku lihat kau orang yang cukup berada” Lanjutnya.

“cih, kau hanya lihat luarnya saja Hyejin-ah, cukup berada bukan berarti cukup bahagia kan?” sahut Jiyoung, Hyejin memandang Jiyoung, saat dia hendak bertanya Jiyoung memotongnya, “mau keluar sebentar? sekalian ku antar” Jiyoung enggan menceritakan tentang masalahnya, karena dia merasa Hyejin akan menjauhinya setelah dia tau tentangnya, dan Jiyoung takut akan itu.

“baiklah” sahut Hyejin. mereka berdua berjalan menuju mobil Jiyoung. saat di dalam mobil mereka diam tak tau harus membicarakan apa, karena Hyejin merasa Jiyoung menghindari tentang pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadinya.

“kau kuliah?” tanya Jiyoung tiba-tiba

“tidak, aku tidak melanjutkan SMA-ku dulu”

“kenapa berhenti? masalah biaya?”

“tidak, aku pernah melakukan kesalahan fatal oppa dan ku pikir berhenti lebih baik” kata Hyejin. Jiyoung hanya melirik Hyejin, dia penasaran dengan cerita Hyejin tapi dia seperti tidak punya hak untuk bertanya lebih jauh. Jiyoung lebih memilih mengenal Hyejin secara pelan-pelan.

“kita mau kemana dulu oppa?”

“makan? aku tidak sadar kalau aku lapar dari tadi” Jawab Jiyoung. “kau makan apa?”

“terserah oppa saja, aku tidak pilih-pilih makanan kok”

“baiklah, kita makan *samgyeopsal saja” sahut Jiyoung dan langsung meluncur menuju restoran favoritnya.

Tidak berapa lama mereka berdua pun sampai di restoran favorit jiyoung. tidak berapa lama mereka duduk datanglah pelayan membawakan menu.

“Silahkan Tuan Jiyoung, anda mau pesan apa?” Hyejin yang mendengar si pelayan menyebut nama Jiyoung dengan sebutan tuan yakin benar kalau orang disampingnya bukan orang biasa.

“Kau mau apa Hyejin-ah?” Hyejin langsung sadar dari lamunannya, “eh, ehmm terserah oppa saja karena ini tempat favorit oppa berikan aku yang enak hehehhe.” kata Hyejin sambil nyengir.

“baiklah, berikan aku menu yang biasa saja dan jangan lupa soju ya” Kata Jiyoung kepada pelayan tersebut.

“baik Tuan, pesanan akan segera diantarkan. kalau ada apa-apa silahkan panggil saya. Permisi Tuan” Lalu pelayan itu pergi.

“apa mereka semua kenal denganmu oppa?” tanya Hyejin. Jiyoung hanya mengangguk dan mengambil rokok dari sakunya.

“Ini punya kakakku. semenjak restoran ini dibuka 3 tahun lalu, aku selalu datang kesini kalau sedang suntuk dirumah” Jelas Jiyoung dan sekarang sedang menyalakan rokoknya, Hyejin yang melihat adegan itu tiba-tiba merasa Jiyoung sangat seksi dan ‘deg’, jantung Hyejin berdetak dengan kencang. Dan Hyejin merasa wajahnya memerah dan dia mendadak gugup, Hyejin merutuki dirinya sendiri kenapa dia seperti ini.
pada saat yang sama Jiyoung menatap Hyejin dalam-dalam, dan dia menyadari ada yang aneh dari sikap Hyejin barusan, kenapa dia mendadak menundukan kepalanya.

“kau kenapa? sakit?” tanya Jiyoung. Hyejin mendadak kelabakan dan kaget

“ah, a.. aninyo Oppa, cuma sedikit panas” jawab Hyejin asal-asalan, Hyejin merasa orang paling bodoh di dunia ini kan musim dingin panas dari mana coba. Jiyoung sepertinya juga bingung, lalu dia meliaht sekelilingnya berpikir apa heaternya dinyalakan terlalu tinggi.

“panas? lepas saja jaketmu itu” jawab Jiyoung, dan pada saat yang sama pelayan datang menyajikan makanan yang tadi dipesan. Hyejin pun melepas jaketnya agar Jiyoung tidak bertanya lebih banyak. dan saat Hyeji melepas jaketnya, Jiyoung melihat bekas luka yang amat besar ditangan Hyejin.

“tanganmu..?” kata jiyoung, tak berani melanjutkan pertanyaannya takut Hyejin tersinggung.

“ah ini, ini luka yang ku dapat 2 tahun lalu, aku pernah kecelakaan.” Jelas Hyejin, dan dia tetap melanjutkan makanan. Jiyoung pun hanya diam dan melanjutkan makannya, mereka makan dalam diam dan masuk ke dalam pikiran masing-masing.

“apa kau mau menonton film? ada film bagus yang ingin ku tonton.” Ajak jiyoung. “kalau tidak mau tidak apa-apa lain kali juga bisa.”

keure, ayo nontooon!!!” Hyejin bersemangat sekali. Mereka berdua merasakan hal yang sama yaitu bahagia, Jiyoung yakin hanya Hyejin yang bisa membuatnya merasa hidup, dan Hyejin juga yakin hanya Jiyoung yang bisa membuatnya berarti.
malam itu keduanya pun menghabiskan waktu dengan berbagai macam kegiatan, saat ini mereka sedang didaerah Hongdae saat melihat-lihat barang antik di satu toko ada barang antik yang menarik minat mereka, sebuah harmonika tua berwarna perak.

oppa kau bisa memainkan harmonika?”

“aku? dulu aku sempat mempelajarinya.” jawab Jiyoung dan dia mencoba meniupnya, terdengarlah suara harmonika yang lembut. “suaranya Jernih sekali.”

“wuahh ayo kita beli oppa, biar kita bisa bernyanyi memakai harmonika itu.”

“baiklah, aku akan membuatkan lagu dan kita bisa bernyanyi dengan harmonika ini.” kata Jiyoung.

“Ahjussi, tolong yang ini.”

malam itu adalah malam yang paling berharga dalam hidup mereka, dimana perasaan sepasang insan terikat dengan kata terindah yaitu cinta, tapi cinta bisa membawa mereka kedalam ranjau yang sangat menyakitkan dan Tuhan menguji mereka sekali lagi dengan membawa nama cinta.

——00——-

Sudah sebulan sejak Jiyoung bertemu dengan Hyejin, dan mereka mulai mengenal satu sama lain walaupun belum mengenal tentang kehidupan pribadinya. minggu depan adalah hari ulang tahunnya, dia pikir ini waktu yang pas untuk mengajak Hyejin ke rumahnya. supaya tidak canggung Jiyoung juga akan mengundang beberapa temannya seperti Youngbae dan Daesung.

Sudah dari tadi Jiyoung menunggu Hyejin datang ke club milik Youngbae ini. setelah cukup lama menunggu sambil memainkan harmonika akhirnya Hyejin datang.

“Hyejin-ah” panggil Jiyoung. Hyejin mencari sumber suara yang memanggilnya dan dia langsung berjalan ke arah Jiyoung, Ah cantiknya pikir Jiyoung.

Annyeong oppa, apa oppa dari tadi disini?” tanya Hyejin

“oh, aku ada urusan tadi dengan Youngbae.”

“sajangnim dimana? biasanya dia selalu bersamamu oppa.”

“mungkin di ruangannya dengan Daesung.” Jawab Jiyoung, “Hyejin-ah, sabtu malam minggu depan ada waktu?” tanya Jiyoung

“minggu depan? ada kok oppa.. Waeyo?”

Ani, aku hanya ingin mengundangmu ke acara ulang tahunku.” Jelas Jiyoung

“Dirumahku.” lanjut Jiyoung. Hyejin seperti bepikir sebentar, karena dia tau Jiyoung bukan sekedar orang biasa, dia takut karena dia merasa levelnya jauh dibawah jiyoung.

“tidak apa-apa kah oppa aku datang kerumahmu?” tanya Hyejin takut-takut.

“kenapa juga harus tidak boleh, itu acaraku jadi aku berhak mengundang siapa saja kan” Jawab Jiyoung, “datanglah bersama Youngbae dan Daesung.” Hyejin hanya mengangguk pertanda setuju, walaupun Hyejin masih merasa takut.

Pada saat yang sama Youngbae datang bersama daesung bergabung dengan Jiyoung dan Hyejin, tak berapa lama handphone Hyejin berdiring.

Yeoboseyo, oh oppa.. oppa mau ke club? apa aku kelupaan sesuatu? oh mau mengantar kunci, oke tidak apa-apa, ne” Hyejin menutup telponnya, melihat pandangan bertanya Jiyoung kepadanya, Hyejin menjelaskan “ini oppa kandungku, dia ingin mengantar kunci apartemenku” Jiyoung hanya mengangguk mengerti.

“kalian berdua pacaran?” tanya Daesung tiba-tiba. Hyejin yang sedang minum tersedak dan Jiyoung tiba-tiba menjatuhkan rokoknya saking kagetnya.

“kalian seperti pasangan tau tidak?” lanjut Daesung.

“hahahha, Daesung-ah kau memang dongsaeng yang jeli hahaha, Ya Jiyoung-ah sudah sejauh itu kah kau dengan Hyejin?” goda Youngbae.

“Sajangnim, bukan begitu kok. kami hanya berteman saja” Jelas Hyejin gugup. Tiba-tiba Jiyoung memandang Hyejin,

“teman? ku pikir kita pacaran sekarang apalagi hampir tiap hari kta bertemu” kata Jiyoung, Hyejin menatap Jiyoung dengan pandangan tidak mengerti. Youngbae dan Daesung yang melihat kejadian ini hanya senyum-senyum tidak jelas.

“hahaha oppa jangan bercanda ah” kata Hyejin canggung.

“aku tidak bercanda Hyejin-ah” Jiyoung memandang Hyejin serius, dan membuat Hyejin berhenti tersenyum karena shock, “mau kah kau pacaran denganku?”

“Jin-ah” tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Hyejin, dan Hyejin tersadar dari rasa terkejutnya. Pria yang memanggil Hyejin tadi menghampiri tempat duduk mereka.

“oh oppa, cepat sekali” kata Hyejin yang nadanya masih terasa canggung.

“kau..” mendadak Oppa Hyejin kaget melihat Jiyoung dan Youngbae.

“dia Kwon Jiyoung kan?” Jiyoung kaget karena oppa Hyejin kenal dengannya tapi Jiyoung sama sekali tidak kenal.

“Choi Seunghyun?” kata Youngbae, Hyejin dan Jiyoung hanya saling bertatapan bingung.

“ini adikmu? berarti..” Youngbae menatap Jiyoung lalu ke Hyejin.

“Hyejin-ah ayo pulang, kau tidak usah bekerja lagi disini. oppa akan mencarikanmu kerja” orang yang bernama Seunghyun tadi menarik tangan Hyejin dan mereka berdua pun pergi, pada saat iti Hyejin menatap Jiyoung bingung, dan Jiyoung juga sama bingungnya.

“kau kenal oppanya Hyejin?” tanya jiyoung ke Youngbae, Youngbae hanya menatap Jiyoung dan melirik Daesung.

“ku serahkan padamu hyung, aku juga kaget dan kau yang tau cerita lengkapnya.” kata Daesung.

“Sebentar apa kalian menyembunyikan sesuatu?” tanya Jiyoung

“tidak menyembunyikan Hyung, kami tahu semua tapi Hyung dulu tak mau mendengarkan siapapun” Jelas Daesung

“ini tentang kakakmu Kwon Dami Jiyoung-ah” Youngbae menatap Jiyoung dengan sedih, Youngbae tak tau harus memulai dari mana. Jiyoung menunggu Youngbae melanjutkan ceritanya.

“ceritakan” perintah Jiyoung

“Kau tau bagaimana kakakmu dulu tewas dalam kecelakaan parah, apa kau tau penyebabnya?” tanya Youngbae, Jiyoung pun menggeleng. “Hyejin lah penyebabnya.” seperti tersambar petir, Jiyoung masih tak percaya dengan kata-kata Youngbae.

“apa maksudmu Youngbae-ah? jangan bercanda” kata Jiyoung dengan nada tidak percaya.

“dua tahun lalu..” Youngbae melanjutkan ceritanya ke Jiyoung, “dua tahun lalu, saat kakakmu mengalami kejadian itu kamera cctv menangkap bahwa mobil kakakmu menghindari sebuah motor yang dikendarai oleh anak SMA, itu Hyejin.” kata Youngbae.

“Dia belum mempunyai ijin pada saat itu, Hyejin berumur 18 tahun dan dia hanya mencoba mengendarai motor milik kakaknya Seunghyun, saat mengendarai motor tersebut Hyejin hilang kendali dan kejadian itu terjadi, kakakmu menghindari motor yang Hyejin kendarai lalu membentur tembok sebuah gedung tapi benturan yang terjadi terlalu keras dan menyebabkan kakakmu tidak selamat,” Youngbae memandang Jiyoung, dia tak tega melihat Jiyoung yang air mukanya menunjukan emosinya yang tidak menentu.

“Lanjutkan” kata Jiyoung.

“Orang tuamu tau tentang ini, saat melihat kau sangat terpukul mereka tak tega untuk memberitahumu detail kejadiannya. pada hari pemakaman, Seunghyun datang secara pribadi meminta maaf atas kejadian itu karena Hyejin depresi, makanya Seunghyun datang, Ibumu menerimanya dan dia menyuruh Seunghyun untuk tidak muncul didepan keluargamu karena takut kau akan nekat dan malah menyakiti Hyejin, kau benar-benar seperti hilang kendali waktu itu apalagi kau berkali-kali bilang akan membunuh siapapun yang menyebabkan kakakmu tewas. Orang tuamu memberikan uang yang cukup banyak agar Seunghyun dan adiknya Hyejin pergi jauh.” Jelas Youngbae.

“Hyejin keluar dari sekolah karena dicap pembunuh oleh teman-temannya, dan mereka benar-benar menghilang, hanya itu yang ku tau Jiyoung-ah” Youngbae diam dan menatap Jiyoung, dan tiba-tiba Jiyoung tertawa.

“hahahaha ini semua bohong kan Youngbae-ah, tidak mungkin wanita yang kucintai penyebab kematian Noonaku. itu tidak mungkin Youngbae-ah, tidak mungkin” Jiyoung menundukan kepalanya dan menangis, Youngbae hanya bisa menepuk pundak Jiyoung.

“Mungkin memang dia penyebabnya, tapi dia tak bermaksud seperti itu Jiyoung-ah. kakakmu sudah tenang disana, kalau kau memang mencintainya pikirkan juga perasaannya saat dia mengalami kejadian itu. ini juga berat untuk Hyejin.” mendadak Jiyoung berdiri dan mengambil kunci mobilnya “kau mau kemana?” Youngbae bertanya khawatir

“menemuinya, aku yakin kau berbohong padaku” kata jiyoung dan langsung berlari menuju mobilnya.

—–00——

Jiyoung masih berharap ini semua tidak benar, Noona yang dia sayangi melebihi apapun harus tewas karena kecerobohan orang, Jiyoung sudah sampai di apartemen Hyejin, tapi setelah memencet bel berulang kali tidak ada orang yang keluar. Diapun menelepon Hyejin, setelah menekan angka 1, telpon tersebut langsung tersambung.

“kau dimana?” kata Jiyoung

“ini Jiyoung-ssi?” Suara laki-laki yang menjawab dan Jiyoung terdiam, “aku Seunghyun kakak Hyejin”

“kenapa kau yang menjawab telponnya?”

“adikku tidak bersamaku dia kusuruh pulang kerumah bibiku, dan ku harap kau tidak menemuinya lagi Jiyoung-ssi”

“ini yang terakhir, ku mohon beritahu aku sekarang dimana dia, aku.. aku hanya ingin memastikan sesuatu” Kata Jiyoung dengan nada memohon.

“tidak ada yang perlu dipastikan Jiyoung-ssi, semua benar, ku harap kau menjauh dari Hyejin. Demi adikku dan kau juga, adikku masih merasa bersalah atas kematian kakakmu dan aku tak mau melihat adikku sakit lagi.” Jelas Seunghyun.

“apa dia tau aku adiknya Kwon Dami?”
“ya, Jin-i tau itu. aku memberitahunya tadi.” dan mendadak Jiyoung merasa sesak di dadanya, dan itu sangat menyakitkan.

“katakan padanya aku mencintainya, aku tak peduli.. aku tak peduli” Ratap Jiyoung ditelpon itu.

“ku harap kau mengerti Jiyoung-ssi, aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk tidak muncul dalam hidup kalian lagi, ku harap kau bisa mengerti seberapa penting janji itu.” Jawab Seunghyun sabar.

“Besok, katakan padanya untuk datang ke studio.. aku mohon Seunghyun-ssi. kalau memang dia tidak datang, aku akan melupakannya.” lalu Jiyoung memutus sambungan telpon itu.di satu sisi, Hyejin yang mendengar semua percakapan itu menangis sejadi-jadinya, rasa sakit yang dirasakan Hyejin melebihi rasa sakit apapun.

“oppa, aku mencintanya oppa” Kata Hyejin tersedu

“aku tahu, dia juga mencintaimu.” Jawab Seunghyun sambil memeluk dongsaengnya itu.

—–00—–

Hari ini, karena Youngbae khawatir dengan keadaan Jiyoung dia memutuskan datang ke studio dimana Jiyoung menyendiri. Youngbae masuk kedalam studio dan melihat Jiyoung hanya termenung sambil memegang sebuah harmonika. Youngbae pun hanya menghampiri dalam diam dan duduk didekat Jiyoung, mereka menikmati kebisuan yang terjadi Youngbae terlalu mengerti Jiyoung, hanya dengan duduk diam Youngbae tau perasaan yang dirasakan Jiyoung.

“Hari ini aku akan menunggunya disini Youngbae-ah, aku telah menitipkan pesan kepada kakaknya.” kata Jiyoung dengan nada melamun. “Jika hari ini dia tak datang, aku akan menuruti ayahku untuk tinggal di Amerika .” lanjut jiyoung

“Kau yakin dia datang?”

“Yang ku yakini hanyalah aku mencintainya Youngbae-ah, sangat mencintainya.” jawab Jiyoung tersedak. Youngbae terdiam dan ikut larut dalam kesedihan sahabatnya ini, Jiyoung mengambil gitar dan mulai menyanyi.

han yeojaga meoreojyeoga namjaneun norae bureujiman nunmuri naneungeol ibyeoriran
neol manjilsuga eomneungeol I know yeah eh tteoreojineun nal jabajwo Hello
I hate this love song I hate this love song
I hate this love song I hate this love song
I hate this love song I hate this love song
I hate this love song I hate this love song
I sarang noraega sirheo dasin an bureuri neoreul tteoolliji anke ijeulsu itge
I sarang noraega sirheo useumyeo bureuri geudaega oeropji anke jigeum neoegero nan ooh ooh ooh ooh ooh ooh hoo nan ooh ooh ooh ooh ooh ooh hoo
-Big Bang Love Song-

Lirik lagu ini membuat Jiyoung makin masuk ke dalam perasannya, dan tanpa mereka berdua sadari bahwa Hyejin sudah diluar studio dari tadi dan mendengar percakapan mereka sambil menangis. Hyejin berpikir kalau ini sudah selesai, dia harus melupakan Jiyoung dia tidak bisa memaafkan dirinya membuat Jiyoung sempat menderita karena ulahnya. Ini adalah bayaran yang pantas untuknya karena membuat satu keluarga menderita. Hyejin pun pergi, memutuskan ini yang terbaik untuk Jiyoung.

—–00—–

Sudah seminggu semenjak Jiyoung tau kebenaran yang menyakitkan dan hari dimana dia menunggu Hyejin di studio menghancurkan hatinya sekali lagi karena Hyejin sama sekali tidak datang, hari ini ulang tahunnya dan besok dia sudah tidak di Korea lagi. Dia menuruti kata Ayahnya untuk melanjutkan bisnis keluarga di Amerika, dan dia masih berharap ingin menemui Hyejin. Saat sedang melamun, ada sebuah sms masuk ke handphonenya dari Youngbae.

“aku menemukannya,bersiap-siaplah aku akan menjemputmu sekarang”

sesaat Jiyoung merasa tak percaya, Youngbae menemukan Hyejin dan tanpa pikir panjang lagi dia menyambar jaket dan sepatunya dan berlari keluar rumah menunggu Youngbae. setelah menunggu Youngbae sekitar 15 menit akhirnya Youngbae datang, dan Jiyoung langsung masuk ke mobil.

“kau temukan dia dimana?” tanya Jiyoung

“saat aku sedang makan di restoran kakakmu, aku melihatnya sedang menunggu taksi tanpa basa basi aku mengambil mobilku dan mengikutinya, dia tinggal bersama kakak dan bibinya setelah menunggu sebentar ku lihat bibinya keluar dan aku mencoba mengobrol dengannya. Hyejin dari dulu memang hanya tinggal bersama kakaknya, orang tuanya entah pergi kemana, hanya bibinya itu yang masih mau menerima Hyejin dan kakaknya, makanya Seunghyun menuruti permintaan kedua orang tuamu untuk menjauh dengan imbalan uang untuk mempermudah Hyejin melepas depresinya yang berat.” Cerita Youngbae cepat.

“aku tidak tau dia menderita lebih lama dariku Youngbae-ah, kenapa aku tidak menyadarinya.”

“ini bukan salahmu, semua sudah berjalan sebelum kau mengetahuinya. itu rumah bibinya apa kau mau ku antar?” tawar youngbae.

“tidak usah kau tunggu disini saja.”

“baiklah, pergunakan waktumu.” Jiyoung pun meninggalkan mobil Youngbae dan berjalan menuju rumah yang ditunjuk tadi, lalu dia memencet bel rumah itu tak lama kemudian muncul seorang ibu paruh baya yang membukakan pintu.

Nuguseyo?” tanya Ibu itu.

Annyeonghasseyo Ahjumma, aku teman Hyejin apa Hyejin ada?” tanya Jiyoung, dan pada saat yang bersamaan Seunghyun muncul,

“Dia tidak disini, dia bilang dia tidak akan muncul lagi didepanmu, hari ini dia berangkat ke jepang.” Jawab Seunghyun.

“tidak mungkin, Youngbae tadi memberitahuku bahwa dia ada disini. KAU BOHONG.” Lalu Jiyoung berlari masuk kerumah itu, dan segera ditahan Seunghyun.

“Ku sarankan kau segera pergi, kau membuat Hyejin makin merasa bersalah.” Suara Seunghyun tegas, tapi jiyoung tidak peduli dan terus berteriak memanggil nama Hyejin.

“Hyejin-ah ku mohon keluarlah sebentar, CHOI HYEJIN!!! AKU MENCINTAIMU, AKU AKAN BERANGKAT KE AMERIKA KU TUNGGU KAU BESOK DI STUDIO KITA HYEJIN-AH” teriak Jiyoung.

di dalam rumah tersebut Hyejin menangis tak karuan, dia ingin sekali berlari keluar dan memeluk Jiyoung tapi rasa bersalah ini masih menggelayut erat di hati dan tubuhnya. setelah beberapa lama sudah tidak ada lagi suara Jiyoung atau siapapun, Jiyoung pergi setelah Youngbae menariknya pulang setelah mendengar teriakan Jiyoung. Hyejin hanya terdiam dan terisak keras, sampai dia merasakan pelukan hangat.
“kau harusnya tidak menanggung ini semua sendirian Jin-ah” kata Seunghyun. “benar kau tidak menyesal?”

“aku akan lebih menyesal lagi kalau Jiyoung sampai hidup dengan seorang pembunuh Oppa.” jawab Hyejin tersedu.

—00—

Hari ini hari terakhir Jiyoung berada di Korea, dan dia masih menunggu Hyejin di studio. Youngbae yang menemaninya pun ikut gelisah.
“Kau harus berangkat sekarang Jiyoung-ah, pesawatmu 1,5 jam lagi berangkat.” ajak Youngbae. Jiyoung hanya menatap Youngbae dan pada saat itu pintu studio terbuka, Choi Seunghyun masuk kedalam studio.

“Adikku tak bisa datang, ini dia menitipkan ini untukmu. ku harap kalian berdua bisa memberikan waktu untuk kalian sendiri.” Kata Seunghyun dan dia memberikan secarik kertas dan sebuag CD ke Jiyoung, Jiyoung menerimanya. “Hyejin berpesan, supaya kau membacanya di pesawat jadi tak ada alasan kau melarikan diri dari tugasmu sebagai anak” Lanjut Seunghyun.

Jiyoung memandang kertas itu lalu memasukan kedalam saku jaketnya, lalu dia mengeluarkan harmonika yang dia beli bersama Hyejin bulan lalu.
“Seunghyun-ssi, Tolong berikan ini kepada Hyejin katakan padanya aku mencintainya semenjak pertama dan katakan kepadanya juga supaya dia menungguku, menungguku pulang dan menjemputnya.” Jiyoung pun menyerahkan harmonika itu. Lalu Seunghyun pun pergi setelah memeluk Jiyoung erat. Jiyoung pun beranjak dari studio itu bersama Youngbae.

“Kebahagiaanmu sudah tercapai dapat Jiyoung-ah, kau hanya tinggal menikmati proses menuju kebahagiaan yang lebih sempurna.” Kata Youngbae.

“Ya.. Kau benar, aku hanya tinggal menjalani prosesnya saja.” dan dua sahabat itu pun berjalan ke arah mobil untuk ke airport.

—00—

Jiyoung sudah berada di dalam pesawat, dia duduk lalu mengambil kertas yang diberikan Seunghyun tadi dan mulai membacanya.

Annyeong Oppa.. heheheh maafkan aku tidak bisa menemuimu, aku masih belum berani untuk berhadapan denganmu.

oppa maafkan aku, aku tidak tau harus membayar dengan apa supaya kau mau memaafkanku. aku merasa bersalah atas semua yang ku lakukan padamu, aku mengambil Noonamu dan membuatmu menderita.

oppa, aku sempat membenci dunia ini kenapa aku harus mengalami semua ini tapi pandangan itu berubah semenjak aku bertemu oppa..

oppa, apakah kita bisa bersama lagi? walau aku hanya bersama oppa sesaat tapi aku tau hatiku tak bisa berbohong. oppa, apakah aku masih pantas menunggumu? apakah aku masih pantas untuk mencintaimu? itu lah hal menakutkan yang mengahantuiku..

oppa, aku berharap waktu dapat membuatku berani menghadapimu nanti.. oppa sehatlah disana, dan bahagialah ku harap kau tidak menderita lagi disana..

oppa CD ini tidak berisi apapun, mau kah kau memenuhi permintaanku? di dalam CD ada sebuah lirik yang ku tulis, mau kah oppa membuat melodinya.. itu adalah isi hatiku selama menunggumu oppa..

oppa, apakah ini takdir kita?

oppa, Bahagialah..
Aku mencintaimu..
C. Hyejin..

Setelah membaca surat tersebut Jiyoung membuka CD yang diberikan bersama surat tadi, dan disana tertulis “Blue” dan Jiyoung membaca lirik tersebut.

Gyeouri gago bomi chajaojyo urin sideulgo
Geurium soge mami meongdeureotjyo

(i’m singing my blues)
Paran nunmure paran seulpeume gildeullyeojyeo
(i’m singing my blues)
Ddeungureume nallyeobonaen sarang oh oh

Gateun haneul dareun got neowana wiheomhanikka
Neoegeseo ddeonajuneun geoya
Nimiran geuljae jeomhana bigeobhajiman
Naega motna sumneun geoya
Janinhan ibyeoreun sarangui mallo
Geu eoddeon maldo wiro dwel suneun eobtdago
Ama nae insaengui majimak mello
Magi naeryeo-oneyo ije

Tae-eonaseo neol mannago jugeul mankeum saranghago
Parake muldeureo sirin nae maeum
Nuneul gamado neol neukkil su eobtjanha

Gyeouri gago bomi chajaojyo urin sideulgo
Geurium soge mami meongdeureotjyo

(i’m singing my blues)
Paran nunmure paran seulpeume gildeullyeojyeo
(i’m singing my blues)
Ddeungureume nallyeobonaen sarang oh oh

Simjangi meojeun geot man gata jeonjaengi ggeutnago
Geu gose eoreo buteun neowana
Nae meorissok saegyeojin trauma i nunmul mareumyeon
Chokchokhi gieokhari nae sarang
Gweropjido oeropjido anha haengbogeun da honjatmal
Geu isange bokjaphan geon mot chama
Daesurobji amureojido anha
Byeolsueobtneun banghwang saramdeureun watda ganda

Tae-eonaseo neol mannago jugeul mankeum saranghago
Parake muldeureo sirin nae maeum
Neoneun ddeonado nan geudaero itjanha

Gyeouri gago bomi chajaojyo urin sideulgo
Geurium soge mami meongdeureotjyo

Oneuldo paran jeo dalbicharae-e na hollo
Jami deulgetjyo
Ggumsogeseodo nan geudaereul chaja
Hemaeimyeo i noraereul bulleoyo

Jiyoung pun merasa sesak, dia pun menangis. Dia berjanji bahwa dia pasti kembali, dengan hati yang lebih mantap dan pada saat itu dia bisa meyakinkan Hyejin bahwa dia tidak akan menderita.

—FIN—