BE HONEST2

Title : Be Honest

Author : Izharin

Cast :

Kwon Jiyong as Jiyong

Choi Jin Rie as Jin Rie ( OC)

Lee Seunghyun as Seungri

And Bigbang Members

Genre : Sad (?) , Romance , Friendship

Rating : G

Length : One Shoot

Diss :

Mencintai adalah suatu perasaan yang tentunya dapat menentramkan setiap jiwa insan yang merasakannya. Karena dengan perasaan cinta, sebuah keegoisan dan kepicikan dapat teredam dengan sempurna. Namun bagaimana bila perasaan itu dipendam ? apakah “cinta” masih akan menentramkan jiwa? Jika tidak, apakah diperlukan sebuah kejujuran untuk menyatakannya? Apa sebuah kejujuran itu penting dalam cinta?

A/N :

well ini adalah FF jaman dahulu kala yang hampir tidak ada proses pengeditan didalamnya -_____- dan hanya dikerjakan kurang dari 3 jam -,-. Ga sengaja nemu di tumpukan document2 lama saya. Tapi daripada membuluk, membusuk atau keburu basi, mending saya share aja disini. Hitung-Hitung sharing (?) . psssttt !! saya butuh banget kritikan, saran dan masukan dari kalian xD . satu lagi !! ini FF OS yang paling panjang buat saya

– Happy Reading ^^  –  

Bigbang Dorm’s at 08.00 PM KST

Diruang tengah berdominasi warna nila itu, seorang namja tengah sibuk  duduk santai seraya menonton televisi yang menyiarkan berita mereka. Baju lengan pendek berdomisili jepang, serta celana jeans hitam pendek selutut nampak membaluti tubuh kurusnya. Namja itu tengah asyik tersenyum sendiri sambil sesekali meneguk cola yang sedari tadi diminumnya.

TING ! TONG !

Sedang asyik-asyiknya menonton tivi, namja itu dikejutkan dengan suara bel yang berasal dari luar dorm mereka.

“Seungri, buka pintunya. aku malas” seru namja itu meninggikan suaranya, berharap maknae bigbang tersebut bisa mendengarnya.

“aku lagi mandi Jiyong Hyung”  jawab sang Maknae terdengar agak kabur, suara basnya agak tenggelam oleh suara shower air dikamar mandinya.

Karena member yang lain tengah keluar, dengan terpaksa Jiyong harus membukanya. Diiringi decakan kesal, Jiyong kemudian bangkit dari tempatnya duduk dan segera membuka pintu kecoklatan tersebut.

“sia-“

Jiyong tak dapat melanjutkan kalimatnya setelah melihat sosok gadis cantik yang tengah berdiri dihadapannya, sosok yang beberapa menit lalu mengganggu aktivitas menontonnya.

Gadis itu bertubuh mungil dengan wajah yang sangat cantik, kedua matanya memiliki bola berwarna gold brown terang. Rambut berwarna kayu manisnya  terlihat panjang bergelombang dan menampilkan kesan halus. Ditambah lagi dengan dress hitam semi formal selutut yang melengkapi kecantikannya. Gadis itu nampak tersenyum manis pada dirinya.

Namun bukan kecantikan itu yang membuat Jiyong terkejut, melainkan wajah dari sang gadis yang sangat dikenalnya.

Iyaa….. sangaaattt….

“Jin Rie?” seru jiyong mencoba memastikan gadis yang berada dihadapannya memang seorang gadis yang dikenalnya.

Gadis itu melemparkan senyum lebarnya

Annyeong, bagaimana kabarmu?”

“kau benar Choi Jin Rie ?”

“tentu saja, menurutmu aku siapa ?”

DEG !

Setelah memastikan gadis itu, jiyong merasa dadanya kini mulai berdetak tak normal. Detakannya terasa lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Tak terasa wajahnya terasa panas.

Jin Rie, benarkah Gadis yang ada dihadapannya adalah Choi Jin Rie? Sahabatnya dari kecil ? benarkah dia Jin Rie yang dulu tega meninggalkan dirinya ke amerika untuk melanjutkan studinya?  Benarkah?

Dan benarkah gadis itu Jin Rie yang sampai sekarang masih sangat dicintainya?

“hey??” gadis itu, Jin Rie, mencoba menggoyangkan tangannya tepat didepan wajah Jiyong, berharap namja didepannya bisa tersadar, Karena sedari tadi lelaki itu tak memberikan respon apapun setelah melihatnya.

“ah, iya maafkan aku Jin Rie. Kau apa kabar?” Jiyong kembali mengeluarkan suaranya, pandangan matanya tak pernah lepas dari bola mata kecoklatan milik Jin Rie.

“aku baik-baik saja. sudah lama sekali yah kita tak bertemu” serunya kembali mengeluarkan senyum indahnya, membuat dada Jiyong lebih bergejolak tak menentu.

Jiyong kemudian ikut tersenyum “baguslah kalau kau baik-baik saja. ada apa kau kesini?”

Mendengar pertanyaan itu, Gadis bertubuh mungil tersebut sedikit menundukkan kepalanya dan mengeluarkan semburat merah dipipinya, Jin Rie tersipu malu.

“ah, Jin Rie, ada apa kesini?” terdengar suara namja dari arah belakang Jiyong, membuat keduanya segera menghentikkan obrolan mereka dan melirik pemilik suara tersebut.

“Se-seungri?” seru Jiyong kemudian menatap heran maknae bigbang yang sudah memakai kaos putih berlengan pendek dengan celana panjang kebiruan berbahan katun tersebut.

Seungri kemudian melangkahkan kakinya menghampiri mereka dan segera melemparkan senyum manisnya pada Jin Rie, membuat Jiyong kembali melemparkan pandangan herannya.

“ada apa semalam ini kau kesini Chagiya?“ Tanya seungri seraya menggenggam lembut pundak Jin Rie

DEG !

Jiyong merasakan kembali dadanya bekerja kian cepat dan tak menentu.

Apa maksud seungri dengan chagiya ?

Jin Rie kemudian merogoh tas kecil hitamnya dan mengambil sebuah ponsel yang sudah sangat dikenal oleh Jiyong

“ini ponselmu ketinggalan. Kau ini memang ceroboh sekali. kalau aku tak kembalikan sekarang, bagaimana coba kau menghubungiku?” Gadis itu menautkan kedua alisnya seraya memanyunkan bibirnya, membuat Seungri segera mencubit kedua pipi milik Jin Rie dengan gemas.

“maaf aku lupa. Tapi makasih yah Chagiya, oh iya mumpung kau disini, bagaimana bila kau masuk dulu?”

Jiyong tak mungkin salah dengar, sudah jelas ia mendengar seungri menyebut gadis yang dicintainya tersebut dengan “chagiya”. apa itu berarti?

“bolehkan dia masuk Hyung?” tanya seungri seraya menatap jiyong. Namja dihadapannya itu hanya menganggukan kepalanya lemah.

Seungri pun mempersilahkan Jin Rie untuk masuk, diikuti oleh Jiyong yang segera menutup pintunya. ketiganya kemudian duduk dikursi ruang tamu yang sebelumnya terasa nyaman untuk jiyong, sampai akhirnya sekarang ia merasa kursi yang didudukinya terasa begitu menyakitkan.

“oh iya Hyung, ini Jin Rie, Yeojachinngguku

DEG !

Mendengar pernyataan yang lebih jelas daripada terkaan yang dibayangkan sebelumnya, membuat dada jiyong kini terasa sesak. Ia merasa tubuhnya mematung, tak dapat merespon apapun. Kerongkongannya tercekat dan wajahnya terlihat sangat pucat. Sejenak ia merasa seperti sedang dilempar seseorang dari gedung tingkat tinggi.

Sejak kapan Seungri punya pacar? Sejak kapan maknae kesayangannya itu punya kekasih yang sangat dicintai olehnya? mengapa seungri tak pernah memberitahukan hal ini padanya?

“Pa-Pa-pacamu seungri?” tanya Jiyong parau. Kini keringat mulai keluar dari pelipis wajahnya.

Seungri dan Jin Rie terlihat melirik satu sama lain, dan tersenyum. Seungri pun akhirnya mengangguk mantab.

Dada jiyong kini sudah tidak lagi terasa sesak, namun berganti menjadi rasa sakit yang luar biasa. Anggukan dan senyuman tulus seungri yang harusnya membahagiakan Jiyong tersebut malah menyakiti hatinya. Anggukan dan senyuman yang bahagia itu malah menghancurkan hatinya seketika.

Jiyong menyembunyikan salah satu tangannya dibalik tubuh kurusnya, mengepalkannya dan mulai meremas dengan keras kepalan tersebut. nafasnya kini mulai tersengal tatkala Seungri dan Jin Rie saling tersenyum satu sama lain menyiratkan rasa kasih sayang mereka berdua. Tubuh Jiyong lemas melihatnya.

Untuk menahan  keluarnya bulir-bulir air mata, Jiyong mencoba menggigit bibir bawahnya dengan keras, berusaha menggantikan bulir air mata tersebut dengan sebuah kesakitan fisik.

Tubuhnya kini mulai bergetar dan dadanya terasa semakin sakit melihat keduanya. Tak mau terlihat lemah, Jiyong kemudian bangkit dari tempatnya duduk dan segera memutar tubuhnya untuk membelakangi 2 insan tersebut.

Tepat beberapa detik setelah dirinya berpaling, bulir-bulir air mata akhirnya terjatuh dari kelopak matanya dan segera membasahi pipi putih miliknya, menandakan sebuah kelemahan memang terjadi pada dirinya. Rupanya Jiyong memang tak bisa menahannya, ia memang terlalu lemah.

“loh Hyung, kau mau kemana?” tanya seungri kemudian ikut bangkit dan menghampiri Jiyong. Namja itu kemudian menepuk pundak Jiyong dari belakang.

“a-aku mau keluar sebentar” Seru Jiyong berusaha mengeluarkan suara riangnya.

Dengan cepat, Jiyong segera memakai sepatu kets hitam miliknya dan berlari keluar, meninggalkan ekspresi heran diwajah seungri.

*BE-HONEST*

Malam ini Jiyong merasa hatinya hancur berkeping-keping, bahkan sepertinya telah berserakan disembarang tempat. Penantiannya sia-sia, penantian selama 3 tahun itu terasa sia-sia baginya.

Gadis itu, Jin Rie, gadis yang paling dicintainya sedari kecil, Gadis yang dari dulu menganggapnya sahabat, Gadis yang akhirnya meninggalkannya sebelum ia sempat mengutarakan perasaannya.

Tapi ini semua memang bukan salah gadis itu, jelas ini salahnya. Selama 14 tahun, Jiyong memang terlalu takut mengungkapkan perasaan cintanya pada Jin Rie. Gelar sahabat yang terjalin diantara keduanya, membuat Jiyong takut mengutarakannya hingga menunda semuanya. Selain itu, jiyong memang terlalu meremehkan keadaan. Selama ini ia selalu berpikiran bahwa Jin Rie yang selalu mengandalkan dan berada disampingnya tak mungkin pergi dari sisinya. selama ini ia selalu mengira Jin Rie akan terus mengikuti dirinya seperti dulu bagai seorang adik yang nurut pada kakaknya. Itu semua berakhir, Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk melanjutkan studinya ke amerika dan meninggalkannya sendiri disini. Bahkan Sampai detik terakhir kepergian gadis itu, Jiyong masih tak bisa mengutarakan perasaan yang telah dipendamnya selama 14 tahun tersebut.

Ia memang lelaki kikuk yang sangat bodoh. Bahkan terlalu bodoh untuk ukuran seorang lelaki …..

Selama ini Jiyong tak pernah berpikiran Jin Rie akan meninggalkannya atau bahkan berpacaran dengan lelaki lain. Jiyong selalu merasa dirinyalah yang pantas mendampingi gadis itu, ia selalu berpikir bahwa hanya dia yang dapat membahagiakan Jin Rie, ya … hanya dia. Namun kini pikiran itu salah total, setelah dengan mata kepala sendiri ia melihat Maknae kesayangannya itu yang justru  mendapatkan hati Jin Rie.

Seandainya ia dulu bisa lebih jujur pada gadis itu….

Seandainya ia tak pernah menunda segalanya…..

Jiyong masih tetap berjalan tanpa arah. Kedua kakinya terlihat masih dilangkahkan namun pikirannya tak bisa menentukan kemana jalan yang akan ditujunya. Ia hanya akan terus berjalan sampai perasaannya terasa lebih baik, walau ia yakin, perasaannya tak akan pernah membaik.

Namja itu kemudian menghentikan langkahnya. Tangannya kini merogoh kantung celanannya dan mengambil dompet kecoklatan ber-label “Crocodile” miliknya. Perlahan ia membuka lipatan dompet tersebut dan melihat sebuah foto  kecil terpampang disana. Bukan foto keluarganya, bukan juga foto teman terdekatnya ataupun foto member Bigbang. Disana hanya terpampang foto sederhana dengan ia dan Jin Rie sebagai subjeknya. Keduanya menampakkan wajah bahagia, terlihat gadis tersebut tengah menjulurkan lidahnya seraya mengangkat kedua tangannya membentuk “V” sign. Sedangkan jiyong yang berada tepat disampingnya, merangkul pundak sang wanita dengan senyum lebarnya. Jiyong ingat sekali itu adalah foto yang diambil ketika kelulusan, foto terakhir yang ia punya dengan Jin Rie…

Foto Perpisahan mereka….

Setelah 3 tahun tak bertemu, jiyong ingin sekali memeluknya. Jujur, tadi Ia ingin sekali merengkuh tubuh mungil milik Jin Rie, membelai rambutnya dan mengatakan perasaan yang sudah lama terpendam tersebut. Namun ia tak bisa melakukannya, ia tak akan pernah bisa. Kini Jin Rie bukanlah punyanya lagi, Jin Rie bukanlah gadis yang akan mengandalkan dan berada disampingnya lagi, kini gadis itu mempunyai lelaki yang lebih penting dari status “sahabat” nya dengan jiyong. Status “Kekasih”, status yang dapat meluluhlantahkan peran Jiyong dalam kehidupan Jin Rie, status yang menjadi tembok penghalang 14 tahun peran penting jiyong dalam kehidupan Jin Rie.

BRUGH !!

Jiyong segera tersadar dari lamunannya ketika tubuh kurusnya dihantam oleh tubuh seseorang. Namja itu tidak terjatuh, tubuh kurusnya dapat menahan hantaman tersebut, ia hanya terdorong kebelakang sedikit. Hal ini berbeda dengan orang yang menghantamnya, orang tersebut terlihat segera tersungkur ke jalanan berbahan aspal tersebut. Melihatnya, jiyong tak tinggal diam, namja itu segera menghampiri orang yang menghantamnya.

Jiyong segera menempatkan tubuh kurusnya dengan bertumpu pada kedua lututnya  “Gwenchana?” tanyanya ramah pada orang yang masih sibuk menepuk-nepuk bajunya yang terlihat kotor terkena debu jalanan.

Orang tersebut kemudian menengadahkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya “Yongie, sampai kapan kau mau ceroboh seperti ini sih?”

DEG !

Mendengar nama kecil yang hanya diucapkan oleh seseorang, Jiyong pun membulatkan kedua matanya seraya mendekatkan wajahnya pada orang tersebut. Dan ternyata tebakannya memang tepat, orang itu adalah Jin Rie, satu-satunya orang yang memanggil namanya dengan “Yongie”.

Dan bukankah Jin Rie sedang didormnya? Kenapa sekarang gadis itu bisa tepat berada dihadapannya?

“Maaf Rie, aku melamun”

Jin Rie kemudian menjulurkan lidahnya sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri, gadis itu kini melipat kedua tangannya didada.

“Dasar pelamun hebat”

Mendengar ledekan tersebut, jiyong kemudian mengukir senyum diwajahnya seraya bangkit dari tempatnya jongkok. Namja itu kemudian mengulurkan tangannya pada Jin Rie, seolah mengajak gadis itu untuk berjabat tangan.

“Selamat datang di korea Choi jin Rie” seru Jiyong tersenyum manis

Jin Rie pun mengulas senyum dan segera menyambut tangan besar milik namja bertubuh kurus tersebut.

“Aku pulang Kwon Yongie”

Keduanya Pun tertawa bersamaan, diiringi semilir angin malam yang menyapu lembut wajah dan rambut mereka. Senyum riang Jin Rie, wajah bahagia yang sempat menghilang selama 3 tahun kini hadir kembali didepannya, senyum tulus yang selalu membuat perasaan Jiyong nyaman.

“Mengapa kau tak pernah menghubungiku di amerika?” jiyong berpura-pura menampilkan wajah cemberut khasnya seraya membuang mukanya kearah lain.

Jin Rie melirik tempat sekitar sejenak, berharap dapat menemukan tempat yang nyaman untuk mereka berdua dapat bercakap-cakap lebih lama. Tak lama, akhirnya kedua mata kecoklatan bulat miliknya dapat menangkap keberadaan bangku panjang berwarna hijau yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“akan kuceritakan” gadis itu kemudian menarik lembut lengan panjang jiyong dan mengajaknya untuk duduk dikursi tersebut.

Jiyong pun hanya menurut.

Mian Yongie, di amerika aku sibuk sekali. jadwal kuliah benar-benar padat, aku benar-benar tak ada waktu buat melakukan hal lain, untung saja sekarang aku sudah lulus” jelas Jin Rie sambil mendengus kesal.

Jiyong kemudian tersenyum melihatnya, namja itu tak membalas perkataan Jin Rie.

“Yongie, apa kau marah? Maaf aku bukannya tak mau menghubungimu, aku hanya sibuk sekali” kini Jin Rie mendekatkan wajahnya pada Jiyong dan menampilkan wajah penyesalannya.

Sekali lagi, Sungguh ia sangat senang sekali melihat semuanya ini. semua ekspresi wajah Jin Rie yang sempat menghilang dari kehidupannya, kini hadir kembali. ekspresi senyum Jin Rie yang selalu menambah semangatnya, Ekspresi sedih Jin Rie yang selalu membuatnya ingin melindungi gadis itu, serta ekspresi cemberut khas Jin Rie yang selalu membuat Jiyong terkekeh geli melihatnya. Semuanya membuat Jiyong semakin mencintai Gadis yang sekarang ada dihadapannya tersebut.

“aku tak marah, aku paham” jawab jiyong masih tersenyum.

Jin Rie kemudian mengangkat jempolnya keatas sambil melemparkan senyum terlebarnya, menampilkan gigi-gigi putih miliknya “kau memang sahabatku yang paling pengertian”

Kata-kata “sahabat” yang dikeluarkan Gadis tersebut sontak menyirnakan seketika senyuman manis yang terukir diwajah Jiyong, menggantinya dengan lekukan bibir datar untuk Jin Rie.

Entah kenapa kata “sahabat” kini bagaikan pedang tajam yang dengan segera dapat menghunus hatinya sampai bagian terdalam. Dari dulu memang kata-kata inilah yang membuat jiyong tak pernah berani melangkahkan kemajuan hubungannya dengan Jin Rie.

Sahabat….

Mungkin Jin Rie hanya menganggapnya sahabat selama ini….

yah pasti begitu….

Jiyong tahu gadis itu tak berkata salah padanya, namun entah kenapa perkataan itu membuat jiyong merasa sangat kecewa. Dengan wajah datar, lelaki itu kemudian bangkit dari tempatnya duduk “dimana sekarang kau tinggal? Mari kuantar. Sekarang sudah malam”

Gadis itu kemudian mengikuti langkah jiyong “Tak usah diantar, aku tinggal di apartemen dekat sini kok. Aku pulang dulu ya” serunya kemudian segera berpamitan dan melangkahkan kakinya menjauhi jiyong.

Mengetahui jawaban itu, tanpa dikomando Jiyong segera menghampiri Jin Rie dan menerjang dengan erat lengan gadis itu, membuat Jin Rie akhirnya memutar kembali tubuh mungilnya.

Ia tak ingin berpisah secepat ini dengan Jin Rie, ia belum mau meninggalkan malam indah ini bersama Jin Rie, jiyong masih ingin berada disisi Jin Rie…

Setidaknya untuk malam ini…

Jin Rie  tersentak “ada apa Yongi?”

Melihat tatapan yang tertujukkan untuknya, Jiyong kembali tak dapat menyuarakan isi hatinya. Lemah ! dia memang lemah pada tatapan lembut milik Jin Rie tersebut, terlalu lemah.

“ah, tak apa. hati-hatilah Rie” akhirnya jawaban itulah yang keluar dari bibir mungilnya. Perlahan namja itu melonggarkan genggamannya pada Jin Rie dan menarik garis bibirnya dengan lebar, membiarkan gadis itu untuk pergi dari hadapannya.

Jin Rie pun membungkuk sejenak, kemudian segera pergi dari hadapannya. Jiyong hanya memperhatikan sosok Jin Rie sampai akhirnya sosok tersebut hilang dari pandangannya. Namja itu menundukkan kepalanya seraya menghembuskan nafasnya panjang.

“kau memang bodoh Kwon Jiyong” katanya pelan seraya menepuk-nepuk pelipisnya.

*BE-HONEST*

Siang terik itu, Jiyong tengah sibuk menulis lirik lagu didalam kamarnya. Hari ini memang tak ada jadwal bagi BIGBANG untuk perform, apalagi jadwal solonya. Lebih tepatnya ia diberikan hari libur oleh presiden YG, Yang Hyun Suk. Awalnya Jiyong berniat untuk bermain keluar, namun akhirnya niat itu ia batalkan seiring dengan rasa malas yang tiba-tiba menerjangnya. Kini Ia lebih memilih duduk dikamar berukuran 825 x 600 m itu, menyeruput teh hangat kesukaannya, dan menekuni hobi kecilnya sejak dulu, menulis lirik lagu.

Kebetulan member lain seperti daesung, taeyang, seungri dan TOP sedang sibuk dengan pekerjaan mereka Masing-masing. Semenjak berakhirnya konser alive Tour, mereka memang jadi jarang berkomunikasi satu sama lain, dan hal ini membuat kelimanya jadi jarang pergi bersama-sama lagi seperti biasanya.

Jiyong mengetukkan kepalanya dengan pulpen, mencoba memikirkan lirik lagu yang pantas untuk dijadikan sebuah lagu. Namja itu memang tidak sedang membuat album baru, bisa dibilang ini hanya perbuatan isengnya disela hari liburnya.

jiyong hyung”

Mendengar namanya dipanggil, Jiyong memutarkan kursi pekat hitam miliknya kearah sumber suara tersebut. terlihat maknae bigbang sedang menyelinapkan kepalanya disela pintu kecoklatan milik jiyong, membuat Jiyong akhirnya menguntai sedikit senyuman.

“ah, seungri, masuklah”

Tanpa ragu, Seungri pun segera masuk dan duduk diatas kasur empuk milik jiyong. Namja itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna kemerahan dengan bentuk hati dari kantong celanannya dan segera memberikannya pada Jiyong.

“apa ini?” dengan ragu Jiyong segera meraih kotak tersebut. Tatapan matanya beradu dengan kotak indah berbentuk hati tersebut. Tanpa membuang waktu, Jiyong membuka kotak itu perlahan dan sangat terkejut ketika kedua matanya mendapati keberadaan 1 buah cincin bulat titanium dengan sebuah permata kecil menghiasinya, sungguh indah dan menawan, membuat jiyong serta merta melirik seungri.

“Besok aku akan melamar Jin Rie, dan tadi aku membelikan cincin itu untuknya” jawab Seungri sambil tersipu.

Mendengar itu, Jiyong kembali merasakan sesak didadanya. Otaknya masih tak mau menerima semua perkataan seungri, begitupun dengan hatinya. Ia merasa ini terlalu cepat, semuanya terlalu cepat. Baru kemarin dirinya bertemu dengan gadis yang paling dicintainya, baru kemarin dirinya bisa melihat semua keindahan yang ada pada Jin Rie, dan sekarang Seungri ingin mengambil keindahan tersebut dengan mencoba melamarnya?

Jiyong menarik nafasnya pelan, merilekskan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya

“Benarkah? Apa tidak terlalu cepat? “

“Memang, aku baru menjalin cinta dengannya selama 3 bulan. Namun aku yakin ini tak terlalu cepat. Tak ada istilah terlalu cepat dalam menyatakan sesuatu, kalau cinta harus segera dilakukan. Sebelum semuanya terlambat” Jawab seungri mantap

DEG !

Perkataan seungri berhasil menusuk hati jiyong dan meremukannya. Semua perkataannya benar-benar tepat, semuanya benar-benar mengiris hati jiyong. Memang seharusnya tak ada yang ditunda, seharusnya sejak dulu Jiyong tahu soal ini, seharusnya ia tahu Jin Rie tak akan selamanya berada disampingnya, seharusnya sudah sejak dulu ia menyatakan perasaan menggebu-gebu itu pada gadis yang paling dicintainya.

yah sekali lagi ia merasa bodoh….

Jiyong menutup kotak tersebut dan kembali memberikannya pada Seungri.

“kapan kau akan melamarnya?” tanya Jiyong seraya mengeluarkan senyum datarnya.

“Besok malam” jawab seungri dengan wajah berbinar. Namja itu kemudian membuka Kotak berbentuk hati tersebut dan tersenyum lebar melihatnya.

“kalau dia menerima, aku pasti akan menjadi lelaki paling bahagia didunia ini” lanjutnya disertai semburat kemerahan yang mulai menjalar di wajahnya

Jiyong sedikit menyunggingkan senyumnya “kalau kau bahagia, aku pun bahagia” serunya sambil menepuk pundak maknae tersebut.

Detik berikutnya, Seungri sudah memeluk Hyungnya itu dengan erat, membuat jiyong serta merta hanya menarik nafasnya panjang serta memejamkan kedua matanya.

Gomawo hyung

*BE-HONEST*

Malamnya…

Jiyong tengah duduk didepan televisi, pandangan matanya memang tertuju pada tivi flat 36 inchi yang berada didepannya, namun pikirannya telah melayang ke alam lain. Suara tivi yang sedang menampilkan acara komedi kesayangannya, kini tak bisa membuatnya tertawa sama sekali, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

“Jiyong!!!” Seorang namja menepuk keras pundak Jiyong dari belakang, membuat namja kurus itu segera melihatnya

“ah, youngbae, kau sudah pulang?”

Youngbae mengangguk pelan, kemudian ikut duduk disamping Jiyong.

“kalau yang lainnya sudah pulang? TOP Hyung dan daesung?”

Mendengar itu, Youngbae mengambil remote tivi, mengecilkan volumenya dan segera merubah posisinya menghadap jiyong. kedua mata kecoklatan milik youngbae nampak lekat menatap namja didepannya dengan penuh keheranan.

“ha? Mereka pulang lebih dulu dari aku, apa kau tak melihat kedatangan mereka?”

Jiyong membelalakan matanya mendengar perkataan yang dilontarkan Youngbae,

ah, dia sama sekali tak menyadari kedatangan mereka. Apa ini karena dirinya sedari tadi sibuk melamun?

“oh iya? Mungkin ini karena suara tivi yang terlalu besar. Atau pendengaranku memang terganggu yah?” kini Jiyong memaksakan bibirnya untuk tertawa.

Youngbae pun ikut tersenyum seraya membelai pundak Jiyong dengan lembut “kau ini memang pabo

Hyung !!!! main yukkkk” Tiba-tiba terdengar suara namja bersuara cempreng yang segera menghampiri mereka dan mengambil posisi untuk duduk disebelah Youngbae. Namja itu masih memegang handuk kecil berwarna putih sambil berusaha mengeringkan rambut putihnya yang basah akibat aktivitas keramas kilatnya.

“mau main apa?” tanya Youngbae kini menghadap Daesung.

“Truth or Dare gimana ?” jawab daesung mengeluarkan killer smilenya. Namja itu kemudian menaruh handuk kecil disampingnya dan sedikit mengibas rambut semi bold miliknya.

Akibat kibasan maut daesung, titik air yang berpusat di rambut daesung kini berpindah ke wajah Youngbae, membuat namja itu akhirnya menatap daesung tajam “kau ini! kau sudah kebelet ikut iklan shampoo yah? “ tanyanya seraya menghapus titik air diwajahnya. Daesung pun hanya menggeleng pelan seraya menampilkan wajah melasnya, berharap youngbae tidak memarahinya.

Melihat candaan yang dikeluarkan youngbae, jiyong sama sekali tak memberikan respon tertawa seperti biasa, namja itu malah menghembuskan nafasnya sejenak, kemudian mempererat genggamannya pada bantal kecil sofa yang sedari tadi dipegangnya.

“teman-teman !!!!! lihat ini… aku bawa apa”

“TOP  Hyung kembalikan.”

Baru saja ketiganya ingin mulai bermain ketika tiba-tiba mereka melihat TOP dan seungri sedang terlibat kejar-kejaran. TOP membawa sebuah barang digenggaman tangannya sambil berusaha menunjukkan barang tersebut pada member yang lainnya. seungri yang terlihat tak mau kalah terus mengejar TOP mengelilingi ruangan tersebut.

“Youngbae tangkap !”

Dengan cepat TOP melempar barang tersebut dan reflex Youngbae menangkapnya dengan sempurna. Daesung yang melihatnya hanya mengacungkan jempolnya keatas pada Youngbae, berbeda dengan Jiyong yang lebih senang menenggelamkan wajahnya ke bantal sofa berwarna coklat tersebut.

“wuaah cincin !!! ini cincin !!” seru youngbae histeris ketika membuka kotak merah berbentuk hati tersebut, membuat Jiyong kemudian tersentak dan mengalihkan pandangannya mengamati cincin yang sedang dipegang youngbae. Daesung dan TOP pun segera menghampiri youngbae dan ikut menatap cincin indah itu.

Seungri yang sudah tertangkap basah tertunduk lemah seraya melangkahkan kakinya mendekati para Hyungnya  disofa tersebut.

“Buat siapa ini seungri?” tanya Daesung sambil menatap seungri dengan heran.

Seungri kemudian duduk disebelah Jiyong dan segera menyenggol pundak Hyung kesayangannya tersebut, seakan meminta pertolongan darurat pada Jiyong.

Jiyong melirik seungri seraya menepuk paha maknae tersebut.

“jawablah seungri”

Seungri tertunduk sejenak kemudian menjawab dengan mantab “buat pacarku”

“WAAAAAAAH?” mendengar itu semua para hyung terlihat sangat kaget, semuanya kemudian menatap tajam wajah seungri, berharap namja itu mau menceritakan semuanya.

“Namanya Choi Jin Rie, gadis yang kutemui 5 bulan yang lalu di amerika” seru seungri memulai ceritanya.

DEG !

Jiyong mulai kembali merasakan dadanya berdegup kencang. Tatapan matanya kini tertuju pada seungri, sama dengan yang lainnya.

“Setelah konser Alive Tour di amerika, aku tak sengaja menabrak tubuhnya”

Setelah konser alive tour? Bukankah itu artinya jiyong juga ada ditempat yang sama dengannya? bukankah mereka melakukan konser bersama? Selama disana jiyong selalu mencoba mencari keberadaan Jin Rie, selama disana Jiyong tak pernah lelah mencari alamat gadis itu walau tak pernah menemukan hasil yang signifikan, namun mengapa malah Seungri yang dipertemukan dengan gadis yang dicintainya? mengapa Justru seungri yang mudah sekali mendapatkannya? Mengapa rasanya dunia begitu tak adil pada jiyong?

“ketika tabrakan itu, aku tentu saja meminta maaf. Sejenak aku menatap wajahnya dan ternyata gadis itu adalah orang korea yang cantik sekali.”

Jiyong menundukkan kepalanya, sungguh ia merasa seungri sangat licik sekali.

“Namun tak ada perkenalan disana. sampai esoknya aku bertemu lagi dengan dia disebuah café” lanjut seungri diiringi wajah tersipunya.

Jiyong tetap menundukkan kepalanya. Entah kenapa sekarang ia benci sekali dengan senyum bahagia yang terus merayapi wajah seungri.

Seungri kemudian menyambar cincin yang masih dipegang taeyang dan menatap keindahan mata cincin yang kini bersinar  akibat pantulan lampu diruang tamu mereka.

“aku rasa ini takdir, aku ditakdirkan bersamanya” lanjut seungri mengakhiri ceritanya.

TOP menautkan alisnya seraya memanyunkan bibirnya “mana ceritanya? Hanya itu saja? dari mulai bertabrakan , ketemu di café dan langsung kau bilang takdir? aish, kau membuang waktuku saja seungri” TOP mendengus kesal, kemudian mengambil langkah untuk meninggalkan mereka semua.

“TOP Hyung  benar ! kau juga membuang waktuku untuk ber-masker ria” kali ini giliran daesung yang bertindak. Namja berhidung besar tersebut mengambil handuk basah yang sedari tadi disimpannya dan segera melemparkannya kearah sungri, membuat namja yang telah mengakhiri ceritanya itu hanya terkekeh geli. Daesung pun mengikuti langkah TOP untuk pergi kekamarnya sendiri.

Seungri melirik Taeyang sejenak “Hyung tak marah juga padaku?”

Taeyang bangkit dari tempatnya duduk kemudian menepuk bahu seungri pelan “tidak, aku tahu semua orang berhak punya privasi” jawabnya diiringi senyum khasnya,

“kalau kau jiyong? kau tak marah pada seungri?” Kini giliran taeyang melirik jiyong. namja berambut Mohawk itu menghampiri jiyong dan membelai sedikit punggung milik jiyong.

Jiyong menengadahkan kepalanya, dan segera bangkit dari sofa itu

“tidak, aku hanya ingin tidur” katanya ngeloyor pergi.

*BE-HONEST*

“kalau cinta harus segera dilakukan.”

Jiyong menyenderkan tubuh kurusnya dikasur empuk miliknya, pandangan matanya menerawang langit-langit kamar berwarna kebiruan tersebut.

“tak ada kata terlalu cepat untuk menyatakan perasaan pada seseorang”

Entah kenapa semua perkatan seungri beberapa hari yang lalu sangat membekas dihatinya, perkataan itu tak bisa menghilang dari relung pikiran sempitnya.

“Harus dilakukan sebelum terlambat”

Seungri benar, seungri benar-benar tepat. Semuanya harus dilakukan sebelum terlambat, semuanya harus dilakukan !

Jiyong segera bangkit dari kasurnya dan menyambar jaket kulit hitam miliknya. Ia ingin segera menemui Jin Rie, ia ingin mengungkapkan semuanya pada gadis itu, semuanya harus dikatakan…

Namja itu kemudian keluar dari rumah dan berlari menuju rumah Jin Rie, kemarin Seungri sempat mengatakan kalau malam ini dia akan melamar gadis itu tepat didepan rumah sang gadis, dengan polosnya seungri memberitahukan alamat rumah Jin Rie pada jiyong, membuat jiyong dengan mudah akhirnya tahu alamat rumah itu.

Jiyong mempercepat langkah kakinya, ia tak mau terlambat lagi, ia tak mau lagi kehilangan Jin Rie untuk yang kedua kalinya. Cukup 3 tahun saja, cukup 3 tahun saja ia merasakan sakitnya ditinggal oleh wanita yang paling ia cintai, 3 tahun sudah lebih dari cukup untuk kehilangan Jin Rie,

Jiyong tak peduli jika seungri akan memarahinya nanti, ia tak peduli jika maknae kesayangannya itu marah besar padanya. Ia hanya ingin menyatakan semua perasaan yang mengganjal itu, semuanya dari awal hingga akhir.

Jiyong terus berlari hingga tak terasa kaki berbalut sepatu hitam miliknya itu menginjak paku tajam yang ada dijalanan beraspal tersebut

“ARRGHHH!” Jiyong segera terduduk akibat sakitnya paku yang kini tertancap tajam dikakinya. namja itu terus mengerang  hingga akhirnya ia teringat akan tujuannya  menyatakan semua perasaan terpendamnya pada Jin Rie

“ah, sial! Sakit sekali” dengan cepat Jiyong menarik paku yang tertancap itu, membuangnya dan segera bangkit dari tempatnya.

Namun seolah tak terjadi apa-apa, namja itu kemudian berlari kembali dengan cepat. Kaki kanannya nampak terus mengeluarkan darah hingga meninggalkan bercak darah disetiap langkah kakinya. Walau terasa sakit, jiyong terus berlari, walau harus berlari terseok-seok, jiyong tak berhenti dari langkahnya. Semua rasa sakit ini tak akan pernah bisa membayar sakit dihatinya kini, ini semua tak berarti apa-apa.

Dengan kaki yang masih terasa nyut-nyutan, jiyong masih berjuang berlari. Kini darah dikakinya keluar semakin banyak karena dipaksa oleh pemiliknya untuk terus berlari walau sesungguhnya ia tak kuat untuk melanjutkannya. Jiyong meremas kepalan tangannya dengan keras, berusaha menahan pedihnya luka di kakinya tersebut. Keringat dingin mulai keluar dari pelipis dahinya dan bibir kemerahannya mulai memucat. Sekali lagi, jiyong tak peduli, ia tak peduli seburuk apapun kondisinya sekarang, semua harus dikatakan, hanya itu tujuannya.

Akhirnya dengan penuh perjuangan, jiyong sampai didepan rumah milik Jin Rie. Namja itu pun segera bersiap mendekati pintu rumah ketika tiba-tiba pintu utama berwarna hitam tersebut terbuka, membuat jiyong dengan cepat segera bersembunyi dibalik pagar hitam tinggi rumah itu.

“Terima kasih Jin Rie, aku sungguh mencintaimu” seru seorang namja tersenyum manis pada gadis dihadapannya.

Jiyong menyelinapkan kepalanya sedikit, ia mendapati seungri serta Jin Rie tengah berbicara didepan pintu tersebut.

Jin Rie terlihat tersenyum lebar “Nado saranghae seungri…”

DEG !

Jiyong dapat mendengar semuanya dengan jelas, perkataan itu, perkataan Jin Rie itu cukup membuka lebih lebar luka dihatinya.

Detik berikutnya jiyong dapat melihat seungri merengkuh gadis itu dan membelai rambut hitamnya dengan lembut. Terlihat keduanya kemudian berciuman dengan lembut, serta tersenyum manis setelahnya.

Melihat senyum indah milik Jin Rie, jiyong tak bisa melakukan itu semua. ia tak mau pernyataan egoisnya untuk tetap mengatakan rasa cintanya pada Jin Rie malah akan menghilangkan senyum indah itu. Ia tak mau perasaan sepihaknya malah akan membuat Jin Rie menaruh rasa benci padanya. Jiyong lebih siap menahan terus menerus rasa sakit itu daripada harus membuat gadis yang dicintainya kecewa.

Kini Seungri berlutut pada Jin Rie seraya menggenggam erat pergelangan tangan milik gadis itu “maukah kau menikah denganku Jin Rie?”

Jiyong menundukkan kepalanya lemah, ia tak bisa berbuat apapun

“tentu saja” jawab Jin Rie dengan riang yang akhirnya membuat seungri kembali memeluk gadis itu dan mencium keningnya lembut.

Jiyong menarik nafasnya panjang, mencoba tersenyum bahagia dibalik rasa sakitnya. Tak terasa wajahnya terasa sangat panas, sudah ada beberapa  air mata yang menggenang disudut pelupuk matanya, Siap untuk jatuh dan menunjukkan kembali kelemahannya.

Ia terlambat….

Sekali lagi ia terlambat…

Wajah bahagia Jin Rie, wajah indahnya, wajah cerianya kini akan resmi menjadi milik seungri, milik lelaki yang paling disayangi Jiyong sendiri.

Jiyong menundukkan kepalanya lemah, kaki kanannya masih sibuk mengeluarkan darah segar, semakin lama darah yang keluar semain banyak, hingga membuat cairan kental berwana merah pekat itu segera menggenang di atas aspal dengan cepat. Kehilangan banyak darah, membuat warna wajah jiyong terus memutih, wajah pucatnya semakin terlihat jelas.

Keringat kini terus membasahi wajah dan tubuhnya, sekali lagi ia menarik nafasnya panjang, mencoba terus menahan rasa pedih di kakinya yang kini mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Hembusan nafasnya mulai tak beraturan, hembusan nafas itu terasa begitu menyakitkan disetiap tarikannya.

Jiyong ingin pergi dari sana … Jiyong ingin pergi dari tempatnya berdiri….

Namun kakinya tak bisa diajak kerjasama lagi kali ini, kedua kakinya menolak menggerakkanya. Kedua kakinya tak memberikan respon apapun disaat dirinya mencoba melangkah. Jiyong menyerah….

“Terima kasih seungri, terimakasih untuk mengembalikan senyum indah itu padaku…. Terima kasih untuk membawanya kembali dalam kehidupanku, walau akhirnya aku tak bisa mengatakannya, aku senang…” Seru Jiyong parau setengah berbisik, pandangan matanya mulai terasa kabur, hingga detik berikutnya namja itu limbung dan terjatuh, membuat tubuh kurusnya segera menghantam badan jalanan dengan keras.

BRUGH !

Mendengar ada bunyi yang aneh, Seungri dan Jin Rie segera berlari menghampiri sumber suara. Mereka terlihat kaget mendapati Jiyong telah pingsan dengan banyak darah tergenang disana.

“Jiyong Hyung……!!!!!!!!!!!!!”

END OF STORY ~~~~~~~

EPILOGUE

10 bulan sebelumnya…

“Jin Rie, adakah pria yang paling kau cintai didunia ini?”

“ada, hanya ada satu pria yang selalu mengisi hati ini… hanya satu”

“siapa dia? Apa dia berada di korea?”

“iya Craig, dia di korea, namanya Kwon Jiyong”

“apa kalian pacaran?”

“tidak…. Aku rasa ia tak pernah punya perasaan padaku, ia tak pernah menyatakan cintanya padaku, ia hanya menganggapku sahabatnya. Mungkin ini lebih seperti cinta sepihak”

“cinta sepihak? Benarkah?”

“Iya, benar… padahal selama ini, aku selalu menunggu pernyataan cintanya padaku ….”

“mungkin aku harus menyerah mengharapkan cintanya ….”

-“ I’ve been hopeless too much, I’ve been thinking of him too much, until my feeling feel soo tired. But why i cant tell this feeling to Him ? why i can’t be honest to him? “-

Well sudah selesai -________-”  maaf kalau masih banyak kurang2nya , yah namanya juga masih belajar !! but i hope you can crizite me about it ,,,,,,

THANK YOU FOR READING🙂