Who’s In Your Heart ?

Cast                                       :

GD               as Kwon Jiyong

CL                as Lee Chaerin

Dara             as Sandara Park

TOP             as Choi Seunghyun

Kwon Dami  as Kwon Dami

Genre                                  :  Sad, romantic

Length                                 :  Doubleshoot

Disclaimer                           : Plot cerita milik saya, cast silakan dibagi bagi deh.

Ps  :

Akhirnya setelah berhiatus sekian lama , lahir juga ini ff #ngelapkeringet Oke readers , seperti biasa , saia mengharapkan kritik , saran , komentar dan juga masukan buat perbaikan di ff mendatang. Mianhae kalo cerita gaje, typo, pengetikan masih berantakan, alur kecepetan. Makasih juga buat admin yang mau ngepost ni ff gaje. If you like, please read it and comment please. If you don’t like it, don’t read it and don’t bash it.

Twitter                                :  @trianazulfa2012

=HAPPY READING=

#Chaerin POV

Aaahh, aku tak tau kenapa aku mempunyai perasaan seperti ini pada namja itu. Perasaan ini mengalir apa adanya tanpa bisa ku kontrol. Seperti tanaman, perasaanku padanya jika ku cabut paksa, justru hal itu makin membuat perasaanku makin bertambah. Jika ku injak, justru perasaan ini makin tidak terkendali.

Aku tidak tau harus melakukan apa, rasanya sudah hampir putus asa hanya karena ini. Mengatakan perasaanku padanya bukanlah satu-satunya jalan terbaik yang bisa ku tempuh. Aku tidak ingin menyakiti perasaan sahabatku sendiri. Aku tidak ingin disebut-sebut sebagai perusak hubungan mereka.

Aku memilih diam, tetapi tidak dengan hatiku. Perasaan ini kian hari makin tumbuh subur dan berkembang tanpa ada kendali, sekali aku mencabut paksa, maka dua kali lipat perasaan ini akan tumbuh berkembang.

Setiap kali aku ingin menangis, ku kuatkan diriku dengan memutar lagu “Baby Don’t Cry”.

Namun terkadang bulir-bulir di pelupuk mataku sudah membuat pandanganku menjadi kabur, mereka semua berkumpul pada pelupuk mataku dan siap untuk meluncur membuat parit-parit di sekitar pipiku.

Pada lagu itu terdapat lirik, sayang, jangan menangis. Walaupun kau menangis, tak akan mengubah apapun.

Hal itulah yang menjadi pendirianku, aku berusaha menguatkan diri agar tidak menangis karena memang benar, hal itu tak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.

Namun tak seterusnya aku bisa menahannya, terkadang aku menangis sendiri, tak tau harus berbuat apa.

Aaahh, why you cann’t say you love me too? Itulah pertanyaan yang selalu ada dalam pikiranku yang aku sendiri pun tak tau kapan itu akan segera terjawab.

Aku mengenal namja itu terlebih dahulu daripada sahabatku, Dara. Tetapi mengapa Dara yang terlebih dahulu mendapatkan hati namja itu. Mengapa bukan aku?

Apa aku harus menunggu lebih lama agar dia mengerti seperti apa perasaanku padanya.

Aku paling benci ketika namja itu mengacak pelan rambutku. Ahh, tidakkah kau tau kalau kau melakukan itu, maka perasaan ini akan terus berkembang tanpa bisa kuhentikan.

Pernah suatu ketika karena aku tak tahan lagi dengan perlakuannya dan aku membentaknya, tanpa sengaja aku berteriak ke arahnya tentang ketidaksukaanku akan perlakuannya padaku.

“Ya, aku tidak suka saat kau memperlakukan hal seperti itu padaku.” Bentakku.

Dengan wajah heran, namja itu bertanya, “Wae geure?”

“Tidak taukah kau, setiap kau melakukan hal seperti itu padaku makin membuat perasaanku semakin berkembang tak terkendali terhadapmu? Setiap kali aku berusaha mencabutnya, perasaan itu dua kali lipat berkembang tanpa bisa ku hentikan!” seruku tak terduga padanya.

Menyadari aku baru saja mengatakan hal terbodoh sepanjang hidupku, segera saja aku berlari menghindar darinya.

Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian aku selalu mencoba menghindar dari pandangan namja itu.

Setiap mulai terlihat siluet tubuhnya, aku lebih memilih menghindarinya dan mengambil jalan memutar agar sebisa mungkin aku tak bertemu dengannya.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku dihadapannya karena kebodohan yang kulakukan beberapa hari yang lalu padanya.

Akhirnya hari ini aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Itu terjadi karena aku tidak menyadari keberadaannya di depanku. Ketika aku menyadarinya dia tepat ada dihadapanku, sudah terlambat untuk mencari arah jalan memutar. Ketika jarak kami semakin dekat, aku berdo’a agar dia tidak melihatku.

Ketika kami berpapasan, ku kira dia benar-benar tak melihatku. Tapi aku salah, tiba-tiba dia menarik tanganku lembut.

DEG !

“Matilah akuuuuuu.” Rutukku dalam hati

Tiba-tiba dia berkata, “Hei, kenapa kau selalu menghindariku? Apa salahku? Kenapa kau selalu memilih jalan memutar saat melihatku?”

“Omo, dia mengetahuinya ternyata! Harus ku jawab apa?” keluhku dalam hati.

“Eeerrr, kau tidak salah apapun, aku hanya ingin jalan memutar saja.” Jawabku sekenanya.

“Bodoh bodoh bodooohhh!! Kenapa aku jawab seperti itu? Ah, ya sudahlah.” Rutukku pasrah dalam hati.

“Kau ini, aneh-aneh saja! Kajja ke kelasmu, sekalian aku ingin menemui Dara.” Jawabnya santai sambil mengacak pelan rambutku.

“Ugh, apa beberapa hari yang lalu tidak terjadi apapun huh? Apa aku tidak mengucap hal sebodoh itu? Kenapa reaksinya biasa-biasa saja seperti tak pernah terjadi apapun?” tanyaku dalam hati yang saat ini memenuhi otakku.

#Chaerin POV end

#Jiyong POV

Ah, kali ini aku bertemu dengannya. Akhirnya setelah sekian lama dia selalu menghindariku dan memilih jalan memutar, akhirnya hari ini dia mengurungkan niatnya.

Aku tau sebenarnya dia ingin menghindariku lagi hari ini, itu terlihat dari ekspresi mukanya yang terlihat kaget sekaligus bingung mencari jalan memutar, tapi sepertinya dia terlambat menyadari keberadaanku sehingga dia tidak ada pilihan lain selain tetap melanjutkan arah langkahnya.

Kulihat bibirnya berkomat-kamit, mungkin berdo’a, atau entahlah. Kemudian ketika kami semakin dekat dan berpapasan, ku tarik lembut tangannya. Dia menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut.

Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Dia seperti takut jika aku membahas kejadian beberapa hari yang lalu.

Memang aku cukup terkejut dengan apa yang dia katakan beberapa hari yang lalu. Ku akui, dia begitu pintar menyembunyikan perasaannya selama ini.

Dari dulu memang dia selalu bisa menyembunyikan perasaannya. Itu terbukti ketika dia sewaktu kecil pernah terjatuh saat dia belajar naik sepeda. Padahal lututnya berdarah lumayan banyak, tapi ekspresi mukanya tidak terlihat meringis kesakitan.

Aku yang berniat untuk menanyainya tentang hal kemarin, mengurungkan niatku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak membahasnya, dan mengganggap hal itu tak pernah terjadi.

Dengan wajahnya yang bingung itu, makin menambah kepolosan pada wajahnya, dan membuatku ingin mencubit kedua pipinya dengan gemas.

#Jiyong POV end

#Chaerin POV

Sesampainya di Kelas Chaerin dan Dara ..

“Ya Jiyong-aah, darimana saja kau?” tanya Dara menelisik

“Oh, tadi aku dari kelasku, lalu aku melihat Chaerin yang baru saja dari perpustakaan dan ingin ke kelas, ku ajak saja dia denganku ke kelasnya, sekalian aku menemuimu.” Jawab Jiyong panjang lebar

“Uh, ada apa memangnya ingin menemuiku?” tanya Dara dengan tatapan bingung

“Aniya, aku hanya rindu ingin melihatmu, juga aku ingin memberi taumu kalau nanti aku tak bisa mengantarmu pulang karena aku ada rapat OSIS sampai sore.” Jelas Jiyong

“Ah, gwenchannayo Jiyong-aah. Aku kan bisa pulang dengan Chaerin. Ya kan Chaerin-aah?” tanya Dara

“Ah, nee. Tenang saja Jiyong-aah, dia akan baik-baik saja bersamaku.” Jawabku meyakinkan.

“Ah, baiklah. Jaga Dara baik-baik ya Chaerin-aah. Aku kembali ke kelas dulu. Annyeong.” Ucap Jiyong

Aku hanya memberi tanda dengan menautkan jari telunjuk dan jari jempolku dan membiarkan ketiga jariku yang lain berdiri sedikit melengkung, menandakan aku mengerti.

Ketika pulang sekolah ..

Aku dan Dara berjalan santai menyusuri jalanan sepanjang sekolah hingga nanti akan mengantarkan kami menuju rumah kami masing-masing.

Sesekali kami mengobrol dan tertawa ringan.

Tiba-tiba Dara bertanya, “Ya Chaerin-aah, kau sudah lama kan bersahabat dengan Jiyong?”

Aku sedikit kaget menjawab, “Nee, kami sudah bersahabat sejak kecil. Bukankah kau tau akan hal itu? Wae geurre?

“Ah, aniya. Untuk waktu selama itu, kau tidak mempunyai perasaan apapun pada Jiyong?”

DEG !

“Apa maksudnya Dara berbicara hal seperti ituuuu?” tanyaku dalam hati

Mworago?” tanyaku pada Dara dengan wajah sedikit bingung, dan mencoba menutupi keterkejutanku.

“Maksudku begini, tidakkah kau merasakan sesuatu padanya untuk waktu yang cukup lama selama kau bersahabat dengan Jiyong? Kalian kan namja dan yeoja, bersama dalam waktu yang cukup lama, tidakkah itu membuatmu merasa mempunyai perasaan lebih dari sekedar sahabat pada Jiyong?” terang Dara panjang lebar

“Ah, kau ini berbicara apa sih?” tanyaku dengan memasang wajah polos dan sok tidak mengerti pada pertanyaan yang Dara ucapkan.

“Ah, ayolah Chaerin-aah, kau pasti mengerti maksudku.” Rengek Dara sambil menarik-narik lengan seragamku

“Memang kenapa kalau semisal aku mempunyai perasaan lebih dari sekedar sahabat pada Jiyong?” tanyaku pada Dara yang kuyakin membuatnya sedikit kaget.

Terbukti dengan berubahnya air muka Dara yang semula bertanya asal padaku menjadi ekspresi muka yang ……..

Ah, sulit bagiku untuk menjelaskan dengan kata-kata bagaimana ekspresi mukanya saat itu.

“Ya Chaerin-aah, kau jahat! Aku yakin kau hanya bercanda kan, dan lagipula Jiyong mencintaiku, aku percaya itu.” Jawab Dara mantap

“Aku tidak bercanda Dara, aku menjawabnya jujur. Itulah yang kurasakan. Tapi aku menghargaimu sebagai sahabatku. Haruskah kubunuh perasaan ini? Atau aku harus sedikit lebih bersabar dan menunggu hingga Jiyong mempunyai perasaan lebih dari sekedar sahabat padaku?” tanyaku dalam hati

“Lagian, siapa suruh bertanya macam-macam, dijawab jujur malah ngambek.” Jawabku asal

“Aigooo, awas kau ya Chaerin-aah.” Seru Dara

#Chaerin POV end

#Jiyong POV

Ah, sebentar lagi masa SMAku akan berakhir, dan aku akan mengambil scholarship ke London.

Itulah impianku. Merasakan hidup di negeri orang sendirian, berjuang keras dan kuliah di sana.

Berbekal kemantapan hati dan kemampuan bahasa Inggrisku yang fasih, segala tes kulakukan demi mendapatkan scholarship ke London, aku sudah memberi tau keluargaku tentang rencanaku ini, termasuk pada Dara.

Mereka semua mendukungku, tak luput pula Dara yang terus menyuntikkan semangat untukku agar aku tak mudah menyerah untuk mendapatkan scholarship itu.

Tapi …..

=TBC=

Gimana readers sejauh ini ? Baguskah ? Ayo komen yaahh .. #nunjukkebawah