tomin2

Title: My Destiny?! [Chapter 2]

Nama author : SeungRa

Cast(s) : BIGBANG member, 2NE1 Member

Genre: Comedy, Romance

A/N : Akhirnya bikin yang chapter 2! *tumpengan* maaf ya disini kadar komedinya dikuranin dikit. dan mungkin makin kesana ceritanya bakal makin serius. sebenarnya mau bikin poster khusus buat chapter 2-nya, tapi….ntar aja deh kalo pas ceritanya lagi tegang-tegangnya baru aku bikinin poster barunya xD terimakasih buat yang udah baca chapter 1-nya ya! komennya bikin aku makin pingin makin nyelesaiin aja <33

twitter : @04061996_

Happy Reading ^^

“Kau tau laut itu terbuat dari apa?” Tanya Prof. Seunghyung. Sinar matahari yang terpantul ke laut membuat siluet putih bersinar ke arah wajah Prof Seunghyun. Aku memperhatikan siluet itu sambil memikirkan pertanyaannya.

“Mmmm, air garam dan beberapa kandungan zat lain kan?” Kataku.

Prof. Seunghyun terkekeh lagi. Kali ini suara kekehannya cukup aneh.

“Kau terlalu kaku, Miss. Gong.” Aku menoleh ke arahnya. Bingung.

“Coba kau lihat sekarang ke arah laut itu, ada berapa banyak warna yg kau liat?” Tanyanya lagi.

Jari telunjuk Prof. Seunghyun mengarah ke lautan biru di hadapan kami saat ini, sekaligus ombak kecil yang tidak sengaja menyembur sehingga cipratan airnya membasahi kakiku.

“Ngg…aku hanya melihat biru..” Jawabku.

Prof. Seunghyung memegangi kepalaku, memajukan kepalaku secara perlahan ke arah laut. Apa yang ia lakukan?

“coba perhatikan lagi. Kau liat baik-baik, warna apa saja yang kau lihat disana?” Akhirnya ku perhatikan lagi laut yang ada didepanku. Ah iya, sepertinya tidak hanya biru. Ada bermacam-macam biru. Kalau diperhatikan lagi banyak juga warna hijau. Dan pantulan dari langit yang berwarna keoranyean. Aku suka warna hijaunya. Hijau toska. Ada warna merah juga. Tunggu dulu, di dalam sana banyak warna abu-abu. Ah, itu warna ikan yang sedang berenang di dalamnya. Benar, banyak sekali warna yang terkandung di dalam laut. Aku tidak pernah memperhatikannya sebelumnya.

“Ada banyak sekali warna kan?” Aku melirik ke arah Prof. Seunghyun sambil mengangguk.

“Kau hanya melihat sesuatu dari sisi luarnya saja, Miss. Gong. Karena itu kau bukan seniman.”

“Melihat dari sisi luar…?”  Prof. Seunghyun melepas tangannya dari kepalaku. Aku masih melihat ke arah laut yang sepertinya mau pasang.

Ku rasa ia benar. Aku melihat sesuatunya dari luar saja. Aku memperhatikan orang lain dan mempelajarinya. Tapi tidak merasakan apa yang orang lain rasakan dan menutup hatiku dengan orang lain. Aku masih harus banyak belajar.

“kau mudah berintropeksi diri ya, Miss. Gong. Baiklah aku pergi dulu, masih banyak urusan.” Prof. Seunghyun lompat dari dinding dan lalu berjalan meninggalkanku.

Semakin ia jauh, semakin ia mempercepat langkahnya, semakin aku berharap ia menoleh padaku sebentaaaar saja.

Ah tunggu, ada apa denganku? Apa aku jatuh cinta dengan orang gila itu?

Tidak tidak. Ini gila. Mungkin aku hanya kagum saja.

**

“Kenapa kau melihatku seperti itu, Miss Gong?” Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Entah kenapa jantungku berdebar. Apalagi caranya memanggil namaku.

“SIAPA YANG MELIHATMU, JIYONGSSI?” Pria kurus itu terkekeh-kekeh sambil makan ramen instannya.

“Apa? Kau teringat dengan seseorang ya?” Apa maksud Jiyong?

“Hei, bukan cuma kau saja kok yang menyukai Prof. Seunghyun. Ada jutaan- eh, tidak, tidak sebanyak itu- ada ratusan gadis di luar sana yang menyukainya, minzy-ah. Sainganmu luar biasa banyak!” Aku melongo mendengar kata-kata Jiyong.

“Dan oh iya satu lagi, panggil aku ‘oppa’. ‘Jiyong Oppa’. Terdengar imut bukan? ‘jiyong oppaaaaa kyaaaaa kyaaaaaa’” Aku melirik sinis Pria yang mulai bertingkah sok imut ini dihadapanku.

“Aku tak sudi memanggilmu ‘oppa’. Dan melihat penampilanmu, aku yakin hari ini kau tidak mandi lagi.” Jiyong tersedak.

“Kau bicara apa Minzy-ah? Aku cuci muka tiap malam! Gosok gigi sebelum makan!”

“Yang benar itu sesudah makan, tau!”

“Yah apalah itu yang penting aku gosok gigi!”

“Kau gosok gigi dengan pasta gigi tidak?!”

“Tentu saj- eh? Pasta gigi?” Aku menepuk dahiku melihat kejorokkan makhluk kurus di hadapanku ini.

Ya. Hari ini hari sabtu dan waktu luangku yang indah menjadi musnah ketika pria kurus ini kembali muncul di hadapanku dengan cara yang lebih hina dari kemarin.

*flashback*

“BRUK”

“AIGOOO! JIYONG??!!!”

“Minzy-ah……aku….tidak kuat lagi….”

“Jiyong, kau kenapa lagi?! Kau tidak bisa berdiri?! Ada apa dengan perutmu?!”

“Aku……”

“Jiyong! Bangunlah!”

“PREEEEEEEEEEET”

“……”

“…….”

“Bunyi apa itu?……”

“…aku……ken…”

“BRUK”

“MINZY?! MINZY?! KAU BAIK BAIK SAJA?!”

*flashback end*

Jiyong membawaku ke kamar apartemen kecilnya. Dan ketika aku bangun. Aku shock. Aku seperti bangun di tengah bencana besar. Sangat berantakkan.

“Minzyyy, aku ingin membuatkanmu teh, tapi hanya ada iniii” Jiyong melambai-lambaikan kantung teh yang sudah di lalari dan berwarna tidak karuan yang ia temukan di sela-sela lemari pakaiannya. Aku melongo melihat kantung teh yg sudah tidak layak tersebut.

Setelah kejadian yang memprihatinkan itu, dengan luar biasa baiknya diriku, ku bersihkan seluruh kamar pria jorok ini hingga ke sela-sela.

Dan kini kami sedang menikmati ramen instant setelah lelah membereskan kamar laknat ini.

“Sampai mana kita tadi? Oh iya! Ya! Jiyongssi! Di kamar mandimu hanya ada satu batang sabun! Kau harus membeli banyak peralatan kebersihan untuk rumahmu, Jiyongssi! Dan pasta gigi! Dan shampoo!”  Jiyong hanya meminum kuah ramennya sambil sesekali melirik ke arahku.

“Ya! Jiyong! Dengarkan aku!” Kesalku.

“Aiiish, iya iya aku dengar kok! Kau ini sudah seperti istriku saja!” Deg! Eh?!

“A-Apa?! Apa tidak ada perumpamaan lain?!” Kataku. Entah kenapa aku salah tingkah. Ini semua karena perkataan Jiyong yang sembarangan itu!

“Heh, wajahmu memerah tuh.” Kata Jiyong. Deg! Astaga jantungku inii apa-apaaan?!

“T-Tidak! J-Jangan berbohong!” Aaaaa wajahku memanas! Jiyong tertawa terbahak-bahak sambil minum air putih yang ada di atas meja makan. Jantungku berdebar tidak karuan. Aneh. Hanya karena hal seperti itu jantungku jadi berdebar-debar?! Aneh!!

“Ehem, Minzy-ah. Keluargamu keluarga seniman bukan?” Tanya Jiyong tiba-tiba. Aku terdiam sebentar melihat wajahnya yang berubah menjadi ekspresi serius yang selama ini jarang ku lihat.

“Ya. Memang kenapa? Walaupun keluargaku keluarga seniman, aku sama sekali tidak punya bakat dalam hal seni.” Kataku sambil menyumpit ramen instant.

“Aku hanya bertanya. Tapi kenapa kau malah jadi curhat padaku?” Mi ramen yang masuk ke mulutku tersangkut di kerongkongan gara-gara ucapan si monyet jantan jelek ini.

“Aku hanya bilang!” Sentakku kesal.

“Seni itu bukan sesuatu yang bisa dicari. Seni akan muncul begitu saja.” Kata Jiyong sambil membawa panci ramennya ke dapur.

Akan muncul begitu saja?

“Tapi seni tidak pernah muncul padaku, Jiyongssi..” Jiyong menoleh ke arahku sambil menatapku heran. Dia duduk kembali di hadapanku.  Lalu menatap wajahku. Tatapannya yang aneh itu membuatku berdebar. Aneh sekali.

“Begini..” Jiyong meminum kembali air putihnya. Lalu ia melihat ke sekitar ruangannya. Mencari-cari sesuatu. Ia berjalan menuju ke laci besar dekat TV. Mengobrak-abriknya. Apa yang ia cari?

“Ini..” Jiyong menyodorkanku sebuah buku besar. Buku gambar ukuran A4 dengan isi 30 lembar. Aku mengambilnya dan memperhatikan buku gambar itu dengan bingung. Ku buka lembaran-lembaran buku gambar yang masih kosong itu. putih.

“Ketika kau senang, kau sedih, kau berdebar, lakukan sesuatu dengan buku itu. kau bisa menggambarnya. Atau menulisnya. Apapun. Maka seni itu akan muncul dengan sendirinya..” Kata Jiyong sambil tersenyum padaku.

Aku menatapnya ragu. Tapi mungkin cara Jiyong akan berhasil.

“Jangan khawatir akan bagus atau tidaknya. Sekarang yang kau cari adalah seni. Soal teknik dan keindahannya adalah nomer 2. kau harus menemukan seni itu dulu. Aku yakin kau akan menemukannya karena kau adalah anak dari keturunan keluarga seni yang lumayan ternama di Korea. Kau pasti bisa!” Senyuman Jiyong melebar. Giginya yang tidak rapi itu berkilau memantulkan sinar lampu yang tepat berada di atas kami. Aku terkekeh melihatnya.

“Ya! Kenapa kau malah tertawa?!”

Terimakasih Jiyong. Aku akan berusaha menemukan seni yang kau maksud itu.

**

“I…Ini…Gambarmu?!” Aku menatap Prof. Seunghyun kesal. Prof. Seunghyun membuka lembaran buku gambar yang diberikan oleh Jiyong padaku dengan tatapan prihatin-bela sungkawa-sedih-menahan tawa. Sungguh menyebalkan.

“Ya ya ya aku tau gambarku sangat jelek.” Aku mengambil buku gambarku dengan paksa dari tangan Prof. Seunghyun. Menyebalkan sekali. Aku sudah berusaha keras mencoba agar aku dapat berseni seperti anggota keluargaku yang lain, tapi tanggapannya malah seperti itu.

Aku berjalan pergi meninggalkan Prof. Seunghyun. Padahal aku benar-benar sudah berusaha keras. Kenapa ia tidak memujiku atau paling tidak memberi ucapan ‘kau sudah bekerja keras, Minzy’ ? paling tidak, semangati aku! Ah. Berharap apa aku ini. percuma.

Satu langkah…dua langkah…tunggu, ia tidak mencegahku pergi?

Aku menoleh ke belakang dan sosok Prof. Seunghyun sudah menghilang. Ah sial! Kenapa ia tak mengejarku atau mencegahku pergi?! Kejam! Professor yang kejam! Menyebalkan!

Entah kenapa dadaku terasa sangat sesak. Kesal. Aku benar-benar sangat kesal! Mataku terasa panas. Ada apa ini?! mau menangis?!

“Bruk!” Aduh! Aku terjatuh setelah menabrak seseorang. Bahuku sangat sakit. Ah tunggu, mana buku gambarku?

“Ini buku gambarmu?” Aku mendongak keatas, ke arah suara yang berbicara tersebut. seorang laki-laki berambut pirang. Siapa dia?

Aku berusaha bangkit, sedangkan dia membuka lembaran demi lembaran buku gambarku. Ia tersenyum melihat gambarku. Aku mendengus kesal.

“Ya. Sudah jangan dilihat lagi. Aku tau gambarku sangat jelek.” Kataku sambil mengambil buku gambarku darinya. Ia terkekeh padaku dan kemudian ia membungkukkan badannya.

“Kang Daesung imnida.. Salam kenal..” Katanya. Kelakuannya yang sopan membuatku ikut membungkuk dan memperkenalkan diriku.

“Gong Minzy imnida……” tunggu dulu, akhir-akhir ini bukankah aku selalu bertemu orang aneh? Aku punya firasat buruk bahwa makhluk satu ini juga tidak kalah anehnya dari yang lain…

“Gambarmu ini pasti kau buat ketika sedang bahagia ya, Minzy?” Aku terkejut mendengar pertanyaan lelaki ini.

“T..Tidak, aku membuatnya ketika sedang sedih.” Kataku jujur. Lelaki itu terkejut.

“Benarkah?! Tidak ku sangka! Tapi goresan-goresan tebal begini, pasti kau buat saat bahagia bukan?!” Aku melongo.

“Tapi….Itu…”

“Minzy, Minzy, Minzy… kau wanita yang agresif..” A…pa?

“A..Agresif..?”

“Ya! Kau wanita yang agresif! Gambarmu ini mencerminkan dirimu yang bahagia, cheerful dan penuh dengan senyuman! Semangatmu sangat membara! Hidupmu seperti angin yang berhembus!” Tunggu dulu, sepertinya apa yang dikatakannya sungguh sangat berbeda dari aku yang sebenarnya.

“Aku tidak merasa seperti itu..” Bantahku. Kang Daesung terkejut.

“Kau bercanda? Itu sifatmu sendiri! kenapa kau tidak tau! Goresan-goresan ini mencerminkan wanita yang menyukai hal hal manis! Terutama makanan manis!” Aku semakin melongo.

“Aku tidak suka manis…” Bantahku lagi. Kang Daesung melihatku dengan wajah sangat terkejut. Matanya yang sipit itu berusaha melotot walaupun gagal, dan hidungnya mengembang………

“Mana mungkin ada wanita tidak suka manis?! Kau wanita macam apa hah?!” Kang Daesung mengambil buku gambarku, dan ingin memukulkannya ke kepalaku. Aaaaaaaaaaaaah! Orang macam apa lagi ini?!

“Ya! Ya! Daesung! Kau membuat kekacauan apalagi ha?” Tiba-tiba seorang lelaki dengan model rambut aneh berkepang dua datang menarik lengan Kang Daesung yang sok tahu ini.

“Hyung! Dia tidak agresif!” Kata Daesung sambil menunjuk padaku. Eish! Apa lagi ini?!

“Kau…kau pasti membuat kesimpulan sembarangan lagi kepada gadis ini..”

“Benar! Benar sekali!!” Sahutku. Lelaki berkepang itu tersenyum sambil sedikit tertawa melihat kekesalanku pada Kang Daesung yang sok tahu itu.

“Maafkan temanku yang sok tahu ini ya. Dia memang suka mengambil kesimpulan yang aneh. Anggap saja kau tak pernah bertemu dengannya.. oke?” Lelaki berkepang itu menyeret(?) Kang Daesung pergi. Sedangkan Kang Daesung meronta-ronta tidak terima dengan apa yang temannya katakan itu. Aku merasa dunia ini makin aneh……

Ah tapi, kalau dilihat lagi, lelaki berkepang itu sepertinya satu-satunya makhluk yang normal yang aku temui. Sayang sekali ia tidak memberitahu namanya padaku.

“Hari ini angka keberuntunganmu adalah 5…” Aku terkejut hingga hampir berteriak mendengar seseorang tiba-tiba muncul di belakangku dan berkata seperti itu. Aish makhluk aneh itu lagi!

“Ya! Seungri! Apa yang kau lakukan, ha?! Meramal lagi?!” Sentakku. Ya! Kenapa makhluk ini malah menatap wajahku dengan tatapan tajam begitu?! Menyeramkan!

“Kau…..sedang jatuh cinta…” Deg! Ap…..a?!

“Ya! Jangan sembara-”

“Kau jatuh cinta dengan dua lelaki. Tapi satu dari lelaki tersebut memiliki sisi yang tidak kau ketahui… sisi yang akan membuatmu merubah pandanganmu padanya…” Aku terdiam mendengarkan ramalan Seungri. Sisi yang akan merubah pandanganku..?

“Sisi apa…?” Tanyaku. Seungri menggenggam telapak tanganku. Merabanya. Entah kenapa aku membiarkannya. Dan sungguh, baru kali ini aku tertarik dengan ramalan. Bahkan ramalan si bodoh ini.

“Tanganmu……” Aku menyimak apa yang ingin dikatakan Seungri padaku.

“Tanganmu kasar. Kau harus sering memakai lotion. Kau tau, lotion terkenal yang iklannya menggunakan model cantik Jih Hyun? Di supermarket dekat rumahku sedang diskon 30%!” Aku menjitak kepala Seungri keras-keras. Dan meninggalkan makhluk bermata panda itu. Bodoh sekali aku membiarkan tanganku di raba olehnya.

Aku berjalan menuju ke halaman kampus dan duduk di kursi taman kosong. Hari yang melelahkan. Aku membuka buku gambar yang jadi kusut karena orang aneh yang soktahu bernama Kang Daesung itu. Ku buka lembaran pertama.

Gambar jendela dan sinar matahari yang bersinar menembus kaca jendela. Sayangnya aku hanya menggambarnya dengan pensil. Aku akan membeli cat air nanti malam.

Gambar kedua, aku menggambar langit yang mendung. Seakan-akan air akan tumpah dari awan tersebut.

Gambar ketiga, aku menggambar bunga. Bunga kamboja.

Sungguh tidak special.

Aku membayangkan apa yang akan dikatakan Jiyong ketika melihat gambarku. Mungkin dia juga akan menertawakanku. Mungkin.

“Dia tidak akan menertawakanmu.” Aku menoleh ke arah suara tersebut. di belakangku.

“Prof. Seunghyun..” Ia beranjak duduk di sebelahku. Lalu mengambil buku gambar dari tanganku.

“Mengapa kau tidak menggambar mahkluk hidup?” Tanya Prof. Seunghyun. Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Benar…kenapa aku tidak memikirkannya?

“Tapi sudut pandangmu menggambar jendela ini, dan awan mendung ini, sudah cukup bagus.” Prof. Seunghyun membuka lembaran demi lembaran buku gambarku. Ah tunggu, tadi dia memujiku?

“Bunga ini, seakan-akan kau menggambarnya sambil memikirkan seseorang. Lihatlah. Semuanya mekar. Kau tidak berpikir kalau di antara bunga mekar pasti ada bunga yang masih kuncup?” Ah benar juga. Aku tidak memikirkan itu.

“Kau sudah berusaha keras..” Prof. Seunghyun tersenyum padaku. Deg! Jantungku berdebar. Senyum Prof. Seunghyun yang ini, berbeda dari senyum yang sebelum-sebelumnya. Entahlah. Mungkin lebih berarti untukku. Karena senyum ini muncul ketika ia memberi kata penyemangat padaku.

Prof. Seunghyun mengacak-acak rambutku. Kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku. Tunggu dulu… apa yang ia ingin lakukan?!

“Aku tak akan berbuat jahat padamu, Miss Gong.” Aish, si tukang pembaca pikiran ini.

“Aku hanya ingin menciummu..” Eh?!

Eh?! Eh?! Eeh…?!

Prof. Seunghyun makin mendekatkan bibirnya padaku. Hyaaa! Apa yang ia lakukan?! kalo ada yang melihat bagaimana?!

Aku memejamkan mata. Entah kenapa wajahku menjadi kaku. Err di situasi seperti ini, aku tidak bisa mengelak. Bagaimana ini?! aku takut!

“cup” Aku membuka mataku. Eh?

“Hahahaha!” Prof. Seunghyun tertawa sambil meninggalkanku. Dia mencium pipiku!

“Kau berharap apa, Miss Gong? Kecupan di bibir?” Apa dia bilang?!

Prof. Seunghyun pergi sambil tertawa terbahak-bahak dan memegangi perutnya. Aish, sialan! Dia hanya mempermainkanku!

“Minzy-ah…” Aku terkejut mendengar suara ini..

“Jiyongssi..?” Jiyong menatapku terkejut. Tunggu…apakah ia melihat apa yang Prof. Seunghyun lakukan padaku tadi?!

“Kau…dengan Prof. Seunghyun…”

“Tunggu, ini tidak seperti yang kau kira.”

– To be continued-