UNDER THOSE UMBRELLA

Hidup adalah sebuah kestabilan. Berjalan sesuai dengan porsinya. Manusia berpasangan, berjajar dan sejalan diatur oleh Tuhan dalam takdir. Manusia boleh berencana, tapi Tuhanlah yang memiliki kuasa. Bahagia, sedih, atau biasa saja adalah relatif. Karena terkadang hidup tak selamanya seperti kelihatannya.

Author     : Real Tabina

Twitter    : (@realtabina)

Cast        :

Dong Young Bae (Taeyang BIGBANG)

Go Hara (OC)

Hye Ri (Me/You)

other BIGBANG member(s)

and other cast(s) that can’t mentioned here.

 Disclaimer  :

The cast(s) are belongs to God and themselves, OC were mine. All of necessary credit(s) will appear on author’s note below the story.

Genre        : Oneshot Romance Drama

Rating      : PG 15 for some reasons

Lenght     : +-3000w

 Warning:

This is a 3rd person as cameo in the story’s POV storyline. Sad or happy ending it’s depend on yourself. Common topic, but the idea is mine. No plagiarism here. Don’t take out without permission and any credit. Wish you a happy reading!

Happy Reading ^^

Seoul, 2012

Langit Seoul tampak tak bersahabat akhir November ini. Seperti langit musim dingin pada umumnya, gerimis kecil menyapa setiap kulit yang tak terlindung mantel ataupun payung. Kurapatkan mantel hangat coklatku dan bergegas berjalan. Kulihat sudah banyak orang beraktifitas diluar. Aku, Hyeri-orang biasa memanggilku begitu, berjalan menuju toko bungaku. Kusapa beberapa tetangga tokoku yang juga baru memulai aktifitas paginya.

Akhirnya aku sampai di tujuanku. Kubuka toko bunga kecilku. Kurapikan mantel dan segera mendisplaykan beberapa pot bunga di luar tokoku. Aku sedang sibuk menumpuk pot bunga orchid saat seseorang mengagetkanku dari belakang meski dengan suara lembutnya.

Annyeonghasseyo.

“Ya Tuhan! Annyeonghasseyo.”, aku berbalik dan masih terkejut saja. Dia datang lagi. Pria bermantel hitam itu berdiri tegak dibelakangku. Aku berdiri lalu membungkuk menyambutnya. Tuan ini yang sudah menjadi pelanggan tetapku sejak…

“Buka lebih awal? Ma’af sudah mengagetkanmu.”, dia membalas membungkukkan badannya dan mengulas senyum yang selalu mencapai mata. Masih bisa kulihat meski dia mengenakan aksesoris wajibnya, kacamata hitam. Dia melipat payung hitamnya, dan meletakkannya di sisi pintu tokoku.

“Sebenarnya kau yang datang terlalu pagi. Tidak apa-apa. Ayo masuk dulu Young Bae-ssi.”. Dia, Dong Young Bae, dan ya dia adalah artis yang dikenal sebagai salah satu anggota BIGBANG.

“Bukankah seharusnya kau masih dalam Alive Tour? Kukira belum selesai, kan?”, tanyaku.

Pria berperawakan sedang itu mengikutiku ke dalam toko, masih dengan senyumnya. Kurasa senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

“Memang, tapi aku masih sempat pulang ke Seoul untuk menjenguknya. Dan sudah berkali-kali kukatakan padamu, kan. Panggil aku Young Bae saja tanpa -ssi. Seperti baru kenal saja.”

Aku hanya tertawa kecil menanggapi argumen terakhirnya. Dia memang selalu terlihat sedikit kesal saat aku menggodanya dengan menambahkan sufiks -ssi dibelakang namanya. Mungkin memang aku hanya bertemu dengannya sebulan sekali, tapi jika dikalikan enam tahun kurasa bisa dibilang kami saling mengenal cukup baik. Dia tampak melihat-lihat koleksi bunga terbaru yang ada di etalase.

“Itu varian baru bunga orchid, indah bukan? Warna ungu dalam balutan kelopak putihnya begitu cantik.”. Dia hanya mengangguk menanggapiku. Dia kembali berjalan dan melihat-lihat tanaman hias. Dia berjalan menuju etalase bunga tulip dekat jendela. Tangannya membelai satu-satu kelopak merahnya. Mata dibalik kaca hitam itu tampak menerawang menatap langit kelabu diatas sana. Aku sempat meliriknya sekilas saat sedang menyiapkan buket pesanannya.

Pesanan? Omong-omong soal pesanan, sebenarnya untuk tiga bulan pertama dia masih memesannya padaku. Menyebutkan detilnya, maksudku. Tapi di bulan ke empat aku mulai hapal dan langsung membuatkannya tanpa dia minta. Setidaknya dia memesan bunga yang sama untuk hampir enam tahun terakhir. Aneh mungkin, tapi sepertinya tulipa sharonensis sangat berarti untuknya. Tulip merah merona yang cantik, melambangkan kenangan cinta sejati. Kedengarannya cengeng, ya? Tapi aku bisa memahaminya. Aku baru tahu kenyataannya setahun setelah dia menjadi pelangganku.

Aku segera menyelesaikan buket bunga pesanannya dan membungkusnya.

“Mianhae. Pesanan bungamu baru datang. Karena musim dingin seperti ini agak sulit untuk tulip yang notabene adalah bunga musim panas. Ini.”, kataku sambil menyerahkan buket bunga tadi. Memang beberapa hari lalu dia sudah datang, tapi bunga pesanannya, tulip merah, belum datang.

“Tidak apa-apa. Buatkanlah untukku saat aku datang dan bunganya ada. Jadi berapa?”, tanyanya setelah menerima buketnya.

“Dua belas ribu won saja.”, jawabku tersenyum. Dia tampak menarik beberapa lembar uang dari dompetnya. Bisa kulihat ada sebuah foto kecil di sudut dompetnya. Foto Young Bae bersama seorang yeoja cantik yang ternyata menjadi alasannya berlangganan bunga di tokoku.

“Ambil saja kembaliannya. Kamsahamnida.”, dia memberiku uang lebih dan menolak kembaliannya.

“Harusnya aku yang berterimakasih.”. Aku lalu mengantarnya menuju pintu. Rinai gerimis kecil masih menghias jua.

“Masih gerimis. Mau langsung pergi?”, tanyaku.

“Tidak apa-apa. Hanya sebentar.”

“Hati-hati, ya!”

“Ne.”, jawab Young Bae sambil tersenyum. Young Bae kembali membuka payung hitamnya.

Kuperhatikan punggung Young Bae berlalu, menuju tempat kunjungan rutinnya enam tahun terakhir yang memang hanya berjarak 200 meter dari tokoku. Gadis itu sungguh beruntung, mendapat hati suci seorang pria baik seperti Young Bae.

Aku sendiri mengetahui cerita ini dari magnae grup nya, Seungri – yang memang terkenal tidak bisa menjaga rahasia, saat Young Bae pernah mengajaknya ikut kemari. Dari cerita itu jugalah aku bisa menemukan sisi lain seorang Dong Young Bae dibalik senyum malaikat yang selalu menghiasi wajahnya.

***

Seoul, 2006

“Hyung, hyung, hyung, mau kemana?”, Seungri tergopoh mengejar langkah Young Bae yang sudah mendahuluinya. Young Bae menoleh dan memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Seungri.

“Pulang ke dorm.”

“Tentu saja aku tahu. Maksudku habis ini?”, Seungri cemberut. Mereka baru saja keluar dari tempat latihan Hwangssabu.

“Menemui Hara. Ada apa?”, Young Bae tertawa melihat ekspresi Seungri. Young Bae tahu Seungri tak suka Hara, maksudnya cemburu. Bagi Seungri, Hara adalah perebut Hyung nya.

“Ada apa sih menemuinya?”, ketidaksukaan sangat kental di nada bicaranya. Young Bae hanya tertawa lagi melihat Seungri tampak mengerucutkan bibirnya.

“Suka-suka Young Bae Hyung dia mau menemui siapa. Dasar anak merepotkan.”, Daesung menoyor kepala Seungri tiba-tiba. Entah sejak kapan Daesung ada dibelakang Seungri.

“Wae?? Hyung selalu menyiksaku!”, teriak Seungri ke Daesung dengan nada kekanakan.

“Dasar berlebihan.”

“Sudah-sudah jangan bertengkar. Tidak malu apa, kalian sudah dewasa.”, Young Bae melerai mereka. Seungri tampak membuang muka dan bergumam kesal tak jelas. Ada-ada saja tingkah dua member termuda BIGBANG ini.

Young Bae adalah pria sederhana. Dia memilih untuk naik bus setiap akan mengunjungi rumah Hara. Ini dikarenakan dia juga belum memiliki mobil pribadi. Dia juga tak ingin Hara repot menjemputnya, meski pada akhirnya nanti mereka akan pergi menggunakan mobil Hara. Tiga puluh menit perjalanan dalam bus terasa begitu cepat bagi Young Bae hari itu. Dia merindukan Hara. Young Bae muda tidak tahu harus menyebutnya apa, tapi selalu ada debaran aneh tersendiri tiap bertemu Hara. Debar aneh yang memenuhi rongga dadanya, serasa ada puluhan kupu-kupu terbang dalam perutnya. Aneh, tapi Young Bae menikmati sensasi itu. Senyuman tak akan pernah lepas dari bibir Young Bae jika sudah menyangkut nama Hara.

Sudah lima bulan sejak terakhir dia bertemu Hara. Dia ingin bercerita banyak pada Hara tentang masa trainee nya ke Hara. Young Bae turun dari bus dan berjalan menuju komplek tempat kediaman keluarga Go. Young Bae memasuki gerbang rumah Hara dan menyapa security yang sudah ia kenal baik. Young Bae menekan bel rumah Hara.

“Kau selalu datang lebih awal. Ayo masuk, duduklah dulu.”, Young Bae tersenyum melihat sambutan hangat Hara yang belum selesai bersiap-siap. Young Bae mengikutinya masuk dan duduk di sofa depan.

“Tunggu sebentar. Aku mau meneruskan bersiap-siap.”, Hara menunjuk gelungan roll rambutnya. Young Bae mengangguk dan tersenyum membiarkannya berlalu. Young Bae memilih memainkan ponselnya sembari menunggu Hara selesai. Tak lama kemudian Hara keluar dari kamarnya. Dia mengenakan summer dress hijau cerah bermotif dengan tali gantung sebesar jari di kedua sisi lengannya. Dia tampak bersinar dan cantik.

“Ah, terpesona ya???”, goda Hara. Siapa yang tidak? Tapi Young Bae lebih memilih tersenyum dan langsung mengambil gambar Hara dengan ponselnya.

“Ya!! Kenapa kau ambil gambarku dengan cara begitu!!!”, sekarang terjadi adegan kejar-kejaran kecil diruang tamu rumah Hara. Hara merajuk dan coba merebut ponsel Young Bae. Tapi tinggi Hara yang notabene hanya 154 sentimeter menyulitkannya saat Young Bae mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Tidak apa-apa. Gambarnya bagus.”

“Bagus apanya! Kemarikan!”

“Tidak apa-apa. Kau terlihat…”, ucap Young Bae menggantung.

“Terlihat apa? Ayolah Young Bae. Berikan padaku.”, Hara masih berjinjit mencoba meraih ponsel Young Bae.

“Kau… Terlihat cantik.”, sambung Young Bae ragu. Ragu karena bukanlah keahlian Young Bae untuk “merayu” wanita. Young Bae selalu jujur. Meski lirih, Hara jelas mendengar pujian Young Bae tadi. Membuat Hara langsung menghentikan kegiatannya dan melengos dari pandangan Young Bae. Mereka berdua sukses merona akut.

“Ayo, nanti kita malah tak jadi pergi.”, Hara berbalik cepat dan berjalan lebih dulu untuk mengusir kecanggungan yang Young Bae ciptakan.

“Gambarnya?”, goda Young Bae melambaikan ponselnya. Hara mendelik dan menggembungkan pipinya. Lucu sekali. Young Bae hanya tersenyum geli melihat tingkah Hara. Mereka akhirnya pergi dengan sedan hitam Hara.

“Kita mau kemana?”

“Ke Hwang-hak dong dulu ya.”, Hara nampak bersemangat.

“Untuk apa ke pasar loak?”

“Ada sesuatu yang mau ku ambil. Sudah kupesan sejak lama.”. Young Bae hanya mengangguk dan menyetir ke tujuan pertama.

Sebenarnya Young Bae dan Hara saling mengenal saat pertama kali mereka sama-sama melamar menjadi trainee di YG Entertaintment. Tapi kebersamaan mereka yang hanya sebentar itu ternyata berlanjut menjadi hubungan pertemanan. Hara sendiri tidak diterima menjadi trainee di YG. Dia meneruskan pendidikannya di jalur formal. Meski terpisah jarak, hubungan mereka tetap terjaga bertahun-tahun. Hara menyukai Young Bae, tapi Hara tidak tahu bagaimana perasaan Young Bae padanya. Bagi Hara, status tidaklah penting. Bisa dekat dengan Young Bae saja itu sudah cukup untuk Hara.

Tak lama menyetir, Young Bae dan Hara sudah sampai di Hwang-hak dong. Suasana belum begitu ramai siang itu. Hara menggandeng Young Bae menyusuri jalan ke penjual tujuan Hara.

“Aaa.. Hara-chan sudah tiba.”, sapa seorang bapak paruh baya yang sepertinya seorang Jepang.

“Annyeong! Apa kabar paman! Pesananku sudah ada?”, sapa Hara sambil membungkuk.

“Kau memang selalu bersemangat. Tunggu sebentar ya.” bapak tadi masuk ke bilik dalam tokonya mengambil pesanan Hara.

“Kau sudah kenal lama dengan paman tadi?”, tanya Young Bae.

“Kenji-ahjussi? Ya, bisa dibilang begitu. Aku sering mencari literatur kuliahku disini. Dan dia sangat bersahabat.”. Kenji keluar dan membawa beberapa buku dan sebuah kotak berukuran sedang.

“Ini pesananmu.”, Kenji tersenyum menyerahkan pesanan Hara. Hara menerimanya dan membolak-balik buku sastra pesanannya dengan senyum puas.

“Ah, apa kau pacar Hara? Dia sering menceritakanmu.”, celetuk Kenji ke arah Young Bae.

“Mwo?”, Young Bae agak terkejut ditunjuk begitu. Dia terbengong sesaat.

“Ahahaha, Kenji-ahjussi bicara apa. Jangan bercanda!”,Hara tertawa aneh mencoba mengalihkan pembicaraan. “Berapa semuanya?”

“Ah, limabelas ribu won saja. Tapi bukannya..”, ucap Kenji yang tak sempat meneruskan kata – katanya karena Hara keburu melotot panik ke arahnya. Kenji kemudian malah tertawa dengan tingkah Hara.

Yare-yare. Anak muda jaman sekarang.”

Young Bae yang masih bingung hanya menatap dua orang didepannya dengan senyum linglung.

“Kamsahamnida, ahjussi.”, Hara membayar sejumlah uang pada Kenji.

“Ne. Datang lagi lain kali jika butuh sesuatu ya.”, Hara melambai pada Kenji. Young Bae masih menatap Hara dengan penasaran

“Ada apa menatapku begitu?”, tanya Hara.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku masih penasaran dengan apa yang Kenji-ahjussi tadi katakan.”

“Ah, jangan dianggap serius. Kenji-ahjussi suka bercanda.”, Hara mengibaskan tangannya di depan wajah Young Bae.

“Bagaimana kalau aku menganggapnya serius?”, Young Bae tampak menggoda Hara lagi.

“Kenapa kau iseng sekali!”, Hara nampak kesal digoda begitu. Hara bahkan menghentakkan kakikanya seperti anak kecil. Young Bae tertawa menang dengan godaannya yang berhasil.

“Hey, lihat itu. Kalungnya cantik.”, Young Bae tiba-tiba menunjuk sebuah kalung ditepian toko lain. Hara memutar bola matanya. Young Bae ini, dia pribadi yang tenang. Tapi bisa berubah iseng hanya pada orang terdekatnya, termasuk Hara.

“Berapa harganya, nona?”, tanya Young Bae pada penjualnya.

“Duaribu won saja, Tuan.”

“Mau beli?”, tanya Hara. Young Bae hanya mengangguk dan tampak memilih-milih kalung lain. “Tigaribu won saja dengan yang ini. Bagaimana?”, tawar Young Bae mengambil satu kalung lain.

“Baiklah. Tiga ribu won saja, Tuan.”, Young Bae membayar dua kalung tadi dan mengajak Hara kembali ke mobil.

“Untuk apa beli dua?”, tanya Hara. Young Bae tersenyum dan berhenti. Dia merogoh salah satu kalung tadi.

“Yang cantik ini untukmu.”, Young Bae berputar kebelakang Hara dan memakaikan kalung tadi. “Mungkin memang bukan barang mahal.”

“Gomawo, aku suka.”, Hara memotong kata-kata Young Bae. Bukan hanya untuk menyenangkan Young Bae, tapi sungguh Hara memang menyukainya.

“Yang satunya?”, sambungnya.

“Untuk Seungri. Kau tahu, baginya kau telah merebutku dari sisinya.”, mereka berdua tertawa dengan perkataan Young Bae. Jantung mereka berdebar sore itu. Bahagia.

Setelah jalan-jalan di kawasan Hwang-hak dong mereka memutuskan untuk makan siang sebentar. Setelah itu Hara mengajak Young Bae ke Eurwangni. Hara ingin menghabiskan sore mereka untuk jalan-jalan di  pantai. Hara sangat menyukai pantai.

Eurwangni tak pernah mengecewakan Hara. Juli sore itu begitu cantik. Matahari bersinar teduh di ufuk barat menyiratkan garis-garis jingga keunguan di kanvas langit berawan tipis. Hari itu tak seperti biasanya, Eurwangni tak sepadat hari-hari weekend. Membuat suasana menjadi terasa lebih romantis. Young Bae menatap sendu Hara yang sudah asyik berlarian bermain ombak. Hara, dia benar-benar gadis yang mengacaukan hati Young Bae. Tawanya, mata bulatnya, tubuh mungilnya, aroma tubuh dan rambut bergelombang sepunggungnya yang selalu membuat Young Bae tak bisa tidur hanya demi mengingatnya. Hara melambai memanggil nama Young Bae, membuyarkan segala lamunan indah Young Bae.

“Jadi hari ini kau sengaja libur?”, tanya Hara.

“Ya. Aku minta libur hari ini. Dan tumben YG appa mengijinkanku libur.”, mereka menyusuri pantai beruntutan.

“Kudengar sebentar lagi kau akan debut bersama grup sebagai boyband. Benarkah begitu?”, tanya Hara.

“Ne, darimana kau tahu?”, Young Bae berhenti dan menoleh ke Hara. Hara tidak langsung menjawab. Hara malah salah tingkah tertangkap basah menjadi stalker Young Bae. Justru Young Bae baru akan menceritakannya pada Hara. Hara berjongkok dan pura-pura memungut cangkang kerang dekat kakinya.

“Benar. Aku akan didebutkan bersama 4 member lain yang sudah terpilih.”, merasa tak mendapat jawaban Young Bae hanya tersenyum melihat tingkah Hara dan meneruskan berjalan.

“Ah, kau pasti akan lebih sibuk lagi, ya?”, ucap Hara lirih dan memandang jauh ke depan. Ke langit senja yang jingganya semakin menua.

Hara kemudian bangkit dan berlari tiba-tiba menubruk punggung Young Bae. Hara memeluk Young Bae dari belakang.

“Ada apa?”, Young Bae agak terkejut dengan tingkah Hara. Tangan Hara merayap di otot perut Young Bae yang belum terbentuk. Hara tak menjawab. Ia malah sibuk menenggelamkan wajahnya di punggung Young Bae, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Young Bae. Menyesapnya seolah ingin merekamnya di dalam ingatan terdalam Hara, menyimpannya baik-baik di sudut hati yang terdalam. Hara seperti tak ingin kehilangan Young Bae. Young Bae sendiri yang awalnya sudah merasakan debar aneh, sekarang semakin kacau. Detak jantungnya meracau, wajahnya memerah. Hatinya tak karuan, serasa kupu-kupu yang tadinya ada di dalam perutnya membuncah dan berebutan terbang keluar. Sensasi yang dirasakan hatinya semakin tak terjelaskan logika Young Bae sendiri.

“Jangan lupakan aku, ya kalau kau jadi terkenal nanti.”, Hara mengulas senyum saat mengatakannya. Tangan Hara merayap ke dada Young Bae dan menautkan dikedua bahu Young Bae.

“Kenapa kau berkata begitu? Tidak mungkin aku melupakanmu. Kau sahabat terbaikku.”, Young Bae mengambil tangan Hara. Menautkan kembali ke perutnya sendiri, kemudian memeluk tangan Hara erat. Hara menyandarkan kepalanya di lekukan punggung Young Bae. Sahabat? Ada sirat sedih di mata Hara yang tidak dilihat Young Bae. Mereka terdiam agak lama. Senja menjadi saksi bisu kedekatan mereka berdua. Langit meredup berganti cahaya temaram bulan yang sendu. Hari itu, terucap ataupun tidak, adalah hari yang paling membahagiakan bagi Hara. Hara bahkan tak peduli jika perasaannya tak terbalas, jika dia pun tak akan merasakan mentari esok pagi, dia akan tetap mencintai Young Bae sampai kapanpun.

“Ayo pulang.”, Hara melepas pelukannya. Dia merajuk dan menarik tangan Young Bae untuk kembali ke mobil. Young Bae mengangkat alisnya. Tapi tak urung menurut juga. Mereka menuju ke sedan hitam Hara.

“Kita ke dorm mu dulu, ya. Nanti biar aku menyetir sendiri ke rumah.”, kata Hara.

“Tapi biasanya aku mengantarmu pulang dulu baru aku pulang naik bus ke dorm.”, Young Bae makin heran.

“Sekali-sekali. Ayolah.”, Young Bae hanya menuruti keinginan Hara. Mereka hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang. Hara nampak lelah. Young Bae sebenarnya tak tega Hara pulang sendiri. Dia lebih suka memastikan Hara aman terlebih dahulu baru ia pulang naik bus. Tapi Hara adalah gadis keras kepala. Hara tidak akan mendengar argumen Young Bae saat Hara sudah memiliki keinginan.

Dua jam berlalu dalam sunyi. Young Bae membiarkan Hara tertidur di kursinya. Young Bae berhenti tepat didepan YG Building. Dia memperhatikan wajah damai Hara yang tertidur. Kemudian membelai sisi wajah Hara dan menyampirkan poni-poni kecil rambut Hara kebelakang telinga Hara. Hara menggeliat terbangun.

“Sudah sampai ya.”, gumam Hara. Young Bae tersenyum . Kemudian dia turun dari sedan Hara. Hara turun untuk mengantar Young Bae.

“Tidak masuk dulu untuk membasuh wajah di lobi?”, tawar Young Bae. Hara menggeleng. Hara malah menatap lekat Young Bae. Tiba-tiba Hara melingkarkan tangannya dileher Young Bae dan dengan susah payah berjinjit mencium tipis bibir Young Bae. Young Bae terkesiap dengan sikap Hara. Bagaimanapun ini kali pertama bagi Young Bae. Hara hanya tersenyum lembut.

“Hati-hati, ya. Jaga dirimu baik-baik.”, Hara berpesan pada Young Bae dan mengusap pipi Young Bae lembut.

“Harusnya aku yang berkata begitu padamu, Hara-ya. Ada apa denganmu hari ini? Kau aneh.”, tanya Young Bae.

“Kau tidak suka?”

“Bukan begitu, tapi kau membuatku takut. Apa kau baik-baik saja?”, Hara hanya mengangguk mantap.

“Terimakasih untuk hari ini ya, Teydaddy-ku!”, Hara kemudian masuk ke mobil, mengambil kotak yang tadi dibeli dari Kenji.

“Bukanya di dalam saja.”, Hara menyerahkan kotak tadi ke Young Bae. Hara kemudian masuk mobil dan melambai pada Young Bae.

“Terimakasih untuk semuanya, ne! Kamsahamnida!”, dan Hara langsung menjalankan mobilnya tanpa membiarkan Young Bae mengucapkan selamat jalan.

Gadis aneh.‘. pikir Young Bae sambil berjalan ke dorm nya.

“Annyeong.”, sapa Young Bae sambil membuka pintu.

“Ya! Hyung baru pulang?”, tanya Seungri sesampainya Young Bae di dorm. Young Bae tersenyum.

“Ya begitulah.”, Young Bae menyerahkan goody bag untuk Seungri.

“Untukku, Hyung?”, Seungri tampak girang dan berlari ke sofa hendak memamerkan ke Hyungnya yang lain.

“Ada apa?”, Jiyong bertanya melihat kejanggalan di wajah Young Bae. Seungri yang tadinya girang akan memulai acara pamernya, jadi menoleh ke arah Young Bae.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja Hara aneh hari ini. Dia mengantarkanku ke dorm tidak seperti biasanya. Dia juga berpesan untuk jaga diriku dan berterimakasih untuk semuanya.”, Young Bae duduk setelah mengambil segelas air.

“Hanya perasaanmu saja. Jangan terlalu dipikirkan.”, TOP mencoba menjawab keheranan Young Bae. Young Bae hanya mengangguk. “Apa itu Hyung?”, tanya Daesung menunjuk kotak ditangan Young Bae.

“Ah, entahlah. Dari Hara.”, Young Bae kemudian membuka kotak tadi. Isinya adalah keramik berbentuk bunga tulip merah. Cantik sekali. Bunga kesukaan Hara.

“Sepertinya mahal. Dari luar negeri Hyung.”, Daesung menimpali lagi setelah melihat tulisan dibawah keramik tadi. Dari Inggris.

“Dasar, Hara. Dia suka memberiku barang-barang yang belum bisa kubalas.”, Young Bae berkata lirih sambil tersenyum.

“Ah, benar kan! Dia itu menyukaimu Hyung!”, cetus Seungri.

“Jangan mengada-ada. Aku mau mandi dulu.”, pamit Young Bae.

“Ya! Young Bae akhirnya punya pacar.”, goda TOP

“Ah, kenapa Hyung harus punya pacar!”, Seungri nampak tak terima.

“Hey, kau sendiri punya pacar waktu masih di tingkat 9.”, Daesung gemas menjenggit rambut Seungri.

“Ah, Hyuuuungg!!!”, Seungri merajuk atas perlakuan Daesung. Young Bae tertawa bersama yang lain. Dia lalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

Satu hal yang Young Bae tak ketahui, malam itu adalah malam terakhir Young Bae mendengar suara Hara. Hari terakhir yang sengaja Tuhan penuhkan dengan tawa bahagia bagi Hara. Kenangan terakhir untuk Hara dan Young Bae.

***

“Sangeil chukkae hamnida, Hara-ya. Apa kabarmu hari ini? Aku rindu padamu.”, Young Bae menyerahkan tulipa sharonensis kesukaan Hara. Young Bae mengusap nisan dingin berukirkan nama Go Hara yang selama ini ia rindukan. Wajah Young Bae berubah sendu mengingat yeoja yang ia cintai ini. Ya, Young Bae mencintai gadis itu. Tapi ia belum sempat mengungkapkan perasaannya pada Hara. Dia merasa belum pantas saat itu. Young Bae masih menjadi trainee pada saat itu. Dia merasa belum sukses. Dia takut tak bisa membahagiakan Hara nantinya. Dan hatinya semakin hancur saat mengetahui perasaan Hara yang ternyata juga menyukainya. Young Bae mengetahuinya setelah ia membaca buku harian Hara yang diberikan orang tua Hara.

Disana Hara menuliskan semua perasaannya pada Young Bae. Young Bae berencana menyatakan cintanya setelah debut album pertamanya bersama BIGBANG. Tapi takdir Tuhan berkata lain. Hara tewas dalam kecelakaan fatal. Malam itu setelah mengantar Young Bae ke dorm, Hara mengalami kecelakaan dengan truk. Pengendara truk yang mengantuk kehilangan keseimbangan. Akibatnya truk oleng dan muatannya yang berupa batu-batu besar menimpa mobil Hara yang sialnya ada tepat disamping truk itu. Hara sempat dilarikan kerumah sakit, dia koma. Tapi setelah dua hari, Hara menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak ada selamat jalan yang terucap. Tidak ada kata cinta yang terungkap. Young Bae hanya menyesalkan satu hal. Andai dia tak membiarkan Hara menyetir sendiri malam itu. Andai ia sempat menyatakan cintanya pada Hara.

Mendung langit Seoul sudah berangsur berlalu meski masih berderai gerimis lembut dari Sang Penguasa Langit. Masih dibawah payung hitamnya, Young Bae memejamkan matanya dan tak sadar sebulir air matanya terjatuh menuruni siluet wajahnya. Hatinya tak pernah luntur pada yeoja itu. Bagaimanapun, Hara adalah gadisnya yang pertama. Hatinya sudah terlanjur tertawan gadis lugu itu. Membawa kepingannya bersama keabadian.

Young Bae merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Memaksanya terbangun dan menghadapi kenyataan.

“Young Bae, ada yang mencarimu.”

“Ah, ya terimakasih, Hye Ri.”, Young Bae menoleh padaku dan tersenyum seperti biasanya. Dia kembali mengenakan kacamatanya. Menutupi jejak kepedihan yang sempat terbulir melewati mata indahnya.

“Mianhae, membuatmu meninggalkan toko bungamu.”, Young Bae bangkit dan membungkuk padaku.

“Eh, tidak apa-apa, tokoku malah dijagakan oleh magnae mu. Dia ramah sekali. Malah tokoku jadi ramai dikunjungi, ada artis besar yang berjualan bunga di toko bungaku.”, aku tertawa sendiri berharap Young Bae sedikit terhibur. Dia tertawa ringan, tapi aku tak tahu bagaimana hatinya.

Aku menemaninya berjalan menghampiri dua pria yang dikenal sebagai G-Dragon dan TOP. Mereka tampak mahfum dengan kelakuan Young Bae.

“Ayo, jadwal kita padat.”, si leader mengingatkan.

“Kau juga harus segera menghentikan tingkah konyol Seungri dan Daesung sebelum toko nona ini berubah menjadi kapal pecah.”, TOP menimpali. Young Bae hanya tertawa.

Kami berempat meninggalkan Seoul Cemetery Center beriringan dalam sunyi. Untunglah sesampainya di toko, hanya ada beberapa pelanggan yang datang. Beberapa dari mereka cukup terkejut dengan kehadiran Seungri dan Daesung sebagai penjual bunga.

“Ah, Hyung! Sudah ketemu rummpphhfftt”, seru Seungri tanpa dosa yang membuat pelanggan lain jadi tahu kalau ada member BIGBANG lain yang hadir. G-Dragon menggelengkan kepalanya. Daesung segera membekap mulut Seungri dan menariknya ke mobil. Daesung sempat membungkukuk mohon diri sebelum melanjutkan aksi menyeret Seungri. Seungri juga sempat melambai padaku tanda pamit.

“Mianhae. Dia memang berlebihan. Kami mohon diri dulu. Kamsahamnida.”, G-Dragon mohon diri. Dia dan TOP membungkuk padaku.

“Ayo, Young Bae.”, ajak TOP.

“Gomawo, Hye Ri.”, Young Bae membungkuk.

“Cheonmaneyo.”, aku balas membungkuk padanya.

“Percayalah, Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kalian berdua.”, aku menyemangatinya. Young Bae tersenyum dan kembali membuka payung hitamnya.

Kulihat ia berjalan menuju mobilnya diseberang jalan. Dia tampak tersenyum saat berbincang dengan Seungri sebelum naik ke mobil. Young Bae sempat melambai padaku sebelum mobil mereka berlalu.

Hidup memang terkadang terasa tidak adil. Apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan yang disimpan dalam hati. Young Bae mungkin tampak bahagia dengan hidupnya, tapi dia tetap menyimpan luka hatinya rapat-rapat dibalik senyumnya.

Matahari mengintip dibalik langit Seoul. Gerimis pun perlahan berhenti. Kurasa begitupun hidup. Akan berubah sesuai porsinya dan indah pada waktunya.

-FIN-

 

A/N:

Annyeong!!! Saya balik lagi dengan fanfict kedua saya! #gadakyangnanya, abaikan! ^^

Storyline ini terinspirasi saat saya membaca potongan interview Young Bae dengan Jang Woo-cheol yang dimuat di situs bigbangupdates.com untuk buku yang ditulis Jang Woo-cheol sendiri. Disana ada fakta yang diungkap Young Bae (yang bahkan tidak diketahui member BIGBANG yang lain) kalau sebenarnya dia pernah “hampir” punya pacar sebelum debut. Tapi karena menyadari kesibukan mereka, Young Bae memutuskan untuk fokus pada menyanyi. Disana Young Bae juga bercerita tentang sedikit rasa penyesalannya, karena belum tentu Young Bae bisa menemukan gadis yang sama dengan mantan “hampir” pacarnya ini. Saya sendiri kaget, tapi malah terinspirasi membuat storyline ini. Hanya bedanya mantan “hampir” pacar Young Bae ini tidak meninggal. Saya mencoba gaya menulis baru disini dengan sudut pandang orang ketiga pelaku sampingan didalam cerita. Ma’af jika kurang memuaskan atau malah membuat reader bingung dan jadi kurang bisa menikmati jalan cerita. Saya juga lebih suka memakai nama “Young Bae” dibanding “Taeyang”, entahlah terasa lebih manis. Kesempurnaan adalah milik Tuhan, kekurangan adalah milik saya. Happy reading. Semoga terhibur. ^^