Everlasting Love Cover
Title             : Everlasting Love
 
Author         : Michelletjr
 
Casts           : Taeyang, Kwon Jiyong, Jae-In & Seongwon (OC)
 
Genre          : romance, comedy
 
Rating         : PG
 
Length       : one shoot
 
Disclaimer : don’t copy paste.
 
 A/N            : maaf kalo gaje :p enjoy reading readers^^
 
Twitter      : @michelletjr
Happy Reading ^^
 

Jiyong sangat cemas. Taeyang sama sekali tidak bisa di hubungi. Padahal, Jiyong sudah berpesan kepada Taeyang untuk tidak me non-aktifkan handphone-nya. Tetapi tetap saja Taeyang menon-aktifkan handphone-nya. Semalam, Taeyang benar-benar menyeramkan. Ia nyaris tertabrak mobil karena ke emosiannya. Bunuh diri. Jiyong sampai tidak habis piker, bagaimana Taeyang yang sangat kalem itu bisa se brutal semalam.

“Yoboseo?” kata Jiyong yang akhirnya mendengar nada sambung.

“Mwo?” tanya Taeyang dengan suara parau.

“Bagaimana keadaanmu, Taeng?”

“Gwechana.. aku butuh teman sekarang.”

Dalam waktu kira-kira 20 menit, Jiyong sudah berada di depan rumah Taeyang. Tampak Taeyang tengah menunggu Jiyong di ambang pintu. Jiyong masuk ke dalam rumah Taeyang dan memastikan Boss tidak ada disana. Jika Boss mengerti akan keberadaan Jiyong, Boss pasti akan mengigiti ujung jempol Jiyong. Seperti biasanya, Jiyong duduk dan Taeyang menidurkan kepalanya di pangkuan Jiyong. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka yang mendarah daging.

“Taeyang.” panggil Jiyong.

“Ne?”

“Sebenarnya, kenapa kau begitu marah dengan Jae-In semalam?” tanya Jiyong. Taeyang terdiam. Entah mengapa, sepertinya dia berusaha mengingat-ingat kejadian kemarin.

“Jae-In. Aku memutuskannya.” Kata Taeyang ahkirnya setelah terdiam sekian lama.

“Wae?”

“Ya ada masalah.”

“Mwo? YA, Taeyang. Sebaiknya jangan kau cepat-cepat berkata putus. Itu terlalu childish..” jelas Jiyong sambil mengelus dahi Taeyang.

“Bukan itu. Itu masalah besar. Jae-In tidak bilang jika ia akan menikah dengan Seongwon.. Lalu, untuk apa selama ini aku berpacaran dengannya? Bukankah aku ini di permainkan?” jelas Taeyang. “Berita itu sudah tersebar, bagaikan bola salju. Sekarang aku sering di sebut dengan ‘Bonekanya Jae-In’. Bagaimana aku tidak marah besar?”

Jiyong terdiam mendengar cerita Taeyang, seraya mengelus dahinya. Sesekali ia mengangguk, menanggapi ceritanya.

“Uhm.. Begini. Memang sulit sekali bagimu untuk menghadapi itu semua. Tapi, jikalau kau berusaha untuk bunuh diri, apakah itu tidaklah terlihat bodoh?”

Pabbo! Tentu saja..”

“Apa benarnya sih , jika bunuh diri?” Jiyong berkelakar.

“Mianhae..” jawab Taeyang dengan suara parau. “Ah, Jiyong-ah. Bagaimana ini? Aku di undang ke pernikahan Jae-In. Aku ini harus bagaimana?”

“Aku tidak tahu. Tapi ada yang ingin ku katakana setelah sekian lama.”

“Apa itu?” tanya Taeyang penasaran.

“Jo.. joha..”

“Mworago?”

“Johahae, Taeyang. Johahae..”

“MWO?! Jiyong-ssi!!”

***

Acara pernikahannya sudah kelar. Jiyong dan Taeyang berjalan menuju keluar gedung. Mereka duduk di antara pohon mahoni sambil mendengar cicitan burung murai. Sambil menunggu waktu untuk berbicara dengan Jae-In dan Seongwon. Ada sesuatu yang hendak mereka sampaikan. Sesuatu yang sangat penting, menurut mereka.

“Jiyong-ah, apa ini tidak terlalu lama?”

“Ya sudah, ayo kita bicara sekarang.”

“Ne.”

Tepat pada saat itu, Seongwon dan Jae-In tengah mengganti bajunya dan membersihkan segala make-up nya. Taeyang dan Jiyong berjalan masuk dengan langkah lebar. Seongwon membuang senyum lebar menyambut mereka. Sebenarnya, Seongwon agak jengkel dengan keberadaan Taeyang.

“Annyeong. Kami berdua mau mengundang kalian dalam acara pernikahan.” kata Jiyong sopan.

“Kureyo? Acara pernikahan siapa?” tanya Jae-In.

Jiyong menyerahkan selembar kertas undangan yang bertisik bunga mawar di bungkusnya. Pendek kata, undangan itu tampak cantik. Jae-In melihat. Pandangan yang mengiris mata. Disana tertera:

“JIYONG & TAEYANG”

#end