ALWAYS HAPPY

Author                 : @ierha_cieciet

Main Cast          : -Kwon Ji Yong

                             -Sandara Park

Genre                : Romance

Length              : One shoot

A/N                    :

FF punya saya, cast cuma minjem. For Applers, For VIPs, For Black Jacks, For K-Popers, And For Readers..^^ No plagiat! Not Like? Don’t Read! Haters? Hush Hush!!

.

.

Dara POV’s

“Ne.. Arasseo.. Cepatlah kembali !”

Tut ! Kututup telpon dari Jiyong. Yeah ! Dia tak jadi pulang karna ada masalah dengan pekerjaannya.

“Huft .. !” Dengusku memanyunkan bibir. Sepertinya aku akan sangat merindukannya karna tak bertemu dia. Sudah 3 minggu ini dia Show di Tokyo. Yeah! Aku mengerti. Pekerjaan yang memaksa kami begini. Aku juga sibuk. Jadwalku mulai padat minggu ini.

Tik ! Tik ! Tik !

Kulirik mataku ke arah jendela dari tempatku merebahkan badan. “Hujan”. Sebuah kata keluar dari mulutku secara spontan. Aku beranjak dari kasurku dan berjalan menuju sofa dimana aku dapat melihat jelas hujan diluar.

*FLASH BACK ON*

Author POV’s.

“Dara~ya. Saranghaeyo.. Don’t Leave Me ! Tetaplah disisiku !” Ujar Jiyong ditengah derasnya hujan. “Aku tak bisa kehilanganmu!” Ucapnya lagi. Kali ini dengan suara membentak, menatap tajam dengan mata sayunya melihat Dara di balik jendela kamarnya.

“Kau bohong, Jiyong ! Kau tak mencintaiku !”. Ucapnya pelan.

Tes ! Air mata jatuh di pelupuk mata Dara. Ia jatuh duduk dan menangis. Lama sekali ia menangis, hingga ia lupa bahwa Jiyong masih menunggunya di halaman rumahnya dan ditemani oleh derasnya air hujan.

Seketika ia berdiri, melirik jam dinding di kamarnya.

Pukul 16.30. Dara berjalan gontai menuju jendela. Dibukanya selambu warna pink dengan rajutan nama “Daragon”.

Mwo??!! Dia masih disana?? Pabbo!! Dia bisa sakit jika terus menerus kehujanan!” Kaget, Dara melihat Jiyong yang masih duduk terpaku di derasnya hujan. Sudah 3 jam ia kehujanan.

Cepat-cepat Dara mengambil Ponselnya di meja. Tangannya memencet tombol denngan cepatnya. “Send”. Ujarnya.

Jiyong POV’s

~I’m Singing My Blues.. Paran Nunmure.. Paran Seulpeunge..~

Kudengar Ponselku berbunyi ditengah derasnya hujan. Aah.. Sebuah Sms.

From        : My Sweet Angel.

Message  : “Ya!! Pulanglah!! Kau bisa sakit jika terus kehujanan !”

Mwo? Dara meng-sms ku tapi dia tak mau bertemu? Aishh..

“Ani !! Sebelum kau keluar !” Bentakku meneriaki jendela kamar atas Dara. Tak ada Jawaban. 15 menit kemudian, Ponselku kembali bordering.

~Niga Sarang Haneun Naneun Sorry I’m A Bad Boy!~

Aish.. Siapa sih menelponku hujan-hujan gini ! Kulihat layar ponselku.

From : My Sweet Angel.

Ah! Dia menelponku.

“Ne. Yeobeoseyo..” Ucapku pelan karna kedinginan.

“Pulanglah!” Suaranya sayu dari telpon.

“Ani! Sebelum kau keluar dan memaafkanku.” Ujarku.

“Aku tak akan melakukan itu.” Ucapnya datar.

“Dengar! Aku bisa jelaskan semua. Aku~”

“Aku tak butuh penjelasanmu!” Potongnya sedikit membentak.

“Ani.. Ini tak seperti yang kau kira!” Ucapku melemah. Hampir saja air mataku menetes.

“………” Tak ada jawaban. Aku panik karna tak ada jawaban darinya.

“Tidak! Jangan tutup telponnya! Dengarkan aku dulu! Dara~ya!!” Tak bisa kubendung. Air mata itu jatuh di pelupuk mataku. Mengalir deras. Aku pun tak bisa menahan tangisku. Tangisku menjadi-jadi sama seperti hujan yang kian derasnya.

“Tidak.. Don’t Leave Me!” Tangisku. Aku menangis sejadi-jadinya ditengah derasnya hujan. Dara menutup telponnya. Tuhaaaann.. Apakah ini takdirku? Perjalanan cinta berakhir ditengah jalan. Tidak! Kami bahkan belum melakukan apa-apa. Kami masih belum pacaran. Kupikir kini cintaku bertepuk sebelah tangan..

“Tidak.. Aku tak bisa kehilanganmu.. Aku mencintaimu, Dara..” Lirihku pelan sambil menenggelamkan wajahku ke telapak tanganku. Merasakan bagaimana sakitnya kehujanan, seperti dilempar kerikil-kerikil kecil. Tunggu ! Hey! Aku merasa ada yang aneh. Aku tak merasa ada air yang mengenai Badanku ! Padahal hujan begitu derasnya. Ada apa ini?

Penasaran. Kutengok kebelakang, tepatnya arah bawah. Aku melihat kaki mungil namun sudah berkeriput pucat dan memakai sandal berwarna Pink dan Kuning. Sandal ini?? Aaah.. Sepertinya sandal itu sudah tak asing lagi bagiku. Tapi bodohnya, aku bisa lupa!

Karna terus penasaran, pandanganku naik, melihat legging Putih dengan hiasan bintang-bintang kecil disekitar lutut. Pandanganku terus naik, dan naik. Hingga kudapati wajah seorang gadis tersenyum padaku. Wajah itu.. Aku hafal betul wajah itu. Tapi aku tak yakin dengan mataku sendiri.

“Mungkinkah…” Desisku pelan. Diikuti anggukannya yang anggun. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat.

“Aahh.. Tidak mungkin! Ini pasti halusinasiku saja.” Teraku meyakinkah diri sendiri. Namun, hatiku sepertinya menolak apa yang aku ucapkan. Kulihat dia menundukkan payungnya, berjongkok dihadapanku.

“Ne.. Kau benar. Ini aku Jiyong..”

Kuusap- usap kedua mataku dengan kedua tanganku. Masih tak percaya, kutampar pelan pipiku yang lembab karna basah. Apakah ini mimpi??

“Tidak.. Kau benar Jiyong. It’s me. Dara..” Dia berkata sambil membelai lembut pipiku kananku. Spontan aku kaget. Tuhaaann.. Semoga ini benar.. Tiba-tiba dia memelukku. Membisikan sebuah kata padaku.

“Nado Sarangahae..” Kurasakan bibirnya yang lembut mendarat dipipiku.

“Dara-ah..” Lirihku pelan.

“Ne?”

“Saranghae.. Jeongmal saranghae..”

Dia tersenyum, kemudian menggenggam erat tanganku yang sudah sangat berkeriput karena dingin. Dengan jelas ku dengar dia mengatakan “Nado Saranghae, Jiyong.”

Entah rasa apa ini. Aku tak pernah merasakan rasa ini sebelumnya. Seperti ada letupan-letupan kembang api di hatiku. Meledak secara bersamaan. Indaaaahh sekali..

“Gumawoyo..” Satu kata terucap dari ku sebelum bibirku mendarat ke bibir mungilnya. Bibirnya itu.. Lembuuut sekali.. Ini baru kali pertama aku merasakan ini. Apa maksudku? Hey! Ini ciuman pertamaku. Ya, ciuman pertamaku bersama Dara. Orang yg kukasihi.

Kurasakan dia menikmati perlakuan lembut bibirku. Kutarik pelan badannya sampai menyentuh badanku. Kuperdalam ciuman itu. Dia tak dapat menahan pegangannya pada payungnya. Payung berwarna pink dengan gagang kuning itu pun jatuh ke samping. Tinggalah aku dan Dara yg sedang menikmati sebuah moment indah di tengah derasnya hujan.

 

Dara POV’s.

Dia menciumku. Ini kali pertama aku berciuman. Mungkin dia juga. Aahh.. Jiyong.. Bibirmu.. Lembuuut sekali. Bagaimana bisa selembut ini?

Dia menarik pelan Badanku, hingga menyentuh badannya. Dia memperdalam ciuman kami. Aahh.. Rasa ini.. Entah kenapa aku merasa ini bukan nafsu.. Ini tulus dari dalam hati nya. Ya, aku merasa nyaman dengan ini semua. Sampai-sampai aku lupa bahwa aku memegang payung. Payungku pun lepas dan jatuh ke bawah. Menyisakan kami yg sedang berciuman di derasnya hujan. Kau tau? Dinginnya hujan saja tak dapat ku rasakan.. Kau tau kenapa? Ya, dia menghangatkan aku dengan cintanya. Orang ini.. Namja ini.. Ya, Jiyong.. aku mencitainya. Benar-benar mencintainya.

.

.

Author POV’s.

“Taraaaaaaaaaaa… Secangkir kopi ekspreso dengan taburan cinta..” Sebuah kata terucap dari bibir Jiyong mengawali pagi mereka yg cerah.

“Hihihihi..” Dara terkikik mendengar ucapan Jiyong. Dara bangun dan duduk di kasurnya.

Jiyong meletakkan Kopi buatannya di meja kecil sebelah kasur Dara. Kemudian dia duduk di kasur Dara. Memandangi Yeojachingu-nya yang masih baru bangun tidur.

“Pagi, Chagi..” Ucap Jiyong sambil tersenyum.

“Pagi juga, Chagi.. Hey! Kenapa kau tatap aku seperti itu, ha?? Ada yg salah dengan ku?” Tanya Dara sambil menyeruput Kopi Ekspreso buatan Namjachingu-nya. “Hhmm.. Nikmat sekali..”

“Ah.. Ani.. Kau cantik sekali pagi ini.. Apakah kau tidak kedinginan? Diluar salju. Ini hari pertama musim salju.” Jelas Jiyong.

“Mwo?? Salju?? Aneh, aku tak merasa kedinginan sama sekali.” Jawab Dara sambil terus menikmati Kopi Ekspreso nya, diikuti dengan senyuman Jiyong.

“Baguslah.. Sweater itu berfungsi dengan baik.. Tak sia sia aku memakaikannya.” Ucap Jiyong sambil menerawang jauh mengingat apa yg sudah susah payah ia lakukan.

Spontan, Dara tersedak Kopi nikmatnya. Dia batuk batuk, mengerang kesakitan. Jiyong panik, kemudian bergegas ke dapur membawakan Segelas air. “Aiissh… Pabbo Yeoja!! Bagaimana kau bisa tersedak?? Pelan-pelan minumnya..” Terang Jiyong mengelus punggung Dara.

“Ya!!!! Apa yg telah kau lakukan???? Bagaimana aku bisa memakai Sweater ini??” Kata nya setelah melihat Sweater blue tebal yang dipakainya.

“Sudah kubilang bukan? Aku memakaikannya pada mu semalam.. Kau tau betapa sulitnya memakaikan Sweater itu padamu? Aiishh..” Jiyong hanya meringas meringis.

“Mwo?? Kau yg memakaikannya??? Hey!! Apa yg sudah kau liat??” Ucap Dara. Sekepal tinjuan mendarat di lengan Jiyong.

“Auuuu!! Appooo.. Waeyo?? Aku tak melihat apa pun.. Lagipula tak ada yg bagus untuk dilihat. Semuanya datar.” Acuh Jiyong, pura-pura cuek.

“Mwo?? Apa kau bilang?? Arrgghh… Jadi kau sudah melihatnya!! Haiissh…” Keluh Dara sambil langsung merebahkan dirinya di kasur. Menutup wajahnya dengan selimut tebal.

“A.. a.. a.. aku tidak melakukan apapun padamu semalam.. Percayalah.. aku tak berani melakukan apapun padamu. Aku hanya memakaikan Sweaterku karna kulihat kau kedinginan dan kau menggigil. Aku tak tega melihatmu seperti itu.. Jadi.. Kupakaikan saja Sweaterku padamu.. Tapi aku tak melakukan apa-apa padamu.. Suwer!!”

“Jinjja??” Ucap Dara sambil membuka sedikit selimutnya. Membuat celah kecil untuk matanya dan diikuti dengan anggukan Jiyong.

“Yeeeeeeeeee….” Dara tersenyum gembira. Membuka selimut, dan berdiri. Kemudian ia meloncat-loncat di atas kasur empuk nya.

“Aiissh.. Pabbo.. Hahahahaha” Gelak tawa Jiyong membahana di rumah Dara.

“Gumawo, oppa.. “ Ucap Dara tersipu-sipu.

“Mwo? Oppa?” Tentu saja Jiyong kaget Dara memanggilnya Oppa. Umur Jiyong lebih muda 4 tahun dari Dara. Tapi, mereka terlihat sebaya. Ya, tentu saja karna wajah Dara yg Baby Face.

“Ne.. Gumawo, OPPA.. “ Ulangnya lagi sambil menekan kata ‘OPPA’. “Wae?? Tidak boleh??” Sambungnya.

“Aah.. Ani.. hanya saja aku kaget kau memanggilku Oppa.. padahal umur ku..”

“Lebih muda 4 tahun dariku. Ya kan?” Sambung Dara sambil memutar bola matanya, yang diikuti dengusan kecilnya.

“Bukan begitu, chagi..” Rayu Jiyong dengan muka memelas. Namun itu tak dapat membuat luluh hati Dara. Yeah! Kau tau? Dara itu Keras Kepala.

“Ahh.. Molla molla! “ Dara bangkit dari tempat tidurnya. Memakai sandal dalam boneka mungilnya. Akan beranjak sebelum ditahan oleh Jiyong.

“Chagi, mau kemana?” Jiyong menggenggam tangan Dara. Mencoba menahannya agar tidak pergi. “Cuaca sedang buruk.. Disini saja lah.. Temani aku makan popcorn yaa.. “ Rengeknya.

“Mwo?? Makan popcorn?? Disini?? Denganmu??” Tanya nya bertubi-tubi.

“Tidak. Dan aku tidak mau.” Sambungnya lagi.

Dara beranjak dari tempat tidurnya, mengambil mantel pink dengan gambar scoobi-doo, mengenakan sarung tangan tebal berwarna putih, lalu memakaikan Earphone di telinganya, kemudian ia pergi keluar kamar setelah mengenakan sepatu boat kuning polkadot.

Di sudut kamar, Jiyong hanya diam tak berkutik melihat kelakuan Dara. ‘Apakah dia akan pergi bermain salju dan membuat orang-orangan salju?’ Tanyanya dalam hati.

Krek! Pintu tertutup. Jiyong berlari membuka pintu, kemudian berteriak kepada Dara yg baru saja berjalan 4 langkah. “Chagiya, mau kemana salju-salju gini?” Dara menjawab Jiyong tanpa menoleh. “Pergi ke suatu tempat yg mengasyikan.. Tanpa mu..”. “Yak!! Apa kau masih marah??” Bentak Jiyong di ambang pintu. Dara tak menjawab dan terus berjalan santai hingga tak terlihat lagi.

.

.

Dara POV’s

Aku berjalan ke luar kamar apartement ku. Berjalan menelusuri lorong-lorong apartement. Dan sampailah aku di lobi setelah aku turun dari lift.

Aku terdiam memaku di depan pintu utama. Aku menoleh kebelakang. Tak ada siapa pun, kecuali para pegawai Apartement ini. Kaki ku serasa berat untuk melangkah. Aku kembali menoleh kebelakang. Berharap ada Jiyong akan menyusulku. Namun, nihil.

“Huh! Kenapa dia tak mengejarku ! Dasar pabbo!! Tapi, apa sikap ku yg terlalu cuek padanya ya? Ah, enggak kok. Sikapku biasa saja. Atau jangan-jangan dia marah padaku? Haduuuuh.. Bagaimana ini? Apa aku kembali saja? Aahh! Tidak tidak! Dia bisa tau kalau aku tadi hanya acting.. Oh, tuhaaaan.. Apa yg harus aku lakukan?” Uneg-uneg isi hatiku tak dapat ku tahan lagi.

Aku terus berjalan menelusuri jalan kecil penuh salju. “Sepi sekali..” Desisku sambil menendang sebotol kaleng bekas. Yeah! Sepi sekali. Tak ada orang disini. Hanya ada hamparan salju dimana-mana.

“Huft.. Lagi-lagi aku sendirian.” Langkahku terhenti, dan aku duduk di kursi panjang taman yg penuh salju.

“Hmm.. Dingin sekali.. Andai aku mendengar apa yg dikatakan Jiyong tadi.. Pasti aku tidak akan kedinginan saat ini, dan mungkin aku akan makan popcorn bersamanya. Popcorn? Ya!! Itu camilan favorite ku.. Bagaimana bisa aku tadi menolaknya.. Huuuuuh!!” Aku hanya bisa mengoceh sembari menggosok-gosok kedua tanganku agar hangat.

Bukk! Tiba-tiba ada sesuatu yg mengenai punggungku. Sebuah gumpalan salju yg besarnya hanya sekepal tangan.

“Auu!!” Spontan, ku toleh kebelakang. Tak ada siapa pun. Karna penasaran, aku berjalan ke arah salju yg tadi diluncurkan. Sebuah pohon nan rindang. Semakin dekat langkahku mendekati pohon itu, semakin cepat pula jantungku berdegup. Aku gugup. Ada rasa ingin berlari menjauh. Tapi entah kenapa kaki ku sulit digerakkan.

“Nugu??” Ucapku terbata-bata. Keringatku mengalir deras. Membasahi seluruh badanku. “Hey!” Teriakku lagi.

“Keluarlah! Jangan jadi pengecut !” Aku memberanikan diri menggertaknya, padahal sebenarnya aku takut sekali. Tangan dan kakiku sampai bergetar. Namun, tak ada jawaban dari gertakanku tadi.

“Sepertinya tak ada siapa pun. Mungkin itu kucing.” Kata ku. Aku hendak berbalik badan, melangkah pulang ke Apartement dan meminta maaf pada Jiyong. Kasihan sekali dia.

Tapi tiba-tiba seseorang menutup kedua mataku dengan tangannya. Gelap! Kaget, spontan aku menjerit.

“Aaaaaa!!!!” Jeritku ketakutan. “Tolooooooonngg !!!!” Teriakku sambil memukul-mukul tangan seseorang yg menutup mataku.

Tuhan.. Apa lagi ini? Siapa orang ini? Mungkinkah penculik? Tidak! Aku takut! Tuhaaan.. Lindungilah aku.. Jiyong-ah.. Dimana kau? Apa kau tau aku sedang kesulitan saat ini? Aku.. aku.. aku membutuhkanmu.. Jiyong-ah.. Aku takut! Aku akui aku salah tadi.. Dan aku minta maaf. Aku butuh kamu sekarang. Tolong aku!

“Lepas!!” Aku mencoba berontak. Berharap ia melepaskan tangannya dan membebaskanku. Tapi, aku pikir aku salah. Dia semakin mempererat tangannya. Aku bingung harus berbuat apa.

Jiyong.. Where are you?

Dia terus mempererat tangannya untuk menutupi mataku. Erat sekali, sampai-sampai aku tak tahu apa yg harus kulakukan.

“Lepas!! Kau tak tau siapa aku, ha??” Aku mencoba memukulnya dengan tanganku.

“Memangnya siapa kau?” Tanya nya. Sepertinya aku mengenal suara ini. Tapi siapa?

“Aku.. aku..” Aku terbata-bata mengucapkannya. Aku ragu. Apakah harus aku katakan yg sebenarnya? Bahwa aku adalah Dara. Dara member 2ne1 sekaligus kekasih Jiyong, Leader BIG BANG.

“Aku tanya siapa kau?!” Bentaknya mengagetkanku.

“Aku.. Aku Dara. Dara.. kekasih Jiyong…”

“Siapa Jiyong?”

“Jiyong, seseorang yg aku sayangi. Sangat kusayangi. Aku mencintainya sejak kali pertama aku bertemu dengannya. Setahun yg lalu. Kau.. Kau pernah mencintai orang yg sangat kau sayang, bukan? Karena itu, lepaskan aku. Aku masih ingin bersamanya.. Kumohon..” Aku memohon dengan tulus padanya. Tak kurasa air mata ku turut jatuh dan membasahi telapak tangannya yg masih menyekap kedua mataku.

“Jinjja??” Ucapnya. Entah kenapa suaranya kali ini begitu lembut, dan tak ada bentakan seperti tadi.

“Benarkah kau mencintainya?” Tanyanya lagi.

“Ne.. Aku mencintainya. Sangat mencintainya..” Jawabku.

Kurasakan ia merenggangkan kedua tangannya. Tapi masih tidak melepaskannya.

“Nado saranghae..” Bisiknya. “Dara-ah..” Sambungnya lagi. Ia melepaskan tangannya, membebaskan kedua mataku.

Aku kaget karena ia mengatakan sesuatu yg sangat mengejutkan bagiku. Aku berbalik, ingin melihat wajah nya. Tapi, alangkah terkejutnya aku ketika melihat wajah orang yg mendekapku tadi.

“Ji.. ji.. ji.. jiyong..” Aku tak percaya dengan apa yg kulihat. Benarkah ini Jiyong? Jiyong kekasih ku? Dia hanya tersenyum melihat aku yg kebingungan karena tak percaya dengan apa yg terjadi saat ini.

“Jadi..”

“Ne, Choneun Jiyong imnida.. Hihihi.. Kau kaget?” Tanya nya penuh senyum yg menghiasi wajah tampannya.

Aku kaget ketika ia mengaku kalau ia adalah Jiyong, namjachingu ku. Spontan aku langsung memeluknya. Menangis sejadi-jadi nya dalam pelukan hangatnya.

“Waeyo, chagi? Mengapa kau menangis?” Ia memelukku dengan tulus dan lembut. Membelai rambutku.

“Kenapa.. Kenapa kau melakukannya? Wae? Apa kau ingin membunuhku,eoh??!”

“Aku hanya ingin berakting seperti yg kau lakukan padaku tadi. Tapi, tak kusangka kau benar-benar ketakukan. Mianhae..” Ia mempererat pelukannya.

“Jadi, kau sudah tau kalau aku hanya berakting tadi?”

“Em.” Dia mengangguk. “Kau pikir hanya kau saja yg bisa berakting? Hahaha..”

“Jahat! Kau sudah membuatku ketakutan seperti ini, kau harus tanggung jawab!” Aku memukul-mukul dada Jiyong yang bidang. Dengan sigap ia memelukku. Aku masih memukul-mukul pelan dadanya sambil terisak.

“Apa ini sudah cukup?” aku menggeleng kuat. Kulihat dia mendengus pelan, disusul senyuman mautnya.

*Cup*. Ia mencium pipi kananku.

“Hanya itu saja?” Ledekku yang disambut dengusan kecil nan imut nya.

“Aish.. Pabbo.” Dia membalikan badannya, pura-pura cuek padaku. Aku berbalik cuek padanya. “Huh!” Aku berbalik badan pula. Kini, punggung kami saling bertolakbelakang.

“Kau tau,” Tanpa kusadari ia sudah berbalik kembali, memelukku dari belakang.

“Kau sangat cantik ketika tersenyum..” Ia menyandarkan kepalanya dibahuku. Aku berbalik, menghadapnya. Tak kusangka wajah kami begitu dekat. Mungkin hanya berjarak 10 cm. ‘Kenapa aku berbalik tadi?! Huh! Wajah kami begitu dekat. Kurasa jantungku akan meledak!’ Batinku.

“Wae? Kau gugup? Hahaha.. Suara jantungmu terdengar kencang sekali.. Hahahaha..” Ledek Jiyong. ‘Sekuat itukah saura degupan jantungku? Sampai-sampai ia mendengarnya’. Perasaan hatiku kini campur aduk. Takut, malu, senang, gugup, semua bercampur aduk.

Dia semakin mendekatkan wajahnya. Aku keringat dingin karna gugup. “A.. a.. a.. apa yang.. k.. k.. kau l.. l.. lakukan?” Dia meluncurkan smirk evilnya. Tuhan.. apa yang harus kulakukan?

Author POV’s

Tuhan… Apa yang harus kulakukan?’ Batin Dara. Jiyong yang sedari tadi terus memamerkan senyuman mautnya semakin mendekat.

“Dari wajahmu, aku paling suka matamu.. “ Cup. Sebuah kecupan ringan mendarat di mata kanan Dara yang terpejam, kemudian berpindah ke mata kirinya, melakukan hal yang sama. Membuat tanda tanya besar di benak gadis cantik ini.

“Aku juga menyukai jidat lebarmu…” Ucap Jiyong sesaat sebelum dia mendaratkan kecupan ketiganya di kening Yeojachingunya itu.

Cup. Cup. Dua kali Namja ini mencium kedua pipi Dara. “..Juga pipi tembemmu yang menggemaskan itu.”

Hal ini sukses membuat salah satu member 2ne1 ini tersipu malu. Lihat saja, kini kedua pipinya merah seperti tomat. Melihat yeoja di depannya merona, Jiyong kian mencoba menggodanya. “Wah, wah, wah.. Lihat, bahkan di kedua pipi mu kini muncul tomat”. Godanya, sebelum akhirnya tangan Dara menjitak kepala nya. “Euh! Kau ini!”. “Aww!! Sakit tauk!” Jiyong mengusap-usap kepalanya yang kena jitakan Dara sambil mengerucutkan bibirnya sebal. “Huh! Kau selalu saj..”

Perataannya tersumpal sebuah ciuman ringan di bibirnya dan bibir Dara. “Kalau aku suka bibir manismu..” Perasaan kaget sekaligus senang meliputi wajah Leader Boy Band terkenal ini. Yaahh.. Nampaknya pagi ini cukup indah bagi mereka, meskipun cuaca kurang bersahabat.

.

.

Jiyong POV’s

Sore ini, kami berjalan pulang ke Apartement milik Dara. Kami berjalan dengan langkah senada. Tanganku ia genggam erat-erat.

“Wae? Dingin?”

Sadar ia ditanya, Dara pun menoleh. “Ah, ani.. Hanya saja tubuhku terasa sedikit menggigil.”

BLETAKK!!

Sebuah jitakan yang berasal dari tanganku mendarat mulus di dahi Yeoja imut ini.

“Ya!! Apa yang kau lakukan, hah??!!” Amuknya. Aku hanya menahan tawa melihat ekspresinya saat ini.

“Anii.. Itu.. tadi..”

“Tadi apa?!” Potongnya cepat.

“Ada nyamuk di jidatmu..” Jawabku ngasal. Kulihat dia sibuk mengusap-usap dahinya. Kesempatan ini kugunakan untuk berlari darinya.

“Jinjja? Tapi aku tak meras.. Ya!!! Kau mencoba menipuku, eoh??! Mana ada nyamuk keliaran salju-salju gini??! Ugh! Dasar pembo… Ya!! Jangan lari!! Kau takkan bisa kabur dariku Jiyooooonnggg..!!” Teriaknya. Aku hanya tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sepertinya dia sudah mulai bertindak, dia berlari mengejarku. Aku berlari sembunyi dibalik pohon besar, tapi Dara berhasil menemukanku. Alhasil, kami berlari berputar-putaran di pohon besar ini. Sampai akhirnya aku tertangkap olehnya.

“Appooo.. Sakit chagii..” Rengekku. Ia menjewer telingaku. Mungkin saat ini telingaku merah karena jewerannya.

“Ah? Benarkah? Sakit ya? Mian ji..” Sesalnya seraya melepaskan jewerannya. Aku menggunakan kesempatan ini untuk menggelitiki pinggangnya. Sontak ia tertawa kegelian sambil menepuk-nepuk bahuku, menyuruhku berhenti.

“Kyahahahahahaha!!! Sudah ji.. Ahahahaha!! Sudah sudaaaahh.. Hahahaha.. Aku tak tahaaann.. Ahahahahaha..!!” Tawanya menjadi-jadi. Aku tertawa melihat ekspresi lucunya. Aku pun melepaskannya dari kejahilan tanganku.

“I love you.. Will you be mine?” Ucapku. Suasana kembali romantis. Salju turun satu persatu. Menambah suasana jadi lebih romantis. Kulihat wajahnya merah tersipu malu.

“Yes, I will be. I’m yours, babe..” Dara memelukku hangat. Kubalas pelukannya sejenak, kemudian kembali berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Senyum bahagia tak dapat kami lukiskan.

“Together..”

“Forever..”

“I and You..”

“Always Happy..”

*FLASH BACK END*

“Hahaha.. Aku selalu ingin tertawa mengingat kejadian itu..” Aku menatap hujan dari balik kaca jendela. Hujan ini.. Mengingatkanku akan kejadian 2 tahun lalu.. Saat aku masih leluasa bersamanya. Tapi kini.. Kami semua sibuk dengan karir masing-masing.

“Aku merindukanmu Jiyong….” Lirihku. Air mata tak mampu kutampung lagi. Aku sangat merindukannya. Merindukan kekonyolan-kekonyolan hari bersamanya. Merindukan tingkah kekanak-kanakannya. Merindukan gombalan-gombalan lucu dari mulutnya. “Bogoshippeo…”

KREK!! Pintu kamar terbuka.

“Tadaaaaaaaa..!! HAPPY SECOND ANNIV DARAAA!!” Segerombolan namja dan yeoja memasuki kamarku dengan membawa sebuah Tart mini dan berbagai macam hadiah yang terbungkus rapi dengan kertas kado. Aku kaget melihat kedatangan mereka.

“Kalian…”

“Unni.. Happy anniv yaa.. Tak terasa udah 2 tahun kalian pacaran. Haduuuhh.. Selamat yaa..” Minzy berhambur memelukku.

“Chukkae ne unni.. Aiiihh.. Aku iri denganmu.. Kapan aku bisa sepertimu unni?..” Kali ini Chaerin iku menyalamiku.

“Tenang chagi.. Kita akan menyusul mereka.. Ya kan?” Seungri datang menghampiri Chaerin, kemudian memeluk bahu Chaerin.

“Ya!! Apa yang katakan oppa?!” Ia menjitak kepala Seungri, kemudian berlari ke arah Seunghyun dan bersembunyi dibelakangnya.

“Ya!! Mau apa kau dengan tabiku, huh?!” Bom menyeret Seunghyun lalu memeluknya.

“Aigooo.. Alien couple benar-benar konyol yah.” Ledek Daesung. Matanya yang sipit semakin sipit karena tertawa.

“Omo! Kalian.. pacaran?? Yak!! Bom! Kenapa kau tak memberitahuku?” Aku pun ikut bicara. Suasana gundah hatiku tergantikan dengan keceriaan yang mereka bawa.

“Huuuhh.. Aku merana lagi..” Chaerin lesu mengucapkannya.

“Hihihihi.. Kan masih ada oppa..” Jawab Taeyang seraya menepuk-nepuk dadanya.

“Kyaaa.. Oppaa.. Beruntung aku punya kauu..” Chaerin berhambur memeluk Taeyang. Taeyang tertawa sambil menjulurkan lidah ke arah Seungri yang cemberut. Sesaat kami tertawa bersama-sama. Sebelum akhirnya aku sadar tak ada sosoknya disini, ya, Kwon Jiyong, kekasihku.

“Ssantokki.. Kenapa kau murung, huh?” Tanya Bom yang sepertinya menyadari kemurunganku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Noona, kau merindukan hyung kan? Ia bilang mungkin tak sempat bisa kemari karena masih ada beberapa photoshoot di Jep…” Seungri mendapat death-glare dari Chaerin, Bom, Minzy, Seunghyun, Taeyang dan Daesung. “Aahhahaha.. Lupakan apa yang kubicarakan noona..” Senyumnya kecut sambil membentuk jarinya huruf ‘v’ ke arah mereka.

Don’t be sad, noona. Jiyong will beat up us if you cry..” Seunghyun menyemangatiku diikuti anggukan lainnya. Aku hanya tersenyum miris. Tapi tiba-tiba..

“Yo~ Sorry aku terlambat! Happy anniv chagii..”

Ya, Jiyong, Kwon Jiyong datang! Ia berhambur memelukku. Aku menangis dalam pelukannya, entah senang karena ia datang, atau kecewa karena ia datang terlambat.

“Hey.. Uljima~ Kenapa kau menangis babee? Apa mereka melakukan hal bodoh?!” Kulihat Jiyong melancarkan tatapan mautnya pada mereka. Mereka hanya menunduk kikuk.

“Aish.. Bukan salah mereka.. Aku menangis karena kau!” Kupukul dada bidangnya pelan.

“Huuffhh.. Gumawo noona, kau memang malaikat penyelamat kami dari amukan malaikat maut..” Ujar Seungri polos. Yang lain hanya menatap Seungri dengan tatapan ‘tutup mulutmu kalau tak ingin malaikat mautnya bangkit!’.

“Ya!! Kau..” Kutarik tangannya sebelum melemparkan jitakan di Seungri.

“Aish.. Sudahlah Ji..”

“Hajiman..” Ia hendak membela dirinya, tapi langsung kucegah dengan memeluknya erat.

“Wae?” Tanya nya heran.

“Bogoshippeo..” Ucapku masih memeluknya erat. Kurasakan ia tersenyum kemudian membalas pelukanku.

“Nado bogoshippeoyo.. Mianhae aku jarang menemuimu..” Ia membelai lembut rambut ikalku. “It’s okay, Babee..” Senyumku mengembang.

“With You, I’m Always Happy..” Ucapku yang disambut oleh ciuman mautnya. Yang lain hanya melongo melihat adegan kami.

END—

Noohhkaan GaJe.. Hehehe.. Maap yak, piiss ^^v

RCL please.. (^-^)//