Author                        : Triana Zulfa

Title                            : Lonely

Cast                            :

CL                 as Chaerin

Seungri        as Seungri

GD                as Jiyong

Dissclaimer               :

Plot cerita hanya milik saia, sedangkan castnya dibagi-bagi    boleh.

A/n                             :

Kyyyaaaa, ini ff kedua yang ku buat. Mencoba peruntungan buat dipublish disini. Kalo cerita aneh, gaje, alur kecepetan, typo, mohon maap yaa, mohon jangan gantung saiaaa. Sebenernya sih bingung pairingnya mau siapa, dan jeng jeng jeng jeengggg ,, RiRi couple yang akhirnya kubuat, padahal mereka kek anjing dan kucing yang tarung terus, kekekekekekekk~ Oke, abis baca ini ff, silahkan meninggalkan jejak-jejak kalian disini, saia sangat butuh bimbingan, saran, kritik dan masukan kalian semua, karena saia masih author abal-abal. If you don’t like, please don’t read it and don’t bash it. Makasih juga buat admin Let’s have fun!

Twitter                      : @trianazulfa2012

*HAPPY READING*

“Ya!” Seungri tiba-tiba mengagetkanku yang tengah sendiri.

Ya, aku memang selalu sendiri. Dia selalu mencoba mengajakku berbicara, mengobrol. Sekali, dua kali kutanggapi datar.

Ia seperti tak lelah untuk mencoba membuatku berbicara lebih banyak.

“Mwo ya?” jawabku singkat dan datar.

“Kenapa kau tak pernah berbicara lebih sih?” tanya Seungri heran sambil menatapku meminta jawaban.

Ya, pertanyaan itu selalu dilontarkannya, seperti dia tak pernah lelah menanyakan terus-menerus hal itu.

“Tak apa, memang kau mau aku seperti apa?”

“Ya sudah pasti aku ingin mendengar kau berbicara, mengobrol dengan yang lainnya, bukan hanya bergumul dengan novel-novelmu yang tebal itu sambil menyumpal kupingmu dan mendengarkan musik dari MP3mu.”

Ah, benar katanya, aku memang selalu sibuk dengan novel yang selalu berada ditanganku dan juga lebih asyik mendengarkan musik dari MP3ku daripada mendengar keadaan sekitarku, terutama kelasku.

Lalu, kenapa dia selalu memperhatikanku? Selalu, bahkan terlalu peduli terhadapku, padahal yang lain pun mendiamkanku.

Esok Harinya

Hari ini aku sedang malas membaca novel apapun, pelajaran jam ini juga sedang kosong, jadi untuk mengusir rasa sepi ku, aku sibuk mencorat-coret sebuah kertas.

Oh God, I feel so lonely. Aku rindu appa dan eommaku. Aku rindu jiyong oppa.

Appa, eomma, jiyong oppa, bogoshippo ..

Aku jadi teringat peristiwa kebakaran itu, aku memang tak tau persis bagaimana kejadiannya, aku masih terlalu kecil saat itu. Yang jelas, rumahku habis terbakar, tanpa tersisa apapun. Yang selamat hanya aku dan Jiyong oppa. Jiyong oppa saat ini sudah bekerja di luar negeri, tak tau kapan dia akan pulang.

Oppa, tak taukah kau kalau aku ini sangat merindukanmu? Jebal, cepatlah pulang ..

Setiap mendengar lagi cerita itu, rasa rinduku pada appa dan eomma semakin membuncah, hanya memori masa kecil yang dapat mengingatkan juga mengobati rasa rinduku pada mereka.

Tanpa terasa, mataku mulai terasa panas dan bulir demi bulir air mataku memaksa dan mendorong keluar dari pelupuk mataku.

Saat itulah Seungri kembali menggangguku.

“Ya, kenapa kau menangis?”

Untuk pertama kalinya aku berbicara lebih dan menceritakan apa yang kurasakan pada orang lain. Menceritakan tentang kerinduanku pada appa dan eomma, tentang memori masa kecilku bersama mereka dan kerinduanku pada Jiyong Oppa.

Dialah orang pertama yang mampu membuat bibirku menceritakan apa yang kurasa setelah usaha yang dilakukannya selama ini.

Sebenarnya aku senang dengan usahanya untuk membuatku bicara lebih.

Aku senang ketika dia tiba-tiba datang dan mencoba mengajakku berbicara.

Aku senang karena ketika dia berusaha mengajakku berbicara, dia membuatku tak lagi merasa kesepian.

#Seungri POV

Ah, hari ini dia terlihat berbeda, dia hanya sibuk mencorat-coret sebuah kertas yang ada di hadapannya. Dia nampak lain dari biasanya yang hanya sibuk dengan novel dan MP3nya. Karena rasa penasaran dan rasa ingin tauku yang tinggi, mendorongku untuk mencoba mendekatinya.

Ya, dia menangis ..

Tak biasanya dia seperti ini, ku coba mendekatinya dan bertanya mengapa ia menangis. Tanpa kuduga, dia yang selama ini hanya diam dan menanggapiku dengan sekali, dua kali ditanggapinya datar, tiba-tiba Ia menceritakan tentang apa yang ia rasakan. Ia menceritakan tentang kerinduan yang besar kepada appa, eomma, dan oppanya yang sedang bekerja di luar negeri. Ternyata sosok seperti dirinya ini begitu rapuh dalam jiwanya. Aku baru mengetahui masa lalu perempuan dihadapanku ini. Aku tidak pernah menyangka dirinya pernah mengalami kehilangan yang sangat besar pada orang yang dicintainya, juga rasa rindu yang teramat sangat pada oppanya. Aku senang ketika banyak kata yang meluncur dari bibir mungilnya, itu menandakan akulah orang pertama yang membuatnya berbicara lebih juga bercerita tentang dirinya. Aku berharap pula dia bisa terus seperti ini dan juga aku berharap mempunyai segenap keberanian untuk segera menyatakan perasaanku padanya.

#Seungri POV end

Esok harinya

Masih setengah sadar aku bangun, tiba-tiba melihat pintu kamar sebelahku terbuka sedikit.

Coba ku periksa dan pastikan, dan waktu aku mencoba membuka pintunya perlahan, disana ada Jiyong oppa yang tengah tidur di atas kasur.

Sontak kantukku tiba-tiba lenyap dan berganti menjadi perasaan senang dan kaget, aku segera menghambur ke arah Jiyong Oppa sambil memukuli dengan manja.

“Ya, aish kau ini, menganggu tidurku.” Kata Jiyong Oppa dengan masih setengah mengantuk

“Ya, oppa yang jahat, oppa tau? Aku sangat merindukan oppa, oppa kenapa tidak memberitau kalau akan pulaaangg?” jawabku sambil memasang wajah sok kesal.

Rasanya sudah lama aku tidak bersikap seperti ini, bermanja-manja dengan jiyong Oppa.

“Ahahaha, nee, arraseo. Aku hanya ingin memberi kejutan untukmu saja. Sudah sana, pergi sekolah! Kalau mau reunian, nanti setelah kau pulang sekolah. Sekarang aku ingin menyambung mimpiku tadi yang kau putus. Arra?”

“Ya oppa! Aisshh, nee, arraseo.” Jawabku sambil menarik dengan jahil hidungnya kemudian berlari.

“Ya, awas kau Chaerin-aah! Akan kubalas kau nanti.” terdengar suara teriakan Jiyong oppa dari dalam kamar.

Aku berlalu sambil mengikik pelan mendengarnya. Senang rasanya dengan suasana seperti ini. Aku seperti menemukan lagi jiwaku yang dulu.

Di Sekolah ..

“Ya, woahh, tumben sekali wajahmu berseri-seri seperti itu?” tanya Seungri penasaran.

“Ah, geurreyo. Jiyong Oppa sudah pulang semalam, tapi aku baru tau tadi pagi sih, hehe.” Jawabku asal

“Ah, akhirnya kau setelah sekian lama berbicara lebih banyak semenjak kemarin. Ya, jangan saat-saat tertentu saja kau seperti ini, kau tau? Waktu aku mengajakmu berbicara dan kau hanya menanggapinya dengan pendek dan nada datar, aku seperti mengajak berbicara sebuah patung, atau lebih mirip arca kau tau? Hahahahaha.”

“Ya, kau ini benar-benar, aiishh, Oh God, please, jangan buatku menggantung dia di pohon.” Jawabku dengan nada mengejek.

“Coba saja kalau kau bisa.” Jawab Seungri sambil menjulurkan lidahnya kemudian pergi berlari menghindariku.

“Ya, andwe, kau terlalu berat, nanti malah pohonnya yang rubuh!” teriakku kencang pada Seungri

“Mwo? Kau bilang aku berat? Kau tau banyak wanita yang ingin berbicara denganku, dan kau? Kau malah banyak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.”

Mwo? Jeongmal? Sepopuler itukah kau?”

Geurre. Jinjjayo.”

Nee nee nee , arraseo.” Jawabku mengalah

Sepulang Sekolah ..

Ketika aku ingin pulang, tiba-tiba Seungri menarikku lembut, padahal aku ingin segera pulang dan bertemu Jiyong Oppa.

“Chaerin-aah, ikut aku sebentar ya?” tanya Seungri

“Ya, aku ingin pulang dan bertemu Jiyong Oppa segera.” Jelasku.

“Aku janji hanya sebentar saja. Jebal.” Pinta Seungri dengan nada memohon.

“Kau akan membawaku kemana huh?” tanyaku penasaran.

“Kajja, ikut saja, nanti kau akan kuberitau dan kau pasti akan senang.” Jelas Seungri.

“Ah, tapi hanya sebentar saja kan?” tanya ku memastikan.

Dijawabnya hanya dengan anggukan kecil.

Di Sebuah Taman ..

“Chaerin-aah, andaikan ini di Jepang, aku ingin membawamu kesana untuk melihat bunga sakura yang sedang bermekaran.” Kata Seungri tiba-tiba.

“Ya, apa maksudmu?”

“Kau tau kenapa aku tidak pernah lelah dan bosan untuk membuatmu berbicara lebih?” tanya Seungri

Aku hanya diam menunggunya meneruskan apa yang mau dikatakannya dan terus memandangnya sambil memberi isyarat bahwa aku tak tau.

“Aku ingin mengenalmu lebih banyak Chaerin-aah, ingin lebih mengetahui apa yang ada dalam dirimu yang tidak pernah diketahui orang lain. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengetahuinya setelah kemarin aku menjadi orang pertama yang membuatmu berbicara lebih bahkan menceritakan sisi kehidupanmu yang tak pernah diketahui orang lain. Aku tau, mungkin bagimu ini terlalu cepat, tapi aku merasa senang ketika ada dirimu. Ada rasa senang yang membuncah dalam dadaku.” Jelas Seungri panjang lebar.

Sambil menarik nafas, tiba-tiba Seungri berkata, “Saranghae Chaerin-aah.”

“Kau sedang tidak sakit kan? Atau kau mungkin salah orang?” selidikku.

“Ani, gwenchanna, aku tidak pernah salah orang untuk mengatakkan hal ini. Lalu, apa jawabanmu?” tanya Seungri penuh pengharapan

Seperti ada ribuan kupu-kupu meggelitik perutku, rasa senang dan kaget bercampur jadi satu. Tak dapat kujelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Senang karena perasaanku ini tak bertepuk sebelah tangan, tapi juga kaget tiba-tiba dia mengatakan seperti itu.

Coba kujawab penyataan perasaanya barusan.  Setelah menarik nafas panjang dan membuangnya lepas, akhirnya aku menjawabnya ..

Nado saranghae Seungri-aah.” Jawabku lirih bahkan mungkin setengah berbisik.

Aku rasa pipiku mulai panas dan rona pipiku mungkin sudah membuatku seperti kepiting rebus.

“Ya, jinjja?” tanya Seungri setengah berteriak

“Ya, pelankan suaramu, ini tempat umum! Ah, atau kau mau jawaban ini kuberikan pada namja lain huh?” ancamku

“Ah, andwe! Jawaban itu hanya untukku. Kau tak boleh memberikannya pada namja lain.” Jawabnya sambil mengabaikan peringatanku dan memasang muka sok kesal.

Tiba-tiba Seungri menggendongku di atas punggungnya. Aku merasa senang sekali, benar apa yang dikatakannya, aku juga merasa seperti ada kebahagiaan membuncah. Senang rasanya dekat dengannya dan merasakan aroma tubuhnya.

“Ya Seungri-aah! Turunkan aku,” pintaku

“Ini aku mau menurunkanmu, kau ternyata lumayan berat juga.” Jawabnya dengan nada mengejek dan mencoba menurunkanku dari atas punggungnya.

“Ya, apa kau bilang? Aku lumayan berat?” tanyaku sambil memukul dengan manja lengannya berkali-kali.

Aish, appayo Chaerin-aah.” Ucapnya sambil mengusap lengannya

Nee, mianhaeyo.” Jawabku sambil mengusap lengannya lembut.

=THE END=

Gyaaa , gimana ? Aneh ? iya emang, orang dapet wangsit kilat kok .. kekekekekkk~

Ayo comment comment .. #nunjukkearahbawah