Surrender-pst

Title                 : Sweet Surrender

Author             :Han Chaerim/Sheilaa

Pairing            : Kwon Jiyong/OC

Genre             : Romance, angst

Rating            : PG-13

Length           : 2000k+ words

Warning         : Bad plot, typo(s), random flashback

Disclaimer     : I do not own anything except the plot.

Summary        : “…you can do alot, but you can’t pretend that you don’t love me.”

Twitter blog : @cheycubb – therainysong.blogspot.com

A/N                  :

Anyone ready for heartbroken-TOP? Stronger GD? Pertama kali kirim ke BBFF dan…. VIP baru. Jadi maaf kalo penggambaran Kwon Leader dan Choi Seunghyun kurang pas. Enjoy this one😉

Pukul dua malam.


Pikirnya, tidak ada yang perlu dilakukan dengan jendela apartemen yang terbuka lebar-lebar, selebar lengan tangannya. Angin malam musim dingin bertiup dari situ–yang anehnya tidak terasa terlalu dingin, tidak hangat, hanya normal. Tangannya menyentuh bingkai yang licin seperti porselen, dari apa bahan bingkai jendela kaca itu terbuat, ia tidak tahu.

 

Yang ia tahu, menyenangkan menyentuhnya.

 

Ia mendongak dari lantai enam belas dari gedung apartemennya. Mengerikan? Tidak terlalu. Sedikit pikiran nakal menyelip, seperti anak kecil yang ingin menguji apakah tertusuk jarum akan melukai jarinya. Ia mendongak lagi. Ada wajah membayang transparan di langit mendung itu. Ekspresinya berubah-ubah. Tersenyum, tertawa, menangis, lalu menyeringai.

 

“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?”

 

Ia menoleh dan sedikit meloncat mundur. Apa-apaan?

 

“Hoaahhm. Tidakkah ini waktunya tidur? Atau kau kena penyakit kelelawar, ya?”

 

Ia tersenyum tanpa menjawab. Lawan bicaranya ikut tersenyum dengan wajah mengantuk. “Tidurlah. Kau cantik malam ini, tapi akan terlihat lebih cantik bila bangun dengan segar dan tidak ada kantung mata.”

**

Mungkin bukan mantel Moleskin panjang berwarna hitam ebony keluaran Marc Jacobs itu yang membuatnya tampak redup. Bukan juga boot putih selutut di kaki kecilnya yang mungil dan pendek yang membuatnya tampak hangat di bawah langit malam musim dingin. Bukan juga bau parfum Chanel No 5 yang dipakainya sedikit kurang banyak karena angin menghembuskan sisa-sisa bau mawar dan vanilla, meninggalkannya sebagai gadis inocen yang berbau seperti bunga kurang nektar.

Rambutnya sedikit layu dan ia mengulum bibir melewati trotoar Seoul yang ramai–seperti selalu–di malam 10 Februari. Langkahnya pendek-pendek dan tangannya menggenggam tali tas satchel berwarna kuning pucat yang sedikit dipanjangkan. Ia bertanya-tanya kemungkinan apa yang membuat obrolan sekitar tiga ratus orang di jalanan yang sama dengan dirinya teredam. Seperti suara api yang tidak pernah keluar dengan keras. Bukan hening, satu level di atasnya. Ia merasa sendirian. Semua orang pernah berada di titik itu, gadis petite itu menggumam. Semua orang pernah merasa kesepian di tengah keramaian. Bukan berarti mereka sering merasakannya. Beberapa pemain gitar akustik dan ukulele yang mengadakan konser kecil-kecilan di jalan (atau sebutlah mengamen, memang itu yang mereka kerjakan) tidak bisa menarik perhatiannya.

Padahal ia suka musik. Padahal ia suka orang yang memainkan musik.

Gadis itu, panggillah Han Eunsook. Ia memasukkan beberapa koin uang won ke dalam vending machine kopi, dan memilih kopi hangat rasa mocca late. Tidak ingin meminumnya dulu, ia menggenggam gelas kopi itu kuat-kuat dan berjalan sedikit-sedikit. Tidak perlu bersusah payah, tidak akan ada orang yang menunggunya di apartemen.

“Kopimu baunya oke juga.”

Eunsook berhenti dan sneakers Limited Edition Nike Dunks berwarna hijau neon. Begitu dekat sampai ujung sepatu Nike itu menyentuh ujung boots-nya. Ia mendongak saat sebuah tangan mengacak poninya (yang memang hampir berantakan malam itu) dan membuatnya sedikit tersenyum. Karena wajah di hadapannya itu juga tersenyum.

“Kwon Jiyong-sshi!”

“Sssshht,” Pemuda bertopi hitam itu meletakkan telunjuk kanannya di depan mulut Eunsook, dan telunjuk kirinya di depan mulutnya sendiri. “Ada sekitar seratus enam puluh tujuh orang Korea bernama Kwon Jiyong, tapi yang namanya diteriakkan ala fangirl seperti itu cuma Kwon Jiyong di hadapanmu ini. Jadi tenanglah, anak manis.”

“Jiyo–”

Lagi-lagi Kwon Jiyong menutup mulut gadis itu dan memberikannya satu kerlingan sebagai hadiah dan simbol untuk tetap tenang. “Jangan banyak bicara, sekarang ikuti aku, oke? Sangat rawan disini. Bisa-bisa lima puluh orang mengenaliku dalam satu menit setelah ini dan kita akan repot. Jadi, ada ide kita mau kemana?”

Mungkin hanya kekagetan. Dan sedikit campuran antara shock dan senang. Bukan senang seperti melayang ke udara, atau perasaan berdegup yang tidak jelas. Hanya senang. Eunsook tidak menyangka akan bertemu oleh seorang Kwon Jiyong di malam yang dingin itu (karena harusnya ia bertemu dengan seseorang yang lain). Walau bukan dengan Jiyong ia berjanji malam ini, namun pemuda itu tidak jauh-jauh dari ekspektasinya. Kwon Jiyong sudah cukup membuatnya puas dan senang. Seperti mendapat permen cokelat saat kau ingin mendapat cokelat batangan.

Eunsook mengangguk, dan walaupun sedikit kesal, ia melepaskan tangan Jiyong dari mulutnya dan berkata dengan semangat. “Ayo kita ke apartemenku! Ada beberapa makanan yang akan terbuang jika kita tidak segera kesana dan menghabiskannya.”

**

“Penghangatnya tidak bekerja?”

“Belum dinyalakan.” Eunsook tersenyum kecil sambil membuang kopi-bergelas-plastik yang tadi dibelinya dan berjalan menuju dapur. Jiyong yang baru saja membuka mantelnya menggigil sedikit, dengan iseng membuka jendela dan angin yang berhembus pelan namun sangat membekukan membuatnya berteriak, “Eunsook-sshi, tolong nyalakan secepatnya!”

“Sudah kunyalakan, dan tutup jendelanya, Kwon Jiyong.”

Jiyong menurut, duduk berselonjor di sofa tunggal panjang di depan televisi 29″ milik Eunsook dan memainkan ponselnya. Tangannya bergerak-gerak membuka-buka aplikasi yang ia sendiripun tidak yakin ingin membukanya. Twitter? Instagram? Sejenak kemudian, ia membuka kotak pesan, dan tentu saja tidak ada pesan baru. Ini adalah akhir minggu miliknya dan bahkan Manajer Jung tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkannya main-main di luar dengan bekal kacamata hitam dan masker. Ia bebas malam itu dan malam ini adalah jenis-jenis malam yang terjadi satu di antara satu milyar hari lainnya. Well, secara harfiah, tentu saja.

“Kau mau chips rasa coklat? Atau kita makan sup hangat saja? Bisa aku panaskan untukmu.”

“Tidak usah repot-repot,” Jiyong bangkit. “Kukira kau sudah makan malam. Ini kan sudah pukul, hmm, sebelas malam.”

Eunsook menggeleng. “Sebenarnya belum. Aku mulai berpikir untuk makan ramen saja.”

“Kalau begitu, buat saja dan makanlah sampai kau kenyang. Aku hanya ingin mampir sebentar,” Pemuda itu berkeliling di sekitar televisi. Lalu mengikuti langkah-langkah Eunsook menuju dapur.

Ada sesuatu yang membuat Jiyong merasa seperti di rumah saat berada di apartemen Eunsook. Terkadang ia kesini suatu waktu di sela-sela jadwal manggung, syuting video klip, pemotretan majalah, atau syuting di SBS. Mungkin itu adalah hal-hal kecil seperti cara Eunsook menata beberapa lili kecil berwarna putih di meja ruang tamunya. Mungkin itu adalah warna baby-blue dari wallpaper Eunsook yang bergaris-garis putih. Mungkin itu adalah sesuatu yang sepele seperti cangkir-cangkir bergambar Eros si cupid nakal yang terletak di rak kaca kounter dapur Eunsook. Atau mungkin, mungkin itu hanya Jiyong yang merasa bosan dengan lantai ruang latihan dance atau lantai keramik perusahaan agensi yang dilewatinya sekitar lima puluh dua juta kali dalam setahun.

“Jadi kau sendirian saja?” Eunsook menyeduh ramennya yang masih setengah matang.

“Kurasa kau mengharapkan jawaban lain, tapi ya, aku memang sendirian.” Jiyong mengangkat bahu dan mengambil secangkir teh yang hendak diseduhnya sendiri.

“Kau dapat cuti sehari atau apa?”

“Aku dapat hari libur. Kemarin aku kan mengadakan konser tunggal di Kyoto, kau tidak hadir ya? Manajer bilang aku boleh main di luar, dan walaupun sedang dingin setengah mati, rasanya sayang sekali kalau sampai dilewatkan.”

Han Eunsook hanya tertawa kecil mendengar Jiyong bersikap kekanak-kanakan. Terkadang, itulah semua yang dibutuhkan Jiyong.

“Tapi sebenarnya, aku tahu siapa yang kau harapkan untuk diberi libur.”

Gadis itu menghentikan gerakan sendoknya pada mangkuk ramen yang mendidih. Pernyataan Jiyong barusan seperti menancapkan sesuatu ke tenggorokannya. Jiyong mengangkat bahu, “Bukan aku, iya kan?”

“Memangnya siapa yang harus kuharapkan?”

“Seseorang seperti yang kau sebut pacar, kekasih, teman akrab–bagaimanapun kau menyebutnya. Dan itu bukan aku.”

“Aku memang sejenis merindukan seseorang seperti itu.”

Jiyong memutar bola mata dan mengangkat mug tehnya. “Kau tahu? Kau mulai terdengar seperti merindukan seseorang yang tidak nyata.”

Eunsook hanya tersenyum tipis dan sedikit acuh. Seseorang yang tidak nyata?


“Apakah kau tidak pernah merasakannya, Jiyong-sshi?”

“Merasakan apa?”

Penghangat di apartemen Eunsook berjalan dengan sempurna, namun entah mengapa gadis itu merasa sedikit kedinginan. Sesuatu tentang ucapannya membuatnya kedinginan. Ia mengangkat kaki ke atas kursi dan tersenyum kecil. Kecil dan sedikit pahit.

“Merasakan sakit karena cinta? Pengorbanan semacam itu? Kukira, dari kecil kita selalu diajarkan untuk mengenal cinta dengan cara yang sama. Bahwa kau bisa membuktikan cintamu saat kau bisa bertahan dari penolakan, kesendirian, kehilangan–tidakkah kau pernah memikirkan tentang hal itu?”

Kwon Jiyong menatap Eunsook lurus.

“…menunggu, Jiyong-sshi. Cinta yang membuatmu menunggu dan menunggu yang membuatmu sakit. Kurasa aku masih sampai pada tahap itu.”

“Bahwa cinta itu sama dengan rasa sakit?” Jiyong mencibir sedikit.

Eunsook mengangguk sedikit. Ia mendongak, menatap Jiyong dalam-dalam. Kemudian ia menunduk lagi dan bahkan tidak yakin tentang apa yang barusan diucapkannya.

**

“Kau terbangun kemarin malam. Tidak bisa tidur?”

Jiyong masih memakai piyama lengkap, berdiri di balik meja makan Eunsook dan memegang seteko kopi yang hendak dituangkan ke mug-nya. Ia mengangkat teko itu–menawarkan kopi–namun Eunsook hanya menggeleng singkat dan duduk di kursi terdekat yang bisa ia raih.

Ia mengantuk.

“Tidak usah. Kau kembali ke gedung agensi pukul berapa?”

“Masih tidak tahu. Kurasa setelah sarapan aku akan segera kembali. Eh, kau punya telur Eunsook?”

Eunsook berpikir sejenak, lalu menunjuk ke arah rak. “Cari disitu. Atau cari di lemari pendingin.”

Gadis itu memandang langsung ke ruang tengah dari dapur, menatap jendela yang kemarin malam dibuka. Ia ngeri sendiri. Benarkah kemarin malam ia berpikir jatuh darisana tidak akan menyakitkan? Memang dia pikir apa yang akan menjemputnya? Jin Aladdin atau Ibu Peri Cinderella? Sinting, umpat Eunsook dalam hati.

“Persediaan telurmu rasanya habis. Disini tidak ada sebutirpun,” Kwon Jiyong mengaduk-aduk rak dapur, lalu melangkah membuka lemari pendingin. “Tuh, kan? Kau harus menambah telur dalam daftar belanjamu. Jika sewaktu-waktu aku kesini, aku akan suka makan telur. Aku yakin kau masih punya sekitar dua lusin terakhir aku kesini.”

Well, sesuatu selalu menghilang saat kau membutuhkannya.”

Jiyong menatapnya. Lama. “Terdengar seperti seseorang. Seseorang selalu menghilang saat kau membutuhkannya.”

Menghilang saat dibutuhkan. Eunsook merasa lukisan Aphrodite di ruang tengah membesar, mata dewi cantik itu membelalak, lalu terbahak-bahak. Sindiran yang sangat tepat dari Jiyong.

“Kau membicarakan hal seperti itu pagi-pagi. Aku tidak percaya.” Eunsook menjawab lemah.

Pemuda itu menutup rak dapur  secara perlahan. Lalu ia mengambil kursi di depan Eunsook yang masih terlihat muram dan sedikit mengantuk.

Don’t you get the point yet, Eunsook-ahThe way he treated you just.. makes me sick. Why it cannot be somebody else? The one who’ll treat you much better?

Bayang-bayang transparan di langit malam itu menampilkan diri lagi seperti slide-slide yang dimainkan terlalu cepat dalam kepala Eunsook. Pemuda itu. Ia kira Jiyong selalu menganggap pemuda yang ditunggunya itu, sebagai temannya. Dan Jiyong baru mengatakan bahwa ia muak pada cara pemuda itu memperlakukan Eunsook?

“Aku mencoba melupakannya, tapi itu hanya membuatku merindukannya lebih lagi.” Eunsook tersenyum tipis. “Seperti dia, aku harusnya tidak mempedulikannya, but I do. Aku harusnya membencinya, but I don’t. Aku tidak peduli itu terdengar bodoh.”

“Itu memang bodoh.” Jiyong menatapnya. “Dia jarang–hampir tidak pernah–menghubungimu. Dia sibuk sepanjang tahun dan tidak pernah mengingatmu. Dia bahkan tidak pernah membicarakan tentangmu. Tidak hafal kebiasaanmu. Tidak tertawa pada leluconmu. Dia hampir tidak pernah mengunjungimu lagi. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Akulah yang melakukan semua hal yang harusnya dia lakukan dan lihat bagaimana caramu memperlakukan aku!”

Eunsook menunduk dan satu butir airmatanya jatuh ke ujung meja. “Aku menyayangimu, Jiyong-ah.”

“Bohong,” Jiyong menggeleng kuat-kuat. “Kau bisa berpura-pura tersenyum saat merasa buruk. Kau bisa berpura-pura merasa senang. Kau bisa berbuat banyak hal, tapi kau tidak bisa berpura-pura tidak mencintaiku.”

“Kau.. brengsek,” Eunsook menahan tawa kecil. Ia merasa miris dengan suara tawanya sendiri. “Kuharap aku bisa berkata hal yang sama. Bahwa aku berbohong. Bahwa aku sebenarnya mencintaimu. Tidakkah kau mengerti? Aku ingin mengatakannya, tapi hal itu akan menjadi kebohongan yang lain lagi.”

Kwon Jiyong menunduk dalam. Ada sesuatu menyogok-nyogok dadanya kini. “Aku tidak meminta atau memaksamu mencintaiku kembali–hanya lupakan dia, abaikan dia. It’ll be hurt less.” Ia bangkit perlahan dan memeluk gadis rapuh yang terisak di kursinya itu. Jiyong berharap gadis itu tidak keberatan.

Ia mengecup puncak dahinya.

“I love you. And I swear that’s true.”

**

EPILOGUE:

Choi Seunghyun. Masuk dengan sedikit gerutuan ke gedung agensi. Hangover yang dirasakannya tadi pagi hanya menghilang sedikit setelah minum pil penghilang rasa sakit. Ia tidak ingat apa-apa tentang tadi malam, hanya saja rasanya ia minum Tequilla terlalu banyak. Ia tidak bisa menolak apa yang menjadi favorit Manajer Jung, jadi ia minum saja dan mereka tetap tinggal di Orangery sampai pukul tiga pagi.

Sial. Ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaan cepat-cepat. Ia baru ingat Kwon Jiyong kemarin menghilang dan mungkin pemuda itu baru kembali ke gedung agensi sekitar pukul sepuluh.

Pemuda itu baru saja hendak mengeluarkan ponselnya dari saku saat sudut matanya menangkap Kwon Jiyong yang baru saja masuk melewati pintu otomatis bersama….

Bersama Han Eunsook? Apa pula yang mereka berdua lakukan?

Dengan tangan Jiyong melingkar ke bahu gadis itu?

Seunghyun memicingkan mata, mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melihat gadis itu, Eunsook. Dulu, ia rasa sepertinya gadis itu tidak secantik sekarang. Entahlah, seperti ada yang berubah. Apa gadis itu berpacaran dengan Jiyong atau semacamnya? Apa mereka berkencan? Tapi bukankah Eunsook selalu yang mengirimkan pesan dan berusaha menghubungi Seunghyun walaupun pemuda itu tidak menggubrisnya? Kenapa dengan Jiyong? Seunghyun menggeleng. Mantan pacarnya berpacaran dengan Kwon Jiyong? Mustahil.

Seunghyun merasa aneh. Melihat gadis yang dulu pernah menangis untuknya, sekarang berjalan begitu dekat dengan Jiyong…

…ia merasa tidak suka.

END