flower boy

Poster by : kimskimi ^^ / @tikkixoxo_96

Author : chanyb

Title : Request — Flower Boys [1/2]

Casts : Choi Seunghyun [BIGBANG] — Nam Jong Hoon [OC] — Jung Yong Hwa [CN BLUE] — Kim Jaejoong [JYJ] — Park Jaebum

Other Casts : Cari sendiri cinta~ :3

Genre/Rating/Length : Romance, comedy, friendship/PG 15/Chaptered

Disclaimer : Jalan cerita, alur dan blablabla milik saya pribadi sementara tokoh dan lain sebagainya milik Tuhan YME dan mereka masing-masing.

A/N : Untuk kresty yang sudah merequest sejak jaman dahulu kala maaf saya terlambat bikinnya dan saya gak tau dirimu baca atau tidak #bungkukbungkuk. Tidak suka? Ya, jangan dibaca ^^

======FLOWER BOYS======

“Sekarang hal buruk apalagi yang kauperbuat di sekolahmu, eh? Bisakah sehari…, sehari saja kau membuatku bangga?” Tanpa mengalihkan perhatiannya ke badan jalan, dia lagi-lagi mengajukan pertanyaan seragam. Aish, kapan sih baterai pria tua ini soak? Bunyi menggeram mobil ini bahkan lebih ramah di telingaku ketimbang suara beratnya.

“Berperilakulah layaknya anak-anak perempuan normal seusiamu–sekadar memanjat pohon dan pagar aku bisa mengerti. Teramat sangat mengerti. Karena pada jaman pra sejarah kau mungkin satu spesies dengan simpanse!” Tidak ada nada mengejek dalam nada bicaranya. Tapi, nada bicara dia inilah yang menimbulkan hasrat para kanibal bergejolak dalam ragaku. “Tugasku bukan hanya menyetor muka ; menghambur kata maaf ke sekolahmu,” dan blablabla… blablabla, cerewet sekali dia hari ini? Sedang mendapat siklus PMS, kah?

“Nam Jong Hoon, apa kau mendengarku?” Dengan enggan aku menoleh, menatap tampang menyebalkannya, yang secara tiba-tiba balik menatapku. Meski cuma sekali pintas, perpaduan antara tatapan tajam dan alis rapi yang menukik menghiasi wajahnya itu, selalu membuat nyaliku ciut. Entah bagaimana aku merasa kedua bola matanya mempunyai Sinar-X yang dapat menembus semua perabotan yang ada di balik pakaian dalamku.

“Kau mendengarku, kan?… Sebaiknya kau memberi alasan tepat padaku sekarang. Kenapa anak gadis orang kau bikin pingsan?”

“Dia berpura-pura! Mesti berapa kali kukatakan dia berpura-pura, Paman. Kenapa kau tidak juga memercayaiku?”

“Karena kau memang tidak bisa dipercaya Jong Hoon.” Tidak bisa dipercaya katanya? Cish, benar-benar katarak. Masa akting murahan gadis plastik itu saja tidak kelihatan?

“Jadi apa alasanmu?”

Choi Seunghyun bodoh. Percuma kau menghabiskan banyak uang di luar negeri untuk kuliah kalau mudah ditipu. “Aku mau turun! Hentikan mobil bututmu ini paman Choi!”

Oppa.

“Kau sudah terlalu tua! Cepat turunkan aku atau aku teriak!”

Ban mobil tiba-tiba berdecit dan pintu pun terbuka secara otomatis. Aku tercengang, dia menyeringai jahat. Astaga! Cius Miapa? Sungguh, aku terlampau terkejut hingga bahasa gaul anak muda di Negeri Gemah Rimpah Loh Jinawi terbawa-bawa. Tak adakah kata ‘jangan’ seperti drama-drama romantis yang sering kutonton di televisi, untukku?

Ini berarti aku diusir, kan? Sial! “Aku membencimu!” Segala macam sumpah serapah kumuntahkan saat dia tersenyum tipis sambil menutup kembali pintu.

“Belajarlah sopan-santun!” Melambaikan tangan ringan. Di detik berikutnya, mobil silver yang tadi kunaiki melaju kencang.

Aku mengentak-entak trotoar. Membayangkan seorang Choi Seunghyun lah yang kuinjak sampai tulang-belulangnya berbunyi ‘kretak-kretak’ serta terserang Penyakit Osteoporosis lebih cepat. Awas kau Paman Choi! Di masa depan kau harus jadi pembantuku! HARUS!

Baru beberapa menit menginjak-injak trotoar, napasku sudah tercecer kemana-mana. Dengan kesal aku berhenti dan menggapai-gapai kantung celana olahraga.

Ponsel? Di mana ponselku? Namun bunyi laknat ber’tet-tot’ ria di telingaku ketika menyadari ponsel juga tas selempangku tertinggal di mobil Dewa Kematian. Pupus sudah seluruh harapanku akan bantuan Yong Hwa, sang ibu peri tampan.

Bagaimana ini? Aku tak punya uang sepeser pun untuk naik taksi. Ayolah, jarak dari sekolah ke rumah amat jauh. Mana mungkin aku menempuhnya denganberjalan kaki apalagi menggelinding. Dasar pria tua tak berperi keremajaan! Aku akan….

Kata-kataku tertelan habis seiring terhentinya deruan mesin mobil secara perlahan. Tepat di sebelahku. Terima kasih Tuhan, Kau telah mengetuk hati sekeras batu kali milik pria tua ini.

Selagi tanganku mengambang hendak menggapai pintu, dia menyingkap kaca. Tersenyum miring lalu menjulurkan sebuah tas. “Kau pasti sangat membutuhkan tasmu, kan?” Dengan kecepatan cahaya pikiranku kosong melompong. Seluruh kosa-kata berupa umpatan kasar di dalam brankas-brankas memori otakku seakan musnah, tak bersisa.

“Aku tahu, kau juga tak punya uang untuk ongkos dan membeli Cola. Ini!” Memberikan dua lembar uang; pecahan seratus ribu won dan mengerling genit. Sumpah demi. Aku sangat ingin memutilasi dia menggunakan pisau cukur.

Bisa kupastikan betapa abstrak wajahku kini. Mulutku nyaris menjadi sarang laba-laba saking lebarnya terbuka, mata terbelalak bagai orang cacingan terserang ambien. Tersiksa woi, batin ini tersiksa! “Dan ini topimu. Cuaca sangat panas, ne?” Tanpa perlawanan aku mengambil satu persatu barang yang ia sodorkan. Aku pasti juga kehilangan akal sehat.

Dua menit berlalu sejak serpihan debu jalanan dengan efek kibasan angin, menerpa wajah ovalku. Dan aku masih terpaku menatap hampa lalu lalang pejalan kaki bak anak ayam tersesat. Ralat, aku memang tersesat. Tersesat di jalan bernama kehidupan bersama pria seperempat abad macam Seunghyun. Tiada GPS, kompas, Google Map sekali pun takkan mampu membantu ku keluar.

Aku di jual! Yah, aku dijual oleh kedua orangtuaku kepada paman-paman genit itu. Perdagangan anak di bawah umur–berkedok perjodohan, demi para member Boyband yang unyu-munyu krenyes-krenyes aku tidak pernah ikut biro jodoh–apalagi namanya kalau bukan perdagangan anak manusia sedangkan setahun belakang dia lah yang memberiku makan dan uang saku. Dia pengusaha nyentrik berduit. Mungkin karena penampilan eksentriknya itu sampai detik ini belum ada seorang wanita pun yang berminat mengantar surat lamaran kerja sebagai istri ke rumah orangtuanya.

Atau jangan-jangan dia gay?

Sembari memikirkan jawaban atas pertanyaan: apakah darah murni seorang gay mengalir sungguhan dalam nadi pria bling-bling itu, aku memasukkan koin ke mesin minuman kaleng.

“Nona pirang, tolong minggir!” Spontan, aku menyingkir usai mengambil sekaleng Cola. Melirik sekilas pemuda yang…, oh, Tuhan… betapa seksi pemuda berkeringat ini! Aku mau bertukar posisi dengan handuk kecil di bahunya. Cara dia menenggak minuman, astaga, jakun naik turunnya membuatku ingin bergelantungan di sana.

Dia menoleh, alisnya naik sebelah sebelum melewatiku. Aku lantas berpaling, memindai dia hingga menghilang bersama motor kumbang besarnya. “Jay Park.” Itu adalah nama yang sempat kulihat di punggung jaket abunya. Sama seperti punyaku, kok warna dan bentuknya mirip jaket sekolahku? Jay Park siapa? Ah, beginilah nasib siswa nomaden, nyaris tidak tahu apa pun warga di pekarangan sekolah.

======FLOWER BOYS======

“Yong Hwa-ya, kau memercayaiku, kan?”

“Kau mau aku bilang apa?” Yong Hwa menoleh sebentar. Benar-benar sebentar, paling satu atau tiga detik. Kemudian dia kembali mengatur senar gitarnya. “Dasar!”

“Haaaaa,” dia menghela napas panjang seakan-akan aku telah mendonasikan ribuan ton dosa-dosa besar ke pundaknya.

Meletakkan selingkuhannya ke lantai, fokus menatapku. Tatapan teduh disertai senyum sejuta volt Yong Hwa selalu menginjeksi serum ketenangan ke nadiku. “Kau bahkan belum enam bulan di sekolah barumu. Tetapi hari ini, sudah kali keempat kau diskors, Hoonie-ya. Kau tak memberi petunjuk lain kecuali ‘si gadis plastik itu berpura-pura pingsan.’ Dan aku tak mau menjadi sosok menyebalkan yang sok menasihatimu sementara aku sendiri tak tahu akar permasalahannya. Mengerti?” Dia menempelkan kaleng soda dingin ke dahiku saat aku nyengir. Bercumbu lagi bersama gitarnya, memetik asal-asalan. Namun tetap enak didengar.

“Kalau tidak mau cerita, aku tidak akan memaksa, kok!” Inilah salah satu di antara ratusan hal yang menyebabkanku menyematkan predikat ibu peri tampan di belakang nama Yong Hwa. Sang tetangga sekaligus sahabat yang menjadi pemuda impian para gadis : rupa melankolis dia makin tampak menggugah selera dengan rambut hitam kecoklatan yang menutupi sebagian keningnya. Dari samping pun dia amat memesona. Andai aku tidak mengenal dia sejak masa oak-oek, pa sudah jatuh dan berguling-guling dalam rengkuhan cinta Yong Hwa.

“Dia mengataiku makhluk transgender. Aku tahu aku produk gagal tapi aku bukan transgender. Aku gadis tulen. Aku cuma….”

“Berpakaian dan berperilaku layaknya anak lelaki. Ya. Ya. Ya. Aku tahu itu. Cobalah untuk memakai rok!”

“Tidak mau!”

“Panjangkan rambutmu dan jangan membungkusnya menggunakan topi baseball kumal itu, di sekolah!” Menunjuk topi merah hati di atas sofa.

“Tidak mau!”

“Haaaaa….” Untuk kesekian kali dia menghela napas berat. “Kalau walimu bukan Seunghyun hyung, yang kelebihan uang itu, kau pasti tidak bakalan diterima di sekolah mana pun. Sekolah khusus lelaki pun barangkali enggan menerimamu.”

Betapa dalam liang kubur yang kau gali untukku melalui ucapanmu, wahai anak muda. “Maksudmu, karena aku makhluk setengah jadi, eh?”

“Bukan.” Dia mengangkat kepalanya seraya mengumbar senyum manis. Aduh, ibarat minum kopi pahit sambil melototin senyum beliau, percaya deh…, tetap saja pahit. Hoeks. Sekalipun begitu, rasa pahitnya bakalan kalah telak dibanding rasa manis yang dicecap mataku.

“Tapi karena kau terlampau cantik untuk menjadi anak laki-laki.” Walaupun dia sedang menghambur fitnah tentang diriku, tetap, sayap-sayap tembus pandang di punggungku terbentang. Mengajakku mengambang di pinggir sungai Han. Siapa saja tolong aku!

Dering jelek bel rumahku merusak suasana kidmat. Aku melirik sebentar jam dinding di sebelah kanan dan langsung bermanuver ke pintu. Kala petikan di ruang tengah berubah sendu, aku malah mengembangkan senyum lebar. Selebar bentangan daun pintu. “Hai, Jejung oppa!” Demi melihat ekspresi datarnya, aku harus mendongak.

Dia tersenyum samar kemudian berpaling. Susah, ya, berurusan sama orang yang datang terakhir waktu pembagian emosi. Sumpah, irit pakai teramat sangat. “Seunghyun menunggumu di mobil.” Cepat-cepat aku mengekori sang sekretaris tampan. Nah, kan, apa kubilang: Seunghyun itu gay! Masa punya sekretaris yang kadar ketampanannya di atas rata-rata. Bukan seorang wanita seksi berok pensil mini dan baju serba kekurangan.

“Tumben, paman genit ingim bertemu. Bukannya tadi dia bilang sampai bertemu besok?” Bungkam, “lagi pula ini belum tengah malam, loh. Dia, kan Cinderella versi pria tua?” Cuma menoleh dan mengendikkan bahu sekilas.

Diam begini saja, efeknya pasti bikin gadis-gadis labil sepertiku bergelimpangan. Bagaimana kalau Jejung oppa hobi senyum sebagaimana Yong Hwa bisa menggelepar-gelepar tak keruan. Ah, sebenarnya aku ini membayangkan efek akibat melihat pesona si sekretaris atau epilepsi sih?

Di ujung gang, tepatnya di pinggir jalan sempit, sebuah sedan silver terparkir rapi. Sedikit enggan aku masuk ke dalam dan mendapati Seunghyun sedang memancang arah pandangnya ke tablet PC sedangkan jari-jemarinya amat terampil menggeser layar sana-sini. “Jadi Bos itu tidak enak, ya, paman?”

“Sssst!” Meletakkan telunjuk lentik ke bibir tipisnya. Oke. Aku diam.

Semenit….

Dua menit….

Sepuluh menit…. Sebelas menit setengah…

Lima belas menit lewat lima puluh satu detik. Oke, cukup aku dibuat bodoh oleh pria bermarga Choi ini, “Maksud paman memanggilku, apa?”

“Tidak ada.” What the…. “Maksudnya tidak ada?”

Dia berdeham kecil saat melepas kacamatanya, mengambil sesuatu di kantung jok mobil. Sekuntum mawar merah, segar–menyerahkannya kepadaku. “Mawar ke 369!” Berucap datar tanpa intonasi barang sedikit pun. Semulus jalan tol. Dan apa dia pikir rumahku adalah kebun bunga? Setiap malam mengantar mawar dengan perantara sang sekretaris tampan.

“Kau ikhlas tidak sih, sebenarnya?”

“Tidak sopan. Semestinya kau bilang terima kasih, oppa!”

“Jangan mimpi!”

Dia berdecak lalu keluar, “Jejung hyung, tolong carikan sekolah berdisiplin tinggi untuk gadis kurangajar ini!”

Kurang ajar? Cih. Sekali entakan aku melesat, menghampiri mereka. “Aku tidak kurangajar.”

“Carikan sekolah terbaik. Kapan perlu sekolah kemiliteran, hyung!”

“Tidak. Kumohon jangan paman.”

“Berasrama.”

Andwaeyo!” Seolah tidak peduli akan rengekanku paman genit ini masih bersikeras melakukan negosiasi bersama Jejung oppa. Sekalipun aku telah berlutut sembari mengeluarkan tatapan memelas padanya.

“Dijaga ketat oleh sekompi polisi!”

“Ok….”

Oppa, jangan!” Aku memeluk betis kanannya dan dia tersenyum keji.

“Nah, anak pintar! Oppa, pulang dulu, ya?” Sial! Dia mempermainkan kepolosanku.

“Seunghyun-ah, bolehkah aku menghubungi sekolah yang kau maksud sekarang juga?” Dengan horor aku langsung memelototi kedua bola mata Jejung oppa yang melirikku dingin. Astaganaga, dia lebih mengerikan ketimbang atasannya!

“Besok-besok saja.” Sebelum beranjak, Seunghyun mengangkatku sampai berdiri tegap, menarik hidungku keras-keras lalu beralih mengecup puncak kepalaku selama beberapa detik. Detik-detik yang sukses menghentikan segala bentuk kinerja saraf motorikku. “Kau mesti keramas!… Oh, ya. Aku akan ke Jepang selama beberapa hari. Jangan rindukan aku, ne?” Pungkas Seunghyun akhirnya, berjalan santai memasuki mobilnya dengan seringai kemenangan. Mengabaikan ku yang teronggok sendirian di tepian gang, gemetaran sekaligus berkeringat dingin.

“Kau baik-baik saja, kan?” Suara renyah Jejung oppa tiba-tiba memantul-mantul di gendang telinga, memaksaku untuk mengangguk pelan sambil menelan ludah berulang kali, sebagai respon atas pertanyaannya. Bunyi derak tutupan pintu bercampur geram halus mesin yang baru dihidupkan membuatku semakin frustasi.

“Kepalaku… aaaaaaaa… TIDAAAAAK! KEPALAKU SUDAH TERNODA…! Aku nista, aku berlumur dosa! Keperawananku, eommmaaa….”

“Ssssttt, berisik!” Aku lantas memutar badan ketika suara rendah nan garang milik paman genit tua yang cerewet itu lagi-lagi menyapa telinga, “kau tidak bakalan hamil karena kucium, sayang!” Dia melongokkan kepalanya ke mulut jendela dan melempar ciuman jarak jauh. Benar-benar jelmaan monster dari mimpi buruk.

Padahal aku ingin bercerita banyak, tetapi setiba di rumah, Yong Hwa malah raib. Wujudnya digantikan selembar kertas bertulis: Aku pulang, selamat malam Jong Hoonie. ^^v Tidak seru.

======FLOWER BOYS======

Setengah sadar aku memperhatikan gugusan debu, beterbangan di bawah sorotan sinar matahari pagi, yang menerobos celah-celah ventilasi kamar. Liburan menyiksa.

Hari ketiga diskors…

aku nyaris mati bosan. Uang jajanku pun tinggal kenangan, usai pesta pora pada hari pertama. Dalam kasusku pesta pora tersebut ialah guling-guling di atas kasur sambil bermain game online ditemani seliter Cola, memesan pernak-pernik via internet yang aku sendiri tidak tahu kegunaannya, berkeliling di pusat permainan, pergi ke berbagai restoran serta toko-toko mewah tanpa bayar–cukup menyodorkan kartu berwarna platinum pemberian paman genit itu, aku akan menerima perlakuan istimewa–intinya membuang uang si pria seperempat abad. Siapa suruh main tabrak kepala orang seenak jidatnya. Sayangnya, niat jahatku terendus. Jadi beginilah aku kini… sekarat.

Tanpa berniat mandi ataupun membasuh muka, aku keluar rumah. Menunggu pengantar susu dan koran pagi. Jangan heran kenapa aku cuma sendiri di rumah. Karena ayah-ibuku sedang berkelana berencana mencetak produk baru. Mungkin. Aku tidak peduli. Toh, mereka sudah sama-sama dewasa dan tahu jalan pulang.

Ekor mataku menangkap penampakkan seorang gadis, dia mondar-mandir di depan pagar rumah Yong Hwa. Fans kah?

“Hai!” Dia berjengit sejenak kala kutepuk pundaknya, menelitiku dari atas ke bawah dengan sorot janggal. Kenapa? Ada yang salah pada piyama Angry Bird ku, eh? “Wae?”

“Ah, aniya!” Menutup hidungnya. Sialan! “Bisakah kau memberikan ini pada Yong Hwa oppa?”

Masih jaman, ya, main surat menyurat, “oke. Akan kusampaikan!” Segera setelah aku menyanggupi permintaannya dia melenggang pergi. Ckckck, anak muda jaman sekarang.

Kamsahamnida oppa!” Dia berbalik sembari tersenyum manis, “makanlah yang banyak! Badanmu kurus sekali seperti anak perempuan.” Aku memang perempuan! “Aku Seo Joo Hyun.” Membungkuk dan berderap cepat bersamaan terdengarnya deritan kasar pagar di sebelahku.

“tumben pagi-pagi ke sini.” Sosok Yong Hwa dalam balutan seragam SMA Annyang, menyembul di antara kedua belah daun pagar. Keningnya berkerut-kerut menemukan wujud kucalku tengah nyengir abstrak di hadapannya, “tumben datang sepagi ini. Ada apa? Kau lapar, ya, kau lapar, kan? Sebentar, akan kusuruh bibi Jang memasakkanmu nasi goreng kimchi.”

“Aku mendadak kenyang setelah melihatmu.” Serta merta aku menyodorkan sepucuk surat berwarna merah jambu kala ponselku bergetar.

“Apa ini?” Selagi mengambil benda petak di saku piyama, aku lantas menepukkan surat tadi ke dadanya. “Baca sendiri, oke?”

From : Annoying Ahjusshi

Kau lebih suka aroma udara, laut, tanah?

Pertanyaan menjebak.

To : Annoying Ahjusshi

Laut. Memang kenapa?

“Seunghyun hyung?”

“Yah, siapa lagi?… bagaimana jawabanmu atas surat wangi stroberi itu, kau terima tidak?”

“Begitulah.” Yong Hwa mulai berjalan pelan seraya menjejalkan surat tadi ke salah satu kantung ransel.

“Dia cantik loh! Namanya juga manis. Pokoknya cocok untukmu.” Alih-alih menanggapi ocehanku, dia malah tersenyum misterius. Tetap memancang arah pandangnya lurus ke depan gang. Selalu begini. Semua gadis yang seliweran minta dipacari, dianggap angin lalu.

“Aku berangkat. Sampai berjumpa nanti malam, Jong Hoonie!” Berjalan mendahuluiku dan mengangkat sebelah tangannya.

“Kau pikir aku keturunan kelelawar yang dengan senang hati riang gembira menungguimu hingga lewat jam 12 malam?”

======FLOWER BOYS======

“Hei, kau perempuan transgender, berhenti!” Suara sumbang dari belakang, memecah kelengangan pagi. Abaikan Jong Hoon, abaikan jika tidak mau gosong akibat dijebloskan paman genit ke sekolah kemiliteran. “Berhenti kubilang! Kau tuli, ya?”

Sabar Jong Hoon, sabar. Kau cetar kau membahana dan kau tidak tuli. “Nam Jong Hoon, berhenti!”

Benar-benar gadis ini… “apa?” Aku menghadapnya, membetulkan posisi topiku dengan sikap menantang, “mau meninju hidungku lagi, eh?” Tahu penyebab aku terkena skors? Dialah biang keroknya! Jelas-jelas dia yang menghantam hidungku sampai mimisan. Terus, kenapa pula dia yang pingsan sewaktu guru olahraga datang melerai? Tidak mungkin dia pingsan akibat radiasi cahaya yang terpancar di kepala plontos Kang Seongsaenim! Mustahil!

“Setahuku, kau diskors tiga hari. Tapi, kenapa pagi ini kau berkeliaran di lingkungan sekolah dan merusak suasana?”

Aduh, otak gadis plastik ini agaknya bergeser puluhan derajat. “Ku sarankan kau mereparasi otak juga selain reparasi wajah, Nona Hae Rim. Ingat hari di mana aku mendapat kesempatan meraih liburan hina akibat ulahmu adalah hari sabtu dan kini… hari rabu. Jadi, perlukah aku mengajarkanmu menghitung hari?”

Rona merah padam berpadu bunyi gemertak gigi-geliginya sangat menyeramkan. “Kurangajar!” Telapak tangannya hampir mendarat di pipi kiriku andai tangan kekar seorang pemuda tidak menangkap lengannya, dia berdecak kesal kepada errr… aku tidak ikhlas bila pemuda yang ia tatap secara intens itu ialah Jay. “honey, lepaskan aku. Biarkan aku memberi pelajaran perempuan transgender ini!”

Honey? Mampus. Ini mimpi buruk dalam mimpi-mimpi terburukku dan merupakan bencana dahsyat bagi Jay. Kasihan sekali nasibmu nak… nak… semoga kau lekas diberi hidayah.

“Hae Rim, ikut aku!” Dengan langkah gegas dia menarik onggokan dosa besarnya menyusuri lorong.

Diam-diam aku menguntit, jauh di belakang. Mereka berhenti di lorong bagian sayap kanan, Saling berhadapan. Sementara aku bersembunyi di balik pilar demi menguping pembicaraan mereka. Kapan lagi bisa merasakan hawa kelam yang melingkupi sepasang kekasih? Momen selangka ini mana boleh terlewatkan.

Jay mulai berbicara panjang lebar, nadanya tergolong lembut. Namun ajaibnya, Hae Rim berurai airmata saat Jay menyudahi monolognya sambil berkata, “jangan. Aku masih sayang kamu.” Cih, ‘aku kamu’ dasar sok manja!

Kedua jempol Jay menyeka genangan jelaga di kedua belah pipi Hae Rim. Sangat hati-hati. Aaaaaaaa… ya ampun, manis sekali dia! Cepat putus sana dan jadikan aku pacarmu. Tiap hari rela aku dibuat menangis asal dielus-elus penuh kasih sayang.

“Maka dari itu, bisa, kan, ubah sifat burukmu?” Hae Rim mengangguk patuh, “minta maaf padanya!” Tengkukku tiba-tiba meremang melihat telunjuk Jay mengarah ke pilar tempatku bersemayam. Dari mana dia tahu aku di sini? Dia bahkan tetap menatap lekat manik mata Hae Rim.

“Ada pilihan lain?”

“Baiklah. Jika itu kehendakmu. Selamat tinggal dan kembalilah saat pikiranmu berubah.” Acuh tak acuh Jay berderap melewatiku, tanpa menoleh sedetikpun. Seakan-akan aku ini makhluk halus.

“Terima kasih!” Masih melangkah maju dengan tangan tersimpan di saku jaket, tampan-tampan tuli. “Hmm, Jay. Terima kasih” Aku menaikkan satu oktaf suara, berlari guna mengimbangi langkahnya.

“Kau punya hobi lebih baik tidak, selain menguping?”

Dosa apa aku sampai getaran ponsel selalu mengganggu saat-saat krusial begini. Menggugurkan niatku untuk terperangah, demi meratapi kepergian pemuda berambut cepak itu bersama pertanyaan jahanamnya barang sebentar.

From : Annoying Ahjusshi

Kau menyukai laut sungguhan? Tidak mau ganti?

Ah, basi. Sudah kadaluarsa! Aku tanya kemarin, jawabannya baru pagi ini.

To : Annoying Ahjusshi

Ne, wae?

Pesan terkirim.

.

.

.

.

.

.

.

======FLOWER BOYS======