PAA21BANG

Author : Atikpiece

Cast : 2NE1’s member and BIGBANG’s member

Genre : Gaje!, Comedy/Humor, (sedikit/banyak) Anarki dan Kekerasan.

Rating : PG

Length : Ficlet (laknat) ._.

A/N : Cerita ini terinspirasi dari obrolan guru sama temen-temen yang ‘hampir’ mengarah ke yadong ._. tempatnya di sekolah, waktu pelajaran Sosiologi pula >< kenapa nggak waktu Biologi aja? #slapped *oke, gapenting*

Maap kalo ceritanya aneh -_-“ Mohon maap juga kalo kamu nggak suka sama Idol yang saya pairing di sini.

Let’s Enjoy !

…..

 

TOPBOM’s side-

 

Di pagi hari yang cerah, Bom sedang mengantri di kantin usai pelajaran selesai. Dia menunggu sambil melihat area kantin, memeriksa apakah masih ada tempat duduk yang kosong atau tidak. Setelah menemukannya, dia segera menyambar pesanannya kemudian duduk di tempat yang di tuju sesekali mengatur napas yang hampir terengah karena berlari.

Di saat Bom ingin memasukkan secuil roti ke dalam mulutnya,

“Bom-noona!”

Bom menoleh, melihat Choi Seunghyun atau biasa dipanggil TOP—adik kelasnya memanggil namanya kemudian berlari dengan gembira menuju tempat duduk Bom. Lalu dia duduk di samping gadis berambut merah itu seraya tersenyum lebar.

“Sedang apa?”

“Makan.”

“Oh.” Balas TOP datar.

TOP yang awalnya sangat senang bertemu dengan Bom, tiba-tiba wajahnya berubah kusut ketika mendengar jawaban ketus Bom barusan. Apa itu hanya perasaannya atau bukan, jelas dia tidak tahu. Akan tetapi, TOP merasa kalau perbuatannya kemarin benar-benar kelewat batas sehingga membuat Bom bersikap dingin padanya hari ini.

Noona.” Panggil TOP dengan kepala tertunduk.

“Apa?”

“Anu… yang kemarin itu…”

Bom menatap TOP dari samping dengan sebelah alis terangkat, menunggu kata-kata TOP yang sempat terhenti.

“Maaf. Kemarin, aku terlalu keras melakukannya.”

Mata Bom pun membulat sempurna. Sebelum Bom menanggapi, TOP buru-buru menyela.

“Kemarin malam, setelah pulang sekolah.”

“Ya?”

“Di apartemenku.”

“Hm, kenapa?”

TOP diam sejenak, kemudian berkata agak ragu disertai wajahnya yang memerah.

“Se—Sepertinya, aku terlalu keras melakukan itu, demi memuaskan noona. Iya, kan?”

“Hah?? A—apa yang kau…”

Bom menutup mulut, usai TOP menatapnya seraya memamerkan jari telunjuk di bibirnya. Setelah mereka terdiam cukup lama, TOP menambahkan.

“Kuakui, noona. Ini semua salahku. Tapi, aku—aku juga tidak tahu bagaimana aku harus bertanggung jawab padamu.”

Bukannya paham, tapi Bom malah semakin bingung mendengar perkataan adik kelasnya yang mirip Alien itu.

“Jadi… maaf kalau aku sudah menyakiti noona.”

“Hei, hei, tunggu dulu.”

TOP mengangkat alis, melihat reaksi Bom yang menggerakkan pergelangan tangan di depan wajahnya diikuti ekspresi cemberut.

“Apa yang sebenarnya kaubicarakan, huh? Aku tidak mengerti. Aku bahkan tidak berkunjung ke apartemenmu kema—”

“Hah? Jadi, noona lupa?”

“Lupa? Apa maksudmu?”

“Dan, Seungri juga belum memberitahumu?”

“Memberitahu apa?” Bom tambah bingung.

“Ah, pantas saja. Kukira noona sudah tahu.”

Bom mengerutkan alis sementara TOP mengeluarkan ponsel dari celananya. Setelah tangannya asyik mencari sebuah foto kemudian menekan tombol zoom, dia memperlihatkan foto itu pada Bom. Dan betapa terkejutnya Bom ketika melihat foto itu sampai-sampai dia ingin memuntahkan rotinya.

Noona lupa ya, kalau noona kemarin menitipkan Choco di apartemenku untuk dimandikan? Nah, aku memandikan Choco waktu malam hari. Karena aku ingin noona puas dengan hasil kerjaku, aku memandikan sambil menyisir bulunya supaya halus. Tapi, karena aku menarik sisirnya terlalu keras, bulunya banyak yang kecabut (?) terus rontok. Paginya, si Choco mati kedinginan lalu aku mengambil gambarnya. Noona, lihat ini. Kasihan sekali ya dia…”

*Bom menjerit histeris* *TOP pasang senyum innocent* *Bom njambak rambut TOP + nyekik TOP* *Bom bantai TOP*

 

_______

-DaraGon’s side-

 

Seorang bertubuh tipis nan cengkring dengan inisial G-Dragon atau biasa dipanggil GD itu berjalan menuju bangku taman yang berada di depan gedung sekolahnya untuk mengistirahatkan diri. Dia berjalan dengan perasaan sumringah sambil sesekali merentangkan kedua tangannya ke samping.

Sesampainya di sana, kebetulan sekali dia bertemu dengan kakak kelas yang terkenal dengan wajah manisnya.

Sebut saja Dara. Dia sedang asyik membaca novel favoritnya. Pria itu tersenyum senang kemudian menghampiri Dara dan duduk di sampingnya.

Annyeong, noona.”

Ne.” Jawab Dara singkat, sementara GD sibuk mengusap perut dan lehernya bergantian. Saat ini tersirat di wajahnya perasaan lega sekaligus senyum lebar yang tak bisa lepas dari paras tampannya.

Melihat tingkah GD yang ‘agak-agak’ itu membuat Dara penasaran. Kemudian dia bertanya, “Kau kenapa? Dari tadi mengusap leher dan perutmu terus.”

“Ah, tidak ada apa-apa, noona. Hanya saja…” GD menggantungkan kalimatnya sejenak, lalu dengan cepat menambahkan. “tadi, aku habis bersenang-senang.”

“Oh ya? Dengan siapa?”

“Teman-temanku.”

Dara mengangguk sambil ber-oh ria. “Di mana?”

“Hm… di kamar mandi.”

“Hah??” Dara hampir tidak mempercayai telinganya begitu mendengar pernyataan polos GD. Dari kalimatnya saja sudah membuat pikiran Dara melayang ke hal-hal yang tidak memungkinkan. Bisa ‘yes’ atau ‘no’. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. GD bukan pria yang seperti itu, kan? batinnya.

Sebelum Dara bertanya lagi, GD buru-buru menyela.

“Ya, lebih tepatnya di toilet pria. Dan… oh, oh, kau mau tahu bagaimana rasanya, noona?” tanya GD agak menggebu.

Dara mengangkat alis, enggan menjawab pertanyaan GD. Tapi di dalam hati dia sangat amat ingin tahu. Mungkin saja itu merupakan hal yang menarik. Dara akhirnya mengangguk lalu sedikit mendekat ke GD.

GD menarik napas dalam, kemudian tersenyum malu.

“Rasanya itu… enak, nikmat, menggairahkan dan membuatku ketagihan, noona.”

DEG!

Jantung Dara ber-dag dig dug layaknya orang berdisko. Dia memegangi dadanya sendiri seraya menelan seliter ludahnya, tidak percaya dengan ungkapan si pria tipis di sampingnya. Dan secara tiba-tiba keringat dingin mengalir dari dahinya. Pikiran-pikiran negatif kini mulai meracuni otaknya lagi.

Apa benar GD melakukan hal seperti itu? Di toilet pria?

Atau dia punya kelainan? Dia tidak punya kelainan, kan?

Kalau memang punya, jangan-jangan dia itu…

Maho.

“Eee… lalu?” tanya Dara agak sungkan, pura-pura ingin tahu.

“Ya… begitulah. Pokoknya menyenangkan. Dan sepertinya aku akan mencobanya lagi besok. Kalau mau, noona boleh kok bergabung bersama kami.”

Ish, amit-amit! Lebih baik aku terjun dari Namsan Tower daripada melakukan ‘itu’ bersama kalian, batin Dara. Gadis itu menatap GD nanar, namun karena pria itu tidak tahu, dia malah menambahkan, “aku serius, noona. Ini menyenangkan. Dan kau mau tahu apa itu?”

“Tidak. Terimakasih.” jawab Dara langsung.

“Benar tidak mau tahu?”

“Tidak.”

“Sungguh?”

“Aku bilang tidak, ya tidak!” Dara mulai geram.

“Aah, payah…” GD mencelos, “jarang-jarang lho kami melakukan hal semacam itu, noona.”

“Memangnya apa yang kalian lakukan?” tanya Dara pada akhirnya. To the point.

Selang berapa menit, GD terdiam. Di menit berikutnya dia berdeham, saat mengetahui Dara mencium aroma tak sedap dari lawan bicaranya itu. Bau bagai aroma air di selokan itu semakin menyeruak sampai gadis itu menutup hidungnya. Lambat laun GD pun tertawa lepas.

“Kami tadi melakukan pesta jengkol, noona! Rasanya enak sekali! Sampai aku tambah tiga rantang jengkol dari teman-teman karena mereka nggak kuat mau nambah lagi. Bagaimana, bukankah itu menyenangkan? Selain bikin lega, ketagihan plus puas, irit duit, lagi.” Jawab GD dengan tidak bersalahnya.

*Dara melongo* *GD ngentut (lagi) gede banget* *Dara pingsan* *GD sambit Dara (?)*

 

_______

-RiRin’s side-

 

Seungri tertawa cekikikan di koridor sekolah saat membaca pesan dari kakak kelasnya, TOP, yang mengatakan bahwa dia dibantai habis-habisan oleh Bom karena membuat anjing kesayangan Bom mati. Namun di sisi lain, TOP juga memarahi Seungri karena sejak awal Seungri tidak memberitahu perihal ini kepada Bom. Padahal TOP sudah berpesan supaya Seungri cepat-cepat menghubungi Bom soal kematian anjingnya. Tetapi dia malah mengabaikannya.

Malah, dia sangat senang karena ini baru pertama kalinya Bom menyerang TOP seperti itu.

Di sela-sela tawanya, Seungri mendengar seseorang memanggil namanya.

“Seungri-ya!!”

Seungri memutar kepala ke asal suara dengan gaya slow motion. Namun disaat bersamaan, Lee Chaerin, teman sebangku Seungri berlari ke arah pria itu lalu memukul kepalanya menggunakan tangan kosong.

Yak! Kau ini kenapa?” teriak Seungri usai mengaduh kesakitan. Chaerin menatap Seungri dengan tatapannya yang tajam, kemudian dia meletakkan tangan kanannya di dada.

“Seungri, kau tega!”

“Hah?” Pria itu mengangkat kedua alis tebalnya, tak mengerti maksud Chaerin barusan. Padahal sebelum ini, sikap Chaerin terlihat baik-baik saja pada Seungri. Namun entah kenapa gadis ini cepat sekali berubah galak dan beringas.

“Tega bagaimana? Memangnya apa yang aku lakukan padamu sampai kau seperti ini?”

Chaerin tidak menjawab. Dia hanya diam dan masih menatap Seungri tajam. Di detik berikutnya Chaerin menunjuk diri sendiri dengan jari telunjuknya.

“K—kau … kau merusak milikku!”

Seungri melotot tak percaya. “A—apa maksudmu?”

“Iya! Kau baru saja merusak milikku, Seungri!”

Hati dan jantung Seungri bagai disambar petir. Dia gelagapan setengah mati usai mendengar kata-kata Chaerin. Akan tetapi, dia juga merasa bingung.

Tadi pagi, dia sama sekali tidak mabuk. Minum alkohol pun tidak. Terbukti ketika dia tidak mencium bau menyengat dari napasnya. Mendekati dan merayu Chaerin layaknya orang mabuk saja dia tidak melakukannya.

Tapi, barusan Chaerin mengatakan kalau dia baru saja merusak miliknya.

Ini konyol.

Lalu, sejak kapan kedua tangannya yang besar itu merusak harga diri Chaerin?

“Chaerin-ah, sungguh. Aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan sama sekali tidak merayumu pagi ini. Memegang tanganmu saja tidak. Mungkin kau salah orang. Pokoknya, tidak ada maksud bagiku untuk merusak keperawananmu!”

PLAK!

“Aduh!” Seungri memegang kepalanya lagi yang menjadi sasaran empuk Chaerin untuk melayangkan pukulannya. “Apa? Kenapa kau memukulku?”

Yak, aku tidak semudah itu menyerahkan keperawananku pada orang lain. Kaupikir aku wanita murahan?” balas Chaerin geram.

“Lalu, apa maksud kata-katamu tadi?”

Seungri melihat tangan kanan Chaerin tengah merogoh saku roknya. Chaerin lalu mengeluarkan sesuatu dan memperlihatkannya pada Seungri. Mata Seungri membulat dan dia melihat Chaerin sambil menutup mulutnya sendiri.

“Ini. Kau yang merusaknya, kan?” Chaerin menatap Seungri nanar setelah menyodorkan boneka Rilakkuma-nya yang rusak, dengan bagian kepala yang terpotong—atau bisa dibilang—memisahkan diri dari tubuhnya.

“Diam-diam, aku melihatmu menggunting kepala Rilakkuma-ku sampai putus sewaktu istirahat. Lalu kau tinggal begitu saja di mejaku. Kau bermaksud mengerjaiku, huh? Ini milikku, pabo! Boneka kesayanganku! Kenapa kau merusaknya?”

Seungri hanya meringis. Kemudian dia menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal karena sudah tertangkap basah. Melihat Chaerin yang melotot ke arahnya membuat dia memasang jurus. Yaitu mengedipkan matanya beberapa kali dengan wajah diimut-imutkan.

“Maafkan aku, Chaerin-ah. Dan yah, sepertinya aku juga sudah kelewatan. Nanti setelah pulang sekolah, aku akan membelikanmu yang baru. Ya, ya? Jangan marah, oke?”

*Chaerin melotot* *Seungri pasang muka aegyeo* *Chaerin cubit lengan Seungri + tendang Seungri* *Seungri meluk paksa Chaerin.*

 

_______

-DaeZy and MinYang’s side-

 

Di perpustakaan sekolah, seorang Dong Youngbae atau biasa dipanggil Taeyang, duduk berdampingan dengan dua sejoli yang diam-diam sedang bermesraan. Tak lagi dan tak bukan adalah Daesung dan Minji, teman dekat Taeyang. Mereka ialah sepasang kekasih sejak dua bulan lalu. Dan mereka sudah terlalu sering membuat Taeyang curi-curi pandang dari buku catatan ilmiahnya tatkala mereka saling berpegangan tangan, mencium pipi dan kening dan menarik bahu dengan sebelah tangan supaya lebih mesra.

Melihat dua orang bermata sama-sama sipit ini ber-haha hihi ria membuat dada Taeyang terasa sesak dan panas bagai kobaran api yang kobarannya semakin melanglang buana karena disiram beribu liter bensin. Minji, yang seharusnya menjadi miliknya itu, mengapa harus mengikat tali cinta bersama pria yang jika tertawa matanya hilang dan berambut pirang ini?

Kenapa? Kenapa bukan aku saja? Taeyang mengacak rambut kepangnya frustasi.

Dan semakin frustasi lagi ketika telinganya menangkap perbincangan ‘tidak sedap didengar’ dari mereka.

“Minji-ah, tadi malam, terimakasih ya.” kata Daesung sambil senyum-senyum genit.

Minji yang tadinya tertawa mengangkat sebelah alisnya, “Terimakasih untuk apa?”

“Terimakasih karena kau telah menyerahkan milikmu seutuhnya padaku.”

Mendengar itu, mata Taeyang langsung membulat, diikuti pikirannya yang melayang ke hal-hal yang ‘begitu-begitu’. Hampir saja dia memuntahkan isi perutnya jika tangannya tidak menutup mulutnya lebih cepat.

Mungkinkah mereka sudah melakukan itu? Secepat itukah?

“Yah, tidak apa-apa. Aku senang kok melakukannya demi kau.” Minji tersenyum malu dan seperti yang Taeyang lihat, wajahnya mendadak berubah bersemu merah.

“Aku juga senang. Sangat senang!” Daesung tertawa lalu merangkul pundak Minji agar lebih dekat dengannya. ”Haaah… aku berharap semoga kau tidak terlalu sungkan saat aku memintamu melakukan hal itu lagi, chagi.” kemudian dia mencium pipi chubby Minji mesra lalu mencolek dagu Minji genit.

“Sungkan? Tentu saja tidak.”

“Benarkah? Jadi kau mau melakukannya lagi?”

Minji mengangguk pelan. “Tapi, jangan minggu-minggu ini.” cegahnya, “Kapan-kapan saja. Sekarang aku sedang tidak mau terlalu capek. Kau tidak kasihan padaku?”

“Iya, iya. Aku mengerti.” Sekali lagi Daesung mencium pipi Minji lalu ditambah mencium keningnya. Dia mengusap-usap bahu Minji pelan. “Tidak mungkin aku setega itu membiarkanmu kelelahan.”

“Hm, terimakasih, sayang.” Minji memeluk Daesung erat dan dibalas dengan anggukan Daesung. Mereka seakan tidak peduli dengan tatapan dari seorang Taeyang yang sedari tadi menatap mereka tajam plus ingin tahu. Telinganya sudah terasa panas mendengar percakapan itu dan dalam hati ia tidak menyangka bahwa gadis mungil pujaan hatinya itu sudah menyerahkan keperawanannya pada orang sipit seperti itu.

BRAK!

Dengan cepat Daesung dan Minji menoleh ke pria berkepang dua yang berdiri di samping mereka. Muka penuh amarah yang terpampang nyata disertai gebrakan meja yang dilakukan Taeyang seakan membuat jantung dua sejoli itu meloncat dari tempatnya.

“Apa maksud kalian!?” bentak Taeyang.

“Apa? Apa yang kaubicarakan? Justru aku yang harusnya bertanya apa maksudmu menggebrak meja seperti itu?” balas Daesung geram. Tapi Taeyang tidak mengindahkannya.

“Minji-ah, kenapa kau dengan mudahnya menyerahkan semuanya pada pria ini?”

“Apa maksudmu? Menyerahkan apa?” tanya Minji polos.

Taeyang menjadi tambah kesal. “Tentu saja menyerahkan keperawananmu!”

“Apa!?”

.

.

Hening.

.

.

Masih hening.

.

.

Masih hening lagi.

.

.

Selesai.

PLAK!

“Dasar kau bodoh!” Minji baru saja memukul kepala Taeyang disusul Taeyang yang mengaduh kesakitan. “Aku bukan wanita yang selalu mencolek om-om dan memakai celana mirip pakaian dalam di jalanan malam-malam, tahu!”

Daesung yang melihatnya langsung bergidik ngeri, baru tahu jika kekasihnya itu berwatak galak dan mengerikan macam ini. Sedangkan Taeyang melotot ke arahnya, kemudian ke arah Minji.

“Lalu, percakapanmu dengan Daesung tadi? Apa maksudnya?”

Minji berdecak kesal. Kemudian di menit berikutnya Minji menyikut Daesung, memberi isyarat supaya Daesung mengeluarkan apa yang baru saja diberikannya tadi malam.

Daesung pun menurut. Ia lalu mengeluarkan satu persatu barang dari saku celananya. Dan selang berapa menit Taeyang melongo, mendapati di depan matanya tampak beberapa produk khusus untuk wanita seperti pembersih wajah, pemutih, dan lain-lain termasuk pencabut bulu ketiak.

“Apa ini?” kata Taeyang dengan guratan wajah tidak percaya, “Produk kecantikan?”

“Kemarin, Daesung menitipkan uang padaku untuk dibelikan sekardus produk kecantikan di tokoku. Dan aku pun membelinya sewaktu malam hari karena pada jam-jam itu tokonya mulai sepi, sekaligus aku mengantarkan barangnya sampai ke apartemen Daesung yang letaknya lumayan jauh dari toko. Setelah kembali dari apartemen Daesung, aku kelelahan. Maka dari itu aku cepat-cepat menutup tokoku lalu pulang dan pergi tidur.”

Lagi-lagi Taeyang melongo, seperti dirinya sudah kehabisan kata-kata usai mencerna penjelasan Minji. Dia lalu memutar kepalanya ke arah Daesung selayaknya orang kikuk. “Lalu, untuk apa kau membeli produk kecantikan? Sekardus lagi. Tidak mungkin kan kalau kau melakukan transgender?”

Sungguh, pertanyaannya sangat konyol.

Daesung menepuk jidatnya kemudian berkata, “Tentu saja untuk ibuku, pabo! Mana mungkin aku menggunakan produk-produk ini. Aku kan pria!”

Tidak diduga-duga, ini salah paham. Taeyang menatap Daesung dan Minji bergantian, lalu ia menutup mulutnya sendiri.

*Taeyang meringis* *Minji hajar + tendang Taeyang* *Daesung ikut-ikutan* *Taeyang jejeritan* *Taeyang nyungsep di kolong meja*

 

Dan seperti biasa : Taeyang is forever alone. xD

 

#poorTaeyang.

 

 

 

-Fin-

 

Yah, maafkan saya karena telah memposting cerita yang pembuatannya sendiri karena khilafan sesaat -__-. Maaf kalo idola kamu juga saya nistain *bow180derajat. Saya tahu ini konyol dan garing, tapi mohon jangan di bash! wkwk.

Jadi, kamu suka yang mana? Mind to leave your comment?