flower boy

Poster by : kimskimi ^^ / @tikkixoxo_96

Author : chanyb

Title : Request — Flower Boys [2.1/2.2]

Casts : Choi Seunghyun [BIGBANG] — Nam Jong Hoon [OC] — Jung Yong Hwa [CN BLUE] — Kim Jaejoong [JYJ] — Park Jaebum

Other Casts : Cari sendiri cinta~ :3

Genre/Rating/Length : Romance, comedy, friendship/PG 15/Chaptered

Disclaimer : Jalan cerita, alur dan blablabla milik saya pribadi sementara tokoh dan lain sebagainya milik Tuhan YME dan mereka masing-masing.

A/N : Untuk kresty yang sudah merequest sejak jaman dahulu kala maaf saya terlambat bikinnya dan saya gak tau dirimu baca atau tidak #bungkukbungkuk. Tidak suka? Ya, jangan dibaca ^^

Sebelumnya : 1 |

======FLOWER BOYS======

“Aish, sebenarnya maksudmu ini apa sih paman? Kau tahu, pertanyaan laut; darat; udaramu… bikin aku penasaran seperempat mampus! Kalau sekiranya paman berniat menceburkanku ke laut setelah menjatuhkanku dari pesawat dan berguling-guling di bukit berlumpur, bilang-bilang dong!”

“….” Sunyi.

“Jangan diam begini supaya aku bisa membawa persiapan. Nyawa cadangan misalnya. Eh, halo… halo?” kekesalan kian memuncak kala bunyi gemersak disertai dengung tut-tut, menyahuti geramanku.

Apa-apaan ini? Hei, mulutku sudah berbusa-busa. Dia malah memutus sambungan telepon tanpa berbicara sepatah pun. Sekadar uhuk-uhuk khas kaum lansia saja tidak. Di mana tata krama seorang pengusaha terhormat?

Sembari menyimpan ponsel ke saku, aku memasuki kelas dengan perasaan luluh lantak. Langsung membaringkan kepala ke pangkuan meja. Kehilangan minat untuk menyimak repetan cepat Kwon seongsaenim. Dia memang mempunyai paras tampan imut-imut dan menguarkan aura minta dikarungi. Tapi setelan serba kuningnya, menyebabkan mata ini berkunang-kunang. Mana pakai acara mondar-mandir di depan kelas sambil mengepalkan tangan serta senam bibir cuma untuk mendramatisasi sejarah kerajaan pada zaman Joseon.

Bukan berarti ada aksi tabrak sana-sini. Melainkan… argh, entahlah! Segala sesuatu yang menyangkut dunia per-bibir-an ini selalu memancing sulur-sulur memori menuju masa di mana bibir tipis nan hangat paman genit itu membawa jiwa ragaku berkelana jauh selama beberapaa detik. Aku kesal, frustasi akibat virus mesum yang mulai menjangkiti seluruh jaringan otak.

“Nam Jong Hoon, tolong perhatikan saya! Apakah saya masih kurang tampan, huh? Sampai kamu lebih memilih memaku wajah di meja?” Haah, dia mulai lagi entah itu di awal,perempatan, pertigaan, pertengahan maupun akhir pelajaran, terselip kata : saya tampan–malas-malasan aku mendongak, mendapati sesosok pria nyentrik lainnya selain paman Choi. Yang lantas mengurai senyum mengerikan ketika mata kami bertemu, “jangan abaikan saya lagi, oke?”

Spontan, jantungku kembang-kempis usai lari maraton ke lambung sedangkan otot-otot leher menegang, menghambat gerak anggukan kepala. Tetapi anehnya, siswi-siswi di sekitarku, menggeliat di kursi masing-masing. Bagai digerayangi ulat bulu unyu-munyu lucu imut-imut atau apalah, melihat Kwon seongsaenim menarik kedua ujung bibir. Astaganaga, aku atau mereka yang konslet?

“Permisi.” Sebuah suara dibarengi ketukan pelan, menjeda sesi tatap-menatap kami. Maksudku, dia memelototiku sedang aku menciut.

“Ya, ada yang bisa saya bantu?” Kwon seongsaenim berpaling, airmukanya bertambah keruh menemukan si pemilik suara, Jejung oppa. “Saya hendak menjemput siswi bernama Nam Jong Hoon.”

Kendati tanpa ekspresi decak wah… wah-oh, para siswi labil, tetap mengeringi derap konstannya. Siswa-siswa separo feminim pun ber-aaaah di tempat. Tidak. Aku bercanda. Sebab, 90% penghuni kelas berjenis perempuan, 7 dari 10% siswa laki-laki sudah menjamah kantin. Sisanya ialah pemuda-pemuda berotak encer yang lebih suka bercumbu diam-diam bersama setumpuk buku tebal ketimbang segerombol perempuan cerewet bertubuh sintal. Nah, kan, aku ketularan mesum.

“Sekolah baru bubar jam 10 malam. Silakan kembali nanti malam.”

“Eeerr, Kwon seongsaenim.” Aku berdiri, menyandang tas lalu memakai topi, “bolehkah aku pulang cepat hari ini? Karena… karena, ibuku tadi menelepon bahwa tante nenek dari neneknya nenekku….”

“Jong Hoon, kami tidak pernah mengajarkanmu berbohong, benar? Seunghyun lah yang mengutusku kemari.” Maka, segera seusai Jejung oppa berucap, persendian kakiku melemas seiring meningkatnya ratusan watt daya pelototan Kwon seongsaenim. Nista. Nista. Betapa nista diriku! Oh, Tuhan. Bunuh saja aku daripada Engkau utus pria jujur bermuka datar itu!

“Apakah ini cukup?” Menyaksikan beberapa lembar uang kertas diangsurkan ke tangan Kwon seongsaenim, tubuhku merosot seketika. Riuh-rendah berganti bisik-bisik tetangga. Aku bahkan berniat menggelepar-gelepar menggapai pintu guna menjepit wajahku di sana. Agar bisa dipermak ulang.

Dan dengan segenap tenaga aku menarik lengan sekretaris tampan. Ya, aku tahu dia irit ekspresi tapi apa dia tidak tahu betapa kusut-masai wajah lawan bicara? “Oppa, cepat keluar! Apa kau mau aku digantung, ya?”

“Segera setelah negosiasi ini berhasil.” Dia menoleh sekilas, “apakah ini masih kurang?” Sumpah miayam mibakso dan mi segala-gala-nya aku bernafsu melempar dia ke tempat daur ulang detik ini juga! Tabahkanlah hati hamba Ya Tuhan…. Di mana kewarasan Jejung oppa bersembunyi? Apa otaknya masih bertamasya di gunung Fuji? Jangan bilang jika otaknya sempat dilaundry oleh Seunghyun!

Kemudian, yang mampu kuperbuat cuma memonyong-monyongkan bibir ke kanan kiri, berharap dia mengerti bahasa bibir. Berangsur-angsur dia berderap menuju pintu walau terlihat agak kebingungan. Mungkin.

Jeosonghamnida,” aku membungkuk dalam secara berulang-ulang. sembari menebalkan muka aku memberanikan diri menatap mata lawan bicara dan siswa lain terdengar ikut menahan napas sebagaimana aku sewaktu ia mau membuka mulut. “Besok temui saya di ruang guru. Kini…., silakan enyah dari pandangan saya, bawa serta pria porselen itu!” Geram Kwon seongsaenim. Satu tangannya Mengibas-ibas udara sementara yang satunya memijat-mijat dahi. Enyah. Kibasan tangan. Selaknat itukah aku? Jika kemarin aku merasa bagai anak ayam tersesat. Kini, aku merasa selayaknya titisan meong.

“Cepatlah pergi. Sebelum keriput di muka saya makin bertambah setiap detiknya.”

=====FLOWER BOYS=====

“Bagaimana sekolahmu?”

“Hancur-lebur. Luluh-lantak. Berantakan. PUAS?”

Dia lantas mengalihkan perhatiannya kepadaku. Keningnya mengernyit sewaktu melihat gaya dudukku tidak anggun samasekali; kaki kanan nangkring di atas kursi, kiri terjulur lurus di bawah meja. Bodoh amat! Dia juga yang bakal malu. Lagian, kenapa pula dia memilih kafe di daerah Hongdae, kawasan para anak muda. Ckckck, benar-benar tidak sadar umur paman satu ini.

Aku menggeleng tidak percaya selagi dia menaruh tablet PC, kemudian tersenyum simpul seraya bertopang dagu. “Tidak.” Lama-kelamaan senyum itu berubah menjadi seringai picik, firasatku sangat buruk. “Bagaimana aku bisa puas? Kau bahkan belum melayaniku dengan baik, sayang.”

“Dasar paman seperempat abad mesum! Penghuni rumah bordil, ya?”

“Ya ampun. Apa cara bicara anak muda jaman sekarang seperti ini semua tipenya? Kasar. Tidak sopan. Aku lebih tua 8 tahun darimu tapi aku tidak cukup tua untuk menyandang gelar paman mesum. Lagi pula aku ini calon suamimu Nam Jong Hoon. Mestinya kau berbicara lemah lembut dan penuh kepatuhan!”

Patuh? Enak saja!

“Terus paman sendiri bagaimana, eh? Memutus sambungan telepon sekehendak hati. Mengutus sekretarismu semata-mata untuk menyogok guruku, agar mengizinkan aku pulang cepat demi menerima ocehan tatakramamu. Dan paman Choi, aku terancam tinggal kelas akibat ulah kalian!”

Sebelah alis dia naik saat aku memberi jeda pada gerutuan demi seteguk Cola yang sejak tadi sudah teronggok di atas meja. “Menyodorkan uang ratusan ribu kepada Kwon seongsaenim, sama saja menggali kubur dengan suka rela menggunakan sumpit ramen. Susah paman Choi, susah! Bisa panjang kali lebar = luas urusannya. Belum lagi dikali tinggi, alamat jungkir-baliklah aku.”

Sekonyong-konyong dia terbahak. Tawa berat yang terdengar renyah nan menggoda. Krenyes-krenyes begitu di telinga, juga mengkriuk-kriuk kan jantung serta hatiku. Aduh, apa yang kupikirkan barusan? Ini sesat! Tidak, Jong Hoon kau tidak mungkin terpengaruh oleh tawanya!

“Kenapa?”

“Aku benci tawamu! Jadi berhentilah karena tawamu sangat mengerikan! Jelek untuk kesehatan jantung!” Kembang-kempis tak keruan, tahu! Benakku menyambung.

“Benarkah? Padahal kata teman-teman perempuanku, tawaku seksi.”

“Mereka berdusta!”

“Oh…, oke aku mau berhenti asal kau cium aku dulu!” Cih, sori! Mau dia berpose sok seksi–mematuk-matuk telunjuk ke bibir sembari menerawang ke langit-langit kafe–iman dan takwaku tidak akan runtuh seketika. Gaya mencari cecak begitu mana ada sudut seksinya, kan? Paling imanku sedikit goyah. Yah, sebagai perempuan normal, sekadar menelan ludah itu wajar. Menurutku.

“Bercanda. Baiklah, akan segera kuurus gurumu itu. Kau cukup duduk tenang dan semua beres, arrachi?”

“Uang?”

“Kau suka steik, kan?” seakan tuli, pria tua di seberangku menjentikkan jari. Sehingga salah seorang pelayan wanita yang sedari awal mencuri pandang ke arah dia, datang menghampiri; mencatat segala macam makanan lalu berderap dengan langkah dibuat seksi. Dasar tante-tante centil. Tidak tahu apa, di sini ada tunangannya?

“Semua urusan orang kaya itu selalu mengitari uang dan kekuasaan! Contoh dekatnya orangtuaku.” Tiada jawaban. Suasana langsung hening krik-krik-krik, “mereka rela menjual aku selaku mahakarya terindah mereka! Tidak tanggung-tanggung mereka menjualku pada pria berumur; sudah cerewet, genit, tidak laku pula! Untung masih hidup. Terus seusai transaksi, mereka main kabur entah kemana!”

Selepas aku berbicara, dia berdeham sebentar sebelum berpura-pura mengotak-atik kembali tablet PC. “Kira-kira mereka di mana, ya? Kau tahu di mana orangtuaku, kan, paman Choi? Iya kan?”

Oppa.”

“Ayolah, beritahu aku….” Dalam sepersekian detik roman wajahnya terlihat asing dan mengulas senyum kilat begitu melihat aku melongo.

“Aku tidak tahu, sayang.”

“Mencurigakan.” Kedatangan pelayan centil bersama kereta dorong, memberi koma sesaat.

“Terima kasih.” Pria tua menyebalkan itu berujar manis sedangkan sebelah matanya mengerling nakal dan sialnya direspon senyum-senyum nafsu oleh si pelayan.

Hei, aku melihatnya dan aku tidak menyukainya! Kalau berniat genit-genitan, jauh-jauh sana! Di toilet kek, bila perlu di kuburan! Aargh…!

Bunyi gesekan antara garpu, pisau serta piring mulai terdengar saat aku berkeras membuang muka. “Kau tidak lapar?” Aku melepas topi cuma untuk diletakkan di depan muka, enggan melihat wujudnya. “Kenyang.”

“Kalau misalnya aku tahu orangtuamu kemana, apa kau akan lapar?”

“Tergantung.”

“Oke, bakal kuberitahu.” Meletakkan peralatan makan lalu mengelap bibirnya, “asal kau… menciumku terlebih dahulu!” Dia tertawa setelahnya dan aku berhasrat buang diri ke jurang mengetahui betapa jarang otak seorang Choi Seunghyun direparasi sampai pikirannya rusak.

“Paman, sungai Han lumayan dalam, loh, untuk merendammu!” Derit kursi menyela berbarengan bangkitnya dia dari kursi, melempar sembarang saputangan sembari melangkah lebar-lebar melewatiku. Sontak aku menoleh.

Kenapa dia? Marah? Masa siklus PMS nya belum usai? “Paman Choi, ada…” apa? Kata terakhir tersedat di tenggorokan lantaran suara rendah Seunghyun merapalkan sebuah nama, “Min Ah.”

Aku benar-benar tidak cemburu. Sumpah. Rasa sesak bercampur denyut aneh sepintas ini, adalah keterkejutan semata. Mendapati dia bukan seorang gay. Ya, iyalah dia normal. Mana ada seorang gay minta cium juga hobi main genit-genitan. Sejurus kemudian, kedua kakiku bergerak perlahan, menggiringku keluar kala akal sehat menitah ; menunggui paman Choi di depan pintu kaca. Sedang benakku menggeram marah ; menyuruhku mengarungi Seunghyun untuk dibawa pulang.

“Aku aneh…, kacau…, aku mulai gila…! Jong Hoon, anggap ini tidak pernah terjadi!”

“Nona pirang, bisakah kamu menyingkir?” kepalan tangan dibarengi gerakan bibir menantang langitku serta-merta terhenti menemukan pemuda berjaket hitam bergumam sambil melirik sinis. Aish, dia ini jin kali, ya? Muncul dadakan dan apa pula ini, kenapa setiap bertemu tiada kata-kata manis kecuali kata-kata bernada usiran, minggir, menyingkir nona pirang. Kemana wajah manisnya saat bersama gadis plastik itu? Kemana?

“Hmm, apakah aku boleh lewat?”

“Oh, eh.. silakan!” Jay melangkah dengan gelengan kepala namun, kembali mundur tepat disebelahku. “Kamu bolos, huh?” Aku nyengir dan untuk kedua kalinya dia menggeleng. Ya ampun, betapa tidak sadar diri si Jay Park ini. Padahal dia sendiri juga berkeliaran di luar pada jam sekolah. “Temani aku makan.”

“Tapi aku….”

“Aku yang bayar.” Menangkap sinyal gratis, senyum abstrak langsung terkembang. Persetan dengan Choi Seunghyun!

“Aku baru hendak ber ‘aha-ehe’ ria–menyusul Jay yang telah duduk santai di salah satu meja–ketika sosok jangkung itu telah berdiri di hadapanku. “Kita pulang.” Dia bersedekap sembari memasang tampang congkak.

“Aku belum makan dan tadi temanku, eng….”

“Aku melihatnya. Karena itulah kita pulang.” Sialan!

“Kau tadi boleh bertemu teman wanitamu! Pegang-pegangan tangan, cih. Memangnya kau kira sedang menyebrangkan anak TK?” Astaga, bibirku mulai tidak sinkron! secepat mungkin aku berpaling dan menepuk mulutku.

“Baiklah.” Telapak tangan besarnya yang hangat tahu-tahu menggenggam pergelangan tanganku, “begini, kan?”

Selewat dua menit otakku masih melompong akibat sentuhannya, melupakan Jay yang bakal mencariku di kolong meja. Jarang-jarang digandeng paman-paman tampan membahana. Hahaha….

“Dia Min Ah. Pacarku di masa SMA, cantik, kan?” Bunuh saja aku ketimbang harus mendengar kisah cintanya. Apa peduliku dia cantik atau tidak! “Masuklah.” Dia membuka pintu, dengan teramat sangat sopan dia menuntunku masuk. Paling cari muka karena ketahuan selingkuh.

“Jangan cemburu, sayang. Toh yang bakalan jadi isteriku kelak dirimu.” Terbang melayang jauh. Tapi, “TIDAK! Mau kau dikerubungi 1000 wanita pun. Aku tak sudi bersusah payah mencemburuimu!”

“Baguslah. Aku takkan sungkan mengatakan bahwa kami sering berkencan di taman, berpegangan tangan. Pun termasuk muah-muah.” Agaknya kebiasaan menghela napas berat Yong Hwa, menular. Sebab, aku melakukannya pada detik ini secara berulang-ulang, mengimbangi gerak alis yang saling bertaut begitu memandangi dia yang tampak senang mengumbar kata muah muah muah. Pria tua menyebalkan!

=====FLOWER BOYS=====

Dengan geram aku memijit tombol off di remot, melemparnya asal lalu merebahkan badan ke sofa beludru empuk kesayanganku. Ekor mataku melirik jam dinding besar yang menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Menyebabkan aku mendengus kesal. Tumben bel rumah tidak dijamah Jejung oppa yang berarti tiada mawar ke 373. Masa lupa sih? Tentu saja lupa, bodoh! Jelas-jelas paman genit itu muncul di televisi. Jarang-jarang dia sudi datang ke acara mentereng, bertabur kerlap-kerlip kamera.

seandainya dia tidak tebar pesona, aku bisa saja memuji dia semakin menyilaukan dengan rambut yang dicat biru muda. Aku bahkan baru tahu bila Min Ah yang dia maksud ialah Shin Min Ah si aktris terkenal itu.

Bagaimana jika paman Choi berpaling? Siapa yang bakalan membayar tagihan listrik, telepon, sekolah, makan, cola ku, terus uang saku juga bagaimana nasibnya? Sekali lagi kutekankan aku tidak cemburu. Tidak barang secuil pun. Semoga. Selewat semenit miniatur Seunghyun dan Min Ah tertawa-tawa riang mengelilingi kepalaku kendati telah mati-matian kuusir. “Menyebalkan!”

Dering ponsel memecah kesunyian. Malas-malasan tanganku merayap di atas meja, melihat layarnya sejenak dan menghela napas panjang. Kukira paman itu yang telepon : kita ke laut. Tak tahunya, “Ne, yoboaseyo?… Yong Hwa-ya kau mau jalan-jalan tidak?” Suara di seberang telepon berucap, “tapi.” dan aku bergegas bilang, “kutunggu kau di depan rumahmu. Ya. Ya. Ya?”

Selepas sambungan telepon terputus, aku lantas melesat keluar rumah. Hawa dingin serta-merta menyapa permukaan kulit waktu melihat sosoknya masih mengenakan seragam sekolah. “Baru pulang?”

Dia berjengit, memasukkan ponsel ke saku celananya. “Ya. Begitulah.” Tersenyum tipis dan pertama kalinya jantungku nyaris copot melihatnya. Yang barangkali pengaruh udara dingin.

“Jong Hoonie, gwenchanayo?” Aku sontak gelagapan mendapati dia makin mendekat. “Kau sakit?”

“Ti… tidak, aku sehat!” yang sakit sepertinya jantungku, berdetak tanpa irama tiap kali kau mendekat Yong Hwa. Benakku menggerutu selagi dia tersenyum sumringah sambil merangkulku.

“Jadi, kita mau ke mana?” Ke hatimu, batinku melantur saat mulutku mengusulkan, “taman.”

Menit-menit bergulir sia-sia tanpa ada yang memulai percakapan. Setibanya di taman, kami duduk bersisian di ayunan. Dia terlihat sibuk mengutak-atik ponsel pintarnya, “siapa?”

Sebelum menjawab Yong Hwa menatapku lama. “Seohyun.”

“Oh. Kemajuan pesat ini namanya.”

“Tapi, aku tidak menyukainya.” Keheningan panjang terjadi usai ia mengakui perasaannya dalam nada penuh sesal. Gema jangkrik memecah kesunyian. Aku hanya sanggup berdiam diri selama 5 menit. Lidah ku keburu gatal oleh rasa penasaran. Ingin melontarkan kalimat berawalan : jangan-jangan.

“Karena aku menyukai gadis lain. Kau pasti mengenal baik dirinya, Jong Hoonie.” Ungkap dia akhirnya. “Benarkah? Apakah dia cantik?”

“Entahlah. Dengan cara yang aneh, menurutku dia luar biasa cantik.” Perpaduan binar cerah paras Yong Hwa dan senyum malu-malu membuatku tidak menyukai senyumnya. Pahit. “Tetapi dia tidak menyukaiku.”

Aku terkejut melihat airmukanya berubah nelangsa. Memandang hampa sepatunya sambil mendesah berat. Maafkan aku yang diam-diam mengukir senyum kemenangan di balik kemuramannya. “Gadis itu pasti buta.”

“Barangkali.” Dia menoleh, tersenyum semasam jeruk nipis. Aku pun tidak menyukai senyum dia yang seperti ini! Kurangajar sekali gadis yang berani membuat Yong Hwa nelangsa. “Katakan siapa dia, biar aku yang urus.”

“Haaah….” Sudah? Sebatas helaan napas semata jawaban atas pertanyaanku. “Kalau tidak ingin memberitahu, tidak apa-apa kok.”

Dia beranjak. Mematung sejenak seolah-olah tengah menimbang apakah akan memberitahuku atau tidak. Mendengus pelan seraya berjalan menghampiriku. Kontan aku berdiri kikuk, setibanya dia di depanku.

“Tatap mataku!” Seriusan ini mau main tatap-menatap? “Apa yang kau lihat?”

“Eh? Ada lendir. Di sana.” telunjukku menunjuk ke sudut mata kanannya.

Dengan kikuk dia membersihkannya. “Bukan itu. Melainkan di bola mataku!”

“Sebenarnya ada apa sih? Di bola matamu tentu saja ada bayanganku karena….”

“Nah, sekarang kau sudah tahu siapa dia. Apakah kau masih berniat mengurusnya?” Yong Hwa mengerling jenaka hingga aku dibuat melongo. “Kau tak perlu mengatakan apa pun. Lupakan saja, arrachi?… Oh, ya. Besok aku akan ke Jepang. Pertukaran pelajar. Yah, kurang lebih 4 bulan. Tadinya, aku cuma ingin memberitahu lewat telepon.”

Tunggu. Otakku terlampau lemah untuk mengolah informasi sebanyak ini di waktu bersamaan. Yang kutahu dia barusan menembakku dan berniat kabur ke Jepang setelah… “Yong Hwa-ya, kau bikin aku pusing!”

“Tak perlu memikirkannya. Tidak penting! Ayo, kita pulang!” Pada waktu bersamaan ponselku bergetar liar di saku.

From : Annoying Ahjusshie.
Sudah larut malam kau di mana? Aku menunggumu di rumah.

“Itu Seunghyun hyung, kan? Dia pasti sangat khawatir.”

“Eh?”

=====FLOWER BOYS=====

.

.

.

– Kapan-Kapan Kita Sambung Lagi Yaw –

Maaf pakai banget soal keterlambatannya. Masih Tbc pula ‘.’v makasih untuk yang masih berkenan baca dan menebar komen :3