Pleasing-Couple-Love-Hug-Wallpaper

Title       : Hold You

Author   : dinadubu

Genre    : Romance, sad, General

Length   : One shoot

Cast      :

– Kwon Jiyong (bigbang)

– Hwang Soojung ( OC )

– Other BigBang member

Saya kembali lagi dengan cerita baru sebelumnya saya buat FF judul Faith, dan FF baru ini lagi-lagi bawa Kwon Jiyong *maafkan saya bang Onew gk pernah bikin FF pake namamu*. Mohon komentar dan kritikannya, dan ati-ati bacanya banyak Typo🙂. FF ini semua dari Kwon Jiyong POV, kesamaan karakter dan alur cerita itu murni ketidaksengajaan. FF ini bener-bener muncul dari otak Author, Don’t Be plagiarism!!! Kwon Jiyong milik VIP, Onew punya saya *Lho?* Happy Reading😀

Semua yang hidup pasti akan kembali pada-Nya, sebagai manusia kita hanya menjalani hidup yang diberikan dengan sebaik mungkin dan harus siap apabila kita dipanggil oleh-Nya.


—–00—–

“Jiyong-ah, kau mau ke rumah sakit lagi?” Tanya Eomma kepadaku saat sarapan, dia kelihatan khawatir denganku.

“Habis pulang kerja aku akan kesana, Wae?”

“Kau setiap hari selalu ke tempat Soojung, apa kau tidak lelah? Eomma khawatir kau sakit.”

“Tenang saja Eomma, aku kuat. demi Soojung aku harus kuat Eomma.” Jawabku menenangkan Eomma. Eomma hanya menghela nafas sambil menepuk pundakku.

“Apa dia sudah mulai baikan?” Tanya Eomma, dan aku hanya tersenyum tidak menjawab Eomma karena aku juga tidak tau apakah Soojung baik-baik saja atau tidak.

“Tidak usah khawatirkan aku Eomma dan Soojung pasti akan baik-baik saja. Aku berangkat dulu.”

Mungkin kalian bertanya-tanya dengan percakapanku dan Eommaku tadi, akan ku jelaskan sedikit tentangku. Aku Kwon Jiyong umurku 25 tahun, aku punya seorang kekasih yang sangat aku cintai namanya Hwang Soojung, kami sudah 4 tahun bersama. Sudah seminggu ini Soojung masuk rumah sakit, karena dia kutemukan pingsan di apartemennya saat aku bermaksud mengajaknya makan malam. Aku sangat mencintainya aku harap dia cepat baikan dan kembali menghabiskan waktu bersamaku.

Hari ini pekerjaanku cukup padat, tadi Soojung mengirimkan pesan bahwa dia sedang bersama Eomma-nya jadi dia memintaku untuk tidak mengkhawatirkannya. Dasar wanita bodoh, mana bisa aku tidak khawatir kalau sampai sekarang dia masih tidak diijinkan untuk pulang. aku memandangi foto Soojung di layar handphone-ku, ini membuatku semakin rindu padanya padahal aku bertemu dia kemarin.

Tok tokk.

“Sajangnim.” itu suara sekertarisku.

“Masuklah.” jawabku, sekertarisku masuk sambil membawa beberapa dokumen untuk ku tanda tangani.

“Ini ada beberapa dokumen yang harus Sajangnim pahami lalu setelah itu tanda tangani, dan tadi ada telpon saat Sajangnim rapat dari Kang Daesung yang meminta Sajangnim untuk menelponnya, apa saya harus menelponnya atau Sajangnim sendiri?.” Jelas sekertarisku

“Baiklah, aku akan menghubungi Daesung sendiri nanti.”

“Kalo begitu saya permisi dulu.”aku hanya mengangguk dan sekertarisku pergi. Tumben sekali Daesung menelponku, apa ada masalah dengan Soojung. ah, lebih baik dia ku hubungi saja. aku pun mengambil handphone-ku dan menghubungi Daesung.Tidak menunggu lama Daesung mengangkat telponnya.

“Yeoboseyo.” Jawab Daesung

“oh, ini aku. Ada apa?” tanyaku langsung.

“Ah ani aku cuma ingin memberitahu hasil Lab Soojung sudah keluar hyung tapi aku ingin kau mengetahuinya terlebih dahulu. Kau bisa ke rumah sakit kapan?” Suara Daesung hati-hati sekali apa masalah Soojung serius, perasaanku jadi tidak enak.

“Setelah pekerjaanku selesai aku akan kesana, mungkin sekitar makan malam.”

“Baiklah, akan kutunggu nanti kalau Hyung sudah sampai di Rumah sakit langsung ke ruanganku saja. dan ajaklah Eomma-nya Soojung.”

“okey, sampai ketemu nanti.” Aku pun memutus sambungan telpon, ada apa ini kenapa Daesung menyuruhku mengajak Eommonim. Perasaanku makin tidak enak, mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja.

—00—

Jam 7 malam, harusnya aku lembur tapi karena percakapanku dengan Daesung tadi pikiranku tidak fokus, aku langsung mengambil jas, tas dan kunci mobil. yang kupikirkan hanyalah hasil lab tentang Soojung. Sesampainya di rumah sakit, aku hanya bertemu Soojung sebentar dan mengajak Eommonim untuk bertemu Daesung.

Tok tok tok

“Daesung-ah, ini aku.” kataku setelah mengetuk pintu.

“Masuk saja Hyung.” Jawab Daesung, dan aku pun membuka pintu diikuti Eommonim masuk ke dalam ruangan Daesung.

“Bagaimana hasilnya Uisa Seonsaengnim?” Tanya Eommonim kepada Daesung. Aku memandang Daesung yang tampak bingung mau menjelaskan dari mana.

“Eommonim, Hyung. ini adalah hasil ronsen dari Soojung. sebelumnya aku mau bertanya apa Soojung pernah mengatakan kalau saat dia makan merasakan lambung atau perutnya tidak nyaman? atau dia belakangan cepat lelah?” Tanya Daesung

“Ya, belakangan dia mengatakan kalau dia cepat lelah dan merasa perutnya sakit tidak nyaman.”

“Sudah kuduga, ini adalah hasil rentogent terakhir dan seperti yang bisa dilihat dilambung Soojung ada tumor yang menempel. ini bisa disebut kanker perut atau lambung, biasanya tanda-tanda kanker ini seperti yang tadi kutanyakan. cepat lelah karena tidak ada vitamin yang masuk dan juga perut terasa tidak nyaman.” Jelas Daesung, mendengar ini aku merasakan badanku bergetar dan aku hanya bisa terpaku.

“Seberapa parah kanker ini Daesung-ah?”

“Saat aku tau ini adalah gejala kanker aku langsung mengecek lebih jauh karena aku hanya melakukan pengecekan awal dengan endoskopi, dan aku tidak menduga kalau kanker ini sudah menyebar keluar lambung. Kankernya sudah sampai usus dan sudah mulai menyebar ke organ lainnya, andaikan melakukan pembedahan sudah tidak ada hasilnya, yang bisa kita lakukan hanya mengurangi sakit dan menghambat penyebarannya dengan kemoterapi dan obat-obatan yang keras. Tapi ini akan amat sangat menyiksa Soojung dan ini hanya bisa memperpanjang hidupnya saja.” Eommonim yang mendengar ini langsung menangis dan memelukku erat, aku hanya bisa diam dan tidak bisa memikirkan apapun. Hanya bisa memperpanjang hidup berarti tidak menyelamatkan hidup Soojung.

“Apa benar-benar sudah tidak ada cara lain Uisa nim?” Tanya Eommonim. Daesung hanya menggeleng dan melanjutkan penjelasannya.

“Kalau kanker sudah menyebar ke organ lain, yang bisa dilakukan hanyalah kemoterapi untuk mempelambat sel kanker ini menyebar, dan kami akan memakai obat-obatan keras yang mungkin bisa membuat Soojung tersiksa dan kesakitan. Saya sarankan untuk memberitahu Soojung tentang hal ini, bagaimanapun yang bisa kita lakukan hanyalah membuat kenangan indah untuknya dan memperpanjang hidupnya.”

“Berapa lama dia bisa bertahan?” tanyaku

“kalau Soojung menjalani pengobatan ini secepatnya Soojung mungkin bisa bertahan 6 bulan atau 1 tahun, tapi ini juga tergantung Soojung apakah tubuhnya kuat menahan obat-obat yang keras ini atau tidak kalau tidak kuat aku tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan. secara fisik Soojung akan mengalami penurunan berat badan dan seluruh rambut yang ada di tubuhnya akan rontok karena pengaruh kemoterapi dan obat.” aku menutup mataku dan menghela nafas, aku tidak bisa membayangkan Soojung akan pergi begitu cepat.

“Jiyong-ah, bagaimana ini? Eomma tidak mau Soojung pergi secepat ini.” Eommonim memegang tanganku erat dan menatapku dengan mata yang basah.

“Eommonim, aku juga tidak mau seperti ini. Tapi aku ingin melihat Soojung tersenyum sampai akhir hayatnya nanti Eommonim.” Aku menahan air mataku sebisa mungkin agar Eommonim bisa kuat menghadapi ini. “Aku akan disebelah Soojung, aku akan membuatnya bahagia.”

“Sebaiknya kalian membicarakan ini dengan Soojung, agar secepatnya bisa memulai proses pengobatannya.” Kata Daesung. Aku dan Eommonim pun meninggalkan ruangan Daesung, Eommonim bilang ingin ke toilet sebentar untuk menghapus bekas air matanya dan tadi aku sudah bilang bahwa aku yang akan mengatakan tentang ini kepada Soojung karena Eommonim bilang tidak sampai hati untuk mengatakannya. Aku pun berjalan menuju kamar Soojung, ku buka pintu kamarnya dan ku lihat dia sedang memandangi jendela.

“Soojung-ah.” Panggilku, dia menoleh dan tersenyum padaku. Tak bisa ku bayangkan bahwa aku akan kehilagan senyum itu.

“Oppa, kau sudah kembali. Oppa lihat, hari ini bulan purnama. Aku sangat suka bulan purnama.” Katanya sambil kembali memandangi jendela.

“kenapa kau suka bulan purnama? bukannya bulan sabit juga indah.” Kataku sambil duduk dan memeluknya.

“Kau tau, bulan purnama adalah situasi dimana dia memancarkan cahaya penuh dan indah untuk menyinari malam. Dan aku merasa bahwa Oppa seperti bulan purnama bagiku.”

“Jadi aku bulan purnama yang selalu menyinarimu pada malam? hanya malam saja?” Tanyaku

“hihihih, tidak oppa bukan hanya bulan purnama bagiku tapi Oppa adalah cahayaku jadi aku tidak perlu mencari cahaya lagi.” katanya sambil menyenderkan kepalanya padaku.

“Soojung-ah, Oppa mau berbicara sesuatu padamu. Tapi Oppa takut untuk menceritakannya.” kataku

“Oppa, ketakutan adalah awal dari putus asa jadi Oppa tak boleh takut. ada apa?” Aku hanya tersenyum dan menghela nafas.

“Ini tentang kondisimu sekarang Soojung-ah.” Kataku. “Dengarkan aku baik-baik, jangan kau sela dulu aku ingin kau mendengarnya dengan tenang.” Soojung tersenyum sambil menatapku.

“Apa aku akan mati Oppa?” Tanyanya, dan ini membuatku terkejut. “Aku mendengarnya, saat aku sedang membeli minuman aku dengar Daesung Uisanim berbicara pada seorang suster tentang kondisiku.” Soojung kembali memandang jendela. “Berapa lama aku akan bertahan Oppa?” Aku hanya mempererat pelukanku dan mencoba untuk menguatkan hatiku.

“Kau akan hidup Soojung-ah, kau tak akan mati.” Dengan sekuat tenaga aku menahan emosi yang meluap.

“Oppa, saat sebuah nyawa sudah mencapai batasnya yang bisa dilakukan nyawa itu hanya berserah Pada-Nya. Aku akan memberikan yang terbaik disisa hidupku ini Oppa.”

“Kau tidak takut Soojung-ah? Aku takut tak bisa hidup tanpamu.” Aku merasakan air mataku turun, Soojung melihatku dan menatapku dangan lembut.

“Oppa, seperti yang ku bilang tadi ketakutan adalah awal dari putus asa. Aku tidak takut Oppa, semua yang bernafas pasti akan mati. mungkin ini memang sudah batasku, Oppa tak perlu menangis, kalau nanti waktunya datang aku mau Oppa tersenyum melepasku dan aku akan tenang disana, lalu Oppa aku ingin kau bahagia dan bisa berkeluarga punya anak dan cucu dan kau akan sehat sampai tua nanti, sampai aku datang.” Ku lihat Soojung mulai meneteskan air mata, dan memelukku erat.

“Kau mau menjalani pengobatan Soojung-ah? Memang tidak menyembuhkan tapi aku ingin kau lebih lama bersamaku.” Kataku

“Akan ku lakukan apapun untuk lebih lama melihatmu Oppa.” Jawab Soojung

“Tapi ini akan menyakitimu.”

“Akan ku lakukan, kau akan terus disampingku kan Oppa?”

“Aku akan bersamamu selamanya.” Aku pun memeluknya dan mengelus punggungnya. Aku merasakan bahwa Tuhan memang mempunyai rencana lain, aku tidak menyesal bersama Soojung. kebahagianku sudah kudapat saat ini bersama Soojung. Aku bahagia melihatnya tersenyum menghadapi kenyataan ini, dan aku akan tersenyum demi Soojung.

—000—

Sudah 6 bulan semenjak Soojung mengetahui penyakitnya, tapi melihatnya menahan semua pengobatan yang menyakitkan ini demi memperpanjang hidupnya, aku merasa tidak tahan. Setiap aku ke rumah sakit untuk menemaninya, aku merasakan kondisinya makin melemah. Sekarang dia berada di ruang isolasi untuk menghindari kuman dan bakteri lainnya, dan badannya mulai kurus dan juga sekarang setiap melakukan kemoterapi dia muntah-muntah lalu lemas. Melihat itu aku berpikir kenapa bukan aku saja yang mengalaminya kenapa harus Soojung.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini aku datang untuk menemani Soojung. Aku membawakan setangkai mawar putih yang dia minta kemarin. Setelah sampai di depan kamarnya aku mencuci tangan lalu memakai baju steril.

“Soojung-ah, ini aku. Apa aku boleh masuk.” Aku melakukan ini karena terkadang Soojung sedang ganti baju atau mandi.

“Ah, sebentar oppa.” Jawabnya dari dalam, tidak berapa lama dia menjawab lagi. “masuk lah oppa.” Mendengar itu pun aku langsung masuk, ku lihat dia memakai topi rajut dikepalanya.

“Apa dingin? Kenapa memakai topi?” Tanyaku, sambil memberikan bunga kepadanya.

“Wah cantiknya.” Dia tersenyum saat melihat bunga mawar itu. “Tadi Oppa tanya apa?”

“Kenapa kau memakai topi?” tanyaku sekali lagi dan aku duduk di tempat tidur tepat disebelahnya.

“ah ini, aku hanya ingin memakainya saja. Rambutku rontok akibat kemoterapi jadi aku memakai ini supaya kelihatan cantik di depan Oppa.” Katanya dengan nada sedih, mendengar itu aku merasa jantungku ditusuk pisau. Aku tak menyangka kalau dia memikirkan hal seperti ini, padahal dia sedang berjuang. Aku hanya tersenyum.

“Bagiku kau selalu cantik Jagiya.” Kataku sambil mengelus kepalanya. “ dari pada kau terus menutupnya, bagaimana kalau kau potong saja?”

“Andwae nanti aku tidak cantik lagi walaupun aku akan botak juga.”

“Kau akan selalu cantik dimataku, bagaimana kalo kita pakai model rambut couple-an?”

tanyaku, entah muncul dari mana ide ini. Karena aku merasa setiap dia melihat rambutnya rontok pasti dia merasakan kesedihan, aku tak mau kalau wanitaku sedih.

“Maksud Oppa?” Tanya Soojung.

“Aku akan menggunduli kepalaku juga, tapi sebelum itu kita potong rambut model cepak seperti rambut Youngbae, Bagaimana? Pasti akan lucu sekali, nanti kita foto dan memasukannya ke album foto.”

“Oppa botak? Apa tidak apa-apa? Apa aku tidak terlihat jelek nantinya?”

“Tidak, sudah ku bilang kau selalu cantik Jagiya. Saat kau sudah tak punya rambut lagi, aku juga akan menggunduli kepalaku. Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan. Saat kau menahan sakit karena penyakit ini semua, aku merasakan sakit yang sama walau bukan tubuhku yang sakit tapi hatiku sakit, karena kau menanggung rasa sakit itu sendirian.” Soojung tersenyum dan mengenggam tanganku erat.

“Selain Eomma dan Appa, Oppa adalah segalanya bagiku.”

“Baiklah kalau begitu, ayo saatnya kita bergaya punk.” Kataku. Soojung pun tersenyum dan aku memanggil suster,  mereka membantuku dan Soojung memotong rambut. Aku berpikir ini adalah hal yang tak bisa ku lupakan, aku rela kehilangan sesuatu demi melihat Soojung tersenyum. Ini semakin membuatku yakin bahwa Soojung akan bahagia selamanya.

Setelah selesai memotong rambut, aku dan Soojung mengabadikannya dengan kamera Polaroid. Lalu foto itu ku tempel di tembok kamar Soojung, Aku dan Soojung pun memandangi foto itu.

“Aku ingin lebih banyak foto kita berdua disini Oppa.” Kata Soojung.

“Baiklah, setiap hari kita akan berfoto.” Jawabku, aku duduk di samping tempat tidur sambil memandangnya.

“Oppa, apa kita bisa menikah? Aku ingin sekali pakai gaun pengantin.” Kata Soojung, dan dia menoleh padaku.

“Tentu, kalau kau mau aku akan menikahimu sekarang. Kau akan pakai gaun cantik lalu aku memakai taxedo ah iya aku akan membelikan cincin yang cantik buatmu, dan kita akan menikah.” Soojung tersenyum dengan indahnya.

“Pengantin yang punya hair style punk hahaha.”  Kata Soojung. “Ini keinginanku terakhir Oppa, ayo kita menikah.”

“Kalau begitu sekarang kita menikah. Aku akan bilang pada Eommonim dan Abeonim. Kau mau menikah dimana? Akan segera kusiapkan.” Kataku mantap.

“Benarkah Oppa? Kau benar mau menikah denganku?”
“Tak usah kau tanya lagi, kalau begitu aku akan bicara pada Eommonim. kau tunggu disini, akan ku belikan gaun cantik dan cincin untuk kita.” Aku mengecup dahinya dan segera keluar kamar menemui Eommonim. Ku lihat dia sedang melipat baju-baju Soojung, dan aku pun langsung menghampirinya.
“Eommonim, Aku akan menikahi Soojung malam ini.” Kataku tiba-tiba, dan seperti yang ku duga Eommonim terlihat terkejut.
“Apa maksudmu? Menikah? Malam ini?” Tanya Eommonim bingung.
“Iya, menikah dengan Soojung malam ini. Soojung memintan ini sebagai yang terakhir, Aku akan pergi mencari gaun dan cincin tolong Eommonim merias Soojung.”
“Kau benar-benar mau menikahinya?” Ku lihat mata Eommonim berkaca-kaca. Aku mengangguk mantap, lalu Eommonim memelukku, “Terima kasih, terima kasih Jiyong-ah. aku akan menelpon Appa-nya dan kedua orang tuamu.” Aku tersenyum lalu berpamitan pada Emmonim, dan aku langsung berlari menuju mobilku.

Aku akan menikah dengan Soojung, walaupun hanya sebentar, walaupun aku tak bisa merasakan hidup berumah tangga, aku tetep merasa ini adalah hal yang paling indah bagiku. Akan ku buat Soojung merasakan hal yang sama denganku. Aku menuju butik Noonaku dan sesampainya disana aku langsung masuk ke ruang kerjanya.
“Noona!” panggilku, ku lihat Noona sedang mendesain di komputernya. “Noona, apakah kau punya gaun pengantin?” Noona yang sedari tadi hanya memandang komputernya memandangku dengan tatapan bingung.
“Gaun pengantin? untuk apa?”
“Iya gaun pengantin, mungkin saja Noona sempat membuat gaun pengantin. Aku akan menikahi Soojung malam ini.”
“Menikah? kau mau menikahinya? kau serius Jiyong-ah?”
“bukan hanya serius lagi Noona, aku tak pernah sebahagia ini.” Kataku sambil tersenyum.
“Jiyong-ah, aku bukan ahli mendesain gaun pengantin. tapi..” Noona tampak berpikir sebentar lalu melanjutkan. “bukan berarti aku tak punya, entah mengapa ini seperti takdir. ayo ikut aku.” Noona pun berjalan menuju ruang tempat menyimpan hasil desain-desainnya, aku pun mengikutinya. Lalu sampailah di sebuah gaun putih panjang, dengan hiasan motif bunga mawar di bagian roknya dan hiasan itu memakai benang warna merah muda. Ini cantik pikirku, pasti cocok sekali buat Soojung.
“Ini baru selesai tadi, ku pikir akan ku pakai saat aku menikah nanti. tapi ini lebih cocok untuk dipakai Soojung saat ini.” Jelas Noona.
“Tak apa-apa kalau ini dipakai Soojung?” Tanyaku hati-hati, karena Noona bilang ini buat dirinya sendiri.
“Tidak masalah, aku bisa membuatnya lagi. Kalau kau mau akan ku bawa ke rumah sakit karena mungkin ukurannya kurang pas jadi bisa ku betulkan sedikit, lagipula ini pernikahnmu mana mungkin aku tidak datang kan?” Katanya tersenyum padaku, lalu aku memeluk Noona dengan erat.
“Terima kasih Noona.”
“Sudah kau siapkan lah hal lain, untuk gaun ini serahkan padaku. aku akan menelpon Eomma dan Appa dulu.”  katanya, aku pun mengangguk dan pergi.
Aku menuju kantorku, untuk masalah cincin sebenarnya sudah kusiapkan lama sekali. Aku berencana melamar Soojung saat ulang tahunnya nanti. Aku langsung menuju ruanganku, dan membuka laci meja disanalah aku menyimpan kotak cincinnya. Aku mengambilnya dan memasukannya ke kantong celana, Ah tadi aku berjanji kepada Soojung untuk memakai Tuxedo. Berarti aku harus ke apartemenku sebentar dan aku butuh seseorang untuk membantuku mengucapkan ikrar suci nanti. Youngbe pikirku, baiklah akan ku telpon dia. Aku pun langsung menghubungi Youngbae, tidak berapa lama Youngbae menjawab telponku.
“Youngbae-ah, kau dimana sekarang?” Tanyaku
“Aku di rumah sekarang Wae?”
“Aku akan menikah sekarang, ku jemput kau dirumah. 15 menit lagi aku sampai bersiap-siaplah” kataku cepat sambil menyalakan mobilku.
“Hey, apa maksudnya? Jiyo…” aku langsung mematikan telponku, aku harus buru-buru karena aku tidak ingin membuang-buang waktu, bagi Soojung 1 detik sangat berarti. Aku melajukan mobilku menuju rumah Youngbae. setelah 15 menit aku sampai di rumah Youngbae, dan ternyata Youngbae sudah ada di teras rumah.
“Jiyong-ah, ada apa ini? kau bilang tadi mau menikah?” Tanya Youngbae sambi menghampiriku.
“Permintaan Soojung, aku akan menikahinya malam ini kau mau membantuku mengucapkan sumpah?”
“Aku? aku mana bisa?”
“Cuma formalitas saja, yang penting aku bersumpah menjadi suaminya. ngomong-ngomong kau punya tuxedo? aku tak inign membuang waktu untuk kembali ke rumah mengambil tuxedo.” Kataku, Youngbae yang mendengar ini hanya menepuk pundakku.
“Kau banyak berubah, sebentar ku ambilkan mungkin agak sedikit besar untukmu.” Kata Youngbae, dan dia pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil tuxedo. Aku hanya tersenyum, ya aku banyak berubah sepertinya dan semua berkat Soojung. Tak berapa lama Youngbae datang sambil membawa tuxedo dan dia memakai jas.
“Aku tak mungkin kan pakai kaus kalau membantumu mengucap sumpah, kau harus membuat Soojung bahagia sobat. Dia benar-benar mencintaimu.” Kata Youngbae.
“Aku tau, dan aku sangat mencintainya juga. Ayo cepat berangkat.” Aku dan Youngbae pun langsung berangkat menuju rumah sakit, butuh 30 menit untuk menuju rumah sakit karena jalanan cukup padat.
Setelah 30 menit Aku dan Youngbae sampai di rumah sakit, aku sempat berganti baju memakai tuxedo dan tidak lupa menaruh cincin di saku celanaku. Aku langsung menuju kamar Soojung, dan ku lihat Eomma dan Appa-ku ada di luar ruangan aku pun menghampiri mereka.
“Eomma Appa.” Panggilku, Appa mendekatiku dengan mata berkaca-kaca dan Eomma sudah menangis. “Kenapa kalian menangis?” Tanyaku.
“Soojung kritis, sudah saatnya nak.” Kata Appa, “Sepertinya Soojung menunggumu, cepatlah masuk buatlah permintaan terakhirnya terkabul.” Aku yang mendengar ini langsung lemas aku pun masuk ke kamar Soojung diikuti Youngbae dan kedua orang tuaku, ku lihat Noona dan kedua orang tua Soojung ada disebelah Soojung. Noona dan Eommonim sudah menangis, dan Abeonim memegang tangan Soojung, aku menghampiri mereka. Ku lihat Soojung memakai gaun pengantin yang diberikan Noonaku.
“Dia tak mau melepasanya, dia bilang ingin bertahan sebentar lagi untuk menikah denganmu.” Kata Noona, aku langsung berlutut di sebelah tempat tidur Soojung. Abeonim yang awalnya disebelah Soojung berdiri dan memberi kesemptanku untuk memegang tangan Soojung.
“Youngbae-ah, Cepat!” kataku, Youngbae yang tersadar dari suasana ini pun langsung mendekati tempat tidur dan mulai mengucapkan sumpah pernikahan.
“Apakah kau Kwon Jiyong, bersedia menerima Hwang Soojung sebagai istri dan menemaninya sampai akhir maut memisahkan?
“Aku bersedia.” Jawabku dan tak terasa air mataku turun. Ku lihat Soojung tesenyum lemah dan menangis.
“Apakah kau Hwang Soojung, bersedia menerima Kwon Jiyong sebagai suami dan menemaninya sampai maut memisahkan?” Soojung hanya sanggup mengangguk. “Sekarang kalian resmi menjadi Suami istri.”
Ku genggam erat tangannya dan ku berikan senyumku, aku mengeluarkan cincin yang sudah ku simpan lama dan ku pakaikan di jari manisnya. Soojung memintaku untuk memberikan cincin yang satu dan dengan usaha yang keras dia memakaikan cincin satunya ke jari manisku. Aku menangis dan ku kecup dahi lalu bibirnya.
“Aku mencintaimu Hwang Soojung.” kataku berbisik di telinganya.
“Aku juga mencintaimu oppa.” Jawab Soojung lemah, dia tersenyum kepadaku dan mengelus pelan pipiku. Itulah senyum terakhir yang diberikan Soojung kepadaku. Aku menangis keras, Appa menarik dan memelukku erat sekali. Noona dan Eommaku juga menangis, Kedua orang tua Soojung menghampiri tubuh anaknya dan ikut menangis Hwang Soojung telah pergi, kembali pada-Nya. Ku lihat Daesung mendekati tubuh Soojung dan menutupnya dengan kain. Kami semua larut dalam kesedihan dan mengiringi kepergian Soojung dengan doa agar dia bahagia selamanya. Soojung-ah, Aku bahagia sekarang tunggu aku sampai aku menyusulmu saat aku tua nanti. Akan ku tepati janjiku untuk sehat sampai kau datang padaku.

—END—