Sick

Title : Sick

Author : Atikpiece

Main Cast :

–          Lee Jilsung (OC)

–          Lee Seunghyun as Seungri (BIGBANG)

–          Lee Chaerin (2NE1)

Genre : Family and (bit) Hurt

Rating : G

Length : Ficlet

A/N : Read this slowly!

Dedicated for all children’s in the world!

Inspired by : Sad Movies

 

*****

 

“Apa kabar?”

“Hari ini seperti biasa, Jil dalam keadaan sangat baik.”

“Meskipun beberapa jam lalu Jil dihukum Ibu guru membersihkan halaman karena Jil lupa tidak mengerjakan pekerjaan rumah selama seminggu.”

“Yah, itu tidak aneh, karena Jil memang sangat benci Matematika. Walau pada kenyataannya Ayah begitu menggemari pelajaran itu.”

“Namun Jil tidak selemah itu, kok. Jil selalu kuat. Jil yakin akan baik-baik saja, sekaligus yakin jika Jil masih akan tetap hidup meskipun tidak memahami satu rumus perhitungan pun.”

“Benar begitu?”

“Hm, kupikir banyak di antara teman-teman yang setuju dengan pendapatku itu.”

“Namun kali ini bukan itu yang ingin Jil tulis.”

“Melainkan hal yang selalu ditanyakan Ibu guru ketika mengajar.”

Jil, kamu senang mempunyai orang tua, bukan?”

“Oh, yeah. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Jil tentu senang memiliki Ayah dan Ibu.”

“Apakah Jil sama sekali tidak membenci mereka?”

“Jil menjawab ‘tidak’. Cepat dan tanpa basa-basi. Meski belum terbuka sepenuhnya kebenaran dari yang Jil rasakan.”

“Jil sayang Ayah?”

“Tentu saja. Bahkan Jil sangat mencintainya. Dan tanpa pikir panjang, Jil sudah bisa menebak akan pertanyaan selanjutnya.”

.

.

.

“Lalu, Jil juga sayang Ibu, kan?”

.

.

.

“Seketika itu juga Jil ragu.”

“Jil merasa seperti ada sebuah panah yang menancap di dada Jil. Rasanya sakit, menyesakkan, dan selalu membuat Jil menutup mulut rapat-rapat.”

“Jil tidak tahu, karena Jil bukanlah sosok yang dapat dengan mudah menjabarkan semua yang ada dalam hati Jil di hadapan banyak orang.”

“Kala Jil menatap Ibu, Jil bisa merasakan senyuman Ibu yang selalu terukir saat akan pergi meninggalkan Jil. Dan tidak ada yang Jil rasakan selain kehangatan ketika Ibu mengusap puncak kepala Jil.”

“Jil senang.”

“Jil bahagia.”

“Jil sangat beruntung memiliki Ibu yang amat menyayangi Jil.”

“Akan tetapi faktanya, di balik kebahagiaan itu, ada sesuatu yang membuat Jil tidak menyukai segala yang Jil miliki.”

“Hampir setiap hari, Jil selalu keluar rumah ketika mentari mengakhiri senja.”

“Setiap hari pun Jil selalu menatap nanar jarum jam dinding yang terus bergerak hingga larut malam.”

“Saat-saat Jil ingin mendapatkan pelukan hangat meski lebih banyak Jil dapatkan dari Ayah.”

“Jil selalu mengitari rumah untuk mencari sosok yang Jil inginkan seraya menahan sesak karena terlalu banyak berlari.”

“Karena Jil selalu menunggunya.”

“Meski pada akhirnya Jil hanya bisa menangis di pelukan Ayah.”

“Demi Ibu.”

“Yang lebih mementingkan berkas-berkasnya di kantor daripada Jil.”

“Ibu yang selalu bekerja sampai tidak ada waktu untuk bersama Jil.”

“Jil kesal.”

“Jil marah.”

“Jil benci dengan keseharian Ibu yang selalu sibuk dan mulai melupakan Jil.”

“Jil tidak suka Ibu.”

“Jil benci Ibu.”

.

.

“Hingga hari demi hari terus berlalu, perasaan Jil berangsur-angsur membaik.”

“Seminggu sebelumnya, Jil datang ke rumah sakit bersama Ayah.”

“Ibu sakit.”

 “Dan Jil tidak tahu penyakitnya karena Ayah tidak mau memberitahu Jil.”

“Saat itu, perasaan Jil memihak bahwa Jil merasa sedih ketika melihat kondisi Ibu.”

.

“Namun di sisi lain, Jil bahagia.”

“Karena Ibu sakit.”

“Dan ini adalah kesempatan langka bagi Jil untuk terus bisa bersama Ibu setiap hari.”

“Jil bisa memandangi wajah Ibu setiap waktu.”

“Jil bisa mengusap pipi dan kening Ibu kemudian mengecupnya.”

“Jil bisa menyentuh jemari Ibu yang hangat.”

“Bahkan Jil bisa memeluk Ibu erat berkat bantuan Ayah karena tubuhku tidak setinggi ranjang Ibu.”

.

.

“Ya Tuhan, Jil sungguh berterima kasih. Jil sangat bahagia.”

.

“Dan Jil berharap semoga di hari-hari berikutnya Ibu akan tetap sakit.”

“Selamanya Ibu akan tetap sakit, agar Jil bisa selalu melihat wajah suci Ibu kala Jil menginginkannya.”

.

.

.

 

“Jil.”

Aku menatap setiap lekuk wajah anak semata wayangku, yang tengah memperhatikan bola mataku dengan raut murung. Jemari mungilnya bergelut di bawah perut sementara matanya berkedip dua kali.

“Untuk apa kamu menulis ini?”

Jil diam. Dan bisa kulihat ekspresi ragu yang terpancar dari wajahnya. Dapat kupastikan dia ragu untuk menjawab pertanyaanku.

“Jil, kenapa diam saja?”

Dia masih tetap diam. Semenit, dua menit, akhirnya aku melihat bibir mungilnya perlahan terbuka.

“Itu karena Jil ingin mendiskripsikan apa yang Jil tahu, dan apa yang Jil rasakan selama Jil dapat menulis semuanya ke dalam diary Jil.”

Aku agak terkejut mendapati perkataan Jil yang amat terus terang. Alisnya mengerut seirama dengan gigi atasnya yang menggigit bagian bawah bibirnya. Aku menarik napas dalam, kemudian kuhembuskan dengan nada hampir mirip seperti desahan. Dengan hati-hati aku menutup buku diary Jil dan meletakkannya di meja dekat ranjang, kemudian berjongkok agar aku bisa menyamai tinggi badannya lalu mengusap puncak kepalanya lembut.

Senyum tipis terukir di wajahku ketika menatap Jil yang masih menunggu bagaimana reaksiku setelah ini.

“Ayah tidak menyukai tulisan Jil?” tanyanya tiba-tiba, agak cemberut. Sebelum aku menjawab, suaranya kembali menyerbu. “Atau Ayah marah pada Jil karena Jil membenci Ibu?”

Oh, sungguh, pertanyaannya yang terakhir membuat dadaku berdenyut. Urat sarafku terasa nyeri, dan hatiku tergerak meskipun dari nada bicaranya terdengar sangat polos.

“…Bukan seperti itu, Jil.” Aku memperhatikan manik mata coklatnya dalam. “Ayah senang kamu bisa menulis, dan Ayah juga senang karena kamu bisa menuangkan semua yang kamu rasakan ke dalam tulisanmu.”

Sekali lagi aku mengusap puncak kepalanya. “Tapi, coba kamu lihat.”

Dengan bibirnya yang masih tertutup rapat, aku memutar tubuh kecilnya ke belakang. Hingga dari jarak beberapa meter nampak tubuh Ibunya—Lee Chaerin—tengah tergolek lemah di ranjang. Terakhir kali Jil melihat Ibunya dengan sebagian wajahnya tertutup tempat oksigen yang menempel di hidung dan mulutnya, disertai mesin pendeteksi detak jantung Ibunya yang menunjukkan garis hijau naik turun, pertanda Ibunya masih hidup.

Aku menyuruh Jil mendekati ranjang, lalu kuangkat tubuhnya sampai dia bisa melihat wajah pucat Ibu. Lagi-lagi aku mendesah, dan aku memalingkan wajah ke arah Jil seraya tersenyum tulus.

“Ibu tidak seperti apa yang Jil pikirkan.” kataku, agak lirih. “Ibu sangat sayang pada Jil.”

“Tidak mungkin. Ibu lebih mementingkan pekerjaannya, Ayah. Dia sama sekali tidak mementingkan Jil. Ibu tidak sayang Jil!”

“Hei, jangan seperti itu.” Aku mengusap wajahnya pelan. Mendengar respon dari Jil barusan, aku pun melanjutkan. “Memang, kesempatan disayangi oleh seorang Ibu itu sangat langka bagimu. Tapi apakah Jil tahu? Ibu bukan tidak mementingkan Jil, tapi justru Ibu seperti itu karena Ibu peduli pada Jil.”

Sebelah alis Jil terangkat. “Apa maksud Ayah? Jil tidak mengerti.”

“Ibu sangat mempedulikanmu, Jil.” Aku menarik napas sejenak. “Jil tahu sendiri, kan? Setiap hari, Ibu selalu bekerja dari pagi sampai malam. Bahkan, dia sampai tidak pulang sehingga Jil hampir tidak pernah melihatnya di rumah. Kalau seperti itu, bukan berarti Ibu tidak sayang Jil. Itu semua dia lakukan demi Jil. Ibu melakukannya untuk memenuhi kebutuhan Jil, untuk membelikan apa yang Jil mau, untuk membiayai sekolah Jil, dan masih banyak lagi. Sama halnya dengan Ayah yang juga melakukan hal yang serupa dengan Ibu.”

Kedua mata Jil membulat sempurna, diikuti perasaan berkecamuk di hatinya. Ini disebabkan karena dia sama sekali tidak mengetahui apapun sejak awal.

“Jadi, semestinya Jil tidak berhak untuk mendoakan Ibu agar selamanya tetap sakit. Apalagi sampai menuliskannya ke dalam diary Jil.”

Aku membiarkan Jil duduk di tepi ranjang Ibunya, dan kuberi jeda sejenak ketika arah mata Jil tertuju pada wajah Ibunya. Sorot matanya menyiratkan penyesalan, dan di detik berikutnya aku dapat melihat indra penglihatannya berkaca-kaca. Kemudian dengan cepat dia beralih menatapku.

“Kalau Ibu terus-menerus sakit, tidak mungkin kan, dia bisa bekerja lagi untuk memenuhi apa yang Jil minta?”

Kulihat anakku mengangguk pelan, disertai sebutir air mata yang berhasil jatuh membasahi pipinya. Semakin lama semakin bertambah, hingga ibu jari kananku mulai membersihkan beberapa di antara mereka yang membuat mata bulatnya sembab.

Tanpa kutelaah lebih jauh, Jil langsung memelukku erat. Isakan demi isakan terus menyahut memenuhi di setiap sudut ruangan. Aku hanya tersenyum kecil, dan mengusap bahunya tulus.

Betapa Jil merasa berdosa, karena telah melakukan hal bodoh yakni mendoakan Ibunya supaya terus-menerus sakit. Dia tahu bahwa tujuannya hanyalah untuk dapat melihat Ibunya setiap hari, untuk melihat Ibunya disaat dia membutuhkannya. Jil hanya ingin itu, namun dirasa ini agak keterlaluan untuk anak seumuran dia.

Dan dia baru menyadari, jika pengorbanan seorang Ibu ternyata sangatlah besar untuknya.

Secara perlahan Jil melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata hampir menyipit. “Maafkan Jil, Ayah.”

Aku pun tersenyum. “Jangan minta maaf pada Ayah, Jil. Tapi minta maaflah pada Ibumu. Mungkin Ibu bisa mendengarmu.”

Jil tidak menanggapi. Kemudian dengan cepat dia membalikkan tubuh dan memeluk Ibunya seraya menangis. Hatiku saat ini benar-benar tergerak, dan aku tidak merasakan ketika air mataku benar-benar ikut jatuh bersamaan dengan suara tangis Jil. Sebisa mungkin aku menahannya dengan sebuah senyum kecil di wajahku.

Namun selebihnya, aku merasa lega. Karena Jil sungguh telah menyadari kesalahannya semenjak aku membaca diary itu.

“Ibu… maafkan Jil…” isak Jil dengan kepala di letakkan di dekat leher Ibunya.

.

.

.

“Jil sayang Ibu.”

 

 

-Fin-