--2 (1)

Title       : SCENE #4 HIM WHO THE UNSPELLING NAME

Author      : diff

Main Cast   : Park Sandara (sebagai aku), Kwon Jiyong (sebagai kamu)

Cameo       : Choi Seunghyun, Kim Wol (OC)

Length      : Chapter(s)

Rate        : General, Romance

Disclaimer  : Terima kasih untuk teh Rina yang sudah ‘memaksa’ saya membuat cerita ini

 

Kembali mengatakan, meskipun seharusnya saya melihat dari sudut pandang orang lain, tapi lagi-lagi saya justru curhat sendiri… >.<

Semoga pada semakin nyaman baca cerita ini.. nggak berharap muluk2 kok,, cuman pengen ngebagi cerita saja.. karena menurut saya “Berkhayal itu nggak salah dan berbagi khayalan itu juga nggak masalah,”

Terima kasih mimin yang baik #peluk cium mimin xoxo

Enjoy dengan cerita ini yaaa… ^o^/

Jadi, kenapa dia lakukan ini?

Apa yang dia inginkan dariku?

Aku lelah dan terlalu lelah

Aku tidak mau berada dalam posisi seperti ini. Posisi serba salah dan akan selalu dipersalahkan.

Tolong, bebaskan aku. Lepaskan aku dari jerat semu yang membelenggu

Hentikan dia dan sikapnya yang terus mengikatku

Jika dia bersikap seperti ini, aku dan diriku akan tetap terkurung dalam angan yang membuai

On June, 30th

=.=.=

Hampir dua minggu aku tidak menegurmu ataupun menyapamu. Aku tidak akan berkata apa-apa kepadamu jika bukan kamu yang memulai. Dan kamu cukup pintar untuk tidak memulai percakapan apapun diantara kita. Sepertinya kamu sadar sepenuhnya bahwa aku sengaja menghindarimu. Silahkan katakan aku ini menyedihkan. Memang.

Tapi rupanya langit enggan membiarkan kita berlama-lama saling berdiam. Karena kemudian takdir mempertemukan kita dalam satu situasi yang membuat kita harus berada dalam ruangan yang sama, saling berinteraksi.

Aku merutuki diriku yang dulu dengan naifnya mengiyakan permintaan – lebih tepatnya permohonan – mu untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan club mahasiswa ini. Dulu pikirku karena ada dirimu, seseorang yang aku kenal dan mengenalku, maka semuanya akan jadi lebih mudah dan menyenangkan. Tapi dengan keadaan kita sekarang, itu sulit.

Kamu menawarkan apartemenmu – yang jelas jauh lebih nyaman dari pada ruang club – dalam persiapan pemeran dan pergelaran yang akan kita selenggarakan. Ingin sekali aku mangkir, tapi apa kata semua orang jika aku sengaja alpa dari kewajibanku. Apalagi jika mereka tahu apa alasanku yang sesungguhnya. Sepertinya ego yang menggunung adalah sebuah boomerang yang menyengsarakan.

“Jangan lupa, Dara, nanti jam empat sore di rumah Jiyong.” Kata Seunghyun mengingatkan.

“Iya, iya.. mana mungkin sih aku lupa.” Jawabku. Benar mana mungkin aku lupa, karena saking inginnya aku melupakannya justru semakin dalam terukir dalam memori otakku yang kadang menderita amnesia akut.

“Bagus, kalau begitu aku duluan.” Dan Seunghyun pun berlalu.

Sial.

=.=.=

Ini kedua kalinya aku berkunjung ke apartemenmu. Tempat yang nyaman. Banyak pot-pot kecil – berjejer dan bergantungan di beranda balkon – berisi bunga anggrek beraneka warna. Bunga kesukaanku.

Aku menyendiri di sudut sofa ruang tamu, enggan bergabung dalam kelompok besar yang bergerombol di tengah ruangan. Menyebalkan. Aku tidak suka menyendiri, tetapi kamu menjadi pusat aktivitas disitu, terpaksa aku menyepi.

“Aku butuh konsentrasi. Kalian terlalu banyak bercanda disitu.” Alasanku.

 

Belum genap satu jam aku tiba di rumahmu, kekasihmu yang cantik itu sudah menyusul kemari. Kenapa? Apakah dia takut kalau aku mencurimu darinya?

Katakan padanya untuk tenang saja, karena aku masih memiliki jiwa seorang wanita. Aku pun tidak akan pernah rela kalau kekasihku direbut oleh orang lain.

“Hai, Dara.” Dia menyapaku dengan riang. Oh ya, dia tentu tidak tahu tentang perasaanku padamu kan? Kecuali dia seorang cenayang yang tahu isi pikiran orang.

“Hai, Wol. Lama tidak bertemu.” Aku ikut berbasa-basi. Padahal enggan rasanya aku terus-menerus memasang wajah tak ada masalah seperti ini. Aku merasa seperti penipu.

“Ini untuk kalian, kue bikinanku sendiri.”

Senangnya kamu memiliki kekasih sepertinya. Bahkan dengan berat hati aku harus membenarkan komentar semua orang yang memuji keterampilan kekasihmu.

Lalu dia beralih padamu, “Ini khusus untukmu.” Dia berkata dengan senyuman.

Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak menanggapi sikap kekasihmu dengan baik sebagaimana yang seharusnya?

Dia mengikutimu masuk ke balik pintu yang aku yakini adalah kamarmu. Beberapa saat kalian di dalam. Entah apa yang kalian bicarakan. Aku penasaran. Tapi aku tidak ingin tahu. Tidak jika itu akan semakin membuatku terluka.

Hampir setengah jam lamanya kalian di dalam. Bukan hanya aku yang penasaran dengan apa yang terjadi dengan kalian. Tetapi hanya aku yang tidak menyuarakan keheranan apapun.

Kalian keluar. Kami pura-pura sibuk dengan pekerjaan kami. Mengacuhkan kalian, walaupun sangat terlihat kecanggungan kami.

Rahang wajahmu mengeras.

Mata kekasihmu memerah.

Jangan katakan padaku kalian habis bertengkar. Jangan katakan apapun, karena aku akan merasa senang di atas penderitaan kalian.

Kekasihmu mendekatiku. “Lagi sibuk ya?” tanyanya. Suaranya sedikit sengau. Dia benar-benar habis menangis.

“Kenapa?” aku tidak mengharapkan kamu mengatakan apapun padaku.

“Tolong antar aku keluar,” bisiknya. “Aku pulang dulu ya..” pamitnya pada yang lain

Terpaksa aku menurut dan bangkit berdiri mengantarnya hingga depan bangunan apartemenmu. Kamu ikut berdiri juga.

Di depan, dia menangis di hadapanku.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

Dia tidak menjawab, hanya terus menangis.

“Tidak apa-apa, Dara. Makasih ya.” Lalu dia masuk kedalam mobilnya dan segera berlalu.

Aku masih berdiri menunggu mobilnya menghilang di balik tikungan.

“Dara,” kamu memanggilku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama kamu memanggil namaku. Dara. Bukan Nabi.

“Apa yang terjadi padanya?” akhirnya aku mengakhiri perang dingin diantara kita.

“Tidak ada apa-apa. Perasaannya saja yang sedang sensitif.” Jawabmu, yang sepenuhnya kuyakin bukan jawaban yang sejujurnya. Sudahlah, toh sudah kutegaskan tadi aku tidak ingin jawaban jujur.

“Kami sama-sama jenuh.”

Sudah kukatakan aku tidak ingin mendengar jawabanmu yang sebenarnya!

Aku segera masuk ke dalam bangunan apartemenmu dan berlari menuju tangga – sengaja menghindari lift yang mungkin akan menjebakku bersamamu. Meninggalkanmu yang masih berdiri di teras rumah.

=.=.=

To be continue

 

Omo,, omo,, omo,, bagian ini terlalu banyak yang nggak cocok dengan scene daragon… T.T mianhe karena saya terlalu memaksa untuk merubahnya jadi daragon… jadi berasa aneh… >.<