G_DRAGON__HEARTbreaker_by_nichkhunnie_conew1Author : Raechell

Title : My HeartBreaker

Main-cast:

  • Kwon Ji yong (G-dragon) – Bigbang
  • Sandara Park (Dara) – 2NE1

Others     :

  • Lee Seung hyun (Seungri) – Bigbang
  • Choi Seung hyun (T.O.P) – Bigbang
  • Park Bom (Bom) – 2ne1
  • Dong young bae (Taeyang) – Bigbang

(Masih akan bertambah di setiap chapter nya – so, stay tune! ;D )

Genre/rating/length : Romance, Comedy, School life

Disclaimer : Please respect, no plagiat

twitter : @asdfjkrae88

 

My Heart Breaker

Part 3

 

Ji Yong’s POV

 

Apa rencanaku kali ini berhasil? Apa dia percaya bahwa aku betul-betul pingsan? Hahaha! Ji yong, kau memang hebat. Tolong, jangan pernah panggil aku Ji yong kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau. Kau tertipu nona! Kepintaranmu memang tidak bisa mengalahkan seorang Kwon Ji Yong.

Aku membuka mataku secara perlahan untuk sekedar melihat keadaan. Ya! Kemana dia? Bukannya menjagaku malah main pergi! Dia pikir karena siapa aku sakit? Sakit – sakit  hati maksudku.

Cekrek! Ku dengar suara pintu kamarku terbuka. Ah! Here she come. Aku pura-pura memejamkan mataku lagi.

“Ji yong-ssi… apa kau sudah sadar?” Tanya nya padaku. Tentu saja aku tidak akan menjawab. Dia tak lagi mengajakku bicara, mungkin dia merasa sia-sia.

DEG!

Perasaan apa barusan? Kenapa jantungku berdetak tak karuan seperti ini saat dia menyentuh keningku. Apa aku benar-benar sakit?! Aku menelan ludah karena salah tingkah.

“Haah,” Aku dapat mendengar helaan nafasnya yang panjang, seperti nya dia lelah sekali. “Hey Kwon Ji yong!” Katanya.

DEG!

Lagi-lagi, jantungku seperti berpacu lebih cepat saat dia menyebut namaku. “Kenapa kau harus menyebalkan sih? Coba kalau kau lebih manis sedikit, mungkin…” Lanjutnya. Hey! Hey! Apa dia bilang? Dia sebut aku menyebalkan? Dia lah yang menyebabkan aku bersikap seperti itu! Tapi tunggu… apa maksud kalimatnya barusan? Kenapa dia tidak melanjutkan kalimatnya?

“Dara-ssi… apa tuan muda sudah sadar?” Tiba-tiba saja manager Lee masuk ke kamarku. Liat saja kau manager Lee, aku pasti akan membunuhmu kalau aku bangun nanti. Dara bahkan belum sempat melanjutkan kalimatnya!! URGH…. I’m so desperate!

“Eoh, ahjussi… Aniyeo, Ji yong-ssi belum sadar,” Jawab dara cepat.

“Baiklah. Kalau begitu, saya titip tuan muda sebentar ya, nona. Saya pergi menelepon dokter,” Kata manager Lee. DOKTER?! Dokter katanya? Apa yang harus di periksa? Hey aku tidak sakit…. Ah, tapi… apa mungkin aku sakit jantung? Bahkan sampai saat ini jantungku masih juga belum berdetak normal.

“Ah, ye…” Jawab dara singkat. Aku bisa merasakan manager Lee keluar dari kamarku. Mungkin ini saatnya aku untuk tersadar sebelum dokter datang dan sebelum dia pergi tentunya.

“Ah…” Aku mengerang seperti kesakitan mencoba memainkan peranku sebagai orang yang baru tersadar. Kuharap ini berhasil membangkitkan simpatinya, hahaha!

“Eoh, sunbae… Kau sudah sadar rupanya,” Kata Dara setelah melihatku membuka mataku dan memperhatikan sekeliling. Sunbae katanya? Ini pertama kalinya dia memanggilku dengan sebutan itu, sekalipun aku lebih ingin dia memanggil ku “oppa”. Ji yong, kau benar-benar sudah gila! Apa yang kau pikirkan?!

“Ah, ye..” Aku mencoba memainkan peranku lagi. Aku berusaha sedikit demi sedikit untuk duduk dan memperlihatkan wajah lemah tak berdaya.

“Sunbae, lebih baik kau jangan bergerak dulu. Kau kan baru saja siuman. Aku akan member tahu manager Lee dan mengambilkan bubur untukmu, kau tunggu disini…” Kata dara lalu beranjak dari kursinya. Belum sempat dia berdiri, aku meraih tangannya. Kuharap kali ini berhasil…

“Dara-ssi…” Kataku perlahan sampai dia berbalik untuk menatapku dengan tatapan bingung. “Jeongmal mianhe yeo…” Lanjutku. GOTCHA! Kali ini berain taruhan aku akan berhasil.

“Sunbae, lebih baik kau urus kesehatanmu dan tidak usah berpikir tentang itu. Aku… sudah memafkaanmu,” Jawabnya. Aku dapat mengartikan dari wajahnya bahwa dia benar-benar tulus memaafkanku. Aku sedikit merasa bersalah karena sudah berpura-pura sakit. Tapi sungguh, strategi kali ini benar-benar ampuh.

“Jinjja?” Kataku dengan senyum selebar mungkin. Dia hanya mengangguk dan membalas senyumku dengan senyumannya yang….. Oh tidak! Seketika itu juga, aku merasa seperti telah terhipnotis sepenuhnya. Sekujur tubuhku kaku dan detak jantungku… untuk sepersekian kalinya berpacu lebih cepat. Aku dapat merasakan aliran-aliran darahku mengalir lebih cepat. Tunggu, hey, Ji yong! Apa yang kau pikirkan?

“Sandara…” Kataku menyebut namanya dengan suara pelan. Dia terlihat kaku saat mendengar perkataanku. Aku memutuskan untuk melanjutkan kalimatku sebelum semua terlambat. “Maukah kau memanggilku dengan sebutan oppa?” Kataku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hening….

 

 

 

 

 

 

Hening….

 

 

 

 

 

 

 

Hening…

 

 

 

 

 

“BA…. HAHAHAHAHAHAHA!” tawanya pecah setelah mendengar perkataanku. Wae? Apa ada yang salah? Tapi kurasa, memang ada yang salah! Aku jadi… ARGH! Tidak tidak, aku mungkin benar-benar sakit!

“YAH! Kenapa kau tertawa? Memang ada yang lucu?” kataku kikuk. Sial, kenapa aku harus berkata seperti itu sih. Tidak Ji yong, itu hanya bagian dari rencana mu saja kok.

“Apa kau sudah gila? Aku harus memanggil mu oppa? There’s no way such things would happen,” katanya. JLEB! Rasa sakit apa ini? Bodoh, kau memang sakit! “Kau masih belum sadar ya?” Lanjutnya. Sungguh, sifat menyebalkannya memang tidak bisa di hilangkan. Tenang Ji, mainkan perananmu.

“Wae? Apa kau begitu membenci ku?” Kataku dengan tatapan memelas. Setiap aku mengeluarkan jurusku yang 1 ini, belum pernah ada yang tidak berhasil – ku harap kali ini…

 

Sandara’s POV

 

Aku benar-benar tidak percaya… dia benar-benar menungguku kemarin. Entah bagaimana, aku merasa sangat bersalah, dia sampai sakit seperti ini karena menungguku. Kwon Ji yong… cepatlah sadar!

“Ah…” ku dengar suaranya yang terdengar sangat lemah, dia mencoba untuk bangun dan seperti nya… dia masih terlalu lemah. Tapi, aku bersyukur dia tidak kenapa-kenapa.

Aku mencoba menawarkan niat baikku untuk memanggil manager Lee dan mengambilkannya bubur tapi dia malah menggenggam tangan ku dan menghalangiku. Sesaat, aku merasa seperti terstrum aliran listrik yang dahsyat saat dia menggenggam tanganku. Aneh, ini aneh… aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Dara-ssi…” aku mendengarnya memanggil nama ku dengan suara pelan dan tidak berdaya. Tapi… justru membuat detak jantungku berdetak lebih cepat. “Jeongmal mianhe yeo…” katanya melanjutkan. Omoo… apa yang dia katakana? Aku hanya tidak habis pikir, ternyata dia punya sisi baik juga. Dia jadi… ah tidak! Tidak dara, jangan bodoh! Dia minta maaf kan karena kesalahannya. Tidak usah kumaafkan saja dia, memang dia pikir dia siapa?!

Tapi… sepertinya dia sangat menyesali perbuatannya. Aku memutuskan untuk memaafkannya, toh memang dari awal aku sudah memaafkannya sih. Lagipula, kasihan juga dia.

“Jinjja?” katanya dengan suara yang terdengar cerita dan tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk tidak menjawab dan membalas senyumannya. Aku takut kalau aku bicara, suaraku malah tidak keluar nantinya… aku terlalu gugup karena melihat senyumnya barusan. Dia lucu sekali seperti anak kecil… YAAMPUN! Aku sudah gila! Bodoh, bodoh!

“Sandara…”

DEG!

Apa yang dia katakana? Barusan dia memanggil nama ku kan? Sesaat tadi, aku tidak bisa merasakan apapun. Dunia seperti berhenti berputar, aku bahkan tidak dapat berkata-kata, bibirku seperti kaku dan sekujur tubuh ku seperti tersengat lebah. Oh tidak, dara! Kau gila…

“Mau kah kau memanggilku dengan sebutan oppa?” APA? APA KATANYA? Apa dia sudah gila? Ya Tuhan, aku bersumpah aku tidak mau melakukannya! Untuk apa aku memanggilnya oppa?! Tapi, panggilan itu cukup mesra sih… aduuuuh!!! Kau kenapa lagi sih, dara?!

“BA…. HAHAHAHAHAHA,” tawaku pecah membiarkan aku melepas kegugupanku. Kalau tidak begini, aku mungkin tidak bisa menutupi muka ku yang sepertinya sudah memerah ini. Panas, pipiku terasa panas…

“YAH! Kenapa kau tertawa? Memang ada yang lucu?” katanya. Tentu saja ini lucu! Lucu bagiku, lucu melihat kekonyolan yang sedang ku lakukan. Ini lucu, lucu sekali bagiku… tawaku berhenti setelah melihat wajahnya, hey… apa dia serius? Tidak tidak, aku tidak boleh percaya! Selamanya, dia adalah sunbae menyebalkan!

“Apa kau sudah gila?” lebih tepatnya, aku yang gila karena kegilaan yang kau buat. “Aku harus memanggilmu oppa?” Walaupun aku ingin… “There’s no way such things would happen,” BUSTED! Akhirnya kata-kata ini keluar juga. Aneh, aku jadi merasa sesak. Ah tidak, mungkin maag ku kambuh.

“Wae?” Katanyadengan tatapan penuh kesedihan. Kumohon… jangan tatap aku seperti itu… “Apa kau begitu membenci ku?” Dan jangan pernah berkata seperti itu! Kau membuatku… BLUSH! Oh tidak, lagi-lagi pipiku terasa panas. Apa aku demam? Dinginkan pikiran mu, dara, kumohon sadarlah!

 

***

“Gwaenchanayeo?” Kata dara lalu menyentuh kening Ji yong seperti sedang mengecek apakah dia demam atau tidak.

“YAH! Kau itu… apa kau tau aku sedang serius?” Kata Ji yong dengan nada tinggi.

“Memang kau pernah bercanda?” Tanya dara santai.

“Haish, jinjja… bisakah kau lebih manis sedikit?” Kata Ji yong dan membuat dara segera menegok ke arahnya. “Mm… Maksudku… Ak… Aku hanya…” Kata Ji yong terbata-bata lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sudahlah lupakan, kemarin… tidak, maksud ku 2 hari yang lalu… ah tidak maksudku, mie buatan eomma mu enak juga, tidak… mie nya enak sekali. Sungguh, benar-benar enak,” Kata Ji yong kikuk. Dara yang mendengarnya tidak bisa menahan senyumnya dan tersenyum tipis.

Hening.

Tidak satu pun dari mereka berani berbicara, tapi sesaat tadi… mata mereka bertemu beberapa detik lalu dara mengalihkan pandangannya dan menunduk kebawah. “Eoh, apa kau benar-benar memakannya?” Tanya dara tiba-tiba.

“Hey! Apa kau tidak mempercayaiku?! Aku benar-benar memakannya kau tahu!” Jawab Ji yong kesal.

Dara tertawa kecil. “Aku hanya bercanda, gomawo yeo…” Kata Dara sambil tersenyum.

GAWAT!! Pikir Ji yong.

 

*To Be Continued*