It's you cover jadiIt’s You

Author  : Sholasido

Cast       : Dong Yong Bae, Yubin (You)

Genre/ length   : Romance/ One Shot

Disclaimer           : Ide dan alur cerita asli milik sendiri J

A/N                        : Terinspirasi dari sebaris kalimat Jiyong, n kisah hidup Dong Yong Bae tentunya🙂 (subjektifku lho ya, jd jangan diprotes, hehe), nyoba bikin yang romantis, tapi kalau gaje ya maaf, hehe masih belajar

enjoy reading, jangan dipaksaain baca tapi kalau udah terlanjur mohon kritik dan sarannya, kamsahamnida ^^

Twitter                 : @sholakhiyya

 

 

Ada sebuah kalimat singkat dari Jiyong yang benar-benar melekat dibenakku dan bahkan sampai sekarang aku meyakininya, “Ketika kau bertemu dengan orang yang seharusnya kau nikahi, seseorang yang menjadi takdirmu, entah bagaimana caranya, kau akan langsung mengetahuinya seketika itu juga”, awalnya aku meragukan kalimat sampah yang terlontar dari mulut seorang play boy itu, bagaimana bisa aku percaya kalau dia sendiri sampai sekarang masih berkelana hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya, dia selalu bilang “ Aku tidak merasakannya, setidaknya sesuatu yang lain dari biasanya” , apa sebenarnya yang akan kau rasakan ketika bertemu seseorang yang akan menjadi takdirmu? Aku terus bertanya-tanya, namun kemudian aku menyadari apa yang dirasakan teman seperjalanan karirku itu.

Jika Jiyong memilih untuk mencoba menemukan perasaan itu dari satu bunga ke bunga yang lain, aku lebih memilih untuk menunggu, hingga akhirnya perasaan itu datang menghampiriku, meskipun sampai usiaku yang sudah matang aku belum punya kekasih, meskipun orang-orang mulai memandangku curiga mengira aku penyuka sesama jenis, dan meskipun orang-orang yang peduli denganku mulai mencemaskanku dan mencarikan jodoh untukku, aku akan tetap menunggu hingga perasaan ini menghampiriku.

Aku tidak ingin menyerah dengan kebutuhan ataupun pandangan mencela orang-orang, aku akan menunggu dan terus menunggu karena aku yakin perasaan itu akan datang, dan entah bagaimana caranya Tuhan menyusupkan getar-getar itu saat pertama kali aku mendengar suaramu, hanya suaramu, bahkan sebelum aku melihat wajahmu, perasaan itu lebih dulu menyapaku, dan yang ku yakini saat itu adalah aku menemukannya.

“Pesan apa?” Aku tersentak dari lamunanku, lagi-lagi hanya suaramu yang mampu mengalihkan pikiranku, tepat setahun yang lalu, di restoran yang sama, saat pertama kali aku mendengarnya…..

 

A year ago

“Yong bae-ah bagaimana Hee sun? Dia cantik kan?” dari seberang telepon Dara noona tampak bersemangat

“Noona kumohon…. hentikan menjodoh-jodohkanku dengan kenalanmu, itu memalukan,” aku sudah cukup malu dengan predikat perjaka tua, tidak hanya keluargaku, teman-temanku pun ikut-ikutan menjodoh-jodohkanku dengan kenalan mereka.

“Aish… untuk apa memedulikan orang lain, yang penting kau dapat pacar, Hee sun bagaimana? Selain cantik, dia benar-benar baik, kurasa dia tipe…… tut….tut…tut…..”

Aku terpaksa memutusnya, akhir-akhir ini aku sedikit sentitif, entah mengapa aku merasa mereka menikmati permainan perjodohan ini. Aku tahu mereka peduli padaku, tapi kenapa mereka tidak mengerti perasaanku, aku juga ingin jatuh cinta secara natural, tidak diatur seperti ini, aku pasti bisa menemukannya sendiri.

“Yong bae…. Yong bae-ah kau sedang sibuk?” tanpa kusadari oemma mengguncang-guncang pundakku

“Anii oemma, waeyo?” memang hari ini aku sedang mengambil libur, libur dari kesibukan sebagai penyanyi dan dari olokan teman-teman, kuharap begitu

“Kalau begitu bisa bantu oemma memberikan ini kepada Bibi Hwang?” salah satu trik perjodohan kurasa, Bibi Hwang adalah salah satu teman baik oemma, setahuku dia punya seorang anak gadis yang masih kuliah.

Oemma memberikan bungkusan yang tampaknya cukup berat, aku tidak tahu isinya, dan tidak mau tahu.

“Ke restorannya, kau tahu kan? oemma sudah pernah mengajakmu kesana, jangan pura-pura lupa,”

“Apa tidak bisa orang lain saja, aku kan tidak setiap hari libur,” kataku memohon

“Tidak ada orang lain yang kupercaya selain dirimu, ayo sana berangkat….” Dengan malas-malasan kulangkahkan kakiku menuju restoran Bibi Hwang, ah tidak, restoran tempat perjodohan lebih tepatnya

 

Di Restoran

Restoran ini cukup ramai karena dekat dengan salah satu universitas. Aku harus mengendap-endap untuk bisa sampai kemari, untungnya beberapa pelayan disini mengenaliku sebagai anak dari teman pemilik restoran ini, entah peraturan apa yang telah mereka sepakati, yang pasti mereka memperlakukanku dengan wajar, dan itu sangat membantu.

“Nyonya Hwang sedang tidak ada ditempat Taeyang-ssi tapi nona muda ada didalam, tunggu sebentar akan saya panggilkan, anda bisa memesan sesuatu terlebih dulu,”

“Pelayan!”

Sudah kuduga ini adalah trik perjodohan, apa sih yang dipirkirkan semua orang, usiaku juga masih terbilang muda jika harus menikah, “setidaknya cari pacar dulu”, memangnya kenapa kalau usia 25 tahun belum punya pacar, bagaimana kalau Tuhan memang sengaja mengatur seperti itu, atau mungkin saja malah akan langsung menikah, siapa tahu? Lagi pu…

“Permisi tuan, mau memesan apa?”

Deg

Aku tidak tahu perasaan apa ini, ada yang berdesir aneh dalam tubuhku, sejenak aku hanya terdiam kaku

“Tuan?” akhirnya, kuberanikan diriku menoleh kepada pemilik suara itu, senyuman khas seorang pelayan restoran tampak mengembang di wajahnya yang pucat, apa… apa-apaan ini dia hanya tersenyum tapi kenapa tampak begitu cantik, suaranya yang lembut terdengar begitu meneduhkan

“Tuan, anda baik-baik saja?” dia mulai panik, bisa ku rasakan itu, tapi suaraku tak bisa keluar, tenggorokanku seolah ter….

“Yong bae-ssi…, maaf membuatmu menunggu,” seorang perempuan yang kini berjalan mendekati mejaku, cukup mengalihkan perhatian kami berdua. Tampaknya dialah nona muda restoran ini karena pelayan itu memberi hormat padanya.

“Ah Yubin-ah ambilkan kami menu spesial hari ini,” katanya pada pelayan itu setelah sampai di mejaku

“Baik nona, permisi,”

Jadi namanya Yubin, nama yang indah, aku terus memandangnya meskipun dia telah berlalu cukup jauh

“Ah Annyeong Oppa, bagaimana kabarmu?……..”

Aku tidak bisa fokus pada percakapan kami, pikiranku melayang entah kemana, perasaanku aneh, gelisah tanpa tahu sebabnya, ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini, pandanganku kabur, mencari-cari sosok Yubin, ada sesuatu dalam dirinya yang menarik kuat tubuh dan pikiranku, dan sedetik kemudian, tanpa bisa mengontrol tubuhku…

“Bisa kau kenalkan aku pada Yubin-ssi?”

 

A year later

“Wae gurae? Jangan memelototiku seperti itu” sepertinya tanpa sadar aku sudah memandangmu lama yang membuatmu cukup jengah

“Cham Yeppeoyo,” aku tidak pernah bosan memandang wajahmu yang kini mulai memancarkan semburat merah

“Jangan sia-siakan energimu, kau serakah sekali, aku sudah menjadi istrimu, apa lagi yang kau inginkan hah?” rona merah wajahmu seolah mengatakan kebalikannya, aku hanya tersenyum dan masih memandangmu ingin tahu.

Ya, tidak butuh waktu lama untukku meminangmu. Sesuatu yang selama ini kuyakini, akhirnya datang juga menghampiriku, seolah Tuhan telah membisikkan sesuatu yang entah bagaimana ku yakini kau sebagai takdirku, saat itu juga, saat pertama kali aku mendengar suaramu.

“Saranghae” kataku tanpa malu-malu

“Iya aku tahu”

“Kau?”

“Ah… sudah berapa kali aku mengatakannya”

“Mengatakan apa?”

“Ck.. nado”

“Nado mwo?”

“Nado Saranghae, puas?!”

Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan ini, kebahagiaan ketika takdir mempertemukan kita, kebahagiaan ketika kau mempunyai perasaan yang sama denganku, kebahagiaan ketika kau ada disisiku dan tersenyum untukku, dan kebahagiaan ketika akhirnya takdir menyatukan kita berdua, my everlasting love.