Haru-Haru Poster

Author             : Zhie

Main Cast        :

–         Kwon Jiyong

–         Sandara Park

Support Cast   :

–         Min Young

–         Wooyoung

Genre              : Sad Romance

Length             : One Shoot

A/N                  :

Annyeong haseyo….!” Jae ireumen Zhie imnida ….. Cerita  ini sebenarnya sudah ku buat 5 tahun yang lalu dengan gaya penulisan khas cerpen Indonesia dengan judul “Love Basket”, tapi beberapa bulan ini aku sangat menggilai daragon, sangat-sangat gila bila membayangkan mereka… jadi aku berniat memperbaharui cerita ini menjadi versi daragon dengan judul baru yaitu “Haru Haru”, walau tidak mengubah cerita asli tapi aku menambahkan beberapa scane dan gaya bahasa yang ku rubah mengikuti gaya bahasa drama korea, aku ingin FF ini bisa diterima dengan baik bagi para readers, walaupun banyak kesalahan kata-kata atau pemasukan bahasa korea yang tidak pas ..tapi aku sudah berusaha dan untuk FF  yang benar-benar fresh dan baru ku buat akan segera ku selesaikan. So…Happy Reading Guys,,,,Gamsahamida. ^^

 

 

 

“Ji, lihat…perpustakaannya baguskan? Aku ingin masuk universitas ini.”

”Tapi Universitas itu tidak ada ekstrakurikuler basketnya!”

”Kau ini selalu saja basket, perhatikanlah aku sedikit!”

Aku sedang melihat-lihat brosur yang ditunjuk Min Young pacarku, memuat kampus-kampus di Universitas kota kami saat sekolah bubar. Angin sejuk bulan Mei masuk dari jendela yang sengaja dibuka. Aku dan Min Young sedang berada di perpustakaan sekolah, itu tempat favoritnya kalau boleh jujur aku tidak suka tempat seperti ini. Aku lebih senang dilingkungan yang ramai dan terbuka. Diruang ini, beberapa murid juga sedang mencari informasi tentang sekolah.

Meski baru bulan Mei, kami sebagai murid kelas 3 harus segera menentukan Universitas yang akan dipilih. Karena itu Min Young bersih keras mengajakku memilih Universitas yang sama padahal aku sudah menemukan Universitas dimana disana terdapat kegiatan klub basketnya. Sebenarnya tak ada gunanya aku disini. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang menunjukkan rasa bosanku…Min Youngpun memperhatikanku, aku tidak enak dibuatnya.

”Kau pasti menganggap ini semua sesuatu yang membosankan!” Tebak Min Young, aku ingin mengiyakannya tapi sebuah perasaan melarangku membuatnya kecewa.

”Ani…hanya saja sore ini, aku ada latihan basket jadi kuantar kau pulang sekarang saja!” Jawabku membuat raut wajah dimukanya berubah seperti ingin menangis, aku bingung apa salahku sampai begitu.

”Ternyata kau lebih memilih latihan basket daripada bersamaku…sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang diriku Ji?Apa aku membosankan atau dimatamu basket lebih baik dariku hah?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Min Young, apalagi melihat Min Young meneteskan air matanya karena aku …aku bingung.

”Min Young-ah…bukan begitu, aku hanya-”

”Sudahlah! Aku pulang sendiri, kau latihan saja jangan pikirkan aku!” Ucapnya berlalu pergi meninggalkanku.

”Sial!” Gerutu batinku kesal

Sejak saat itu aku lebih memfokuskan pada latihan basketku, karena Min Young selalu menghindar dariku. Tapi seperti yang dikatakannya aku tidak akan terlalu pusing memikirkannya.

”Jiyong-shi…dipanggil pelatih!” Panggil Dara selaku manager klub basket, gadis itu membuatku lemah. Itulah yang kupikirkan selama ini tapi Sandara Park adalah satu-satunya gadis yang kuanggap sebagai dongsaengku, karena itu aku tak berani mempermainkannya.

”Ne..aku akan segera kesana!” Jawabku dengan sedikit senyuman, Darapun membalasnya lalu berbalik hendak pergi menjauh dariku. ”Tunggu Dara!” Panggilku mendekatinya.

”Ada apa Ji?” Tanyanya padaku, entah kenapa aku merasa ia selalu menghindar dariku sejak aku resmi berpacaran dengan Min Young setahun yang lalu.

”Wooyoung mengajakmu untuk makan malam bersama hari ini, bukankah kau sudah lama tak berkunjung kerumah kami?”

”Baiklah, nanti sepulang dari klub aku akan mampir” Jawab Dara berlalu pergi.

”Huh…aku bohong, tak apalah Wooyoung juga pasti ingin bertemu dengannya!” Gumanku pergi keruang pelatih.

Sore itu hujan mulai berjatuhan terasa angin mulai menusuk tulang, anak-anak dari klub basket sudah bubar setengah jam yang lalu. Tapi Dara masih berada diruang klub…ia sedang membersihkan bola-bola basket yang baru saja dipakai. Sementara itu aku masih berada ditoilet sedang menelfon adikku.

”Wooyoung…pulang dari klub Dara akan datang berkunjung…bersiap-siaplah….!” Ucapku menutup HPku, lalu akupun kembali ke klub untuk menjemput Dara. Tapi saat di koridor aku berpapasan dengan Min Young yang baru saja keluar dari klub sastra.

”Min Young-ah, jal jinae syeosseoyo?” Tanyaku basa-basi.

” Jal jinaeyo Ji!” Jawabnya singkat dengan tatapan dingin.

”Ah…kalau begitu aku kembali ke ruang klub dulu.” Ucapku beranjak pergi.

”Tunggu Ji…kau dekat dengan manager klubmu itu?” Tanyanya tiba-tiba membuatku menghentikan langkah dan berbalik kembali menghadap Min Young.

Sejenak akupun membisu tapi aku tau pertanyaan itu membuktikan kalau Min Young cemburu pada Dara.

”Dekat…maksudmu Dara-yah? Dia temanku sejak dulu hingga sekarang dan akan tetap seperti itu selamanya!” Jawabku membuatnya bernafas lega. ”Tapi…kalau aku mulai merasakan sesuatu yang lain itu mungkin, yang jelas ia memahamiku dan selalu mendukungku dalam segala hal, apalagi impianku selama ini.” Tambahku bermaksud menyindir Min Young yang tak terlalu dalam memahamiku.

”Ya! Aku tau kau menyindirku, tapi lebih baik kita selesaikan dulu status hubungan kita Ji!” Ucap Min Young kemudian membuatku tercengang tak menyangka kalau Min Young berani menyatakan sikap tegas seperti itu.

“Apa maksudmu kita putus?” Tanyaku, Min Youngpun mengangguk perlahan dengan wajah tertunduk. ”Baiklah kalau itu yang kau mau, kita putus!” Jawabku kemudian “Apa kau puas sekarang hah?” Min Young tak menjawab iapun  berlari meninggalkanku. Kulihat ia mengeluarkan air mata dengan kata lain menangis, aku sedikit menyesal dengan semua ini. Tapi mungkin ini yang terbaik, jujur aku bingung memastikan perasaanku…aku mulai merasa ada yang salah tentang hubungan ini.

”Jiyong-shi!” Ucap suara yang menepuk pundakku tak lain adalah Dara. ”Aku sudah selesai, mau pulang sekarang?” Tanyanya.

”Ne..tunggu sebentar, aku ambil tas dulu.” Jawabku.

Sore menjelang malam, matahari telah terbenam. Aku berjalan dengan Dara setelah turun dari bus. Yah…itu karena rumah kami cukup jauh dari sekolah hingga harus naik bus. Hujan sudah berhenti sejak tadi tapi angin masih terasa sangat dingin. Aku dan Dara berjalan tanpa berbicara, kulihat ia merinding kedinginan. Akupun melepaskan jaketku dan meletakkan dipundak Dara, Darapun berhenti dan menatapku heran.

”Aku tulus kok!” Ucapku gugup, Darapun tersenyum.

”Gamsahamida!” Jawab Dara. ”Ji…tadi aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Min Young, kenapa kau putus dengannya. Bukankah dia gadis idamanmu selama ini?” Tanya Dara mengumpulkan keberaniannya, akupun mengacak-acak rambut depanku.

”Dia memang gadis idamanku tapi akhir-akhir ini, hubungan kami memang tidak terlalu baik. Karena itu mungkin kata putus adalah sesuatu hal yang tepat.” Jawabku.

”Tapi dia sepertinya tidak ingin berpisah denganmu Ji, dia hanya menggertak tadi…aku tau itu semua dari tatapan matanya, jika ia masih sangat menyayangimu.” Ucap Dara.

”Benarkah begitu..? Kau ternyata suka memperhatikan orang ya.” Sindirku membuatnya tertunduk. ”Dara-yah… kenapa kau berubah?” Tanyaku tiba-tiba yang sudah lama ingin kutanyakan pada Dara, tapi Dara hanya diam tak menjawab. ”Dulu kau tidak sejauh ini denganku…sikapmu berubah sejak setahun yang lalu aku resmi berpacaran dengan Min Young, apa kau tidak suka? Atau aku melakukan sesuatu yang salah padamu?” Tanyaku, kulihat Dara mengalihkan pandangannya.

“Aniya…Tidak ada yang berubah Ji, itu hanya perasaanmu saja.” Ucapnya singkat. Akupun tau dia takkan menjawab yang sebenarnya dan sesampainya dirumahku, Wooyoung sudah menyiapkan makan malam. Yah…kami hanya tinggal berdua sejak Appa dan Eomma meninggal dalam kecelakaan 2 tahun yang lalu, kini aku yang menjadi kepala keluarga dalam masalah keuangan. Sedangkan Wooyoung yang mengerjakan tugas rumah. Kamipun makan malam bertiga.

“Selamat makan.” Ucap kami serempak.

“Apa kau suka?” Tanya Wooyoung penuh perhatian pada Dara, kulihat Darapun mengangguk mengembangkan senyumnya.

“Kau tau, naengmyeon buatanmu itu sangat lezat … dan itu tidak pernah berubah.” Jawabnya bersemangat.

“Benarkah? Kalau begitu sering-seringlah kemari Dara…kau tau, aku sangat merindukanmu.” Ucap Wooyoung jujur membuat Dara dan aku menatapnya.

“Wae?” Tanyanya, Wooyoungpun tersenyum.

“Ani…mari kita habiskan makanan yang terlihat lezat ini.” Serunya kemudian, Darapun kembali menyantap semangkuk Naengmyeon dihadapannya, aku masih sesekali melirik Wooyoung dan Dara …mereka terlihat akrab seperti dulu, akupun menyudahi makan malam lebih cepat kali ini.  ”Wooyoung…aku malam ini ada shift malam jadi seperti biasa, kau jaga rumah..araeso!” Ucapku, Wooyoungpun mengacungkan jempolnya.

”Ok!” Katanya, akupun pergi kekamar dilantai 2 tapi sebelum itu aku sempat melihat kedekatan Dara dan Wooyoung, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.

Kuhempaskan tubuhku diatas ranjang melihat langit-langit, kubayangkan sesuatu yang menyenangkan saat di SMP dulu dimana Dara masih ceria seperti gadis lugu.

”Jiyongie, joheun achimieyo! saengil chukha hamnida, jangan pernah jauh dariku, araeso.” Ucap Dara manja disusul oleh kecupan dipipiku saat itu.

”Ya! Dara-yah, ini di halaman sekolah…apa kau tidak punya malu!” Gerutuku kesal tapi mungkin saat itu wajahku merah karena semua anak-anak yang sudah berdatangan melihatku dengan Dara sambil berbisik-bisik. Tapi beberapa anak hanya menghela nafas panjang dan tersenyum karena mereka menganggap itu sudah biasa diantara kami.

”Malu? Apa itu malu, aku tidak malu karena aku sangat menyayangimu Ji. Jadi buat apa yang namanya malu!” Ucapnya lugu, dia selalu begitu saat SMP dulu tapi saat di SMU sikapnya berubah, dia selalu menjauh dariku padahal dulu dia yang tidak ingin jauh dariku. Entah karena apa, yang jelas saat ini dia lebih suka dengan Wooyoung ketimbang denganku.

Akupun menuruni tangga kulihat Wooyoung sibuk memberesi meja makan, Dara sudah tak berada disitu.

”Dara…sudah pulang?” Tanyaku memastikan.

“Ne, hyung terima kasih…kau sudah mengajaknya kemari.” Ucap Wooyoung.

”Apa itu membuatmu senang?” Tanyaku.

”Sangat senang Hyung, apa kau juga menyadari perubahannya Hyung…tapi aku cukup lega dia masih dapat tersenyum seperti dulu!” Ucap Wooyoung bersemangat, akupun tersenyum kecut menyadarinya bahwa akulah yang dihindarinya selama ini. Dan telefon rumahpun bordering, aku segeera mengangkatnya.

“Yoebaseo!”

”Jiyong-shi…!” Ucap Dara terdengar panik

”Wae Dara-yah?” Tanyaku khawatir

”Eomma…Eomma tak menjawab, kamarnya terkunci dari dalam…aku takut Eomma-”

”Tenanglah Dara kami akan segera kesana!” Jawabku cepat, mengakhiri sambungan telepon.

“Wae Hyung?” Tanya Wooyoung

“Kita harus segera ke rumah Dara…ada yang terjadi pada Ajhumma.” Jawabku, diapun mengangguk..kami segera pergi ke rumah Dara yang hanya beberapa blok dari rumah kami. Saat tiba dirumah Dara…Eommanya didalam kamar tak menyahuti panggilan kami berkali-kali. Aku dan Wooyoungpun terpaksa mendobraknya dan kami lihat Eomma Dara tergeletak disamping tempat tidur dengan mulut berbusa.

”Eomma…wae eomma?jangan seperti ini, bangun eomma!” Ucap Dara menangis, dengan segera akupun menelfon ambulans.

Angin pagi mulai terasa tepatnya saat ini pukul 3 pagi, aku masih berada di RS bersama Wooyoung juga Dara, aku mengabaikan shift malamku kali ini…Aku duduk disamping Wooyoung sedangkan Dara berdiri menatap keluar jendela. Tampaknya dia sudah lebih tenang setelah Dokter mengatakan Eommanya sudah bebas dari kritis karena OD obat penenang. Walaupun Dara tadi sempat menyuruhku dan Wooyoung pulang, tapi aku dan Wooyoung tak tega meninggalkannya…aku terus bertanya-tanya dimana Ayah Dara.

Beberapa hari kemudian dipagi yang cerah, para siswa mulai berdatangan…aku duduk dikantin sambil memandangi anak-anak dari kelas 1 yang sedang bermain basket…sudah 3 hari sejak kejadian yang menimpa Dara, Dara belum masuk sekolah. Aku belum sempat menjenguk Eommanya karena banyak tugas yang harus segera kuselesaikan, berbeda dengan Wooyoung dia selalu menjenguk Eomma Dara sepulang sekolah.

”Hei Ji…” Sapa Seungri, teman sekelasku.

”Hei…!” Jawabku membalas sapaannya, dia pun duduk didepanku.

”Manager, tak masuk lagi hari ini?” Tanyanya juga selaku anggota klub basket.

”Ne!” Jawabku.

”Sayang sekali ya, padahal jika ada dia seluruh tim bersemangat.” Ucapnya lagi.

“Benarkah?” Tanyakku menatapnya.

“Ne…tapi aku heran jika ada dirimu, dia berubah sikap…apa kau memiliki masalah dengannya?”

”Aniya, kami tidak memiliki masalah.” Jawabku. Aku mulai mempertanyakan sebenarnya apa yang dipikirkan Dara tentangku, apa aku pernah menyakitinya?

Pulang dari klub aku sengaja mampir ke RS dimana Ajhumma dirawat dan aku melihat Dara menutup telefon sambil menangis.

”Dara-yah …apa kau menangis? Apa yang terjadi?” Tanyaku menghampirinya.

”Appa…orang ketiga…aku benci mereka!” Ucap Dara menangis didepanku, aku masih tak tau maksudnya tapi aku berusaha menenangkannya dipelukanku.

”Ada apa sebenarnya?” Tanyaku saat di Taman yang berada disamping RS.

”Appa…sudah 1 tahun ia menelantarkan kami, tapi Eomma tetap mengalah tak menuntut apa-apa. Jika Appa pulang hanya sekedar mampir, agar para tetangga tak curiga tentang keretakan keluargaku…Appa masih menghargai reputasinya karena itu Appa tidak ingin orang lain tau tentang orang ketiga.” Jawab Dara lirih.

”Jadi ini yang menyebabkan ia berubah, bukan karena aku berpacaran dengan Min Young…kupikir dia cemburu.” Ucapku dalam hati. ”Jadi tadi kau menelpon Appamu?” Tanyaku hanya menebak, tapi Dara mengangguk.

”Ne, tadi aku menelfon Appa mengabarkan tentang kondisi Eomma. Kukira Appa akan sadar tapi malah sebaliknya…Appa akan segera mengurus perceraian, dan Appa sama sekali tak peduli dengan Eomma…aku tak mengerti kenapa Appa dapat berubah sedrastis itu!” Jawab Dara.

”Tenanglah Dara-yah kau tak sendirian…ada Wooyoung dan aku yang selalu menemanimu, jadi jangan memikirkan apa-apa lagi. Aku akan menjagamu, araeso?” Ucapku meraih telapak tangan Dara.

”Ne..araeso, gamsahamida Ji!” Jawab Dara tersenyum, lalu setelah itu aku kembali menjenguk Eomma Dara dan saat pulang Dara mengantarku sampai Halte terdekat dan sebelum bus datang.

”Dara-yah…ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.” Ucapku.

”Wae?” Tanya Dara.

”Jika Ajhumma sudah membaik, bisakah kita pergi berkencan?” Ajakku hati-hati membuat dia tersentak kaget. Aku tau dari wajahnya kalau dia tak percaya. ”Aku serius, jadi jangan kau anggap bercanda.” Ucapku meyakinkan.

”Joayo!” Jawab Dara, akupun tersenyum senang dan buspun datang.

”Jiyongie, jhosimhae!” Ucap Dara, akupun mengangguk masuk ke dalam bus, entah mengapa dadaku berdetak lebih cepat dan kusadari ia memanggilku dengan panggilan yang lama tak pernah kudengar…apa itu artinya dia akan kembali seperti dulu…aku sangat berharap banyak akan hal itu. Semenjak itu, hubunganku dengan Dara mulai kembali seperti dulu, tak ada kecanggungan lagi diantara kami dan iapun tidak lagi menghindariku.

Hari yang kunantikan untuk berkencan dengan Dara tiba…aku menunggunya di taman kota, tempat kita janjian beberapa hari yang lalu. Dan 1 jam berlalu Dara tak kunjung datang. Akupun berkesimpulan dia berubah pikiran dan tak mau berkencan denganku, ada rasa kecewa yang mendalam dihatiku. Dan besoknya di sekolah saat kegiatan klub Darapun tak hadir.

”Jiyong, kaukan ketua klub…masa tak tau alasan Dara absen hari ini?” Tanya Yongbae salah satu anggota klub basket.

”Entahlah, mungkin dia masih harus menjaga Eommanya.” Jawabku sekenanya.

”Tapi diakan sudah hampir 2 minggu jarang masuk, di klub maupun di sekolah…memang tak ada yang bisa menjaga Eommanya lagi selain dia?” Tanyanya lagi, aku bingung menjawabnya.

”Aku rasa tidak.” Jawabku singkat beranjak dari dudukku dan berlalu pergi sambil memikirkan kenapa ia tidak datang saat kencan kemarin. Dan saat pulang sekolah aku melihat Dara yang keluar dari Apotik, akupun manghampirinya. ”Dara-yah!” Panggilku cepat, iapun menghentikan langkahnya.

”Jiyong-shi…ada apa?” Tanya Dara gugup.

”Kau yang ada apa? Tidak datang saat kencan, tidak masuk sekolah dan tidak ikut kegiatan klub…sebenarnya ada apa?” Tanyaku emosi.

”Mianhe…sebenarnya waktu itu aku ingin sekali datang, tapi kondisi Eomma memburuk karena Eomma mencoba bunuh diri dengan melukai pergelangan tangannya.” Dara mengatakannya dengan wajah tertunduk. ”Aku tidak mengerti mengapa Eomma ingin meninggalkanku…dan saat itu Dara tak ingin merepotkan kalian lagi, jadi sekali lagi..mianhamnida.” Ucap Dara lagi, aku sedih mendengarnya…dengan tanganku, akupun menarik Dara kedalam pelukanku, aku tahu dia sedang berusaha untuk menjadi tegar dan kuat…tapi aku tau ia telah berusaha keras menyembunyikan air matanya. Entah kenapa kali ini aku benar-benar bisa merasakan kepedihan yang ada dihatinya. Malamnya aku bertekad menemui Ayah Dara dan seperti yang Dara katakan, Ayahnya sama sekali tak peduli. Kali ini sepertinya yang bisa kulakukan hanya terus berada disisi Dara. Besoknya saat di sekolah, kulihat Dara sudah masuk seperti biasa.

”Hei Dara-yah, joheun achimieyo !” Sapaku membuatnya yang sedang mencari sesuatu terkejut.

” Joheun achimieyo, Ji.” Balasnya.

”Kau sedang mencari sesuatu?” Tanyaku.

”Ne..Anting-antingku terjatuh, padahal itu pemberian Eomma!” Jawab Dara, akupun membantu mencarinya dan tak berapa lama aku menemukannya. Kubantu ia memakaikan anting-anting itu dan saat aku sadar Min Young telah lama memperhatikanku, segera ku menjauh dari Dara. ”Ada apa Ji?” Tanya Dara dan sepertinya Dara telah sadar saat berbalik melihat Min Young yang ingin menangis. ”Min Young-ah…ini tak seperti yang kau-“ Ucap Dara berusaha menjelaskan.

”Sudahlah, aku tak perlu penjelasanmu!” Potong Min Young yang kemudian mendekatiku. ”Jiyong…awalnya aku tak percaya kau menggantikanku dengan dia, aku lebih baik dari dia. Kenapa kau begitu tega padaku hah? Kupikir kita masih bisa berbaikkan lagi tapi ternyata itu tidak mungkin, Jiyong…aku kecewa denganmu!” Ucapnya sambil menangis dan berlari meninggalkanku, lalu akupun melihat Dara yang sedari tadi diam.

”Dara-yah.” Gumanku lirih.

”Ji…kenapa tak mengejarnya? Inikan hanya salah paham.” Ucap Dara kemudian.

”Tak perlu dijelaskan, kamikan sudah putus.” Jawabku, Darapun berbalik hendak meninggalkanku…tapi sebelum itu-

”Ji…ini sebabnya selama ini aku menghindarimu, aku tak ingin membuat orang lain menangis dan menganggapku sebagai orang ketiga. Karena Eommaku juga terluka dengan yang namanya orang ketiga…mianhe.” Ucapnya berlalu pergi, aku kaget mendengar alasannya. Tak pernah kupikirkan ia akan mengambil kesimpulan bahwa jika dekat denganku, itu berarti ia akan menjadi orang ketiga didalam hubunganku dengan Min Young…sungguh aku bingung dengan perasaanku saat ini.

Saat aku pulang kerumah, Wooyoung sudah menyiapkan makan malam seperti biasa.

”Hyung…tadi Noona menelfon, ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu Hyung, sepertinya itu penting!” Ucap Wooyoung.

”Ne, nanti aku akan menghubunginya.” Jawabku masuk kekamar. Dan saat makan malam, telfon berdering..akupun mengangkatnya. ”Obseyo…!”

”Jiyong-shi, keadaan Eomma memburuk…bagaimana ini?” Terdengar isak tangis Dara ditelfon, akupun berusaha menenangkannya. Dan aku serta Wooyoung langsung pergi menuju RS, kulihat Dara menangis terisak-isak didepan ruang UGD.

”Dara-yah!” Panggilku, diapun berlari kearahku dan menangis dipelukanku.

”Ji..Eomma-”

”Tenanglah, Ajhumma pasti akan baik-baik saja.” Ucapku menenangkannya, lalu kulihat Wooyoung menatapku tajam. Aku yakin dia cemburu tapi saat itu hanya Daralah yang kupikirkan perasaannya dan 1 jam berlalu, dokterpun keluar dari ruang UGD…kami segera menanyakan hasilnya dan ternyata Eomma Dara telah tiada, penyelamatanpun gagal saat itu Dara benar-benar rapuh.

Dan saat di pemakaman, hanya aku yang bertahan menemani Dara…Wooyoung telah pulang terlebih dulu karena ada sesuatu hal yang perlu diurusnya. ”Eomma…keinginan Eomma untuk meninggalkanku telah terwujud dan Eomma telah melepaskan tanggung jawab Eomma kepadaku, seharusnya kita menghadapi semua ini bersama tapi kenapa Eomma tega meninggalkanku…Eomma ottokhe!” Ucap Dara rapuh, kudengar ucapan Dara yang sangat menyedihkan. Iapun berlari meninggalkan pemakaman, akupun mengejarnya dan musibahpun kembali datang…ada sebuah mobil yang melaju kearah Dara saat ia menyeberang jalan, aku sudah berusaha berlari sekuat tenaga tapi terlambat. Kulihat tubuhnya terhempas beberapa meter dari tempatnya menyeberang dan saat kudekati tubuhnya bersimbah darah, kurengkuh tubuhnya kepelukanku…dia masih membuka matanya.

”Jiyongie, wae? Kenapa hidupku seperti ini…aku sudah tidak sanggup.” Ucap Dara lirih, kularang dia bicara karena itu bisa membuat lukanya lebih parah.

”Kau tak salah apa-apa, percayalah ini semua pasti akan berakhir.” Ucapku dan ambulanspun datang, kulihat ia menutup matanya tapi aku tenang karena ia hanya pingsan. Lalu saat dirumah sakit akupun segera menelfon Wooyoung, dan saat Wooyoung datang akupun memintanya untuk menemani Dara karena aku harus mengambil uang di Bank untuk perawatan Dara. Tapi saat di lift aku bertemu dengan Min Young, kulihat raut wajahnya yang pucat. ”Mungkin dia sakit.” Pikirku.

Aku menyapanya tapi entah mengapa ia menangis dan memelukku, lalu saat aku mengajaknya ke taman iapun menceritakan keadaannya. Bahwa dari hasil test kesehatan hari itu kelainan jantung yang dideritanya semakin parah dan di divonis jika dia tak mendapatkan donor jantung secepatnya, hidupnya tak akan lama…aku sangat terkejut mendengarnya, aku baru tau dia ternyata memiliki penyakit separah itu. Hari ini 2 orang yang kusayang sama-sama dalam keadaan kritis dan aku menderita karena hal itu.

Seminggu berlalu Dara masih dalam keadaan koma sedangkan Min Young mulai dirawat di RS yang sama dengan Dara, akupun bergantian menjenguk mereka. Sedangkan Wooyoung selalu setia menemani Dara tapi Wooyoung tetap sekolah seperti biasa dan aku bekerja paruh waktu. Hari demi hari terus berlalu, Min Young belum juga mendapatkan donor jantung sedangkan Dara keadaannya mulai membaik  dan ia telah siuman.

”Dara, akhirnya kau sadar juga..kami sangat cemas melihatmu seperti ini!” Ucap Wooyoung mendahuluiku, kulihat Dara tersenyum seolah ia benar-benar telah sehat kembali. Lalu saat pulang sekolah aku terlebih dahulu menjenguk Dara sebelum aku menjenguk Min Young.

” Jal jinae syeosseoyo, Dara-yah?” Tanyaku saat melihatnya mulai merangkai bunga yang kubawa tadi kedalam vas mungil.

” Jal jinaeyo Ji, sebaik bunga ini tapi jika bunga ini layu…maka selayu itulah keadaanku.” Jawabnya dan aku tak mengerti.

”Wooyoung belum datang?” Tanyaku lagi

”Belum!” Jawabnya singkat membuatku tidak puas mendengar suaranya, akupun mendekatinya dan duduk disamping tempat dimana ia terbaring.

”Dara…benar kau baik-baik saja?” Tanyaku was-was, iapun memandangku dan tersenyum.

”Jangan khawatir Ji…aku baik-baik saja. Ji, bagaimana kegiatan klubmu?” Tanyanya.

”Aku sudah lama tak mengikutinya!” Jawabku, terlihat kekecewaan dimatanya.

”Wae?Padahal Kaukan suka sekali dengan basket, apa karena selalu menjengukku kau jadi meninggalkan latihan?” Tanyanya lirih, aku hanya diam. ”Kalau begitu lebih baik tak usah menjengukku lagi…karena aku ingin melihatmu memenangkan turnamen basket tahun ini dan dapat menjadi yang terbaik, bukankah itu impianmu?Jangan pernah meninggalkan basket hanya demi perasaan seseorang Ji, karena orang itu takkan mati hanya karena kau tak selalu bersamanya..araeso?” Ucap Dara memulihkan semangatku kembali, aku sadar ia begitu berbeda dengan Min Young yang tak suka melihatku terlalu mementingkan basket. Seandainya aku menyadari lebih awal perasaanku terhadap Dara, pasti lebih baik. Tapi sekarang Min Younglah yang membutuhkanku.

Turnamen basketpun telah dimulai dan akhirnya dengan perjuangan yang sangat keras teamku pun masuk kebabak final, sebelum pertandingan yang menentukan itu terlebih dahulu kukunjungi Dara karena sudah lama aku tak menjenguknya.

”Ji…menangkan pertandingan hari ini ya, aku pasti akan sangat senang dan jika kau menang aku akan memberikan sesuatu yang harus kau lindungi nantinya.” Ucap Dara penuh teka-teki, walaupun tak tau artinya akupun menggangguk. Kulihat ia mengembangkan senyum termanisnya.

”Dara-yah…jika aku terpilih menjadi pemain basket terbaik, maka kaulah orang pertama yang akan kuberi tau. Dan juga aku akan mengungkapkan sesuatu padamu jadi tunggu aku, araeso?”  Ucapku kemudian, diapun mengangguk. ”Janji?”

”Ne.” Jawabnya lirih. Kulihat wajahnya yang terlihat pucat tapi sikapnya yang selalu bersemangat membuatku yakin kalau ia baik-baik saja. ”Mungkin itu pengaruh obat.” Pikirku.

Dan setelah itu aku menemui Min Young dan diapun juga tersenyum cerah hari ini  karena ia sudah mendapatkan donor jantung yang sesuai dengan jantungnya.

”Kau taukan hari ini aku sangat senang, jadi menangkan pertandingan ini untukku ya?” Pinta Min Young saat itu, akupun mengangguk.

Dan akhirnya aku bersama teamku pun benar-benar menang dalam pertandingan itu, akupun mendapat predikat pemain terbaik tahun ini dan aku bertekad menemui Dara karena ia yang mendukungku dari awal. Lalu saat di RS akupun langsung menuju kamar Dara tapi ia tak ada disana, aku hanya menemukan secarik kertas berwarna kuning yang berisi.

 

Jiyongie…

aku yakin kau pasti menang dalam pertandingan basket nanti. Oleh karena itu aku akan memberikan hadiah yang pastinya kau akan senang menerimanya dan harus kau jaga serta lindungi yaitu Min Young…karena salah satu dari bagian terpenting dalam diri ku akan berpindah kepadanya yaitu jantung ini, jantung yang selalu berdetak lebih cepat jika berada disampingmu.^^

 

Aku terkejut membacanya, aku bingung apa sebenarnya yang terjadi…akupun kembali membaca yang tertulis disecarik kertas yang kupegang.

 

Mianhe Ji, mianhe selama ini aku membohongimu dengan mengatakan keadaanku baik-baik saja…padahal Dokter telah mengatakan sesuatu yang penting dengan keadaanku. Sebenarnya akibat kecelakaan itu aku mengalami pendarahan di otak dan karena itu hidupku takkan lama.Saat tau itu jujur aku sangat terpukul, tapi melihat kau dan Wooyoung yang selalu mendukungku Aku jadi bisa tegar, dan satu lagi alasan kenapa aku memberikan jantungku pada Min Young karena dia adalah saudara kandungku. Ji, sebelum Eomma pergi ia telah menceritakan sesuatu tentang Min Young…dulu saat Min Young lahir, Eomma tak sanggup merawatnya karena Min Young mengalami kelainan jantung. Eomma memutuskan membuangnya karena pada saat itu keuangan keluarga sangat buruk. Lalu karena selalu dihantui perasaan bersalah Eomma menceritakannya pada Appa, karena itu Appa meninggalkan Eomma. Karena yang Appa tau sebelumnya bahwa putri pertamanya telah meninggal saat Appa masih bertugas diluar kota. Dengan itu aku meminta bantuan pada Wooyoung untuk mencarinya ternyata Min Younglah orangnya. Jujur aku ingin memanggilnya Eonnie untuk yang pertama dan terakhir tapi aku tau itu tak kan bisa ku lakukan.Surat ini juga menjadi permintaanku  yang terakhir Ji, jangan pernah menyakiti Min Young dan aku minta jangan pernah beri tau yang sebenarnya tentang hal ini padanya, Karena itu yang terbaik.

Jiyongie…dari dulu aku menyukaimu, walaupun mungkin ini terlambat tapi aku ingin kau tau kalau aku selalu mengharapkanmu tuk menjadi pendampingku tapi itu hanya mimpi yang aku tau tak akan pernah terwujud dan  terima kasih atas perhatian yang kau berikan selama ini. Salam buat Wooyoung ya…katakan aku juga sayang dia. Jangan lupakan aku Ji, saranghaeyo …..

Salam Terakhirku

Dara

  Kulihat bunga yang waktu itu dirangkai Dara telah layu…aku menangis saat itu. Ternyata senyuman yang kulihat beberapa jam yang lalu adalah senyuman yang terakhir. Dan saat aku sadar ternyata semua memang telah terlambat. ”Dara-yah…aku juga ingin kau yang menjadi pendamping hidupku bukankah kau berjanji untuk menunggu.”

Dengan langkah gontai ku berjalan menuju ruang operasi, Wooyoung sudah disana…bersama Orang Tua angkat Min Young. Akupun duduk disamping Wooyoung, kuberikan surat terakhir Dara padanya, ”Kenapa tak beri tau aku tentang keadaan yang sebenarnya” Tanyaku pelan.

”Dia yang minta dan dia telah menghembuskan nafas terakhir setelah kepergianmu Hyung…didalam sana dia juga masih berusaha menyelamatkan Noona, setidaknya itulah yang ia inginkan untuk bisa pergi dengan tenang!” Jawab Wooyoung juga tak sanggup menahan air matanya.

Dan setelah kami lama menunggu Dokterpun keluar…”Operasi sukses, pasien Min Young dalam keadaan stabil!” Ucap Dokter membuat Orang Tua angkat Min Young menangis senang, aku juga senang mendengarnya tapi itu semua juga membuatku terpukul…kenapa Dara selalu memikirkan kebahagiaan orang lain sementara ia sendiri sangat membutuhkannya dan parahnya lagi disaat-saat terakhir aku jarang menemuinya…sungguhkah ini yang terbaik dan saat itu kulihat tubuh yang sudah tak bernyawa dikeluarkan dari ruang operasi.

”Dara-yah!” Gumanku mendekati tubuh yang telah terbujur kaku itu tapi kulihat diwajahnya tersirat kepuasan yang abadi, ”Mengapa kau tak menungguku, kenapa kau tak menepati janjimu…aku sudah bilangkan, jika aku menang kau orang pertama yang akan kuberi tau dan aku…juga akan mengatakan sesuatu tentang perasanku. Kau harus tau, aku ternyata selama ini selalu mencintaimu…perasaan ini telah lama aku simpan karena aku tak berani mengakuinya. Tapi mengapa kau tak menungguku?” Aku memeluk tubuh itu dengan air mata yang tak tertahankan. ”Dara…mianhe, mianhe karena tak menyadarinya dari awal, mianhe karena tak menjagamu dengan baik, mianhe karena aku mencintaimu Dara, saranghae.” Ucapku lirih karena aku telah terlambat menyadari semuanya.

3 bulan telah berlalu…Wooyoung mendapatkan beasiswa untuk bersekolah diluar negeri, dan akupun bersama Min Young sudah memilih Universitas yang cocok dimana disana ada klub sastra dan basketnya. Sore ini aku mengajaknya mengunjungi makam Dara dan Ajhumma.

”Ji…kau tau, aku sangat menyesal telah salah paham dengan hubunganmu selama ini dengan Dara. Apa dia mau memaafkanku?” Tanya Min Young kemudian.

”Pasti dia memaafkanmu, karena dia adalah gadis yang baik.” Jawabku sambil memandang kelangit, kulihat bayangan Dara yang tersenyum. Akupun hanya bisa menghela nafas panjang. ”Dara…sampai kapan aku harus merahasiakan semua ini, dia selalu menanyakan siapa pendonor yang telah memberikannya kehidupan karena dia merasa dengan jantung yang membuatnya kembali seperti sekarang maka itu berarti dia telah merebut satu nyawa yang juga sangat berarti.” Ucapku dalam hati dan Min Youngpun menggenggam tanganku lembut.

”Mari kita pulang Ji!” Ajaknya, akupun mengangguk…meninggalkan pemakaman dan dapat kurasakan semilir angin menyertai kepergian kami.

“Saranghae…Ji.” Aku berbalik menatap kembali makam Dara, aku mendengarnya…mendengar suaranya.

“Wae?” Tanya Min Young menatapku.

“Aniya…kajja!” Jawabku berlalu pergi, “Na do sarangheo Dara-yah…” Ku ucapkan itu dihatiku dengan tulus berharap ia akan mendengarnya.

 

*The end*