--2 (1)Title       : SCENE #6 WE – she, you, and I

Author      : diff

Main Cast   : Park Sandara (sebagai aku), Kwon Jiyong (sebagai kamu)

Cameo       : Kim Wol (OC)

Length      : Chapter(s)

Rate        : General, Romance

Disclaimer  : Terima kasih untuk teh Rina yang sudah ‘memaksa’ saya membuat cerita ini

 

Kembali mengatakan, meskipun seharusnya saya melihat dari sudut pandang orang lain, tapi lagi-lagi saya justru curhat sendiri… >.<

Semoga pada semakin nyaman baca cerita ini.. nggak berharap muluk2 kok,, cuman pengen ngebagi cerita saja.. karena menurut saya “Berkhayal itu nggak salah dan berbagi khayalan itu juga nggak masalah,”

Terima kasih mimin yang baik #peluk cium mimin xoxo

Enjoy dengan cerita ini yaaa… ^o^/

Aku menyaru menjadi sesosok transparan, tidak perlu memiliki kekuatan Susan Storm, tidak juga butuh jubah gaib Harry Potter. Aku bisa menjadi transparan jika ada kamu dalam radius jarak pandangku. Sebisa mungkin aku menghindarimu. Setelah kejadian tempo hari, saat pacar cantikmu mendatangiku. Menangis di hadapanku.

“Dara, apakah kamu menyukai Jiyong?” tanyanya dengan mata merah. Pasti dia habis menangisimu. Oh, betapa kamu ini.. berani-beraninya membuat kekasih cantikmu ini menangis.

Aku tidak bisa menjawab. Aku menghindarkan diriku dari kebiasaan berbohong. Hanya tidak mengatakan semuanya. Bukan berarti aku berbohong, kan?

“Kalau memang kamu menyukainya, aku akan mundur, Dara.” Dia rupanya bukan seorang penyabar. “Aku tidak kuat lagi, ini benar-benar menyiksaku.” Aliran air mata terpeta di wajahnya. “Akan kulepas Dara, akan kulepas.” Katanya pasrah.

Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Mengangkat kepalaku pun aku tidak sanggup. Rasanya ada beban berton-ton yang menimpa kepalaku.

“Tadinya kupikir, aku datang kemari aku akan mengamuk di hadapanmu.” Dia mulai bercerita. “Tapi, saat melihatmu, aku jadi berpikir, apa salahmu. Apa salah Jiyong. Apakah hati kalian bisa disalahkan? Ini bukan persoalan benar-salah, bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Kamu menyukai Jiyong, itu hal yang benar. Jiyong menyukaimu juga hal yang benar. Aku menyukai Jiyong juga bukan suatu kesalahan.”

Kali ini, mataku membulat. Apa maksud perkataannya.

“Apa maksudmu?” itulah satu-satunya kata yang kuucapkan.

Dia tersenyum, sangat cantik meski wajah tersenyumnya dihiasi linangan air mata. “Jangan lupa, aku masih temanmu.” Katanya, “Meskipun, mungkin untuk beberapa waktu aku tidak ingin bertemu denganmu.”

Dan dia membiarkanku jatuh dalam lubang rasa bersalah.

=.=.=

“Apa sebenarnya maumu?” tanyaku pada akhirnya saat kamu berhasil menemukanku.

Kamu dengan sengaja menungguku di depan pintu apartemenku. Meski selama ini aku berhasil menghindar, tapi rupanya kamu lebih pintar. Kamu mendahuluiku yang biasanya pergi satu jam lebih awal.

“Kita perlu bicara.”

Disinilah kita, duduk di di ruang tamu apartemenku. Aku diam. Menunggumu berbicara. Tapi kamu masih diam.

“Apa yang kamu lakukan pada Wol?” tembakku langsung, mulai tidak nyaman dengan keadaan diam yang terjadi ini.

“Aku tidak melakukan apapun. Dia yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.” Jawabanmu defensif.

“Apa yang sudah kamu katakan padanya?” tuntutku.

“Aku juga tidak mengatakan apapun padanya.” Jawabanmu masih membela diri.

“Tapi sikapmu telah mengatakan semua yang ingin dia ketahui. Kamu telah menyakiti perasaannya.”

Aku menghela nafas. Suasana seperti inilah yang selama ini ingin kuhindari.

“Dia sendiri yang memilih untuk mengakhiri hubungan kami.” Kamu mengulangi perkataanmu.

“Tapi kamu penyebabnya. Karena hatimu berubah. Kamu membuatnya merasa tidak lagi penting untukmu.”

Aku tak bisa menahan air mataku. Aku menangis di hadapanmu. Sesuatu yang juga ingin kuhindari, sebenarnya.

“Ini nggak adil, untuk Wol, untukku, untukmu. Ini sulit.”

=.=.=

Setelah pembicaraan itu, kamu tidak lagi berusaha menemuiku. Bukan hanya aku yang menghindar. Tapi kamu juga menghindariku.

Lagi-lagi kamu mengimbangi sikapku.

Sayangnya, hatiku menghianatiku. Aku merindukanmu. Merindukan dirimu yang dulu. Sebelum semua kekacauan ini terjadi.

=.=.=

To be continue

 

Haduh,, bagaimana ini saya jadi galau (lagi) ngedit bagian ini… ToT