flower boy

Poster by : kimskimi ^^ / @tikkixoxo_96

Author : chanyb

Title : Request — Flower Boys [2.2/?]

Casts : Choi Seunghyun [BIGBANG] — Nam Jong Hoon [OC] — Jung Yong Hwa [CN BLUE] — Kim Jaejoong [JYJ] — Park Jaebum

Other Casts : Cari sendiri cinta~ :3

Genre/Rating/Length : Romance, comedy, friendship/PG 15/Chaptered

Disclaimer : Jalan cerita, alur dan blablabla milik saya pribadi sementara tokoh dan lain sebagainya milik Tuhan YME dan mereka masing-masing.

Tidak suka? Ya, jangan dibaca ^^

Previously : 1 | 2.1 |

=====FLOWER BOYS=====

“Tak perlu memikirkannya. Tidak penting….” Bagaimana ceritanya momen krusial bagi kesehatan hatiku bisa tidak penting, hah? Biar bagaimanapun dia telah menembakku menggunakan panah cinta lalu tanpa permisi main tangkis begitu saja. Tidak mengizinkanku mengirim serangan balik. Dasar aneh!

Sudah 15 menit berselang dia masih enggan bersuara. Yong Hwa berjalan pelan dengan pandangan lurus ke depan. Mengabaikan seorang Nam Jong Hoon, sahabatnya sejak era oak-oek. Aku bahkan telah berdeham semenit sekali, terbatuk-batuk kasar lebih banyak lagi demi mencairkan suasana. Atau… perlukah aku berkelojot sambil tebar buih di tengah jalan dahulu supaya dia memperhatikanku?

Minimal pamer senyum, kek. Ah, sudahlah! Beliau sedang galau. Lagipula, itu bukan masalah besar. Masalah terbesar sebenarnya adalah dia bakalan merantau ke Jepang selama 4 bulan. Bulan-bulan di mana hidupku semakin luluh-lantak akibat terjangan badai kemesuman paman genit.

Bagaimana kalau terjadi peristiwa yang diinginkan? Maksudku, peristiwa begini-begitu; uh-ah-oh-yes. Bagaimana kalau tahu-tahu kediamanku jadi rumah produksi anak? Tidaaaaak…. Astaga, apa yang kupikirkan? Fokus Jong Hoon! Fokus!

Seusai menata sisi kewarasan, sesekali ekor mataku melirik Yong Hwa kemudian menghela napas. Lega mendapati dia tetap tampan walaupun dalam kondisi kusut-masai. Namun, awan mendung yang menaungi paras rupawannya itu tetap membuat kicauan melanturku terbawa ke kerongkongan oleh saliva. Hebatnya, berkat dia pulalah hawa di sekitar kami kian menggigit. Sehingga satu-satunya hal yang bisa kusimpulkan ialah… bahwa perubahan cuaca secara ekstrem belakangan ini juga disebabkan oleh kerisauan kaum anak muda galau. Pasti!

“Aku baik-baik saja, Hoonie-ya, jangan menatapku seperti itu!” Tanpa mengalihkan perhatian dia berujar tenang. Tapi bisa saja, “eeerr… Yong Hwa-ya, kau tidak berniat gantung diri, kan?”

Mampus, dia langsung menoleh! Melempar tatapan sukar ditelaah. Maka, di detik itulah aku merasakan bulir-bulir keringat nenyeruak dari pori-pori seiring berhentinya detak jantung untuk sepermili detik. Namun, di detik berikutnya dia tersenyum simpul. Senyum semanis biasanya itu serta-merta memulihkan kesadaranku yang sempat melayang-layang di udara. Dengan sedikit menebalkan muka, pun membanting harga diri mencapai titik berplang diskon 80%, aku mulai tertawa hambar seraya menepuk-nepuk bahunya.

“Jangan khawatir. Aku cuma capek kok.” Iya. Capek batin. Batinku menyetujui selagi dia mengumbar senyum lebar disertai kerlingan mata.

Oh, My…. “Yong….”

“Sampai jumpa!” Sela Yong Hwa cepat. Mengurungkan niatku untuk berucap kendati mulut ini sudah mangap dengan indahnya. Hei, kenapa hobi anak muda jaman kini suka memotong ucapan orang sih? Dia pasti bakal menyesal jika tahu aku ingin bilang: Yong Hwa i love you full, saranghae, wo ai ni, daisuki. Harus!

Aku hendak memakinya, tetapi ketika pagar rumahnya tertutup sempurna…, cuma kata gundah-gulana yang tersedia dalam brankas otakku.

Sumpah, tiba-tiba aku lemas tak berdaya. Nyawa-nyawaku seolah tercecer–tersangkut di mana pun; salah satunya barangkali masih bercokol di pagar rumah sahabatku, minta diajak–setiap kali melangkah. Langkahku makin berat kala menjejak jalan setapak berhias bunga warnai di sekeliling, halaman rumah. Tidak kah ini terlampau kontras dengan suasana suram hatiku?

“Dari mana saja kau?” Mendengar geraman berat barusan, aku lantas memutar badan ke arah gazebo remang-remang di sebelah kanan. Tempat paman genit itu berselonjor sambil memijit benda petak pipih serupa talenan. Cih, sok sibuk. Paling main Angry Bird, doang!

“Kenapa kau kemari? Apa kau mau pamer rambut baru?… Atau kau mau koar-koar setelah puas cupika-cupiki bersama banyak aktris cantik nan seksi, eh? Dasar pria murahan!” Butuh waktu setengah menit untuk menerima respon berupa tekanan batin. Dia sekadar tercenung sejenak sebelum kembali mengotak-atik tablet PC-nya.

Jahanam! Ingin cari ribut rupanya, oke! Dengan senang hati riang-gembira penuh suka-cita akan kuladeni. Memangnya dia tidak mersakan hawa kanibalisme telah berkobar-kobar sedari tadi, apa? “Paman Choi, kau tuli, ya?”

Pria seperempat abad itu malah mengangguk-angguk dan komat-kamit tak keruan. “Yak, kau pria tua mesum, belum pernah dicakar-cakar monyet sekaligus diinjak-injak gajah, hah?”

“…asfghjkjl*?!#*=%@… boomshakalaka.” Keterlaluan! Sia-sia aku mencak-mencak bila dia memakai headset! Betapa banyak energi yang terbuang percuma demi kalimat boomshakalaka-nya.

Gila! Sial! Sial! “Dasar tidak berperi keunyuan remaja! Tidak berperi kegalauan dan kau tidak berbakat jadi ibu peri tampan seperti Yong Hwa!”

“Tapi aku berkharisma.”

Apa? Dia dengar? Jangan bercanda! Tanpa tedeng aling-aling aku berlalu memasuki rumah. Demi apa pun makin hari Choi Seunghyun sang pria nyentrik dan mesum itu makin menyebalkan! Giliran aku diam, dia bilang aku tidak sopan blablabla segala macam. Tiba waktu dia diam, dia lempeng begitu bentuknya.

Bersama paman itu memang tidak pernah berakhir bahagia selalu tragis. Ujung-ujungnya mati kutu juga bermesum ria dalam fantasi sesat. Yang terakhir agak bahagia sih. Sembari mengomel, aku mengambil sekaleng Cola di lemari pendingin. Menenggaknya hingga tandas.

Sewaktu pintu terbuka dan tertutup cepat, aku nyaris menghabiskan kaleng ketiga dengan wajah semrawut bak origami lecek menghadap meja pantri. Derap sembarang pun pelan-pelan mulai mendekat.

“Jong Hoon sayang, dari mana saja, hmm?” Dan dia duduk di seberangku seraya bertopang dagu, “kau mendengarku, kan?” Sori aku sedang tuli. Dia mendengus, melepas headset-nya.

Sekonyong-konyong aroma peppermint menerpa wajahku bersamaan dengusannya yang kedua kali. Merusak sistem kerja otak seketika. Dipadu wangi lavender bercampur white musk di sekujur tubuhnya memperparah guncangan jiwa-ragaku.

Oh, Tuhan. Selamatkan hamba-Mu dari cobaan ini! Cegah tangan-tangan polosku supaya tidak menerkam makhluk penggoda itu! Aamiin.

“Jong Hoon….” Bodoh amat. “Jong Hoon-ah?”

“….”

“Sayaaaang.” Aku hampir hilang kendali menangkap suara bass yang mendayu, kian mengusik telinga. “Jong Hoon sa…yang, bila kau bersikeras mendiamiku begini, aku bersumpah…, kali ini tidak akan segan-segan mengunci mulutmu dengan bibirku sampai kau megap-megap, mau?”

Maauuu… eh, “apa?” Secepat kilat aku menarik diri dari jangkauan bibirnya. Amit-amit, deh, first kissku jatuh ke bibir om-om genit ini!

Dia menyeringai licik, mengetuk-ngetuk jari-jemari ke meja. “Paman Choi, bisa tidak, jangan memampang airmuka pria hidung belang di depan remaja labil, eh? Ini lewat tengah malam. Celotahan guk-guk kaing-kaing tanda para setan tengah arisan pun sudah berkumandang! Bagaimana bila….”

“… Kau memerkosaku?” Memerkosa dia? Ada juga aku kali yang khawatir hilang keperawanan gegara dia.

“Aku bisa melihat di keningmu Jong Hoon,” sekehendak hati dia menjentik dahiku kuat-kuat. “Di sana tertulis: kau nafsu padaku!”

“Apa sih, paman? Otakmu sedang konslet,ya? Cuci otakmu pakai air aki dulu sana!”

Dia menguap lebar, dan… ck, kenapa lagi dia kedap-kedip sambil mengusap-usap bibir. Cacingan kah?

“Sudah larut malam. Bobo, yuk!” angin dingin sontak bertiup ke tengkukku. Mulutku bahkan menganga lebar saking terkejutnya menerima ajakan tidur paman tergenit sepanjang masa. “Aku di kamarmu, kau… di kamar orangtuamu,” sambung dia datar saat mendorong daguku. “Anak SMA sepertimu dilarang berpikiran aneh-aneh. Belajar lah dulu yang benar sebelum jadi Nyonya Choi, arrachi?”

Seakan tanpa ampun aroma peppermint semakin menyengat berbarengan helaan napas dia yang begitu dekat. “Selamat malam.” Dalam tempo 5 milidetik benda lembut nan dingin menempel di pipi kanan. Eomma-Appa, anak kalian dicium om-om! Benakku menjerit histeris sedang sekujur tubuhku menggigil, dan cukup 1 sentuhan lagi aku bakal melumer di tempat.

“Semoga mimpi indah,” dia lantas nyengir abstrak serta bersiul riang setelahnya. Melenggang pergi dengan membawa separo nyawaku. “Mimpikan aku, oke?”

“Tidak sudi.”

Terima kasih banyak untuk Choi Seunghyun karena berkat dialah, semalaman mataku enggan terpejam. Menatap hampa awang-awang selagi kedua sudut bibirku berkhianat, mereka terus mengembang. Aduh, bisa robek mulut ini ditarik-tarik begini! Mimpikan aku, oke? mending tidak perlu diberi mimpi kalau ketemu dia, serius!

Kala jam weker meraung-raung jelek, mataku tiba-tiba terasa berat dan aku nyaris termakan rayuan setan sewaktu gedoran tanpa irama pada daun pintu mengganggu. “Jong Hoon-ah, mau berangkat bareng, tidak?” Dengan segenap kekuatan aku melempar jam weker yang masih berdering nyaring ke sumber suara, “tidak. Pergi saja sendiri, hush… hush…!” Sekadar derap yang perlahan menjauh, menyahuti seruan sengauku. Bagus.

Selang semenit, aku dibikin mengerang frustasi akibat getaran ponsel di bawah bantal. Malas aku membukanya. Paling isinya cuma: laut, laut dan laut, memangnya dia kira aku punya banyak stok kesabaran? Untuk apa bertanya ke laut tiap hari kalau pada kenyatannya dia adalah tipikal PHP yang suka buat orang makan hati?

Akan tetapi, selewat 3 jam dengan setengah jiwa raga masih tersesat di alam mimpi, aku lagi lagi menjerit histeris selepas membaca pesan yang sialnya dari Yong Hwa.

From: Peri Hwa ^^

Kata Seunghyun hyung, kau malas menemuiku, ya? Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Hoonie-ya🙂

“Tidak ini fitnah. Ini fitnaaaaaah, PAMAN CHOI….” Kalang-kabut aku memijit tombol panggilan cepat.

“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk atau di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi!” Dengung tut-tut menyusul kemudian–segera menyulut api amarah–Menyebabkan langkah kaki sarat emosi, menuntunku keluar kamar. Guna melabrak pria tua tukang fitnah comel itu. Enteng sekali dia bilang aku malas bertemu Yong Hwa.

Memang bukan salah dia sepenuhnya. Aku juga bersalah, tapi, kan, dia tahu kapasitas otakku minim alias agak bego. Agak loh, ya! Jadi, semestinya dia bicara jangan dipotong-potong begitu. Harus lengkap dengan tujuan dari kalimat berangkat bareng dia itu kemana. Ke neraka atau ke bandara?

Dan sosok berkeringat yang kutemui di dapur bukan Choi Seunghyun, melainkan sosok jangkung Jejung oppa dengan lap beserta apronnya. Apakah dia… sekretaris serbaguna semacam almighty?

Wangi masakannya membuat persediaan liurku menggenang di sudut bibir. Sehingga secara otomatis, peribahasa terbijak–berkenyang-kenyang dahulu, bermarah-marah kemudian–bergaung di telinga. “Pagi, Jejung oppa?”

“….” Pelit amat sama suara. “Eeerr, perlu bantuan?” semoga tidak.

“….” Lambat-lambat aku mendekat.

“Tidak usah!” Dia menatap sengit dengan ujung mata pisau teracung, “aku tidak suka diganggu saat memasak. Sebaiknya, kau mandi dulu lalu tunggu di meja makan, mengerti?”

“Me… mengerti!”

=====FLOWER BOYS=====

selama aku makan, denting sendok-garpu ke piring merupakan satu-satunya sumber suara di meja makan. Meskipun nasi goreng kimchi spesial ini kelihatan enak luar biasa, aku tetap skeptis memakannya. Siapa tahu diberi racun serangga, soalnya dia tidak ikut makan. Dia berdiri tegap sambil mengawasiku dari belakang. Paman Choi dapat di mana sih, sekretaris horor begini?

“Kenapa cuma diaduk-aduk? Tidak enak?”

“Hah, eh… ini teramat sangat enak, kok!”

“Kalau tidak enak, aku akan memasakkanmu yang lain. Kau suka steik, kan?” Tiba-tiba dia bergerak maju, hendak mengambil piringku. Dengan terburu-buru aku menjaukan piring dari jangkauan tangannya. Enak saja main buang-buang makanan terus ganti yang baru.

“Ini enak sungguhan! Kata eomma kita dilarang buang makanan. Kalau di agama temanku disebut mubazir. Ini serius, loh, mubazir itu temannya setan! Dan aku belum berniat menambah teman berjenis setan seperti paman genit, mengerti?”

Sebelah alis dia kontan naik, mengimbangi kerutan di dahinya. “Jangan dipikirkan! Itu tidak penting. Mending temani aku makan, memangnya tidak lapar, ya?”

“Tidak. Di dalam tugasku tidak ada perintah menemanimu makan. Cukup memastikan kau tidak bertindak irasional akibat kepergian Yong Hwa, salah satu contohnya; kau mungkin akan bunuh diri.” Aku tersedak kimchi saat dia selesai berbicara. Sejak kapan ada orang makan mesti menunggu perintah? Lantas, apa pula itu aku bunuh diri gara-gara hal sepele. Cih, sok tahu!

“Aku tidak segila itu oppa!… Omong-omong, oppa tidak kerja?”

“Kau sendiri, bolos.” Astaganaga, dia ini agaknya tipe orang yang lebih baik diam daripada bicara sekali tapi menohok.

“Jangan dekati benda-benda tajam maupun ketinggian! Aku pergi.” What the…, “aish, oppa!”

Tanpa menggubris protesku, dia beringsut setelah memeriksa ponselnya sekilas. Alamat mati muda akibat keseringan naik darah. Tuhan, berikan kesabaran berlimpah kepada hamba-Mu ini.

=====FLOWER BOYS=====

Sudah lewat seminggu semenjak Yong Hwa atau pun Seunghyun pergi. Si pria tua itu katanya sedang berinvestasi di sebuah perusahaan Batu Bara di Indonesia. Parahnya, dia justru memberi sebuket mawar bukan uang apalagi kartu kredit. Dia pikir aku kambing apa, diumpani kembang tiap hari? Dia bahkan bilang, “jaga baik-baik, jangan sampai layu!” Dia juga bilang, “aku bakal memastikan kau makan makanan bergizi buatan Tuan Lee.” Koki keluarganya.

Singkat kata dia mendadak pelit gegara perkara foya-foya sebelumnya. Mataku jelalatan ke kanan-kiri selama berjalan menuju sekolah. Berharap ada seseorang yang khilaf menawarkan tumpangan. Badanku, kan, kecil. Tidak bakalan terlalu makan tempat.

Satu persatu kendaraan pun lewat, tapi tak seorang pun berhenti. Mungkin kah karena hanya mandi kepala saja, hari ini aku cenderung kelihatan bagai gembel ketimbang pelajar? Bunyi klakson mendadak membuyarkan lamunanku, dengan segera aku menyunggingkan senyum yang kuharap manis, begitu menengok ke samping. Sebuah motor kumbang yang kukenal melambat dan…, juga melewatiku. Kendaraan beroda dua itu malah berhenti tepat semeter di depanku. Persis di sebelah seorang siswi yang tak lain adalah si gadis plastik, Hae Rim.

Pemuda berhelm menoleh ke arahku–yang kini tersenyum masam–dengan dahi berkerut kemudian melempar senyum pada Hye Rim. Dituntun kejengkelan membara aku mendahului mereka.

“Ayo naik!” Sadar, dong, Jay! Sadar! Masa tidak lihat AKU? Padahal, jelas-jelas kami lumayan sering berpapasan di lorong sekolah. Sesungguhnya, cuma aku yang mencuri pandang sementara dia buang muka. Masih dendam kah?

“Kami duluan, Jong Hoon!” Hae Rim melambai ringan seraya mencebikku ketika geraman motor kian mengecil. Mereka benar-benar pasangan menyebalkan!

Sisa jam terakhir kugunakan untuk bertengger di salah satu dahan pohon di taman belakang sekolah. Normalnya, aku bisa molor di atas pohon lantaran terpaan angin sepoi-sepoi. Sayangnya, lagu-lagu yang terputar pada Pemutar musikku selalu bertema seragam… patah hati.

“Aaaaarrgh, si…aww!” Secepat kerikil barusan menghantam kepala, segesit itu pula aku melompat sambil merenggut headset di telinga. “Seingatku, aku tidak mengusikmu, benar?”

Pemuda yang kerap memakai kata ‘aku kamu’ ke Hye Rim serta muncul secara mendadak bak jin, bersandar di bawah pohon dengan mulut penuh roti isi. “Kau hebat! Bisa mendarat sempurna tanpa jatuh ke pangkuanku. Persis simpanse!”

Simpan apa tadi? Wah, minta dihajar dia. Ya, Meski Seunghyun pernah mengataiku begitu tapi hei, Jay tidak memiliki hubungan sedekat aku dan paman genit. Sehingga, dia tidak berhak mengataiku! “Simpanse kau bilang?”

“Mau roti?” Bukan main, betapa tidak nyambung jawaban bocah tengik ini. “Tidak. Terima kasih. Silakan makan sesuka hatimu. Aku pulang.”

“Perlu kuantar?” Perlu harusnya akan bro, akan! “Tidak. Terima kasih. Aku bisa pulang sendiri!”

“Oke. Hati-hati di jalan, nona pirang!” Dia melambai dan melanjutkan kunyahannya. “Dah.”

Betul, dah. Dah untuk gagasan bahwa aku sudi dielus-elus penuh kasih sayang oleh dia.

Masih terdengar jelas decakan demi decakan saat aku menghadapi tembok setinggi 2 meter. Terlalu! Masa dia bisa sesantai itu melihatku hendak memanjat tembok? Selepas menyingsingkan celana olahraga sebatas lutut, aku melempar tas selempang keluar pekarangan. “fighting!”

“Sini, biar kuantar. Ck, Sudah. Jangan membantah!”

Bahagia? Jangan ditanya!

Betapa berbunga-bunganya aku setibanya di rumah. Peduli setan dia tidak mengajak aku mengobrol selama perjalanan dan bersikap masa bodoh terhadap lambaian riangku. Barangkali itu memang sifat dasar Jay. Setidaknya, hari sabtu ini tidak senelangsa hari biasa. “Trims.

“Jangan sungkan. Sampai jumpa, nona pirang!” Apakah ini tawaran nebeng terselubung?

Bibirku berkedut menahan tawa bahagia– membayangkan alangkah indahnya hari hari esok–ketika sebuah suara memecah konsentrasi. “Jong Hoon sayang, anak kita menangis. Asuh dulu sana!”

Anak? Anak kita?

“Paman, hobimu menghancurkan masa-masa remajaku, huh? Sejak kapan aku punya anak? Dan… dan, hei… astaga, yang kau gendong itu bahkan seekor anak anjing!” Ia membersut ke rumah. Nah, ini… ini dia penyebab kenapa ada banyak pembunuhan tidak disengaja di luar sana.

“Mulai hari ini dia anakmu. Anak kita, sayang. Aku baru mengadopsinya. Dia bernama Charlie!” Dia berucap tenang seraya mengelus-ngelus kepala bulat makhluk berwarna coklat keemasan. “Apa peduliku? Kau tahu, kau telah mempora-porandakan harga diriku di hadapan Jay! Satu-satunya pemuda tampan seantero SMA yang sudi memberiku tebengan. Apakah kau tidak lihat bagaimana abstraknya ekspresi Jay saat kau bilang anak kita menangis, hah?”

“Dan kau juga sudah tahu, kan, kalau aku pernah bilang, mengapa aku begini?… Semata-mata agar kau tidak selingkuh!”

“Bodoh!”

Tiba-tiba dia mendelik sebal, “apa kau baru saja mengatai calon suamimu bodoh? Tidak sopan!”

“Bodoh. Tolol. Bodoh!” Aku melolong, mengempaskan tas ke sembarang tempat sambil mencak-mencak. Sedangkan dia memutar bola matanya sebentar lalu bergerak maju dengan seringai jahanam terpampang jelas di paras tegasnya. “Mau, mau apa kau? Jangan macam-macam!”

“Tidakkah kau ingin menyapa anakmu? Katanya dia haus.” Tatapan tajamnya terfokus ke arah–spontan kedua lenganku menutupi dada bagian atas sebelum berhasil diterawang. “Kau pria me….”

“Nanti malam ikut aku ke hotel.”

“Kau pikir aku gadis murahan?”

“Bukan masalah besar, sayang. Kau cukup berdandan yang cantik, oke?”

“Apa?”

“Dampingi aku menghadiri acara peresmian hotel baruku, arrachi?” Kedipan mata kanannya menyelipkan ke-setres-an tiada tara di hatiku. “Jangan berpikir macam-macam! Belum waktunya, sayang.” Malu! Malu! Masih adakah secercah harkat martabatku di matanya?

“Jong Hoon?”

“Ah?”

“Kau melamun?” Ekor mataku mengintip anjing kecil di sisi Seunghyun tengah menjilati kaki belakangnya selagi sang empunya menarik napas panjang, bersandar di kepala sofa beledu, “hmm, tidak.”

“Kalau begitu apa yang kukatakan tadi?” Aku menggeleng tak acuh dan memungut tas.

“Kubilang, besok. Kita. Akan. Pergi. Ke. Laut.”

=====FLOWER BOYS=====

Gerutuan dan airmuka keruh tak lepas dari pria seperempat abad yang menggandengku. Dia ini betul-betul tidak tahu terima kasih, sudah untung aku rela capek-capek menggambar wajah warna-warni di depan cermin, memakai gaun, pun higheels pinjaman. Apa masih kurang cukup pengorbananku demi mengarungi samudera dan kartu platinum?

Hyung, dia siapamu? Kalian seperti ayah dan anak!” Adalah sapaan pertama yang kami terima sewaktu berada di muka elevator. Dia berkata, “iya.” tetapi matanya memelototi gaun motif polkadotku sadis. Salah sendiri tidak menyiapkan segala sesuatu untukku sebelumnya. Jadi, terima nasib lah jika tampang kebapakan dia itu terungkap di muka umum.

“Wah, apa dia adikmu yang paling kecil?… Halo, adik kecil kau imut sekali!” Pria berkantung mata itu tampak niat sekali berkata imut dengan sudut bibir merentang lebar. Mimik muka itu, entah kenapa mendorong akal sehatku untuk menerjemahkan pernyataannya sebagai cemoohan tersirat, berbunyi: ‘kau pendek sekali’.

Kedua pria itu dengan cepat menjadikan aku obat nyamuk yang terlantar. Mereka bercakap-cakap akrab tentang berbagai investasi, harga saham, membuat telingaku berasap.

Tidak ingin menistai indera pendengar lebih dalam, aku lantas berjalan hati-hati menelusuri satu persatu meja hidang seraya memindai para tamu parlente dan elegan yang terdiam seketika begitu suara di podium menyita perhatian, termasuk perhatianku.

Sosok tegap dalam balutan formal itu tumben menguarkan kharisma dan aura pria tampan berpendidikan tinggi. Gaya bicaranya pun bagai orang cerdas. “Terima kasih.” Senyum diiringi bungkukkan sekilas memungkas pidato singkatnya, mengundang riuh tepuk tangan kala dia menuruni undakan dan menerima cupika-cupika dari Shin Min Ah yang menyambutnya di kaki tangga. Kecentilan!

“Oh, rupanya kau anak Tuan Nam.” Seorang wanita bergaun bolong-bolong menggamitku, mengelilingi diriku sekali putaran dengan tatapan meremehkan. “Maaf, Anda ini siapa?” Dia memutar gelas anggur di genggamannya lalu mengulurkan tangan.

“Aku Naomi Kitagawa, salam kenal. Ternyata, kau sangat mirip ayahmu!”

“Kau mengenal ayahku?” Dia tersenyum dan mengangguk, “ya, dia pria yang licik.” Telingaku kontan berdenging. Mungkin aku salah dengar.

“Kupikir kau bukanlah tebusan tepat apalagi sebanding untuk triliunan uang perusahaan yang hilang di tangan ayahmu. Aku penasaran akan kebohongan apa yang kau dengar dari Seunghyun, hmm?”

“JAGA UCAPANMU, BIBI-BIBI MENOR! Orangtuaku memang sedang liburan. Tapi, bisa kupastikan ayahku tidak mungkin membawa kabur uang perusahaan!” Aku merasakan belasan pasang mata mulai menyorotku tanpa ampun sedangkan wanita di depanku memajang sunggingan memuakkan di wajahnya. “Selama setahun?… Baiklah, aku tidak suka berbasa-basi. Cepat, jauhi Seunghyun, nona kecil! Kau tahu saat ini, aku sedang mengandung buah cinta kami.”

Dengan pandangan mengabur aku bergegas keluar.

Tebusan? Mengandung anak Seunghyun? Lelucon buruk macam apa lagi ini? Tidak lucu.

Ketika tiba di lobi hotel, tungkai kakiku melemas secara drastis. Berulang kali aku nyaris terjerembab lantaran hak tinggi alas kakiku terpeleset marmer dan di pijakan berikutnya, hak sebelah kiri patah hingga membuatku oleng. Sempurna! Sekali sentakan aku melepas higheels pinjaman itu, melemparnya jauh-jauh dengan teriakan sarat emosi.

Aku tidak menangis. Seorang Jong Hoon tidak pernah menangis! Sekalipun appa jahat; eomma pembohong. Aku tidak akan menangis! Tidak akan…. Aku bahkan tak terluka segores pun buat apa aku tersedu? tapi, kenapa rongga dadaku terasa sangat sakit? Bernapas saja, aku megap-megap. Brengsek!

“Jong Hoon-ah. Kau mau kemana? Ini baru sejam dan acara belum…, kau kenapa, sayang?” Dia memegang pundakku seraya membungkuk menyamakan tinggi badan, sedangkan aku menunduk dalam-dalam enggan menatapnya.

“Kau baik-baik saja, kan?” Tidak. Aku sedang tidak baik. Aku hendak melontarkan kalimat tersebut. Namun, bibirku keburu berkedut tanpa suara. “Demi Tuhan, bicaralah Jong Hoon.” Ragu-ragu aku mencoba memandang dia. Mendapati sepasang mata elangnya memancarkan sorot ketulusan yang tegas, serta-merta nyaliku menciut, dengan tergesa aku mendongak, menggigiti lapisan bibir bawah kuat-kuat. Alih-alih menahan getaran di mulut, mataku malah bertambah perih dan berembun.

“Dengar, aku tak tahu mengapa kau begini. Tapi kalau kau ingin menangis, menangislah!”

“Pu…lang.”

.

.

.

– ? –

Okesip, maaf lama, masih antara ending dan bersambung (author galau), membosankan atau semacamnya. Yang mau ini tamat sampai di sini atau nyambung satu episode lagi silakan yah, dikomen kalo mau :*

Dan ada sedikit pengumuman mengenai ff saya yang lain setelah berpikir masak-masak : ff alien oh, alien tidak akan saya lanjutkan maaf ya, atik saeng :3 tapi, bakalan saya ganti kok ._.v dan ff 13 rooms bakalan saya tulis ulang dengan alur, bahasa, de el el berbeda. Oke, sekian. (ngilang)