Lovely Child poster

Bagiku, wanita adalah makhluk paling mengagumkan. Mereka lembut, ramah, tapi juga makhluk yang kuat pada saat yang bersamaan. Adalah hal yang umum aku dikelilingi wanita, semua Hyung ku dan bahkan VIP ataupun Champions tahu itu. Tapi apa jadinya jika kau kuberitahu satu rahasia kecilku tentang wanita dan seorang anaknya? Anaknya? Dia wanita yang sudah memiliki anak! Demi kesempurnaan philtrum TOP-hyung (apa hubungannya?), apa bagusnya rahasiaku? Bukan V.I namanya kalau tidak menarik.

 

Tabina Hatake (@realtabina) present

 

LOVELY CHILD

 

Cast: Lee Seung-hyun (V.I a.k.a Seungri BIGBANG); Kim Jung Geun; Naomi Kousuke (OC); Kanaka Kousuke (OC); other cast(s) that can’t mentioned here.

 

Disclaimer: Seungri and Kim Jung Geun are belong to God and themselves. The OCs are mine. Common topic but idea were purely mine.

 

Genre: Family, Mild Romance, Light Comedy

 

Rate: All Ages

 

Lenght: One Shot

 

Warning: This is Seungri’s POV storyline. Beg your sorry for his “acute narcissism of himself”. Never accept any plagiarism here. Don’t take out without credit and permission. Happy reading everyone!

 

 

Februari, 2013

Musim dingin. Bukannya aku tidak menyukainya, tapi sungguhpun salju nampak indah di televisi, tapi dinginnya hawa musim dingin membuat segala keindahan salju serasa palsu. Dan sebagai seorang profesional aku harus menjalani aktivitasku yang maha padat di awal tahun ini, menerjang hawa menjenggit tulang rusukku sekalipun. Seperti pagi ini. Aku baru saja sampai di Jepang dari Seoul dalam rangka menyelesaikan drama Jepang ku. Aku dan Jung Geun-hyung sengaja mengambil gate yang berbeda dari arah arrival kami. Hal ini dilakukan staff untuk menghindari fans yang begitu antusias menyambutku. Ma’afkan aku, ya. Aku celingukan sesampainya diluar bandara.

“Jangan-jangan mereka tidak tahu rencana ini, hyung.”

“Tidak mungkin. Aku sudah informasikan sejak kita masih di Seoul.”, Jung Geun tampak mengutak-atik ponselnya. Dia tampaknya menelepon staff Jepang. Aahh.. Aku hanya ingin segera mengistirahatkan badanku ini. Alive Tour bersama Hyung ku keliling dunia kemarin sangat menguras tenagaku. Tapi aku senang bisa menghibur VIP di belahan dunia lain.

“Kita naik taksi saja. Sepertinya kerumunan fans menghambat van yang menjemput kita.”, ujar Jung Geun setelah menutup sambungan ponselnya.

“Taksi? Bagaimana kalau kita nanti malah diculik?”, jawabku asal. Tapi bisa saja, kan? Jawabanku cukup masuk akal.

“Jangan konyol, Seungri. Ayo.”. Jung Geun mengambil sebuah taksi yang memang biasanya terparkir manis dipelataran bandara. Aku hanya mengedikkan bahu mengikutinya dan segera naik taksi.

 

Jepang, sesering apapun aku mengunjunginya, aku akan selalu merindukannya. Entahlah, atmosfer yang dimiliki Jepang begitu berbeda. Jepang selalu menjadi “Jepang” tanpa terpengaruh banyaknya budaya asing yang masuk. Dan juga gadis-gadisnya. Tidak seperti gadis Korea yang, ma’af saja, terlihat “palsu” dengan plastic surgery. Aku hanya melamun sepanjang jalan ke hotel sampai Jung Geun menepuk bahuku pelan.

“Sudah sampai, ayo.”

“Ah, ya.”, sahutku dan bergegas turun. Aku menurunkan beberapa tas bawaan kami dari bagasi sementara Jung Geun membereskan meter tagihan taksi. Aku terlalu sibuk sampai tidak menyadari ada yang memperhatikanku sejak tadi. Jung Geun membantuku setelah selesai membayar. Dia kemudian masuk untuk memanggil roomboy hotel agar membantu kami membawa tas-tas merepotkan tadi ke dalam. Dia menyuruhku menunggu diluar.

Aku duduk di salah satu tas besar dan melihat jalan di depanku. Tidak begitu ramai. Ada sebuah motor besar, bagaimana menyebutnya ya, motor sport laki-laki. Ya, jika kau pernah menonton Moto GP, seperti milik Valentino Rossi, berhenti di seberang jalan tepat di depanku. Motornya keren sekali, pengendaranya turun dari motor itu tapi masih mengenakan helmnya. Aku begitu sibuk memperhatikan motor sport tadi sampai tidak sadar ada seseorang berlari ke arahku. Dia merebut tas selempang sampingku sambil mengendarai motornya. Di dalam tas itu berisi uang tunai, dompet, ponsel SIII kesayanganku dan berbagai barang penting lainnya. Merebut dalam artian aku sedang dijambret. Demi lingkar hitam mata pandaku! Aku dijambret! DIJAMBRET!!

“Akh! Sial!! Hey!!”, umpatku shock. Aku sendiri jatuh terbanting di trotoar. Untung saja wajah tampanku tidak terluka, tapi tas ku! Oh! Aku bangkit dan mencoba mengejar jambret tadi. Dari arah belakangku, ada suara deru motor, motor besar tadi rupanya. Dia melanggar didepanku ikut mengejar si jambret. Dia melaju sambil melepas helm yang dikenakannya. Aku berlari sambil meringis memegangi luka disikutku. Aku tak peduli dengan tas merepotkan berisi baju yang kutinggalkan, tas yang dijambret itu 1000 kali lebih berharga. Aku terus mengumpat kesal sendiri dengan kebodohanku yang tidak berhati-hati.

Pengendara motor tadi berhasil melepas kaitan helmnya, dan malah membuatku lebih terkejut lagi. Kepala yang bayanganku adalah pria berambut cepak atau setidaknya bergender sama denganku, ternyata jauh dari perkiraan. Rambutnya tergerai bebas sepunggung. Coklat dan bergelombang. Dia wanita. WANITA! Aku melihatnya mengambil ancang-ancang untuk melempar helmnya dan wow! Tepat sasaran! Helm itu tepat mengenai kepala jambret tadi dan membuatnya jatuh tersungkur. Rasakan itu! Aku tersenyum puas akan tindakan nona tadi. Gadis itu kemudian melakukan aksi drift dan menghentikan motornya. Agak sedikit terlambat, bemper belakang motornya menabrak motor jambret tadi yang sudah terserak dijalan, tapi masih bisa ia kendalikan. Dia menghampiri jambret tadi dan menyambar tas ku. Dia tampak bebicara kemudian menendang lengan jambret tadi. Dia membiarkan jambret tadi dan memungut helmnya. Aku menghampirinya. Kuberikan senyum terbaik seorang Lee Seungri.

“Ah, itu tadi hebat sekali. Kau hebat, nona!”, dia diam saja.

“Aksi heroikmu menyelamatkan tas ku. Arigatou, ne!”, ucapku riang.

“Ya, ini tas mu.”, jawabnya pendek. Dia berlalu begitu saja sambil bersiap mengendarai motornya. Ah, hanya begitu sajakah sambutan atas keramahanku?

“Ah, nona. Ma’af, tapi aku tidak bisa membiarkan kebaikanmu begitu saja”, sambungku dibelakangnya. Dia masih tak bergeming. Malah dia memeriksa bagian belakang motornya yang lecet. Jung Geun tampak tergopoh panik menghampiriku.

“Hey, ada apa Seungri? Apa yang terjadi? Aku mendengar teriakanmu dan saat kulihat kau sudah tidak ada.”, dia melihat luka di sikut kananku. Darahnya merembes keluar dari mantel putihku. Ah, padahal ini mantel pemberian Jiyong-ah kesayangan ku.

“Nona, akan kuganti helm dan bempermu. Sampai pecah begitu karena menolongku. Sebagai tanda terimakasih.”, bujukku lagi mengabaikan Jung Geun yang masih bingung dan panik melihat luka di tanganku.

“Tidak perlu. Hati-hati saja. Belum tentu ada orang lagi yang menolongmu jika kau ceroboh seperti tadi. Juga obati lukamu.”, jawabnya datar sambil menunjuk sikutku. Dia langsung naik dan mengendarai motornya. Dia pergi begitu saja. Apa-apaan tadi itu? Oke mungkin aku memang ceroboh dan merepotkannya, tapi tidak perlu sedingin itu menanggapiku!

“Seungri, siapa dia, dan kenapa lengan mu? Ya, Tuhan!”

“Hyung, daripada bertanya terus, lebih baik kita kembali dan mengobati luka ini.”, jawabku agak kesal. Bukan pada Jung Geun, tapi dengan nona tadi. Jung Geun kemudian membawaku masuk hotel dan mengobati luka di sikutku. Bukan luka serius sih, tapi ada luka lecet terbuka yang cukup memprihatinkan. Aku menolak ke dokter, cukup dibalut saja. Lagipula aku masih kesal dengan nona tadi. Entah mengapa aku membenarkan perkataannya, tapi pada saat yang bersamaan merasa diabaikan. Awas saja jika bertemu lagi.

 

***

“Ya! Cut!”, teriak sutradara. “Bagus sekali, V.I-san.”

Aku baru saja menyelesaikan giliran take shooting ku. Aku lelah sekali. Hari ini aku melakukan beberapa adegan sekaligus, karena waktuku di Jepang juga tidak banyak. Aku menuju van ku saat kudengar ada suara perdebatan di dekatku. Suara seseorang memarahi orang lain lebih tepatnya.

“Aku kan sudah bilang, Nao. Kau harus hati-hati. Ini kan properti. Bagaimana sekarang? Senpai akan marah pasti!”

Aku melihat Satoshi, ketua properti di lokasi shooting, terlihat memijat keningnya sambil berkacak pinggang. Di depannya ada sesosok wanita nampak tertunduk lesu. Dia tampak menyesal.

“Gomen ne, Sato-kun. Aku tak sengaja.”

“Apa yang terjadi sampai bisa begini?”, Satoshi bertanya lagi. Aku hanya menguping pembicaraan mereka. Wanita tadi tak menjawab. Ia hanya menunduk semakin dalam. Posisinya membelakangiku. Rambut coklat bergelombangnya tergerai. Hey, tunggu!

“Seungri, apa yang kau lakukan disini.”, Jung Geun menepukku agak keras, membuatku terkejut dan ketahuan menguping.

“Ya! Membuatku terkejut saja, hyung!”

“Ah, V.I-san.”, Satoshi nampak membungkuk mengetahui keberadaanku. Aku membalasnya.

“Ada apa Sato-san?”, tanyaku sembari bejalan mendekat. Wanita tadi tampak melirik dan menundukkan wajahnya dalam.

“Ah, bukan hal penting, V.I-san. Nao, beri salam pada V.I-san.”, ucap Satoshi kemudian.

Wanita yang dipanggil Nao tadi mengangkat wajahnya perlahan. Wajah itu. Aku mengenal wanita ini. Dia menunduk memberi salam, akupun membalasnya.

“Dia Naomi. Stunt disini.”

Ada senyum ganjil yang ku tampakkan disana. Wanita yang bernama Naomi tadi hanya menunduk, kembali menyembunyikan wajahnya.

“Ah, Sato-san. Mengenai motor itu,”, aku menunjuk bemper belakang motor yang pecah, “biar aku yang urus. Kau tak perlu khawatir.”

“Tapi bagaimana bisa..”

“Percayalah, aku akan bicara pada Senpai.”, ucapku meyakinkan.

“Hey, jangan asal bicara Seungri.”, tegur Jung Geun. Aku hanya mengibaskan tanganku ringan. Aku kemudian menarik tangan Naomi yang sedari tadi hanya diam saja. Jung Geun hanya bertanya-tanya bingung bersamaan dengan Satoshi.

 

“Jadi, itu motor properti?”, tanyaku. Naomi hanya diam saja. Aku mengajaknya keluar dari lokasi shooting. Dia tiba-tiba berhenti dan mengibaskan tanganku yang menggandengnya. Aku menelengkan kepalaku memandangnya heran.

“Apa?”, tanyanya galak.

“Wah, kau ini jangan galak-galak nona Nao. Boleh, ya aku memanggilmu begitu? Aku sudah menolongmu. Kita impas soal tadi pagi. OK?”, Nao hanya diam saja.

“Tapi sekarang kau berhutang satu padaku.”, sambungku. Kening Nao tampak berkerut.

“Aku kan sudah menolongmu lolos dari Sato-san. Juga Senpai nantinya. Nah 2 orang. Mengerti maksudku kan?”.

“Aku bahkan tak memintamu menolongku.”, jawab Nao dingin. Ah, aku sepertinya mulai terbiasa.

“Tapi aku juga tak bisa diam saja melihatmu dalam masalah begitu. Walau bagaimana, kejadian tadi tak sepenuhnya salahmu.”, sambungku.

“Lalu kau mau aku membalasmu apa?”, masih dingin saja. Tidak ada hormatnya sama sekali padaku.

“Hey, aku juga tidak sematerialistis itu nona! Aku hanya ingin berterimakasih untuk tadi pagi. Dan kenapa, sih kau ini dingin sekali padaku?”, tanyaku.

“Memangnya aku harus bagaimana? Bersikap manis dan memanggilmu oppa?”, Nao menyilangkan tangan di depan dadanya. Jelas terlihat senyum mengejeknya saat menirukan sebutan oppa tadi.

“Bukan begitu juga. Tapi setidaknya kau tak perlu galak seperti ini padaku. Apa yang kulakukan hanya ingin berterimakasih. Kau tadi pagi juga menolongku tanpa kuminta.”, jelasku panjang lebar.

Nao terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Jadi kau bekerja sebagai stunt? Jarang ada wanita yang berprofesi jadi stunt.”, aku membuka suara lagi.

“Apa pedulimu?”

“Ah, kau ini memang galak.”, komentarku.

“Aku tak peduli dengan opinimu.”, ketusnya. Dia kemudian berbalik ingin pergi.

“Hey!”, aku menahannya. Dia menoleh padaku. Matanya begitu tajam. Dia kembali menepis genggaman tanganku. Kalau ada orang melihat kami, mungkin akan menduga kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

“Tidak selamanya, kan kau keras begitu. Suatu saat kau tetap butuh bantuan orang lain nona.”, aku menyerah bicara padanya.

“Aku tak pernah meminta kau membalasku. Dan berhenti memanggilku nona. Kegenitanmu tak akan mempan padaku!”, ketusnya dan berbalik pergi.

Aku hanya terbengong memandang rambut sepunggungnya berlalu. Dan apa aku tidak salah dengar tadi? Dia mengataiku genit? Apa maksudnya! Sungguh wanita yang menyebalkan! Aku memang menarik, tapi aku bukan lelaki genit! Demi Gaho! Apa yang dipikirkan Nao sehingga memanggilnya ‘nona’ adalah suatu bentuk kegenitan? Aku kesal sendiri rasanya. Aku kembali ke van sambil bersungut. Aku bahkan tak menyapa Jung Geun. Dia hanya mengedikkan bahu, mungkin sudah hapal tabiatku jika sedang kesal. Kami kembali ke hotel dalam diam.

 

 

***

“Kita kemana pagi ini?”

Jung Geun melihat tabletnya dan membaca dengan seksama agenda untuk hari ini.

“Hanya pengambilan gambar bersama stasiun TV di sebuah sekolah.”

“Sekolah?”, tanyaku.

“Iya. Taman kanak-kanak. Untuk hari anak Mei mendatang. Bagaimana menurutmu?”

“Ah! Aku pernah bercita-cita menjadi guru TK. Aku menyukai anak-anak. “, jawabku.

 

Kami berangkat bersama staff TV ke lokasi pengambilan gambar. Lokasinya tidak begitu jauh. Pengambilan gambar kali ini untuk mengisi acara menyambut Hari Anak. Kudengar memang dirayakan di Jepang. Aku akan menjadi tamu yang berpartisipasi bersama anak-anak nantinya. Kami akan membuat Koinobori bersama anak laki-laki. Kebetulan sekolah yang aku kunjungi adalah sekolah khusus anak laki-laki. Aku tak tahu kalau ada sekolah macam itu juga di Jepang.

Satu jam akhirnya kami mencapai tujuan. Aku dan rombongan sudah disambut beberapa orang perwakilan sekolah. Setelah saling bersalaman, kami mulai menyiapkan alat-alat untuk pengambilan gambar.

Aku melihat-lihat di sepanjang koridor kelas. Ada dua tingkat kelas yang dikelola sekolah ini. Masing-masing tingkat memiliki dua kelas dengan 15 orang anak tiap kelasnya. Cukup banyak untuk ukuran TK. Aku sedang melihat-lihat foto-foto lomba anak-anak ini saat seorang anak menarik celana jeans ku kecil. Aku menoleh padanya.

“Ah, ya. Ada apa?”, aku berjongkok menjajarkan tubuhku agar setara dengannya. Dia memandangku dengan mata bulatnya. Benar-benar bulat, tak seperti mata seorang Jepang pada umumnya.

“Apa paman yang akan membantuku membuat koinobori?”

“Ah, tentu. Aku akan membantumu membuatnya. Bagaimana menurutmu?”, aku tersenyum pada anak itu.

“Aku akan sangat senang!”, dia berujar riang. Menampakkan deretan giginya yang kecil dan rapi.

“Siapa namamu?”, tanyaku.

“Kanaka. Kanaka Kousuke.”, jawabnya mantap. “Kalau paman?”

“Lee Seung Hyun. Tapi orang biasa memanggilku V.I. Atau kau bisa memanggilku Seungri.”, jawabku. Aneh memang jika aku dipanggil paman. Tapi memangnya harus dipanggil apa? Tidak mungkin anak ini memanggilku dengan sufiks –kun, kan?

“Naka-kun. Apa yang kau lakukan diluar kelas?”, tanya seorang guru pada Naka kecil. Naka tampak terkejut dan bersembunyi dibalik punggungku. Aku berdiri sedang Naka sendiri memegangi kaki celana jeans ku.

“Dia hanya menyapaku. Tidak apa-apa.”, Naka nampak mengintip dari sebelah kakiku. Aku mengambil tangannya dan menggandengnya di sampingku.

“Ayo kembali ke kelas, Naka-kun.”, ajak guru tadi. Naka menatapku seolah meminta pertimbangan. Aku hanya mengangguk meyakinkannya. Naka kecil lalu mengikuti guru tadi setelah pamit undur diri dariku.

 

Pengambilan gambar mengambil set di aula sekolah. Cukup luas untuk menampung 60 muridnya. Aku sudah mengambil gambar terlebih dulu saat para guru mengatur anak-anak. Aku masuk dan mencari sosok Naka. Entahlah, kurasa anak itu menarik. Seorang bocah melambai padaku, itu dia. Aku menghampirinya membelah kerumunan anak lain. Naka nampak sedang menggambar pola ikan koi di kertas hitam.

“Membuat koi hitam ya?”, tanyaku.

“Ya!”, jawabnya semangat.

“Ah, sini kubantu.”, aku memegang ujung kertas lain saat Naka akan mengguntingnya.

“Apa kau tahu arti warna-warna ikan koi ini, Naka-kun?”, tanyaku.

“Tentu! Hitam itu melambangkan ayah. Merah untuk ibu dan Biru untuk anak pertama. Aku anak pertama. Paman anak ke berapa?”, Naka tampak menggunting sambil berkonsentrasi. Wajahnya lucu sekali. Jujur saja, untuk anak seumuran Naka, dia cukup cerdas. Terlihat dari cara bicaranya.

“Aku juga anak pertama. Kalau begitu aku juga memiliki ikan koi biru. Aku juga akan buat nanti dirumah.”, jawabku.

“Paman belum punya anak?”, Naka memandangku lekat.

“Apa aku terlihat tua ya?”, aku tertawa. “Belum. Aku belum memiliki anak.”, jawabku kemudian. Naka kembali berkonsentrasi untuk menggunting kertasnya.

“Hey, Naka-kun. Kenapa kau membuat koi hitam?”, tanya seorang anak lain, sepertinya teman sekelasnya.

“Tentu. Kan memang urutan Koinobori begitu.”, jawab Naka polos.

“Tapi kau kan tidak memiliki ayah.”, kemudian tawa anak lain pun meledak. Ada kesedihan terpancar dari mata Naka kecil.

“Soji, tidak boleh mengejek teman seperti itu. Apalagi menertawakannya.”, tegur seorang guru kepada anak yang mengejek Naka tadi. Semua anak kemudian terdiam. Aku melirik Naka. Dia hanya diam saja, seperti menahan tangis. Tapi kemudian dia menarik napas panjang dan menghelanya.

“Aku memilikinya, kok. Hanya saja aku belum bertemu dengannya.”, dia diam sejenak, suara Naka tampak bergetar. “Lagipula aku bisa menganggap paman ini sebagai ayahku karena dia membantuku membuat ikan koi ini, iya kan paman?”, dia menatapku. Aku tidak mungkin menghindari mata itu dengan mengatakan penolakan.

“Tentu, mengapa tidak?”, aku mengelus kepalanya lembut. Naka tersenyum riang mendengar jawabanku.

“Nah, sekarang lanjutkan pekerjaan kalian. Dan ibu tidak mau mendengar ada ejekan lagi.”, ujar guru tadi. Aku kembali menekuni kertas-kertas bersama Naka. Kami sempat terdiam lama.

“Jangan diambil hati, ya?”, kataku pada Naka.

“Ibu bilang aku bukannya tidak memiliki ayah. Tapi hanya belum bertemu dengannya saja. Tidak apa-apa kok, paman.”, jawab Naka sambil tersenyum.

Aku terkejut dengan respon anak ini, bicaranya terlalu dewasa untuk anak seumurannya. Aku jadi teringat Young Bae-hyung yang terkadang juga bersikap lebih dewasa dari usianya. Entah apa yang dimaksud dengan ‘belum bertemu’, ibunya pasti sangat bersyukur memiliki anak seperti Naka.

 

Aku menyelesaikan pengambilan gambar saat waktu hampir menunjukkan jam 3 sore. Acara terakhir adalah mengibarkan semua Koinobori di lapangan sekolah. Disana sudah disiapkan tiang-tiang untuk mengibarkan koinobori anak-anak. Aku membantu Naka mengaitkan koinoborinya satu per satu. Produser sempat menegurku karena aku hanya berpusat pada Naka saja. Tapi kubilang kalau kedekatan emosi yang aku bangun sejak acara dimulai akan menjadi daya tarik tersendiri untuk acara kali ini. Jadi akhirnya mereka membiarkanku tetap bersama Naka.

“Bagaimana? Kau puas Naka-kun?”, tanyaku. Dia mengangguk mantap. Acara pengambilan gambar sudah selesai, tapi aku masih menunggu staff lain berbenah alat shooting. Sekolah sudah usai, semua anak sudah dijemput orang tua mereka. Hanya beberapa anak yang masih menunggu, termasuk Naka.

“Paman Seungri bukan orang Jepang ya?”, tanya Naka sambil memakan sepotong sandwich. Buatan ibunya mungkin.

“Darimana kau tahu? Aku orang Korea Selatan.”

“Paman tidak tahu arti warna ikan koi koinobori. Makanya aku tahu.”, jawabnya. Aku tertawa mendengar jawabannya itu.

“Naka-kun belum dijemput atau memang pulang sendiri?”, tanyaku. Kami mengobrol di taman bermain di sekolah. Aku memang sengaja melambai memanggilnya saat aku melihatnya duduk sendiri.

“Ibu biasanya akan menjemputku kalau memang sempat. Aku akan menunggunya.”, jelasnya sambil memakan suapan sandwich terakhirnya.

Aku sedikit keberatan dengan sikap ibu Naka. Bagaimana ibunya bisa setega ini pada Naka. Memangnya sibuk sekali? Sesibuk apapun, anak sekecil Naka seharusnya dijaga baik-baik. Bagaimana kalau celaka!

“Mau ku antar?”, tawarku.

“Apa tidak merepotkan?”, Naka tampak ragu.

“Tentu tidak. Kukira kau pasti lelah setelah seharian ini membuat koinobori.”, aku meyakinkannya. Dia masih tampak menimbang-nimbang.

“Tenang saja. Paman Seungri tidak berbahaya kok!”, seruku. Dia tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan sehat.

“Jadi dimana rumahmu?”, tanyaku.

“Tidak jauh. Hanya beberapa blok dari sini, paman. Ayo.”, Naka menggandengku riang. Jung Geun sempat keberatan dengan ideku, tapi siapa yang bisa menolak wajah dan mata polos Naka kecil. Ah, aku sekarang suka memanggilnya Naka kecil.

 

Aku, Naka dan Jung Geun berpisah dari rombongan staff TV. Aku juga sudah tidak memiliki jadwal dengan mereka, jadi aku bisa mengantar Naka langsung ke rumahnya. Hanya perlu berkendara 10 menit untuk mencapai rumah Naka. Flat kecil yang kata Naka dihuninya bersama ibunya sejak Naka masih kecil.

“Ini dia, paman. Flat ku ada di lantai dua no 20. Mau mampir?”, tawar Naka setelah aku mengantarnya turun.

“Lain kali saja. Aku masih punya banyak kegiatan, Naka-kun.”, aku hanya tak ingin merepotkan ibunya. Bagaimana nanti kalau ada media, bisa panjang urusannya.

Aku mengusap ujung kepalanya lembut. Dia tersenyum senang.

“Arigatou, paman Seungri.”, ucap Naka kemudian.

“Ne. Doita. Masuklah dan segera istirahat.”

“Terimakasih juga sudah mau kuanggap sebagai ayahku untuk koinobori hitamku.”, tambahnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Naka! Naka! Kemana kau ini! Kenapa tidak menunggu ibu?”, teriak seorang wanita tiba-tiba menghampiri Naka. Wanita yang kukira adalah ibunya itu langsung memeluk putranya. Dia membelakangiku.

“Ma’afkan aku, ibu. Aku tadi diantar paman Seungri. Ma’afkan aku.”, jelas Naka.

“Ma’af, sebenarnya tadi saya yang memaksa untuk mengantar Naka kecil pulang.”, aku jadi tidak enak pada ibu Naka.

Wanita tadi berdiri dan membalikkan badannya. Dia mengenakan jeans hitam dipadu sweater ungu tua dan sepatu kets putih. Ah, pantas saja aku sedari tadi merasa pernah mengenal mata bulat Naka.

“Nao?”, aku melongo mendapati Naomi adalah wanita yang kukira adalah ibu Naka. Nao sendiri juga nampak terkejut.

“Kenapa Jepang begitu sempit, ya?”, aku bertanya keheranan. “Kau ibu Naka?”, sambungku. Dia masih diam saja. Aku ingin lihat responnya. Apakah akan masih tetap dingin padaku di depan anaknya.

“Ibu, ini paman Seungri yang mengantarku. Dia baik sekali. Dia bahkan membantuku membuat koinobori di sekolah.”, jelas Naka. “Paman, ini ibuku.”, Naka mengenalkan Nao padaku.

Yah, sebenarnya aku sudah mengenal ibumu ini, nak.’, pikirku.

Nao memandangku lama, entah apa arti tatapannya. Tapi kemudian dia membungkukkan badannya.

“Arigatou, Tuan Seungri sudah mengantar putraku. Ma’af sudah merepotkan Anda.”, akhirnya Nao bicara.

“Ah, tidak masalah. Lagipula panggil saja aku Seungri.”, jawabku sambil tersenyum.

“Kami undur diri dulu. Ayo Naka berpamitan pada Tuan Seungri dulu.”, ujar Nao cepat.

“Sampai jumpa lagi, paman!”, Nao kemudian membawa Naka masuk setelah berpamitan. Memang Nao lebih sopan, tapi nada dinginnya tak jua hilang dari logat bicaranya padaku. Aku berjalan masuk ke mobil dengan penuh tanda tanya.

“Kenapa ya dia?”, aku bicara pada diriku sendiri.

“Siapa?”, tanya Jung Geun setelah aku masuk dalam mobil.

“Kau ingat Naomi yang dikenalkan Satoshi tempo hari? Aku heran, hyung. Kenapa ya dia dingin sekali setiap bicara padaku? Dan Naka kecil itu ternyata adalah anaknya.”, jawabku panjang.

“Itu membuktikan bahwa tak semua wanita termakan pesona wajahmu.”, Jung Geun malah tertawa mengejek.

“Ah, kau ini hyung.”, aku ikut tertawa mendengarnya. Aku dan Jung Geun akhirnya memilih pulang ke hotel. Aku terdiam sepanjang perjalanan pulang. Bayangan Naka dan Naomi masih saja berputar di kepalaku. Tanpa kusadari sikap dingin Nao cukup mengusik rasa penasaranku. Dan benarkah Naka itu putra kandungnya? Nao masih muda, tak lebih tua dariku. Langit sore menemani perjalanan pulangku menuju hotel.

 

***

“Seungri-ya, hari ini kau ke lokasi shooting sendiri dulu, ya. Aku ada sedikit urusan. Tidak apa-apa, kan?”, ujar Jeung Gun saat membangunkanku.

“Hmmh? Ya, memangnya aku anak kecil? Tentu aku bisa.”, jawabku masih mengucek mata. Aku masih sangat mengantuk.

“Nah! Bangun saja masih membutuhkan bantuanku. Jangan terlambat, OK!”, Jung Geun berlalu sambil mengacak rambutku yang memang masih kusut.

“Ah, hentikan, hyung. Aku bukan kucing!”

“Ya, tapi kau panda!”, jawab Jung Geun sambil kabur dan tertawa senang berhasil menggodaku. Ish! Semua hyung selalu menganggapku anak kecil. Ayolah, Demi keriput Gaho! Aku 22 tahun dan aku pria dewasa sekarang!

Aku beranjak dari kasur dan bersiap-siap mandi. Aku akan ke lokasi shooting, apa akan bertemu Nao ya? Ah, hari ini aku juga akan berbicara pada Senpai soal motor Nao. Siapa tahu aku dapat info soal Nao. Entah mengapa aku jadi tertarik untuk tahu soal Nao lebih jauh. Hari ini pasti akan sangat menarik!

 

***

 

“Emm, selamat pagi Senpai.”

“Ah, selamat pagi, V.I-san. Datang sendiri?”, aku menyapa produser drama ku. Kebetulan bertemu di areal parkir lokasi.

“Begitulah, manager sedang ada kepentingan lain.”, jawabku. Kami berjalan beriringan menuju lokasi.

“Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan, Senpai.”

“Ah, mengenai apa V.I-san?”

“Tentang Naomi.”, jawabku pendek. Aku akhirnya menjelaskan kronologi kejadian yang menyebabkan kerusakan pada motor properti yang dikendarai Naomi.

“Oh, jadi begitu. Aku memang sudah mendengar dari Satoshi. Dan dia menyuruhku menunggumu menjelaskannya. Yah, kalau memang begitu kejadiannya, aku bisa memakluminya, V.I-san.”

“Terima kasih, Senpai.”, jawabku. “Ah, apa benar Nao itu stunt disini?”, tanyaku. Aku benar-benar sudah tak sabar ingin tahu kebenarannya.

“Ya, benar. Sudah lama dia ikut rumah produksi kami sebagai stunt.”

“Jadi begitu. Jarang-jarang ada wanita yang berprofesi sebagai stunt.”, aku menanggapinya.

“Dia tak pernah mau saat kami menawarinya untuk menjadi cameo drama. Setidaknya itu lebih aman. Dulu Satoshi lah yang membawa Nao padaku.”, aku sedikit heran. Sebenarnya Nao itu cantik. Kalau jadi aktris pasti juga laku. Kenapa memilih jadi stunt? Apa dia tidak menyadari bahayanya?

“Bersiap-siaplah dulu. Hari ini kita akan banyak adegan keras.”, produser meninggalkanku saat kami mencapai lokasi. Aku baru akan bersiap-siap di ruang wardrobe saat berpapasan dengan Naomi.

“Selamat pagi.”, sapaku. Dia hanya membungkuk dan berlalu. Aku menahan tangannya. Dia menoleh dan memandangku. Aku suka matanya. Untuk ukuran seorang Jepang, dia memiliki mata yang cukup lebar, membuatnya terlihat cantik.

“Bagaimana kabar Naka kecilku?”, dia nampak mengerutkan dahi saat mendengar sufiks ‘ku’ dibelakang nama anaknya.

“Dia ada disekolah. Jangan sembarangan menambahkan kata kepemilikan pada anak orang lain. Apa kau tak menyadari resikonya?”, nada dingin itu muncul lagi.

“Kau harus menjaganya baik-baik. Dia anak yang cerdas.”, seolah terbiasa aku melepaskan genggaman tanganku pada pergelangan tangannya dan bersiap-siap. Nao hanya memicingkan matanya mendengus. Aku bisa melihatnya dari sudut mataku. Mungkin dia berusaha tetap dingin padaku, tapi dia wanita. Tetap saja memiliki sikap kekanakan saat seseorang menggodanya, dan aku berhasil menggodanya.

 

Hari ini banyak adegan action yang diambil. Beberapa adegan berbahayaku diambil alih oleh Nao. Aku merasa aneh, digantikan oleh wanita maksudku. Tapi memang itulah resiko pekerjaan Nao. Aku sedikit khawatir dengan Nao, bagaimana kalau terjadi apa-apa? Siapa yang menjaga Naka? Ah, aku sendiri merasa aneh dengan diriku. Aku terbiasa bergaul dengan wanita, tapi tak pernah sekalipun terlintas kekhawatiran akan bagaimana mereka nantinya. Bukannya sombong, tapi aku pria normal yang suka berpetualang dan mencoba hal baru. Apalagi aku belum lama mengenal Naomi, itupun kalau Nao merasa mengenalku. Hyung-hyung ku pasti menertawakanku jika bisa membaca pikiranku saat ini. Aku sibuk sendiri dengan argumen dalam pikiranku selama proses shooting hari ini.

Giliran adeganku sudah selesai, Jung Geun masih belum datang juga. Aku pamit undur diri pada produser. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Aku berjalan menuju mobilku saat aku melihat Nao. Ah, kurasa memang aku ditakdirkan bertemu dengannya terus. Dia nampak sedang berberes saat ponselnya tiba-tiba berdering. Aku menghampiri dan berdiri dibelakangnya. Nampaknya dia tidak menyadari kehadiranku.

“Ya, Kousuke disini. Apa? Dimana? Lalu bagaimana keadaannya?!”, ada nada panik di suara Nao. Dia nampak cemas.

“Baik, terimakasih. Aku segera kesana!”, Nao lalu menutup sambungan teleponnya. Dia tampak tergesa. Sesuatu telah terjadi.

“Ada apa?”, aku menepuk bahunya. Dia menoleh terkejut.

“Aku tak punya waktu berdebat denganmu.”, jawabnya datar. Dia bergegas pergi tapi naluriku berkata ada sesuatu yang buruk menimpa Nao.

“Hey, aku bertanya bukan mengajak berdebat.”, aku memegang kedua bahu Nao dan memutarnya menghadapku.

“Aku tak punya waktu. Aku harus pergi. Naka membutuhkanku.”, dia hendak berbalik tapi aku mencengkeram bahunya.

“Apa yang terjadi pada Naka?”

“Akh! Sakit, bodoh!”, aku mencengkeram bahunya terlalu kuat. Aku melepaskannya. Aku sebenarnya tidak terima dikatai bodoh oleh Nao, tapi untuk kali ini aku abaikan.

“Naka kecelakaan dan aku harus ke rumah sakit. Puas telah menghalangiku?”, Nao mendorongku, cepat-cepat berbalik dan bergegas berjalan. Aku mencerna kata-kata dinginnya cepat. Aku langsung berlari ke mobilku dan kuhadang Nao.

“Ayo kuantar. Dan jangan coba-coba menolak.”, secara mengejutkan Nao menerima tawaranku. Aku mengemudi cepat ke rumah sakit tempat Naka dilarikan. Nao tampak tak tenang, begitu pula aku. Aku tak bisa membayangkan tawa riang Naka berubah menjadi wajah pucat menderita.

Kami sampai di rumah sakit tak lama kemudian. Aku dan Nao bergegas bertanya pada bagian informasi. Rupanya Naka sudah dibawa ke IGD. Kami bersama menuju IGD dan Nao disambut oleh wajah pucat seorang wanita paruh baya.

“Miya!”, Nao menghampiri wanita yang bernama Miya tadi.

“Nao, akhirnya kau sampai. Naka, dia berlari setelah menuruni tangga flat. Dia tak memperhatikan jalan. Ada mobil yang melaju dan Oohh..”, wanita tadi tampak tak kuasa menahan air matanya. Dia memeluk Nao yang juga tampak sedih. Air mukanya seketika berubah mendengar penjelasan wanita tadi. Buliran bening pun lolos dari sudut matanya. Nao tampak lemas dan merosot dari pelukan Miya. Aku dengan sigap menangkapnya. Nao yang biasanya keras dan dingin kini menjadi lemah dan ringkih seketika.

Aku mendudukkannya di depan ruang IGD tempat Naka sedang ditangani. Nao lemas menangis dalam diam. Aku membawa kepalanya kedalam dekapanku. Bukannya mencari kesempatan, aku hanya merasa perlu melakukannya untuk sedikit memberi ketenangan padanya. Nao menangis deras, bisa kurasakan dari guncangan bahunya karena terisak dalam pelukanku. Seorang suster tampak keluar dari IGD. Dia melepas maskernya dan bertanya pada kami.

“Siapa diantara Anda yang adalah orang tua Kanaka Kousuke?”

“Saya suster.”, Nao berdiri dan mengusap air matanya.

“Kanaka kehilangan banyak darah dan kami kehabisan stok darah A. Apa golongan darah Anda, Nyonya?”, jelas suster tadi.

“Ya Tuhan!”, Nao menutup wajahnya tampak depresi. “Aku bergolongan darah B.”, Nao tampak terisak kembali duduk tak berdaya. Aku bangkit dan menepuk bahu Nao.

“Saya bergolongan darah A, suster. Ambil saja darah saya.”

“Ikut saya, Tuan.”, aku melepas jas ku dan mengikuti suster tadi. Nao terkejut mendengar kata-kata ku. Dia menatapku tak percaya dan aku hanya membalasnya dengan tersenyum.

 

Dua jam dilewati Naka dalam masa kritisnya. Memang belum sadar, tapi kata dokter dia sudah baik-baik saja. Aku baru bangun dari tempat pengambilan darah. Aku menemui Nao. Masih sedikit pusing, tapi aku sudah cukup istirahat.

“Bagaimana keadaannya?”, tanyaku. Nao menatapku lekat. Masih ada beberapa jejak air mata di pipi Nao. Dia bangkit dan berlari menubrukku. Nao memelukku dan menangis lagi.

“Ma’afkan aku, Seungri-san. Ma’af atas segala perlakuan ku selama ini. Aku berterima kasih kau memaksa mengantarku dan menolong putraku. Terima kasih. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa.”, Nao tampak terisak hebat. Aku bingung dan hanya membalas pelukannya. Aku mengelus punggungnya agar ia tenang. Sesaat setelah kurasa dia agak tenang kujauhkan dia dari dadaku.

“Hey, jangan bicara begitu. Sudah seharusnya aku menolong.”, aku menghapus buliran bening di pipi Nao lembut dan menuntunnya duduk di kursi.

“Bagaimana keadaan Naka?”

“Berkat kau dia baik-baik saja. Kata dokter baru boleh menjenguknya setelah dia sadar.”, jelas Nao.

Aku menyandarkan punggungku di kursiku sambil memejamkan mata. Aku tersenyum kecil.

“Jadi kita berdamai?”, tanyaku out of topic. Nao mencubit lenganku keras.

“Aww! Sakit Nao!”, aku mengelus bekas cubitannya.

“Aku bersikap dingin karena aku memiliki alasan sendiri.”, Nao membuka ceritanya. Aku membenarkan posisi dudukku.

“Aku tahu kau bertanya-tanya soal mengapa aku begitu dingin padamu, Seungri-san.”

“Bagaimana kalau Seungri-kun? Kedengarannya lebih bagus.”, Nao memandangku dan mengangkat alisnya. “Seungri saja kalau begitu.”, koreksiku. Aku tersenyum mencoba menularkannya pada Nao. Dia menyunggingkan senyum di bibirnya. Ada lesung pipi tunggal di pipi kanannya. Manis sekali.

“Naka adalah anak diluar nikah.”, Nao memulai ceritanya. Aku berusaha mendengarnya baik-baik tanpa menyela.

“Aku masih sangat muda. Aku dan Hiro, ayah Naka terpaut 5 tahun. Kau kenal Satoshi, kan?”, aku mengangguk pasti.

“Hiro adalah adik Sato-kun. Aku mengandung Naka saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA.”

“Aku memberitahu Hiro tentang kehamilanku. Tapi Hiro tak mau bertanggung jawab. Dia malah pergi mengejar mimpinya menjadi aktor. Hiro menganggap kehadiranku dan Naka akan menghalangi langkahnya menggapai mimpi. Aku tak bisa berbuat banyak.”, mata Nao tampak berkaca-kaca kembali mengenang masa lalu pahitnya. Lelaki yang bernama Hiro ini harus dihajar!

“Aku dikeluarkan dari sekolah. Aku hampir tak punya harapan. Ayah dan ibuku mengusirku dari rumah karena menganggapku mempermalukan keluarga. Aku bingung harus pergi kemana.”

“Dan datanglah Satoshi. Dia tahu adiknya adalah laki-laki brengsek. Satoshi lah yang memberiku tempat tinggal flat yang kutempati sekarang. Dia menghidupiku sebagai ganti tanggung jawab kebrengsekan adiknya. Dia jugalah yang memberiku pekerjaan sebagai stunt.”

“Menjadi stunt itu berbahaya. Kenapa tidak pilih pekerjaan lain?”, tanyaku.

“Aku tak punya latar belakang pendidikan yang luas, Seungri. Aku hanya pernah menguasai ilmu karate dan wushu. Itulah mengapa aku memilih, bukan tapi menerima pekerjaan sebagai stunt.”, sambung Nao. Aku hanya mengangguk-angguk.

“Lalu bagaimana nasib Hiro sialan itu?”, aku kesal sendiri mengingat betapa kejamnya laki-laki itu. Nao tertawa kecil mendengar caraku menyebut nama ayah Naka.

“Dia tewas dalam kecelakaan mobil sehari tepat sebelum Naka lahir. Tapi aku tak pernah menanamkan nilai buruk Hiro pada Naka. Aku hanya mengatakan bahwa dia belum bertemu ayahnya. Itu saja.”, sekarang aku jadi mengerti maksud dari kata-kata Naka tempo hari.

“Itulah alasan mengapa aku dingin padamu. Bukan hanya padamu, hampir setiap laki-laki. Hanya pada Satoshi aku melunak.”, aku jadi mengerti betul perasaan Nao. Yah, dia pasti trauma akan perlakuan laki-laki. Hati kecilku sedikit bertanya ‘apa ada juga wanita yang sakit hati karena perlakuanku pada mereka, ya?’. Tapi aku segera mengenyahkannya jauh-jauh. Aku pria baik, kan?

“Tapi aku tidak seperti Hiro sialan itu. Aku anak baik! Ah, bukan. Tapi pria baik! Jadi jangan lagi kau galak-galak padaku.”, aku mendeklarasikan diriku sendiri. Nao tertawa. Aku suka mendengar suara tawanya.

“Aku percaya, Seungri.”

“Lebih baik lagi kalau kau juga sedikit berubah. Tidak semua laki-laki itu brengsek. Contohnya Satoshi dan aku. Masih banyak orang lain yang baik di dunia ini.”, aku sudah meniru gaya Young Bae-hyung saat menasehati Nao.

“Mungkin. Aku rasa bertemu denganmu mengubah banyak mindset ku tentang hidup. Terima kasih, Seungri.”, ucap Nao.

“Oke! Jadi teman ya? Tidak galak-galak lagi?”

“Ah, ya ya. Kau ini. Naka bahkan sepertinya bisa bersikap lebih dewasa daripada kau, Seungri.”, kami tertawa bersama. Dokter berjalan mendekat ke arah kami. Dia memberitahukan bahwa Naka sudah sadarkan diri. Nao langsung bangkit dan mengikuti dokter ke ruang inap Naka. Aku mengekor dibelakang Nao. Nao masuk kedalam kamar Naka. Aku memilih menunggu diluar pintu membiarkan Nao menemui Naka terlebih dahulu.

“Sayang.”, Nao memanggil Naka penuh kasih. Dia mengecup kening Naka lembut.

“Ibu, aku..”

“Ssstt. Sudah, ibu tak akan memarahimu.”, Nao memotong kata-kata Naka.

“Ah, ada seseorang yang harus kau temui, sayang. Dia yang menyelamatkanmu.”, Nao berjalan menuju pintu dan menarikku. Sebenarnya aku tak ingin menemui Naka. Tapi Nao memintaku.

“Hey, Naka kecil.”, sapaku.

“Paman?”, Naka baru akan bangkit tapi aku menahannya.

“Tiduran saja. Kepalamu masih sakit. Kau tak mau kan ibumu menangis lagi?”, aku melirik ke arah Nao yang sudah men-death glare ku. “Jangan buat ibumu cemas lagi ya.”, aku buru-buru menambahkan sebelum Nao benar-benar membunuhku dengan tatapannya.

“Paman Seungri memang orang yang baik.”, ujar Naka.

“Istirahatlah.”, aku meninggalkan Naka dan berjalan keluar kamar Naka. Di saat yang bersamaan ada panggilan masuk di ponselku. Dari Jung Geun ternyata.

“Ya, hyung? Iya aku akan segera pulang… Iya, ma’af… Iya-iya aku akan pulang sekarang. Nanti kujelaskan di hotel saja.”, aku menutup sambungan telepon. Nao sudah berdiri di belakangku tanpa kusadari.

“Ada masalah?”, tanya Nao.

“Bukan masalah. Hanya managerku yang bawel.”, aku berbalik menjawabnya.

“Jangan begitu. Ma’af ya. Ini semua gara-gara kau menolongku.”, ujar Nao.

“Sudah seharusnya aku menolongmu. Jangan bicara begitu.”, aku menepuk puncak kepala Nao lembut.

“Hey, bukan berarti damai kau bisa menepuk kepalaku seenakmu.”, Nao menepis tanganku. Aku tertawa.

“Kau terlihat semakin cantik kalau marah.”, godaku.

“Aku memang tak lebih tua darimu. Tapi rayuanmu tak akan mempan untukku, Seungri.”, Nao melipat tangannya di dada. Aku tertawa lagi.

“Aku pulang dulu. Jaa ne.”

“Arigatou, Seungri.”

“Doita. Sampaikan salamku pada Naka.”, aku pergi dan melambai pada Nao. Langit sudah gelap saat aku menyusuri jalan pulang. Hari ini memang melelahkan, tapi aku puas. Banyak pelajaran hidup yang aku dapat dari Nao dan Naka. Sepertinya aku akan tumbuh menjadi pria yang lebih baik.

 

***

“Apa kita harus pulang sekarang, hyung?”, tanyaku pada Jung Geun. Kami sedang berkemas untuk kembali ke Seoul.

“Kenapa? Nanti kan juga kembali lagi ke Jepang.”, jawab Jung Geun.

“Atau jangan-jangan kau mulai tak bisa meninggalkan Jepang gara-gara Naomi?”, Jung Geun menggodaku.

“Ah, jangan konyol hyung. Berhentilah menggodaku.”, aku mendelik pada Jung Geun yang sepertinya suka menggodaku akhir-akhir ini. Nao memang tidak muncul seminggu ini. Mungkin ia terlalu sibuk mengurus Naka yang sedang sakit. Sebenarnya ada keinginan untuk berpamitan pada Nao ke flat nya. Tapi bukannya itu aneh? Aku, maksudku Nao sudah punya anak. Lalu memangnya kenapa? Hey, aku tak terbiasa berhubungan dengan wanita yang sudah memiliki anak! Argumen-argumen semacam itu terus bergaung di kepalaku. ‘Apa benar ya kata Jung Geun?‘, pikiran itu sempat mampir di kepalaku. Tapi aku menepisnya jauh-jauh. Aku menyelempangkan tas ku. Aku jadi teringat Nao lagi. Bagaimana awal pertemuan kami dan sampai akhirnya bisa dekat dengan Nao dan Naka. Aku jadi tersenyum sendiri mengingatnya.

“Nah! Benar, kan Seungri sedang jatuh cinta!”, suara Jung Geun tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Hyuuuuuunnngggg!!!”, teriakku. Aku menghentakkan kakiku kesal. Jung Geun tertawa senang dan kabur sebelum aku sempat menimpuknya dengan apa saja yang ada di dekatku. Tertawalah Jung Geun! Aku segera menyusulnya turun dan pulang ke Seoul.

 

***

“Kau yakin tak mau berpamitan pada kekasih baru mu?”, goda Jung Geun. Aku memutar bola mataku bosan. Ah, dia sudah menggodaku sepanjang jalan tadi. Dia sepertinya bahagia berhasil memojokkanku.

“Terserah apa katamu, hyung.”, aku memilih menyerah saja. Semakin aku menampik sepertinya semakin gencar ia menggodaku.

“Tunggu sampai yang lain tahu!”, Jung Geun mengeluarkan ekspresi bak seseorang yang menemukan harta karun berlimpah. Kami turun dari taksi. Untuk keberangkatan kali ini pun kami menggunakan gate yang berbeda. Aku sedang bad mood gara-gara Jung Geun. Aku menunggu Jung Geun yang sedang mengantre di pemeriksaan barang saat seseorang memanggilku. Aku mengenal suaranya.

“Paman!”, aku menoleh dan mendapati Naka sudah berlari ke arahku. Aku berjongkok dan menyambut pelukannya.

“Hey, siapa yang membiarkanmu berlari-lari dengan kepala diperban begitu? Seperti mummy saja.”, candaku.

“Aku ingin melepas paman sebelum pulang ke Seoul.”, katanya riang. Aku memeluknya gemas. Kulihat Nao berjalan mendekati kami.

“Dia sangat memaksa. Sepertinya kau menjadi idola barunya.”, ucap Nao. Aku tertawa dan berdiri.

“Aku akan kembali lagi ke Jepang.”, jawabku.

“Aku tak perlu tahu itu.”, jawab Nao.

“Hey, jangan dingin begitu dong.”, sanggahku. “Kan kita sudah berdamai.”, sambungku. Nao tertawa mendengarku.

“Nah, begitu kan cantik. Ya kan Naka?”, aku tulus mengucapkannya. Naka mengangguk mantap. Nao tampak salah tingkah. Aku mendekati Naomi.

“Jangan mengajari putraku merayu wanita. Kau mau apa?”, tanya Nao was-was. Aku menepuk kepalanya. Aku mulai menyukai hal ini.

“Terima kasih sudah mengajarkanku banyak hal dan membiarkanku mengenal Naka.”

“Harusnya aku yang berterima kasih. Kau banyak membantu menyelamatkan Naka. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika saat itu aku tak datang bersamamu.”, tukas Nao. Aku membelai wajah Nao dari kepalanya turun ke pipinya. Ada perasaan aneh dalam hatiku. Kulihat Nao juga tak menolaknya.

“Hey hey. Kalian ini membiarkan tontonan seperti itu dilihat anak dibawah umur.”, suara sumbang Jung Geun kembali menggangguku. Akhir-akhir ini dia begitu menyebalkan.

“Apa maksudmu dengan ‘tontonan seperti itu’, hyung?”, aku menghujatnya. Nao tertawa tersipu. Dasar Jung Geun! Membuatku malu saja!

“Aku pulang dulu ya?”

“Aku tak peduli.”, jawab Nao.

“Yah, memang sudah nasibmu terus mendapat penolakan, Seungri.”, celetuk Jung Geun. Aku menginjak kakinya keras karena batas kesabaranku sudah habis. Dia mengaduh keras dan Naka sampai tertawa karenanya.

“Sampai jumpa ya Naka.”

“Paman ayo ambil gambar dulu denganku!”, ajak Naka. Aku tak keberatan. Aku mengajak Naka berpose favoritku. Senyum lebar dan jari membentuk huruf ‘V’. Nao ku ajak tapi tak mau.

“Jaa ne. Aku akan mengunjungi kalian saat ke Jepang lagi.”, ucapku.

“Jaa, paman Seungri. Hati-hati.”, aku melambai pada mereka berdua. Aku dan Jung Geun berjalan menuju pesawat kami. Aku terus tersenyum tak peduli dengan Jung Geun yang terus menggodaku. Tak apalah sekali-sekali menikmati sensasi baru. Dunia itu indah dengan segala warna cintanya, kan?

 

-FIN-

 

A/N: Huaaa!!! Ma’afkan saya jika readers muntah! Saya kurang berbakat dalam komedi. Gomen ne? Jebal mianhaeyo m=,=m

Btw, ini storyline ketiga saya lho… #prokprok. Ga disangka ternyata menggambarkan seorang Seungri tanpa menjadi OOC itu cukup sulit. Saya selalu gemas dengan sikap tengil dan playboy Seungri. Itulah mengapa disini saya coba ‘hajar’ (eebuset!?!) dia dengan perasaan cinta yang tak biasa. Tapi saya juga penasaran dengan figurnya yang seorang sulung. Makanya jadilah yang kaya diatas itu. Aneh kah? Gaje kah? Ingat ya ini hanya fiktif. Saya yakin Seungri masih cukup selektif saat memilih cewek, kok. Semoga bisa menghibur dan tidak ada korban (?) gara-gara storyline aneh ini. Budayakan “leaving traces” alias review! #maksa. Akhir kata, sempurna hanya milik Tuhan dan kekurangan jelas pada saya. Wish You a Happy Reading!! ^^