--2 (1)Title       : SCENE #7 A FORM OF MEMORIES ABOUT YOU

Author      : diff

Main Cast   : Park Sandara (sebagai aku), Kwon Jiyong (sebagai kamu)

Length      : Chapter(s)

Rate        : General, Romance

Disclaimer  : Terima kasih untuk teh Rina yang sudah ‘memaksa’ saya membuat cerita ini

 

Kembali mengatakan, meskipun seharusnya saya melihat dari sudut pandang orang lain, tapi lagi-lagi saya justru curhat sendiri… >.<

Semoga pada semakin nyaman baca cerita ini.. nggak berharap muluk2 kok,, cuman pengen ngebagi cerita saja.. karena menurut saya “Berkhayal itu nggak salah dan berbagi khayalan itu juga nggak masalah,”

Terima kasih mimin yang baik #peluk cium mimin xoxo

Enjoy dengan cerita ini yaaa… ^o^/

 

SCENE #7

Putihnya plafon kamarku mengingatkanku pada beberapa scene kenangan yang tiba-tiba merajuk untuk diingat. Semuanya melibatkanmu. Ah, lagi-lagi kamu.. bisakah jika untuk sekali ini, kamu berdiam dulu dalam laci memoriku?

=.=.=

Panik. Sepertinya aku memang sudah identik dengan kata itu. Dengan memori otak yang cukup pendek, dimana aku sering melupakan hal-hal penting dan malah mengingat detail kecil. Bagaimana mungkin aku melupakan tugas pagi ini dan malah begadang semalaman demi menuntaskan Septimus Heap..

Ah, kepada siapa aku harus bergantung sekarang?

Tiba-tiba saja namamu terbersit dalam kepalaku. Meskipun awalnya aku ragu, tapi kuberanikan diri untuk menghubungimu. Mencoba mengabaikan cerita orang bahwa kamu ini adalah orang yang enggan direpotkan. Tapi waktuku tinggal satu setengah jam, dan aku tidak ingat siapa lagi yang mengikuti kuliah ini selain dirimu.

“Tolong aku, bisakah aku menyontek tugas milikmu?” tanyaku melalui sambungan telepon. Aku segera meneleponmu, tidak mau menunggu lama dengan mengirimimu SMS, karena kadang kamu memasang silent mode.

Dalam lima belas menit, kamu sudah berada di depan rumah apartemenku.

“Biar aku yang kesana.” Katamu saat aku memutuskan untuk mendatangi rumahmu setelah kamu memberikan persetujuan.

Dan banyak yang tidak percaya saat aku bercerita bahwa kamu membiarkan pekerjaanmu kucontek dengan suka rela, bahkan kamu mengantarkannya sendiri ke rumah apartemenku.

=.=.=

Menyebalkan sekali saat aku harus menggotong kardus-kardus berisi buku-buku untuk kegiatan club ini sendiri. Lalu apa fungsinya mereka yang mengaku sebagai namja itu yang justru duduk bercengkrama di selasar sana?

Ah, masa bodoh! Aku harus segera membawa kardus-kardus ini ke lantai tiga.

“Sini, biar aku yang bawa.” Dan kamu langsung mengambil alih kardus dalam pelukanku. Membawanya tanpa kuminta. “Biar nanti aku yang bawa. Kamu naik dulu.” Tambahmu saat aku hendak mengambil kardus lain yang masih tergeletak di depan pintu masuk.

=.=.=

Sudah hampir tengah malam. Aku benar-benar ragu  untuk kembali ke apartemenku malam, ani, pagi ini. Tapi jarak rumah temanku ini terlalu jauh untuk kutempuh esok – dengan bus paling pagi atau taksi sekalipun, karena aku harus masuk kelas pagi. Lagipula aku tidak yakin aku akan bisa dengan mudah beranjak dari tempat tidur jika keadaan tubuhku saja sekarang ini terasa remuk.

“Biar aku yang mengantar Dara pulang.” Katamu tanpa ada yang meminta.

Semua orang menatapmu.

Hanya aku satu-satunya yang berkeras untuk tidak tinggal menginap, karena alasan kuliah pagiku itu. Ditambah lagi, ada tugas lain yang belum sempat kuselesaikan, dimana aku tidak mungkin bisa mengerjakannya di tempat lain karena materinya kutinggal di apartemen.

Kutolak tawaranmu karena aku akan merepotkanmu. Jika mengantarkanku pulang, kamu akan memutar jauh untuk bisa sampai di apartemenmu sendiri.

“Jangan banyak protes, kamu ini yeoja. Bahaya pulang sendiri tengah malam begini.” Perkataanmu enggan dibantah.

=.=.=

Kenapa lagi-lagi aku teringat padamu?

=.=.=

Sebentuk kenangan tentangmu.

 

To be continue

 

Aigoo~ semakin banyak yang saya ingat… >.< #lupakan cepat!!