--2 (1)Title       : SCENE #8 THE END

Author      : diff

Main Cast   : Park Sandara (sebagai aku), Kwon Jiyong (sebagai kamu)

Cameo       : Dia (?)

Length      : Chapter(s)

Rate        : General, Romance

Disclaimer  : Terima kasih untuk teh Rina yang sudah ‘memaksa’ saya membuat cerita ini

 

Kembali mengatakan, meskipun seharusnya saya melihat dari sudut pandang orang lain, tapi lagi-lagi saya justru curhat sendiri… >.<

Semoga pada semakin nyaman baca cerita ini.. nggak berharap muluk2 kok,, cuman pengen ngebagi cerita saja.. karena menurut saya “Berkhayal itu nggak salah dan berbagi khayalan itu juga nggak masalah,”

Dan ini adalah chapter terakhir…😀

Terima kasih mimin yang baik #peluk cium mimin xoxo

Enjoy dengan cerita ini yaaa… ^o^/

Apa kabarmu? Apakah kamu rindu padaku?

Tidak tahu apa yang memancing, tiba-tiba saja aku mengingatmu. Mengingat detail tentangmu.

=.=.=

Inikah hari terakhirku melihatmu? Apakah kita tidak akan bertemu lagi?

“Dara, foto..”

“Hana, dul, set, say kimchiii..”

Kutarik kedua sudut bibirku setengah terpaksa. Kenapa? Bukankah seharusnya aku bahagia?

Sudah dari kecil aku membayangkan aku mengenakan toga kelulusan ini. Bahkan harusnya aku lebih bahagia lagi saat melihat tangis haru Eomma saat namaku disebut dengan predikat cumlaude. Tapi tidak. Ada yang salah denganku. Kenapa aku malah merasa sesak?

“Selamat ya,” katamu pada akhirnya.

Baru delapan orang yang telah resmi lulus dan diwisuda hari ini dari kelas kita, aku salah satunya.

Kamu mengulurkan sebuket bunga anggrek berwarna putih. Aku yakin dari bentuknya, ini termasuk jenis anggrek bulan. Meskipun tidak memiliki bakat dalam bercocok tanam, tapi aku masih bisa mengenali berbagai jenis bunga-bungaan. Hei, lagi pula ini adalah bunga favoritku.

“Aku tahu, kamu lebih suka dengan anggrek dibandingkan dengan mawar merah sekalipun.”

Ah, kamu begitu mengenalku.

“Terima kasih.” Jawabku bersikap sopan. Terlalu sopan mungkin. Mengingat apa yang terjadi di antara kita beberapa bulan terakhir.

 

Gelombang pertama yang lulus dari kelas kita. Acara makan malam sebagai perayaan sekaligus ‘pelepasan’ ini sepertinya akan menjadi yang terakhir kita bisa berkumpul lengkap seperti ini.

“Apapun yang terjadi, semuanya wajib datang setiap kali ada yang diwisuda.” Daulat Seunghyun seakan bisa membaca pikiranku.

“Diusahakan..” jawab semua orang sekenanya.

Aura kebahagiaan yang sebelumnya mendominasi, perlahan digantikan oleh isak tertahan saat video yang berisi gambar-gambar kebersamaan kita sejak masa ospek diputar. Kita sengaja menyewa seluruh café. Tidak ingin ada yang mengganggu acara sakral kita.

Tanpa kusadari, setitik air mata jatuh dari kedua sudut mataku. Disusul oleh titik-titik selanjutnya.

Tidak sedikit foto yang menampilkan kebersamaan kita. Kamu dan aku. Saat kita bergi bertamasya ke pantai. Saat kita pergi berkemah. Saat kita di kelas. Saat kita mengerjakan tugas. Dan berbagai macam momen lain yang terabadikan dalam lensa kamera.

Kuhapus paksa air mataku saataku menyadari matamu menatapku lekat dari meja tempatmu berada. Kusunggingkan sebuah senyum palsu untuk menenangkan perasaanku sendiri.

Apakah kedekatan kita dulu hanya akna berakhir seperti ini?

=.=.=

Sudah lima tahun berlalu sejak waktu itu. Apa kabarmu?

Itu benar-benar menjadi saat terakhir kita bertemu. Aku dengan alasan pekerjaan yang berhasil kuperoleh, selalu mangkir dari acara yang dulu telah kita sepakati. Bahkan saat wisudamu pun aku sengaja tidak datang.

Kupandangi jemari tangan kiriku yang kini tak lagi polos. Tahukah kamu, kalau aku akan segera menikah? Apakah kamu sudah menemukan yeojamu?

Badoh. Bodoh. Bodoh.

Setelah sekian lama menata hatiku, kenapa jantungku harus kembali berdetak lebih cepat saat mengingat tentangmu. Bahkan sebelumnya aku bisa dengan leluasa menyebut namamu dalam sebagai obyek pembicaraan saat tidak sengaja aku bertemu dengan Seunghyun lima bulan yang lalu.

Berhentilah Dara, bahkan kamu sekarang sudah menjadi calon istri orang lain. Rutukku pada diri sendiri.

=.=.=

Sungguh aku tidak tahu jalan cerita apa yang Tuhan siapkan untukku.

Saat akhirnya aku dipertemukan kembali denganmu, bukan skenario seperti ini yang ada dalam anganku. Dalam bayanganku, aku sudah resmi menjadi istrinya saat harus kembali menyapamu, dengannya disisiku yang pasti. Di reuni kelas kita mungkin, suatu hari nanti.

 

“Aku berjanji bertemu dengan sepupu jauhku, jangan bertanya dia sepupu jauh yang seperti apa, karena aku juga tidak tahu urutannya dengan jelas. Yang pasti dia adalah sepupu dari pihak eomma. Aku baru tahu kalau juga dia bekerja di sini, eomma yang memberitahuku dan memintaku untuk menemuinya.” Katanya buru-buru menjelaskan sebelum aku bertanya.

Aku tersenyum, tulus. Sedikit membuat deretan gigiku terlihat. “Aku bahkan belum bertanya apapun.” Komentaku.

“Kamu tidak marah?” tanyanya hati-hati.

“Kenapa harus marah?” aku balik bertanya.

“Karena aku membuat janji dengan orang lain saat seharusnya aku bersamamu. Mianhe, tapi aku benar-benar tidak punya waktu..”

“Sst,” aku memotong perkataannya yang panjang, lihatlah dia ini sungguh cerewet rupanya. Padahal semua orang mengenalnya sebagai si pendiam yang dingin. Tapi di depanku dia bisa menjelma menjadi banyak bicara seperti ini. Apakah kecerewetan itu bisa menular?

“Gwenchana.” Aku menyunggingkan senyuman untuk meyakinkannya. Dan benar kata orang. Senyuman itu menular. Dia membalas senyumku. Senyum kesukaanku. Senyumannya mengingatkanku pada senyummu, bahkan saat kami pertama kali bertemu.

 

Dan kamu berdiri di sana, membalas lambaiannya dan berjalan mendekat. Aku tercekat, baru semalam otakku memutar kenangan tentangmu. Dan aku belum siap menghadapimu saat ini.

Matamu melebar saat kamu menyadari keberadaanku disana.

“Nabi,”

Aku merutuk dalam hati, kenapa kamu memanggilku dengan sebutan itu. Selama ini dia menganggap bahwa itu adalah panggilan spesialnya untukku.

Kusunggingkan senyumanku lagi. Mencoba mengatur ekspresiku senormal mungkin.

“Ternyata kalian ini teman kuliah, aku hampir lupa kalau kamu dulu juga kuliah di sana.” Dia terlihat sangat antusias dengan cerita kita kuliah di tempat yang sama, bahkan satu kelas.

Kulirik hatiku, tidak ada debaran abnormal lagi saat aku memandangmu yang jauh lebih matang dari terakhir kita bertemu. Saat hari wisudaku dulu.

“Dunia itu sangat sempit ternyata ya,” kali ini aku yang berkomentar.

=.=.=

Aku menatap nanar gundukan tanah dihadapanku. Ya, dia telah pergi selamanya. Tepat sebulan sebelum pernikahan yang kami rencanakan. Rombongan mobil kantornya terlibat dalam kecelakaan beruntun.

Untuk ketujuh kalinya aku mengunjunginya di rumah barunya. Ini pagi ketujuh sejak hari pemakaman.

Jangan bertanya bagaimana perasaanku. Saat mendengar berita itu, aku hanya jatuh terduduk, tanpa mengeluarkan air mata setetespun. Sejak hari itu, aku tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Ini sungguh aneh, karena aku adalah seorang yang cengeng dan aku adalah seorang yang cerewet. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi aku merasa kosong. Benar-benar kosong.

Aku tidak menanggapi semua ucapan bela sungkawa, apalagi rasa kasihan yang diberikan semua orang.

“Kasihan sekali, mereka akan segera menikah.” Bahkan mendengarnya saat tubuh kakunya yang penuh luka baru tiba dari rumah sakit.

 

“Dara.” Aku mengenali suara ini. Suara yang tidak asing.

Kudongakkan kepalaku dan menemukanmu berdiri menjulang tak jauh dari tempatku berjongkok di sisi makamnya.

Belum sempat kamu mengeluarkan suara dari mulutmu yang telah terbuka, air mataku sudah menetes. Aku masih memandangmu dan tak kuasa menahan isakan. Kamu membeku di tempatmu berdiri, menatap haru kearahku yang mulai tersengal dalam tangisku.

=.=.=

End

 

Akhirnya ngeditnya selesai… >o<

Semoga pada suka dan rela dengan ending yang seperti ini… mianhe untuk semua typo dan kesalahan penulisan, atau bahkan mungkin untuk kata-kata atau scene yang menyinggung dan tidak berkenan… salam,