adAuthor : Ms. Yongyong

Title     : Baby…baby… Chapter 7 (end)

Cast     :

  • Kwon Ji Yong
  • Park Hae Yong (You)
  • Other

Genre  : Romance, 17+, Chaptered

Twitter            : @diina_mp

A/N      : Annyeooooooooooooooooonggg yeorobun… akhirnya, setelah sekian lama, baby..baby.. sampai pada ch terahkhir. Maaf bgt ya reader karna ff ini lamaaaa banget kelarnya gara-gara satu dan lain hal hehe. Di ending ini, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada semua reader yang telah setia mengikuti karya saya sejak awal dan bersedia meninggalkan komentar yang memotivasi :DSelamat membaca ending dari ff ini.Semoga reader sekalian tidak kecewa dengan ending yg saya persembahkan. Byeeeeeee ^^

 Previously : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

 

*****

Ji Yong’s Side

Aku melihatnya, sangat jelas walaupun jarak pandangku lumayan jauh dari tempat ia berada. Wanita itu, yang selama ini kucari hingga nyaris menyerah, kini dapat kutemukan.Beberapa hari yang lalu, salah satu dari beberapa orang yang kuutus untuk mencarinya memberikan alamat sebuah rumah ke kantorku.Jadi, di sinilah aku sekarang. Di depan sebuah rumah megah yang terletak tak jauh dari pantai Haeundae, Busan. Setelah beberapa hari mengumpulkan keberanian, akhirnya aku menginjakkan kaki ke tempat sosok yang sangat kurindukan itu berada.Hae Yong duduk manis di sebuah kursi di pinggir taman kecil halaman rumah megahnya yang dipenuhi hamparan bunga itu. Kepalanya tertunduk dalam dengan sebelah tangan yang sibuk mengelusi perutnya yang sudah semakin membesar. Wanita itu pasti tengah berbicara dengan calon bayinya seolah janin di perutnya itu akan menjawab setiap perkataannya. Sungguh pemandangan yang menyentuh hati. Entah karena apa, aku begitu menyukai momen ketika Hae Yong berbicara dengan janin di perutnya. Membuatku sadar bahwa ia benar-benar mencintai janin di rahimnya itu. Tuhan, aku benar-benar merindukan sosoknya.Ingin rasanya kini aku berlari secepat yang kubisa dan membawanya ke dalam pelukanku. Mendekapnya dengan erat agar ia tak lagi bisa meninggalkanku. Mengatakan padanya betapa aku menyesal karena telah menyia-nyiakan ia selama ini. Mengungkapkan betapa jiwa ini resah tanpa hadirnya, betapa hati ini mencintainya.Namun aku belum memiliki keberanian sebesar itu.Rasa takut akan mendengar penolakan dari bibir tipisnya itu selalu sukses menyurutkan niatku untuk menemuinya secara langsung. Aku bahkan  terlihat bagai pecundang yang hanya mampu memperhatikan sosoknya dari balik gerbang tinggi ini sambil menahan rindu. Sungguh menyedihkan. Entah sampai kapan aku akan bertahan seperti ini.

“Hae Yong-ah… maaf… maaf karena segala yang telah terjadi selama ini.maaf karena aku telah menghancurkan hidupmu… maaf karena aku telah membuatmu menderita… maaf karena telah membuatmu melalui hari-hari yang begitu berat seorang diri…”

Deg… Jantungku hampir saja melompat ke luar saat mata indahnya itu nyaris bertemu pandang dengan kedua bola mataku.Hae Yong tiba-tiba saja memutar posisinya menjadi tepat menghadap ke arah dimana aku berada.Sigap aku melangkah lebar-lebar menjauhi gerbang tinggi rumahnya itu sembari berharap Hae Yong tak menyadari kehadiranku dan bersembunyi di dalam mobilku.Bersembunyi?Ya, mungkin terdengar memalukan bagi kalian.Tapi harus kuakui memang itulah yang kulakukan saat ini.Bersembunyi agar keberadaanku tak diketahui olehnya.Sekali lagi kutekankan, aku belum siap untuk bertemu langsung dengannya sekarang.Seperti pecundang?Bukan, aku bukan seperti pecundang.Aku memang seorang pecundang atau bahkan lebih parah lagi daari sekedar pecundang.Kuakui itu walaupun berat karena memang begitulah adanya.

Disaat aku tengah sibuk dengan keterkejutan serta pertengkaran antara hati dan logikaku, sebuah mobil keluar dari gerbang tinggi rumah wanita itu.Jendelanya yang setengah terbuka itu membuatku dapat semakin jelas melihat Hae Yong.Aku terpaku.Rasanya wanita itu berkali-kali lipat lebih menawan lagi dari saat terakhir kali aku melihatnya.Ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya.Kini aku sadar, cinta itu benar-benar telah tumbuh dengan kuat di relungku.Tanpa kusadari sepertinya kehadirannya di kehidupanku selama beberapa bulan terakhir ini telah merubah hatiku.Ia benar-benar telah sukses mengisi kekosongan hatiku dengan segala yang ada pada dirinya. Aku bahkan nyaris kehilangan arah karena tak bisa menemukannya selama beberapa bulan ini.Tuhan, demi nama-Mu aku mambulatkan tekadku. Aku tak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang telah kau berikan. Tak peduli ia akan menerima atau menolak permintaan maafku, aku akan menemuinya sekarang. Siap atau tidak, aku akan melakukannya. Segera kulajukan mobilku.Dari jarak yang aman aku mengikuti kemana mobil wanita itu melaju.Dengan jantung yang berdebar dan sekelebat bayangan buruk yang melintasi pikiranku, terus kuikuti mobil itu.Pantai.Tanpa dikomandoi bibirku melengkung membentuk seulas senyum.Kulihat hae yonng keluar dari mobilnya. Sepasang kaki jenjangnya yang tak lagi beralas  itu melangkah pelan menyusuri pasir pantai. Semilir angin yang mempermainkan rambut ikalnya sama sekali tak membuatnya merasa terganggu. Ia bahkan terlihat sangat menikmati hembusan lembut sang angin. Kini ia mendongakkan kepalanya. Tanpa menghentikan langkahnya kulihat Hae Yong menghela napas dalam.Seperti menikmati setiap keindahan yang melatari keberadaanya itu.

Aku tak lagi bisa mengendalikan diriku.Tanpa pikir panjang segera kulangkahkan kakiku mendekatinya.Mempersempit jarak yang ada diantara kami.Semakin dekat aku dengannya, semakin cepat pula jantungku berdetak.Tak kupungkiri ketakukan itu masih ada di hatiku, namun kerinduan ini begitu besar.Membuat langkah kakiku semakin pasti.Namun tepat sebelum aku benar-benar berada di balik punggungnya, sosok itu tampak limbung.Sebelum aku sempat menyambut tubuhnya, Hae Yong terduduk.Terkulai lemah dengan kepala tertunduk dalam dan sepasang tangan yang memegangi perutnya.

“Hae Yong-ssi… Hae Yong-ssi… jawab aku, kumohon…” kutepuk-tepuk pipinya lembut berharap ia akan membuka matanya.

“Sakit… tolong aku…”

Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirnya.Begitu lirih.Secepat mungkin kuraih tubuh lemahnya dan tepat saat itu kurasakan ada cairan yang mengalir diantara paha Hae Yong.Panik.Aku tak lagi peduli dengan pasir pantai yang tearsa menghambat langkahku.Aku berlari secepat yang kubisa.Dalam hati aku memohon.Sekali lagi aku memohon agar tak ada hal buruk yang terjadi pada Hae Yong dan bayi di rahimnya itu.

Baby…baby…

 

Author’s Side

Ji Yongbergerak-gerak gusar di depan sebuah ruangan rumah sakit tempat Hae Yong menjalani persalinannya. Dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa. Meminta Tuhan untuk menguatkan wanita itu agar semuanya berjalan lancar.Di tengah ketegangannya itu, bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan memenuhi kepalanya.Membuat Ji Yong merasakan takut yang amat sangat. Kenapa semuanya malah menjadi semakin rumit ketika ia telah membulatkan tekad positif? Apakah takdir begitu tak menyetujui jika ia kembali bersama Hae Yong danmenciptakan sebuah cerita dalam kehidupan mereka yang benar-benar baru?Apakah Tuhan tak menginginkan itu terjadi? Atau Tuhan memiliki rencana lain yang benar-benar berbeda dengan apa yang diinginkannya? Mengingat apa yang terjadi saat itu, selama apa yang diinginkan Tuhan bukanlah hal yang buruk bagi Hae Yong, pria itu akan menerimanya dengan lapang dada. Sekalipun itu sangat menyiksanya juga  tak akan masalah baginya. Asalkan Hae yonng tak akan kembali merasakan sakit. Wanita itu sudah terlalu banyak merasakan kesakitan karena dirinya. Jadi jika memang Tuhan memiliki rencana lain untuk Hae Yong, Ji Yongakanmengalah. Menekan ego dan menahan rasa sakit di hatinya demi kebehagiaan wanita yang kini sangat dicintainya.

“Maaf, Tuan, dokter meminta anda untuk mendampingi istri anda di dalam…”

Suara itu memecah lamunan Ji Yong.Membuat segala hal yang memenuhi pikirannya tadi lenyap entah kemana. Tanpa membiarkan perawat yang tadi memanggilnya itu menunggu lebih lama, ia segera melangkah memasuki ruang persalinan. Di sana, di atas sebuah ranjang,Hae Yong tengah berjuang untuk melahirkan seorang calon manusia yang mungkin akan mewarisi berbegai gen miliknya. Darah dagingnya yang kelak mungkin akan begitu mirip dengan dirinya.Terserah itu bayi laki-laki atau perempuan. Pada kenyataannya kelak pasti bayi itu akan mirip dengannya baik dari segi fisik maupun sikap. Hae Yong terlihat begitu kelelahan karena mengejan.Keringat terus mengalir membasahi wajahnya.Ia pasti sangat kesakitan. Berkali-kali ia kembali terkulai lemah di ranjang. Melihat itu membuat Ji Yong merasa begitu terenyuh. Kembali dilanjutkannya langkahnya hingga ia semakin dekat dengan sosk Hae Yong. Tanpa mengatakan apapun, segera diraihnya tangan kanan wanita itu.Menggenggamnya erat.Sesaat konsentrasi Hae Yong terpecah.Ia melihat Ji Yong dengan pandangan heran. Seolah bertanya-tanya kenapa pria itu bisa ada di sisinya.

“Bukankah dulu aku pernah berjanji akan mendampingimu saat kau melahirkan bayi ini?Aku akan menepati janjiku sekarang.Mendampingi dan menggenggam tanganmu. Kau harus kuat, Hae Yong-ssi! Demi bayi yang sangat kau sayangi…”

Tanpa sadar setetes air mata jatuh mengaliri kedua pipi mulus Hae Yong. Ia terharu. Selama ini ia selalu membunuh asa menyangkut kehadiran Ji Yong yang akan menemani perjuangannya. Namun kini pria itu benar-benar muncul mendampinginya.Menggenggam erat tangannya.Seberkas kehangatan menyelimuti hatinya.Semuanya bercampur menjadi satu.Menghasilkan sebuah kekuatan yang tak terbilang besarnya.Kini wanita itu tersenyum. Begitu manis. Tepat setelah pria itu menghapus air matanya, Hae Yong kembali melanjutkan perjuangannya. Sekuat tenaga berusaha mendorong bayi di rahimnya itu agar segera keluar.Melihat betapa indahnya dunia.Dunianya kelak.

Tangisan nyaring seorang bayi membahana di ruangan persalinan itu.Memecah ketegangan diantara semua orang yang ada di dalamnya.Perjuangan Hae Yong telah berakhir.Seorang bayi perempuan yang menggemaskan telah lahir dari rahimnya. Bayi cantik yang akan menambah keindahan dunianya. Baik ia dan Ji Yong hanya mampu tersenyum sembari bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar. Tiada kata.Hanya senyuman dan pelukan hangat yang ada untuk mengungkapkan seberapa bahagianya mereka saat itu.

Baby…baby…

“Bagaimana kau bisa menemukanku, Ji Yong-ssi?Tak seorangpun yang tau tentang keberadaanku di sini.”Hae Yong membuka pembicaraan setelah sekian lama keduanya hanya diam dan menciptakan atmosfir yang begitu kaku di ruang rawat wanita itu.

Ji Yong tersenyum tipis dan mulai menjawab pertanyaan Hae Yong pelan.“Kau harus tau seberapa besar usahaku hingga bisa sampai ke titik ini, Hae Yong-ssi. Aku bahkan nyaris seperti orang gila karena berpikir tak akanbisa menemukanmu. Hampir saja seluruh penjuru di Korea Selatan ini kujelajahi demi menemukanmu.”

Hae Yong sedikit menundukkan kepalanya.Menyembunyikan semburat merah yang muncul di kedua pipinya akibat kata-kata Ji Yong. Tak bisa dipungkiri, apa yang baru saja terlontar dari bibir pria itu telah menimbulan seberkas rasa bahagia di hatinya. Namun rasa itu sedikit demi sedikit kembali hilang saat sebuah kenyataa tiba-tiba saja menyentak kesadarannya. “Bagaimana dengan wanita itu?” Tanya Hae Yong ragu-ragu. Takut akan mendengar sesuatu yang tak diinginkan. “Bukankah kau begitu ingin kembali padanya?Kenapa kau malah mencariku?Kehadiranku hanya akan mengganggu hubunngan kalian.”

Ji Yong tersentak.Ternyata alasan kepergian Hae Yong adalah karena kahdiran Nara.Apakah Hae Yong mendengar percakapan mereka malam itu?Tubuh Ji Yong menegang seketika. Baru saja ia akan menanyakan hal itu, Hae Yong sudah terlebih dulu melontarkan kata-kata yang mengejutkan.

“Apakah kau akan membawa bayiku?Memisahkannya dariku? Untuk itukah kau mencariku?” Tanya Hae Yong dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tidak, Hae Yong-ssi. Aku tak akan pernah menisahkanmu dari bayimu.” Jawab Ji Yong cepat.“Dan mengenai apa yang mungkin saja kau dengar pada malam kepergianmu itu, aku benar-benar minta maaf.Saat itu hatiku benar-benar rapuh.Naradatang dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Alasan dia meninggalkanku saat itu.Jujur saat itu rasa cinta untuk Nara masih begitu kuat di hatiku.Yang terpenting bagiku saat itu adalah kembali bersamanya.Maaf jika ada kata-kataku yang membuatmu terluka. Aku benar-benar rentan saat itu…”

Hae Yong hanya mendengarkan setiap penuturan Ji Yong dalam diam. Jujur hatinya kebas mendengar setiap kata-kata yang keluar dari bibir pria dihadapannya itu.“Lalu untuk apa kau kembali?Bukankah wanita yang kau harapakan sudah jelas-jelas kembali padamu?”

Ji Yong mendongakkan kepalanya.Menatap tepat pada manik mata indah Hae Yong.“Dulu, kembali bersama Nara memang adalah keinginanku yang paling besar.Tapi seiring berjalannya waktu ditambah dengan kepergianmu aku sadar bahwa rasa cinta pada Nara semakin memudar.Aku sadar bahwa kehadiranmu dan bayi di kandunganmu lebih kubutuhkan. Aku bahkan selalu hanya memikirkan cara untuk menemukanmu, tak sekalipun aku memikirkan Nara. Aku hanya menyakitinya dengan hal itu.Semakin hari aku semakin sadar bahwa cinta yang begitu besar itu tak lagi milik Nara.Cinta itu benar-benar telah hilang tanpa kusadari.Sepertinya kebersamaan kita selama beberapa bulan terakhir telah menciptakan cinta yang baru di hatiku. Cinta untukmu dan bayi kita…” Katanya panjang lebar.

Tak ada respon yang jelas dari Hae Yong.Ia masih tetap diam. Bedanya hanya kini kedua bola matanya berani menatap bola mata Ji Yong lebih dalam. Mencoba mencari pembeNaran dari penjelasan yang baru saja di dengarnya.“Apakah aku bisa mempercayaimu?” tanyanya skeptic.

Ji Yong tersenyum hangat.“Tanyakan pada relungmu yang terdalam, walaupun kau tak mempercayaiku saat ini, masih adakah kesempatan bagiku untuk memperbaiki segalanya?Memulai kisah baru bersamamu dan bayi kita?Aku tau, Hae Yong-ssi bahwa kau mencintaiku.Jadi kumohon jangan bohongi hatimu.”

Hae Yong kembali diam. Sesuai perintah Ji Yong, ia menanyakan pada hatinya yang terdalam apakah masih ada kesempatan untuk Ji Yong?Lumayan lama wanita itu terdiam hingga akhirnya sebuah anggukan kecil mengembangkan senyuman lebar di bibir Ji Yong.

Spontan pria itu berlutut dan meraih telapak tangan Hae Yong.“Mungkin ini termasuk waktu yang kurang tepat dan sama sekali jauh dari kesan romantic, namun aku akan tetap melakukannya sebelum kau kembali berubah pikiran.Hae Yong-ssi, apakah kau bersedia menjadi pendamping hidupku? Menjadi wanita yang akan selalu ada di sisiku hingga akhir hayatku? Menjadi ibu dari anakku yang kedua dan selanjutnya serta menjadi satu-satunya wanita yang memenuhi ruang khusus di relungku yang terdalam?”

Hae Yong tersipu malu.Benar kata Ji Yong bahwa baik waktu dan tempatnya tidaklah tepat.Namun baginya lamaran Ji Yong adalah yang paling romantic dan membahagiakan.“Dengan izin Tuhan aku bersedia…” jawab Hae Yong mantap.

Baby…baby…

Epilog

Eomma, aku ingin membuat tulisan di sini…” gadis kecil itu menjulurkan kedua tangan bagian dalamnya pada Hae Yong yang tengah berkutat dengan rutinitasnya di pagi hari –membereskan kamar tidurnya yang selalu berantakan karena dua orang pembuat onar. “Seperti punya appa.”Tambahnya.

Dahi Hae Yong berkerut.Diliriknya kedua tangan gadis kecil itu. Saat mengerti dengan apa yang dimaksud anaknya, Hae Yong tersenyum. “Itu tidak bagus, aegi-ya… tanganmu bisa terluka saat membuatnya.”Kata Hae Yong lembut.

Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya. Tanda protes terhadap penolakan sang ibu. “Eomma tidak seru.Appa bilang itu menyenangkan dan keren.Aku minta buatkan dengan appa saja…” gadis itu mencibir dan berlari kea rah kasur.Mendekati Ji Yong yang pura-pura sibuk dengan I-Pad untuk menyembunyikan cekikikan gelinya.

Hae Yong menatap Ji Yong sebal. Pria itu selalu mengajarkan hal yang aneh-aneh pada putri mereka yang baru berusia lima tahun. Bahkan tak jarang keduanya seolah mengkudeta Hae Yong yang memang selalu menolak permintaan-permintaan aneh putri mereka itu berkat kejahilan suaminya. Tapi tak masalah bagi Hae Yong, karena kudeta yang diciptakan dua manusia itu paling lama hanya bertahan lima menit. Bagaimanapun anaknya menuruti segala ajaran Ji Yong, pada akhirnya tetap Hae Yong yang menang karena memang sejak awal gadis kecil itu sangat dekat dengannya.Bukan berarti dia tidak dekat dengan Ji Yong.Hanya saja kesibukan Ji Yong membuat waktu yang dimilikinya untuk gadis kecil itu tak sebanyak waktu yang dimiliki Hae Yong.Namun walaupun begitu, ketika dua orang itu bersama, Hae Yong selalu saja menjadi pihak yang dijahili.

Appa… kenapa eomma pelit sekali? Selalu saja menolak keinginanku.” Gerutu Ji Hae yang tengah menjulurkan tangannya untuk diukir dengan crayon oleh Ji Yong. Sesekali gadis kecil itu terkikik geli karena crayon yang menggores kulit putih susunya.

Eomma bukannya pelit. Itu tandanya eomma sangat menyayangimu, aegi-ya… Kau tak boleh berpikiran seperti itu pada eomma.Eomma adalah…”

“Orang yang paling menyayangiku.Karena eomma mengandung aku sembilan bulan dan membawaku kemana-mana. Menjagaku sampai aku lahir dan membsarkanku sampai aku seperti sekarang…” Ji Hae melanjutkan kata-kata ayahnya dengan sangat lancar karena saking seringnya Ji Yong mengucapkan kata-kata itu tiap kali Ji Hae mulai berpikiran kurang baik tentang ibunya.“Eomma… aku juga menyayangi eomma. Aku juga akan menjaga dan membawa eomma kemana-mana…”

Hae Yong tersenyum lembut dan melangkah mendekati anak dan suaminya.Bergabung dengan dua orang paling penting dalam hidupnya itu.Memeluk dan mengecup keduanya dengan penuh kasih.

End… ^^

Akhirnyaaaaa ff ini tamat juga  reader. Saya selaku author ingin mengucapkan terima kasih banyak karena reader telah mengikuti ff ini dari awal hingga ending. Maaaf juga kalau ff saya tidak sesuai harapan atau postnya kelamaan.Sampai jumpa di ff saya selanjutnya. RCL ya reader ^^