ABOUT MY PAST 1JUDUL : ABOUT MY PAST

DALANG : ZULAIPATNAM

GENDRE : LIFE | FANTASY | NON CANON

RATED : PG 15

LEGHT : 2 SHOOT (1/2)

CAST : Kwon Ji Young | G DRAGON BIGBANG

Dong Young Bae | Taeyang BIGBANG

OFC | Original Female Character

INSPIRASI : Dari cerpen mingguan Koran jawa pos (aku lupa judulnya T_T)

WARNING: kalau ada ketidak masuk akalan dalam cerita ini maklumin aja, soalnya waktu nulis ini FF sambil mabok. And, jika ada ketidak cocokan mengenai Gerwani dalam FF ini, buruan komenn dan kasih pelurusannya. MATUR NUWUN

 

+++++++

 

Sedikit campuran dari kisah dimasa lalu saat negara ini dalam keadaan carut marut. Sebuah organisasi kaum intelek yang menamakan diri mereka Gerwani muncul, menjadi salah satu anak dari PKI –benarkah ini?- dan itu merupakan satu dari banyak kejadian paling menggemparkan dalam sejarah negara kita.

 

STORY START HERE > > > > >

“terkadang yang kau cari bukanlah yang kau harapankan…”

 

++++++

 

“mana ibuku?.”

Tanyaku padanya, dia mengenakan kaca mata baca dan menunduk lebih dalam mencari sosok yang kuinginkan, jemari tuanya yang keriput menelitik satu persatu sosok di dalam foto usang berwarna coklat tua diatas pangkuanku. Seorang wanita muda, duduk diatas kursi putih yang berderet bersama teman-temannya, mengenakan seragam warna putih dari blush dan rok span dipadu sepatu fantovel hitam mengkilat.

“apa dia ibuku?.”

Tanyaku memastikan, dia mengangguk enggan. Ada sedikit keraguan disana, wanita tua ini mengaku bernama Geum Ah Ra, dia memaksa untuk bertemu denganku semenjak satu minggu yang lalu. Entah apa tujuan awalanya waktu itu, tapi beberapa hari kemudian, sedikit demi sedikit dapat kumengerti alasannya ingin bertemu denganku.

“Apa benar perempuan itu adalah ibuku?.”

Tanyaku lagi memastikan, sebuah anggukan kecil kembali ia sodorkan, menjadikanku menunduk lebih dalam. Menelitik sosok yang masih ia tunjuk.

Apa benar wanita ini adalah ibuku?.

“Hang Seo Byul.”

Han Seo Byul?, apakah itu nama ibuku?.

“Gadis muda yang sangat bersemangat, suaranya tinggi seperti burung pipit, kakinya panjang seperti jerapah, cara berjalannya tidak anggun, gaya bicaranya ceplas-ceplos dan apa adanya. Dia kutunjuk sebagai wakil humas saat itu.”

Ibuku, diakah ibuku. Aku masih tidak percaya, jantungku berdetak tidak karuan tatkala dia mulai bercerita mengenai kehidupan dan sifat ibuku dimasa lalu. Kuelus ringan foto ibu, sebuah senyum terukir jelas di sudut bibirnya yang indah. Yah, bibir dan senyum yang kurasa hampir sama denganku. Hanya saja tatapan mata ibu begitu lembut, tidak seperti milikku yang terkenal tajam sehingga beberapa orang menganggapku sebagai laki-laki yang bengis.

“dia jatuh cinta pada tentara yang bersembunyi di kamp tidak jauh dari tempat organisasi kami berada. Mereka memadu cinta dan itu membuat kami cemburu, Seo Byul sangat mencitai tentara itu. mereka bahkan berniat untuk menikah selepas tugas si tentara rampung. Tapi-

“kejadian itu terlanjur terjadi”

Tebakku dan mendapati anggukan kecil darinya, matanya terpejam mengingat memori di masa lalu kembali.

“aku benar-benar tidak menyangka jika dia tengah hamil saat itu. sekitar 7 bulan kami di sekap di ruangan gelap, tidak diperkenankan merasakan hangatnya cahaya matahari dan hanya diberikan kesempatan bernafas tanpa melihat apapun disekeliling kami.”

“lalu bagaimana nasib ayahku?. Apa dia sama sekali tidak mencoba membantu ibuku agar terlepas dari siksaan mereka?. Bagaimana hubungan mereka kemudian?.”

Geum Ah Ra menggeleng lemas.

“apa maksud gelenganmu itu?.”

Geramku menahan sesak di dada, memikirkan bagaimana siksaan yang dialami ibuku saat dia mengandungku dan tersekap di dalam penjara gelap gulita. Tak kunjung kudengar jawaban dari wanita tua ini, hingga tanganku mengepal, merasa begitu geram akan kebingasan mereka terhadap ibuku, apa salah beliau hingga mereka menghukum ibu dan teman-temannya sedemikian rupa. Dan kini kepalaku mulai bertanya-tanya, dimana keberadaan ayahku?.

“kenapa kalian tidak menjelaskan tentang kebenaran organisasi itu. bukankah kalian bukan komunis waktu itu?. setidaknya jika ada yang dapat menjelaskan dan mengerti, ibuku tidak mungkin mengalami siksaan dan harus terpisah dengan ayah.”

Tanyaku kembali, mencoba mengorek informasi akan kebenaran Gerwani yang menyebar. Gelengan kecil menghiasi jawabanku, air mata setitih turun dari pelupuk mata yang keriput tersebut.

“kami dijebak.”

Jawabnya singkat.

“siapa yang menjebak kalian?.”

“Cerita ibumu lebih penting dari siapa yang mengukir sejarah busuk negara ini.”

 

+++++++

 

Sepulangnya, wanita tua berambut putih penuh yang membawa tongkat untuk penyangga tubuhnya. Kuhempaskan tubuhku di sofa kantor, tidak kusangka jika wanita itu akan datang secepat ini padaku. Menceritakan tentang ibu yang bertahun-tahun tak pernah kulihat wajah dan merasakan hangat kasih sayangnya.

Krieeek

Pintu kantorku terbuka, menampakkan sosok kecil bertubuh tambun. Ditangannya terdapat nampan dengan secangkir kopi hitam yang baru saja kupesan. Huh, kenapa orang-orang datang secepat yang tidak kunginginkan.

“permisi tuan Kwon. Pesanan bapak.”

Ungkapnya saat mendapati tatapan bertanyaku.

“letakkan saja di atas meja. Terimakasih.”

Dia masuk kedalam kantor, membungkuk dihadapanku sambil meletakkan cangkir kopi tadi. selesai melakukan tugasnya, dia buru-buru berjalan keluar. Baru kusadari saat ini, rona ketakutan terpancar diwajah OB itu. Apa ada yang salah denganku?.

 

+++++++

 

“tidak kusangka, ternyata Kwon Ji Young itu bukan anak kandung Tn Kwon.”

“dia itu anaknya Gerwani.”

“kita harus hati-hati, siapa tahu Jika Ji Young akan melakukan hal keji seperti para gerwani itu.”

Tidak kuperhatikan mereka, dengan menenteng koper ditangan dan jas di tangan satunya, kutelutusi lorong menuju lift. Bagaimana bisa mereka mengetahui semua ini?. aku saja baru tahu mengenai kebenaran keluargaku beberapa minggu yang lalu. Siapa yang membocorkan hal ini?.

TING

Pintu lift tertutup, hanya ada aku sendiri di dalam lift ini, kunikmati saat itu dengan menyandarkan tubuhku di dindingnya. Merasakan getaran turun menuju lantai terakhir.

TING

Kembali lift terhenti, membuatku segera menegaskan posisi tubuh agar tidak terlihat begitu menyedihkan. Lift terhenti di lantai 6, seorang perempuan masuk kedalam bersamaku. Dia meneteng tas jinjing, mengenakan blush dan rok span warna putih, sebuah spatu fantovel mengkilat menghiasi kaki jenjang kecilnya. Menciptakan bunyi merdu saat langkahnya masuk.  Aku tidak pernah melihat perempuan ini sebelumnya, apa dia pegawai baru?. Tanyaku heran, perempuan ini terlihat sangat klasik, berpenampilan begitu sederhana dengan rambut hitam legap yang bergelombang sebahu.

anyeong haseo.”

sapanya padaku sangat ramah, seulas senyum terukir dan itu terlihat sangat indah. Mengingatkanku pada refleksi diriku pada dinding lift. Kumiringkan kepalaku sedikit, mencoba mengamati tentang perempuan di hadapanku, dia kini memunggungiku dan hanya dapat kuperhatikan wajahnya dari pantulan dinding.

“kau sudah besar.”

“MWO…?”

Tanyaku tidak mengerti, dia menanyakan apa?.

“OMMA…”

Mataku berkunang-kunang, perempuan ini?.

 

++++++

 

“kami menemukan tuan di lift, terbaring seorang diri dalam keadaan pingsan.”

“seorang diri?.”

“ya.”

“tidak ada perempuan berbusana putih di sana?.”

Mereka menebar tatapan bingung, seolah berfikir jika otakku sudah rusak sejak kejadian pingsanku tadi. Kupegangi kepalaku yang kembali berdenyut tidak nyaman, membuat dokter itu mendekatiku dan berniat membaringkan tubuhku kembali di atas ranjang.

“tidak perlu, aku bisa sendiri.”

Tolakku halus dan dokter itu mengangguk.

“saya akan kembali jika tuan memerlukan bantuan.”

Kurengkuh guling disamping tubuhku, memeluknya begitu dalam hingga rasanya tubuhku menjadi hangat. Sangat hangat malahan.

“OMMA…”

Ucapku tanpa sadar, mengingat perempuan di dalam lift tadi. wajahnya dan wajahku terukir sebuah kemiripan meski tidak begitu ketara. Siapa perempuan itu?. kepalaku benar-benar pusing akibat kejadian tadi. kurasa aku harus kembali menemui wanita tua tadi pagi di kantor.

 

++++++

 

Sambil jengah, kuturuni tangga menuju ruang tengah. Menjumpai appa dan omma yang sudah bersiap-siap dimeja makan. Hubunganku beberapa hari ini dengan mereka tidak terlalu dekat, tentu saja semuanya karena kebenaran yang baru kuketahui. Aku bukan anak kandung mereka.

“kau sudah baikan, sayang?.”

Tanya omma menghampiriku, menggiring tubuh kurusku menuju kursi kosong yang berada disamping beliau.

appa dengar tadi kau kedatangan tamu di kantor?.”

Aku mengangguk malas.

“siapa dia?.”

Tanya omma penasaran. Kutatap omma yang menatapku dengan tatapan ingin tahunya.

“Geum Ah Ra.”

Jawabku singkat. Tidak spesifik hingga menimbulkan brondongan pertanyaan. Kuceritakan semuanya pada omma dan appa mereka membungkam bibir sejenak. Merasa tidak percaya tentang siapa ibu kandungku sebenarnya.

“apa kalian menyesal telah mengangkatku menjadi putera kalian?.”

Tanyaku tanpa sadar, gemelitik di dada memaksaku mengatakan kalimat itu saat melihat tampang ketidak percayaan mereka. Omma menggeleng cepat, tangannya menggerayai punggung tanganku dan menggenggamnya erat.

“Kau jangan berbicara seperti itu Ji Young. Bagaimanapun kamu sudah omma anggap sebagai putera kandung kami sendiri. tidak peduli siapa ibu dan ayah kandungmu.”

Hibur omma menyunggingkan senyum kecil yang tulus. Huh, apakah memang tulus?.

 

++++++++

 

Beberapa hari setelah kejadian itu, fikiranku terus terusik mengenai kemisteriusan perempuan berbusana serba putih di lift. Apa dia…., ah, aku tidak ingin berfikir seperti itu, mungkin saja perempuan itu hanya sugestiku saking penasarannya dengan sosok ibu. Dunia ini penuh realita, tidak mungkin ada hal gaib seperti yang sedang kufikirkan.

“aku lihat kau selalu melamun akhir-akhir ini, Ji.”

Sebuah tepukan mendarat di pundakku, kutolehkan kepalaku ke belakang, mendapati si pendek mengumbar senyum indahnya. Senyum yang mampu menjebak para staf perempuan di perusahaan. Dia menyamakan jalan denganku, kami tengah berjalan menuju kantin kantor.

“apa kepalamu dipenuhi dengan fikiran buruk mengenai para staf yang senantiasa menggunjing?.”

Aku terjengah.

“apa para staf itu masih menggunjing tentangku?.”

Tanyaku tidak percaya, Young Bae mengangguk santai.

“setiap kali aku berada di dekat mereka mulut mereka langsung menutup rapat dan menyisahkan senyum kecut yang dipaksakan. Mungkin mereka takut aku mengadu padamu.”

Tambah Young Bae membuatku mengepalkan tanganku geram.

“tapi hasilnya kau tetap saja mengadu padaku, bukan?.”

Jawabku dingin. Young Bae menyeringai kecil.

 

+++++++

 

“aku ingin mencari kebenaran orang tuaku.”

Kataku tegas pada appa dan omma, mereka berdua tengah menikmati waktu bersantai di depan tv plasma. Setelah kufikir secara matang, ternyata hanya dengan menemukan siapa sebenarnya orang tuaku itulah obat bagi kejengahan otakku belakangan ini. Mata omma terbuka lebar, beliau segera berdiri dari duduknya dan menghampiriku yang berada di hadapan mereka.

“kau ini bicara apa Ji Young?.”

Sentak appa geram, kutundukkan kepalaku dan tidak berani melihat mereka. Aku merasa sebagai anak yang tidak tahu diri, setelah bertahun-tahun hidup di ketiak mereka, kini aku memilih untuk mencari orang tuaku.

“sudahlah, jangan kau hiraukan omongan wanita tua itu, siapa tahu dia hanya berbohong dan ingin menjebakmu.”

“atas dasar apa wanita itu ingin menjebakku, omma?

Tanyaku lirih.

“mungkin saja dia ingin memerasmu karena tahu kau itu anak orang kaya. Omma yakin pasti ada motif lain dibalik kedatangannya padamu hari itu, jika wanita itu tahu masa lalumu, sudah pasti dari dulu dia sudah mendatangi kami, Ji Young.”

Terang omma menyentuh pundakku, kurasakan hangat yang biasa kurasakan. Tapi, aku begitu yakin jika setiap yang diucapkan wanita itu adalah kebenaran.

ommamu benar. wanita itu pasti seorang pembohong. Lagi pula appa dengar, semua anggota dari Gerwani telah di bunuh. Tidak ada yang hidup, jelas jika dia berbohong, apa lagi jabatannya dalam organisasi itu pasti tinggi, mengingat yang kau ceritakan bahwa dialah yang mengangkat ibumu menjadi humas disana. Para tetinggi Gerwani sudah dibunuh di zaman itu Ji Young.”

Terang appa yang semakin menciutkan nyaliku untuk membantah.

“setidaknya ijinkan aku untuk mengetahui kebenarannya. Jika ibuku telah tiada, tidak menutup kemungkinan jika ayahku masih hidup.”

Entah kenapa, fikiranku tiba-tiba saja tergelincir pada sosok tentara yang menghamili ibuku, pria yang sama sekali tidak diketahui identitasnya.

“sudahlah, Ji Young!. Kau sudah memiliki kami, apa itu kurang?.”

Bisik omma lembut di telingaku, rengkuhannya sangat hangat dan menetramkan. Apa pelukan dari orang tua kandungku akan terasa seperti ini?.

“bukannya aku tidak berterima kasih kepada appa dan omma, tapi aku mohon.., ijinkan sekali saja aku mencari tahu keberadaan mereka. Aku mohon…”

Tidak kusangka, setitih air mata mengelincir dari pelupukku, membasahi pipi dan begitu seterusnya. Hingga getaran pada punggungku tak dapat kubendung.

“aku hanya ingin tahu siapa dan dimana mereka sekarang….”

Rintihku tidak dapat kutahan.

“Ji Young-ah…., jangan menangis nak!. Omma dan appa sangat menyayangimu, kami bukannya melarangmu mencari mereka, tapi semuanya begitu tidak masuk akal untuk dipercaya begitu mudah.”

Bisik omma yang terdengar bergetar, apa beliau juga ikut menangis?.

 

+++++++

 

Dengan atau tanpa restu mereka, kulajukan mobil lexusku di jalanan kota, mengendarainya kencang menuju apartemen Young Bae, sebelumnya sudah kuhubungi pria pendek itu untuk bersiap-siap, agar perjalanan yang akan kutempuh tidak memakan waktu lama.

“kau mau mengajakku kemana memangnya?.”

Tanya Young Bae saat mobilku berhenti tepat dihadapannya, dia menundukkan kepala untuk menengokku di jendela mobil.

“ke rumah nyonya Geum.”

Jawabku dan mendapati kerutan dahinya.

“Geum?. Apa itu nama wanita tua yang beberapa hari lalu pergi ke ruanganmu?.”

Tebaknya dan kujawab dengan anggukan.

“untuk apa kerumah wanita itu?.”

Tanyanya tidak percaya.

“aku ingin tahu kebenaran yang jelas.”

 

++++++

 

Young Bae menggeleng, kutarik lengannya dan dia meronta keras.

“aku mohon, Young Bae-ah!.”

Pintaku memelas, dia mentapku tajam.

“hanya kau yang mendukungku untuk mengetahu keberadaan mereka, kumohon…”

Rengekku kembali dan menarik lengannya perlahan, memasuki halaman rumah kayu yang sangat sederhana, dikelilingi taman bunga tidak beraturan, rumput liar yang tumbuh setinggi lutut dan hanya disisahkan jalan setapak dengan paving menuju tepat pintu masuk.

“bagaimana jika orang tuamu benar. perempuan itu hanya membohongimu untuk mendapatkan uang.”

Young Bae menggoyahkan ketetapanku di detik terakhir kuangkat tangan untuk mengetuk pintu. Tidak ada bell di rumah ini, hanya pintu untuk diketuk.

“kalaupun dia berbohong padaku, kuharus tahu sendiri.”

Putusku akhirnya, biarlah jika perempuan itu berbohong, aku juga lega. Tapi jika setiap perkataannya adalah kebenaran. Setidaknya hidupku sudah terpuaskan setelah mengatahui jati diri kedua orang tuaku itu.

“terserah kaulah, yang penting perasaanmu legah.”

Tukasnya menepuk pundakku, kutaksir hal tersebut sebagai dukungan moril.

“terimakasih dukunganmu.”

Ucapku terlalu melodrama, dia mendorong tubuhku agar bergegas mengetuk pintu.

TOK TOK TOK

3 kali kuketuk pintu kayu dihadapanku ini, kuundurkan posisi tubuh sedikit takut jika pintu akan dibuka. Terdengar derap langkah mendekat, entah mengapa, jantungku berdetak tak karuan kembali.

“kau sudah siap?.”

Tanya Young Bae berbisik. Kuanggukan kepalaku mantap.

KRIEEK

Dia kembali, rambutnya masih tetap putih penuh, kerutan diwajahnya tetap dan sikapnya begitu welcome saat kedatanganku, seulas senyum terukir jelas disana.

“kau mendatangi rumahku, Ji Young.”

Ucapnya sumringah, aku mengangguk kecil dan dia mendekatiku begitu antusias.

“tidak kusangka kau akan datang secepat ini. oh tuhan…, syukurlah.”

Setengah dia menengadahkan kepala ke atas, seolah bersyukur begitu banyak.

“aku ingin bertanya banyak padamu.”