love dust part 4Author            : Zhie (@Zhiedara44)

Main Cast       : Park Sandara (25 Th)

                          Kwon Jiyong (23 TH)

Support Cast : Lee Donghae (27 Th)

  Nam Gyu Ri (18 Th)

  Lee Seung Hyun (18 Th)

  Jun Il Woo (28 Th)

Genre             : Romance

Length            : Chapter

Disclaimer      : Please…coment and don’t copy paste. ^^

Twitter            : @Zhiedara44

Dara POV

Aku melangkahkan kakiku di lorong rumah sakit, aku harap keadaan eomma telah membaik. Aku kembali menatap cincin yang berada di jari manisku… ”Jiyong….babbo.” Ucapku lirih, aku masih kecewa ia tidak menungguku… dan saat aku tiba di depan pintu kamar eomma dirawat aku mengerutkan keningku, terdengar suara yang sepertinya saling bersenda gurau.”Apa aku salah kamar?” Batinku bingung, dan saat kudengar suara itu tertawa serasa tak asing bagiku…dan dengan keyakinan akupun membuka pintu dihadapanku dan kulihat eomma telah sadar sepenuhnya sedang tersenyum pada seseorang yang duduk menghadapnya. Kulihat eomma tersenyum melihat kedatanganku…

“Kau sudah datang chagi?” Ucap eommaku…dan saat itu aku dapat melihat namja yang berbalik untuk melihatku, dan omo….

“Ya! Kau-“

Jiyong POV

Aku dapat melihat ia terkejut sekarang….akupun menyunggingkan senyumku kepadanya.

“Hei…Noona.” Sapaku padanya yang melihatku tak percaya…

“Apa yang kau lakukan disini Ji? Bukankah kau-“

“Aku menjenguk ajhumma.” Jawabku memotong ucapannya….

“Kemarilah chagi…apa kau akan terus berdiri disana.” Panggil ajhuma menyadarkannya… aku tersenyum geli melihat tatapannya padaku…ia menatapku seperti ia melihat hantu…:D. Ia  berjalan mendekat dan segera memalingkan perhatiannya pada ajhumma.

“Eomma…apa kau baik-baik saja?”

“Ne…chagi, maaf membuatmu khawatir…aku hanya terlalu lelah.”

“Kau harus menjaga kesehatanmu eomma.” Ucap yeoja itu kemudian, ajhummapun mengangguk…dan iapun kembali menatapku. “Dan kau…bukankah harusnya kau sudah meninggalkan tempat ini Ji?” Tanyanya menatap penuh selidik padaku, aigo…sepertinya dia benar-benar ingin aku segera pergi dari sini, apakah aku begitu menyebalkan????

“Ne…Noona, tapi mobil kami mengalami sedikit masalah…oleh karena itu kami  memutuskan untuk pulang besok, dan saat itu aku berpikir untuk singgah ke rumahmu tapi aku hanya bertemu seorang ajhussi yang mengatakan kalian berada disini dan saat ini Hyung telah kembali ke penginapan.” Jawabku menjelaskan…dan kulihat ia sudah puas dengan jawabanku.

“Chagi…apa kau sudah makan?” Tanya ajhumma padanya.

“Aku akan makan nanti eomma…”

“Aigo, pergilah kau makan bersama Jiyong…eomma tidak ingin kau mengabaikan kesehatanmu.”

“Ani…aku ingin menjaga eomma.”

“Kau akan menjagaku nanti Chagi…sekarang pergilah untuk makan, araesso? Eomma akan kembali beristirahat sekarang.” Ucap Ajhumma kemudian melihat kearahku. “Pastikan dia makan banyak Jiyong-shi.”

“Ne…ajhumma.” Jawabku membuat ia tersenyum, “Kajja!” Ajakku pada yeoja yang masih ragu untuk meninggalkan eommanya.

“Eomma…aku tak akan lama.” Ucapnya kulihat ajhumma mengangguk meyakinkan kalau ia baik-baik saja…aku mengakui ajhumma lebih hebat berakting dari pada aku sekarang, ia tidak ingin membuat putrinya cemas…

Dara POV

Aku tidak pernah membayangkan….sekarang dia ada disini, dihadapanku…dan kami makan bersama sekarang. Bukankah aku tadi berpikir ia telah pergi…dan saat aku sesekali memperhatikannya, ia berbalik menatapku.

“Wae Noona?”

“Anio…aku hanya tak habis pikir Ji, kau ada disini sekarang…padahal beberapa saat yang lalu aku berpikir kau telah pergi.” Jawabku membuat ia tersenyum.

“Apa kau sedih mengira aku telah pergi Noona? Atau kau sampai mengeluarkan airmata karena kepergianku?”

“Ya! Itu tidak akan terjadi Ji.” Jawabku cepat menutupi kegugupanku, ne…aku tidak mengeluarkan air mata untuknya…tapi untuk benda berhargaku yang dia bawa, aku yakin karena itu…

“Kau bukan seseorang yang pintar berakting Noona.” Ucapnya kemudian, akupun mengabaikannya saat itu kulihat cincin yang sama dengan yang kupakai melingkar di jarinya.

“Omo…lepaskan cincin itu dari jarimu Ji, kau tak harus memakainya.” Ucapku membuat ia melihat cincin dijari tangannya…lalu iapun kembali menatapku.

“Aku tidak akan memberikannya padamu…bukankah sudah kubilang ini sebagai hukuman karena keterlambatanmu Noona, jadi ini menjadi milikku sekarang.”

“Ani…kau tidak bisa seperti itu Ji.” Ucapku menegaskan.

“Ani…aku bisa melakukan seperti ini Noona.” Jawabnya membuatku menggerutu kesal, akupun hanya memainkan makanan yang berada di hadapanku. “Ya! Cepatlah habiskan makananmu Noona…bukankah kau dengar aku harus memastikan kau makan banyak sekarang.” Aku hanya diam tak menuruti perintahnya, aku kesal dengannya sekarang…aku akan mengacuhkanmu Kwon Jiyong.

Jiyong POV

“Aigo…gadis ini keras kepala.” Batinku…aku menyerah menghadapinya, akupun kembali menatapnya. “Baiklah, Noona…aku akan mengembalikannya, tapi setelah kau menghabiskan makananmu.” Ucapku kemudian, iapun akhirnya menatapku.

“Benarkah?”

“Ne…jadi makanlah sekarang.” Jawabku, membuat ia tersenyum.

“Seharusnya kau mengatakannya dari tadi Ji, aku benar-benar lapar sekarang.” Ucapnya tersenyum dan melahap cepat makanan yang tadi ia mainkan…cih, ia mengerjaiku sekarang. Akupun memperhatikan cincin yang dikenakan dijari manisnya…dia memakainya. Aku rasa ini milik seseorang yang spesial…pantas ia tak suka aku mengenakannya, akupun berniat melepasnya saat seorang perawat berlari kearah kami…aku yang berpesan pada perawat itu untuk segera memberitahu kami jika ada sesuatu yang terjadi pada ajhumma…dan saat ini firasatku mulai tak enak.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku saat ia tiba dihadapan kami, darapun menghentikan makannya.

“Ajhumma…tiba-tiba keadaannya memburuk.” Ucapnya panik…aku dan Darapun segera menuju ke tempat perawatan ajhumma….saat tiba disana ajhumma sudah ditanganin dokter dan 2 orang perawat, kulihat Dara menangis saat itu …

“Eomma.” Ucapnya lirih, di sela isak tangisnya…akupun mendekatinya dan menariknya kepelukanku…berusaha untuk menenangkannya.

“Tenanglah Noona…ajhumma akan baik-baik saja.” Dan beberapa saat kemudian kondisi ajhumma telah stabil…tapi ia membutuhkan bantuan alat pernapasan sekarang. Kami berada di ruangan Dokter yang bertanggung jawab atas Ajhumma…dan saat itu ku lihat wajah Dara yang tak percaya melihat hasil pemeriksaan Ajhumma.

Dara POV

“Apa maksudnya ini? aku rasa ada yang salah dengan hasil pemeriksaan ini.” Ucapku tak percaya.

“Memang benar itu hasilnya Dara-yah, kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan…dan hasilnya adalah glioblastoma, ini adalah sejenis kanker otak yang sangat ganas, dan termasuk virus yang dapat berkembang dengan cepat… kanker ini tidak terkendali dan merusak jaringan lainnya.” Jawab Dokter yang membuatku cukup terpukul.

“Aku tau eomma memiliki beberapa penyakit, tapi tidak mungkin separah ini.” Ucapku kemudian, air mataku lagi-lagi tak tertahankan sekarang, aku tak tau penderitaan eomma selama ini…apa dia sengaja menutupi ini semua dariku. “Apa ada cara untuk menyembuhkan eomma?” Tanyaku penuh harap.

“Kami menyesal mengatakan ini Dara, penyakit ini telah berada dalam stadium 4…kami juga tidak bisa melakukan operasi karena virus telah menyerang otak bagian dalam tapi kami akan berusaha sebaik mungkin Dara-yah, walaupun kami juga berharap adanya keajaiban.”

Jiyong POV

Kulihat Dara sudah lebih tenang sekarang…ia terus berada disisi ajhumma, aku tau ini sangat membuatnya terpukul…dan kulirik jam ditanganku. “Aku harus menemui Hyung sekarang.” Batinku, akupun mendekati Dara. “Noona, aku akan kembali ke penginapan.” Ucapku padanya, iapun menapatku…kulihat ia berusaha memberiku senyuman.

“Gomawo Ji, terima kasih karena sudah menemaniku.” Jawabnya, akupun mengangguk. Kulangkahkan kakiku menuju penginapan…hawa dingin telah menjalar ke seluruh tubuhku, embun pagi telah menyelimuti desa ini. Aku teringat apa  yang  ku bicarakan pada ajhumma beberapa waktu yang lalu….

 

 

Flashback….

Kulangkahkan kakiku menuju tempat ajhumma yang sedang terbaring, tak ku lihat yeoja itu diruangan ini….pergi kemana dia, apakah dia bisa meninggalkan ajhumma seorang diri hah? Batinku tak habis pikir. Dan saat itu dapat kulihat ajhumma membuka matanya, akupun segera menghampirinya.

“Ajhumma, apa ada yang bisa kubantu?” tanyaku refleks mendekatinya dan memegang tangannya, iapun tersenyum menyadari keberadaanku.

“Aku baik-baik saja Jiyong-shi.” Jawabnya lemah, akupun membantunya untuk duduk…akupun meletakkan bantal agar dia nyaman bersandar.

“Apakah ini sudah terasa nyaman?” Tanyaku.

“Ne…kamsahamnida.”

“Aigo, dimana Noona saat ini…bukankah seharusnya ia menjagamu ajhumma?” Gerutuku membuat ia lagi-lagi tersenyum.

“Kudengar ia tadi berpamitan untuk menemuimu.” Jawab ajhumma membuatku menatapnya.

“Menemuiku?” Tanyaku bingung, ajhummapun mengangguk. Kupikir ia tak akan datang…akupun tanpa sadar menyunggingkan senyumku, dia pasti sedang menangis sekarang…pikirku percaya diri, entah mengapa aku merasa lucu membayangkannya. Dia akan berpikir aku telah pergi tetapi kenyataannya aku berada disini sekarang…aku akan bertaruh kalau ia akan sangat terkejut melihatku nanti.

“Kau tau Jiyong-shi…putriku adalah yeoja yang kuat, aku selalu berpikir seperti itu…tapi kadangkala aku menjadi sangat mengkhwatirkannya.” Ucap ajhumma kemudian dengan tatapan kosong. “Dia akan selalu berkata dengan ceria bahwa ia baik-baik saja, tetapi aku tau pada saat itu ia sangat terpuruk…dia pintar menutupi perasaannya bukan?” akupun setia mendengarkan ajhumma bercerita karena saat itu hanya itulah yang bisa kulakukan untuk ajhumma…entah mengapa aku merasa ajhumma adalah salah satu sosok ibu yang sangat baik dan memperhatikan anaknya. Aku merasa mendapatkan sosok ibu yang selama ini aku harapkan dari dirinya…eommaku memiliki bisnis yang maju dengan pesat sekarang, ia tak lagi mengurusku semenjak 10 tahun yang lalu…ia lebih mempercayakan aku pada seorang pengasuh. Akupun hanya bisa tersenyum kecut mengingatnya…

“Anda adalah ibu yang baik ajhumma.” Ucapku kemudian.

“Kamsahamnida…kau berpikir seperti itu Jiyong-shi, tapi aku merasa tak baik sekarang. Aku telah menyembunyikan penyakit ini darinya…aku merasa sangat buruk jika harus menyadari aku tak akan bisa selalu berada disisinya, dia akan seorang diri nanti…aku merasa tak tenang memikirkan itu.” Ucap ajhumma lagi membuatku mengerutkan keningku “Aku mencemaskan Dara…apa yang akan dilakukannya jika aku tak sanggup lagi bertahan dengan penyakit ini, apa dia akan baik-baik saja? Apa dia dapat hidup dengan baik? Aku sangat mencemaskannya.”

“Apa yang kau katakan ajhumma…anda akan baik-baik saja jadi janganlah berpikir macam-macam.”

“Penyakit ini sangat parah Jiyong-shi…aku merasa aku tak akan sanggup untuk menahannya lagi.”

“Apa yang sebenarnya anda derita ajhumma? Tak bisakah kau berjuang untuk Noona?” Tanyaku berusaha membangkitkan semangatnya…tapi ia terlihat sangat pasrah dengan keadaannya.

“Aku selalu berjuang Jiyong-shi, tapi aku hanya tak tahu sampai kapan aku mampu bertahan.” Jawabnya membuatku bertanya-tanya apa penyakit yang diderita ajhumma…”Aku akan merasa tenang jika ada seseorang yang mampu menjaga dara dan memastikan ia akan baik-baik saja jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, hanya itu yang kuinginkan saat ini.”

“Aku bisa memenuhi keinginanmu itu ajhumma, kau bisa mempercayakan itu padaku…tapi kumohon padamu untuk tetap berjuang, oleh karena itu jangan memberatkan dirimu untuk memikirkan hal itu lagi…araesso?” Ucapku berusaha meyakinkannya.

“Ne…kamsahamnida Jiyong-shi. Aku tak salah menilaimu, kau adalah namja yang baik…aku bisa lebih tenang sekarang.”  Jawabnya, setelah itu kamipun banyak bercerita sekarang…ia banyak menceritakan bagaimana kenakalan Dara saat kecil…kulihat ia sangat bersemangat menceritakannya, sesekali aku tertawa mendengar cerita ajhumma…dan tak lama pintu terbuka.

“Kau sudah datang chagi?” Ucap ajhumma…dan saat itu aku berbalik untuk melihatnya dan selanjutnya bisa ku tebak.

Flashback end.

Akupun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, “Aku harap anda dapat bertahan ajhumma, itu yang diinginkan Dara sekarang.” Ucapku dalam hati…walaupun kemungkinan terburuk selalu ada, tapi bisa kupastikan aku akan menepati janjiku padamu ajhumma.

Il Woo POV

Aku telah lelah berjalan kesana kemari untuk mencarinya…dimana bocah itu sekarang, bukankah ia harusnya memberi kabar. Dia benar-benar akan membuatku gila sekarang. Dan saat itu pintu telah terbuka lebar, aku bisa melihatnya dengan jelas.

“Ya! Kau dari mana saja Jiyong? Kau tak tahu aku hampir gila mencarimu.” Ucapku geram pada namja yang hanya tersenyum bodoh dihadapanku ini, seakan tak ada yang perlu dipermasalahkan sekarang.

“Mianhe Hyung, ada sesuatu hal yang tak bisa ku tinggalkan semalam.” Jawabnya singkat, membuatku hanya dapat menghela nafas menahan kekesalanku padanya. “Hyung, bisa kita bicara?” Tanyanya kemudian menatapku, kali ini dapat ku lihat kalau ia akan membicarakan sesuatu yang serius.

“Ne…apa yang ingin kau bicarakan Ji?” Tanyaku saat kami telah duduk di ruang tengah.

“Aku tidak bisa kembali ke seoul sekarang Hyung.” Jawabnya kemudian, membuat aku mengerutkan keningku.

“Wae Ji?” tanyaku cepat.

“Ada sesuatu yang tak bisa ku tinggalkan Hyung.”

“Apa ini ada hubungannya dengan Dara?”

“Ne…eommanya saat ini dalam keadaan kritis Hyung, sementara hanya eommanyalah yang ia punya sekarang…aku tak bisa meninggalkannya sendirian.”

“Ini bukan saatnya kau mementingkan jiwa sosialmu Ji…kau bukan seseorang yang harus melakukan hal itu sekarang.”

“Hyung…mungkin ini terdengar gila, tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkannya sekarang.”

“Kau akan merugikan banyak pihak Ji….kau lihat.” Ucapku kemudian memberikan schedulenya yang padat yang sudah ku atur untuknya dan ini sudah kami setujui sebelumnya. “Apa kau akan mengacaukannya hah?” Tanyaku tak habis pikir mengapa ia bisa sangat mementingkan yeoja itu…bukankah ia pernah mengatakan kalau yeoja itu tak menarik…???

“Mianhe Hyung, aku tak pernah memohon padamu sebelumnya bukan?” Ucapnya kemudian, akupun kembali menatapnya. “Kali ini aku akan memohon padamu hyung, ijinkan aku untuk tetap tinggal disini…hanya sampai aku memastikan ia akan baik-baik saja.”

“Kau gila Ji.” Ucapku menanggapi permohonan bodohnya. Akupun menatapnya penuh selidik kali ini. “Apa kau menyukai yeoja itu hah?”

“Anio…tidak seperti itu Hyung.” Jawabnya membuatku tersenyum kecut, bocah ini benar-benar babbo….akupun kembali memeriksa schedule yang telah kubuat, memastikan apa aku dapat memenuhi permohonannya. Akupun sesekali menatap Jiyong yang sedang menunggu keputusanku, kulihat ia sedang menatap kosong keluar jendela…apa ini membuatnya tak tenang, dia tidak bisa bekerja dalam kondisi seperti itu…akupun lagi-lagi menghela nafas panjang.

“Baiklah Ji…aku akan memenuhi permintaanmu.” Ucapku akhirnya,..membuatnya ia tersadar dari lamunannya dan menatapku. “Aku bisa menggantikan pertemuanmu untuk 3 hari kedepan, aku akan mengatakan pada mereka bahwa kau sedang tidak sehat sekarang.” Lanjutku membuatnya ia mengembangkan senyumnya.

“Benarkah itu Hyung?” Tanyanya tak percaya, dan akupun terpaksa mengangguk untuk meyakinkannya. “Kamsahamnida Hyung, kau memang manajer yang terbaik.” Ucapnya kemudian.

“Tapi ingat Ji…hanya 3 hari, setelah itu aku akan kembali menjemputmu dan saat itu kau harus benar-benar kembali ke Seoul…araesso?”

“Ne..Hyung, algesseoyo.” Jawabnya meyakinkan.

***

Dara POV

Aku cukup terkejut saat Jiyong kembali kemari dengan membawa begitu banyak makanan, bukankah ia seharusnya kembali ke seoul.

“Mengapa kau menatapku seperti itu Noona?”

“Mengapa kau berada disini Ji? Bukankah kau harus kembali ke seoul?” Ucapku balik bertanya.

“Aku mendapatkan libur 3 hari Noona, karena itu aku memutuskan untuk menghabiskan waktu liburanku disini.” Jawabnya. “Noona…kemarilah, temani aku makan.” Ucapnya kemudian.

“Anio…aku tidak lapar Ji.”

“Kau harus makan Noona, jangan membuat ajhumma mengkhawatirkanmu…kau akan membuat ajhumma merasa bersalah jika dia tau kau tidak makan dengan baik.” Ucapnya membuatku berubah pikiran, akupun menghampirinya dan memakan makanan yang ia bawa. “Jiyong-shi….gomawo.” Ucapku pelan padanya, iapun hanya menatapku sekilas  dan melanjutkan makannya…

Jiyong POV

Saat ini kami berada di luar ruang perawatan ajhumma, karena keadaan ajhumma tiba-tiba kembali memburuk…ia kesulitan menghirup oksigen dari alat bantu pernapasannya, itu cukup membuat Dara histeris…oleh karena itu dokter menyarankan kami untuk menunggu di luar. Dan saat ini…Dara telah sangat tenang walaupun sesekali ia meneteskan air mata. Dan tak lama perawatpun mempersilahkan kami untuk masuk.

“Eomma.” Ucap dara menghampiri eommanya yang telah sadar tetapi kali ini dengan tatapan yang benar-benar lemah, alat bantu pernapasanpun telah dilepas…akupun menatap dokter meminta penjelasan, dokterpun menghampiriku dan mengatakan hal yang membuatku mengerti dan aku tau ini adalah waktunya.

“Jangan menangis chagi…”

“Ani, aku tidak menangis eomma.”

“Mainhe…mianhe telah membuatmu cemas.” Ucap ajhumma lembut, darapun meraih tangan eomma yang menghapus air matanya.

“Eomma…jangan banyak bicara, bukannya kau harus istirahat…kita akan kembali berbicara besok…araesso?”

“Anio…chagi, eomma ingin terus melihatmu sekarang…kau tau eomma sangat bangga padamu, kau adalah yeoja yang selalu ceria…tetaplah seperti itu, karena kau terlihat sangat manis.” Ucap ajhumma, itu cukup membuat Dara kembali meneteskan air matanya…

“Eomma, apa yang kau katakan hah? Kau membuatku tersipu malu…disini banyak orang yang menguping pembicaraan kita.” Jawab Dara berusaha untuk menanggapi ucapan ajhumma dengan bercanda. Ajhummapun tersenyum…kulihat ia menatapku, akupun mendekatinya berdiri disamping dara.

“Jiyong-shi…”

“Ne…ajhumma.”

“Kamsahamnida.” Ucapnya singkat dengan senyuman, akupun hanya membalas dengan anggukkan…iapun kembali menatap Dara.

“Jaga dirimu baik-baik chagiya…jangan membuatku cemas, araesso?”

“Apa maksudmu eomma?” Tanya Dara mulai menangis terisak, ajhumma pun kembali menghapus air mata Dara.

“Mianhe Chagi….” Jawabnya mulai melemah.

“Eomma…”

“Chagiya…aku merasa mengantuk sekarang, bisakah kau membiarkanku untuk beristirahat?” Tanya ajhumma kemudian, kulihat Darapun mengangguk. Dan saat itu dapat kulihat ajhumma telah memejamkan matanya, ia terlihat tenang, apa ia tertidur sekarang? dan tak lama kami mendengar suara dari alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi panjang menandakan ajhumma tak lagi bernapas. ”Eomma, jawab aku eomma.” Dan saat itu dokter langsung mengambil kendali…dan setelah dokterpun menyerah kami semua tahu kalau ajhumma telah tiada…dapat kulihat Dara terdiam untuk sesaat, aku khawatir akan keadaanya sekarang tetapi setelah itu ia kembali mendekati ajhumma, menggenggam tangannya dan mencium kening ajhumma dengan lembut, dengan air mata yang masih mengalir…Dara tampak berusaha lebih tegar….

“Eomma…bermimpilah yang indah ditidurmu, appa akan menjagamu disana.” Ucapnya lirih…

 

To be continued ….