flower boy

Poster by : kimskimi ^^ / @tikkixoxo_96

Author : chanyb

Title : Request — Flower Boys [3]

Casts : Choi Seunghyun [BIGBANG] — Nam Jong Hoon [OC] — Jung Yong Hwa [CN BLUE] — Kim Jaejoong [JYJ] — Park Jaebum

Other Casts : Cari sendiri cinta~ :3

Genre/Rating/Length : Romance, comedy, friendship/PG 15/Chaptered

Disclaimer : Jalan cerita, alur dan blablabla milik saya pribadi sementara tokoh dan lain sebagainya milik Tuhan YME dan mereka masing-masing.

Previously : 1 | 2.1 | 2.2 |

=====FLOWER BOYS=====

Lebih dari setengah perjalanan, tanganku terus mengipasi daerah sekitar mata. Jangan tanya apa fungsi kibasan disertai senam mulut ini! Sebab, aku sungguh tidak tahu mengapa perilakuku tiba-tiba menyimpang begini. Otakku terlampau semrawut dengan segala pertanyaan berunsur 5W1H, yang terus tercetus tanpa ada solusi. Entah bagaimana, aku merasa seolah-olah, demonstrasi anarkis di tengah-tengah kemacetan ibukota berpindah seketika ke dalam kepala. Memberondong kata: dia jahat! Musnahkan dia! Gigiti dia!

Sementara Paman Genit sang biang kerok segala permasalahan dalam hidupku, sangat tenang saat mengemudi, mengangguk pelan, pun bersenandung riang. Tangan kanannya tahu-tahu terjulur untuk membesarkan pengeras suara begitu reff lagu hip-hop kesukaannya mengalun. Membuat kepala bertambah pening hingga otak ini terasa akan segera meluber melalui telinga.

“Kuperhatikan kau menjadi lebih pendiam dan berperilaku aneh. Apa ada masalah?” Aku diam, melempar arah pandang ke luar jendela sambil menambah kecepatan kipasan tangan.

“Panaskah?” Iya. Hatiku panas menggelegak!

“Padahal AC-nya….”

“Oke, setop!” Dengan jengkel aku menekan tombol eject sampai bunyi mendesir mekanis berganti siaran radio yang memutar lagu–entah apa–di mana penyanyinya melafalkan bait: baby don’t leave me. I know you… sial! “Aku betul-betul sudah tidak tahan lagi. Hentikan mobilnya!”

Dia memperlambat laju mobilnya kemudian menoleh sepintas. “Maksudmu kau mau… astaga, kenapa tidak di hotel tadi, Jong Hoon sayang? Jelas-jelas di sana ada toilet mewah, bukan semak-semak begini!”

Bolehkah aku menggetok dia pakai high heels? Manatahu korsleting parah di otak pria seperempat abad ini, bisa teratasi.

“Ini tidak seperti yang kaubayangkan. Aku cuma ingin pulang menggunakan kakiku sendiri!” Dengung mesin mobil dan volume pengeras suara yang kian kencang lah menyahuti gumamanku. “Kubilang: aku ingin pulang menggunakan kakiku sendiri. Hentikan mobilnya! AKU MAU TURUN SEKARANG JUGA!”

Tapi, pegangan dia di roda kemudi kian mengetat, menginjak pedal gas dalam-dalam dan konsisten mengamati rentang jalan. Airmukanya pun berubah dramatis. Hei, mestinya aku yang marah, bukan dia!

“Kumohon hentikan mobilmu, Paman Choi!”

“Kali ini aku tidak bisa menuruti rengekanmu. Ini sudah larut malam, tidak baik bagi gadis kecil berjalan sendirian. Apalagi bertelanjang kaki begitu, mengerti?”

Apa dia bilang? “Dengar, justru semobil bersama paman-paman mesum nyentrik dan tukang bohong sepertimu lah yang tidak baik bagiku!… Kau berbohong tentang… aish, sial! Katakan kalau….” Aaargh, emosi meluap-luap di benakku mengubah semua kosa-kata yang tersusun rapi di otak menjadi pekikan sengau beserta isakan megap-megap. Bego!

“Berbohong? Apa maksudmu?” Berangsur-angsur kecepatan mobil kembali menurun, Seunghyun menoleh dengan alis saling bertautan.

“Tidak pernah… ada,” sumpah demi berbicaralah Jong Hoon! “Kumohon hentikan mobilnya, Paman Choi!”

Tak kurang dari semenit bunyi berdecit dan desing mekanis pintu menjawab permohonanku. Dengan segera aku melontar keluar.

“Tunggu. Aku tetap tidak memberimu izin pulang sendiri.” Dia keluar, menghentikan taksi yang melewatinya, berbicara sebentar kepada si sopir taksi seraya mengangsurkan beberapa lembar uang. “Kau mau pulang, kan? Masuklah!” Lalu membukakan pintu untukku.

Apakah dia benar-benar orang baik? Atau seorang pembohong seperti kata Naomi? “Aku….”

“Jangan membantah!” Paman Genit itu melangkah lebar-lebar memutari mobilnya, menggenggam erat pergelangan tanganku. Maka, salahkan tatapan tajam di wajah tampan nan mesumnya yang menyebabkan aku bisa menurut juga membangkang nyaris di waktu bersamaan.

Sepanjang perjalanan, mobil milik pria tua itu terus mengekori taksi yang kutumpangi pada jarak cukup dekat. Katanya, “kau pasti akan berjalan kaki bila tidak kuikuti.” Sedang aku, hanya berani mengutuk dia dalam hati begitu menerima pelototan bak elang tengah mengincar anak ayam baru menetas. Horor.

Jika ada yang bertanya apakah aku cemburu, jawabannya: Iya, aku cemburu. Sampai-sampai aku merasa bakal mati besok akibat komplikasi serangan jantung dan radang hati setelah mengetahui perjodohan di antara kami merupakan isapan jempol belaka, bualan apik seorang paman seperempat abad sebagaimana ucapan bibi-bibi menor tadi: aku cuma tebusan, mungkin lebih tepatnya disebut sebagai sandera selama kedua orangtuaku bersembunyi.

Boleh jadi jika mereka tak kunjung menampakkan batang hidung, aku bakalan dijual atau bahkan seluruh organ tubuhku akan dipreteli satu persatu di meja operasi demi melunasi utang Ayah.

Tetapi jika hal itu benar, kenapa dia harus repot-repot memenuhi segala kebutuhanku setahun belakang? Kenapa dia memberiku kartu ATM? Satu hal lagi yang paling mendasar dari semua pokok pertanyaan dalam pikiranku, kenapa dia mesti menyuntik wanita horor hingga membengkak? Kenapa?

Aku tidak terima. Tidak ikhlas lahir batin dunia akhirat. Aku serius!

=====FLOWER BOYS=====

Padanan kata yang digemari kaula muda, namun paling kubenci adalah kata move on. Mereka yang tidak berada diposisiku sih enak. Toh, cuma sebatas omongan. Coba tukaran tempat, pasti juga akan galau tingkat akut.

Begini, bagaimana bisa aku menerima dua patah kata laknat tersebut jika selama 4 jam lebih Paman mesum masih bersandar di depan mobilnya, terus memerhatikan kamarku tanpa berniat masuk dan baru lenyap setelah lampu kamar mati. Bukan itu saja, raut mengerikan bibi-bibi menor pun ikut menggaungkan kata: aku sedang mengandung buah cinta kami.

Alhasil, semalam suntuk aku menangis kelojot-an sambil menebar tisu berlumur ingus. Menenggak habis 3 botol Cola dan harus bolak-balik toilet setelahnya. Sementara Charlie si anjing kecil coklat langsung bangkit sambil menggoyang ekor juga menjulurkan lidah sewaktu aku keluar toilet untuk kesekian kali.

“Kelaparan, ya?” Ia menyalak. “Minta makan sana sama ayahmu!” Charlie menelengkan kepala ke sisi kanan, telinganya terkulai lemas mengimbangi tatapan mengibanya. Cih, cari perhatian!

“Asal kautahu aku juga lapar!” Tidak ada tuannya, peliharaannya pun jadi kumaki-maki. “Apa lihat-lihat, hah? Cari ribut?” Ia melolong panjang sebelum akhirnya membelakangiku dengan sekali kibasan ekor. Tidak sopan! “Benar-benar! Tidak tuan tidak peliharaan maupun sekretaris sama-sama bikin naik pitam!” Aku mengentak-entak lantai beringas bagai orang gila lepas. Membanting pintu kamar sekuat tenaga dan menyalakan lampu.

Dengan dada naik-turun aku menatap lekat-lekat pintu berwarna merah muda di belakangku kemudian beralih ke dinding kamar dan seluruh perabotan yang mempunyai warna senada.

Demi kibasan dahsyat poni lempar Daesung dan pesona jambul lobak Taeyang, kenapa segala sesuatu di kamar ini mengingatkanku pada pria tua itu?

“Warna merah muda bagus untuk gadis remaja.” Mendadak, suara rendah dibarengi raut ceria Seunghyun 6 bulan lewat, berputar-putar di otak dan terbuyar begitu saja saat dering ponsel mengagetkanku.

Selewat semenit aku menengok jam weker di meja nakas; ke kalender bergambar Seunghyun nyengir; ke meja rias yang memantulkan wajah awut-awutan berpadu lelehan menjuntai indah di hidung. Kemudian berteriak histeris hingga gonggongan kecil pun menggema menyusul teriakanku.

Ini hari Minggu. Laut. Tidak! Jangan-jangan hari ini, hari yang telah dia tunggu untuk membenamkanku ke laut; mencacah tubuhku sebagai pengganti umpan hiu.

“Aku, aku tidak mau! Tidak sudi! Ya ampun, aku bahkan belum menikah. Oh, tidak, bagaimana ini?” Raungku sambil melempar ponsel ke dinding lalu menangis guling-guling karena ponsel semata-wayangku hancur berantakan–beterainya terpisah dari kerangka–teronggok menyedihkan di pojokan. Sesenggukan aku memunguti benda petak tersebut, menyatukannya hati-hati. Harap-harap cemas, aku memerhatikan layar retaknya. Semoga masih ada tanda-tanda kehidupan di sana karena aku akan merasa hampa tanpa benda itu.

Setelah berhasil menyalakannya, aku malah ingin gantung diri akibat melihat daftar entri panggilan terakhir adalah Peri Hwa❤. Seketika, hal terakhir yang dapat kulihat hanya… kebutekan.

“Kau sudah sadar?” Suara berat disusul wajah bling-bling berkacamata berbingkai hitam, menyapa indera penglihatku. Bah! seingin itukah Paman Genit membalas dendamnya di laut?

Dia bersedekap di kursi kayu dekat ranjang dengan kaki saling menyilang. Mulai deh, sok keren. “Kau sebenarnya kenapa, hmm? Menangis tanpa sebab, tidur di lantai sambil memeluk ponsel rusak, mana pakai acara menebar tisu lengket dan botol Cola pula….” Dan sebagainya dan sebagainya blablabla… asal dia tahu, aku begini gegara kau! Hanyalah umpatan yang terganjal ditenggorokan.

Cenat-cenut di kepala serta nyeri di sekujur tubuh melarangku mendebat pernyataan menohok Seunghyun. Lagipula dia benar. Aku kenapa?

“Oke, kalau kau sedang tak ingin cerita, aku akan berhenti bertanya. Tapi, cepatlah kembali! Aku merindukan celotehan abstrakmu, sayang…. Hyung, apa buburnya sudah masak?” Dia mulai berjalan dan tiba-tiba berpaling. “Gara-gara kau sakit, rencana memancing di laut lepas, batal! Padahal aku telah menyiapkan segalanya seminggu terakhir. Haaa, aku benar-benar kecewa.” Telunjuk dan jempolnya mengelus dagu lambat-lambat seolah tengah berpikir keras. “Apa kau sedang patah hati?”

“Uhuk!”

“Biasanya remaja labil kalau patah hati… ya, begini bentuknya. Hancur! Tapi, apa penyebabnya? Masa gegara aku cupika-cupiki sama Shin Min Ah, tidak mungkin, kan?”

Bukan. Melainkan karena kau menyandera makhluk unyu juga menghamili calon ibu orang! Mulutku yang komat-kamit tanpa suara membuat dahinya mengernyit. “Ya ya ya, aku tidak akan membahasnya lagi. Jadi, kau tak perlu bersusah payah bicara. Aku bukan pembaca bibir yang baik.”

Serta-merta aku duduk, menenggak segelas air putih sambil mengincar manik matanya melalui tatapan tersangar. “Aku benci paman!”

“Kau selalu mengatakannya setiap kali kau marah padaku. Sekarang apa penyebabnya, hmm?”

“Perjodohan! Kau bohong, kan, mengenai perjodohan di antara kita? Kau menyanderaku! Aku sudah tahu semuanya!”

Dalam tempo sepersekian detik, ada mimik tak terdefinisi pada parasnya. “Apakah efek laparmu adalah melantur?” Gelengan pelan serta seringaian jahat yang semestinya sama seperti biasa dia perlihatkan, justru tampak janggal hari ini.

Saat sosoknya perlahan menghilang di balik pintu, mataku berembun dan setetes demi setetes airmata menjengkelkan mengalir. Bibi itu benar, dia mungkin telah berbohong sejak awal datang ke rumah bersama Jejung oppa, yang baru kini aku menyadari kenapa dia selalu bersikap dingin… dia membenciku.

Aku calon suamimu…

… Orangtuamu menitipkan kau padaku sebelum mereka liburan…

… Namaku Choi Seunghyun.

=====FLOWER BOYS=====

Ini memang keputusan tersulit yang pernah kuambil beberapa jam lalu, sehingga aku berakhir di sini. Terseok-seok menyeret koper menelusuri trotoar tanpa arah tujuan. Lebih baik menggembel semalaman ketimbang berada di rumah dan berkhir di halaman depan harian pagi, berjudul: Korban Pembunuhan Seorang Pria Tua. Maka dari itu, aku harus move on guna menghindari malapetaka. Iya. Cuma itu, titik! Jangan tanya lagi! “Aaargh, tidak ada satu pun yang bertanya maupun peduli, Jong Hoon!” Berteriak ke jalanan di mana kendaraan berseliweran, membanting koper dan kembali menyeretnya kasar menuju halte bus.

Arlojiku menunjukkan jam 11 lewat 32 menit saat aku mencoba duduk santai, menyibukkan diri dengan mengeratkan mantel berbulu tebal, membetulkan letak kacamata hitam sekaligus menarik ujung topi kupluk mencapai dahi sembari memerhatikan sekumpulan remaja yang menunggu bus. Namun setelah 5 menit berselang, aku sudah berpindah ke sebuah swalayan dan duduk di salah satu bangku yang menghadap langsung ke jalan, demi mengisi kekosongan di sudut lambungku dengan Noodle Cup.

Belum sempat memakan hidangan termewahku malam ini, aku malah menoleh bersamaan seruputan berisik di sebelah. Ckckck, segitu laparkah pemuda ini hingga melupakan tatakrama? Ya sudahlah, bukan urusanku juga kali.

Tanpa tedeng aling-aling aku menyumpit mi sebanyak-banyaknya, menghirup kuahnya nikmat sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Jangan lupa bernapas, nona Jong….”

“Huoun, henapah, hah? Hauk haddi huga hwehituw.”

“Telan dulu, baru bicara! Muncrat kemana-mana, kan jadinya. Ckckck, dasar jorok!” Sialan! Aku menelan habis kunyahan selagi dia meminum air mineral. “Kau tadi juga begitu makannya! Lagian kenapa sih, aku mesti bertemu kau terus-menerus? Kau, kan, bisa makan di tempat lain.”

“Kau sakit mata, huh?… Jangan-jangan ingin dibilang fashionista? Tapi sayangnya, kau gagal Nona Pirang.”

Aku sengaja menimbulkan bunyi srat-srut-srat-srut pada sumpitan terakhir sebelum beralih memandangnya. “Ya. Masalah?”

“Kau kabur?” Pemuda berkaos hitam itu menunjuk koper di belakangku. “Jay, kau tidak nyambung. Sumpah!”

“Terus anakmu bagaimana? Apa kau tinggal sendirian atau kau buang?” Aku bisa gila bila meladeni ketidaksinkronan perbincangan bersama pemuda ‘aku-kamu’ ini, Tuhan!

Jadi, pilihan terbijak untuk saat ini, tidak membalas pertanyaan randomnya dan bertopang dagu menyaksikan hiruk-pikuk di luar. Saat mataku pelan-pelan mulai terpejam, dia kembali bersuara, “apa kau punya tujuan?” Pertanyaan singkat yang terselip nada perhatian tidak biasa dari Jay, sangat cukup untuk mengembangkan senyumku sewaktu menggeleng penuh semangat.

Jay berdiri memasang jaket kulitnya, kemudian mengambil alih koperku seraya berkata, “kau bisa menginap di rumah Hae Rim.” Di rumah gadis plastik? “Shirreo! Lebih baik aku menggembel di stasiun kereta.”

“Oke. Jangan bilang aku tidak menawarimu tempat menginap!” Dia melepas pegangannya, menguap lebar memerhatikan ekspresi terperangahku. “Sebenarnya, kau niat, tidak?”

“Kau tidak mau. Aku bisa apa, huh?” Selepas berucap datar, dia melenggang santai meninggalkanku.

Cepat-cepat aku berlari menyusul langkahnya. Alih-alih mengejar, tepat di ambang pintu aku terjungkal dengan wajah terlebih dahulu mencium lantai. Sementara dia terpingkal menertawai kemalanganku mendapati kacamata patah sebelah, masih menggelantung di wajah kusut-masaiku. Salah apa aku sehingga bertemu makhluk berjenis lelaki bersifat 11-12 semua? Jika ini karma, pastilah dosa di masa laluku bukan sekadar maling ayam.

Susah payah aku bangkit menggeret koper dan melempar kacamata bedebah ke arahnya. Jay berhenti tertawa, termenung sejenak lalu mengangsurkan selembar saputangan di depan mukaku. “Nih, ambil”

“Untuk?”

“Kau mimisan. Makanya kalau jalan hati-hati!” Mengelap hidungku pelan sambil meringis, seakan dialah yang baru saja menghantam mesra lantai. “Sebaiknya, kau kuantar pulang.”

“Tidak.”

“Jong Hoon.” Sebuah suara yang berasal dari dalam Camaroo kumbang, tiba-tiba membawa hawa dingin ke tengkuk.

“Eeerr, Paman Choi.”

“Cepat masuk! Kita pulang sekarang.”

“Tidak mau!” Secepat dia berjalan, secepat itu pula aku berlindung di balik tubuh Jay.

“Ini sudah malam. Dan kenapa kau membawa koper?”

“Bukan urusanmu. Dia mau bawa koper atau tidak, Tuan. Ayo, Jong Hoon-ah, ikut aku!” Mampus! Aku berasa diperebutkan.

“Ini urusanku, nak.” Pria seperempat abad itu menyeretku ke sisinya. “Karena dia calon istriku.” Dia tersenyum melihat lawan bicaranya bungkam seketika. Sedang aku, tanpa perlawanan sedikit pun, terima-terima saja ditarik masuk ke mobil.

“Kenapa kau kabur? Siapa yang mengajarimu begini?”

“Karena a-aku ingin titik!”

“Tadi wali kelasmu meneleponku. Katanya, kau sudah 4 hari bolos sekolah. Ada apa denganmu?” Nada bicaranya kedengaran mengintimidasi, dia memijit dahi dan bersandar sambil mengembuskan napas keras-keras. “Hyung, putar arah, kita ke rumah sakit dulu.”

“Oke.” Pria di balik roda kemudi menyahut singkat.

Aku terlampau bosan mendengar Seunghyun mengeluh terhadap ulahku di sekolah. Tetapi, dia tidak pernah seuring-uringan ini sampai terang-terangan ingin memeriksakan diri ke rumah sakit. Terserahlah. “Jong Hoon, kurasa kau sakit… Otakmu barangkali mengalami sedikit gegar atau apalah namanya.”

Aku terkesiap. Gegar otak? Bukankah itu sama halnya dia… ck, Berani benar dia berkata otakku lengser. Dan, hei, yang sakit itu batinku! Ba-tin-ku! Catat itu baik-baik!

“Aku tidak butuh rumah sakit. Aku cuma membentur lantai. Mana mungkin salah satu jaringan otakku langsung bergeser! Paling banter bibirku yang jontor, sedikit.”

Dia kontan menggerutu lantaran dering ponsel menunda ceramah panjang yang akan dia utarakan. “Hyung, berhenti sebentar!” Keempat roda mobil bahkan belum berhenti sepenuhnya, ketika Seunghyun keluar–menjauh.

Mulanya aku berniat menungguinya di sini bersama sekretaris tampan yang mungkin membenciku. “Oppa?” Tiada tanggapan. Oke sip, aku keluar asal Jejung oppa bisa cerah ceria sepanjang masa, disukai binatang, anak-anak, remaja, orangtua, dan bila perlu para manula sekalian–usai kutinggal.

Aku baru berjalan 4 langkah, tetapi geraman berintonasi naik-turun pria yang hanya berjarak kurang dari 2 meter, menghentikan kakiku. “Apa…? Kau….” Mulai berjalan selangkah lagi. “Hamil? Bagaimana bisa? Sebentar Naomi, dengar aku! Kita bahkan belum pernah… Astaga, bisakah kau tidak mengancamku dengan kata bunuh diri?”

“Paman.” Dia berpaling. “Jahat!”

=====FLOWER BOYS=====

“Jangan pergi!”

“Aku harus, Jong Hoon-ah! Dia wanita nekat.”

“Kalau kubilang aku bakalan bunuh diri. Apa kau tetap tinggal di sini, paman?”

“Aku tahu kau takkan melakukannya.” Atas dasar apa sebulan lalu dia berani berkata demikian? Bagaimanapun, aku telah meruntuhkan seluruh harga diri ketika menjegal lengannya, tetapi, dia seenaknya menilaiku begitu. Kini, yang kumau dia harus tetap bersamaku walaupun aku cuma dijadikan sandera. Tak masalah.

Labil? Ya, aku memang labil. Aku bisa senang seketika gegara menemukan uang receh tergeletak di jalan atau kecewa berhari-hari cuma gegara aktor tampan dibuat mati dalam dramanya. Sebagaimana sekarang, aku merenung di bawah pohon berteman sekaleng Cola, juga Jay yang telah tidur nyenyak sejak aku datang. Pemuda ini selalu tertidur di sini pada jam istirahat sampai ada yang membangunkannya. Jika tidak ada, maka hanya Tuhan yang tahu kapan dia harus bangun.

“Seandainya ada Yonghwa, tentu aku tidak bernasib semengenaskan ini, iya kan?”

“….”

“Bisakah kau bangun, Jay? Aku butuh teman mengobrol.” Dengkuran halus menyahut. “Jay Park! Park Jaebum!” Aku menepuk–setengah menampar–pipi kanannya. Yang ajaib adalah, dengkuran dia makin kencang! Bukan main.

Mengibas-ngibaskan topi baseball usang yang berbulan-bulan tidak terjamah oleh belaian air tepat di depan wajahnya. Dan dia cuma mengusap-usap hidung sejenak lalu membelakangiku. Ini orang atau kerbau sih?

“JAY, ADA HAE RIM!” Dengan mata setengah terpejam, tahu-tahu dia terduduk; mengucek mata seraya celingak-celinguk ke segala arah. Inikah yang disebut kekuatan cinta?

“Mana?”

“Di kelas.” Dahi Jay langsung berkerut, menghela napas panjang namun tak mengatakan apa-apa. Perangainya kini persis Yonghwa.

Menit pertama.

Paro menit ketiga bahkan kelima, masih gemerisik dedaunan yang mengisi kelengangan. Di menit ketujuh dia kembali menghela napas, bersandar ke pohon serta menguap lebar.

“Dasar tukang tidur!”

“Kau tidak mengatakan sepatah pun, Nona Pirang. Kau pikir aku Edward Cullen, bisa membaca pikiran, huh?”

“Yah, setidaknya bertanya kenapa kek. Sok-sok perhatian juga tak apa.”

“Terus romantis-romantisan begitu?” Bunuh-bunuhan saja bagaimana?

“Kalau kau ingin menangis di pelukanku, bilang saja!” Komentarnya menusuk jiwa-raga. Sungguh penyesalan ini selalu datang terlambat.

“Anakmu bagaimana? Eh, tapi kapan kau mengandung?”

“Aish, yang kau anggap anakku itu cuma seekor anjing!”

“Apakah pria malam itu, penyebab lingkaran hitam di matamu?” Dia menunjuk daerah sekitar mataku tanpa rasa canggung.

“Hei, gadis transgender kau dipanggil ke ruang kepala sekolah!” Baik aku atau pun Jay lantas melempar arah pandang ke sosok Hae Rim yang berdiri pongah, 5-6 meter dari kami. “Ada walimu.”

Wali? Paman Choi?

Semakin dekat daun pintu ruang kepala sekolah semakin liar detak jantungku. Selewat semenit aku menarik napas dalam-dalam saat memutar kenop pintu.

Jujur, aku belum siap.

Dan dengan kecepatan cahaya jantungku lantas mencelus mendapati siapa orang yang bercakap-cakap akrab bersama kepala sekolah. “Eomma, Appa….

“Sayang, kami pulang.” Kalimat selanjutnya terdengar sayup-sayup di telinga. “Jong Hoonie.”

Semacam syok terapi berkepanjangan melihat sepasang parobaya ini pulang tanpa terbersit rasa bersalah secuil pun di benaknya. Padahal mereka pergi tanpa kabar berita, begitu pulang pun mereka riang gembira sambil tertawa mengingat nostalgia mereka yang baru kemarin terjadi.

Mengapa aku terlahir sebagai anak dari dua orang aneh ini?

Appa bilang, seusai mengurus salah satu anak perusahaan keluarga Choi di Kanada, mereka berburu… bukan, mereka tersesat di hutan dan dikira tewas setelah diterkam hewan buas.

“Tersesat bisa selama ini? Apa kalian manusia purba sampai tidak mengenal benda bernama kompas juga GPS? Manusia jaman waw saja sudah bisa membaca rasi bintang!” Hardikku sarkatis. Terlepas dari kemasa bodohan orangtuaku tentang anaknya yang merana di tengah hutan beton, aku menyimpulkan bahwa perkataan bibi menor tempo hari… fitnah. Demi menyingkirkanku sekaligus menggaet seorang Choi Seunghyun. Wanita licik.

“Bukan itu masalahnya, tapi alam bebas terlampau menyenangkan untuk dilewatkan.” Appa menjawab retoris, merentangkan kedua tangan lebar-lebar dan eomma pun langsung bersandar dalam dekapannya. “Suamiku, saat itu kau romantis sekali.”

Di hutan romantis? Yang benar saja, tempat perkumpulan flora-fauna saling makan dan dimakan begitu dibilang romantis. Setres!

Hampir setiap malam sepulang sekolah, aku duduk sendiri di trotoar dekat rumah dengan ponsel tergeletak di samping. Sudah jam 11 malam dan sedan hitam yang kuharapkan muncul tak kunjung datang. Ini sudah hari ke 56 aku menjadi seorang melankolis gara-gara paman seperempat abad itu, lucu, ya? Silakan cap aku sebagai gadis bodoh, tak apa. Aku tak peduli.

Berulang kali ponsel yang kulirik tak juga bergetar maupun berkedip. Kemana pesan: laut, darinya? Kemana poula mawar merah segar untukku?

Sekali sentakkan aku merenggut ponsel, berinisiatif mengiriminya pesan terlebih dahulu.

To : Annoyying Ahjusshi

Annyeong oppa. Aku merindukanmu. Hoeks! Menjijikkan. Bukan. Bukan begini.

Hei, Paman Choi, apa kau sudah mati? Miss you❤. Bah! Apa-apaan ini? Salah salah salah.

I Love You :*❤. Aaargh….

Mulai mengacak-acak rambut frustasi kemudian berjalan mengentak-entak tanpa pernah mengirim pesan jahanam.

Kembali kerumah dengan perasaan luluh-lantak bagai habis terkena serangan bom perang dunia II, aku melangkah sepelan mungkin memasuki kamar. “Kau baru pulang, Hoonie-ya?” Eomma bertanya, sekeluarnya dari dapur sambil membawa nampan. “Ne, eomma.

“Tadi sore Jejung datang Kemari.”

Lantas, untuk apa selama ini aku menunggu orang yang bahkan enggan menemuiku lagi?

“Dia mengantar undangan pernikahan Seunghyun.”

Lelucon buruk macam apa lagi ini?

=====FLOWER BOYS=====

Okesip, part endingnya bakalan benar-benar saia posting minggu depan. m(_._)m mohon dukungannya ceman-ceman :*