love dust part 5Author            : Zhie (@Zhiedara44)

Main Cast       : Park Sandara (25 Th)

                          Kwon Jiyong (23 TH)

Support Cast :

  Lee Donghae (27 Th)

  Nam Gyu Ri (18 Th)

  Lee Seung Hyun (18 Th)

  Jun Il Woo (28 Th)

Genre             : Romance

Length            : Chapter

Disclaimer      : Please…coment and don’t copy paste. ^^

Twitter            : @Zhiedara44

 

 

Dara POV

Aku masih terduduk di samping makam ini, dan saat ku sadari hanya Jiyong yang masih berdiri dibelakangku…akupun kembali menatap makam eomma yang bersebelahan dengan makam appa, akupun menyunggingkan senyumku. “Eomma, berbahagialah disana…appa telah lama setia menunggumu, jangan cemaskan aku…araesso?” Tanyaku sambil meletakkan seikat bunga terakhir yang kupegang kemakamnya. Aku telah berusaha untuk tak menangis lagi sekarang…aku ingin eomma dan appa melihatku sebagai yeoja yang kuat. Akupun berdiri dan berbalik menatap Jiyong.

“Kajja!” Ucapku padanya, karena kuyakin ia menungguku…iapun mengangguk dan mengikuti langkahku.

“Kau sudah lebih baik Noona?” Tanyanya saat kami telah menapaki jalan Desa, akupun tersenyum…aku sadar ia mengkhawatirkanku, dan aku sangat berterimakasih akan hal itu.

“Ne..Ji, cal cineyo!” Jawabku dengan senyuman. Setelah itu kami cukup lama tak saling bicara, dan sesampainya di depan rumahku. “Gomawo Ji, kau telah mengantarku…mianhe karena mengganggu waktu liburanmu.” Ucapku padanya.

“Anio…kau tidak pernah menganggu liburanku Noona.” Jawabnya cepat. ”Noona beristirahatlah, kau terlihat sangat lelah aku akan kembali lagi besok.” Ucapnya kemudian, akupun tersenyum mengangguk…dan iapun akhirnya berbalik meninggalkanku. Akupun masuk ke dalam rumah yang sekarang benar-benar terasa sunyi…tak ada lagi suara eomma yang menyambutku, tak ada lagi suara yang sibuk memasak di dapur.

Akupun mengunci pintu rumahku…karena aku tak ingin orang lain melihatku sekarang, aku terduduk seakan tak mampu lagi menopang tubuhku….aku menangis sekarang, aku telah menahannya cukup lama…kurasakan dadaku terasa sesak…akupun meluapkan semua yang kurasakan saat ini dengan menangis, rasa kehilangan, kesepian, dan menyadari aku telah sendirian sekarang. Aku ingin aku dapat kembali menjadi Sandara Park yang eomma dan appa banggakan. “Biarkan aku menangis untuk saat ini eomma…setelah ini aku beerjanji akan menjadi yeoja yang kuat.” Ucapku lirih.

Jiyong POV

Aku berniat membersihkan diri sekarang, tapi saat itu aku teringat untuk menghubungi Il Woo Hyung…akupun mengambil ponselku dan berjalan keluar untuk mendapatkan sinyal.

“Yeoboseyo, Hyung.” Ucapku saat ia telah mengangkatnya.

“Ne…Ji.” Jawabnya, aku tau ia sedang sibuk sekarang karena menggantikan pertemuanku dengan beberapa klien.

“Apa semuanya lancar Hyung?”

“Ne…aku bisa mengatasinya Ji.” Jawabnya membuatku sedikit lega, “Bagaimana kondisi yeoja itu sekarang?” Tanyanya kemudian, aku sudah memberitahunya sebelumnya bahwa ajhumma telah tiada…dan dia turut simpati akan hal itu.

“Dia terlihat baik-baik saja sekarang Hyung.” Jawabku dan sekarang aku sedang memikirkan kata yang tepat untuk membicarakan hal yang akan membuatnya kembali menceramahiku.

“Mengapa kau diam Ji? Aku merasa ada hal yang serius yang ingin kau bicarakan.” Ucapnya seakan ia bisa membaca pikiranku, dan kuakui tebakannya benar.

“Ne…Hyung.” Jawabku mengiyakan, akupun menghela nafas panjang sebelum mengatakannya. “Hyung, bisakah aku membawa yeoja itu bersama kita?” Tanyaku dan aku mendengar ia sedang tersedak sekarang…

Dara POV

“Eomma, Appa… apa kalian melihatku sekarang?” Tanyaku lirih, malam ini aku kembali menaiki pohon yang merupakan tempat favoritku….kembali memandangi bintang di langit yang terlihat cerah malam ini.

“Mereka pasti melihatmu Noona.” Jawab sebuah suara yang mengagetkan, dan akupun dapat melihat pemilik suara yang tak asing lagi ditelingaku.“Turunlah Noona…ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Ucapnya kemudian, akupun kembali melihat ke arahnya.

“Wae Ji? Kau bisa mengatakannya dari bawah sana…”

“Ya! Aku seperti bicara dengan seekor monyet jika kau terus berada di atas sana Noona.” Ucapnya kemudian, akupun menggerutu karena ia kembali menggangguku sekarang. Dengan terpaksa akupun turun meninggalkan tempat favoritku.

“Kau berhasil menggangguku Ji.” Ucapku membuatnya menyunggingkan senyum menyebalkannya…

“Kau memang monyet yang penurut Noona.” Jawabnya berlalu menjauhiku.

“Ya! Apa yang kau katakan hah?” Dia tertawa lebih keras sekarang, cih…apa ia datang hanya untuk menertawaiku?

“Kemarilah Noona…!” Ucapnya kemudian, kulihat ia telah duduk di teras rumahku…akupun menghampirinya dan ikut duduk disampingnya.

“Apa yang ingin kau katakan Ji?” Tanyaku kemudian.

“Aku akan kembali ke seoul besok Noona.”

“Benarkah?”

“Ne…Il Woo Hyung akan menjemputku besok.”

“Baguslah…kau akan kembali dengan kesibukkanmu Ji.” Ucapku kemudian, tapi ia diam tak menjawab…kamipun terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia mengucapkan sesuatu.

“Noona…ikutlah dengan kami ke Seoul besok.” Ucapnya membuatku menatapnya.

“Omo…apa yang kau katakan Ji? Kau sedang bercanda hah?”

“Anio…aku serius Noona….ikutlah dengan kami besok.” Jawabnya lagi membuatku tak mengerti apa yang dimaksud namja ini.

“Aku tak ada alasan untuk ikut dengan kalian Ji.” Ucapku kemudian. “Aku akan baik-baik saja disini…kau bukanlah seseorang yang harus mengkhawatirkanku Ji.” Lanjutku membuat ia menghelakan nafas panjang.

“Aku tak bisa meninggalkanmu Noona…ajhumma akan sangat mencemaskanmu nanti. Dia tak ingin melihatmu seorang diri Noona.”

“Apakah eomma yang menyuruhmu Ji?”

“Ajhumma memintaku untuk menjagamu Noona…tapi tanpa ia minta aku merasakan akan melakukan hal yang sama.” Jawabnya membuat aku mencari keseriusan disetiap kata-katanya.

“Aku tak pernah berpikir untuk meninggalkan tempat ini Ji…aku tak ingin membuatmu merasa terbebani dengan permintaan eomma…aku tahu kau seorang namja yang bertanggung jawab, karena itu aku tak akan menyusahkanmu lebih dari ini.”

“Ani…jangan berpikir seperti itu Noona, aku tau kau yeoja yang kuat…tapi untuk sekarang, aku tau kau belum bisa sepenuhnya menjalani hidup dengan baik seorang diri…dan eommamu juga tau pasti akan hal itu…dia tidak ingin melihatmu kesepian Noona.” Ucap namja ini yang membuatku menahan air mataku, ia bisa menebak dengan benar bagaimana keadaanku sekarang…suasana kembali menjadi hening, kami sama-sama terdiam sekarang…dan saat itu Jiyong meraih telapak tanganku dan menyerahkan cincin milikku.

“Aku telah mengembalikan benda berhargamu itu, aku tidak ingin kau menganggapku memaksamu untuk ikut karena aku masih memiliki benda itu.” ….”Aku akan kembali ke penginapan sekarang, Noona…pikirkanlah baik-baik. Jika kau berubah pikiran, datanglah kepenginapan…kami akan menunggumu. Aresso?” Aku hanya tersenyum mengangguk menanggapi ucapannya, dan kulihat Jiyong telah berlalu pergi…aku menatap cincin yang berada di telapak tanganku.

Aku tiba-tiba teringat oleh seseorang yang selama ini masih aku rindukan. “Oppa…apa kau juga akan bersikap seperti namja itu, aku berharap kau akan melakukan hal yang sama oppa.” Ucapku dalam hati, akupun kembali menatap ke langit malam…menatap jauh seakan aku bisa melihat apa yang ingin aku lihat.

“Eomma…apa aku harus ikut dengannya?” Tanyaku lirih walaupun aku tau tak akan ada jawaban yang terdengar….

***

Jiyong POV

“Apa kita harus menunggunya lagi sekarang?” Tanya Il Woo Hyung, bisa kupastikan ada nada kekesalan disuaranya. Akupun bisa memakluminya…aku telah memaksa Hyung untuk menyetujui kembali permintaanku untuk membawa yeoja itu dan sekarang aku kembali memintanya untuk menunggu kedatangan yeoja yang berhasil membuatnya kesal.

“Ne…Hyung, aku yakin ia akan datang.” Jawabku membuatnya ia hanya bisa menghela nafas panjang…entah mengapa aku benar-benar yakin yeoja itu akan datang.

Il Woo POV

Aku merasa akan gila sekarang…sudah lebih dari 2 jam kami menunggu yeoja itu tapi ia sama sekali tak menampakkan diri, kulihat Jiyong masih tenang membaca surat kabar yang aku bawa. Aku mulai kehilangan kesabaran sekarang.

“Ya! Aku tak bisa menunggu yeoja itu lagi Jiyong-shi.”

“Tunggulah sebentar lagi Hyung.”

“Kau sudah berkata hal yang sama lebih dari 10 kali Ji…aku bosan mendengarnya.”

“Dia akan datang.”

“Apa dia yang mengatakan padamu hah?”

“Ani…dia tak mengatakannya, tapi aku yakin ia akan datang.” Jawabnya membuat aku kembali tak habis pikir…apa yang yeoja itu lakukan pada bocah ini, dia terlihat sangat bodoh sekarang. Dan saat itu pintu penginapan kami terbuka…kulihat seorang yeoja yang menjadi sumber kekesalan ku tengah berdiri berusaha mengatur nafasnya…dengan 2 buah tas besar yang ia bawa dan kotak berukuran yang lumayan besar juga, apa dia membawa itu semua seorang diri…dia terlihat seperti tukang angkut barang sekarang.

“Apa aku terlambat?” Ingin rasanya aku menjawab pertanyaannya bodoh nya itu, tapi Jiyong telah mendahuluiku.

“Ani…tapi cukup untuk membuat Il Woo Hyung menggerutu kesal Noona.” Jawab Jiyong dan kulihat yeoja itu menatap kearahku dan membungkukan badannya.

“Mianhe Oppa…aku harus berpamitan dengan beberapa orang di desa ini, jadi mianhe atas keterlambatanku.” Ucapnya merasa bersalah, dan itu berhasil meredakan kekesalanku.

“Baiklah…kita pergi sekarang.” Jawabku kemudian…dan kulihat Jiyong mendekati yeoja itu untuk membantu membawakan barang bawaannya.

“Apa yang kau bawa ini Noona…bukankah ini terlalu banyak, kau seperti membawa seisi rumahmu didalamnya.”

“Ani…aku hanya membawa yang benar-benar penting Ji.”

“Lalu apa ini?”

“Ah…ajhussi tadi memberikannya padaku, itu berisi beberapa botol susu dan biskuit…dia adalah bos yang baik.”

“Aku rasa ia memberikanmu agar kau dapat bertumbuh lebih besar Noona.”

“Ya! Apa yang kau maksud Ji.” Terdengar suara mereka ditelingaku, aku benar-benar merasa akan bekerja keras setelah ini…mengawasi 2 bocah, apa aku seperti seorang appa sekarang??? Ah…lupakan, ini akan baik-baik saja…

Dara POV

Kami telah berada di mobil sekarang…aku terus menatap keluar jendela, melihat dengan seksama Desa yang akan ku tinggalkan. Aku tidak merasa keputusanku ini salah, walaupun aku pasti akan merindukan tempat ini. Aku memandangi syal berwarna biru yang dititipkan Lee ajhumma pada saat aku berpamitan dengannya. Dia berharap aku dapat bertemu dengan putranya dan memberikan syal yang telah ia buat ini…aku hanya menghela nafas panjang membayangkannya, aku memang merindukan dirinya…tapi untuk bertemu dengannya aku rasa aku tak akan siap. Lagipula Seoul bukanlah kota yang kecil…aku tak yakin dapat menemuinya.

Kupandangi setiap jalan yang kulalui…dan saat itu Jiyong yang duduk disebelahku sedang asik mendengarkan musik dari headsetnya dan menutup wajahnya dengan topinya, sepertinya ia berusaha untuk tidur sedangkan  Il Woo Hyung yang duduk disamping seorang ajusshi yang memegang kemudi  terlihat sibuk membaca sebuah kontrak persetujuan…

“Jiyong-shi.”

“Ne…Hyung.”

“Apa kau yakin akan menerima kontrak ini?”

“Apa kau berpikir aku tidak mampu Hyung?”

“Ani…ini akan memakan banyak waktu Ji…ini akan menjadi drama yang panjang, bukankah kau akan fokus pada penyelesaian albummu?”

“Ah…itu benar.”

“Lebih baik kita tidak menerima tawaran seperti ini dulu Ji…fokuslah pada  albummu sekarang, aku hanya akan menerima tawaran untuk beberapa iklan, pemotretan dan reality show…bagaimana?”

“Aku akan serahkan itu padamu Hyung…aku percaya akan keputusanmu.” Jawab Jiyong kemudian, akupun berpikir mereka akan benar-benar sibuk setelah ini…aku baru menyadari aku akan tinggal dengan seorang aktor besar, apakah ini akan baik-baik saja…aku tak ingin merepotkan mereka…

“Hei…Noona.” Ucap Jiyong kemudian.

“Ne.” jawabku menatapnya.

“Apa yang kau pikirkan hah?” Tanyanya kemudian.

“Ani…aku hanya berpikir kau akan sangat sibuk nanti Ji. Aku jadi merasa ini keputusan yang salah untuk ikut dengan kalian.”

“Ya! Jangan berpikir seperti itu lagi Noona…kau telah memutuskan untuk ikut dengan kami jadi kau sekarang adalah bagian dari kami, benar begitu Hyung?” Kulihat Il Woo Oppa mengangguk mengiyakan. “Jadi janganlah berpikir macam-macam…araesso?” Tanyanya kemudian, akupun mengangguk cepat.

Setelah beberapa jam perjalanan ….

Jiyong POV

Akupun membuka mataku saat Il Woo Hyung mengatakan kalau kami telah tiba, kulihat yeoja disampingku masih tertidur pulas. Saat ini hari telah malam…menempuh perjanan selama 6 jam membuatku sangat lelah.

“Hei…Noona, bangunlah.” Ucapku membangunkan yeoja itu, iapun membuka matanya dan menatap sekelilingnya.

“Apa kita sudah tiba?”

“Ne…sekarang turunlah, ajusshi akan membantu membawa barang-barangmu.” Ucapku kemudian, iapun keluar dari mobil dan berjalan mengikuti langkahku…kulihat ia masih memandangi sekelilingnya.

“Ini rumahmu Ji?”

“Ne…dan aku hanya tinggal bersama Il Woo Hyung disini.” Jawabku, iapun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Kamipun masuk ke dalam rumah, kulihat Il Woo Hyung telah merebahkan dirinya di sofa. Lalu kami menaiki tangga ke lantai 2…“Noona…kau bisa memakai kamar ini.” Ucapku kemudian menunjukkan kamar yang ia bisa tempati untuk sementara…karena kamar tamu yang lain telah berisi barang-barang pemberian dari para fans. “Kamarku ada di ujung sana, sedangkan kamar Il Woo Hyung ada di bawah tepat di ruang tengah.” Ucapku menjelaskan hal yang kurasa ia perlu ketahui sehingga ia tak akan masuk ke tempat yang salah.

Ia pun mengangguk mengerti. “Kajja…masuklah.” Yeoja itupun masuk ke dalam kamar yang bernuansa lembut ini…dengan warna pink yang sangat dominan “Ji…bolehkah aku bertanya sesuatu?” Ucapnya saat aku beranjak untuk meninggalkannya, akupun berbalik menatapnya. “Bukankah kau bilang hanya tinggal berdua dengan Il Woo Oppa…tapi aku rasa kamar ini ada yang menempati sebelumnya, dan itu seorang yeoja. Apa tebakanku itu benar?” Tanyanya, akupun tersenyum.

“Itu benar Noona…tapi kau tenang saja, ia sedang tak berada disini sekarang.”

“Apa tidak masalah aku menempati kamar ini?”

“Ani…ini menjadi kamar yang tak berpenghuni sekarang, jadi aku rasa akan lebih baik jika ada yang menempatinya.” Jawabku lagi meyakinkannya.

“A…ne, Baiklah…aku akan beristirahat sekarang Ji…jalja.” Ucapnya kemudian.

“Ne.. Joheun kkum kweo Noona.” Jawabku, iapun tersenyum dan menutup pintu kamarnya sekarang. Akupun kembali ke lantai dasar untuk berbicara dengan Hyung tentang jadwalku besok. Kulihat ia sedang membuat minuman hangat sekarang.

“Hyung…bagaimana jadwalku besok?”

“Kau ada pemotretan besok Ji…dan lokasinya cukup jauh, kita akan berangkat lebih awal.” Jawab Il Woo Hyung, akupun mengangguk mengerti.

“Ji, apa kau menyuruh Dara untuk menempati kamar itu?” Tanyanya kemudian, akupun mengangguk. “Aigo…yeoja itu akan marah besar bila dia tau ada yang menempati kamarnya…kau tentu tau itu bukan.” Ucap Il Woo Hyung kemudian.

“Ne Hyung…tapi aku rasa ia tak akan datang dalam waktu dekat…kita hanya memiliki kamar itu sekarang, biarlah Noona memakainya untuk sementara.” Jawabku kemudian berbalik pergi menuju kamarku untuk beristirahat…..aku benar-benar lelah sekarang.

Pagi yang cerah di Kota Seoul…sinar matahari tak mampu mengurangi hawa dingin yang serasa menusuk tulang. Darapun baru terbangun dari tidurnya.

Dara POV

Aku baru ingat kalau sekarang aku telah berada di rumah Kwon Jiyong…tak pernah aku membayangkan dapat menempati kamar yang luas dan sangat cantik ini. Dengan warna pink yang dominan…seperti warna kesukaanku, walaupun aku masih bertanya-tanya siapa yeoja yang dimaksud Jiyong…saudara perempuannya atau yeojachingunya, aku tak sempat menanyakannya semalam. Akupun bangkit dari tempat tidur, untuk pergi membersihkan diri…dan saat itu aku cukup terkejut karena ada kamar mandi yang cukup besar di kamar ini

“Omo…kamar mandi ini luasnya lebih dari kamar tidurku dulu…ini lebih cocok untuk pemandian umum…kurasa tempat ini dapat menampung lebih dari 10 orang.” Gumanku tak percaya…ini terlihat sangat hebat. Akupun langsung menikmati berbagai fasilitas yang ada…walaupun aku tak begitu mengerti bagaimana cara menggunakannya. Setelah lama membersihkan diri…akupun tersenyum di depan cermin.

“Hwaiting Dara…ini hari pertamamu di Seoul, jadi bersenang-senanglah.” Ucapku dalam hati, akupun membukan pintu kamar ini. Tapi terasa sunyi sekarang…apa Jiyong dan Il woo Oppa masih tertidur? Dan saat itu aku menemukan sebuah kertas berisi pesan di depan pintuku, akupun mengambil dan membacanya…

 

Hei Noona…
Kami pergi lebih awal hari ini.
Baik-baiklah selama kami pergi.
Dan jika kau lapar, ada banyak makanan di lemari pendingin.
Kau bisa memasaknya ataupun menghangatkannya.
Jangan berjalan-jalan keluar rumah karena kau belum mengenal tempat ini…
Jadi cukup beristirahat dan bersenang-senang…araesso??O.O

Mr. J

Aku seorang diri sekarang, kulangkahkan kakiku menuruni tangga…dan melihat-lihat seisi rumah yang sangat luas ini, jujur aku cukup takjub…rumah ini lebih dari kata sempurna untuk sebuah hunian, dan aku mulai merasa lapar sekarang. Akupun menuju dapur dan membuka lemari pendingin yang ia katakan tadi.

“Bukankah dia bilang disini terdapat banyak makanan, aku hanya menemukan makanan kaleng dan makanan yang siap saji disini…aigo, apa mereka selalu memakan ini? Tidak ada satupun bahan-bahan makanan…eomma tidak akan suka jika aku makan makanan seperti ini, ia selalu bilang ini tidak sehat. Lalu apa yang bisa aku makan sekarang?” Akupun menutup lemari pendingin itu dengan kecewa, tak ada bahan makanan yang bisa kumasak sekarang.

“A…bukankah aku bisa membeli beberapa bahan makanan untuk di masak, aku rasa pasti ada yang menjualnya di sekitar sini…kyaa, kau jenius Dara…mereka akan terkejut saat pulang nanti melihatmu menyiapkan makanan untuk mereka.” Ucapku bersemangat akupun segera mengambil beberapa uang di dompetku dan bersiap-siap untuk pergi.

“Aku tak akan pergi jauh.” Batinku memastikan. Akupun melangkahkan kaki keluar dari rumah besar ini, dan saat itu dapat kulihat pemandangan yang sangat jauh berbeda dari desaku…akupun terus melangkahkan kakiku, sampai aku menyadari ada seseorang yang terus membuntutiku, aku berbalik…kulihat seorang pria dengan memakai topi dan kacamata hitam, tetapi wajahnya tak terlihat jelas karena ia menutupinya dengan syal yang ia kenakan, aku merasa ia menyembunyikan sesuatu dibalik jaketnya.

Aku mulai merasa tak enak sekarang…kupercepat langkahku untuk menghindari pria aneh itu, tapi ia terus membuntutiku hingga akupun tanpa sadar telah berlari dan ia tetap mengejarku. “Omo…siapa dia? Mengapa ia mengejarku?” Ucapku di sisa-sisa tenagaku…akupun merasa lelah sekarang, dan saat itu aku melihat ada sebuah bus yang berhenti di halte…akupun dengan sekuat tenaga berlari dan menaiki bus tersebut…dan saat itu dapat kulihat pria aneh itu berhenti mengejarku. Aku lega, dan saat itu aku telah menyadari…aku dalam situasi yang lebih buruk sekarang.

 

To be continued…..

Iklan