Author : Windi larasati (numpang promo twitter @windy_choi)

Main cast :

  • Kwon ji yong
  • Choi ji hyun as you or gue juga kaga pape -_-
  • Choi seung hyun as jihyun’s brother

Length : ONE SHOOT

Genre : Sad Romance, Lies, and Sick

Disclaimer : ini ff terinspirasi dari lagu favorit gue nomer 1 di Bigbang yaitu Monster, yang baca silahkan komen ye demi kelangsungan hidup ff gue nantinye -_-

Summary : aku adalah satu yang selalu menjadi korban dari takdir dan perasaan.

 

HAPPY READING ! :)

 

bang

“permisi ahjumma, bisa beritahu aku dimana letak rumah ini?” Tanya seorang namja berambut kecoklatan dengan membungkukkan badannya kepada seorang bibi tua berbadan gemuk pendek dan rambut ikalnya yang pirang diseberang jalan.

“kau mencari rumah ini? Tepat disana, dekat gereja itu, sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk kau berkunjung kesana” jelasnya

“mianhae ahjumma, memangnya ada apa dengan rumah itu?” tanyanya memperjelas sembari menunjuk potret yang digenggamnya.

“jika sedang musim dingin, rumah itu lembab, berhati-hati saja karena rumah itu bisa membuatmu terpeleset” jawab ahjumma itu terkekeh lebar.

“ah, ahjumma pintar bergurau nde, kamsahamnida ahjumma” teriaknya dengan berlalu menuju rumah kosong dekat gereja.

Langkah kakinya menjadi pelan saat dia membuka pintu gerbang, terlihat design ornamen mewah dan elegan terlusuh menjadi seram dan banyak lumut berkeliaran dimana-mana, akar gantung mengayun disamping dimana ia berjalan, sedikit mental sebenarnya ia memberanikan diri ketempat ini karena profesinya begitu menuntutnya. Seorang potograper ditangguhkan untuk memenuhi tugasnya dengan sempurna seperti hasil yang ia kemas tanpa editan yang belakangan menjadi tren, ia masih kokoh, masih teguh pendiriannya untuk bernaung dalam kejujuran. Agar hasil yang didapat bisa berkualitas.

Sepi, daerah disekitar itu cukup menyeramkan. Banyak opini dari masyarakat tentang desas desus pemilik rumah yang dibunuh saat pesta pernikahannya, seorang perempuan cantik bernama Se Hyun Lee yang dibunuh oleh suaminya yang seorang psikopat setahun yang lalu, ya dan potograper bernama Kwon Ji Yong itu mendengar ceritanya.

Rasa penasaran yang menyeruak itu membuatnya memotret sekeliling suasana apa adanya. Setelah beberapa hasil yang dia rasa cukup untuk membawanya kembali pergi meninggalkan tempat seram itu, ia berbalik pergi dan melihat sorang perempuan berambut cokelat panjang mengenakan levis hitam dan baju putih panjang dengan tas dipundaknya keluar dari gereja. Ini adalah gambaran sederhana dimata  Ji Yong untuk tipe perempuan yang ia idamkan.

Ia menghampiri yeoja itu dengan tergesa-gesa, “tunggu” teriaknya.

Perempuan itu mencari sumber suara didepannya, terlihat seorang namja yang terburu-buru menghampirinya, “mwoya?” sahutnya lembut

“kau mau kemana?” tanyanya tersengal-sengal, perempuan yang kini merasa aneh dengan kedatangan seorang namja yang tak ia kenal.

“aku? Aku ingin pergi ke toko buku, apa yang kau lakukan disini dan disana?” tunjuk perempuan itu kembali kerumah besar yang menyeramkan.

“tak ada, kau berdoa di gereja tua ini?” tanyanya

“ini tidak tua, hanya saja sedikit tak terurus” jawab prempuan itu sembari berlalu, namun Ji Yong menyusulnya.

“nuna, em, bisa-kah-ki-ta?” tanyanya terbata saat perempuan itu lengah menatapnya.

Manis sekali gumam Ji Yong

Perempuan itu melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Ji Yong, “kau waras?”

Segera mungkin Ji Yong tersadar dan meneruskan kembali ucapannya, “Kwon Ji Yong imnida” sapanya sembari mengulurkan tangan.

Balasan perempuan tersebut hanya membungkukkan badannya, “Choi Ji Hyun imnida”

Ji Yong kini menjadi canggung, mungkin selama ia bersekolah di Amerika, ia sedikit lupa tradisi di negaranya sendiri.

 

“kau ini darimana? Mengapa sedari tadi mengikutiku?” Tanya perempuan itu sepanjang perjalanan sembari menendang bulir bulir kerikil dijalanan.

“rumahmu dekat dengan gereja itu?”

“nde, ada apa?”

“bisakah beritahu aku tentang cerita dimana dulu ada pembantaian seorang perempuan dirumah yang tadi sempat aku kunjungi? Aku ingin mengetahuinya lebih dalam lagi”

“sebenarnya itu tak ada, hanya omongan lelucon untuk anak kecil yang ingin main disekitar rumah itu, depan gerbang itu ada lubang bekas galian jalan dan dulu ada beberapa korban yang terjebak dan tak bisa kembali, orang-orang lalu menutupnya dengan dedaunan ataupun ranting-“ perempuan itu berhenti berbicara karena Ji Yong memotongnya

“mengapa tidak menggunakan batu atau tanah?”

Perempuan itu menggeleng, “ani, aku tak mengerti”

“kau sering kesana?” tanyanya polos

“aku hanya kesana apabila musim dingin” perempuan itu tersenyum dingin “baiklah tuan kurasa kita harus berpisah, arahmu kesana dan aku akan berbelok, anyeong”

Ji Yong masih terbelalak tak mengerti karena perempuan yang dingin itu menarik perhatiannya, ia melihat suasana kanan kiri yang masih terlalu sepi, akhirnya ia berlari memutuskan untuk mencari sosok perempuan itu tapi ternyata ia sudah tidak ada.

“gang ini sempit dan buntu, kemana perginya ia?” dia berbicara lirih dan sendiri.

Ji Hyun pov

“aku sudah yakin kau akan mencariku Kwon Jiyong” kekeh seorang perempuan yang mengenakan pakaian hitam pas lutut, rambutnya terurai panjang dan bertanduk ditengah, matanya berubah menjadi merah dan giginya mengeluarkan taring mungil dan membuat perempuan yang sebelumnya tadi cantik kini menjadi seram. Ia duduk diatas balkon, memandangi Kwon Jiyong yang kini pergi menunggu bis di halte.

Ia berbalik dan mendapati seorang Choi Seung Hyun yang tak lain adalah kakaknya, ia sama seperti dirinya hanya saja rambutnya tersisir miring dan rapi, matanya bening kehijauan.

“apa maksudmu orang itu yang nantinya akan menghancurkanku oppa?”

“belum saatnya saeng” lelaki itu mendekat dan memeluk perempuan yang kini berubah rautnya menjadi sedih.

Ji Yong pov

“perempuan itu seperti monster” gumamnya

“cut” teriak lelaki bertubuh gendut “kau harus memperhatikan objeknya lain kali Jiyong-ssi” kata pria itu menepuk pundak Ji Yong

“mianhae aku sedang tak berkonsentrasi” ia menjadi gugup

“lain kali jangan kau bawa urusan pribadimu dengan pekerjaan, ara?” nasehat pria itu kembali berdeku dengan kameranya sementara Jiyong hanya bisa mengangguk mengerti.

Sorenya ia kembali ketempat itu lagi, ia berharap dapat bertemu dengan yeoja yang tadi pagi berbincang lalu menghilang dengan sendirinya, ia melihat sekeliling, mengapa kota ini masih saja sepi? Batinnya.

Tak lama kemudian datang sosok perempuan dengan mantel hijau menyeberang jalan menyusuri trotoat, tanpa ragu lagi ia melangkah dan menghampiri perempuan itu.

“ji hyun-ya, hai” sapanya

“oh kau lagi, ada apa jiyong-ah?” Tanya perempuan itu sedikit keheranan.

“tidak, aku tadi pagi mengejarmu tapi kau menghilang begitu saja padahal jelas-jelas gang yang aku lewati itu buntu, bagaimana bisa?” jiyong bertanya, nafasnya tak beraturan karena udara memang benar-benar dingin.

Perempuan itu tertegun cukup lama, merasa tidak enak karena pertanyaannya jiyong akhirnya berbicara kembali, “aku kedinginan, rumahmu dekat dari sini?”

Ji hyun menggandeng tangannya dengan lembut tapi yang dirasa oleh jiyong hanyalah dingin, ia mengerti kalau jihyun akan membawanya kerumahnya.

Sesampainya disana ia melihat seorang laki-laki tampan dan gagah membaca Koran dekat perapian, ia memakai syal dan jas lengkap seperti seorang direktur perusahaan, yang terlintas dalam benak jiyong lelaki itu adalah suami jihyun tapi nyatanya-

“oppa, kenalkan ini jiyong temanku, ia ingin istirahat sebentar disini, udara diluar benar-benar dingin” kata perempuan itu berlalu menuju dapur, jiyong memandangi ornament interior ruangan yang antic, tersusun dengan rapi. Ia mendekati seung hyun, barusaja ia ingin membuka mulutnya tiba-tiba seunghyun mendahuluinya bertanya

“nuguya?” ia berbalik dari kursi dan berdiri mendekati jiyong, jiyong membungkukkan badannya 90 derajat, “kwon jiyong, panggil jiyong saja nde”

“aku seung hyun, choi seung hyun, kau bisa memanggilku hyung, aku kakak ji hyun”

Jiyong menatap lama mata seunghyun, seolah-olah ada misteri, matanya menarik dan tak biasa. Ia membatin, pandangannya menajdi hambar, ji hyun keluar dari dapur membawakannya sereal dan minuman hangat tapi jiyong terburu-buru menghampirinya.

“simpan ini, aku akan kembali esok” kata jiyong sembari menyerahkan sobekan kertas kecil lalu berpamitan pada seunghyun yang hanya meliriknya dari depan.

Ji hyun meletakkan nampannya terburu-buru lalu naik keatas menuju kamarnya, membuka kordin putih yang using, kacanya terkena embun salju, ia memandangi tubuh mungil kwon jiyong yang berlari dan melindungi kepalanya dengan tangan, meraba pelan kaca dan seolah hatinya memanggil nama itu untuk berhenti.

Jiyong memandangi sekeliling saat keluar, ia barusaja keluar dari rumah dekat gereja yang penuh akar gantung, rumah yang tadi pagi ia tanyakan kepada ahjumma diseberang jalan.

Ia masih tak mengerti, semua yang ia lakukan seperti diluar batas sadar. Bukankah rumah ji hyun dibelakang gereja? Mengapa aku keluar dari tempat ini?

Ia tak peduli, ia terus berlari dan menuju rumah, membakar semua rasa curiganya dengan menghidupkan kran yang membasahi seluruh tubuhnya.

 

 

“ji hyun, ini akan sangat sakit” tegur seung hyun yang sedang berbalik didepan ia duduk, ia masih terdiam. Seung hyun melanjutkan penjelasannya kembali “aku tak ingin engkau, masa depanmu masih panjang, bahkan dia bisa menyelamatkanmu jihyun”

“jinjja oppa? Jongmal?” matanya berkaca-kaca

Seung hyun mengangguk, ia kembali mondar mandir didepan ji hyun, “aku melihat dia juga mencintaimu, tapi dengan cintanya itu dia juga bisa menghancurkanmu”  lagi lagi ji hyun terdiam

“dia akan menyelamatkanmu, dengan begitu aku yang akan menjadi monster yang terakhir, tetapi jika tidak maka kau dan aku yang akan tetap berkuasa, kita akan pergi dari sini tetapi kau masih bisa menemui jiyong jika akhirnya kalian tak bisa bersatu. Ji hyun dengar aku, sebenarnya aku tak rela, tapi darah iblis itu telah mengaliri setiap denyut aortamu, jika ia menyakitimu kau akan berubah menjadi monster, perubahannya cukup menyakitkan, seperti dikuliti! Tapi jika kenyataannya berbalik, kau akan berubah menjadi malaikat”

“bagaimana aku harus menjawab oppa?”

“beritahu dia jika saatnya tepat nanti, aku akan melihat perkembangan sejauh mana kalian bisa bertahan” kata seung hyun meninggalkan ji hyun diruang tamu sendirian

“mengapa harus dia?” gumam ji hyun

 

 

Jiyong membolak-balikkan handphonenya hingga jam 11 malam matanya belum bisa terpejam, akhirnya tak lama kemudian handphonenya bordering. Nomornya sedikit aneh dan janggal

“nuguya?”

“aku jiyong-ssi”

“mianhae aku sedikit tak sopan tadi”

“gwaenchana”

“ini nomormu?”

“ne”

Sedikit aneh

Mereka terdiam cukup lama, “ah ji hyunnie, kau mau menemaniku ketaman esok?”

“geuraeyo jiyong-ssi”

Tutt…

Telepon terputus cepat, jiyong semakin penasaran dengan perempuan itu.

 

 

Jiyong sudah menunggu perempuan itu ditaman, ia duduk dan tertawa kecil melihat anak kecil bermain didepannya.

“lama menunggu ya?” tiba-tiba perempuan yang ditunggu duduk disampingnya, sinar matahari membuat senyumnya meluluhkan hati jiyonh saat itu, ia bahkan gugup tak bisa berkata apapun.

“ani, kau cantik sekali” puji jiyong

“aku akan selalu begitu dihadapanmu” kekehnya “ada yang ingin kau tanyakan, aku ingin mendengarnya”

“kau-monster-can-tik” entah mengapa jiyong mengeluarkan kata-kata itu tanpa sadar, lalu ia berkedip dan meminta maaf karena perkataannya barusan, tapi perempuan itu sama saja tak tersinggung.

Ia berbicara cukup banyak, sepertinya pendekatan jiyong berhasil dan target untuk memacarinya akan berlangsung secara cepat.

 

2 bulan kemudian

Hari demi hari jihyun mulai terbuka dengan jiyong, mereka saling berbagi hingga ia rasa ada satu kata yang cukup mengganggu yang perlu dikatakan.

Hujan mengguyur kota Seoul dengan sempurna, didalam rumah jiyong sedang memutar telepon dan seperti biasa selalu memikirkan ji hyun,kurasa ini waktu yang sangat tepat ia nantikan, ia tak mau apabila ji hyun termiliki orang lain. rasa egoisnya muncul saat itu juga

“ji hyun aku ingin berbicara denganmu, temui aku ditaman seperti biasa pukul 8 pagi” dia menutup telepon cepat-cepat.

 

Jihyun pov

“apa ini sudah saat yang tepat oppa?” sekali lagi ia mengkonfirmasi pertanyaannya kepada seung hyun yang lebih mengetahui apa yang terjadi nanti, sayangnya seung hyun hanya mengangguk. Seperti ada hal yang tersembunyi, namun ji hyun terlalu cuek dan polos sehingga tak memperdulikan hal ini.

 

 

Ji hyun menunggu kedatangan jiyong ditaman, ia duduk dan berharap jiyong adalah malaikatnya, ia juga akan menceritakan hal tentang dirinya, ia takkan mengemis, ia sudah berjanji jika jiyong tak mau menerimanya ia akan tetap menjadi monster.

Satu jam berlalu, ji hyun tetap saja menunggu, terik matahari belum begitu menyengat tubuhnya, hanya saja ia sedikit cemas.

Ia menghubungi jiyong melalui telepon, tapi tak ada jawaban.

Ia menenangkan dirinya dan yakin bahwa jiyong akan datang untuknya, berkata “Ya” lalu ia terselamatkan tapi tidak.

2 jam ia menunggu, akhirnya ia pergi dari taman dan menuju tempat kerja jiyong, tempat pemotretan.

Ia mencari-cari, memilah wajah seorang jiyong disana tetap saja tak tertemukan, putus asa ia harus berinteraksi dengan salah satu make-up modeling

“kau tahu jiyong?” Tanya ji hyun memegang lengannya

“ia tak kerja hari ini, ia dirumah”

“kamsahamnida” teriak jihyun sembari berlalu.

 

Ia melihat rumah jiyong yang berantakan tak terurus, ia mengetuk pintu tapi rasanya tak ada orang. Ji hyun masuk melenggangi ruangan demi ruangan dan berhenti pada kamar yang terbuka dengan seperempat jarak dari pengunci pintu, ia masuk perlahan dan mendengar tawa tawa kecil dibalik sana. Hatinya gusar, berdetak cepat dan

Klekk

Ia membuka pintu perlahan, mendapati seorang namja yang ia cintai kini sedang berpesta wine bersama model yang ia kenali dari jiyong, jiyong sempat bercerita kalau model itu sering membuntutinya bahkan berkata kepadanya untuk berhenti mendekati jiyong karena jiyong adalah miliknya. Sayang jihyun tak memperhatikan kecamannya.

Air  mata jihyun tak berhenti menetes, ia masih membungkam mulutnya, tak percaya kalau ia akan seperti ini. Jiyong berhenti tertawa dan menoleh kearah pintu, ia langsung tersentak kaget dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 siang.

Ia bangun, tak menghiraukan rengekan model cantik berpakaian minim itu, jiyong memakai pakaiannya. Namun Jihyun telah berbalik pergi meninggalkan rumahnya.

Dia berlari menyusuri jalan, air matanya tak berhenti menetes, ia sudah tahu jawabannya dan ia akan menjadi monster sebentar lagi. Ia menerima semuanya karena ini sudah jadi bagian dari takdirnya.

Jihyun berlari, membuka gerbang dengan cepat dan menutup pintu dengan kasar, ia tak menghiraukan kakaknya, Choi Seung Hyun yang sedang berdiri diujung memperhatikannya, ia masuk kedalam kamar.

Seunghyun sebenarnya telah mengetahui ini lebih awal, ia tak mau bercerita kepada yeodongsaengnya karena ia tak ingin bernasib sama seperti dirinya. Ia ingin yeodongsaengnya mengerti tentang cinta yang indah walau pada akhirnya menyakitkan.

Jiyong berlari, ia menuju rumah jihyun, menggedor pintu dan berteriak memanggil nama jihyun. Jihyun yang diatas segera turun dan berdiri didepan pintu, ia hanya menunduk, ia masih merasa sesak mengingat kejadian tadi.

“Jihyun-ah, bukalah, aku ingin berbicara denganmu, ini tak seperti yang kau kira” teriak jiyong dengan nada memohon.

“buka yeodongsaeng-ku, sudah saatnya ia mengerti ini semua” bimbing seunghyun dibelakang jihyun, ia akan tersamar, hanya jihyun yang bisa melihatnya. Jihyun mengangguk, ia membuka pintu.

Klekk

Ia masih menunduk, tak mau menatap muka jiyong, ia hanya melihat kaki jiyong didepannya. Ia sedang berdiri didepannya.

Subsong : Bigbang – Monster

Orenmaniya motbonsai geudan eolkuri chowa boyeo

Jihyun mulai merasakan sesuatu bergemetar diarea darahnya, ia menahannya, ia membuka matanya yang terpejam, mengangkat kepalanya dan melihat jiyong dengan mata yang berkaca-kaca.

“jihyun, aku mabuk, maafkan aku, aku mencintaimu jebal” rengek jiyong tapi sayang jihyun memotong pembicaraannya dengan jari telunjuknya “Ssst..”

Jiyong menggelengkan kepala tak mengerti. Ia ingin berkata tetapi sekali lagi, pandangan dingin itu membuatnya terbungkam.

“kau benar, aku monster, aku monster jiyong” ia mulai berbicara tak beraturan

“ani, kau monster karena kau memang benar-benar menghantuiku. Kau selalu membuatku memikirkanmu tengah malam, mengacaukan pekerjaanku, sikapmu yang dingin selalu menarik perhatianku jihyun-ssie, jebal”

Jihyun merasakan pusing yang hebat dikepalanya, membuatnya menjadi geram hingga akhirnya dengan sisa kesabaran yang terakhir ia berteriak

“tteonaga jiyong-ssie, kau yang membuatku berubah menjadi seperti ini walau aku tak pernah menyalahkanmu, tteonaga!” teriak jihyun dengan menahan rasa sakit diarea otaknya yang kini menjalar kepada sendi-sendinya dan membuatnya menjadi kaku.

Jihyun menutup pintu dengan kasar dan menguncinya, ia berlari menuju kamar dan membanting pintu. Seung hyun hanya diam, ia tak bisa berbuat apa-apa walau dalam hatinya ia tak rela adik kesayangannya merasakan seribu kali sakit yang ia derita sebelumnya.

Dilain hal yang sama, jiyong berlari mengitari rumah, mengetuk setiap jendela dan berteriak memanggil nama jihyun untuk membukanya agar mau mendengarkan penjelasannya bahwa ia mencintai jihyun.

 

“rrrrr….” Teriak jihyun dibalik kamarnya, bunyi pecahan barang sudah melayang disetiap sudut dan menggema. Seunghyun tau kalau saat ini ia sedang mengalami perubahan.

Nafas jihyun menjadi tak beraturan, sekali lagi ia mengerang. Merasakan sakit disekujur tubuhnya, hampir ia melemparkan tubuhnya ketembok, sekarang ia menutupi kedua matanya dengan kepalan tangan, matanya berputar seperti ingin keluar.

“aaaaaaarrrrrrrrggghhhhhhhh..” teriakan jihyun membuat seunghyun mendekati pintu kamarnya, seunghyun mengetok pintunya.

“aarrrghhhh…. Ssaaakkiittt..” sekali lagi teriakan jihyun membuatnya terkapar lemah dilantai, membuat jiyong panic dan masih mengitari rumah, membuat seunghyun mendobrak pintu kamar jihyun.

 

Jihyun terpejam beberapa detik, matanya terbuka kembali, ia berdiri dan melihat sekeliling, menuju cermin dengan mata yang berkaca-kaca, ia terlihat cantik dan menyeramkan, taringnya kini tumbuh dan tajam, matanya berubah menjadi merah pekat, dan akan bersinar apabila ditempat yang gelap, ada tanduk dikepalanya, kuku ditangannya berubah panjang bervariasi, bibirnya menjadi merah muda, lingkaran disekitar matanya berubah menjadi hitam.

“jihyun-jihyun” teriak jiyong disekitar rumah jihyun memekakkan telinganya, ia melirik kesamping.

“kau –sem-pur-na” seunghyun menjadi terbata melihat perubahan jihyun yang kini.

Dia hanya tersenyum sebelah, perkataan kakaknya barusaja tak membuatnya cukup sadar kalau ia seorang monster. Ia keluar dan mengerjar suara jiyong disetiap jendela. Hingga ia melihat jiyong sudah berlalu didepan gerbang, masih memandangi rumah itu, ia melihat jelas, entah mengapa kini pandangannya menjadi jelas hingga ia tahu peluh jiyong yang mengalir membasahi pipi dan airmatanya mengering.

Seunghyun menepuk pundaknya, “ini dirimu jihyun”

Saat jihyun berbalik, ia merasakan sesuatu akan terjadi pada jiyong, ia hanya membalas usapan kakaknya dengan senyuman. Otaknya bekerja keras akan ingatannya, ia mendobrak pintu keluar. Berlari dengan cepat tanpa menghiraukan bahwa dirinya telah berubah wujud, dan ia bisa menakuti manusia.

 

Jiyong pov

“mianhae, mianhae” jiyong berjalan terseok dan selalu mengucapkan kata-kata itu, ia berhenti di perempatan, efek minuman kerasnya bereaksi sekarang, pandangannya kabur, ia hanya melihat ada bentuk kotak berjalan mendekatinya dan mendengar suara klakson berbunyi kencang.

“aaaaa..” jiyong panik dan terbelalak, ia kira ia sudah mati tertabrak truk itu tapi ia melihat daerah sekitarnya adalah rumput, matanya yang terpejam kini membuka, mulutnya ingin berkata saat ia tahu jihyun yang menyelamatkannya.

Jihyun mengembangkan senyumnya, taringnya yang tajam bisa melukai siapapun yang ia inginkan membuatnya semakin cantik dan menyeramkan. Jiyong menatap mata jihyun dalam-dalam, mata merah yang ia cintai, mata yang selalu mengganggunya.

Jiyong sadar ia sedang berbaring diatas tubuh jihyun yang juga sedang menatapnya.

“g-gg-gomawo chagiya” ucap jiyong

“kau tak perlu berterima kasih atas hal itu jiyong-ssi, kau telah memperkenalkanku cinta walau akhirnya cinta itulah yang menyakitkanku”

Jiyong bangun, jihyun berdiri lebih cepat. Rambut coklatnya terurai panjang membuatnya rindu akan hal-hal dimana ia mendekati jihyun.

“aku ingin bertanya, kemarilah” seru jiyong. Tapi jihyun tetap membelakanginya

“apa maksudmu aku telah merubahmu menjadi seperti ini tapi kau tak pernah menyalahkannya?”

Jihyun tersengal dalam tawanya, “aku monster, aku akan berubah menjadi monster karena aku merasakan rasa sakit dalam hatiku, jika saja aku tak melihatmu kau sedang bercumbu, mungkin aku akan menikammu sama seperti apa yang dilakukan kakakku dulu kepada istrinya pada pesta pernikahan”

“..” jiyong tak ada jawaban, ia merasa menyesal.

“itu rumahku jiyong-siie, dan ahjumma yang kau temui itu benar, cerita itu bukan karangan, tetapi kenyataan. terima kasih jiyong-ssie, aku harus pergi”

Jihyun hanya menghilang beberapa detik sama seperti jiyong saat mengedipkan matanya, ia mencuci matanya memandangi sekeliling.

“jihyun, mianhae jihyun, saranghaeyo” jiyong tertunduk lemas sore itu, ia tak menyangka hal sepele ini merubah seluruh hidupnya. Hanya saja yang terngiang ditelinganya adalah suara jihyun berkata

“Im not a MONSTER” 

 

END