flower boy

Poster by : kimskimi ^^ / @tikkixoxo_96

Author : chanyb

Title : Request — Flower Boys [Ending]

Casts : Choi Seunghyun [BIGBANG] — Nam Jong Hoon [OC] — Jung Yong Hwa [CN BLUE] — Kim Jaejoong [JYJ] — Park Jaebum

Other Casts : Cari sendiri cinta~ :3

Genre/Rating/Length : Romance, comedy, friendship/PG 15/Chaptered

Disclaimer : Jalan cerita, alur dan blablabla milik saya pribadi sementara tokoh dan lain sebagainya milik Tuhan YME dan mereka masing-masing.

Previously : 1 | 2.1 | 2.2 | 3 |

=====FLOWER BOYS=====

Gila itu adalah saat hasrat ingin tidur nyenyak, terganggu oleh gonggongan bergairah makhluk berliur kaki 4 bak minta dikawini terus bergaung mengiringi tarikan kuat di ujung selimut. Kenapa tidak cari betina lain saja coba?

‘Guk. Guk. Guk.’ Bodoh amat!

‘Guk. Guk. Guk.’

Dengan kasar aku menyentak selimut sekaligus memelototinya. “Aish, bisakah kau diam, hah? Aku baru tidur sejam nih, dalam hitungan ketiga kau tidak juga pergi, kucakar-cakar kau, mau? 1… 2….” Perlahan, ia mundur teratur dan berderap tanpa suara. Cih, Jong Hoon dilawan. Selain makhluk goib serta kawan-kawan, tiada yang tidak bisa kuusir dari wilayah teritoriku.

Bergelung lebih dalam lagi dibalik selimut. Surga dunia. Namun baru tertidur-tidur ayam sejenak, teriakan eomma berpadu lolongan bernada tinggi di ujung lorong, memaksaku benar-benar bangkit dari peraduan. “Ya ya ya, aku bangun!” Dan sebenarnya, siapa sih anak eomma, aku atau anjing pengadu kurang jantan itu? Sial! Lalu kenapa pula setiap minggu pagi aku harus menemani Charlie jalan-jalan? Seharusnya hari ini hari bebas bagi kaum jomblo nista untuk menikmati hari tanpa terusik pasangan-pasangan siap kawin yang sengaja memamerkan kemesraan mereka di depan mataku yang masih suci ini! Ck, apakah hari minggu juga waktu berpacaran peliharaan bersama majikan?

Sembari menggerutu, aku memasuki kamar mandi. Di samping untuk mandi air pancuran berteman lagu nelangsa, tujuanku juga termasuk mencari inspirasi di jamban demi tugas akhir semester. Besar banget, kan, pengorbananku? Mencari inspirasi saja, mesti berbau-bau ria. Oke, ini memang jorok. Maaf.

Selama beberapa menit, mataku terpejam. alih-alih mendapat inspirasi, bayangan akan perilaku konyol 4 tahun silam kembali berkelebat dalam memoriku. Ah, betapa menggelikannya waktu itu; berurai airmata mengejar mobil berisi pasangan pengantin yang jelas telah resmi menjadi pasutri. Di mana sang otak primitif berkelana ketika suaraku terus meneriaki Seunghyun supaya dia menceraikan istrinya detik itu juga? Benar. Itu memang masa-masa terkelam nan memalukan.

‘Guk. Guk. Guk.’ Lagi-lagi gonggongan dibarengi cakaran-cakaran pada daun pintu mengganggu ritual, menendangku kembali ke realita bahwa aku wajib menemani Charlie jalan-jalan.

Dalam tempo 10 menit aku telah mengenakan kaos hijau serta celana jins kumal setengah tiang. Mencomot sepotong roti isi di atas meja makan kemudian melenggang keluar pekarangan, menenami makhluk berkaki 4 yang menggigit piringan berwarna merah muda. “Jangan harap aku sudi menemanimu bermain lempar-melempar benda konyol itu, mengerti?” Ia melengos begitu saja mendengar bunyi berdenyit pada pagar di kediaman Yong Hwa. Menampilkan sosok pemuda tampan yang langsung mengulas senyum ramah kepadaku dan sekejap mata, sudah menghampiri Charlie yang duduk patuh sambil menggoyang-goyang ekor.

Jadi kini dia lebih memilih makhluk berliur itu ketimbang aku? Mesti, ya, aku duduk sambil goyang-goyang pantat begitu biar dihampiri? Jelas-jelas, imutan mukaku kemana-mana, tahu! Tidak asyik!

“Hoonie-ya, apakah kita akan ke taman sekarang?”

“Yy, ya. Tentu.” Aku nyengir, mengamati setiap inci lekuk wajah Yong Hwa. Apa kurangnya dia? Mempunyai senyum sejuta volt, baik, rajin mentraktir, penyayang dan disayang anak-anak hingga manula–pokoknya pasti lulus seleksi calon menantu–ditambah pula otot di balik kaos pas badannya yang siap mengguncang jiwa orang-orang berotak kamasutra.

Tidak! Jong Hoon, apa yang kau pikirkan? Sadarlah! Sadar! Dia sahabatmu, jangan kau nodai dia!

“Apa ada sesuatu di wajahku?” Saking kotornya pikiran, aku sungguh tak menyadari dia sudah duduk di salah satu ayunan, memandang lurus tepat ke manik mataku dalam binar menawan. Tampan sekali kau nak, nak. “Jong Hoon, ada apa?”

“Hmm, ya… tidak. Kau tampan kok!” Ups. Kontan, telapak tanganku menepuk mulut yang lancang menyuarakan isi kepala.

“Kau tidak berubah, Hoonie-ya. Tetap manis.” Manis? Alamak, aku dipuji. “Terima kasih.”

“Atas?”

“Bilang aku manis.” Tanpa beban dia tertawa keras seolah aku baru melontarkan lelucon berbau mesum. “Sama-sama,” ujar Yong Hwa disela tawanya, berdeham singkat seraya mengambil piringan di mulut Charlie dengan pandangan tetap terarah kepadaku. “Manis.” Melempar piringan ke sudut taman.

“Yong Hwa, kau menyebalkan!” Dia keburu menempelkan ponsel ke daun telinga dan menjauh sewaktu aku berseru. Padahal aku sudah memasang tampang merajuk sok manja demi acakan rambut penuh kasih-sayang Yong Hwa. Gara-gara telepon, batal deh, ketiban rezeki. Nasib. Nasib.

Selang 5 menit, dia kembali duduk di ayunan sebelahku. “Seohyun mengajak belajar kelompok.” Itu artinya kencan terselubung, bodoh! “Pergilah.” Senyum riangku lambat-laun sirna melihat Yong Hwa akhirnya menghilang di tikungan. Tetap aku yang sendiri.

Mulai memandang jauh ke depan, menikmati pergerakan lamban arak-arakan awan. “Untuk pria bahagia yang mungkin melupakanku, selamat pagi. Aku merindukanmu.” Senyum kecut tak urung terkembang setelahnya. Percuma. Sekuat apa pun aku berusaha melupakan bahkan membenci Seunghyun, tetap saja aku bakal tersenyum sepanjang hari bila sosok tegapnya mengunjungi alam mimpiku.

Iya, aku tahu dia suami orang. Tapi tidak dosa, kan? Toh, belum ada Undang-Undang pelarangan memimpikan suami orang. Kalau pun ada, akulah orang pertama yang bakal menggelar aksi demo membakar ban di tengah jalan.

Terkadang jarak bodoh dan setia itu beda-beda tipis. Percayalah!

Sebab, setiba di rumah, aku lantas menyantap sarapan yaitu sepiring nasi campur–Terlepas dari fakta apakah makan di atas jam 11 masih bisa disebut sarapan atau tidak–di depan televisi. Sangat pelan selagi seluruh perhatian terfokus pada rangkaian berita. Bukan. Aku tidak ambil pusing akan masalah ekonomi, sosial, politik seiring berkembangnya industri Boyband dan Girlband. Yang kupedulikan hanya kabar dari… yah, Charlie saja tahu siapa objek tersebut. Memang, dia kini berdomisili di LA semenjak berumah tangga. Tetapi, manatahu, kan, wujud dia muncul sebentar. Bukan masalah walau cuma di iklan obat panu, yang penting ada. Serius.

Oh, ayolah Jong Hoon sampai kapan kau begini? Merupakan pertanyaan yang kerap menggantung di benakku dan jujur, untuk saat ini aku betul-betul tidak tahu jawabannya.

Ketika jam menunjukkan pukul 12, telepon di ruang tengah berdering. Peduli setan lah, nanti juga bakalan diangkat oleh orang selain aku. Selewat semenit dering itu tak kunjung diam. “Eomma, ada telepon!” Tetap berdering meski sempat mati. Merepotkan!

Yoboaseyo, keluarga Nam di sini… eh, Jay? Mengapa tidak menghubungiku lewat ponsel?… Hmm, ya, apa? Aish, itu deritamu bukan deritaku! Aku tidak mau titik!” Membanting ganggang telepon. Sialan, memang dia pikir dia siapa berani-beraninya memerintah seenak jidat.

Dilima detik berikutnya, giliran dering ponsel bikin aku mengerang frustasi. Masih diliputi emosi aku menyambarnya dan kian emosi.

From : Aku Kamu :@

Kutunggu di Zari Cafe, ini penting! Dia ini tahu persetan tidak?

Lagi-lagi telepon laknat di seberang berdering kencang. Aaargh, apa sih mau Jay, pakai acara menyiksa raga letihku bolak-balik sebanyak 3 kali segala? Berniat membuatku mati muda akibat terserang penyakit kegilaan terlebih dahulu, atau apa?

Kurang dari sejam usai mengumpat, aku juga pemuda ‘aku kamu’ telah duduk saling berhadapan. Dia tidak sendirian melainkan bersama seonggok maksudku seorang anak perempuan bertopi angry bird.

“Oke, anak siapa ini?” Tanpa menengok sedikit pun jari-jemarinya tetap sibuk memijiti ponsel, mengabaikan pertanyaanku. “Nah, anak manis siapa namamu?”

Setulus hati aku mengumbar senyum manis. Mata bulat anak itu mengerjap sebentar sebelum membuang muka. Mampus! Betapa sombong jiwamu nak. Daripada makan hati begini, mending ambil pisau terus tusuk-tusuk deh, lebih berasa lukanya. “Jay.”

“Hmm?” Dia melirik enggan, memanggil salah seorang pelayan wanita. Ya ampun, senajis itukah mukaku hingga tidak pantas dilihat, hah?

“Kau mau pesan apa, Nona Pirang?”

“Namaku Jong Hoon. Nam Jong Hoon camkan itu! Dan aku pesan milkshake…., jadi siapa dia?”

“Keponakan tetangga baru ibuku. Kau pasti akan tercengang nanti.” Pengaruh banget, ya, tetangga baru ibu dia di kehidupanku? BIG NO. Okay.

“Terus?”

“Bibinya menitipkan Ha Ni ke ibuku lalu ibu menitipkannya kepadaku.”

“Terus kau berencana menitipkan dia kepada seorang gadis cantik imut polos tanpa dosa serta cetar membahana dan tak lupa masih jomblo pula, begitu?” Berapi-api aku menggebrak meja saat memelototi Jay dan keponakan bibi tetangga baru ibunya yang dengan nyinyirnya mencebikku. Ada karung gandum tidak sih?

“Jangan berpikir macam-macam Jong Hoon!” Jay memperingatkan, menjentik dahiku sekuat tenaga. “Kaupikir dia anak kucing main karung begitu saja, hah?” WOW, aku terkesiap mendengarnya.

“4 tahun mengenalmu, membuatku tidak perlu menjadi seorang vampir berlumur bedak untuk membaca pikiranmu… oke, kutitip Ha Ni sebentar.” Jay beranjak, memakai jaket denim seraya menyambar kunci di atas meja. “Aku ada kerjaan penting sama Hae Rim.”

Kerjaan apa coba? Kerja bakti bikin anak? Cih!

“Tante.” Tiba-tiba anak itu menggamit lenganku. “Onnie, sayang.”

“Tante tante tante tante.” Ya sudahlah. Agak sebal aku menunduk guna mendekati Ha Ni. “Sepertinya muka tante mirip seseorang.” Aktris Hollywood pasti.

Serta-merta kedua sudut bibir melengkung sempurna. Membayangkan diri sendiri mirip Megan Fox. “Antara pengasuh atau pembantu lamaku.” Iya dong, eh? Tunggu… APA? PEMBANTU DAN PENGASUH? kurang ajar!

Sabar Jong Hoon, sabar. Dia cuma anak kecil salah gaul.

Lambat-lambat mengembuskan napas dan kembali mengulas senyum dibuat manis. “Terima kasih. Omong-omong berapa umurmu, cantik?”

Dia mengacungkan 3 jari kanan 5 jari kiri berbarengan. Bagus! 3 setengah tahun sudah sepandai ini menohok hati orang dewasa. Di mana orang tuanya, ya Tuhan?

Seumur hidup, sumpah, aku baru tahu kalau sebentar bagi Jay adalah, sampai aku terkantuk-kantuk dibikinnya. Biar bagaimanapun kedua jarum jam pada arloji telah menunjukkan jam 9 lewat seperempat malam sewaktu dia datang tanpa berucap sepatah pun. Hanya memberi isyarat melalui anggukan kepala supaya aku beserta bocah yang sedang tertidur lelap dalam pelukanku, segera naik ke atas motor. Parahnya lagi, baik di perjalanan maupun setibanya kami di kediaman keluarga Park atau lebih tepatnya berkelang 2 rumah dari kediaman orangtua Jay, dia bersikukuh mendiamkanku. Seolah-olah aku ini hanyalah seonggok peran pembantu yang mempunyai bayangan tertipis dalam ruang lingkup hidupnya. Tahu tidak, kini aku siap berbacok-bacok ria bersama pemuda sok keren ini. Aku serius.

Trims, Nona Pirang.” Seusai turun dari motor, dia mengangsurkan kantung belanjaan ke depan wajahku. Hati-hati dia mengambil alih Ha Ni lalu membawa masuk pekarangan bibi tetangga baru ibu Jay. Kenapa malah keterusan menyebut si pemilik rumah minimalis ini menjadi sangat panjang?

“Kau suka Cola, kan?” Dia berpaling. “Di sana ada 2 botol. Berarti kapan-kapan aku boleh menggunakan jasamu lagi, kan?”

Aku Hina. Aku nista. Aku berlumur dosa.

Menerima fakta bahwa harga diriku di mata Jay cuma seharga 2 botol Cola. Aku hampir ngesot indah, bertepatan geraman halus kendaraan di belakang dan bergegas berpaling seiring bunyi berdebam pelan. Syok bukan kepalang melihat wanita yang berjalan mendekatiku. Eeeerrr, ini mimpi buruk! “Jong Hoon, apa kau ke sini ingin mengumpul tugas akhirmu? Ingat, lusa terakhir mengumpulnya.”Miss Choi Hye Yoon, dosenku.

Keesokan harinya aku tergopoh-gopoh menuju ruang dosen dengan kedua tangan penuh tugas-tugas mengerikan si bibi Ha Ni. “Permisi, miss. Maaf… aku, eeerr….”

“Tante Pirang, kita main, yuk!” Seruan girang khas anak-anak di belakang meja tulis malah membawa berbagai kecarut-marutan otakku ke ujung jurang kefrustasian.

Apakah pemanggilan seorang Nam Jong Hoon bertujuan untuk dijadikan pengasuh sekaligus babu anak itu?

“Dia anak adikku.” Aku tersenyum hambar tak tahu bagaimana cara meresponnya. Sungguh, mau Ha Ni anak adik tetangga sebelahnya pun, bukan urusanku. Kecuali nilai matakuliahku berubah A.

“Dia merengek sepanjang pagi karena ingin bertemu kau.”

Dan dalam sekejap, aku cemburu setengah mati melihat Ha Ni sudah berada di pangkuan Yong Hwa. Menyeruput jus mangga rakus setiap kali Ha Ni disuapi eskrim stroberi oleh Yong Hwa. “Oppa, ganteng.” makin ganas mengunyah sedotan.

“Hoonie-ya, kau kenapa?”

“Dia yang kenapa? Masa dia memanggil kau oppa, ditambah kata sifat; ganteng setelahya. Sedang aku dipanggil tante pakai disetarakan dengan pembantu serta pengasuhnya! Padahal aku, kan, tidak kalah imut tidak kalah unyu dibanding pororo!” Suara cemprengku tenggelam oleh kebisingan sesaat di kantin.

Appa, sini!” Menoleh, mengikuti ke mana lambaian tangan Ha Ni tertuju. Melongo tak percaya kala mencermati sejengkal demi sejengkal sosok tegap seorang pria berkemeja biru muda di atas celana abu dasar, tengah mengatur napas di ambang pintu sambil memegangi jasnya. “Appa, tante ini loh, yang aku ceritakan tadi. Mirip, kan?”

Appa? Seseorang silakan tampar aku sekarang!

“Oh, h, hai. Jong Hoon… Yong Hwa. Lama kita tak bertemu.”

“Ya, senang bertemu denganmu lagi, Seunghyun-shi. Yong Hwa, ayo kita pergi!” Berujar setenang mungkin dan menarik Yong Hwa agar cepat beranjak.

“Tante mau kemana?”

“Jong Hoon, agaknya kau harus tetap di sini! Aku tidak ingin melihat kau menjauh lagi dari dunia manusia,” bisik Yong Hwa kejam sebelum jari-jari usilnya menarik ujung bibirku hingga membentuk senyuman. Kemudian berjalan melewati Seunghyun, menepuk pelan bahu pria itu.

Yong Hwa jahat! Tidak tahu apa, aku belum siap menghadapi pria beranak-istri. Oke. Tidak. Aku, “sebaiknya….”

“Bisakah temani kami sebentar? Ini pertama kalinya putriku amat antusias meneleponku hanya untuk menyuruhku datang menemui… kau.” Dia mengelus pelan pipi gembul anaknya dan beralih menatapku.

“Baiklah.”

“Maaf.”

“Hah?”

“Kubilang maaf…, kan, aku.” Intonasi dia mendadak naik-turun. Gengsikah beliau?

“Jong Hoon, maukah kau memaafkanku?”

“Bukankah aku lebih sering merepotkanmu?”

Sepersekian detik pandanganku sempat berserobok dengan sepasang mata tajamnya yang entah bagaimana memberi efek kejut pada jantungku. Bisa hamil serta melahirkan seketika aku jika berlama-lama menyelami lautan mata dia, eomma, selamatkan keperawanan mata anakmu….

Appa. Appa mencuri apa sih dari tante ini?” Mencuri hatiku nak.

Demi Tuhan, Jong Hoon seriuslah! Kau bukan remaja labil! Bukan remaja l-a-b-i-l lagi, oke?

Diam-diam aku menghela napas berat begitu Seunghyun akan bersuara, “Appa dulu sering membuat dia menangis.”

Ha Ni mengerjap memerhatikan gelagat salah tingkahku, melahap eskrim di hadapannya lalu menelengkan kepala ke sisi kanan dan kembali mengerjap. “Memangnya tante ini bisa menangis juga, ya?”

“Apakah anakmu sering dititipkan seperti ini?” Senghyun tidak berujar apa pun. Dia justru memangku Ha Ni yang perlahan menguap lebar seraya mengusap bibir belepotan sang anak.

Makin kuperhatikan dia lekat-lekat, makin kusadari ketidakadilan pada paras pria berambut gelap itu. Bayangkan, di umur menginjak awal 30-an, pun menyandang gelar suami orang… Kadar ketampanan dia kian menyilaukan mata bagai ditambah sekian watt setiap kali berkedip. Hingga benakku mesti menggumam kata suami orang agar dapat mengembalikan akal sehat. “Kalau boleh tahu, mengapa bukan istrimu saja yang mengasuh anak kalian?”

Eomma, jahat!” Ha Ni menyela tanpa tedeng aling-aling. Seunghyun pun mengabaikanku. Dia menina-bobokan anaknya hingga menciptakan jeda panjang dan tanda tanya besar dalam otak: apakah Naomi si bibi-bibi menor itu kerap memukul buah cinta (hoeks) sendiri?

“Istriku,” usai menidurkan anaknya, ragu-ragu dia mengawali kalimat. “Maksudku, aku dan Naomi sudah berpisah 2 tahun lalu.”

Cerai? Wow. Keren, ini patut dirayakan! Eh, maafkan atas kebejatan hatiku yang tiba-tiba gembira dan ingin rasanya aku menari hula-hula sekarang.

Berhati-hati Seunghyun mulai bangkit. Astaga apa ekspresi ceriaku telah menyinggung dia? “Sori, aku tidak bermaksud menanyakan hal itu.”

“Bukan masalah.”

“Bisakah kita bertemu lagi, oppa?” Entah setan apa yang merasuki sehingga secara spontanitas aku menjegal lengan kirinya yang terayun bebas. “Bisa, kan?”

“Sampai jumpa, Jong Hoon-ah.

=====FLOWER BOYS=====

Seminggu berturut-turut saat malam menjelang, aku duduk di pelipir ranjang demi memandangi bulan di luar jendela. Memikirkan gerak spontanku tempo hari. Apakah tindakan waktu itu terlihat sangat murahan sampai-sampai dia selalu berdalih sibuk tiap Ha Ni meminta dia datang? Atau apakah perangaiku tampak menunjukkan gelagat seakan aku ingin merenggut keperjakaannya? Tapi…, apa yang mau direnggut lagi coba? Jelas-jelas hasil olahannya sudah terpampang nyata, Choi Ha Ni si anak tengil nan nyinyir.

Baiklah, ini untuk kesekian-sekian aku mengatakan bahwa aku tolol. Sebab, tidak bisa bersikap dingin, cuek, juga bertampang sangar bak pembunuh yang setiap ketemu bawaannya mau myambit semua orang. Yah, mau bagaimana lagi jika garis takdir berkata aku adalah insan terpolos nan imut di dunia fana ini. Salah, bukan itu maksudku. Sesungguhnya, aku hanya… tidak bisa. Itu saja!

Merebahkan diri sebentar dan segera menyalakan laptop guna menggali setitik celah informasi mengenai Seunghyun. Dia, kan, pengusaha eksentrik pasti ada lah beritanya. Minimal menjadi sampul majalah edisi 100 DuRenTok (Duda keRen dan monTok) tersohor tahun kemarin kek, okelah di kolom biro jodoh juga boleh. Sangat.

Tak sampai 10 menit mencari, mataku justru terasa amat berat, lalu begitu terbangun aku mendapati diri telah berada di dalam mobil. Berbaring cantik di kursi penumpang. Penculikan? Tidaaaaak! Jangan-jangan aku bakal dijadikan ayam kampus pemuas nafsu kakek-kakek, terus… terus… aaaargh!

“Tante sudah bangun?” Mataku berkedip selagi jaringan otak mengolah pertanyaan barusan. Sejak kapan aku berpindah tempat?

Cepat-cepat duduk bersandar sambil mengelap sekitar bibir, berdeham kasar memerhatikan jalanan.

“Tadi Ha Ni menelepon karena kau pingsan mendadak di kantin. Apa kau lupa sarapan?” Bingung Hendak menjawab apa.

Seingatku, aku tadi tidur di kamar loh, sumpah! Masa aku ngelindur sih?

Aku masih bergumul dalam pikiran ketika mobil pelan-pelan berhenti. “Terima kasih, oppa. Maaf merepotkan.”

“Jangan sungkan. Sampai jumpa.” sampai jumpa, sampai jumpa, huh! Basa-basi seorang PHP sejati. Agak mencak-mencak aku berjalan keluar, membungkuk sekilas sebelum melanjutkan langkah.

“Jong Hoon!” Otomatis, aku berbalik sedang dia menggosok hidung sejenak, menghela napas cepat.

Aduh, tak perlu malu-malu begitu lah kalau sekadar ingin bilang Saranghaeyo Jong Hoon! Aku gedebak-gedebuk padamu! Aku ikhlas kok, menerima duda keren model Seunghyun yang tentunya amat cakap di bidang peranjangan, hahaha…

“Jong Hoon, maukah kau menemani kami memancing minggu ini?… Ha Ni sangat mengharapkan kau bisa bergabung. Tetapi kalau tidak bisa, tak apa. Aku akan menjelaskan pada….”

“Tentu aku tidak akan menolak jika Ha Ni yang meminta. Sampai jumpa.” Ajakan kencan terselubung.

Tepat setelah raungan mesin perlahan menjauh, cengiranku melebar, menggeleng-geleng kegirangan sambil memegangi muka dan menggigit kerah kemeja. Jadi malu.

“Bagaimana ini? Aaaa… Yong Hwa, aku cinta dia!” Langkah ringan diselingi tarian balet menuntunku menyambangi rumah ibu peri tampan tralalala. Tentu tujuanku ke sini bukan untuk berguru jurus kamasutra. Tidak mungkin. Tujuanku murni ingin berbagi percikan kebahagiaan dengan mengajak dia menari tap tap bercampur tari samba, kecak, piring dan Jaipongan.

Di depan rumah Yong Hwa aku malah memutar arah serta merogoh ponsel dalam saku, mengingat dia barangkali masih berada di kampus.

To : Peri Hwa❤

Yong Hwa-ya, TOLONG BERI SELAMAT PADAKU.

Salam kecup basah dan hangat

dari gadis cantik jelita penuh pesona

yang sedang jatuh cinta :*<3.

To : Aku Kamu :@

Aku cuma mau bilang terima kasih. #Muahmuahmuah :*.

=====FLOWER BOYS=====

Pagi-pagi sekali, aku mondar-mandir tak keruan di teras. Dengan perasaan campur aduk begini, semuanya jadi serba salah. Demi langit dan bumi tempat makhluk unyu-munyu bernaung, aku masih bingung harus membawa barang yang kubutuhkan kelak.

Apakah tikar, kantung tidur, termos, tas ransel merupakan barang yang kuperlukan di kapal? Tapi kata Jay, otakku lengser puluhan derajat dan wajib memeriksakan diri ke dokter kejiwaan. Yang lantas kubalas menggunakan bahasa taman margasatwa. Yong Hwa yang kuyakini berpikiran 1001% lebih lempeng juga bijaksana justru sama parahnya sewaktu memberi saran, “bawa bikini seksi!”

Bah! Dikira aku ke laut untuk berenang bareng hiu apa?

Selewat 5 menit aku memutuskan untuk berhenti memikirkan apa pun. Bila tidak begitu aku pasti tidak akan pernah bisa bersikap tenang kendati jantung saling tikung dengan deru napas ketika Ferrari merah menyala berhenti, menampakkan pria jangkung tanpa ekspresi. Eh, Jejung oppa, masih hidup toh?

“Itukah barang bawaanmu?” Tersenyum sangat manis. Alamak, tampan maksimal! Terima kasih Tuhan atas berkahnya di pagi buta ini.

“Jong Hoon, bukankah kita akan memancing bukan berkemah?”

“Hah? Tidak. Bukan…, itu bukan punyaku melainkan kepunyaan Yong Hwa. Dia… dia ingin berkemah sekaligus meneliti proses perkawinan silang antara monyet dan harimau.” Sebelah alis Jejung oppa sontak terangkat sebelah, mengedikkan bahu lalu melangkah gegas menuju mobil sementara aku memaki diri sendiri. Kawin silang, apa-apan itu! Otakmu itu yang kawin silang sama dengkul!

Tak kurang dari sejam aku sudah celingak-celinguk mendapati kapal pesiar super mewah. Yakin nih, kapal pesiar yang punya 2 hellypad juga berbagai fasilitas melebihi hotel bintang 5, cuma buat mancing ikan bukan buat mancing wanita seksi?

“Marry J?”

“Benar. Itu nama kapal ini.” Aku mendelik ke sumber suara. “Kau tahu, ini pertama kalinya Marry J berlayar.”

Ya, mana kutahu lah dia beserta atasannya main hilang bagai jin botol 4 tahun silam. “Seunghyun bersikeras kaulah orang pertama yang menemaninya di sini.”

“Lantas kenapa dia menghamili Naomi?” Memutar bola mata saat pria berpakaian rapi kapan pun dan di mana pun, mengembuskan napas pelan. Lah, benar, kan pertanyaanku barusan?

“Kau belum mengerti juga rupanya. Di balik sikap eksentrik Seunghyun, dia cuma pria yang terbebani rasa tanggung-jawab. Sekali pun itu bukan salah dia. Kau salah satunya, betapa Seunghyun kalang-kabut menerima kabar orangtuamu menghilang di hutan. Parahnya….” Jejung oppa memotong ucapannya dan beralih menatapku, cukup lama. “Menikahi wanita yang tidak pernah dia tiduri. Alasannya, Naomi adalah sahabatnya.”

Aku terbengong-bengong menelaah arti monolog panjang Pria yang melintasiku begitu saja setelah Ha Ni memanggilnya,oppa ganteng!”

Benarkah, pria aneh yang tengah memancing ikan air tawar di laut–dia mengubah fungsi kolam renang menjadi kolam ikan–adalah pria teramat sangat bodoh hingga sudi bertanggung-jawab atas apa pun?

“H, hai Jong Hoon, mau memancing bersama?” Tergagap-gagap dia menyapa, melepas kacamatanya seraya tersenyum kikuk menyeret lenganku. Aku sendiri senyum-senyum bego mendapat perlakuan malu-malu meongnya. Aih, macam anak ABG berumur baru mengena cinta monyet kami.

Jedotin aku ke bibirnya dia dong! Eomma-appa, aku bisa gila gegara dekat-dekat spesies setampan dan setua ini!

“Jong Hoon.”

“Apa tampan?” Astaga Jong Hoon otakmu betul-betul kawin silang, hari ini!

“Sepertinya kau tidak mendengar apa yang kukatakan, ne?”

“Maaf, aku, aku….”

Appa, kangen!” Sialan! Baru beberapa menit sudah bilang kangen anak tengil satu itu! Bisakah anak itu disimpan dalam lemari dulu? Mau mesra-mesraan nih!

“Ya, sayang nanti appa kesitu…. Jong Hoon, apa kau mau ikut?” Melihat dia beranjak, aku langsung menarik ujung sweater abunya erat. Dia tidak boleh pergi! Mana bisa aku menunda-nundanya lagi.

“Apa ada masalah?” Aku mendongak seketika. Oppa, aku….”

“Ya?”

“Aku… aa… ku, AKU MAU KE TOILET!”

“hmm?”

Bego bodoh tolol! Jong Hoon , babo baka stupid!

“Mau kuantar?” Tanpa pikir panjang aku mengangguk semangat, mengikuti dia menyusuri lorong panjang. Sepanjang cintaku padanya! Ahai!

Oppa. Dia berpaling dan dalam gerak cepat aku menyambar bibir tipisnya. “Aku mencintaimu!” Mencoba mengambil langkah seribu saat cengkeraman tangan besarnya mengunci pergelangan tanganku.

Seunghyun tiba-tiba menatapku dengan intensitas membara, memepetku ke dinding. Tamatlah riwayatku! Mungkinkah aku membangunkan setan mesumnya?

“Apakah kau tadi menciumku?” Menghapus jarak di antara kami. “Anak nakal!” Embusan napasnya sekonyong-konyong menggelitiki tengkukku, membuat darah di sekujur tubuh berdesir dan sesuatu dalam perutku menggeliat.

Alamak! Aku pasrah!

“Jangan ulangi lagi!” Dia melepas tanganku seraya menjauh. “Semestinya, aku yang terlebih dahulu melakukannya… sayang.”

=====FLOWER BOYS=====

Okesippo, ini sudah ending. Ini ciyus loh >.<

Dikomen ya ceman-ceman, apa pun itu isinya :*

Kontak : @tottochandri