Life after the wedding dress

Main Cast:

  • Dong Young Bae
  • Lee Hyeejin (You)

Support Cast:

  • Goo Hye Sun
  • Choi Dong Wook a.k.a SE7EN
  • Kwon Jiyong
  • Lee Seunghyun / Seungri
  • Choi Seunghyun a.k.a TOP

 

Disclaimer: All of this story and Lee Hyeejin is belong to me, but Young Bae, SE7EN, Jiyong, Lee Seunghyun, Choi Seunghyun and Goo Hye Sun is belong to themselves.

Warning: Kebanyakan Young Bae’s Pov, a ‘lil sad di awal.. tapi, moga happy ending di akhirnya, mungkin pasaran..^^, and many more.

Genre: Mild Romance, Friendship, hurt/comfort.

Word: 8423 words.

@youngdinna Presents

“Life After the Wedding Dress”

Young Bae’s Pov

Sinar-sinar lembut mentari pagi perlahan menyeruak, memasuki kamarku. Aku menggeliat pelan di atas tempat tidurku dan perlahan membuka kedua mataku, sudah pagi lagi rupanya. Perlahan, kusibakkan selimut yang menutupiku dan beranjak untuk duduk di tepian tempat tidurku.

Aku menoleh ke arah meja nakas, memperhatikan jam weker, namun seketika kedua mataku tertumbuk pada sebuah kotak beledu berwarna hitam. Kuraih kotak itu, sedikit mengukir senyuman pahit. Aku masih ingat, ya ingatan yang masih begitu segar di kepalaku meski sudah berlalu selama satu tahun namun belum bisa kulupakan, pun kuhapus.

Ingatan ketika aku gagal melamar Goo Hye Sun.

Goo Hye Sun, wanita yang sederhana tapi begitu mempesona bagiku. Aku tidak tahu darimana awalnya aku bisa menyukainya. Yang kuingat adalah dulu hubungan kami hanya sebatas senior dan junior di kegiatan ekstrakurikuler kampus. Hye Sun menyukai tarian, terutama Tango. Aku tidak tahu kenapa ia begitu menyukainya dulu (dan mungkin sampai sekarang).

“Aku harap aku bisa menarikan tarian ini dengan suamiku ketika menikah..”, itulah yang dulu ia katakan padaku. Awalnya, aku tak begitu tahu dan aku pun tak mau tahu soal itu.

Aku memang partner-nya dalam menari, tapi aku jarang menanggapi omongannya dengan menjawabnya balik. Aku biasanya cukup tersenyum, mengangguk, atau mungkin bilang ‘begitu ya’ padanya. Bukan karena aku sombong atau apa, hanya saja aku tak pernah bisa dekat dengan wanita, terutama dia. Entahlah, setiap dekat dengannya hatiku selalu berdesir tak nyaman. Menyenangkan, tapi terkadang cukup mengganggu.

Hingga karena kebodohanku, aku pun terlambat menyadarinya. Aku begitu mencintai Hye Sun. Setiap malam, ketika aku makan ataupun diam, ketika aku bangun ataupun tertidur, kepalaku tak pernah lepas  dari bayangannya. Senyumnya yang keibuan, suaranya yang terkadang terlalu berisik, ketegasannya ketika melatihku menari begitu memabukkan di kedua manik mataku. Mulai saat itulah aku berusaha untuk mewujudkan impianku:    mengikat Hye Sun menjadi milikku. Secara resmi.

FLASHBACK

Normal Pov

“Apa yang ingin kau bicarakan?”, gadis itu bertanya pada pemuda yang tak lebih tinggi darinya. Gadis itu, Goo Hye Sun. Sang pemuda menatap cemas ke arah Hye Sun, ia begitu gugup.

“Aku…”

“Oh, Young Bae.. cepatlah.. kita harus segera berlatih..”, kejar Hye Sun tak sabar. Pemuda itu, Young Bae menghela nafas. Mencoba membuang rasa kegugupannya yang sedikit demi sedikit mulai berkurang. Kali ini ia tak mau menjadi orang bodoh lagi, ia akan melakukannya. Sekali dan seumur hidup.

Melamar Goo Hye Sun.

“Hye Sun-ssi..”, ucap Young Bae menggantung.

“Ya?”, tanya Hye Sun.

“Maukah..-“

“Ah, kalian di sini.. Kukira kalian tak masuk latihan..”, kemunculan Dong Wook seketika membuat Hye Sun dan Young Bae terbungkam, Young Bae menghentikan maksudnya, meski jantungnya masih belum berhenti berdetak cepat. Ia paksakan tersenyum, membalas sapaan Dong Wook padanya dan Hye Sun.

Ne..”, ucap Young Bae setenang mungkin. Choi Dong Wook, ia adalah senior Young Bae di kampus. Pemuda berambut karamel itu memang tidak ikut kegiatan ekstra seperti ia dan Hye Sun. Biasanya, pemuda itu hanya menemani temannya di pinggir panggung latihan atau melihat latihan dari kejauhan.

Young Bae cukup mengenal senior-nya ini, Dong Wook adalah pemuda yang berkebalikan dengannya. Dong Wook tampan, supel, dan tinggi. Ah, Young Bae memang sedikit sensitif bila membicarakan soal tinggi badan.

“Hye Sun..”, ucap Dong Wook. Dengan cepat tetapi mantap, Dong Wook menarik tangan kanan Hye Sun, menyematkan benda bulat berwarna keperakan yang nampak indah di tempa cahaya lampu di ruangan itu, ia lalu tersenyum menatap Hye Sun yang menatapnya kaget.

“Maukah kau menikah denganku?”, ucap Dong Wook lagi. Baik Young Bae maupun Hye Sun sama-sama kaget. Hye Sun tak menyangka kalau hari ini, ia akan di lamar seorang (sebenarnya dua orang) pemuda. Young Bae menatap cemas ke arah Hye Sun meski tak ia tampakkan dengan jelas ekspresinya itu.

“Kh..”, Hye Sun tersenyum geli. Namun, sejurus kemudian ekspresinya melembut, menatap Dong Wook yang kini menatapnya cemas, menunggu jawaban.

“Ne, tentu aku mau.”, ucapan yang begitu singkat itu akhirnya meluncur dengan mudah dari kedua belah bibir Hye Sun. Ucapan yang seketika menohok jantung Young Bae, menggantikannya dengan rasa sakit yang berdesir di relung hatinya. Rasa sakit, yang ia yakini tak akan pernah bisa sembuh.

FLASHBACK END

Young Bae’s Pov

Aku beranjak dari dudukku setelah memasukkan kotak beledu itu di dalam laci nakas. Secangkir kopi manis di pagi hari mungkin bisa mengobati rasa sedihku yang tiap kali muncul ketika aku ingat Hye Sun. Setelah menuang air panas di dalam cangkir yang berisi bubuk pekat kopi, aku pun mengaduknya dan menambahkan gula (yang mungkin bagi orang lain) berlebihan.

“Kau bisa diabetes, hyung..”, seorang pemuda yang baru saja keluar dari kamar mandiku mengomentari kopi buatanku untuk yang kesekian kalinya. Ia adalah Lee Senghyun, aku biasa memanggilnya Seungri. Ia adalah sepupu yang ikut tinggal di rumahku karena ia harus meneruskan kuliahnya di Seoul.

“Aku lelah setiap hari mendengar komentarmu itu yang selalu saja sama.”, ucapku sambil tersenyum. Ia memutar matanya bosan.

“Hadapi kenyataan hyung. espresso adalah kenyataanmu, rasa manis yang kau buat itu adalah fantasimu semata.”, gumamnya tak jelas, namun tetap bisa kudengar. Aku tak berkomentar. Kalau aku berkomentar lebih jauh, pada akhirnya ia akan mengucapkan kalimat itu lagi. Kalimat yang sudah begitu kuhafal di luar kepala.

Lupakan Goo Hye Sun.

Tidak, aku belum (atau mungkin tidak akan pernah) bisa melupakan Hye Sun. Hye Sun, adalah gadis pertama yang memasuki hatiku dan mungkin juga terakhir.

“Walau hanya sebuah fantasi, aku senang dengan itu semua. Espresso terlalu pahit bagiku.”, ucapku sambil menyeruput kopi manis yang kubuat. Rasa glukosa seketika memenuhi rongga mulutku, tapi aku suka itu. Aku suka rasa fantasi itu.

“Hhh.. terserah apa katamu hyung. Aku berangkat dulu kalau begitu”, ucap Seungri seusai menghela nafas.

“Kau tak sarapan?”, tanyaku sebelum ia benar-benar pergi.

“Tidak usah. aku langsung saja. Annyeong, hyung”, ucapnya lagi, tak berapa lama terdengar pintu berdebam pelan di depan. Aku menengok jam dinding di dapur, sepertinya aku juga harus segera berangkat kerja.

“Hh, baiklah. aku juga harus siap-siap.”, gumamku pada diri sendiri.

@@@@@

Aku mempercepat langkahku memasuki elevator. Hari ini, aku harus menemui presdir di perusahaan tempatku kerja. Namanya kalau tidak salah Kwon Jiyong. Ia lebih muda beberapa bulan dariku, namun prestasinya di dunia bisnis jauh melebihi kemampuanku. Aku tidak tahu mengapa ia mau menemuiku secara pibadi, aku juga merasa aku tidak membuat kesalahan apapun sewaktu presentasi tadi, jadi apa yang ingin ia bicarakan?.

“Permisi..”, ucapku sesopan mungkin di ambang pintu. Jiyong nampak ada di seberangku, meneliti secarik kertas berkas penting di kedua tangannya. Ia baru menoleh beberapa saat, kemudian tersenyum sekilas ke arahku.

“Masuklah.. ada yang ingin kubicarakan denganmu..”, ucapnya sambil menyuruhku duduk di hadapannya.

“Apa yang ingin anda bicarakan, Presdir?”, tanyaku taktis begitu aku duduk, tapi tetap menjaga etika kesopanan. Meski ia lebih muda, tapi tetap saja jabatannya lebih tinggi dari aku.

“Aku sangat puas dengan hasil presentasimu tadi, kau hebat.. Dong Young Bae-ssi, aku terkesan”, ucapnya sambil tersenyum.

“Ah, terimakasih atas pujian anda. Tapi, saya tidak ada apa-apanya di bandingkan anda”, ucapku merendah. Ia tertawa kecil.

“Kau berlebihan.. Oh, ya minggu ini..”, Jiyong mulai mencari-cari kertas di dalam map-nya. “Kau bisa menggantikanku ke luar kota?”, tanyanya taktis sambil menyodorkan secarik kertas padaku. Aku mengernyit bingung.

“Itu undangan perjamuan. Aku tidak bisa hadir karena minggu depan aku akan ke Macau, jadi kuharap kau bisa menggantikanku sementara waktu.”, ucap Jiyong.

“Tapi, Presdir.. undangan sepenting ini-“

“Oh, tidak.. Kau tenang saja, itu hanya undangan launching produk dari perusahaan lain, aku yakin kalau kau orangnya kau pasti bisa mengatasinya dan kau tidak akan sendirian”, ucap Jiyong. “Salah satu pegawai dari sini juga kukirim bersamamu.. Namanya ehm, Hyeejin.. Lee Hyeejin”, ucap Jiyong mengingat-ingat.

“Maaf, apa maksud anda Lee Hyeejin.. Manager bagian administrasi?”, tanyaku hati-hati.

“Tentu saja, siapa lagi yang bernama Lee Hyeejin di sini?”, ucap Jiyong sambil tersenyum. “Kau keberatan?”, tanya Jiyong.

‘Sangat..’, ucapku dalam hati. Bukannya aku tidak suka, hanya saja kenapa harus Hyeejin yang menemaniku? Kalau begini, lebih baik aku sendiri saja yang berangkat, pikirku malas. Lee Hyeejin, ia seperti wanita karir pada umumnya. Ia orang yang perfeksionis dan sedikit kaku dalam berbicara. Suaranya keras dan aku tak begitu suka caranya bersikap (ia sangat kasar dengan semua karyawan pria di kantor).

“Tidak, saya menerimanya, Presdir”, ucapku meski tidak tulus. Aku harus profesional, tak peduli siapa partner kerjaku, aku harus serius dalam bekerja, meski harus dengan Hyeejin.

“Bagus kalau begitu..”, ucap Jiyong senang. “Perjamuan itu akan diadakan di pulau Jeju, tempat perjamuan ada di undangan, termasuk waktunya dan tempat di mana kau dan Hyeejin akan tinggal sementara”, ucap Jiyong.

“Saya mengerti. Terimakasih, saya permisi dulu, Presdir..”, ucapku sambil mengangguk.

“Ah, Young Bae-ssi?”, aku menghentikan langkahku saat Jiyong memanggilku lagi.

“Ya, Presdir?”, ucapku di ambang pintu. Ia lalu tersenyum lagi.

Gomawaeyo, dan tolong panggil aku Jiyong saja. Aku kan adik kelasmu dulu di kampus.”, ucapnya sambil tersenyum kecil. Aku tersenyum balik.

“Baik, cheonmanaeyo Jiyong..”, ucapku sambil mengangguk sekali lagi. Ternyata, ia mengingatku sebagai kakak kelasnya dulu di kampus. Aku masih tersenyum saat aku kembali duduk di mejaku, tapi seketika senyumku hilang saat Hyeejin menghampiri mejaku.

“Kudengar kau yang jadi partner-ku kali ini?”, tanyanya langsung begitu ia dekat denganku.

‘Tidak sopan!’, pikirku kesal. “Ne, begitulah..”, jawabku seadanya. “Kuharap kita bisa kerjasama, Hyeejin-ssi.”,  ucapku. Ia lalu mendengus sinis.

“Kau pikir aku tak bisa kerjasama tim?”, tantangnya.

Bo? Aku tidak-“

“Sudahlah, besok pagi pukul 07.25, aku tunggu kau di Incheon airport. Jangan terlambat!”, tegasnya lalu pergi tanpa mengatakan permisi. Aku mendengus, mencoba menghilangkan rasa jengkel yang tiba-tiba muncul.

“Jadi Hyeejin yang jadi partner-mu?”, tanya Seunghyun saat kami makan siang bersama. Pemuda bertubuh kekar dan (harus kuakui) sangat tampan itu menyeruput kopinya tanpa mengalihkan perhatiannya dariku. Aku mengangkat bahu.

“Begitulah.. Aku heran, kenapa ia sangat ketus dengan semua lelaki di kantor? Hanya dengan kau saja ia melunak, hyung..”, keluhku.

“Kh.. Kau ini bicara apa, kau hanya tak mengerti seperti apa sebenarnya dia.. Itu saja.”, ucapnya sambil tersenyum geli. “Ia wanita baik kok..”, tambahnya.

Arrasseo..”, ucapku pelan. Entah apa yang akan terjadi besok, tapi kuharap semuanya berjalan lancar..

Semoga.

@@@@@@

Sepertinya doaku kemarin siang tak tersampaikan pada Tuhan, atau aku memang sedang tak beruntung hari ini?. Aku berangkat tepat waktu, bahkan lebih awal dari waktu yang di janjikan Hyeejin. Aku sampai di airport pukul 07.10, dan sehari sebelum berangkat aku sudah mendapatkan tiket pesawat dari Jiyong sebelum Presdir muda itu pergi ke Macau. Namun.. Kenapa jadi begini?.

“Hyeejin-ssi, sebenarnya apa yang kau cari?”, tanyaku lembut. Saat itu, aku benar-benar tulus menanyakannya.

“Gelang! Kau dengar, G-E-L-A-N-G! Apa kau tuli, kau sudah bertanya berkali-kali!”, ocehnya tanpa memperhatikanku. Baik, pertama ia membuat perjalanan kami tertunda lebih dari 30 menit hanya karena sebuah gelang, aku bisa terima itu (mungkin, gelang itu peninggalan penting).

Tapi, hei!. Aku bertanya baik-baik, karena sebelumnya ia selalu menjawab ‘bukan barang penting.. aku bisa sendiri..’. Mana bisa aku diam saja!?, aku ingin membantu tapi ia malah mengataiku tuli!. Demi Tuhan, ibuku saja belum pernah mengataiku begitu.

“Aaah, kemana benda itu..”, keluhnya pelan, ia mulai frustasi. Wajahnya nampak begitu kecewa. Sebenarnya aku kasihan melihatnya, tapi aku tak mau di katai tuli atau apa lagi yang akan keluar dari mulutnya. Aku memilih menyibukkan menatap papan pengumuman keberangkatan pesawat. Seketika, akupun tersentak.

“Oh, Tuhan..”, keluhku pelan. Aku memijit keningku. Bagaimana ini?.

“Ada apa?”, tanya Hyeejin setelah lama bungkam. Aku masih memijit keningku, haruskah aku marah pada wanita ini?

“Delay.”, ucapku.

“Hah?”, tanya Hyeejin tak paham.

“Pesawat kita sudah berangkat, 15 menit yang lalu lepas landas. Dan kalau masih ingin tetap naik pesawat, kita baru berangkat 2 hari lagi.”, jelasku, sedikit menyalahkannya.

“Apa?! Tapi, bagaimana bisa-“

“Apa boleh buat, kita sempat tertunda karena barangmu hilang.”, jelasku tanpa memandangnya. Ia menatapku tajam, sepertinya.

“Kau mau menyalahkan aku, kan? Okay, aku memang salah.. Karena aku mencari gelang tak penting itu, iya kan?”, cercanya. Hei, aku memang sedikit menyalahkannya, tapi aku tak mengatakan itu gelang tak penting!.

“Hyeejin-ssi, kenapa kau bisa berpikir begit-“

“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu!’, potongnya cepat. Ia lalu membuang muka ke arah lain. Aku menghela nafas. Nah apa yang harus kau lakukan sekarang.. Dong Young Bae?.

@@@@@

“Maaf..”, ucapku taktis. Membuat Hyeejin menoleh ke arahku. Setelah memutar otak cukup lama, dan melewati proses yang cukup merepotkan, akhirnya kami bisa berangkat ke Jeju, tempat pertemuan itu akan berlangsung dengan menaiki feri.

“Aku memang salah, tak seharusnya aku menyalahkan gelangmu. Aku yakin pasti itu barang penting, karena kau langsung mencarinya.”, jelasku. Hyeejin hanya diam, namun aku tahu ia mendengarnya, mendengar permintaan maafku.

“Di mana tempat perjamuan itu akan berlangsung?”, tanyanya. Ah.. aku mulai terbiasa dengan sikapnya. Aku membuka iPadku, menilik jadwal kami.

“The Shilla Hotel.”, ucapku. Hyeejin nampak membulatkan bibirnya kecil, membuatnya nampak lucu.

“Presdir bilang, tak perlu khawatir soal perjamuan itu.. Kita hanya perlu mewakilinya saja.”, jelasku. Hyeejin mengangguk, wajahnya nampak sedikit pucat.

“Kau baik-“

“Aku mabuk laut, sedikit..”, potongnya. Aku mengangguk paham, kutilik sedikit arlojiku. Sepertinya masih lama untuk sampai ke Jeju.

“Sebaiknya kau tidur, perjalanan kita masih panjang, 1 jam”, jelasku lagi. Aku merasa kasihan pada wanita ini.

“Hmh.. kansahamnida, Young Bae-ssi”, ucapnya pelan. Aku agak terkejut saat ia mengucapkan terimakasih padaku. Ah, ternyata ia bisa mengeluarkan kata-kata manis juga dari bibirnya itu. Aku menyelipkan earphone di telingaku sambil menikmati lagu, aku sedikit mengetuk-etukan pelan jariku.

Aku terhenyak saat merasakan sebuah beban di bahu kiriku. Aku menoleh, Hyeejin tertidur pulas di atas pundakku. Baiklah, mungkin jika aku adalah Seungri, aku akan mendorong kepalanya (mengingat Seungri membenci wanita galak), tapi aku tak bisa melakukannya. Wajahnya nampak damai, bibirnya sedikit terbuka-tertutup membentuk dengkuran kecil. Mau tak mau aku tersenyum melihatnya.

“Anda mau saya antarkan sesuatu tuan, makanan kecil atau semacamnya?”, seorang pelayan kapal menghampiri tempat duduk kami, aku biarkan Hyeejin bersandar di bahuku. Apa boleh buat, aku tidak tega mendorong kepalanya.

“Uhm, mungkin nanti.. Ah, iya.. Aku mau espresso saja, dan tolong bawakan gulanya..”, ucapku sopan. Sang pelayan mengangguk paham.

“Bagaimana dengan istri anda?”, tanyanya lagi. Aku tersenyum aneh ke arahnya, lalu menggeleng pelan.

“Ia rekan kerjaku, bukan istriku. Tidak usah. Itu saja pesananku.”, tambahku. Sang pelayan mengangguk mohon diri, setelah ia meminta maaf (karena mengira Hyeejin istriku) dan itu cukup membuatku merasa tak nyaman.

Membicarakan soal istri membuatku ingat soal Seungri. Ia memang terbilang masih muda, aku malah selalu menganggapnya anak kecil. Tapi, ialah orang yang selalu menyuruhku segera menikah dan tak menangisi Hye Sun. Aku tak pernah (ah, mungkin pernah sekali) menangisi Hye Sun.

Bukan menangisinya lalu mengemis cintanya, hanya saja aku sulit melupakan sosoknya. Ia adalah wanita pertama yang mengambil hatiku, dan sekarang aku harus menghadapi kenyataan yang pahit kalau ia sudah menjadi istri orang. Entahlah, sekarang aku jadi trauma menyukai wanita, lebih tepatnya malas untuk meladeni hal seperti itu.

Pesananku kira-kira datang 15 menit kemudian. Setelah aku berterimaksih (dan memberikan sedikit uang tip) pelayan itu pergi lagi. Tak berapa lama, aku merasakan Hyeejin bergerak, perlahan ia juga membuka matanya.

“Kau sudah bangun?”, tanyaku. Ia nampak belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, baru setelah ia sadar benar, ia segera mendorongku menjauh. Apa-apaan itu?

“Jangan cari kesempatan ya.”, ancamnya sambil menyilangkan tangan di dada. Aku tersenyum aneh, dan menggelengkan kepalaku.

“Kau yang bersandar duluan. Jangan besar kepala.”, ucapku sambil kembali menuangkan gula ke espresso-ku. Hyeejin nampak mau protes, tapi kemudian ia urungkan. Ia malah mengerucutkan sedikit bibirnya. Akhirnya, ia mengalah.

“Mau kopi?”, tawarku. Ia menggeleng pelan.

“Aku tak bisa minum kopi.”, ucapnya. Aku mengangguk, kemudian kembali aku memasukkan gula ke kopiku. Hyeejin mengernyit.

“Gulamu terlalu banyak, kurasa..”, ucapnya. Ia lalu membenahi rambutnya yang agak kusut. Aku mengangkat bahuku.

“Aku tidak suka kopi pahit. Dan aromanya yang kuat. Makanya kutambahkan gula.”, ucapku taktis. Ia mendengus menahan tawa.

“Jangan mengada-ada mau kau tambahkan gula sebanyak apapun, kopi ya kopi. Begitulah rasa dan aromanya.”, ucap Hyeejin. Entah kenapa, aku merasa de javu dengan kalimat itu.

“Jam berapa ini?”, tanyanya, ia kemudian menguap kecil. Aku menilik arlojiku lagi.

“Pukul 18.00.. Kita sampai pukul 18.50.”, ucapku.

“Apa masih ada waktu untuk kita beristirahat?”, tanya Hyeejin. Aku mengangguk lalu kuangsurkan iPadku padanya.

“Perjamuan itu di adakan besok malam. Kita masih ada waktu.”, ucapku. “Oh, iya. Kita akan menginap di Jungmun Resort, kalau ke Shilla Hotel aku tak yakin dengan.. yah, kau tahu maksudku..”, jelasku. Hyeejin mengangguk.

“Aku tahu. Lagipula tempat itu yang paling dekat dengan tempat perjamuannya, kan?”, ucapnya lagi. Ia lalu nampak menatapku dari ekor matanya.

“Ada masalah?”, tanyaku. Hyeejin nampak ragu bertanya padaku.

“Tidak. tidak ada. “, ucapnya. Ia lalu membuang muka ke arah jendela kapal. Aku baru sadar kalau langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga.

“Kenapa?”, ucapan Hyeejin membuatku menghentikan aktivitasku. Aku menatap kepalanya, yang masih menghadap ke arah lain.

“Kenapa kau masih baik padaku, padahal sikapku tak menyenangkan?”, tanyanya. Aku mengerjapkan mataku. Ia sadar kalau sikapnya memang tidak menyenangkan?

“Memangnya kau tidak menyukai sikapku?”, tanyaku penasaran. Ia menghela nafas, lalu menggeleng.

“Semua pria di kantor selalu baik padaku, tapi mereka berbuat baik karena mereka memiliki niat lain.”, jelas Hyeejin. “Apa kau juga begitu? Tidak, maksudku-“.

“Aku berbuat baik jika memang itu di rasa perlu, Hyeejin-ssi.. Memang kau bukan orang yang hangat dan bisa di bilang kasar, tapi aku tahu kalau kau sebenarnya seperti orang pada umumnya. Baik tapi agak sedikit lain.”, ucapku. Hyeejin menoleh padaku, pandangannya penuh tanya.

“Lain bagaimana?”, tanyanya heran. Matanya yang bulat membesar penuh tanya. Aku mengusap tengkukku, bingung menjelaskan.

“Ya sudah kalau tidak bisa menjelaskan.”, ucap Hyeejin, ia tersenyum tipis. “Bisa kita mulai dari awal, kan? Annyeong haseyo, Lee Hyeejin imnida..”, ia mengangsurkan tangannya, aku tersenyum sambil menyambutnya.

Annyeong haseyo, Dong Young Bae imnida..”, ucapku. Hyeejin tertawa kecil, bukan tawa sinis yang biasa ia lempar, bukan juga tawa mengejek yang ia tampilkan, tetapi tawa yang benar-benar tulus dari hatinya. Aku menatapnya agak lama.

“Hei, berhenti menatapku begitu..”, ucapnya salah tingkah.

“Maaf, aku hanya jarang melihatmu tertawa setulus itu.. Kecuali dengan Seunghyun-hyung..”, jelasku sambil mengangkat bahu.

“Kau kenal Seunghyun?”, tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. Hyeejin nampak terdiam, seperti menimbang-nimbang sesuatu.

“Seunghyun adalah satu-satunya yang mengerti masalahku.”, ucap Hyeejin tiba-tiba. Aku diam, masih mendengarkannya. “Aku bersikap kasar pada semua laki-laki karena punya satu alasan..”, jelasnya lagi. Ia lalu menatapku.

“Dulu sekali.. aku di khianati tunanganku..”, tambahnya. Aku terhenyak, entah kenapa tiba-tiba aku merasa Hyeejin senasib denganku.

“Sungguh?”, tanyaku. Hyeejin mengangguk, matanya nampak menerawang jauh.

“Aku tahu ia tidak mencintaiku. Aku juga tahu, ia terpaksa menerima pertunangan kami. Tapi, aku tak mengeluh dengan sikapnya. Aku sangat mencintainya..”, jelasnya. Matanya kini nampak berkaca-kaca. Aku tidak tahu harus bersikap apa di depan wanita yang akan menangis, tapi kuberanikan diriku, aku menggenggam tangannya. Ia mengangguk, mengisyaratkan ia tak apa-apa.

“Gelang yang tadi itu.. adalah hadiah yang ia berikan padaku.. aku tahu sebenarnya ia memberikannya hanya sekedar formalitas, tapi saat menerima gelang itu.. aku sangat senang..”, jelasnya lagi. Ia nampak lebih tenang sekarang.

“Kemana ia sekarang?”, tanyaku. Ia lalu menghela nafas pelan.

“Aku dengar ia menetap di sini. Tapi, aku tak tahu ia sekarang di mana..”, tambahnya. “Kau tahu? Ia pergi, tepat saat aku sudah sampai di gereja, aku sudah mengenakan gaun pernikahanku dan semua orang menontonnya. Aku malu sekali, sekaligus marah padanya.”, aku terdiam, namun aku tetap mendengarkan semua yang Hyeejin katakan. Menurutku, gagal melamar mungkin hal yang memalukan, tapi aku tak menyangka Hyeejin telah mengalami hal yang lebih memalukan lagi dariku.

“Itulah mengapa aku menjauhi semua karyawan pria di kantor, aku takut akan terulang kejadian saat aku hampir menikah dulu. Kalaupun ada karyawan yang nekat mendekatiku, mereka pasti memiliki tujuan lain..”, jelasnya lagi. Aku mengangguk paham.

“Yang kutahu.. pria yang baik dan tulus memberiku nasihat hanya Seunghyun. Tapi sepertinya sekarang tidak hanya Seunghyun..”, ucapnya, ia lalu tersenyum ke arahku.

“Aku?”, tanyaku. Hyeejin mengangguk mantap.

“Aku selama ini menilai salah soal dirimu.. Young Bae-ssi, maaf selama ini aku menganggapmu buruk..”, tambahnya. Aku tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, lagipula.. aku juga sedikit anti-sosial.. makanya kau tidak tahu aku ini seperti apa.”, jelasku. Hyeejin mengangguk.

“Bagaimana denganmu?”, tanyanya kemudian. Aku mengeryit bingung.

“Maksudku.. kisah hidupmu.. bagaimana denganmu?”, tanyanya. Aku terdiam, pertanyaan Hyeejin tadi serasa menggema di telingaku. Meraung keras di dalam relung hatiku, seakan-akan berusaha untuk mengeluarkan uneg-unegku yang selama ini kupendam sendiri.

Bagaimana aku? Mungkin jika aku menceritakan kisahku padanya, ia akan menilaiku sebagai lelaki menyedihkan dan pengecut, seperti kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya dengan begitu kejam.

“Tidak apa-apa kalau tidak cerita, maaf aku lan-“

“Tidak.. tidak apa-apa..”, ucapku. “Kurasa aku juga harus bercerita banyak, karena kau sudah menceritakan kisahmu padaku..”, ucapku sambil tersenyum. Hyeejin tertawa kecil lagi.

“Kisahku tidak begitu menarik menurutku.. tapi, kalau boleh di katakan kisahku hampir mirip denganmu..”, jelasku. Hyeejin mengeryit.

“Apa wanita itu meninggalkanmu?”, tanya Hyeejin. Aku menggeleng, mana mungkin Hye Sun meninggalkanku, aku yang bodoh kala itu.

“Aku gagal melamarnya.”, ucapku, Hyeejin nampak terkejut, ia lalu menatapku tak enak, mungkin merasa ia terlalu lancang.

“Maaf.”, ucap Hyeejin. Aku tersenyum, lalu mengangkat bahuku.

“Tak masalah, Hyeejin-ssi..”, ucapku. “Seharusnya aku berterimakasih padamu..”, ucapku lagi. Ia menatapku tak mengerti.

“Selama ini, aku selalu merasa kalau aku adalah orang yang paling menderita.. patah hati..”, jelasku. “Tapi, setelah mendengar ceritamu.. kini aku sadar kalau aku tak sendirian, dan mungkin masih banyak lagi orang-orang yang tak beruntung seperti kita..”, tambahku.

“Kau benar..”, ucapnya.

Tepat setelah itu, kapal kami pun berhenti di Busan. Aku menilik arlojiku, tepat pukul 18.50 seperti yang kuperkirakan. Segera setelah kami turun dan membawa semua barang bawaan kami, kami segera mencari taksi, dan sepertinya kali ini keberuntungan memihak kami.

“Jungmun resort, bukankah itu dekat dengan pantai Jungmun?”, tanya Hyeejin di dalam taksi. Aku mengangguk menanggapinya.

“Apa seusai perjamuan itu, Presdir menyuruh kita untuk langsung pulang?”, tanyanya.

“Sepertinya begitu.”, ucapku. Ia mendesah kecewa.

“Ada apa?”, tanyaku. Ia menggeleng, lalu tersenyum kecil. Ah, aku mulai suka dengan wanita ini. Ia nampak bagus bila tersenyum.

“Kupikir kita bisa sedikit berlama-lama di sini. Aku menyukai pantai.”, ucapnya kecewa. Aku tertawa kecil. Taksi berjalan stabil melewati beberapa antero gedung-gedung di pulau itu.

Inilah pulau Jeju, meskipun banyak gedung-gedung bertingkat, suasana asri masih begitu kental dan kentara. Aku pernah berencana, kalau aku menikah nanti, Jeju adalah tempat pertama yang ingin kukunjungi untuk bulan madu sebelum ke Peru. Aku terhanyut dalam pikiranku sendiri, hingga tiba-tiba taksi berhenti secara mendadak dengan tidak mulus.

“Ada apa ini?”, gumam sang sopir dengan dialek orang Jeju, aku suka cara bicara penduduk Jeju. Mungkin akan terlihat aneh bila belum pernah mendengar, tapi menurutku itu bukan suatu keanehan melainkan keunikan.

“Aish…”, ucapnya lagi. Ia lalu menoleh ke kursi belakang, lebih tepatnya ke arahku dan Hyeejin. Pandangannya nampak begitu menyesal.

Mianhaeyo tuan, nyonya.. saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mobil ini..”, jelasnya lagi, aku merasakan firasat buruk.

@@@@@

“Sepertinya saya hanya bisa menurunkan anda di sini..”, tambahnya lagi.

“Apa?! Mana bisa begitu?, Jungmun resort masih jauh dari sini, mana mungkin kam-“

“Tidak apa-apa. Kami bisa mengerti pak, ini uangnya.”, aku cepat-cepat memotong ucapan Hyeejin sebelum si sopir ketakutan. Ia tetap masih galak seperti biasanya.

“Untuk apa kau membayarnya? Toh, ia tidak mengantar kita sampai di tujuan”, keluh Hyeejin ketika kami sudah turun dari taksi. Aku tersenyum menanggapinya.

“Sudahlah, ayo kita cari taksi lain.”, ucapku sambil berjalan mendahului Hyeejin, ia nampak malas mengikutiku dari belakang.

KRUUUUK..

Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara itu. Aku menoleh ke arah Hyeejin dan menatapnya jenaka.

“A-apa lihat-lihat?”, tanya Hyeejin salah tingkah. Aku tertawa kecil.

“Kau lapar?”, tanyaku. Hyeejin nampak salah tingkah lagi, ia lalu menggaruk pipinya yang gembil dan mengangguk pelan. Aku tersenyum kecil.

Wajar kalau ia lapar, menurutku. Sedari pagi, ia hanya tidur di kapal tanpa makan apapun. Aku sendiri juga agak lapar. Aku mengedarkan pandanganku mencari-cari tempat makan yang dekat dari sini.

“Ayo ke sana.”, ucapku berjalan mendahului Hyeejin lagi. Hyeejin segera mengekor ke arahku. Aku berhenti tepat di depan sebuah kedai penjual Jeonbokjuk. Jeonbokjuk adalah bubur nasi dengan abalon, ini adalah makanan khas penduduk pulau Jeju. Kudengar dari teman kantorku, Daesung, pernah memakannya dan rasanya manis.

“Tolong dua porsi Jeonbokjuk”, ucapku pada pelayan yang menghampiri kami.

“Aku merasa tua kalau begini.”, komen Hyeejin setelah pelayan itu pergi. Aku menatapnya bingung.

“Kenapa bisa begitu?”, tanyaku. Hyeejin mengedikkan dagunya, aku memandang di sekitar kedai. Kebanyakan pengunjung kedai adalah pasangan muda-mudi yang nampaknya mungkin seumuran dengan Seungri, malah ada yang lebih muda. Aku tersenyum.

“Jangan pedulikan mereka. Kita makan saja.”, ucapku lagi, tepat setelah itu pesanan kami datang. Mata bulat Hyeejin nampak berbinar cerah, setelah berucap pelan ‘selamat makan’, ia langsung melahap bubur itu.

Ia nampak begitu natural saat makan, tak seperti wanita kebanyakan yang makan denganku. Mereka biasanya makan sangat sedikit, seakan itu memang di sengaja. Mereka juga punya kebiasaan menyisakan makanan terlalu banyak di piring, dan aku tak suka itu. Untuk apa mereka makan kalau pada akhirnya di sisakan sebagian besar di piring? Itu namanya pemborosan.

“Kau tidak makan?”, tanyanya di sela makan. Aku tersenyum, lalu menyuapkan sedikit bubur nasiku, rasa manis yang nyaman di lidah langsung memenuhi rongga mulutku.

“Kau membuatku ingat soal adikku kalau sedang makan.. Gayamu makan, semuanya mirip.”, komentarku. Hyeejin nampak memandangku lama.

“Kau punya adik? Berapa umurnya?”, tanyanya penasaran.

“Sepupu. Uhm, mungkin sekitar dua puluh tiga tahun.. Tapi, bagiku ia tetap masih berumur sembilan belas tahun.”, jelasku. Hyeejin tersenyum lembut.

“Kenapa wanita itu tak menjadi istrimu sekarang? Aku yakin ia akan sangat beruntung memilikimu.”, komen Hyeejin. “Ia benar-benar wanita yang beruntung..”, tambahnya lalu tersenyum memandangku. Aku tersenyum salah tingkah.

“Kau berlebihan..”, ucapku. Hyeejin tertawa kecil, nampak senang melihatku salah tingkah. Kami meneruskan makan kami tanpa bicara. Hening, tapi aku suka keheningan ini. Baru kali ini, aku tak memikirkan Hye Sun. Padahal, setiap waktu aku selalu memikirkannya. Namun, kali ini rasanya berbeda. Aku merasa aku mulai menemukan semangat hidupku lagi sekarang.

@@@@@@

“Hyeejin-ssi kau sudah siap?”, tanyaku di telepon. Setelah mengalami sedikit masalah semalam, pada akhirnya kami bisa sampai di Jungmun resort dengan taksi, tanpa ada kendala apapun. Aku nampak mendengar suara gaduh di telepon.

“Hyeejin-ssi, halo?”, tanyaku lagi.

“Sebentar Young Bae-ssi, ah.. kemana barang itu..”, keluhnya dalam telepon. “Kau bisa ke sini? Aku kesulitan mencari gaunku untuk pertemuan, tolong bantu aku mencarinya..”, aku menggelengkan kepalaku mahfum, tapi aku pun mengiyakan untuk ke kamar hotelnya. Kamarnya tidak jauh dari kamarku. Aku hanya perlu melewati dua kamar.

“Ah, kau datang! Ayo, bantu aku.”, ucapnya segera menyeretku masuk. Aku memandang sekitar kamarnya, semua bajunya ia lemparkan ke ranjang. Berserakan ke mana-mana. Apa semua wanita selalu begini?

“Hyeejin-ssi tak perlu buru-buru begitu.”, ucapku menenangkan. Ia lalu memandangku, agak lama membuatku merasa ada yang salah dengan setelanku.

“Kau pakai setelan putih dan hitam, ah.. aku akan pakai warna itu saja kalau begitu..”, ucapnya. “Ah, tapi aku tak punya blazer putih!”, sambungnya tiba-tiba panik.

“Kenapa tak pakai warna hitam saja? Mungkin tak harus pakai blazer putih.. ganti saja dengan asesoris putih lain..”, ucapku memberi saran. Ia menjetikkan jarinya.

“Kau jenius! Ya sudah, sana keluar.. tunggu saja di lobi”, ucapnya mendorongku keluar kamar. Apa-apaan sih? Sebelum menutup pintu, ia lalu melongokkan kepalanya lagi, dan tersenyum tiga jari.

Kansahamnida!”, serunya senang, ia lalu menutup pintu kamarnya. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku. Ia benar-benar mirip dengan Seungri.

Aku mendudukkan diriku begitu sampai di lobi, aku mengecek ponselku. Pukul 08.30, perjamuan itu akan di mulai pukul 09.30, jadi kurasa tak akan terlambat bila tak terjadi masalah. Aku mengedarkan pandanganku di sekitar lobi, berusaha mencari kegiatan lain selain duduk diam.

“Maaf lama.”, suara Hyeejin otomatis membuatku berpaling padanya. Aku terdiam beberapa saat, ataukah aku terpesona? Aku juga tidak tahu.

Hyeejin nampak berbeda dengan gaun hitam yang pas di tubuhnya, kakinya yang kecil nampak bagus dengan sepatu putih yang ber-hak sedang. Ia tak memakai blazer putih, ia menggantinya dengan memakai asesoris mutiara putih di telinganya, dan kalung tanpa bandul di leher. Sepertinya ia mengikuti saranku.

“Apa aku aneh?”, tanyanya cemas. Aku menggeleng pelan, lalu tersenyum salah tingkah.

“Kau.. nampak bagus dengan gaun itu, ayo berangkat..”, ucapku mengangsurkan tanganku. Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Awalnya, ia tampak ragu menyambutnya, namun pada akhirnya ia mau menyambutnya.

Kami senang karena kali ini kami tak harus mencari taksi. Semalam aku mendapat telepon dari Jiyong, ia bilang ia akan mengirimi kami mobil dinas lengkap dengan sopirnya. Begitu kami sampai di Shilla hotel, sopir itu langsung membukakan kami pintu.

“Ah, beginikah rasanya menjadi seorang Presdir..”, ucap Hyeejin senang. Tentu saja, ia hanya bercanda soal itu. Aku tersenyum kecil.

Pertemuan itu di adakan di Ballroom, letaknya ada di lantai bawah hotel. Begitu kami sampai, suasana yang begitu klasik namun elegan langsung menyambut kami. Aku berjalan, masih sambil menggandeng tangan Hyeejin. Beberapa orang masih sibuk mengobrol sambil menikmati kudapan kecil dan wine.

“Kita duduk di sini saja.”, ucapku saat kami sudah mendapatkan meja. Hyeejin mengangguk mengiyakan. Aku masih menatapnya dari ekor mataku. Ah, ada apa denganku?.

“Jangan melihatiku begitu.”, keluhnya. Aku terkejut, sepertinya aku tertangkap basah kali ini. Aku menggaruk tengkukku.

“Maaf… Kau cantik sekali malam ini.”, gumamku pelan. Hyeejin tersentak, ia lalu berdeham salah tingkah dengan pipi sedikit memerah. Ia lucu.

“Young Bae?”, panggilan seorang wanita sontak membuat perhatian kami teralihkan. Hyeejin nampak tersenyum sopan ke arah wanita itu, namun tidak denganku. Aku masih terkejut akan kehadirannya.

“Hye Sun noona?”, gumamku. Ya, wanita yang kini berada di hadapanku adalah Hye Sun. Hye Sun yang dulu ku dambakan, Hye Sun yang dulu kucintai.

“Apa yang kau lakukan di sini?”, tanyanya padaku. Pertanyaan itu terasa menggema di telingaku. Aku begitu merindukan suaranya, dan sekarang ia berada di hadapanku. Rasanya seperti mimpi saja.

“Young Bae.. jawab dia.”, Hyeejin membisik ke telingaku. Aku segera tersadar.

“Ah, ne noona.. Aku ke sini karena urusan kerja..”, jelasku ketika aku sadar. Hye Sun tersenyum kecil. Aku baru sadar kalau perut Hye Sun sedikit membuncit di balik gaun malamnya itu.

“Kau mengandung?”, tanyaku.

“Begitulah..”, ia lalu mengelus lembut perutnya. “Ia begitu menantikan kelahiran bayi kami..”, jelasnya sambil tertawa. Aku tersenyum, begitupun Hyeejin.

“Oh, ia partner kerjaku.. Namanya Lee Hyeejin”, jelasku lagi. Hye Sun nampak menyambut jabat tangan Hyeejin. Kedua wanita itu tersenyum.

“Di mana hyung?”, tanyaku. Entah kenapa, aku mulai terbiasa dengan Hye Sun. Dulu, aku tak pernah bisa bicara selancar ini di hadapannya, namun sekarang aku nampak nyaman dengan keadaan kami. Apa itu artinya aku sudah bisa menerima kenyataan? Aku tidak tahu. Rasa yang dulu masih tetap sama, desir yang menyenangkan juga masih sama. Tapi, ada satu hal yang membuat hatiku mulai bisa mengontrol semua rasa itu.

“Oh, itu dia! Dong Wook!”, ucap Hye Sun agak keras. Tak jauh dari kami, seorang pria memakai setelan jas hitam menghampiri kami dengan senyumannya yang mencapai mata.

Dong Wook masih sama seperti dulu. Ia tampan dan ramah. Namun seketika senyum Dong Wook perlahan memudar begitu ia mendekat. Senyum itu memudar, tergantikan ekspresi terkejut. Ada apa?

“Dong Wook..”, gumam Hyeejin pelan. Aku menoleh ke arah Hyeejin. Wanita itu nampak terus menatap Dong Wook dengan pandangan yang sulit di artikan.

“Kalian saling kenal?”, tanya Hye Sun bingung.

“Tidak! Mungkinkah kita pernah bertemu nona?”, potong Dong Wook cepat. Sekilas aku dapat melihat raut kecewa di wajah Hyeejin, namun wanita itu segera tersenyum menutupinya.

“Tidak. Mungkin aku pernah melihatnya di televisi, ia seorang pengusaha, kan?”, ucap Hyeejin sambil tertawa kecil. Hye Sun nampak tersenyum kecil.

“Bagaimana kabarmu, Young Bae?”, tanya Dong Wook. Pada akhirnya, kami berdua pun semeja dengan Hye Sun dan Dong Wook.

“Baik, hyung.. Aku ikut senang kau akan menjadi ayah..”, ucapku tulus, sungguh-sungguh tulus kali ini. Dong Wook tersenyum. Aku heran melihat tingkahnya. Dong Wook adalah tipe orang yang ramah, namun kenapa ia nampak menghindari sesuatu?. Mungkinkah… Hyeejin?.

“Ah, ia partner kerjaku..-“

“Lee Hyeejin imnida..”, potong Hyeejin cepat. “..dan selamat untukmu Dong Wook-ssi”, ucap Hyeejin, aku bisa mendengar nada getir di kalimat itu. Ada apa dengannya?

Kami terus mengobrol sepanjang acara. Lebih tepatnya, aku yang mengobrol dengan Hye Sun. Aku heran dengan sikap Dong Wook dan Hyeejin yang nampak tak berkenan duduk semeja. Mungkin sepulang acara ini aku akan bertanya padanya.

“Aku pulang duluan saja.”, ucap Hyeejin di tengah acara makan. Aku menatapnya bingung, Hyeejin nampak menghindariku.

“Apa kau kurang sehat?”, tanya Hye Sun nampak khawatir. Hyeejin tersenyum lemah.

“Aku tak apa-apa. Aku duluan saja-“

“Aku pulang juga kalau begitu.”, ucapku. Aku merasa ada yang tak beres dengan dirinya.

“Apa? Kenapa kalian jadi pulang semua?”, tanya Hye Sun kecewa. Aku tersenyum lalu menepuk pundak Hye Sun pelan.

“Sampai jumpa lagi kalau begitu.. Kalau sempat aku akan main ke rumah kalian.”, ucapku. Setelah pamit dengan Hye Sun dan Dong Wook, kami pun pulang. Sepanjang perjalanan pulang, kami terdiam tanpa ada yang memulai berbicara, Hyeejin nampak membuang muka ke arah jendela. Sebenarnya aku heran dengan sikapnya, namun aku masih diam.

“Berhenti dulu.”, ucap Hyeejin tiba-tiba, membuatku dan sang sopir terkejut. Resort masih beberapa meter dari mobil kami. Sedangkan mobil berhenti tepat di dekat Jungmun beach. Hyeejin keluar mobil tanpa memperdulikanku yang mengikuti ia keluar. Ada apa lagi dengan wanita ini?

“Hyeejin-ssi..”, panggilku. Hyeejin nampak tak peduli, ia tetap melangkah menuju pantai dengan cepat. Aku mulai memperlebar langkahku.

“Hyeejin-ssi berhenti.”, ucapku. Hyeejin nampak  tak peduli, langkahnya mengantarnya menuju bibir pantai.

“Hyeejin!”, akhirnya aku berhasil meraih lengannya. Ia nampak menunduk, menyembunyikan wajahnya.

“Ada apa? Kau ada masalah?”, tanyaku. Ia masih menunduk diam. Lama sekali ia diam, perlahan kudengar ia terisak pelan. Aku terkejut.

“Hyeejin.. Ada apa?”, tanyaku. Hyeejin mendongak, ia lalu memelukku erat. Membiarkan air matanya merembas ke kemejaku. Perlahan kuusap pelan bahunya yang terguncang hebat.

“Sudah. Tenanglah, tidak apa-apa.”, ucapku menenangkan. Ia menggelengkan pelan kepalanya, masih menangis. Aku tak menyangka kalau Hyeejin akan begini. Ia terlihat begitu rapuh sekarang.

“Aku tak bisa memaafkannya Young Bae. Aku begitu membencinya tadi.. ia bahkan berpura-pura tak mengenaliku.”, ucap Hyeejin di tengah tangisnya. Aku mengernyit. Aku melepas pelan pelukan Hyeejin.

“Pria itu.. Dong Wook?”, tanyaku pelan. Aku tak tega melihat wajahnya yang bersimbah air mata. Padahal, ia nampak mempesona bila tersenyum, namun ia nampak begitu merana sekarang. Ia terisak semakin keras.

“Hei, sudahlah. Jangan menangis lagi..”, ucapku sambil mengusap pipinya pelan. Ia nampak lebih tenang sekarang.

“Apa Hye Sun adalah wanita itu juga?”, tanya Hyeejin, ia sudah berhenti menangis, namun jejak air mata masih jelas terlihat. Aku mengajaknya duduk di tepi pantai. Aku tak peduli dengan pakaian formalku yang nantinya kotor, biarlah.

“Begitulah..”, ucapku pelan sambil mengusap matanya yang basah. Hyeejin bergumam ‘terimakasih’ pelan, ia lalu memandang ke depan pantai yang gelap.

“Kau belum menjawab apa yang kutanyakan tadi.”, ucapku memecah keheningan. Hyeejin menghela nafas.

“Kau benar. Pria itu Dong Wook”, ucapnya, ia lalu tersenyum kecut. “Kau nampak begitu tenang tadi. Tidak sepertiku yang kikuk”, tambahnya.

“Aku juga akan sepertimu kalau aku berada di posisimu..”, ucapku. Sekarang aku bisa mengerti perasaan Hyeejin. Aku tak menyangka kalau Dong Wook dulu adalah orang seperti itu. Sebenci apapun ia pada Hyeejin dulu, setidaknya ia harus minta maaf tadi. Entah kenapa aku jadi kesal dengannya.

Hyeejin nampak memeluk tubuhnya sendiri, mungkin merasa dingin. Aku melepas jas-ku dan perlahan memakaikannya ke tubuhnya.

Kansahamnida.”, ucapnya.

“Aku tak melakukan apapun.”, ucapku. Aku menoleh ke arahnya, bersamaan ia juga menoleh ke arahku.

“Tentu saja kau melakukan sesuatu. Kalau kau tak mempedulikanku, pasti kau tidak akan mengikutiku pulang, kan?”, ucapnya sambil tersenyum. Matanya yang sembab menyipit. Aku merasa sedih melihatnya. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Bagi Hyeejin, aku bukanlah siapa-siapa.

@@@@@

Kami pulang ke Seoul dengan pesawat, dan tanpa ada halangan apapun. Hanya saja ada yang berubah dari sikap Hyeejin. Ia jadi lebih pendiam sekarang. Memang, ia tetap baik denganku. Tapi kulihat ia tak lagi ceria semenjak ia bertemu Dong Wook.

Hyung? Libur?”, tanya Seungri begitu mendapati aku yang masih asyik menonton berita pagi di televisi.

“Hm. Begitulah.”, ucapku sekenanya.

Sebenarnya saat ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku tahu merelakan orang yang kita cintai bersama orang lain memang sulit, sama halnya dengan aku dan Hye Sun. Sekarang, aku bisa menerima kenyataan kalau aku dan Hye Sun memang tak di takdirkan bersama, dan itu berkat Hyeejin yang menyadarkanku. Tapi, kenapa sekarang wanita itu malah kembali terpuruk? Aku mendecakkan lidahku, membuat Seungri menoleh ke arahku.

Hyung?”, panggilnya lagi. Aku tak menyahutinya, masih sibuk dengan pikiranku.

Hyuuuung!”, kali ini ia mulai merajuk. Aku menoleh, meski pikiranku tak terfokuskan padanya.

“Kau kenapa sih? Seharusnya kau senang karena kau baru saja ke Jeju. Kenapa sekarang kau nampak banyak pikiran?”, tanyanya mengomel. Aku tersenyum lalu mengacak pelan rambutnya.

“Aku bertemu Hye Sun dan Dong Wook, semalam di Jeju.”, ucapku.

Mwo?. Jeongmal, hyung?”, tanyanya nampak terkejut. Aku mengangguk mengiyakan.

“Lalu, apa yang terjadi?. Apa kau patah hati lagi?”, tanyanya.

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Kau percaya kalau dunia ini sempit?”, tanyaku di luar topik. Seungri nampak mengerjap bingung namun ia mengangguk.

“Ada apa sih sebenarnya, hyung?”, tanyanya penasaran. Aku menghela nafas, akhirnya aku pun menceritakan apa yang terjadi. Kejadian aku bekerja bersama Hyeejin, lalu Hyeejin dan aku mulai bisa bekerja sama dan menjadi teman baik, dan akhirnya kuceritakan kejadian semalam, di mana Dong Wook adalah tunangan Hyeejin dulunya.

“Aish.. Kenapa kau menyukai wanita yang hidupnya berliku sih, hyung?”, ucap Seungri pada akhirnya. Aku menoel keningnya pelan.

“Bukan begitu. Hyeejin adalah orang yang membuatku menyadari kalau aku tak sendirian soal patah hati.. Namun sekarang, ia malah bersedih dan aku tak bisa melakukan apa-apa”, jelasku. Seungri nampak berpikir.

“Hibur dia hyung.. Pasti ia akan ceria kembali.”, ucap Seungri.

“Aku baru saja mengenalnya. Mana bisa aku langsung menghiburnya, itu aneh.”, jelasku. “Lagipula aku tak mengerti apa-apa soal menghibur wanita.”, tambahku.

“Kenapa tak mencoba menghubungi dia? Tidak usah di telepon, mengirimi ia pesan mungkin.”, saran Seungri.

“Bagaimana kalau ia merasa aku terlalu ikut campur urusannya? Aku tidak mau kalau nantinya akan jadi salah paham.”, tanyaku lagi. Aku benar-benar payah soal ini. Seungri nampak berdecak kesal.

“Ah, hyung! Kau kan belum mencobanya, coba dulu!”, ucap Seungri gemas. Aku tersenyum kecil. Apa aku berani menelepon Hyeejin?

@@@@@

Nyatanya baik menelepon ataupun mengirirmi pesan belum kulakukan. Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 08.00 malam tapi aku masih menatap nomor Hyeejin di layar iPhone 5 milikku. Aku bersyukur setidaknya aku tak perlu meminta nomor Hyeejin ke Seunghyun. Aku yakin pria itu pasti akan menggodaku dan mengira kalau kami punya hubungan tertentu.

‘Ah, hyung!. Kau kan belum mencobanya, coba dulu!’. Ucapan Seungri terus menggema di telingaku. Aku menghela nafas, aku tak pandai soal ini. Tapi, perkataan Seungri ada benarnya juga, mana kutahu kalau aku belum mencobanya?

Perlahan, aku menekan tombol ‘call’, dan menunggu nada tunggu itu di jawab oleh sang empunya.

Yeoboseoyo?”, suara yang begitu familiar itu segera menyambutku. Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan?

Yeoboseoyo? Halo?”, ulangnya lagi.

Ne.. Hyeejin-ssi.. ini aku Young Bae.”, ucapku pada akhirnya.

“Oh, kau.. Ada apa menelepon?”, tanya Hyeejin. Suaranya nampak seperti biasanya, jernih dan sedikit kecil.

“Bagaimana kabarmu?”, bodoh! Kenapa aku malah menanyakan kabarnya. Ini pertanyaan aneh! Hyeejin nampak tertawa kecil di sana.

“Aku baik.. hei, kau libur dua hari, kan?”, tanyanya taktis.

“Begitulah.. ada apa?”, tanyaku. Aku mulai bisa berbicara lancar sekarang.

“Besok pergilah ke rumahku… Aku butuh sedikit bantuanmu. Kau mau?”, tanyanya lagi. Kudengar dari nadanya, ia begitu mengharap aku menyanggupinya.

“Tidak masalah.. Kapan waktunya?”, tanyaku.

“Mungkin pukul 10.30, kau bisa?”, tanyanya lagi. “Ada yang ingin kusampaikan padamu.”, ucap Hyeejin lagi. Aku mengernyit.

“Kenapa tidak sekarang saja?”, tanyaku penasaran.

“Aah, besok saja.. Okay? Sampai jumpa besok!”, ucapnya. Kemudian ia pun memutus sambungan telepon kami. Aku besyukur setidaknya Hyeejin tak melakukan tindakan konyol seperti bunuh diri. Aku meletakkan kepalaku di bantal sambil berpikir, kira-kira apa yang ingin ia sampaikan padaku?

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Ada apa denganku? Kalau ia ingin menyampaikannya besok, ya sudah besok saja. Kenapa aku jadi begitu penasaran? Sepertinya benar apa yang di katakan Seungri, kalau aku mulai berubah. Bukan berubah menjadi jelek atau apa, tapi menjadi lebih baik.

‘Aku bisa merasakan kau punya semangat untuk hidup lagi, hyung!’, ucapan Seungri tadi siang membuatku tersenyum. Anak itu, meski ia lebih muda dariku, ia lebih pandai dariku jika menyangkut soal berbicara. Seungri benar-benar pembicara yang baik. Aku memadamkan lampu kamarku, aku tak boleh terlambat besok.

@@@@@

“Ah, kau datang! Masuklah.”, ucap Hyeejin ramah begitu aku sampai di depan rumahnya. Aku mengikuti saran Seungri.

Anak itu bilang kalau aku harus membawa bunga, jadi aku pun membeli daun mints yang berada di pot kecil berwarna kuning. Seungri sempat memarahiku karena aku seharusnya membeli mawar atau bunga lain. Tapi, aku menolaknya. Aku tidak tahu apa ini akan berhasil pada Hyeejin, tapi setahuku aroma mints sangat baik untuk ketenangan hati.

“Maaf aku tak bawa bunga. Aroma daun ini bisa membantumu untuk tenang.”, ucapku. Hyeejin tersenyum, ia nampak senang menerimanya. Kami berdua duduk di ruang tamu rumah Hyeejin. Cat rumahnya berwarna hijau muda dengan aksen biru laut di sisi tembok lain. Aku suka suasana rumahnya, sejuk dan nyaman. Namun, aku heran kenapa keadaan rumah Hyeejin seperti ini? Keadaannya seperti akan mau pindah dari sini.

“Kau mengepaki barang – barangmu?”, tanyaku heran. Hyeejin nampak memandangku lama, ia lalu menghela nafas.

“Aku akan pulang ke Vancouver.”, jelasnya sedih. “Inilah yang ingin kusampaikan padamu.”, tambahnya lagi. Aku terkejut meski tak begitu kuperlihatkan.

“Kupikir kau orang asli Korea.”, komenku singkat. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan, jadi hanya itu yang bisa kukatakan. Ia lalu menggenggam tanganku.

“Young Bae-ssi.. terimakasih, kau telah membuatku banyak berubah. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu..”, ucapnya. “Aku pergi karena aku merasa kalau aku menetap terlalu lama di sini, aku yakin aku hanya akan menderita..”. Aku diam, masih menunggunya melanjutkan.

“Korea membuatku ingat soal Dong Wook, jadi mungkin aku akan pergi.. untuk sementara.”, ucapnya lagi. Aku tersenyum, meski ada sedikit rasa tidak rela di dalam hatiku.

“Kapan kau kembali?”, pertanyaan itu tiba-tiba lolos dari mulutku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa aku perlu tahu.

“Aku tidak tahu.. tapi, sepertinya setahun.”, ucapnya. Ia mulai melepaskan genggamanku, ia lalu tersenyum cerah ke arahku.

“Aku menemukan sesuatu.”, ucapnya sambil merogoh kantung rok rumahannya, ia lalu mengangsurkan sebuah benda yang beberapa hari yang lalu hilang.

“Ini.. gelangmu yang hilang?”, tanyaku. Hyeejin tersenyum lalu mengangguk. “Di mana kau menemukannya?”, tanyaku lagi.

“Sesaat setelah aku pulang dari Incheon aku menemukan gelang itu terjatuh di dekat pekarangan depan.. maaf saat itu aku ceroboh.”, ucapnya sambil tersenyum kekanakan. Aku tersenyum meski juga merasa geli.

“Lalu, kenapa kau berikan benda ini padaku?”, tanyaku. Hyeejin nampak menatapku serius.

“Tolong kau berikan gelang ini pada pemiliknya dulu.. kau tahu, kan? Aku tak bisa menemuinya secara langsung.”, jelas Hyeejin sambil menaruh gelang itu ke genggaman tanganku.

“Kalau itu bisa membantumu.. akan kulakukan sebisaku.”, jelasku sambil tersenyum. Hyeejin nampak tersenyum lega. Seusai kami mengobrol. Hyeejin mengajakku makan siang di dapur rumahnya. Aku baru tahu kalau ternyata Hyeejin pandai memasak, masakannya sangat lezat. Begitu jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, aku pun pamit untuk pulang.

“Young Bae?”, panggilnya lagi tepat saat aku akan masuk ke mobil. Sepertinya, aku mulai terbiasa dengan ‘panggilannya’ untukku.

“Ya?”, tanyaku. Hyeejin tersenyum lembut. Ia lalu meletakkan tangannya di dada. Wajahnya benar-benar tulus saat itu.

Kansahamnida.”, ucapnya tulus. Aku balas membalasnya tersenyum lembut.

Ne, cheonmanneyo.. Hyeejin-ah”, ucapku pelan.

@@@@@

Seoul, 2 April 2013

Tak terasa Hyeejin sudah pergi selama dua minggu ini. Setelah ia memberikan gelang itu padaku. Aku tak lagi menemukan dirinya di kantor, pun aku juga tak menghubunginya. Mungkin ia benar-benar membutuhkan ketenangan. Aku menyesap kembali kopi pahitku, dan mengedarkan pandanganku di sekitar kafe yang kudatangi. Aku tersenyum saat mendapati sosok yang telah kutunggu sedari tadi.

“Kau sudah lama? Maaf aku tadi sibuk.”, ucap Dong Wook begitu duduk di depanku. Aku tersenyum kecil.

“Tak masalah, hyung. Kau kan memang sibuk”, ucapku menyesap kembali kopiku.

“Nah, apa yang ingin kau bicarakan?”, tanyanya taktis. Aku tak langsung menjawab. Aku malah mengangsurkan gelang milik Hyeejin ke mejanya. Ia nampak terkejut.

“Darimana-“

“Hyeejin pulang ke Vancouver, ia meminta tolong padaku untuk mengembalikan ini padamu..”, ucapku menjelaskan. Dong Wook nampak memandangku.

“Kau sudah tahu masalahnya, ya?”, tanyanya tersenyum kecut. Aku mengangguk mengiyakan, ia lalu menghela nafas.

“Ia sudah pergi.. Padahal aku belum meminta maaf padanya..”, jelas Dong Wook penuh sesal.

“Kurasa belum terlambat kalau kau mau meminta maaf..”, ucapku sambil tersenyum. “Kau tahu, hyung.. Belum ada kata terlambat..”, ucapku lagi. Dong Wook nampak berpikir.

“Aku ragu ia akan memaafkan kesalahanku, Young Bae. Aku sudah terlalu menyakitinya terlalu dalam.”, ucapnya lagi, ia lalu menghela nafas.

“Kau bahkan belum mencobanya.”, ucapku. “Aku yakin semuanya pasti bisa di kembalikan seperti semula, hyung..”, tambahku. Aku juga tidak mau kalau masalah ini akan menjadi dendam berkepanjangan dan membuat Hyeejin, Dong Wook, atau mungkin Hye Sun terluka. Kalau hanya ini yang bisa kulakukan, aku akan melakukannya.

Dong Wook nampak tersenyum, ada secercah harapan di wajahnya yang nampak menirus. Mungkin, ia terlalu lelah dengan masalahnya.

“Kau benar, Young Bae.”, ucapnya lagi. Ia nampak menggenggam gelang milik Hyeejin. “Apa ia akan kembali ke sini? Seoul?”, tanyanya.

“Ia mengatakan akan pergi selama setahun.”, ucapku. Dong Wook nampak tersenyum, mungkin ia senang karena ia masih bisa memperbaiki kesalahan masa lalunya.

Setelah perbincangan kami yang cukup singkat tadi. Aku pun segera mengakhirinya, karena aku juga harus segera kembali ke kantor untuk bekerja. Aku sengaja memilih berjalan kaki, karena letak café tadi tak begitu jauh dari letak kantorku. Langkahku terhenti saat aku melihat seorang wanita paruh baya menjual jajanan kecil di pinggir sebuah toko sayur. Makanan kecil yang membuatku teringat kenanganku bersama Hyeejin di Jeju. Jeonbokjuk.

Mendengar nama itu membuatku rindu padanya. Bukan rindu seorang kekasih, tetapi lebih ke seorang teman dekat. Aku merindukan sikapnya yang kadang bisa lebih dewasa dariku, aku merindukan sikapnya yang kekanakan seperti Seungri, aku merindukan semuanya.

“Tuan, mau beli Jeonbokjuk?”, tanya ibu itu ramah. Mungkin, ia melihatku yang sedari tadi memperhatikan Jeonbokjuknya. Aku tersenyum ramah.

“Tolong, berikan satu porsi untukku”, ucapku. Hyeejin, kira-kira kapan kau pulang?

@@@@@

April 2014

Hyeejin’s pov

Udara musim semi korea membuat jet-lag yang sempat kualami berangsur menghilang. Ah, aku begitu merindukan tempat ini. Padahal, aku hanya pergi setahun tapi rasanya aku sudah pergi sangat lama di sini. Sebelum benar-benar keluar dari bandara, aku sengaja pergi ke café untuk membeli segelas cokelat hangat dan mengaktifkan ponselku yang mati. Aku tersenyum saat mendapati pesan dari teman-temanku, termasuk Young Bae yang nantinya akan menjemputku.

‘Aku akan datang pukul 11.00, aku tidak akan terlambat^^’. Pesan Young Bae membuatku mencibirnya. Ia bilang ia tak akan terlambat, tapi sekarang pun belum kulihat batang hidungnya.

“Kau lama sekali.”, suara lembut itu taktis membuatku menoleh, pemilik suara itu tersenyum ke arahku.

“Young Bae!”, seruku senang. Aku langsung memeluknya begitu ia dekat denganku, aku begitu merindukannya. Ia nampak terkejut, tapi ia balas memelukku.

Aigoo.. aku merindukanmu.. Bagaimana kabarmu?”, tanyaku begitu aku melepas pelukanku darinya. Ia tersenyum sambil menepuk kepalaku pelan.

“Baik.. kau sendiri? Aku sudah menunggumu sejak pukul 10.30, kau tahu.”, ia berpura-pura marah padaku. Aku tertawa kecil. Ah, padahal aku sudah bilang padanya jangan menjemputku terlalu awal, tapi ia tetap melakukannya.

“Baik. Aku kan sudah bilang jangan menjemputku terlalu awal.”, belaku. Ia tertawa kecil, mungkin menyadari kesalahannya.

Mianhae.. Ah, ada yang ingin bertemu denganmu.”, ucapnya. Aku mengernyit bingung, namun Young Bae hanya tersenyum menanggapinya. Ia malah mengajakku untuk menemui orang itu, dan itu membuatku penasaran.

“Hai, Hyeejin.. lama tak jumpa.”, aku terkejut begitu melihat Dong Wook menyapaku, begitupun Hye Sun dan dua orang anak kecil berada di sana. Aku bingung dengan ini semua, makanya aku hanya bisa memandang Young Bae.

“Ada yang ingin mereka sampaikan.. terutama Dong Wook-hyung.”, jelas Young Bae. Aku mengangguk mengerti. Aku tersenyum, meski sebenarnya aku tak begitu menginginkan pertemuan ini cepat terjadi.

“Begitulah. Bagaimana kabar kalian?”, tanyaku sebisa mungkin terlihat ramah. Aku tak mau jika aku terlihat bersikap dingin. Hye Sun nampak tersenyum lembut.

“Kami semua baik Hyeejin-ssi..”, ucapnya. Ia lalu mendekatiku dan menggenggam erat tanganku, wajahnya nampak serius. “Hyeejin-ssi, aku benar-benar minta maaf.”, ucapan Hye Sun sontak membuat terhenyak.

“Untuk apa kau meminta maaf, Hye Sun-ssi.. Kau tidak bersalah padaku.”, ucapku. Hye Sun nampak menggeleng.

“Aku tidak tahu kalau kau dulunya adalah tunangan Dong Wook..”, ucapnya. “Aku tidak tahu, kalau dulu Dong Wook pernah melakukan hal seperti itu padamu.”, jelasnya lagi. Dong Wook nampak mendekatiku juga sekarang.

“Aku tahu mungkin maaf saja tidak cukup.. Tapi kuharap aku bisa meminta maaf, sebelum aku tak bertemu denganmu lagi, Hyeejin.”, Dong Wook nampak tegas mengucapkannya. Young Bae menepuk pundakku.

“Aku sudah menjelaskan semuanya kepada mereka.”, ucap Young Bae. Aku menghela nafas.

“Sudahlah.. Lagipula itu sudah berlalu cukup lama. Tidak perlu di bahas lagi.”, ucapku. Aku hanya berharap satu hal, semua ini segera selesai dan aku bisa mengobrol normal dengan Young Bae.

Baik Dong Wook dan Hye Sun nampak tak nyaman, mereka sama-sma canggung. Aku berjalan mendekati dua orang anak yang nampak memandangiku dengan mata polosnya.

“Jadi, anak kalian kembar?”, aku memecah keheningan. Dong Wook nampak canggung menjawab. Hye Sun tersenyum kecil.

“Begitulah. Yang laki-laki Hyeonjo dan yang perempuan namanya sama denganmu.”, ucap Hye Sun. “Kuharap kau tak keberatan”, tambahnya. Aku tersenyum ke arah dua anak itu, aku mengangsurkan tanganku, mencoba mengajaknya bersalaman.

“Hyeejin imnida.”, ucapku. Sang anak perempuan nampak terkejut. Mungkin karena namanya sama denganku. Namun, kedua anak itu tetap menyambut tanganku, aku tersenyum kecil.

“Aku tidak keberatan kok..”, aku tertawa kecil ke arah Hye Sun. Dong Wook nampak lega dengan sikapku. Setelah pertemuan tadi, Hye Sun menawarkan untuk mengajak makan malam di rumahnya, namun aku menolaknya dengan halus karena aku sangat lelah dan ingin segera pulang.

“Aku senang dengan sikapmu tadi.”, ucap Young Bae ketika kami berada di dalam mobil. Aku tersenyum.

“Tidak ada gunanya aku mendendam dengan mereka. Lagipula itu sudah lama berlalu, iya kan?”, ucapku. Young Bae nampak tersenyum, mungkin ia juga senang karena akhirnya semua masalah sudah selesai.

Kansahamnida.”, ucapku tiba-tiba. Young Bae mengeryit bingung.

“Aku tak melakukan apapun.”, ucapnya. Aku menepuk keras pundaknya, hampir saja mobilnya menabrak trotoar jalan.

“Hyeejin!”, ia berseru kaget. Aku tertawa saat melihatnya mendelik ke arahku. Ia sangat lucu kalau melakukan itu.

‘Terimakasih untuk semuanya’. Aku memejamkan mataku dan menyandarkan kepalaku. Aku lelah sekali hari ini. Young Bae nampak tak protes saat melihatku tertidur pulas, aku tahu baru kali ini aku tertidur pulas dan setenang ini.

Aku belum pernah merasakan hal selega ini sebelumnya, karena aku terlalu larut dalam kesedihan. Aku akan ingat satu hal penting yang di ajarkan kehidupan kepadaku dan Young Bae, yaitu seburuk apapun nasib kami, kami yakin kebaikan akan menyambut kami di hari esok. Mungkin, aku tak bisa bersama Dong Wook begitupun Young Bae dengan Hye Sun, tapi aku yakin Tuhan pasti sudah menyiapkan hal lain untuk kami. Hal yang kami yakini lebih baik dari sekarang.

FIN*

Aigoo!!!!. Mianhae kalau endingnya buruk…*ceritanya juga jelek..T.T… Hallooo saya adalah author baru dan baru pertama kali saya buat ff dengan tokoh manusia asli..*author biasanya bikin ff anime.. dan kalo mau tahu saya adalah adik dari Tabina Hatake.. @realtabina *gak ada yang mau tau!!. Ah, rencana awal saya sebenernya mau di bikin two-shot, tapi akhirnya gak jadi. Semoga gak pada capek ya karena ceritanya panjaaaang sekali. Seperti yang terlihat dari judulnya, saya ter-inspire sama MV Young Bae yang ‘Wedding Dress’, di mana di MV itu ceritanya Young Bae gagal nge-lamar cewek pujaannya *ceilee bahasanya.. nah, di ff ini saya bikin ceritanya Young Bae setelah ia gagal melamar cewek, dan di sertai dengan tokoh tambahan yaitu Hyeejin, yang notabene juga sama-sama sakit hati. Oke, Mohon beri review dan kritik bagi author baru ini, karena review & kritik ibarat air sejuk di tengah padang pasir bagi seorang author..*plak.. abaikan..

Kansahamnida-@youngdinna