to-forget-about-you

Author                : Dipta (@mradiptalingtang)

Main Casts         :

  • Gong Min Ji
  • Kang Dae Sung

Other Casts         :

  • Lee Chae Rin
  • Park Bom
  •   In Young seonsaengnim (nama ngarang)

Length                : Oneshoot

Genre                 : Angst, romance, friendship, school

 

**

To forget about You…

 

 

“Sekarang kamu suka siapa?”

 

Pertanyaan itu, meskipun sepele, selalu berhasil membuatku bingung. Bingung antara memilih kata hatiku, atau sebuah keinginan mengharuskanku melupakan kata hatiku.

**

Seoul. Summer.

Sekali lagi aku menghela nafas, lalu menatap selembar kertas yang sedari tadi kugenggam erat.“Olimpiade tingkat perfektur, aku harus belajar dua kali lebih keras,” keluhku.
“Apalagi dengan orang itu…”

**

(FLASHBACK)

“Gong Min Ji, Park Bom. Kenalkan ini Kang Dae Sung, dari kelas XI-VIII. Dia akan menjadi partner kalian dalam olimpiade musim mendatang,” kata In young seonsaengnim sambil menepuk seorang anak laki-laki. Kurus, bermata sipit, berambut jabrik. Sedikit lebih tinggi dariku.

“Jangan salah dan jangan anggap remeh dulu! Dia ini pernah mendapat medali emas olimpiade matematika tingkat internasional!”

Aku menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Sungguh kurang terlihat seperti jawara olimpiade! Kurus, bermata sipit, dan amat pendiam.

“Hai, aku Min Ji, dan ini Bom,” sapaku sambil mengulurkan tangan. Dia terdiam.

“…….Kang Dae Sung, kelas XI-VIII” balasnya pelan sambil menyambar tanganku.

(FLASHBACK END)

**

Bagaimana bisa aku bekerja sama dengan anak aneh itu? Meskipun di pelajaran dia sangat cerdas, tapi dalam keseharian, dia sangat ceroboh dan, aneh.

“Hei, kalau sedang belajar jangan melamun!” tegur  In young seonsaengnim. Aku tersadar. Saat ini kami (aku,Bom, dan Dae Sung) sedang mengikuti simulasi persiapan olimpiade dengan In young seonsaengnim.Soal-soal ini sulit sekali. Mataku sampai berputar melihat deretan angka dan simbol.

“Hei, jawabanmu salah!” tegur Dae Sung.

“Eh? Bagaimana bisa?”

“Caranya begini..” dia menerangkan secara tahap demi tahap dan jelas. Hebat. Kali ini aku mulai yakin, makhluk ini sangat genius.

“Sudah jelas?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Ng…kamsahamnida,” kataku lalu kembali menggerjakan soal simulasi. Dia tersenyum. Aku melihat kertas coretannya yang penuh gambar, dan caranya memegang pensil yang unik. Digenggam.

“Kenapa caramu memegang pensil seperti itu?” tanyaku.

“Ah, itu,” jawabnya gugup. “Bawaan dari kecil.”

Aku mengangguk. “Gambarmu bagus,” pujiku. “Seperti nyata.”

“Ah tidak,” jawabnya sambil menggaruk kepala.

“Tapi itu memang bagus!” kataku. “Sejujurnya, aku, aku agak iri padamu.”

**

Sudah hampir 2 bulan aku mengerjakan simulasi bersama mereka berdua. Terlebih dengan Dae Sung. Aku sering berdiskusi tentang soal dengannya. Ternyata dia cukup menyenangkan. Ada rasa yang agak berbeda setiap berbicara dengannya.Rasa apa itu? Aku tak tahu.
Ketika aku dan Dae Sung sedang berdiskusi, tiba-tiba Bom menyeletuk.

“Aih, kalian ini serasi sekali ya?” katanya sambil terkikik geli. Sontak wajahku memerah, malu.

“Apa yang kau bicarakan! Tentu saja tidak!” sanggahku seraya menutupi wajahku dengan lembaran soal. WaktuBom berbicara seperti tadi. Rasanya aneh. Seperti jutaan kupu-kupu beterbangan didalam dadaku. Menggelitik.

Isu “Min Ji suka Dae Sung” beredar dengan cepat dikelasku melalui Bom. Semakin banyak yang suka meledekku dengan panggilan “Dae Sung-ie”,sampai-sampai teman-teman dekatku jadi suka memanggilku dengan nama itu. Tak hanya teman sekelasku, teman sekelasnya pun sering meledekku. Benar-benar menggelikan. Mana mungkin aku menyukai orang yang seperti itu? Tapi setiap aku mendegar namanya,perasaanku sama seperti saat Bom waktu itu. Menggelitik. Setiap aku mendengar namanya pula wajahku selalu memerah. Merah sekali, layaknya buah tomat.

“Benar, kamu tidak menyukainya? Dari wajahmu jelas sekali kau menyukainya!” goda Chae Rin, salah satu teman dekatku. PESSH, wajahku sontak merona.

“Iya, jujur. Aku sama sekali tidak menyukainya!”elakku.

“Aku tahu kau bohong~~” balasnya sambil memasang tampang troll face.

“Aaa,benar! Aku tidak menyukai Dae Sung!” kataku setengah berteriak.

“Lihat, wajahmu memerah! Itu berarti kau menyukainya!” katanya lagi lalu tertawa. Aku hanya bisa menutup wajah dan menahan tawa.

**

Hari ini, Dae Sung datang ke kelasku. Dia datang untuk mengajakku dan Bom untuk simulasi karena hari olimpiade sudah semakin dekat. Perasaanku campur aduk, antara malu, marah, dan senang. Malu, karena dengan begitu teman sekelas akan lebih puas meledekku. Marah, karena dia sudah membuatku malu! Tapi, entah mengapa aku merasa senang, sangat senang saat dia datang ke kelasku. Apa isu itu benar? Apa benar aku suka Dae Sung? Tapi, masa, aku, makhluk aneh itu? Ah, lebih baik aku fokus ke olimpiade.

**

Seoul. Fall.

Hari ini olimpiade Sains dimulai. Persaingan berlangsung sangat ketat. Tapi ternyata, Dewi Fortuna berpihak pada kami. Kami meraih medali emas pada olimpiade ini. Aku melirik sedikit ke arahDae Sung. Dia tersenyum lepas. Bahagia sekali. Tanpa sadar, aku ikut tersenyum. Perasaan ini semakin lama semakin berkembang. Mungkin benar, aku menyukai Dae Sung…

**

Seoul. Setelah beberapa bulan.

Sudah beberapa bulan sejak kami mengikuti olimpiade. Sudah beberapa bulan juga aku tidak bertemu Dae Sung. Karena kami hampir setiap hari bertemu saat simulasi, sehari tidak bertemu saja, aku merasa sedikit tidak tenang. Sesekali, aku melirik ke kelasnya. Hanya untuk memastikan aku melihatnya walau hanya sekali. Dan setelah aku melihatnya, aku merasa sangat tenang, dan senang.

Sekitar 3 bulan lagi, aku harus mengikuti ujian kelulusan. Memang, aku dan Dae Sung berada di jalur yang berbeda. Di saat dia menempuh sekolah menengah selama 3 tahun, aku hanya menempuhnya dalam 2 tahun. Aku harus fokus pada ujianku. Tapi sepertinya, hati dan kepalaku tidak bisa bekerja sama.

Kepalaku selalu berkata, “aku tidak mungkin menyukainya, aku tidak boleh menyukainya, dan aku sama sekali tidak menyukainya.” Tapi di sisi lain, hatiku selalu berkata kalau aku menyukainya. Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya. Namun semakin aku berusaha, semakin aku kepikiran. Dan di sinilah dilema itu dimulai. Antara keinginanku, atau kata hatiku.

“Chae Rin” kataku suatu hari pada sahabatku, Lee Chae Rin.

“Hm..” jawabnya pendek, sambil tetap asyik dengan komiknya.

“Ah, aku, aku ingin menceritakan sesuatu padamu,” kataku. “Sebetulnya sudah lama aku ingin bercerita tapi, aku malu. Aku tidak ingin kauanggap aneh,” kataku lagi sambil menutup muka, menahan malu. Begitu aku mendongak, Chae Rinsudah duduk di depanku dan memasang wajah kebanggaannya, troll face.

“Pasti tentang Dae Sung!” katanya setengah berteriak.

“Ya, Chae Rin! Jangan keras-keras!” kataku, sedikit marah.

“Tapi aku benar kan?” katanya sambil menyengir kuda. Aku mengangguk pelan, tersenyum. Wajahku panas sekali. Dan aku tidak bisa berhenti tersenyum.

“Uwaaa~!” serunya. “Sudah kubilang, kau menyukainya kan?”

Aku terdiam. “Anu, Chae Rin” jawabku. “Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang.”

Sebelah alis Chae Rin terangkat. “Maksudmu?”

Aku menceritakan semuanya. Sedetil-detilnya. Mulai dari awal pertemuan kami, apa yang kurasakan saat itu, sampai sekarang ini, saat aku sedang mencoba melupakannya.

“Bagaimana? Aku benar-benar tidak tahu, apa yang kurasakan sekarang!”

Chae Rin terlihat sedang berpikir. “Hmm.. Menurutku, suka atau tidak, itu kau sendiri yang menentukan.”

Aku semakin bingung. “Anu, Chae Rin, sejujurnya,” jawabku, “jawaban darimu semakin membuatku bingung.”

“Yaah.. Kalau kau sendiri tidak tahu, bagaimana aku bisa membantumu?” jawabnya. Aku sedikit kecewa. “Begini, sebenarnya, apa yang kauinginkan sekarang?”

“Aku? Aku ingin, aku memfokuskan diri pada ujian.”

“Baiklah, kalau begitu kau harus berusaha melupakannya. Apa yang membuatmu suka padanya?” tanyanya. “Biasanya, kalau kau ingin melupakannya, kau harus melupakan apa yang membuatmu suka padanya.”

Aku berpikir sebentar. “Itu..” kataku. “Aku tidak tahu.”

“Kalau kekurangannya?”

“Hm.. Aku juga tidak tahu.”

Chae Rin terlihat terkejut. Sesekali ia tersenyum. “Min Ji? Kau, kau yakin?”

Aku pun ikut terheran-heran. “Kenapa? Ada yang salah?”

“Eh, begini,” kata Chae Rin. “Aku dengar, kalau seseorang menyukai orang lain tanpa mengetahui apa yang membuatnya menyukai orang itu, berarti dia menyukainya dengan tulus! Apalagi kau tidak mengetahui kekurangan Dae Sung!”

“Cha, Chae Rin? A-apa yang..”

“Gong Min Ji,” kata Chae Rin, kali ini dengan mimik wajah serius. “Aku yakin, akan susah sekali menghilangkan perasaanmu padanya.”

Aku merenung sebentar. Apa benar yang dikatakan Chae Rin? Jantungku berdebar-debar tak karuan setelah mendengarnya. Yang aku tahu sekarang, aku harus bisa melupakan Dae Sung.

**

Seoul. Hari kelulusan.

Yah, tidak terasa, hari kelulusan telah tiba. Untuk sementara aku bisa melupakan Dae Sungkarena kesibukanku menyiapkan diri untuk ujian. Tes uji coba, pendalaman materi, ujian praktek, semua itu bisa membuatku tidak memikirkannya.

Setelah kupikir-pikir lagi, tidak ada gunanya aku terus memikirkan Dae Sung. Toh, dia juga tidak mungkin menyukaiku. Ikut tersenyum saat dia tersenyum, ikut bahagia saat dia bahagia, mungkin hanya aku. Tidak tenang ketika aku tidak melihatnya hari itu, mencuri pandang ke arah kelasnya, mencoba berbagai cara agar bisa melihatnya, mungkin hanya aku. Malu ketika bertemu, cemas saat dia sakit, senang begitu mengetahuinya baik-baik saja, mungkin hanya aku. Yah, mungkin hanya aku yang merasakannya.

Tapi, oh, aku mohon, jangan menangis! Tidak, tidak bisa, air mataku mengalir begitu deras, tidak bisa kubendung lagi. Aku, aku merasa, aku merasa sangat bodoh. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin bisa kuraih.

“Min Ji, kau kenapa?!” tanya Chae Rin yang tahu-tahu menghampiriku.

“Cha, Chae Rin, a-aku, aku ini, bodoh sekali ya?” jawabku sambil menyeka air mataku. Berusaha tersenyum meskipun rasanya sulit sekali.

“A-apa maksudmu?”

Aku tidak menjawab. Tak terasa, aku kembali menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Aku terlalu lemah untuk menjawab pertanyaannya.

Tiba-tiba Chae Rin memelukku. Aku bisa merasakan tangannya yang besar dan hangat. Dan badannya yang lebih tinggi dariku.

“Tidak apa. Menangislah, kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Kali ini tangisanku lebih deras dari sebelumnya. Baru kali ini aku merasakan perpisahan sesedih ini. Baru kali ini aku menangis karena… seorang laki-laki.

Bodoh, tidak seharusnya aku menangisi orang itu. Dia yang masuk ke dalam hidupku, mempermainkan perasaanku, dan membuat hatiku terasa tercabik-cabik.

**

“Dan mulai  hari ini, aku akan berusaha melupakanmu.

Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit…”

-End-