Untitled-1

Title : Snow Flower

Author : Jiyongyong-ah (@AmallyVIP)

Main Cast : Kim Yoon Hee (OFC) and Kwon Ji Yong

Genre : Sad Romance

Length : Ficlet

Rating : G

A/N :

Annyeong … Ini FF sad romance kedua saia yang saia publish disini . Senang sekali bisa nyelesain FF ini . Ngarepnya sih pada suka . Tapi gak tahu . Gak yakin . Oh ya … Makasih buat author BBFF yang mau ng-posting FFku ini ya … Jeongmal gomawo … Yaudah … Happy Reading yaaaaa… ^^

DISCLAIMER :

FF ini seratus persen punya saia . Gak nyontek sana sini . Tapi judul ngambil dari salah satu soundtrack drama . Cast hanya pinjam nama . Cerita hanya fiksi belaka .

—SNOW FLOWER—

Ini musim salju yang dingin . Putih . Beku . Hanya ada badai yang menghujani seluruh sudut Kota dengan butiran putih yang beku yang dingin . Ranting-ranting pohon sudah hampir jatuh menahan berat salju yang menumpuk di dahan itu . Sedikit-sedikit banyak salju yang telah jatuh ketanah karena sudah tidak mampu di tempatkan di dahan .

Sedang salju . Sedang sepi . Sedang dingin . Sedang beku . Aku bahkan hanya bisa bersembunyi di balik selimut dengan pipi merah muda . Mungkin juga dengan hati yang membeku . Ahh .. tidak . Itu berlebihan . Aku hanya rindu saja . Bukan apa-apa .

Aku rindu Ia yang datang dengan baju putih itu . Aku rindu Ia yang selalu mendengar detak jantungku . Aku rindu Ia yang meredam rasa sakit ditubuhku . Aku rindu Dokter itu .

Padahal Aku sudah panas demam begini . Aku bingung kenapa Ia belum juga datang . Kalau begini sakitku akan bertambah parah . Tidak . Bukan karena tidak terobati atau karena salju yang bertambah dingin . Hanya saja , ada perasaan rindu yang terlalu banyak yang tak dapat kuluapkan padanya . Jadi bukan tubuhku saja yang sakit . Hatiku ikut sakit . Jadi bukan tubuhku saja yang dingin . Hatiku ikut dingin . Jadi airmataku ikut beku karena terlalu merindukannya . Tidak tahu caranya untuk menangis . Hanya tertahan di dalam mata.

TOK…TOK…TOK..

“Masuk saja .” kataku pelan dengan sedikit tenaga yang tersisa .

Kudengar suara pintu terbuka diiringi langkah kaki yang agak memburu . Lalu Ia masuk dengan baju putihnya yang agak tertutup oleh jaketnya yang tebal . Tentu saja . Salju dingin.

“Sudah lama menunggu ? . Baikkah ?”

Aku senang Ia datang lalu duduk di tepi ranjangku . Aku senang Ia mencairkan rasa rinduku. Hanya saja Aku tidak suka dengan pertanyaan yang Ia lontarkan padaku . Tidakkah Ia melihat keadaanku sekarang ?.

“Apanya yang baik , Dok ? . Tidak lihat kalau Aku selemah ini ? . Kalau Aku baik Eomma dan Appa tidak akan memanggilmu kesini .” Jawabku ketus .

Lalu lelaki yang memakai tanda nama bertuliskan ‘Kwon Jiyong’ itu hanya tersenyum seraya tertawa kecil mendengar ucapanku . Senyumnya membuatku sedikit lega . Ia baik-baik saja rupanya setelah Aku telah lama tak melihatnya . Jadi Untung saja Aku sakit .  Ia datang dan Aku bisa melihat keadaannya .

“Baiklah . Maafkan Aku . Aku hanya bercanda . Hmmm … Kau sakit apa ? . Coba … kemarikan tanganmu .”

Lalu Aku mengeluarkan lenganku yang telah sekian lama menyusup dibalik selimut . Lalu Ia meraih jariku . Merasakan suhu tubuhku lalu menghembuskan napasnya pelan sambil menggelengkan kepalanya . Aku suka saat tangannya menyentuh tanganku .

“Dari tanganmu saja Aku sudah bisa mengetahuinya. Kau demam lagi ? . Sudah keberapa kalinya ? . Entah musim semi , musim gugur , musim panas , musim dingin , Kau selalu saja sakit . Bukannya sudah kukatakan kalau Kau harus menjaga tubuhmu dengan baik ?” katanya lalu melepaskan genggaman tangannya dari tanganku .

Sedang Aku hanya memalingkan wajahku dan kembali menatap salju yang masih berjatuhan . Aku sedih sekali kalau Ia memarahiku . Padahal Aku bersusah payah untuk sakit hanya untuk bertemu dengannya .

“Tetap saja . Kalau tidak ada Dokter Aku akan terus-terusan sakit .” Jawabku jujur .

Memang benar . Kalau tidak ada Dia Aku akan terus sakit . Karena Aku merindukannya . Selalu merindukannya . Dan selalu sakit jika rindu itu tidak terlepaskan . Jadi sebisa apapun Aku berusaha untuk tidak sakit , Aku akan berusaha untuk sakit jika beberapa hari atau beberapa minggu tak bertemu dengannya . Karena hanya dengan begitu caranya Aku akan tetap melihatnya dan rinduku tidak mengendap di hati .

“Maksudmu apa ? . Jadi Aku harus terus mengawalmu agar Kau tidak sakit , Yoon Hee-ya?”

“IYA! BEGITU!” Jawabku lantang .”Kau tetap disini . Jangan kemana-mana . Temani Aku saja . Jadi Aku tidak akan sakit lagi . Dan Dokter tidak akan memarahiku lagi .”

Lalu yang kulihat Ia malah mengeluarkan beberapa obat untukku . Ia lalu menaruh obat-obat itu di samping ranjangku . Dan tersenyum sekilas padaku lalu menutup tasnya lagi .

“Jaga dirimu baik-baik . Oh ya … Aturan obatnya sudah sekalian kutaruh disana . Kalau begitu … Aku per-…”

“Kan sudah kubilang Dok ,  Kalau Kau pergi … Seberapa banyakpun obat yang Kau berikan, Aku hanya ingin Kau disini . Menemaniku .”

Lalu Ia terdiam dan mengangkat sebelah alisnya . Bingung . Aneh . Tentu saja . Ini pertama kalinya Aku mengungkapkan perasaanku walaupun secara tidak langsung padanya . Seharusnya Ia paham dengan kata-kata yang sudah bolak-balik kukatakan padanya . Ia adalah pria yang 3 tahun lebih tua dariku  tapi kenapa tidak mengerti ? Tidak sama sekali ? .

“Aku ingin keluar melihat salju .” kataku cepat untuk mengalihkan pembicaraan dan memusnahkan kesunyian .

“Kau masih sakit . Lagipula diluar dingin .”

“Tolong . Kwon Jiyong-ssi …”

“Baiklah . Tapi Kita pakai kursi rodamu saja . Aku tidak mau Kau tiba-tiba pingsan lalu Aku harus menggendongmu . “

Lalu Aku bangkit dari ranjangku . Ia menaruh tasnya . Lalu Aku menggunakan kursi rodaku untuk melihat salju . Saat Kami keluar kamar , Eomma sempat bingung .

“Aku mau melihat salju sebentar , Eomma . Ne ?”

Eomma hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum padaku . Lalu Dokter kembali mendorong kursi rodaku hingga kami berada di halaman rumahku . Ia memberhentikan kursi rodanya tepat dibawah dahan yang menahan banyak butiran salju .

Aku bisa melihat salju dengan indah . Aku sudah lega bisa melihat salju tanpa terhalang bening-bening kaca jendela kamar . Aku sudah lega bisa melihat salju tidak seorang diri saja, tapi bersama Dokter yang masih berdiri di sampingku . Aku senang bisa melihatnya yang juga melihat salju . Berdua saja bersamaku .

Aku merasa baikan sekarang . Karena ada Ia yang bisa meredam rasa sakitku . Hanya dia.

“Aku merindukanmu . Aku sakit . Tapi sekarang Kau sudah ada dan Aku sudah sembuh .”

Aku puas bisa mengungkapkannya . Aku tidak tahu Ia mendengarnya atau tidak karena suaraku agak pelan . Tapi tiba-tiba , Ia ada dihadapanku dan sedikit berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan tinggiku yang hanya duduk ini .

“Barusan itu apa ?” tanyanya .

Aku ingin cepat menjawab .

“Aku mencintaimu . Aku ingin Dokter menjadi Dokter pribadiku saja . Hanya untukku .”

Ia tersenyum kecil padaku . Apa Ia memiliki perasaan yang sama denganku ? .

“Sebenarnya Aku juga ingin memberitahu sesuatu padamu .” katanya .

Aku menanti-nanti apa yang ingin Ia katakan . Tapi Aku melihatnya mencari-cari sesuatu dibalik jas putihnya . Beberapa detik kemudian , Ia mengeluarkan sebuah benda yang mengejutkanku .

Ia memberikannya padaku .

Matanya menatapku seperti sedang mengasihani . Miris . Hanya itu .

 

 

‘LEE NANA & KWON JIYONG’

“Maafkan Aku .”

Rasanya Aku sakit lagi . Rasanya Aku ingin mati saja . Aku tidak sanggup melihat nama Kwon Jiyong berada di baris judul undangan itu .

“Tolong . Maafkan Aku .”

Bukankah seharusnya Aku bahagia melihat Dokterku akan menikah ? . Tapi Aku malah membasahi undangannya dengan air mataku . Aku malah merengek melihat undangan itu .

Dan tetap saja . Aku beku . Hatiku beku . Aku tidak mau Ia mengukir janji cintanya besok bersama wanita lain . Tolong , Aku hanya ingin Ia mengatakan bahwa ini hanya gurauannya saja sekarang juga . Aku hanya ingin Ia jujur bahwa ini hanya lelucon . Aku sakit . Ini sungguhan . Tolong , sembuhkanlah Aku dan hentikan airmataku . Katakan bahwa ini tidak benar .

“Kalau begini Aku sakit . Aku tidak bisa hidup . Aku akan mati .” seruku merintih .

—————–

.